Afterlife

3 months ago
Jeremiah Pranajaya

by: Jeremiah Pranajaya

“Apa yang akan terjadi setelah kita meninggal?”

Satu pertanyaan yang telah selalu menjadi pertanyaan seluruh umat manusia, dan mungkin satu pertanyaan yang tetap akan selalu dipertanyakan.

Memang, banyak yang telah mengaku bahwa mereka sudah menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Beberapa bahkan berani bersumpah bahwa mereka pernah melihat alam akhirat dengan mata kepala mereka sendiri.

Tapi, tidak pernah ada satu orang pun yang pernah atau sanggup memberikan bukti konkret tentang pengakuan mereka, dan untuk seseorang dengan jurusan biologi yang sudah terbiasa dengan pembuktian konkret seperti aku, pengakuan-pengakuan tersebut sulit untuk dipahami, apalagi dipercaya.

Ini bukan berarti pertanyaan tersebut tidak pernah menghantui pikiranku. Mungkin hanya terlintas setiap aku pergi melayat, atau tiba-tiba tertanyakan ketika aku termenung sendiri, namun pertanyaan tersebut tidak kurang penting bagiku.

Maka dari itu, bayangkan betapa kagetnya aku ketika Ria, teman kampusku dengan jurusan neurochemistry menghampiriku seusai kelas dan menanyakan pertanyaan itu.

“Apa?” Aku bertanya setelah termangu selama dua detik penuh.

Ria mengulangi pertanyaannya, menekankan satu-persatu kata dalam pertanyaannya.

“Apa. Yang. Akan. Terjadi. Setelah. Kita. Meninggal?”

Sepasang mata sipit ber-iris hitam milik Ria menusuk tajam mataku, menantikan jawaban sembari menyiratkan suatu kebanggaan bercampur keusilan, suatu pertanda bahwa ia ingin memberitahu aku sesuatu di balik pertanyaan ini.

Aku menggaruk kepalaku, tidak yakin harus menjawab bagaimana.

“Pertama-tama, badan kita mulai berubah warna, lalu terjadi livor mortis dan—“ Ria memotong jawabanku dengan cepat. “Algor mortis terjadi, lalu rigor mortis, bla bla. Membosankan sekali sih jawabanmu, Lan! Memang dasar anak biologi!” Ia memutar matanya untuk memperkuat suatu adegan yang sepertinya sudah dia ulang berkali-kali dalam pikirannya.

Begitulah Ria, dia selalu memikirkan cara ter-dramatis untuk menyampaikan sesuatu.

Pikiranku seketika melayang ke saat pertama kali aku berbicara dengan Ria, di suatu acara komunitas pelajar yang berasal dari Indonesia. Waktu itu, aku yang adalah seorang anggota baru tidak mengenal siapa pun, namun dengan samar aku ingat pernah melihat wajah Ria di kampus, maka aku menghampirinya. Aku ingat bahwa impresi pertamaku melihat penampilan Ria yang sederhana dan berkacamata adalah bahwa ia seorang gadis yang pemalu dan mungkin canggung.

Betapa salahnya aku.

Bahkan sebelum aku sempat mengulurkan tangan, suaranya sudah dengan lantang menyapaku, menolehkan kepala seluruh isi ruangan itu ke arah kami.

Watak yang lebih ekstrovert ketimbang introvert adalah satu hal, tapi hal lain lagi adalah sifatnya yang ternyata diam-diam rebellious. Mungkin fakta bahwa kita memang berkuliah di Amerika Serikat memiliki pengaruh yang besar, dengan budaya yang sangat liberal dibanding Indonesia. Beberapa kali aku pernah dikagetkan dengan tingkah-tingkah atau perkataan-perkataannya, seperti kata-katanya setelah ini.

“Nih Lan, maksudku itu ya, aku yakin sebenarnya enggak ada yang tahu kalau kita mati nanti kita bakal bagaimana!” Ria dengan tidak sabar melanjutkan perkataannya.

“Maka dari itu.” Ria mengangkat jari telunjuknya dengan dramatis. “Aku mau, secara ilmiah dan terjamin, membuktikan apa yang menanti kita setelah kita meninggal!”

Mendengar itu, aku hanya bisa mengangkat alis sembari separuh tertawa mengolok. Di luar dugaan, Ria tidak bereaksi, dia hanya terus menatap mataku dengan serius, tidak tersenyum sedikit pun.

“Kamu serius?” Aku bertanya, tidak bisa percaya.

Melihat ekspresi serius Ria ketika ia mengangguk dengan antusias, aku hanya bisa tersenyum kagum. Sifatnya inilah yang membuat aku tertarik padanya, suatu sosok tak tertebak yang berbalut rasa percaya diri, bak sebuah planet yang menarikku dekat.

Sedikit kecewa karena aku tidak menjawab, Ria kembali memainkan teatrikalnya. “Aku serius! Kamu ragu denganku, pelajar nomor satu di Stanford?” Ia mendorong kacamatanya dengan senyuman bangga, sebelum senyuman itu dengan perlahan luntur dan digantikan tatapan mata sedih.

“Kamu tidak percaya aku?”

Aku sedikit yakin bahwa Ria hanya bersandiwara, namun mata sedihnya berhasil meluluhkan hatiku dalam sekejap. Tanpa berpikir, aku memeluknya, kehangatan tubuhnya dengan perlahan berpindah kepadaku. Ria mengembalikan pelukanku, dan setelah beberapa saat aku melepaskan pelukan kami. Aku memegang tangan Ria sebelum menjawab pertanyaannya yang sebenarnya retoris itu.

“Percaya kok, nanti kamu jelaskan ke aku ya di rumah?”

Ria seketika saja berseri-seri dan memeluk lenganku erat sebelum kami berjalan ke satu apartemen yang kami sewa bersama.


Sudah tiga tahun berlalu semenjak pertemuan pertama kami di acara komunitas pelajar itu, dan banyak hal sudah terjadi di antara kami. Dalam beberapa bulan pertama, kami mulai rutin bertelponan dan chatting, beberapa bulan selanjutnya kami mulai sering berpergian berdua, dan pada akhir tahun pertama, kami memutuskan untuk menjadi satu pasangan.

Pada akhir tahun kedua, kurang lebih setengah tahun lalu, kami sepakat untuk tinggal bersama. Demikianlah kami menemukan apartemen ini, suatu apartemen tergolong murah yang berjarak sekitar 30 menit jalan kaki dari kampus kami.

“Rumah tercinta.” Aku bergumam.

Ria, yang masih menggenggam tanganku, menoleh ke arahku sambil tersenyum hangat. Ia mengangguk kecil lalu menimpali gumamanku. “Iya. Rumah tercinta.”

Pandangan kami bersama-sama menuju bangunan apartemen di hadapan kami, seiring bangunan itu makin mendekat dan berakhir sebagai satu pintu kayu dengan pelat berwarna putih dan bertuliskan 2-21 hitam yang tercetak jelas. Aku mengeluarkan kunci dari dalam dompetku, lalu dengan satu gerakan yang sudah terbiasa selama beberapa bulan belakangan, pintu itu pun terbuka dengan mudah.

Aku meraih ke arah saklar dan menyalakan lampu, menunjukkan satu ruangan utama yang sudah familiar, dengan pintu yang menuju kamar tidur beranjang queen size dan pintu yang menuju kamar mandi. Memang kecil, tapi ini tempat pertama kami berdua.

Segera saja, aku melepas sepatuku dan menggeletakkan diriku ke atas sofa berwarna coklat muda di ruangan utama itu, lalu menaruh kakiku di atas meja yang berada persis di antara sofa itu dan televisi kami.

Tanpa basa-basi pula, Ria menghempaskan dirinya kepadaku.

Aduh.

Menyeringai sakit, aku merangkulkan tanganku ke atas bahunya, yang dibalas bertenggernya kepala Ria di atas dadaku.

“Jadi begini, Lan.” Tidak berapa lama, Ria langsung memulai penjelasannya.

“Kamu kan belum pernah baca disertasiku.” Aku mengangguk, mengingat bahwa Ria selalu merahasiakan disertasinya bagaimanapun aku bertanya. “Nah, topik disertasiku itu adalah mati otak. Lebih persisnya, apakah mati otak bisa diputarbalikkan, dan kalau bisa, kapan titik terakhir hal itu bisa dilakukan dan apakah efek sampingnya.”

Aku memilin-milin rambut Ria sembari berpikir. Sepertinya aku mulai paham apa yang Ria maksudkan di kelas tadi.

“Kamu kan anak biologi, Lan, kamu pasti paham apa implikasi disertasiku ini.” Aku mengangguk kecil sebelum ia melanjutkan. “Orang selalu salah beranggapan kalau manusia meninggal ketika jantungnya berhenti, tapi kenyataannya, manusia meninggal ketika otaknya tidak lagi bekerja.”

“Dan disertasimu itu mengimplikasikan bahwa apakah manusia benar-benar bisa kembali dari kematian klinis?” Aku mulai menambahkan satu dengan satu.

“Iya Lan, dan kalau ini berhasil….”

“Kamu bisa, dengan ilmiah, membuktikan apa yang terjadi setelah kematian?”

Ria mengangguk antusias. Aku akhirnya mengerti tujuan pertanyaan Ria sebelumnya. Memang ini satu ide yang menarik, dan kalau bisa dibuktikan akan mengubah dunia medis —mungkin dunia secara keseluruhan—, tapi…

“Ini bahaya banget Ri.”

Ria tidak menjawab, aku yakin bahwa ia mengerti seberapa bahayanya topik ini, terlebih lagi apabila eksperimen mulai dilakukan.

“Hal seperti ini tidak mungkin bisa di-tes ke subjek manusia kan? Kenapa dewan akademis bisa setuju sama disertasimu?”

“Makanya.” Ria menjawab lirih. “Aku janji ke mereka kalau aku tidak akan melakukan eksperimen manusia, hanya ke hewan saja.”

Aku mengangguk-ngangguk pelan, semestinya aku sudah tahu bahwa begitulah hal yang terjadi karena memang itu prosedur dasarnya. Namun, sesuatu tentang rasa antusiasme dalam pertanyaan Ria di kelas tadi membuatku resah.

“Aku juga mau minta tolong Lan, bantu aku analisis dan cross-check semua hasil eksperimen itu ya? Aku butuh perspektif dari bidang biologi untuk verifikasi efek samping ke keseluruhan badan. Aku hanya bisa percaya kamu.”

Aku terdiam, dalam satu sisi aku mau membantu Ria dengan disertasinya, tapi di lain pihak hal ini terdengar berbahaya. Namun pada akhirnya, rasa keingintahuan seorang ilmuwan di dalam diriku menang.

Aku mengangguk.


Congrats Ria!!”

“Selamat ya!”

Great job, girl?”

Ciye yang Summa Cum Laude dari Stanford!”

Berpuluh-puluh teman Ria datang untuk memberikan selamat pada kelulusan Ria, beberapa bahkan datang dari Indonesia khusus demi Ria, membuatnya berhiaskan senyuman di wajahnya dan buket-buket bunga di tangannya.

Selama dua tahun terakhir ini Ria sangat berkonsentrasi kepada disertasinya, dan aku adalah seorang saksi akan dedikasinya. Kami berdua menghabiskan entah berapa jam untuk memikirkan formula kimia eksperimental, menuliskannya lalu mencoretnya dan memikirkannya lagi, dan entah berapa jam lagi untuk mengetesnya lagi satu persatu.

Tapi akhirnya kami berhasil menciptakan satu formula yang kami namakan Aurora dan antithesis-nya yang kami namakan Phillip, nama yang didasarkan kisah Sleeping Beauty karena cara kerjanya yang menyerupai kisah tersebut. Aurora mengakibatkan kematian otak secara klinis tanpa kerusakan apapun pada otak ataupun bagian tubuh lainnya, dan Phillip mengembalikan subyek pada keadaan normal.

Aurora dan Phillip berhasil mengembalikan 94% subyek kepada keadaan normal dalam jangka waktu 36 detik, namun setiap detik lebih lama dari itu menurunkan kemungkinan berhasil dengan substansial, yang menjadi 100% kemungkinan gagal pada detik ke 44.

Maka dari itu, kami menyimpulkan bahwa 36 detik adalah titik terakhir di mana mati otak bisa diputarbalikkan tanpa kerusakan apapun. Hal ini berarti bahwa secara teknis kami mungkin telah menemukan obat untuk kematian otak, tapi jangka waktu yang terlalu pendek membuat obat ini hampir tidak mungkin dapat digunakan.

Sorry Lan, lama nunggu ya?” Ria tiba-tiba muncul di depanku, sepertinya ia baru saja selesai berfoto-foto dengan teman SMA-nya yang sudah datang jauh-jauh.

Aku tersenyum. “Tak apa-apa kok Ri, hari ini kan hari khusus buat kamu!”

Ria tertawa girang, namun dengan tiba-tiba air mata meleleh dari matanya.

“Eh, ini… Eh.” Ria melepas kacamatanya lalu mengusap matanya sambil tertawa.

Tertatih, ia melanjutkan. “Aku tak t-t-tahu kenapa a-a-aku na-nangis.” Ia terus mengelap air matanya. “Hahaha.”

Ria terus berusaha menghapus air matanya tanpa berfaedah, air matanya terus membanjiri sela-sela jarinya, dan tanpa kusadari air mataku pun berlari dari mataku.

Hangat.

Akhirnya Ria menyerah, lalu ia membenamkan mukanya kepada dadaku. “Aku… aku sangat b-beruntung bisa ketemu k-k-kamu!” Dadaku terasa hangat —panas bahkan— dan aku memeluk Ria erat, membiarkan air mataku bersatu dengan air matanya dalam satu harmoni intim.

Sesaat yang terasa kekal itu akhirnya berlalu terlalu cepat ketika Ria mengangkat wajahnya dari dadaku, ia menarik tanganku sambil tersenyum. “Pulang yuk?”


Apartemen kami yang sudah familiar itu terlihat berbeda, suatu aura kemegahan seakan terpancar tanpa penjelasan dari tempat milik kami berdua itu. Senyuman puas pun menghias wajah kami berdua, kami mengerti bahwa hari ini adalah kristalisasi dari kerja keras kami bertahun-tahun.

Aku menggenggam erat tangan Ria, bangga.

Ria menoleh, mengembalikan rasa banggaku dengan senyuman hangat, seakan berkata bahwa ini adalah hasil kerja keras kami berdua. Ia lalu menarik tanganku, menuntunku agar duduk di sofa ruang utama kami.

“Kamu ingat, Lan?” Ria memulai perlahan, suaranya suara seorang pujangga, penuh dengan emosi dan nostalgia. “Dua tahun lalu, kamu pertama kali mendengar topik disertasiku di sini” Ia tersenyum. “Dan hari itu juga kamu janji mau menolong aku.” Satu jeda mengisi udara sebelum Ria melanjutkan. “Thanks, Lan.”

Aku hanya tersenyum hangat, memandang mata Ria yang mulai basah.

Ria menyapu matanya, lalu dengan cepat ia berdiri, senyuman jahil kembali menghias wajahnya. “Ria Oktavia, Master of Science in Neurochemistry, siap melayani!” Ia membungkukkan kepalanya dengan dramatis, seperti seorang butler di dalam film.

Kami tertawa sejenak sebelum Ria melanjutkan. “Cocok kah?” Senyum jahil itu makin melebar.

“Cocok, cocok!” Aku mengacungkan jempol sambil tersenyum simpul, menanti apa yang sebenarnya ingin Ria ungkapkan di balik drama barusan.

Ria mulai membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali, tidak bisa memutuskan untuk mengungkapkan atau mendiamkan. Akhirnya ia memilih untuk mengungkapkan isi hatinya. Sambil menggenggam bantalan sofa kami, ia berkata dengan nada ragu. “Jadi begini…”

Lidah Ria menyapu bibirnya perlahan.

“Kamu ingat alasan aku menulis disertasi ini?”

Aku tertegun. Lalu mengangguk.

“Aku mau menemukan jawaban itu.”

“Tapi Ri—“

“Dan aku masih belum menemukannya.” Ria melanjutkan tanpa menggubris interupsiku. “Kamu mau bantu aku lagi?”

“Aku mau, Ri.” Aku terdiam. “Tapi… Bagaimana?”

Pertanyaan itu tidak bertanya tentang bagaimana aku akan membantu Ria, tapi tentang bagaimana ia akan melanjutkan eksperimennya, bagaimana ia akan berusaha untuk menemukan pertanyaannya itu. Satu pertanyaan retoris, bahkan, karena aku tahu bagaimana ia akan melanjutkannya. Pada dasarnya, pertanyaan ini hanyalah suatu afirmasi apakah Ria yakin atas keputusannya.

Ria paham. Ia mengalihkan pandangannya, menyapu ruangan itu.

Setelah beberapa detik yang diisi hanya oleh hembusan napas Ria yang berat, ia menjawab. “Aku mau melanjutkan dengan eksperimen manusia.”

Aku menatap matanya, sedikit berharap bahwa ia sedang bercanda, berharap menemukan satu keraguan di dalamnya. Namun yang aku temukan adalah suatu api yang menyala dalam keheningan, tersembunyi di dalam kelambu hitamnya.

Aku ingin bertanya lebih, meyakinkannya untuk berhenti, untuk memikirkannya kembali. Tapi yang aku temukan di dalam matanya adalah tekadnya yang bulat, dan ia akan melanjutkan eksperimen ini bahkan tanpa aku. Kini pertanyaannya adalah akankah aku tetap berada di sisinya?

Pertanyaan itu sangatlah konyol, bukan?

Aku menarik Ria ke dalam pelukanku kembali.

“Aku janji, aku akan selalu bersamamu. Ke manapun.”


“Masih belum terlalu telat untuk berubah pikiran, Ri.”

Aku menggenggam erat tangannya. Memang, kita telah menghabiskan setengah tahun bersiap untuk saat ini, tapi aku tetap berharap pada detik-detik terakhir ia benar-benar mengubah pikirannya

Ria tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak Lan, kita kan sudah bicara soal ini?”

Aku menggigit bibirku, tidak bisa menjawabnya, lalu melepaskan genggamanku. Aku melayangkan pandanganku ke sekitar ruangan berdinding putih yang soundproof itu, memindai dengan cepat jarum suntik dengan formula Aurora yang terlihat bening kemerahan, formula Phillip yang tampak bening kehijauan, berbagai peralatan medis untuk sterilisasi jarum-jarum suntik itu, defibrillator untuk berjaga-jaga, kantung IV untuk meminimalisir risiko, berbagai monitor untuk memantau keadaan Ria, lalu kembali lagi ke Ria yang sedang berbaring di atas ranjang.

Aku menghela napas.

Aku mengingat lagi seluruh langkah persiapan sebelum eksperimen dilakukan.

Efek samping kepada monyet-monyet percobaan terakhir…. Tidak ada masalah

Persiapan fisik dan hasil lab terakhir Ria… Tidak ada masalah

Pengecekan formula Aurora…. Tidak ada masalah

Pengecekan formula Phillip…. Tidak ada masalah

Sterilisasi jarum suntik… Tidak ada masalah

Kalkulasi terakhir penyesuaian formula terhadap tubuh Ria…. Tidak ada masalah

Tidak ada masalah apapun yang aku ingat, namun demikian, sekali lagi aku mengecek formula Aurora, Phillip, lalu menghitung ulang kalkulasi untuk penyesuaian formula-formula tersebut terhadap tubuh Ria.

Selama aku melakukan ini, Ria hanya terdiam rebah di atas ranjang, menungguku dengan sabar menyelesaikan semua persiapan.

Aku mengangkat jarum suntik yang sudah aku sterilisasikan lagi, lalu dengan perlahan aku memegang lengan Ria. “Sudah siap, Ri?” Suaraku gemetar pelan.

Ia mengangguk, memandangku penuh rasa percaya. Lalu ia menutup matanya.

Aku membiarkan anestesi di IV mendemonstrasikan efeknya, sebelum menggerakkan jarum suntik bercairan bening kemerahan itu perlahan, lalu jarum itupun masuk dengan pasti, menembus kulit putih Ria. Efek Aurora sudah berjalan.

See you.”

Aku mengaktifkan stopwatch pada 30 detik. Dengan sigap aku menyiapkan jarum suntik dengan formula Phillip, lalu mengecek tanda vital Ria di seluruh mesin —garis lurus total, secara medis Ria sudah meninggal.

Tik. Tik.

Lima detik lagi. Aku mendekatkan jarum suntik yang sudah aku siapkan itu ke Ria.

Tik.

Empat detik lagi. Bibirku kering.

Tik. Tik.

Dua detik lagi. Aku memastikan posisi penusukan jarum dengan seksama.

Tik. Tik.

Aku menusukkan jarum suntik itu dengan cermat, formula Phillip mulai memasuki tubuh Ria.

Sepuluh detik aku menunggu efek Phillip berjalan, dan sepuluh detik itu terasa lebih lama daripada seumur hidupku. Aku menelan ludah. Keringat dingin mulai menggenangi dahiku. Ria dengan tiba-tiba duduk tegap dari posisi tidurnya, tapi aku hanya bisa melihat punggungnya dari posisi dudukku.

“Ria?” Aku memanggilnya pelan. “Kamu tidak apa-apa?”

Ria tidak menjawab. Aku membalikkan badannya.

“Ri—“ Panggilanku terhenti ketika aku melihat mata Ria. Hampa. Hilang lenyap api yang tersembunyi di belakang kelambu hitam, hanya tersisa kegelapan tak berdasar. Tidak ada Ria di sana. Tidak ada Ria di dalam mata yang terbelalak itu.

Dan mulutnya —mulut tubuh menyerupai Ria itu— terbuka lebar, ia menganga seakan berteriak, namun tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Tidak salah lagi, ia sedang berteriak, nadi di lehernya tampak menegang dengan jelas, dan pinggiran mulutnya sedikit tersobek, darah segar menetes di sekitar bibirnya.

Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Apa yang terjadi? Semuanya berjalan sesuai prosedur! 30 detik! Seharusnya masih ada enam detik lagi dalam batas aman! Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya!

“RIA!” Aku mengguncangkan badannya, tidak bisa percaya, berusaha memanggil dia kembali. Apa? Apa yang salah?! “RIA!”

Tubuhnya tetap kaku, namun kehangatannya menandakan Phillip bekerja normal. Tapi matanya… Oh Tuhan, matanya! “RIA!!” Ke mana api itu?! “RIA!!!” Kenapa ia berteriak tanpa suara?! “RIA!! JAWAB AKU, PLEASE!”

“Roland?”

Seakan air dingin yang mengembalikan aku dari tidur, suara Ria membangkitkanku kembali dari keputusasaan. Api di matanya kembali, tersembunyi jauh di dalam siratan ketakutan tak berperi.

“Roland!” Ria berteriak, matanya tidak fokus. Apa ia tidak bisa melihatku? “Jangan ke sini!” Jantungku berhenti sesaat. Apa maksud Ria?

“Mereka… Mereka menunggu kita! H-hal itu menanti kita!” Ria melanjutkan dengan panik, suaranya cemas, takut. “Roland! Janji! Jangan ke sini!”

“Jangan….” Suara Ria memelas, seakan memohon kepadaku.

Lalu api itu melemah di dalam matanya, wajahnya membeku dengan ketakutan. “JANGAN KE SINI!!!” Ria berteriak, putus asa.

“aaaaAAHHHHH—-!!!!”

Teriakan Ria makin tinggi, makin tajam, dan akhirnya tidak terdengar lagi. Mulutnya ternganga dalam teriakan yang tidak terdengar telinga manusia itu. Matanya terbelalak, kembali hampa. Ria lenyap.

Setelah itu, tidak ada apapun yang aku lakukan yang bisa mengembalikannya.


Kini aku terduduk di sofa kami berdua, termenung.

Aku tidak menyangka dokumen-dokumen digital yang disediakan Ria sebelum eksperimen itu ternyata akhirnya digunakan, dan semua pernyataan Ria yang telah ia bubuhkan dengan tanda tangan elektroniknyanya membuatku lepas dari segala pidana. Aku ingat bagaimana aku sempat menggoda Ria, mengolok bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak akan memiliki kuasa hukum.

Aku salah, sepertinya zaman sekarang segalanya berubah digital.

Biasanya setiap kali aku salah dalam berdebat dengannya, Ria akan mencibir dan dengan lantang mengejekku di depan umum, sengaja membuatku merasa malu. Aku sering dibuat kesal karenanya, bahkan pernah kami bertengkar karena itu.

Tapi sekarang aku akan menukarkan apapun untuk mendengar Ria mengejekku, hanya untuk mendengar suaranya sekali lagi.

Sekarang sudah empat bulan lamanya Ria berada di rumah sakit jiwa, dengan satu ekspresi wajah yang tidak pernah berubah; mata terbelalak dan mulut berteriak tanpa suara. Mereka bahkan harus memberinya makan dan minum melalui selang.

Ini semua salahku.

Seharusnya aku memaksanya untuk berubah pikiran.

Seharusnya aku memintanya mencari sukarelawan untuk eksperimen ini.

Seharusnya aku yang menjadi subjek pertama eksperimen ini.

Seharusnya hal itu terjadi kepadaku, bukan dia…

Aku berdiri, lunglai, berjalan ke arah jarum suntik yang sudah aku siapkan dengan formula Aurora.

Aku sudah berjanji akan selalu bersamanya kemanapun juga.

Aku mengangkat lemah jarum itu dengan perlahan, bersiap untuk menusukkannya ke dalam tubuhku. Aku menutup mataku, mengingat kehangatan tubuh Ria, mengingat senyuman jahilnya, mengingat kelembutan hatinya yang tersembunyi, mengingat saat-saat kami bersama, dan mengingat permintaan terakhirnya kepadaku.

“Maaf, Ria, aku tidak bisa mengabulkan permintaan itu.” Lalu jarum itupun masuk.

Sebenarnya, siapa yang menunggu? Apa yang menunggu kita setelah maut? Kenapa Ria memohon agar aku tidak mengikutinya? Mengapa ia tampak begitu takut?

Aku tersenyum pasrah, memutuskan bahwa apapun itu, itu tidak masalah.

Aku akan melihatnya sendiri sekarang.

Kamu juga, ketika saatmu tiba.

204 dukungan telah dikumpulkan

Comments