A Reluctant Hero

3 months ago
Juno Kaha

by: Juno Kaha

Adrian baru saja selesai mandi dan berniat tidur setelah semalaman begadang di kampus ketika ponselnya berbunyi.

Kalau itu teman kampusnya, Adrian akan menggeser tombol ke kiri, mengakhiri paksa panggilan itu.

Tapi nama yang terpampang di layar adalah “Ginanjar Surawisesa”.

“Halo?” Adrian menjawab panggilan dengan suara semalas mungkin, berharap ia bisa memberi sinyal kepada sang penelepon bahwa ia lelah dan butuh tidur.

“‘Drian! Kamu belum ngembaliin komiknya Pak Robert? Barusan Bapak ditagih sama Pak Robert!”

Adrian melirik ke meja belajarnya. Buku-buku komik berserakan di sana. Ia sedang tak ingin membereskannya. Dia ngantuk berat.

“Pak,” Adrian menghela napas, “saya baru pulang. Ntar agak siangan saya bawa komiknya ke kampus.”

“Oh iya! Kebetulan! Saya ada orang yang pengen saya ketemuin sama kamu. Ntar kuliah beres jam berapa?”

“Nggak ada kuliah hari ini.”

“Mantap. Ntar ketemuan ngebakso di Selasar IPTEK ya kalo gitu!”

“Pak, bentar–”

Pak Ginanjar mengakhiri panggilan secara sepihak.

Adrian memijit kening dan mematikan suara ponselnya sebelum ambruk ke kasur.

Pak Ginanjar kayaknya nemu superhero lagi, pikir Adrian. Matanya terasa berat. Atau bajunya sobek dan butuh dibenerin.

==

Bagi Adrian, superhero bukan hanya ada di komik.

Almarhum kakeknya adalah seorang superhero yang menyebut dirinya “Jalak Harupat”. Adrian hanya ingat kakeknya bisa melompat sangat tinggi–kemungkinan kekuatan supernya terletak di kaki seperti namanya. Beliau meninggal akibat kecelakaan di jalan raya, setidaknya itu yang dikatakan polisi dan surat kabar.

Jadi, waktu Adrian pertama kali bertemu dengan Pak Ginanjar “Prabu” Surawisesa, dia tidak terlalu kaget. Lebih tepatnya malah Adrian dibuat jengkel dengan usaha Pak Ginanjar menutupi identitasnya dengan topeng ski, tapi masih pakai kemeja dan celana ala pengajar ketika beraksi. Dosen satu itu melanggar semua cerita kakek dan nenek Adrian tentang kostum dan identitas rahasia.

Setelahnya Adrian berinisiatif membantu Pak Ginanjar terkait kostum dan detail tentang superhero, berbekalkan cerita-cerita almarhum kakeknya. Pak Ginanjar sendiri menyambut antusias bantuan itu dan bahkan bertekad menjadi orang yang menaungi para superhero.

Masalahnya, dia menjadikan Adrian sebagai “konsultan ahli” dalam misi mulianya.

Pak Ginanjar sudah menunggu bersama seseorang ketika Adrian tiba di Selasar IPTEK.

Dari pakaiannya, Adrian menebak gadis ini adalah salah satu mahasiswi di kampus yang sama dengannya, Institut Teknologi Padjajaran, aka Itepa. Badannya gempal serta berisi dan ada indikasi jelas bahwa dia agak minder dengan fisiknya. Rambutnya pendek, pipinya dihiasi bekas jerawat. Bukan calon kuat pemenang Miss Itepa.

“Halo,” sapa Adrian. Ia menaruh ranselnya di bangku dan duduk.

“‘Drian, ini Suzanna,” kata Pak Ginanjar.

“Suzanna,” kata si mahasiswi pelan, menjabat tangan Adrian.

“Adrian.” Adrian mengikat rambutnya yang panjangnya sudah melewati tengkuk dengan karet, lalu mengeluarkan map loose leaf dan tempat pensil dari dalam tasnya. “Langsung saja.”

Suzanna menatapnya dengan kebingungan. Pak Ginanjar langsung sigap mengambil alih pembicaraan.

“Jadi kemarin ini ada insiden di bengkel Teknik Mesin. Saya denger ceritanya dari dosen mata kuliah umum lain. Katanya ada mobil anjlok dan menimpa mahasiswa.”

Adrian mengangkat alis. “Mobil?” ulangnya bingung. Dia memang tidak pernah main ke gedung Teknik Mesin dan tidak punya bayangan akan ruang-ruang di sana.

“Saya kemarin ke sana,” kata Pak Ginanjar. “Isi bengkel Teknik Mesin ternyata mulai dari mobil betulan sampai mobil-mobilan tamiya juga ada.”

“Yaa, namanya juga Teknik Mesin sih, Pak.” Adrian memutar bolpen di antara jemarinya. “Terus?”

“Ah, ya. Si mahasiswa tadi ditolong oleh Suzanna ini. Dia ngebalikin mobilnya.”

“Itu saya panik, Pak,” sela Suzanna cepat. “Katanya orang bisa tiba-tiba punya kekuatan lebih kan kalo lagi panik. Ada banyak kasus kok.”

Pak Ginanjar tersenyum, simpatik dan nyaris terlihat sedih.

“Mbak, orang panik pun nggak bakalan bisa bikin mobilnya sampai terbalik. Mbak juga kan yang ngembaliin mobilnya balik ke posisi semula waktu nggak ada orang di bengkel?”

Suzanna menghindari pandangan Pak Ginanjar dan Adrian.

Aha.

Adrian menulis nama Suzanna diikuti dengan poin “superhuman physical power” di bawahnya.

“Itu cuma kebetulan kok, Pak.” Suzanna masih mengelak.

“Mbak, pahlawan super itu bukan cuma ada di komik,” kata Pak Ginanjar. “Mereka betulan ada dan saya mau ngebantuin mereka, ngebimbing mereka.”

Suzanna belum kelihatan yakin.

“Pernah denger Jalak Harupat?” tanya Adrian akhirnya.

“Oh, pernah.”

“Itu kakek gue,” lanjut Adrian. “Dan dia beneran superhero. Dia bisa lompat naik ke genteng rumah padahal rumah kita dua tingkat. Kalo pernah denger beritanya, orang yang ngaku dihajar Jalak Harupat pada bilang mereka dikejar Jalak Harupat pake kaki alias lari. Padahal mereka pada naik motor.”

“Seriusan?”

“Seriusan.” Adrian kembali menekuni catatannya. “Oke, jadi, ada detail apa lagi?”

“Apa kekuatan supernya ada yang lain?” Pak Ginanjar menjelaskan. “Berubah apa gitu, misalnya. Atau udah ketahuan bisanya dipake kalo kondisi gimana?”

“Saya belum banyak explore juga sih, Pak …”

“Wajar, wajar,” ujar Adrian sebelum Pak Ginanjar mengucapkan sesuatu yang menyudutkan Suzanna. Pak Ginanjar cenderung kelewat bersemangat menginterogasi para superhero yang ditemukannya. Beberapa malah jadi sebal karena ke-kepo-an Pak Ginanjar.

“Apa itu sesuatu yang penting?” tanya Suzanna. “Maksud saya, mengetahui soal detail kekuatan?”

“Penting. Banget. Gue butuh semua spesifikasinya kalau mau ngedesain dan kostum.”

Suzanna melongo. Adrian cuma nyengir dan mengangkat alis, sangat terbiasa mendapat tanggapan demikian.

“Dan Pak Ginanjar pasti gatal mau ngasih nama,” Adrian menambahkan. “Itu juga pengaruh ke desain kostum. Untuk … branding. Ciri khas. Semacam hitam-abu dan logo kelelawar itu Batman, merah dan petir itu The Flash, dan seterusnya.”

“Tapi …” Suzanna mengernyit. Suaranya memelan. “Saya nggak mau jadi superhero.”

Pak Ginanjar mengeluarkan suara tersedak. Dosen sastra ini lebay parah, tapi Adrian sekarang ini khawatir beliau betulan tersedak bakso.

==

WhatsApp Adrian mengeluarkan denting bertubi-tubi tak lama setelah maghrib menjelang. Pak Ginanjar ngomel-ngomel.

Adrian juga kaget saat Suzanna menolak menjadi superhero. Dari semua superhero yang selama ini mereka temui dan rekrut (totalnya sekarang ini ada tiga orang, termasuk Pak Ginanjar) ini pertama kalinya ada yang menolak berperan aktif sebagai seorang superhero.

Selama perjalanan pulang, Adrian terus berpikir tentang penolakan tersebut dan akhirnya mengakui bahwa harusnya dari awal dia dan Pak Ginanjar sadar mereka akan bertemu Suzanna-suzanna lainnya. Orang-orang berkekuatan super yang tak ingin menggunakan kekuatannya.

Iming-iming “membela kebenaran”, “menegakkan keadilan”, dan lain sebagainya belum tentu mempan. Malah kalau dipaksa bisa-bisa–kasus terburuk–mereka berbalik menjadi lawan. Untung tadi Adrian berhasil meredam Pak Ginanjar hingga dia tidak memaksa Suzanna sampai keterlaluan.

Setelah membaca “curhat colongan” Pak Ginanjar, Adrian mengetik: “yg kyk gitu hrs dtgnya dari hati, pak”. Dilanjutkan dengan: “gak bisa dipaksa”. Dan terakhir: “sabar dulu”.

Adrian menaruh ponselnya di samping komputer dan pergi ke ruang makan. Hari ini ibunya memasak tongkol balado dan wangi sedapnya membuat perut Adrian keroncongan.

==

Merasa curhatnya tak ditanggapi serius oleh Adrian, Pak Ginanjar mengabarkan kegagalannya di grup WhatsApp beranggotakan Adrian dan dua superhero lainnya (nama grupnya “Sapu Jagat”, sebuah perbaikan dari nama sebelumnya, “Bumi Gonjang Ganjing”). Tentunya dia menulis dengan bahasa lebih formal.

“Ajisaka” menanggapi dengan “yha :v” dan “kok gitu” sementara “Lutung” membalas dengan “wkwkwkwkwk”. Tidak membantu.

Pak Ginanjar ingin mengadakan “rapat darurat” dan langsung ditolak mentah-mentah karena “Aji” maupun “Lutung” ada deadline tugas akhir minggu ini.

Adrian tidak sengaja bertemu lagi dengan Suzanna dua hari kemudian, di Kantin Samudera yang lokasinya dekat jurusan Oseanografi. Mereka hanya bertukar anggukan diiringi senyum sekilas.

Lucunya, keesokan harinya, di Selasar IPTEK, Adrian kembali bertemu dengan Suzanna.

Saat itu hujan deras. Adrian tengah menikmati sotonya sementara temannya sudah lebih dulu pergi karena ada rapat persiapan acara sesuatu. Para mahasiswa yang tidak terburu-buru, duduk-duduk di sana, menunggu hujan reda. Hanya ada sedikit kursi kosong, salah satunya di meja yang ditempati Adrian. Suzanna datang belakangan sambil membawa sepiring kupat tahu.

Awalnya mereka diam saja, menikmati makan siang masing-masing. Adrian merasa ini kesempatan yang harusnya ia manfaatkan untuk menanyai Suzanna lebih lanjut soal kekuatan supernya dan alasan kenapa dia menolak menjadi superhero, tapi dia tetap diam. Rasanya tidak sopan mencecar terus seperti itu padahal mereka baru kenal.

“Mas Adrian?”

“Ya?”

“Mas juga …,” Suzanna ragu-ragu, “punya ‘kekuatan’?”

“Nggak.” Adrian menyeruput kuah. “Gue cuma bantuin bikin kostum.”

“Oh.”

“Gue awalnya ketemu si Pak Ginanjar itu,” lanjut Adrian. “Dia pake topeng ski, tapi bajunya masih kemeja sama celana bahan. Parah banget. Jadinya kayak maling tapi pegawai kantoran gitu.”

Suzanna tertawa.

“Dia sih bilangnya karena buru-buru, tapi gue yakin dia gak ada ide aja buat kostum. Belakangan gw tahu dia seleranya jelek. Dia ngasih liat superhero yang jaman celananya pendek banget gak beda sama hot pants, ketat lagi!”

“Ya ampun.” Suzanna kelihatan geli sekaligus prihatin.

“Masa dia bilang mau pake baju gitu? Nggak banget!” Adrian geleng-geleng kepala. “Parah lah dia.”

“Eh, bentar, ya, Mas.” Suzanna beranjak dari tempat duduknya. Piringnya sudah kosong, membuat Adrian mempertanyakan siapa di sini yang kecepatan makannya abnormal? Adrian yang terlalu lambat atau Suzanna yang terlalu cepat?

Si mahasiswi Teknik Mesin kembali dengan membawa sepiring lontong kari.

Buset, masih muat nih? batin Adrian.

“Saya makannya banyak,” kata Suzanna.

“Elu nggak bisa baca pikiran orang kan?” tanya Adrian curiga.

“Nggak kok.”

Adrian sampai sekarang masih ngeri jika ia bertemu dengan superhero berkemampuan membaca pikiran. Tadinya dia sudah bersiap-siap minta maaf pada Suzanna kalau dia ternyata punya kemampuan itu.

“Sebenernya baru-baru ini,” kata Suzanna dengan suara perlahan. “Baru-baru ini aja kalo nggak makan tiga porsi rasanya masih laper.”

“Bentar …,” ujar Adrian. “Nggak lama setelah urusan sama mobil itu?”

“Iya.”

Aha.

Adrian mengeluarkan loose leaf dan menambahkan satu poin di bawah catatannya tentang Suzanna: “nafsu makan bertambah”.

“Aduh, Mas, masa kayak gitu juga dicatat sih?” Suzanna merengut. “Lagian saya udah bilang kan saya nggak mau jadi superhero.”

“Iya, tahu. Ini buat jaga-jaga.”

Sotonya sudah habis, tapi hujan masih belum reda dan Adrian tidak bawa payung. Adrian mengecek ponselnya. Grup WA kelihatan senyap.

“Orang kayak saya ada banyak?” Tiba-tiba Suzanna membuka pembicaraan.

“Baru ketemu tiga sejauh ini.” Adrian sengaja bicara lamat-lamat, menjaga agar jangan sampai dia mengucapkan sesuatu yang rahasia. “Pak Ginanjar satu dari tiga itu.”

“Semuanya dari Itepa?”

Untuk pertama kalinya Adrian sadar ketiga superhero yang ia kenal berasal dari Itepa semua: dua mahasiswa, satu dosen. Mungkin karena Pak Ginanjar lebih fokus mencari bakat-bakat yang berada di kampus ketimbang di luar sana.

“Sejauh ini sih gitu.”

Suzanna kelihatan menimbang-nimbang. Ia menggumamkan “permisi” lagi lalu beranjak dari kursinya. Saat kembali lagi, ia membawa nasi uduk lengkap dengan ayam gorengnya.

“Saya sebenernya nggak enak sama Pak Gin kemarin …,” kata Suzanna. “Nolak gitu aja kayak nggak dipikir.”

“Berasa kayak ditawarin ikut MLM sama temen yang kenal baik aja nggak ya?”

Suzanna tertawa kecil. “Iya.”

“Bedanya kita nggak ngejanjiin dapat kapal pesiar.”

“Bohong ah itu,” ujar Suzanna. “Temen SD yang pada ikutan MLM belum ada tuh yang punya sampe sekarang.”

“Yaa gitu deh.” Adrian nyengir. Sejurus kemudian ia kembali berwajah serius. “Soal yang kemarin sama Pak Ginanjar, sori ya. Seriusan, sori.”

“Gapapa.” Suzanna lagi-lagi terdiam, tercenung memandangi makan siangnya.

Hujan telah berubah menjadi gerimis lembut. Merasa ia bisa berlari untuk mencapai gedung fakultas terdekat, Adrian beranjak.

“Gue duluan ya,” katanya pada Suzanna.

“Oke.”

“Kalo ada butuh bantuan, gue biasanya kalo nggak ke sini ke Samudera.”

Di ruang kuliah, saat terkantuk-kantuk dibuai suara sang dosen yang sedatar flatline, Adrian baru terpikir: kenapa tadi dia tidak memberikan nomor hapenya pada Suzanna?

==

“Wah, katanya ada kasus penusukan di Itepa?”

Adrian dan bapaknya mendongak. Keduanya sedang nongkrong makan bubur di tepi jalan besar setelah lari pagi hari Sabtu itu.

Sementara si tukang bubur yang mengutarakan berita penusukan itu mengobrol dengan pembeli lain, Bapak menoleh pada Adrian, “Kamu udah denger berita itu?”

“Baru hari ini, Pak.” Adrian mencelupkan kerupuk ke dalam bubur. “Kejadiannya di mananya Itepa ya?”

“Temen kamu nggak ada yang ngomongin juga?”

“Nggak tahu juga. Ntar coba lihat deh di rumah. Gak bawa hape.”

Pak Ginanjar nih kayaknya bakal ribut di grup, pikir Adrian.

Dan dugaan Adrian tepat.

Di grup chatting, Pak Ginanjar mengumumkan “rapat darurat” yang ditanggapi dengan adem ayem bahkan cenderung ogah-ogahan oleh “Ajisaka” dan “Lutung”.

Sebelum Pak Ginanjar ngambek, Adrian cepat-cepat menulis:

“Ati2 kalo dr kampus malem2. Ttp waspada aja. Mending teriakin org yg lu curigain drpd lsg sergap salah org.”

“Ajisaka” yang up to date dengan peristiwa terkini di tanah air, menanggapi:

“Ntar dibakar massa kyk kasus kmrn gmn??? Kan gawat!!!”

Adrian lagi:

“YA JGN DITERIAKIN MALING ATUH”

Pak Ginanjar yang sedari tadi terlihat berstatus “is typing” terhenti sejenak. Lalu barulah balasannya muncul. Singkat dan jelas kentara dia batal ngambek.

“Benar kata Adrian. Kita semua tidak boleh gegabah. Tetap waspada dan siaga.”

Dasar dosen sastra, pikir Adrian. Balasan chatting-nya nggak disingkat dan bahasanya baku.

==

Ada satu kasus penusukan lagi terjadi, selang tiga hari dari sejak Adrian mendengar berita dari bapaknya. Keamanan kampus diperketat. Satpam berpatroli dan secara acak meminta mahasiswa menunjukkan kartu identitas. Di dekat lokasi kejadian, beberapa mahasiswa mengeluh karena tas mereka digeledah.

Hari ini, Adrian kembali menginap di kampus untuk tugas kuliahnya. Dia dan satu temannya bergantian mengawasi dan mencatat data proses kimia yang terjadi berjam-jam.

“Bah! Lama kali ini tugas!” ujar teman Adrian. Ia menepuk bahu Adrian yang duduk bengong di kursi tinggi dalam laboratorium. “Adrian, kau cari angin dulu saja. Sekarang giliranku jaga.”

“Oke, oke.”

“Kembali lagi setengah jam lagi kau ya! Aku puntir kau kalau mangkir!”

“Iya, Bang!” Adrian nyengir. Sulit menahan diri tidak meniru logat temannya yang menarik itu. “Kau hendak titip sesuatu kah? Nasi goreng atau rokok?”

“Aah, nanti kau WA-kan saja aku kalau ada tukang nasgor depan gerbang.”

Adrian berjalan meninggalkan gedung Teknik Kimia. Udara malam terasa menggigit dan di sekretariat himpunan Teknik Fisika, terdengar gelak tawa dan makian.

Dari sini ke gerbang depan itu jauh, batin Adrian. Ya udah deh ke sana. Sekalian cari makan juga.

Adrian melewati kantin Selasar IPTEK yang tutup. Di malam hari seperti ini suasananya jauh berbeda dengan di siang hari: kursi-kursi dinaikkan ke atas meja dan dirantai, etalase kosong, pintu menuju dapur digembok.

Klang!

Adrian menahan napas. Dia berdiri diam dan menunggu. Suara tadi berasal dari kantin yang gelap karena lampunya pecah dan belum diganti sampai sekarang.

Adrian yakin dia melihat ada yang bergerak dari balik salah satu pilar.

“Oi?” seru Adrian.

Tidak ada jawaban.

“Pacaran jangan gelap-gelapan,” lanjut Adrian, asal sebut. “Ntar kesamber setan lho.”

Sosok itu merunduk.

Merasa selanjutnya bukan urusannya, Adrian kembali berjalan menuju gerbang depan.

Tengkuk Adrian meremang. Ia menoleh lagi ke belakang.

Sekelebat bayangan gelap menerjang ke arahnya.

“Wha–?!”

Adrian sempat mengangkat tangan dan memegang tangan sosok itu. Ia jatuh, punggung lebih dulu. Refleks melawan desakan tangan lawannya, Adrian mendorong balik. Ia tidak dapat memastikan sendiri, tapi sepertinya sosok ini membawa benda tajam. Ujung benda itu sudah menyentuh perut Adrian.

BUUGGGH!!!

Sosok itu terlempar ke arah kantin. Dia tersangkut pada kursi dan menyeret kursi-kursi di satu meja itu hingga jatuh. Adrian terguling, masih terbawa momentum dari cengkeramannya pada tangan si sosok misterius.

“Mas Adrian! Mas nggak apa-apa?!”

“Nggak …,” gumam Adrian. Padahal jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia menoleh dan mendapati Suzanna berdiri di dekatnya.

“Itu tadi apa?”

“Nggak tahu. Nggak kelihatan jel–AWAS!”

Makhluk gelap itu tiba-tiba saja sudah bertengger di bahu Suzanna. Satu-satunya yang dapat Adrian kenali hanyalah sosok itu menyerupai siluet gelap pekat, sekilas mirip manusia secara bentuk tubuh, tapi kemudian ia mengangkat kedua tangannya yang berjari-jari kurus dan pisau tumbuh dari setiap jarinya.

Jari-jari berpisau itu menyambar. Adrian memekik tertahan.

“Heyah!”

Kilatan melengkung berwarna putih melesat dan menghantam telak si sosok hitam. Warna merah merekah di badan si siluet sementara sosoknya jatuh. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, sosok itu berguling dan melompat bangkit, kemudian kabur. Warna merah di badannya nampak menyala dalam kegelapan.

“Ah! Sial!” Pak Ginanjar–mengenakan jaket kulit putih, sarung tangan, dan topeng dari bandana lebar bercorak loreng-loreng harimau putih–menghentakkan kaki dengan kesal. “Akan kuke–”

Dua orang satpam kampus tiba-tiba saja muncul di ujung jalan.

“Pak,” ujar Adrian, mendesak. “Lepas bandana Bapak. Sekarang!”

Pak Ginanjar menunduk sedikit dan melepas bandana di kepalanya. Ia kemudian menjejalkan bandana itu ke balik jaketnya.

“Selamat malam,” sapa salah satu satpam dengan kaku. Ia melempar pandang sekilas-sekilas pada Pak Ginanjar, Adrian, dan Suzanna dengan curiga. “Maaf, bisa tolong–oh, ya, maaf.”

Bahkan sebelum si satpam selesai meminta kartu identitas, Pak Ginanjar sudah mengeluarkan kartu identitas staf pengajar, disusul oleh Adrian dan Suzanna dengan kartu mahasiswa masing-masing.

“Bapak ngapain malam-malam di sini?” tanya si satpam pada Pak Ginanjar.

“Ada barang saya ketinggalan di kantor,” jawab Pak Ginanjar lancar. “Tadi udah naik motor saya baru ingat.”

“Kamu?” Si satpam beralih pada Adrian.

“Mau cari makan ke gerbang depan, Pak. Saya dari TeKim, lagi ada tugas di lab.”

“Dan kamu?”

“Saya … mau pulang ….” Suzanna terlihat kebingungan sesaat, tapi kemudian ia mengangkat helm di tangannya. Adrian bahkan tidak menyadari helm itu dari tadi.

“Ada masalah, Pak?” todong Pak Ginanjar. “Nggak biasanya satpam kampus negur orang selain anak-anak bikin acara rame-rame nggak ijin.”

“Kami lagi nyari seseorang. Menurut laporan, tersangkanya lari ke arah sini.”

“Tersangka?” tanya Adrian dan Suzanna berbarengan.

“Penusukan mahasiswa.” Si satpam terlihat gusar. “Maaf. Kami harus lanjut cari. Permisi. Selamat malam.”

Kedua satpam itu pun pergi. Terjadi keheningan sesaat.

“Suz,” akhirnya Adrian ingat sesuatu yang penting untuk sekarang, “yang tadi–elu kena di mana?”

“Eh …?”

Suzanna sepertinya juga baru teringat bahwa tadi ia mendapat serangan telak. Ia meraba leher dan rahangnya, terlihat kebingungan dan kebingungannya makin bertambah ketika ia mendapati kerah kaosnya tercabik, tapi sama sekali tak ada luka.

“Gue ditungguin temen kelompok, ngomong-ngomong,” kata Adrian. “Kalo mau ngobrol, sambil makan nasgor depan gerbang aja gimana?”

==

“Kalian … biasanya ketemu yang kayak gitu?” Suzanna membuka pembicaraan.

Baik Pak Ginanjar maupun Adrian sudah mengatakan pada Suzanna bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa mereka bahas untuk berjaga-jaga–karena gerobak nasi goreng jauh lebih sepi daripada kantin Selasar IPTEK saat jam makan siang.

“Nggak, ini pertama kalinya,” jawab Adrian. “Tadi untung banget elu lewat, Suz. Makasih banyak lho ya.”

“Sama-sama.”

“Tapi tadi itu apaan, ya?” Pak Ginanjar mengambil acar dari wadah di meja. “Sebelumnya nggak ada kayak gituan.”

Bilang aja Bapak girang setengah mati karena akhirnya ada kerjaan, batin Adrian. Tapi perkembangannya kok bahaya ya kayaknya.

“Ntar kita bahasin lagi di grup,” kata Adrian.

“Iya deh.”

Ketiganya menikmati nasi goreng dalam diam. Si penjual nasi goreng–seorang bapak paruh baya yang mengenakan kopiah–meletakkan nasi goreng pesanan Adrian yang dibungkus di meja.

“Saya … sebenarnya malu.” Tiba-tiba Suzanna angkat bicara. “Malu sama ogah sibuk ya mungkin lebih tepatnya.”

“Malu kenapa?” tanya Pak Ginanjar.

“Dari dulu saya dibilang ‘Gajah’ sama temen SMP. Sampe sekarang juga masih.” Suzanna merenung. “Jadi kalo ketambahan kekuatan kayak gitu, mungkin saya bakal dipanggil ‘Gorila’.”

Adrian menggigit bibir dan menenggak teh tawarnya, berusaha menyembunyikan senyum geli yang tak dapat ditahannya.

“Saya masuk Itepa itu kebanggaan tersendiri,” lanjut Suzanna. “Temen SMP sekarang lebih ngomongin soal itu daripada saya gemukan ato sejenisnya. Tapi saya takut kalo nilai saya jeblok gara-gara terlalu sibuk, ntar mereka ngomongin soal itu juga.”

“Temenmu ada yang kuliah di sini juga memangnya?”

“Satu orang. Beda jurusan.”

Pak Ginanjar manggut-manggut. Ketiganya kembali terdiam hingga nasi goreng masing-masing habis dan mereka kembali ke kampus.

“Saya minta nomor kamu deh.” Pak Ginanjar mengeluarkan ponselnya. Ia berhenti di jalan setapak sekitaran parkiran motor. “Kamu ntar kenalan aja sama yang lain. Udah. Untuk sementara nggak usah ngapa-ngapain dulu.”

“Tapi, Pak …”

“Nggak masalah.” Pak Ginanjar tersenyum. “Kalo bantu-bantu sesekali di belakang layar, mau kan?”

Seulas senyum terkembang di wajah Suzanna. Ia mengangguk. “Bisa, Pak.”

“Kita bakal bantuin juga soal superpower-mu,” kata Adrian. “Superpower itu agak aneh. Ada batasan dan syarat pemakaian, bahkan efek samping. Yang terakhir itu agak gawat kalo nggak diurus bener, jadi biarpun kamu nggak pake, kita tetep harus perhatiin itu.”

“Oke.”

Suzanna mengenakan helmnya. Ekspresinya berubah kebingungan lagi.

“Tadi kamu ngegebuknya pake helm?” tanya Adrian.

“Iya ….”

Tali pengaman helm Suzanna putus dan sudut kaca visornya patah.

“Walah.”

==

Adrian pulang ke rumah sekitar pukul enam pagi. Ia sengaja beristirahat sebentar di kampus supaya tidak ketiduran saat mengendarai motor.

Rasanya baru lima menit ia tertidur ketika ponselnya berbunyi nyaring.

Adrian menggerutu dan meraih ponselnya.

Nama “Ginanjar Surawisesa” tertera di layar.

“Aduuuhhh, Paaakkk!” erang Adrian.

Kali ini ia menggeser tombol ke kiri, mengakhiri paksa panggilan, dan kemudian mematikan ponselnya.

Biar si “Ajisaka” atau “Lutung” yang ditelepon. Adrian menutupi kepala dengan bantal. Atau Suzanna sekalian.

Samar-samar, sesaat sebelum ia kembali tertidur, sebuah nama terlintas di benak Adrian. Nama yang mungkin sesuai untuk diberikan sebagai nama samaran untuk Suzanna.

Dewatacengkar, sang raja raksasa penguasa Medang Kamulan.

50 dukungan telah dikumpulkan

Comments