Angsana-012

6 months ago
Kuro Neko

by: Kuro Neko

Saat aku memasuki ruang perawatan, yang pertama kali aku lihat bukanlah ayahku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tetapi, seorang perempuan yang duduk di atas kasurnya, sambil membaca sebuah buku yang dia pangku di pahanya. Rambut hitam panjangnya menambah kesan anggun dalam pandanganku, ditambah hembusan angin yang masuk dari jendela ruang perawatan membuat rambut hitam panjangnya berkibar seperti bendera.

“Dek kenapa diam di situ, sini cepat bawakan bubur itu untuk ayah.” tegas ibuku.

“Oh maaf bu.” Balasku.

Aku langsung berjalan dengan cepat menuju ibuku, lalu memberikan bubur itu kepada ibu.

“Perempuan itu cantik ya dek.”

“Ya bu.” Aku mengangguk pelan sambil melirik ke belakang.

“Namanya Santi kalau tidak salah.” Ucap ibuku.

“Ohh.”

Setiap aku mengunjungi ayahku yang dirawat di rumah sakit, aku selalu melihat Santi. Dia selalu saja membaca buku, hanya itu yang dia lakukan setiap kali ke rumahsakit. Tidak ada satupun anggota keluarga yang menunggunya. Dia selalu sendirian, di sana di pojok ruangan ini..

Hari ini akhirnya ayahku diperbolehkan pulang oleh dokter, memang belum sembuh tetapi keadaannya sudah membaik. Setidaknya untuk berjalan menuju masjid masih bisa. Yang penting ayahku tidak boleh kelelahan.

Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirku menemui Santi, untuk terakhir kalinya aku akan melihatnya membaca buku di ranjangnya.

“Dek kita ke Santi dulu.” Usul ibuku sambil menepuk bahuku.

“Mau apa bu?” tanyaku penasaran.

“Sudah pasti kita mau pamitan lah, nih kamu bawa bingkisannya.” Balas ibuku sambil memberikan bingkisan yang terasa berat itu..

Ternyata santi lebih cantik kalau dari dekat. Aku bisa melihat dengan jelas jepit rambut berbentuk potongan semangka yang kecil itu. Wajahnya sangat manis dan polos. Pandangannya yang terlihat halus itu membuatku sedikit tersipu.

“Nak ini ada sedikit hadiah dari kami, dek cepet kasih.” Sambil menyikut perutku.

“Oh iya ini, maaf kalau sederhana.”

Tanganku sedikit gemetar saat memberikan bingkisan itu pada Santi. Dengan tangan kecilnya yang lemah Santi menerima bingkasan itu, saat Santi memegang bingkisan itu dia terlihat gemetar. Sepertinya terlalu berat untuknya.

“Terima kasih, bu untuk bingkisannya.” Ucapnya dengan nada yang datar.

“Sama-sama dek Santi, semoga kamu cepet sembuh ya.”

“Ya bu terima kasih banyak atas doanya.”

“Kalau begitu kami pergi dulu ya.” Sambil melambaikan tangannya ke arah Santi.

“Hati-hati bu di jalan.” Balas santi dengan tangannya yang melambai rendah.

Saat meninggalakan santi, aku sempat menoleh ke arahnya. Aku melihatnya meneteskan air mata. Air mata kesedihan mungkin.

“Bro bangun, woi bro bangun.”

Aku tersadar dari lamunanku.

“Ada apa?”

“Kamu kenapa sih, dari tadi bengong mulu, lagi mikirin apa sih?” tanya Adit penasaran.

“Gak apa sih aku cuma teringat sesuatu.”

“Mikirin cewek.”

“Kok Kamu tahu sih?”

Adit memberikan jus jeruknya padaku.

“Kira-kira apa penyebabnya?” balasnya dengan pandangan yang tajam.

“Karena kamu sahabatku, dasar keriting dan kurus cepat beritahu aku kenapa kamu tahu masalahku?”

“Kebanyakan cowok memang seperti itu, makanya aku tahu masalahmu.” Jelasnya dengan santai.

Aku kembali ke rumah sakit yang dulu pernah merawat ayahku. Sudah sebulan lebih aku tidak kesini, tidak ada perubahan sama sekali. Kali ini yang di rawat adalah ibuku, kali ini orangtuaku sedang bergantian sakit atau apa sih.

“Ruang yang mana bu?” tanyaku di telepon.

“Yang waktu itu ayah dirawat.”

“Dimana bu?”

“Angsana 012, dek.”

Aku menutup teleponku. Aku langsung cepat-cepat berjalan menuju ruang Angsana nomor 012 itu.

Saat aku membuka pintu ruangan itu. Hal yang pertama kali kulihat adalah, Santi yang sedang membaca buku. Santi sepertinya sakit lagi.

Aku berjalan menuju ibuku sambil terus-terusan memperhatikan Santi.

“Bu, Santi sakit lagi?” tanyaku pada ibuku sambil berbisik.

“Mungkin iya, kenapa tidak kamu tanya sendiri pada dia.”

“Tadinya aku ingin bertanyaseperti itu, tapi dia pasti sudah melupakanku.”

“Iya juga sih, tapi siapa yang tahu.”

Sejenak aku terdiam. Aku kembali memeikirkan kata-kata ibu. Ada benarnya juga, aku terlalu mengada-ada aja. Mungkin nanti saja aku menyapanya.

“Yaudah lanjutin suapin ibu dong.” Sambung ibuku.

“Iya bu.”

Selesai menyuapi ibuku aku langsung menonton Tv yang tersedia di ruangan ini. Tvnya tidak terlalu besar dan salurannya juga tidak banyak, tetapi hanya ini hiburanku satu-satunya sembari menunggu ibuku di rumah sakit ini.

Kepalaku mulai terasa berat, pandanganku juga mulai pergi, kesadaranku perlahan-lahan mulai memudar. Karena suasananya sangat mendukung aku jadi mengantuk, apalagi pendingin di ruangan ini sangat dingin, sangat nyaman untuk tidur.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang mencolek pipiku. Aku perlahan membuka mataku. Aku melihat seorang perempuan yang sangat cantik dia adalah, Santi. Wajahnya terlihat malu saat mengetahui kalau aku sudah sadar dari tidurku.

“Hai.” Sapaku dengan pikiran yang kebingungan.

“Hai juga.” Balasnya pelan.

Dengan cepat Santi berlari menuju kasurnya, lalu dia menyelimuti dirinya dengan selimut. Karena kebingungan aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku mencoba untuk menyapanya sekali lagi.

“Hai Santi.”

Dia tidak memperlihatkan wajahnya. Dia menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanyaku sambil menarik bangku yang ada di sebelah ranjang Santi.

Santi hanya diam dan tidak menunjukan wajahnya. Sepertinya dia sangat malu. Aku duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah ranjang.

Suasana menjadi hening, kami berdua diam tak berkata apa-apa, yang terdengar hanya suara TV dan dengkuran tidur ibuku.

“Namaku-“

“Namamu Rai, kan ibumu sering sekali menyebutmu seperti itu.” Potong Santi saat aku ingin menyebutkan namaku.

“Sebenarnya itu cuma nama panggilan padahal namaku yang sebenarnya tidak ada unsur Rai di dalamnya.” Jelasku pada Santi yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya.

Santi akhirnya membuka selimutnya, dengan jelas aku bisa melihat wajah cantiknya dan juga jepit rambut semangka yang menambah poin imut pada Santi.

“Kamu tidak perlu menyebut nama aslimu, aku akan panggil Rai saja soalnya penyebutannya sangat mudah diucapkan.”

“Baiklah terserah kamu.” tukasku sambil menepuk dahiku. “Ngomong-ngomong ini pertama kalinya kita berbicara berdua ya?” tanyaku basa-basi.

“Ya.” jawabnya singkat.

“Aku sebenarnya penasaran kamu ini baca buku apa sih sampai seserius itu?”

Santi mengambil buku yang ia taruh di bawah bantalnya, buku yang sudah diberi sampul buatan supaya terlihat awet. Buku itu diberikan untukku.

“Ini Novel atau apa?” tanyaku sambil membolak-balikan buku itu.

“No-novel.” Jawab santi gagap.

Aku membuka sampul novel itu. Judulnya Perahu Kertas, karangan Dewi Lestari. Aku tidak terlalu tahu novel, jadi novel tentang apakah ini?

“Novel ini menceritakan tentang apa?” tanyaku sambil melihat isi dari novel ini.

“Tentang persahabatan dan percintaan”

Oke mungkin dia langsung memberi tahuku garis besarnya saja, tidak samapai dtil ceritanya. Tidak apa-apa lah lagipula aku ini kan tidak terlalu suka membaca novel. Aku menaruh novel itu di atas meja.

“Tadi kamu ngapain colek-colek aku?” tanyaku dengan nada serius.

“Gak apa-apa kok.” Jawab Santi ketakutan.

“Bohong.”

“Tadi ada nyamuk di pipi kamu.” jelasnya sambil menunjuk pipiku.

Sejenak suasana menjadi hening kembali. Wajah Santi sangat ketakutan karena dia mengira aku sedang marah.

“Sudahlah tidak perlu dipikirakan lagi, lagipula tidak terlalu penting juga.”

Aku Berdiri dari tempat duduk, aku berjalan menuju jendela. Aku menyenderkan punggungku di jendela itu.

“Santi waktu itu kamu pernah menangis kan? Kalau tidak salah saat ayahku pulang.”

Santi diam menunduk.

“Maaf bertanya seperti ini, tetapi aku ingin tahu kenapa kamu bisa menangis seperti itu?” tanyaku sekali lagi pada Santi.

“Aku menangis karena aku kembali ditinggal sendiran.”

Santi memasang wajah sedih. Tangannya yang terlihat lemah itu mencengkram selimut yang menutupi kakinya dengan sekuat tenaga.

“Waktu itu aku sudah sangat senang melihat keluargamu berkumpul, aku senang karena ruangan ini menjadi lebih ramai. Suasana itu sangat meynenangkan untukku, walaupun berisik aku tetap menikmati saat-saat menyenangkan itu.”

“Kenapa saat itu kamu tidak menyapaku? aku sering sekali melihatmu hanya diam di ranjangmu sambil membaca buku.”

“Karena aku sangat malu untuk bersosialisasi kepada orang lain, bahkan orang yang seumuran denganku sekalipun.” Jawabnya dengan tatapan yang berkaca-kaca padaku.

“Memangnya kenapa?”

“Aku mungkin sudah ditakdirkan menjadi penghuni ruma sakit ni, mungkin kamu akan kaget kalau mengetahui ini dan akan merasa kasihan padaku. Aku ini sudah duduk terbaring di rumah sakit ini selama setengah dari umurku sekarang.”

“Jadi kamu, belum pernah sekalipun pulang ke rumah.”

“Ya benar bahkan aku belum pernah keluar dari rumah sakit ini. Aku melihat dunia luar hanya dari Tv, koran, novel, dan jendela besar di belakangmu itu.”

Sejenak aku terdiam mendengar pengakuan dari Santi, aku bahkan masih belum percaya kalau dia belum pernah keluar dari rumah sakit ini Apa penyakitnya seserius itu.

“Gimana? Kamu kasihan padaku kan?”

“Gak kok, malah aku ingin sekali membuat kamu bahagia.”

“Maksudmu?”

“Entahlah aku juga baru terpikirkan barusan, tetapi aku benar-benar ingin membuatmu bahagia. Aku ingin membuatmu tersenyum setiap hari, karena wajah cantikmu itu kurang lengkap tanpa sebuah senyuman.”

Perkataanku tadi membuat Santi agak tersipu malu, dan aku juga ikut-ikutan tersipu karena melihat wajah Santi yang sangat manis itu.

“Woi bro bengong sendiran lagi.”

Adit menyadarkanku dari lamunan.

“Maaf, aku terlalu banyak mikir.”

“Cewek lagi?”

“Ya, aku bingung bagaimana cara membahagiakan perempuan itu, aku terlalu ceroboh mengatakan hal seperti itu.”

“Emang dasarnya kamu ini sudah bodoh kok. Tenang saja kamu tidak perlu khawatir Rai.”

Aku meneguk jus jeruk di tangaku, dengan perlahan aku mengarahkan pandanganku ke atas lagit. Awan bergerak mengikuti arah angin pergi, awan-awan itu terlihat seperti gerombolan domba yang sedang digiring oleh pengembalanya.

“Hei Adit, apa kamu punya ide untuk membahagiakan seorang perempuan?”

“Gak tahu sih, tetapi kalau secara umum membahagiakan cewek cukup dengan memuji kecantikannya, dan memberikan seikat bunga. Aku terkadang menonton film romntis loh.”

“Terima kasih banget loh info biasanya.”

“Sama-sama bro.”

Langit itu sangat indah, mungkin kalau ada bintang-bintang mungkin akan lebih bagus. Tiba-tiba ide itu muncul di pikiranku.

“Kenapa gak itu aja ya.”

“Kenapa bro tiba-tiba teriak begitu, kaget aku?”

“Oh maaf, tadi aku terpikirkan sebuah ide yang bagus untuk membahagiakan perempuan itu.”

“Caranya?”

Aku menunjuk ke langit. Dengan cepat Adit memahami maksudku, untung dia pintar.

“Baguslah kalau begitu semoga beruntung bro.”

Ibuku kembali tertidur setelah aku menyuapinya dengan bubur kesukaan keluargaku.

“Hahahahha.”

Santi sedang tertawa, apa yang membuatnya tertawa? Padahal Tvnya kan sedang dalam keadaan mati. Apa dia tertawa karena membaca novel. Aku membuka gorden yang membatasi kawasan Santi.

“Kamu baca apa sampai tertawa begitu?”

“Ini novelnya Raditya Dika.”

“Yang mana??”

“Cinta Brontosaurus. Parah aku ketawa sampai berlinang air mata begini, lucu banget tahu.”

“Iya tahu, isinya lucu aku juga pernah baca kok.”

Santi kembali membaca novel itu, baru sebentar membaca dia kembali tertawa terbahak-bahak. Harusnya setiap hari wajah Santi terlihat seperti ini, wajahnya yang dulu sangat menyedihkan aku ingin sekali menghapusnya dari ingatanku.

“Oh iya ngomong-ngomong aku punya banyak komik loh.” Ucap Santi dengan antusias yang tinggi.

“Eh, benarkah ada dimana komik-komikmu?” tanyaku penasaran.

“Coba cek lemari disana.”

Santi menunjuk ke arah sebuah lemari yang lumayan besar, tingginya mungkin hampir mencapai 2 meter. Sepertinya komiknya sangat banyak. Aku membuka lemari itu, saat dibuka tiba-tiba komik-komik itu sudah membanjir lantai. Jadi berantakan.

“Kamu gak pernah merapihkannya ya?”

Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Karena dia terlihat sibuk sekali membaca novel yang ada di pangkuannya itu.

“Soalnya aku malas untuk membersihkannya.”

Jawab Santi dengan Santai. Dengan terpaksa aku membersihkan komik yang berserakan di lantai.

“Kenapa kamu gak pakai Hp aja buat baca komik.” Usulku pada Santi.

“Memangnya bisa?”

“Kamu punya Hp kan?”

“Ada sih tapi aku tidak tahu cara pakainya.” Jawab Santi sambil menunjukan Hp miliknya.

Aku mengutak-atik Hp milik Santi, aku memasang aplikasi membaca komik di Hpnya.

“Eh, iya benar banyak banget komiknya.”

Wajahnya terlihat sangat antusias. Dia terlihat seperti anak kecil.

“Apakah aku juga bisa mebaca novel di dalam sini?” sambungnya.

“Pastinya bisa lah, sini aku ajarkan caranya.”

Dengan sabar aku pelan-pelan mengajarkan Santi untuk menggunakan Hpnya, untungnya Santi sangat cepat mengerti, semua yang aku jelaskan kepadanya langsung dia praktekan.

Aku melihat jam di lengan kiriku, sudah larut malam. Semoga saja malam ini langit tidak sedang dalam keadaan murung.

Santi terlihat sangat gembira, semoga saja wajah seperti ini akan selalu terlihat selama mataku masih bisa memandangnya.

“Hei.”

“Apa Rai?” jawabnya sambil sibuk melihat ke layar Hpnya.

“Apa kamu mau mencoba keluar dari sini?”

Santi seketika berhenti menyentuh layar Hpnya, dia menghentikan aktifitasnya.

“Maksudku bukan keluar dari rumahsakit ini, sebenarnya aku ingin menunjukanmu sesuatu yang akan membuatmu terkejut, ya semacam kejutan begitu.”

Santi menaruh Hpnya di atas bantal tidurnya. Dengan wajah yang terlihat penasaran Santi mulai mendekatkan diri padaku. Pandangannya menandakan kalau dia sangat penasaran.

“Menunjukan apa?”

“Kalau aku beri tahu sekarang malah tidak jadi kejutan lagi dong, pokoknya rahasia deh. Gimana kamu mau ikut gak?”

Santi menaruh jari telunjuk di dagunya, dia mencoba mempertimbangkan pilihannya. Sepertinya Santi sangat kebingungan, dia sampai mengerutkan dahinya dan alisnya meruncing.

“Mau gak?” tanyaku sekali lagi.

Setelah aku menanyakan kepastiannya, Santi sudah memiliki keputusan. Entah apa yang akan ia jawab, tetapi dari wajahnya aku sudah yakin kalu dia akan memberi jawaban yang gembira.

“Baiklah aku ikut, tapi kemana tujuannya?”

“Kan aku bilang rahasia. Sekarang coba kamu tutup mata.”

“Baiklah.”

Santi menuruti perintahku. Matanya di tutup dengan rapat. Aku mengambil sehelai kain yang sengaja aku bawa dari rumah, aku lilitkan pada kepala Santi supaya aku bisa tenang, karena Santi tidak bisa mengintip lagi karena sudah ditutup dengan kain ini.

“Terlalu kencang gak?” tanyaku sambil mengikat kain tiu.

“Gak kok.”

“Coba kamu angkat kakimu.”

“Untuk apa?”

“Sudahlah turuti saja perintahku.” Perintahku tegas.

Perlahan Santi mengangkat kakinya yang kecil itu yang tertutupi selimut. Dengan cepat aku mengangkat Santi, aku menggendongnnya seperti seorang pangeran membawa tuan putrinya.

“Kenapa aku dibawa seperti ini? aku malu tahu.”

“Aku juga malu, tapi cuma cara ini yang bagus untuk menggendong kamu. Kalau aku menggendongmu di punggungku, aku takut kamu tiba-tiba jatuh kebelakang.”

“Tapi kalau seperti ini tangan kamu pasti akan kelelahan.”

“Tenang saja, aku bisa menahannya yang penting kamu jangan banyak bergerak.”

“Ba-baiklah.”

Walaupun tanganku mulai terasa sakit, aku tetap berusaha menahan rasa sakit itu dan terus berjalan menuju ke atap rumah sakit. Untung saja atap rumah sakit ini dibuka, biasanya rumah sakit lain menutup atapnya.

Semoga saja Santi terkejut saat melihat kejutan dariku. Kumohon kepada langit untuk jangan bersedih dulu, aku akan mempertemukanmu dengan orang yang akan membuatmu bahagia.

“Kita sudah sampai.”

“Kita ada diluar ya? dingin banget tahu.”

Aku menurunkan Santi perlahan, lalu aku melepaskan jaketku dan aku pakaikan ke Santi.

“Terima kasih, Rai.”

Senyuman yang tulus yang sanat manis. Langit sepertinya senang aku membawakan hadiah untuknya. Aku membuka kain yang melilit kepala Santi.

“Sekarang coba buka mata kamu.”

Perlahan-lahan Santi membuka kedua bola matanya. Kedua matanya langsung membelalak, Santi terkagum-kagum meliahat langit malam yang penuh dengan bintang. Lautan cahaya yang indah membuat mata Santi tidak berkedip sampai satu menit.

“Bagaimana, kamu terkejut kan?”

“Iya aku terkejut, karena seberapa jauh mataku memandang hanya ada hamparan bintang yang menyala-nyala di langit.”

Ternyata aku juga terkagum-kagum melihat langit malam yang penuh dengan bintang. Aku sangat menikmati waktu-waktu yang sangat menyenangkan ini. Tiba-tiba tanganku digenggam oleh Santi.

“Ke-kenapa kamu memegang tanganku?” tanyaku gugup.

Sepertinya aku malu.

“Kamu pasti kedinginan kan?”

Aku mengangguk pelan.

“Aku ingin membuatmu merasa hangat walaupun tanganmu saja, aku tidak ingin kamu mati kedinginan disini.”

Aku sampai terperangah mendengar perkataan Santi. Wajahnya yang manis dan senyuman kecilnya itu, sangat cocok sekali.

“Terima kasih, Rai. Walaupun sederhana hadiahmu ini akan selalu aku kenang selama hidupku, dan juga aku mengakuimu sebagai laki-laki yang benar-benar jantan.”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah menepati janjimu, kamu benar-benar laki-laki idaman.”

Senyuman dan pujian yang diberikan Santi membuatku sedikit tersipu malu.

“Sekali lagi terima kasih ya, Rai.”

“Sama-sama.”

8 dukungan telah dikumpulkan

Comments