Faza Meonk Banyak Belajar Dari Film Si Juki

3 months ago
faza-banner-desktop

Setelah malang melintang di layar bioskop Indonesia selama dua minggu, film Si Juki: The Movie mengakhiri masa tayangnya. Tercatat telah ada sekitar 630 ribu penonton yang telah menyaksikan sang karakter anti mainstream ini mencoba menyelamatkan Indonesia dari ancaman asteroid.

Dengan pencapaian yang mengagumkan tersebut, tentu ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua, dan khususnya untuk Faza Meonk sang pencipta karakter Si Juki. Kira-kira apa ya pelajaran itu? Kali ini Meka (ME) dari CIAYO Blog bertemu dengan Faza Meonk (FM) dalam acara Cerita-cerita Europalia di Fri3nds.co kawasan Blok M, Jakarta, tanggal 13 Januari 2018 lalu. Faza berbagi cerita selama proses pembuatan film Si Juki: The Movie, serta hikmah yang bisa dipetik dalam proses kreatifnya.

***

ME: Selamat atas tayangnya film Si Juki The Movie! Bagaimana tanggapan mas Faza selama film Juki tayang dua minggu di bioskop dan mendapat 630 ribu penonton?

FM: Pertama nggak menyangka ya. Saya orang yang pesimistis diantara orang-orang di sekeliling saya. Mungkin sekarang masih belum waktunya untuk animasi Indonesia, dan untuk film Juki bisa dapat penonton di atas 200 ribu saja sudah oke banget. Jadi ketika bisa sampai 630 ribu itu saya cukup terkejut.

ME: Selain itu, ada lagi pencapaian lain yang diraih film Si Juki?

FM: Yang pasti, pencapaian yang bikin saya kaget adalah penayangan hari pertama yang berhasil mendapat 72 ribu penonton itu buat saya sudah wow banget. Karena sejauh ini film animasi lokal dengan penonton terbanyak saat ini, Battle of Surabaya, itu dapat sekitar 60 ribu penonton. Jadi begitu kita dapat 72 ribu kita langsung, “Wah, ternyata bisa dapat segini ya.” Dan memang terasa karena promo yang dilakukan oleh Falcon (distributor film Juki) cukup masif dan membantu banget untuk penjualan.

film si juki the movie

Suasana gala premiere film Si Juki. (Sumber: Beritagar)

Kedua, saya pribadi merasa terharu karena banyak yang apresiasi, banyak yang komen, semua orang ngasih selamat, dan segala macamnya. Teman-teman animasi juga jadi tambah semangat, juga di AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia). Jadi orang-orang makin optimis dengan animasi Indonesia. Dan dengan pencapaian sebelumnya, berarti produser mau bikin film selanjutnya.

ME: Apa saja kendala-kendala selama mengadaptasi Si Juki ke dalam media film?

FM: Dulu kita mikirnya Juki itu dari awal mengalami pergantian pasar kan. Pertama marketnya mahasiswa atau young adult. Kemudian akhirnya kita makin berkembang dan besar, banyak yang tahu Juki dan kita lihat marketnya lebih ke anak-anak karena mereka willing to pay dengan bantuan orang tua. Akhirnya kita ganti pasar, sejak tahun 2014 akhir kita udah mulai bikin komik yang bisa dikatakan “ramah anak,” tidak sekritis dulu karena pertimbangan industri dan agar aman untuk semua kalangan.

Di filmnya pun kita berharap bisa menghibur semua kalangan. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan cerita yang tetap terasa seperti komik Juki, tapi karena ini animasi pasti ada sesuatu yang harus diadaptasi. Jokes-jokes dari komik mungkin nggak semua bisa dipakai di animasi, tapi bagaimana caranya agar masih terasa Juki? Proses itu yang menjadi tantangan.

ME: Adakah perbedaan dalam mengonsepkan cerita Juki untuk komik dengan untuk film?

FM: Untuk komik, secara media ada macam-macam ya, seperti komik strip, cetak, dan webtoon. Teknik membuat ceritanya itu beda-beda. Sedangkan untuk film ada standarnya sendiri dan itu yang harus kita patuhi.

01-faza

Faza menuntun Juki agar lebih dapat diterima masyarakat luas. (Sumber: CIAYO Pictures)

Kalau saya sendiri mengangkat cerita yang, gimana Juki ini yang sok-sokan anti mainstream, di film kita angkat Juki jadi mainstream banget. Gimana jadinya kalau Juki jadi mainstream? Itu sebenarnya untuk market pembaca komik setianya, namun untuk penonton baru mereka bisa mengenal, “Oh ternyata ada karakter namanya Juki, terkenal banget, terus jadi galau karena terkenal. Nggak cocok sama dia.” Kita mau nunjukkin karakter yang punya keresahan dalam dirinya, tapi ada juga masalah dari luar. Biasanya seperti itu kan, karakter punya konflik internal dan eksternal yang harus dihadapi. Konflik di luar buat Juki itu ya tadi, ada bencana meteor.

Proses kreatif menulis ceritanya panjang. Kita punya banyak konsep, dan itu terus berubah. Sampai akhirnya kita udah punya konsep fix, kita tawarkan ke produser, kemudian produser revisi sampai ke draft ke-7. Prosesnya panjang dan butuh delapan, sembilan, sepuluh bulan, hanya untuk menggodok cerita.

Dan ternyata ketika kita masukkan ceritanya ke animatics (storyboard yang dianimasikan dan disuarakan untuk mengukur durasi waktu), kita baru ngeuh, “Ternyata cerita ini butuh durasi 140 menit,” sementara produser hanya mengizinkan di bawah 100 menit. Ongkos produksi sendiri bahkan hanya cukup untuk 75 menit saja. Itu jadi pelajaran, bahwa bikin naskah jangan sampai belibet dan terlalu panjang sehingga jadi over-duration dan itu nggak bagus. Itu kerasa banget begitu jadi animasi, kita ngerasa ada banyak bolong karena dari 140 menit awal itu banyak cerita yang kita hilangin. Mengakomodir cerita sepanjang 140 menit ke dalam durasi 100 menit yang sudah dikurangi credit title itu sulit.

ME: Apa tantangan menghidupkan karakter Juki yang dua dimensi dan statik menjadi lebih dinamis dengan gerakan dan suara?

FM: Ini lebih ke sisi teknis dan animasi ya. Jadi di awal sebelum film Si Juki kita sudah iseng-iseng bikin animasi di Youtube, Juki Animastrip. Itu sebenarnya merupakan studi kita; gimana kalau Juki jadi animasi? Gimana kalau Juki bergerak? Tantangannya sebenarnya, apa yang saya saya inginkan, apa yang saya mau, harus bisa ditangkap oleh para animator. Maka dari itu kita kasih referensi, animasi seperti apa yang ingin dicapai? Tantangannya adalah bagaimana konsep yang saya pikirkan dapat diterjemahkan dengan baik oleh animator.

ME: Selama menggarap film Si Juki bareng Kumata Studio, bagaimana kesan-kesannya?

FM: Di Kumata kebetulan ada Daryl Wilson sebagai animation director, jadi secara teknis semua akan ditangani oleh Daryl dan timnya. Saya konsentrasi ke bagaimana cerita Juki disampaikan. Saya harus fokus, gimana jiwa Juki bisa tersalurkan, ceritanya harus sampai. Saya ikut memotong adegan, tapi cerita harus tetap tersampaikan. Ini jadi pengalaman pertama, tapi dari dulu saya pribadi pingin buat film animasi. Karena saya dulu sekolah animasi dari dulu, jadi memang ini salah satu pencapaian di film pertama. Banyak pelajaran sehingga ke depan kita bisa antisipasi untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

05-faza

Membuat film animasi jadi salah satu impian Faza sejak sekolah. (Sumber: CIAYO Pictures)

ME: Kemudian bagaimana kesan-kesannya bekerja dengan para pengisi suara, mulai dari yang profesional hingga para artis?

FM: Ketika kita memilih para artis, saya merasa mereka benar-benar melihat sesuatu yang baru. Jadi mereka nggak merasa paling jago. Mereka ngerasa, “Ini sesuatu yang baru dan kita harus belajar kembali.” Kita punya voice coach, mas Santosa Amin yang biasa mengisi suara Spongebob, Suneo dan sebagainya. Dia sharing bagaimana mengisi suara yang baik, bagaimana harusnya berekspresi dengan suara.

Ini jadi tantangan baru bagi teman-teman artis, karena mereka biasa berakting di set, itu suasananya mudah dibangun. Sementara saat rekaman mereka hanya ada di depan mic. Mereka harus bisa membangun suasana yang biasanya dibentuk di lokasi. Saya juga harus turut mengarahkan. Kita rekaman nggak satu-satu, harus berbarengan. Misalnya di satu adegan ada karakter siapa saja, mereka tek-tokan langsung tapi nggak ada kontak fisik.

Sementara itu tantangan bagi saya bagaimana me-manage para pengisi suara. Kalau untuk para dubber saya senang kerja dengan mereka karena mereka profesional dan cepat belajar setelah di-brief. Untuk teman-teman artis ini memang harus ekstra digembleng karena mereka memainkan peran-peran penting. Tim dubber profesional kan mengisi peran di luar itu.

Pada akhirnya ada banyak yang saya pelajari dari mereka, karena teman-teman artis ini ketika mereka baca skripnya, mereka banyak berimprovisasi. Mereka nggak cuma ngikutin naskah, tapi juga minta izin, “Gimana kalau ini jadi begini?” Terutama untuk Oom Indro Warkop, Jaja Miharja, mereka banyak improvisasi di luar skrip.

ME: Di antara para artis yang terlibat, adakah yang sudah mengenal Juki?

FM: Beberapa ada yang sudah kenal Juki, seperti mbak Maya Wulan. Kalau Oom Indro, “Oh ini ya Juki?” Dia sudah pernah lihat. Beberapa lainnya juga sudah tahu.

ME: Juki sudah merambah dunia komik, webseries, hingga film. Di tahun 2018 ini, apa lagi yang ingin diraih oleh Juki?

FM: Kita bikin komik tetap lanjut. Webseries di Youtube masih tetap lanjut. Tapi mungkin kita akan coba ke media-media lain. Kita bakal rilis game lagi, kita bakal masuk ke board games, exhibition, pameran. Untuk film, kemungkinan kita bakal lanjut lagi. Belum bisa dipastikan iya atau tidak, tapi kemungkinannya ada.

04-juki

Merayakan suksesnya penayangan film Juki selama dua minggu. (Sumber: Si Juki)

ME: Selama memproduksi film Juki hingga penayangan terakhirnya, ada pelajaran yang bisa diambil?

FM: Saya belajar bahwa dari segi industri atau IP, di Indonesia banyak teman-teman yang membuat IP, karakter, komik, animasi, dan segala macamnya. Tapi tantangannya lebih ke bagaimana kita meyakinkan publik untuk membeli, menonton, atau membaca apa yang kita buat. Jadi lewat film ini, sebetulnya saya ingin menjawab bahwa, “Yuk para kreator kalau mau membangun industri, kita memikirkan konten itu penting tapi pikirkan juga bagaimana memasarkan karya yang kita buat untuk market mana-mana saja.”

Kalau kita bicara soal animasi sendiri, banyak yang fokus ke karya tapi kurang mikirin bagaimana cara memasarkannya. Mungkin banyak yang memikirkannya, tapi itu jadi struggle tersendiri. Lewat Juki ini, harapan saya teman-teman industri bisa ikut berpikir, “Jangan-jangan untuk bikin animasi yang bisa diterima pasar kita harus kerja sama dengan industri komik?” Mungkin nggak cuma Juki aja, karena sekarang ada banyak judul komik dengan fanbase tersendiri. Jadi setup-nya adalah kita kerja sama dengan industri komik untuk meneruskan promosinya.

02-faza

Faza ingin merangkul pelaku-pelaku industri untuk bekerja sama. (Sumber: CIAYO Pictures)

Harapan saya setelah ini adalah muncul stigma bahwa salah satu cara untuk mensukseskan film animasi adalah dengan bekerja sama dengan industri komik yang sudah punya pengikutnya sendiri. Itu yang ingin saya bangun.

***

Nah, seperti yang sudah disebut oleh Faza Meonk, kisah Juki masih belum bakal berakhir! Bro sis bisa terus ngikutin petualangan Juki dan sobat setianya Mang Awung, dalam komik Si Juki & Mang Awung, hanya di CIAYO Comics!

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

Sumber: twitter.com

Lelah dengan Pekerjaan? Mungkin Kamu Bisa Ikut Festival Ala Jepang ini!

Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan rutinitas kehidupan yang sewaktu-waktu dapat membuat jenuh. Pastinya ada banya.. more

Sumber: variety.com

Game Ghostbusters World, Pengalaman Menangkap Hantu Secara Nyata

Berkali-kali “Ghostbusters” coba dibuat ulang, bahkan di tahun 2016 pun film satu ini coba di garap lagi. Skan tetap.. more

AOV

Serunya Grand Final Battle of Valor 2017

Kesuksesan Mobile Arena ini menjadi alasan digelarnya event game terbesar bertajuk “Battle of Valor”. Coba siapa yan.. more

Kenangan Manis Tatang Suhenra

“Salam manis tidak akan habis. Salam sayang tidak akan hilang, buat semua pencinta karya saya.” Kalimat itu mungkin .. more

Jimmy Kimmel akan menjadi host 90th Academy Awards (sumber: Oscars)

Dari Three Billboards Hingga Blade Runner 2049. Berikut Prediksi Pemenang Oscar di 90th Academy Awards

Perhelatan ini memang masih sekitar 2 minggu lagi. Namun bukan berarti kita tidak boleh berprediksi ria bukan?  Oleh ka.. more