16.30

2 months ago
16.30 (Sumber: Pixiv.id)
Alisha Kurnia

by: Alisha Kurnia

Suara langkah kaki itu. Aku masih dapat mengingatnya dengan jelas.

Setiap kali aku mengembalikan buku-buku ke dalam rak, suara langkah itu selalu terdengar.

Suaranya terdengar lembut, seolah menyentuh lantai dengan penuh perhitungan. Dan temponya seperti seseorang yang tengah kebingungan mencari sesuatu, karena setelah beberapa langkah, dia selalu berhenti cukup lama, kemudian terdengar lagi, kemudian berhenti. Begitulah seterusnya.

Aku dapat membedakan suara itu dengan suara langkah lainnya, karena sepatu yang dia kenakan berbeda dengan siswa lainnya.

Jika kebanyakan siswa mengenakan sneakers atau sepatu model lainnya, dia memakai sepatu boots semata kaki bersol 3 cm. Aku dapat mengetahuinya karena suara decitan saat sepatu itu bergesekan dengan lantai, berbeda dengan suara sepatu sneakers. Suara decitannya terdengar lebih keras.

Mungkin dikarenakan sang pemilik selalu melangkah dengan mantap dan penuh perhitungan, layaknya anggota paskibra. Aku jadi berfikir, jangan-jangan dia adalah salah satu dari senior paskibra yang selalu latihan di lapangan sekolah mereka setiap sore?

Karena setiap suara itu terdengar, aku tak pernah berani keluar dari rak ini.Setiap kali terdengar, aku selalu memejamkan mataku, sambil memeluk salah satu buku yang tengah kususun. Untunglah rak buku disini tingginya melebihi orang dewasa dan lebarnya kurang lebih satu setengah meter, sehingga aku tak perlu repot-repot bersembunyi tanpa perlu khawatir akan ketahuan dengan mudah,

Kecuali bila dia sendiri yg berinisiatif untuk datang ke rak bagian tempat aku berada.

Walau kutahu itu tak akan terjadi.

Entah sejak kapan aku menjadi begitu menanti saat aku dapat mendengar suara itu lagi setiap harinya.

Entah sejak kapan pula, aku mulai mengingat jamnya, dibagian rak mana dia datang untuk mencari buku dan berapa lamanya dia berputar-putar disana, sebelum akhirnya meninggalkan perpustakaan sekolah ini tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Pernah sekali, aku memberanikan diri keluar dari rak bagianku menata buku, hanya untuk melihat wajahnya.

Namun aku terlambat, karena saat itu dia sudah berada di pintu masuk.Berdiri membelakangiku, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya.

Namun samar-samar, aku bisa mencium aroma parfum citrus yg dia kenakan mengelilingi hidungku.Aroma segarnya yang begitu khas seakan memelukku.

Bersamaan dengan itu, otakku merekam setiap detail dari dirinya yang mampu kutangkap oleh mataku.

Sepatunya adalah boots semata kaki berwarna hitam, seragamnya yg rapi tanpa cela, bet berwarna merah yang ada di lengan kemeja sebelah kanan, yg menandakan dia adalah seniorku, rambutnya yang sedikit jabrik berwarna agak berkilauan ketika terkena matahari senja yang menyusup lewat pintu masuk. Kilauan itu mungkin karena dia mengenakan gel rambut untuk menatanya.Juga punggungnya yang kokoh, seakan mampu menjadi tempat ternyaman ketika kamu membutuhkan sandaran.

Oke, kuakui semua ini bila kujabarkan memang tampak seperti penguntit.Tapi apa daya, semua itu kulakukan tanpa kusadari.

Itu karena mataku menangkap sesuatu lebih cepat daripada otakku.

Dan seakan bekerja sama, begitu mataku telah puas ‘merekam’ setiap detail darinya, otakku dengan senang hati pun ‘menyimpannya’ secara otomatis. Dan semua itu terjadi tanpa adanya persetujuan dariku.

Kufikir, hey. Aku pemilik mereka. Namun mengapa mereka bertindak semaunya sendiri? Jika mereka adalah manusia, mungkin sudah kugulingkan berulang kali karena sudah melakukan hal yang tak kuperlukan.

Namun sudahlah. Keberadaannya disini sendiri, menjadi penyemangat untukku.

Oh, aku menceritakan mengenai dia terlalu banyak. Hingga aku lupa mengenalkan diriku sendiri.

Namaku Neyla Rahayu. Usiaku 15 tahun dan memiliki penampilan layaknya kutu buku pada umumnya. Bedanya, rambutku tidak dikepang dua, namun ikal sebahu, lengkap dengan kacamata berframe tipis. Bisa dibilang, aku ini adalah perempuan yang sulit berkomunikasi dengan orang lain. Tentunya hal ini bukan karena keinginanku juga. Mungkin karena aku terbiasa berada dalam lingkungan tertutup, dimana bahkan orang tuaku sendiri jarang mengajakku bicara karena mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku juga tidak punya saudara. Satu-satunya yang bisa kuajak sebagai teman bicara hanyalah kucing kesayanganku dirumah.

Karena tidak mempunyai teman dan tidak memiliki pekerjaan lain, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah membaca.

Meski rumahku tidak terlalu luas, namun ayahku membuat salah satu kamar yg tidak terpakai disana sebagai perpustakaan kecil.Dimana isinya selain buku-buku tebal milik ayah, juga ada rak bagian yg berisi buku anak-anak, novel remaja, juga beberapa komik.

Aku suka wangi buku yang tersusun rapi di perpustakaan. Terutama ketika buku-buku disana adalah buku lama. Aromanya meski terkadang sedikit berdebu, juga mengundang kita untuk membacanya.Wangi ini juga mampu menggelitik tanganku untuk segera membuka halaman per halaman buku itu, untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah aku ketahui yg tersimpan dari buku lama. Aku suka mendapatkan pengetahuan tak terduga darisana. Karena itulah, sejak kecil, aku juga membaca buku-buku tebal milik ayahku.

Berawal dari rasa ingin tahu, itu membuatku menjadi punya banyak ilmu yang bisa kugunakan di sekolah. Karena itulah aku tak pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran.

Karena itu pula, aku selalu menawarkan diri menjadi penjaga perpustakaan sejak aku berada di sekolah dasar. Daripada membuang waktu berusaha bersosialisasi dengan orang yang bahkan tidak ada keinginan sama sekali untuk berteman denganku, lebih baik aku menenggelamkan diri ke dalam dunia yang kusukai : Perpustakaan.

Biasanya aku tak pernah memiliki ketertarikan dengan pengunjung. Namun entah mengapa, di SMA ini untuk pertama kalinya aku tertarik dengan salah satu pengunjung setia perpustakaanku ini.

Semua berawal ketika dia menyapaku disini. Saat itu, aku masih baru menjadi petugas di perpustakaan. Dan seperti biasa, karena tidak ada yang datang, aku menyibukkan diri dengan buku-buku literatur lama yang Ketika itu, aku menunggu temanku yang sedang menggantikan senior kami disini dalam mengerjakan tugas bulanan setiap pengurus perpustakaan di dalam gudang. Seperti membereskan tumpukan buku-buku komik berserakan. “Ia sedang tak ingin membereskannya.” Saat kutanya mengapa dia yang mengerjakannya meski bukan gilirannya saat itu.kudapatkan dari gudang perpustakaan ini.

Saat itulah kami bertemu. Ketika kudengar dia mengetukkan jarinya diatas meja untuk mengalihkan perhatianku. Awalnya, kukira dia hendak mengembalikan buku seperti yg biasa dilakukan oleh pengunjung lain, namun ketika kutoleh, dia tampak sedikit bingung, lalu langsung berlari keluar dari sini.

Suara langkah kakinya saat itu sangat khas. Tidak terlalu keras, namun terkesan seperti ada buku tebal yang dijatuhkan ke lantai berulang kali.

Setelah itu, setiap sore dia selalu mengunjungi perpustakaan ini. Datang, masuk, melihatku, kemudian meninggalkan perpustakaan sesegera mungkin. Tanpa sepatah katapun. Ah, mungkin karena dia sama sekali tidak mengajakku berbicara, jadi aku tidak bisa mengatakan kalau dia menyapaku ya.

Sampai saat ini aku tidak mengerti apa maksud dari tindakannya tersebut.

Namun entah mengapa, aku merasa senang. Untuk pertama kalinya, ada yang benar-benar melihatku, bukan dalam artian tidak sengaja bertatapan, lalu mengalihkan pandangan begitu saja. Aku bisa beranggapan dia benar-benar melihatku, karena saat pertama kali bertemu, dia sengaja mengetukkan jarinya ke meja tempatku bertugas. Dan saat aku melihatnya, tatapannya benar-benar mengunciku. Tatapan yang dia keluarkan, seakan mengatakan jika dia tak menyangka kalau aku akan melihatnya. Itu pertama kalinya aku melihat tatapan seperti itu dari orang lain. Untukku.

Selama ini aku selalu melihat tatapan itu ditujukan untuk orang lain. Biasanya, ketika ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan bersama, dengan genggaman tangan yang saling mengunci satu sama lain, mereka pun menukar pandangan yang sama dengan yang dimiliki dia.

Tatapan yang lembut, namun penuh dengan perasaan.

Tatapan yang sederhana, namun sarat akan makna yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

Dan sekaligus membuat seakan di dunia ini hanya ada mereka saja.

Tatapan yang pastinya mampu membuat suhu badanmu meningkat secara drastis, hingga seakan-akan kau merasa dirimu tengah meleleh tanpa ampun karenanya.

Aku memang bukan anak yang ahli dengan biologi, tapi jika berdasarkan buku-buku yang pernah kubaca, mereka mengatakan jika pupil mata kita akan membesar ketika melihat orang yang kita cintai.

Dan semua itu kutemukan dari tatapannya.

Dari sanalah aku berfikir.

Apakah tatapannya berasal dari perasaan tersebut?

Dari perasaan yang sering diobral oleh para penulis roman diluar sana untuk karya mereka?

Tapi sudahlah. Aku tak mau mengambil keputusan sendiri, dan memendamnya dalam waktu yang lama.

Bukan karena aku jual mahal atau apa. Aku hanya tidak mau memiliki ekspetasi yang berlebihan sebelum aku mengetahui terlebih dahulu fakta yang sebenarnya terjadi.

Kurasa ini wajar saja bagi setiap wanita, atau bagi setiap orang yang merasakan kasmaran dengan lawan jenisnya.

Mereka takut mengartikan semua hal atau perlakuan yang diberikan oleh orang yang mereka kagumi sebagai sebuah balasan yang menyenangkan bagi perasaan mereka, karena mereka takut jika sebenarnya yang mereka berikan itu tidak seperti yang mereka duga sebelumnya.

Selain itu, kita pun tidak benar-benar saling mengenal. Kita hanya sebatas saling bertemu di perpustakaan ini tanpa saling menukar kata dari mulut masing-masing.

Apa benar hanya dari pandangan saja itu sudah cukup mengatakan kalau kita jatuh cinta?

Karena itulah, aku memutuskan.

Besok, aku akan menemuinya secara langsung untuk menanyakannya.

—————————————————————————————————————-

Setelah mati-matian merangkai kata di malam sebelumnya, akhirnya saat ini tiba juga.

Saat aku akan bertemu dengannya untuk mengatakan apa yang ingin kuketahui kepadanya.

Alasan mengapa dia sering berada disini tepat jam setengah lima sore, juga arti dari tatapan-tatapan yang pernah dia berikan kepadaku.

Saat ini, aku berdiri di tempatku yang biasa, yakni dibalik rak buku, sambil menunggu suara sepatunya terdengar.

Oh iya, sebenarnya, momen dimana kamu akan mengatakan perasaanmu yang sebenarnya kepada orang yang kamu sayangi juga merupakan momen penentu, dimana akankah kau benar-benar bisa bersama dengannya.

Atau tidak.

Tapi sudahlah, aku tidak mau membicarakan hal-hal negatif dulu. Melakukan saja belum kan? Dan aku juga belum tentu akan menyatakannya. Toh, aku kan cuma mau bertanya kepadanya.

Belum selesai aku menenangkan hatiku, tiba-tiba suara khas itu datang lagi.

Suara khas langkah kakinya, memenuhi perpustakaan ini.

Dan semakin memompa detak jantungku.

Kedua kakiku sempat gemetaran, dan nafasku sempat terasa sesak.

Tapi jika aku begini terus, aku tidak akan mengetahui arti dari semua tindakannya tersebut.

Setelah membulatkan tekad, aku pun memberanikan diri keluar dari balik rak itu.

Dan benar. Dia berada disana. Kali ini dengan jaket jins berwarna biru gelap menutupi seragam pramukanya. Rambutnya sedikit teracak, dan di dahinya sedikit berkeringat. Satu yang membedakan, kini dia tengah menggunakan kacamata berbingkai hitam tipis bertengger di wajahnya.

Begitu melihatku keluar dari balik rak, dia langsung menolehkan pandangan dari buku yang dia pegang.

Setelah beberapa saat tercipta suasana yang kaku, dimana kami hanya saling berpandangan satu sama lain, akhirnya dia tersenyum.

Sambil menaruh buku itu kembali ke rak, dia berjalan mendekat kearahku.

Dia mengarahkan tangannya ke arahku untuk meraih tanganku, namun kulihat tangannya menembus pergelangan tanganku.

Sambil tersenyum sedih, dia menunduk.

“Ternyata memang benar itu kamu”

Aku terdiam melihat tangannya yang bergetar. Kemudian dia menarik kembali tangannya lalu menatapku.

Tatapan yang sama seperti sebelumnya. Tatapan yang tadinya sempat ingin kupertanyakan, namun setelah melihat ada kilauan-kilauan air mata yang membungkus kedua matanya, kini pertanyaan itu kupendam kembali.

“Kau ingat aku?” laki-laki itu kembali bersuara. Dia berusaha tersenyum. “Ingat ketika aku berusaha menyapamu di depan gerbang sekolah?”

Setelah dia berkata demikian, tiba-tiba bayangan flashback berputar-putar di benakku tanpa permisi.

Benar juga.

Saat itu. Sore itu. Aku tengah menunggu dijemput oleh ayahku di depan gerbang sekolah, sambil membawa setumpuk buku tebal di hadapanku untuk kubaca dirumah nanti.

Aku menunggu Ayahku dengan antusias, karena pada akhirnya aku mendapatkan buku yang selama ini aku cari.

“Neyla ya?”

Saat itulah aku bertemu dengannya. Yang tiba-tiba berdiri disampingku.

“Pengurus perpustakaan kan? Kau membaca buku yang lumayan sulit ya.”

“Eh, anu, enggak—“

Saat itu juga, karena aku yang terlalu panik disapa oleh laki-laki setampan dia, aku berlari menjauhinya. Aku lupa jika didepan gerbang sekolahku ini adalah jalan raya yang cukup padat. Setelah aku berlari, yang kuingat aku mendengar suara klakson yang cukup keras.

Dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di dalam perpustakaan.

“Maafkan aku…” Ucapnya, membuat pikiranku kembali ke dunia nyata. Dia menunduk. Tubuhnya bergetar pelan. “Harusnya aku tidak menyapamu saat itu. Aku benar-benar minta maaf.”

Saat itu, sinar matahari senja melewati sela-sela jendela. Mengenai bet nama yang berada di dadanya.

“Lazuardi Brahma Adiputra”

Aku tersenyum. Bahkan namanya pun serupawan dirinya. Benar-benar cocok.

Aku memandangi dirinya lagi, untuk kesekian kalinya.

Sejak peristiwa itu, aku selalu berkeliaran di perpustakaan ini. Hanya menjadi “seorang” penjaga perpustakaan tanpa benar-benar berkomunikasi dengan pengunjungnya. Selama ini aku selalu menjadi pengamat kehidupan di sekitarku, tanpa disadari keberadaannya. Dan itu tak berubah sampai saat ini.

Selama ini pula, ternyata hanya dia satu-satunya yang menyadari keberadaanku di perpustakaan ini.

Baik selama aku hidup. Atau tidak.

Aku berjalan mendekatinya. Sambil menahan air mataku, aku berbisik di telinganya.

“Terima kasih sudah menganggapku ada.”

23 dukungan telah dikumpulkan

Comments