Annoying Nephew

11 months ago
Zure El

by: Zure El

Akhirnya Radit sampai di rumahnya. Setelah mengucapkan salam lebih dari sekali tak terdengar suara balasan dari ibunya. Radit yang baru pulang setelah liburan mendaki gunung bersama teman-teman kampusnya langsung menuju kamar sambil menyeret keril dengan terhuyung-huyung. Badannya seakan mau rubuh, namun rasa lemasnya semakin bertambah ketika melihat kamarnya.

“Ma, ini kamar kok berantakan gini?!” keluh Radit. Perasaan kesal tak terbendung melihat kamar yang ditinggalkannya dengan sangat rapi sekarang berubah seperti kapal pecah. Kasur yang berantakan dan baju-baju berhamburan membuatnya dongkol. Tapi rasa capek yang luar biasa meredam amarahnya saat ini. Dari buku kuliahnya sampai Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya, karena hal yang dia inginkan sekarang hanyalah segera tidur di kasurnya. Sang Ibu yang baru saja selesai menjemur pakaian tampaknya tahu apa yang membuat anaknya bermuka masam.

“Kamu udah pulang, Nak? Soal kamar kamu tadi pagi Fadly ama Amel main kesini, terus-.”

“Ohhh.” Radit yang sudah terlanjur lelah menghiraukan cerita ibunya dan langsung naik ke tempat tidur. Radit terlihat sudah menduga lanjutan cerita ibunya.

“Mereka udah mama bilangin kok, jangan mainin robot-robotan kamu,” Ibu Radit mencoba memberi penjelasan lain.

“Maksud mama gunpla, mereka bahkan gak bakalan nyentuh sama sekali,” balas Radit Ketus mendengar ibunya selalu menyebut koleksi gundam plastik dengan robot-robotan, ibu Radit juga tidak peduli tentang nama koleksi anaknya itu. Seperti biasanya.

“Hei jangan langsung tidur. Beresin dulu kamarnya, berantakan gini.”

“Nanti aja ma, Radit capek. Lagian bukan Radit yang berantakin juga.” Radit yang tidak mengindahkan perintah ibunya langsung menutupi diri dengan selimut.

Merasa diabaikan, ibu Radit mencoba membisikan gertakan lembut ke telinga anaknya yang sayangnya kurang berhasil. Sebenarnya Radit sedikit tersentak ketika ibunya mengancam akan memanggil tukang loak untuk menjual semua koleksi gunpla miliknya. Tapi Radit tahu betul kalau ibunya kritis soal keuangan, jadi tidak mungkin tukang loak bakal mampu atau bahkan mau membeli jika melihat harga struk pembelian sebagai patokan harga awal. Ocehan ibunya akhirnya dia anggap sebagai kicauan burung beo.

“Jual aja mah, mungkin tukang loaknya juga suka ngoleksi gunpla, Hehe.”

Ibu Radit mulai kesal melihat anaknya terkekeh mengabaikannya. Tapi layaknya anak yang mengerti sifat sang ibu, seorang ibu adalah orang yang paling tahu semua hal tentang anaknya. Ibu Radit tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat anak tunggalnya ini menurutinya.

“Kalau gitu mama jual online aja ya, pasti banyak yang mau,” goda ibunya sambil mengelus-elus etalase tempat koleksi gunplanya.

“Iya jual Online Aj-,”

Seketika itu juga Radit langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan mengeluarkan seribu satu penolakan seperti orang kesurupan. Bukan tanpa alasan jika Radit merasa resah, itu karena Radit tau ibunya bukanlah orang yang buta teknologi. Sekarang ini bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk mempelajari hal seperti itu. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya iklan situs jual-beli online yang katanya bisa di nego say bahkan bisa sampai terngiang-ngiang di kepala. Keadaan mulai terbalik sekarang.

“Jadi mau beresin sekarang tidak?” tanya ibunya sambil tersenyum licik.

“Iya-iya aku beresin deh,” ucap kesal Radit.

Radit tidak mempunyai pilihan lain selain mengalah meskipun terpaksa. Radit lupa bahwa ibunya adalah orang yang selalu menerima semua paket kiriman gundamnya dan itu adalah kesalahan fatal.

“Nah, gitu baru anak mama.” ibu Radit tersenyum puas meskipun Radit tampak tidak ikhlas membereskannya.

“Mama tega mau menjual semua koleksi gundam Radit,” Ujar Radit sebal sambil tetap membereskan kamarnya.

“Mama gak akan tega kalau menjual semuanya,”

Mata ibu Radit terlihat sayu ketika menatap satu-satunya gunpla yang diperlakuan istimewa dengan kotak kaca dan di simpan terpisah dari yang lain. Radit yang melihat kearah yang sama akhirnya mengerti. Ternyata ibunya masih ingat dengan gundam pertama Radit yang menjadi pemberian terakhir ayahnya.

“Tapi mama mungkin cuma akan menjual etalasenya gak apa-apa kan?”

“Ya kalau cuma Etalase do-.” Radit yang segera sadar langsung menolak meskipun dia tahu itu hanyalah gurauan. Terlihat senyum lebar tak wajar tersungguing di bibir ibunya. Bahkan hal itu terlihat jelas saat ibunya terlihat senang melihat tingkahnya yang dianggap lucu.

Radit dengan wajah malunya mendorong ibunya yang terlihat cengengesan keluar dari kamar. Dia sadar sekali yang ibu tertawakan adalah dirinya. Radit sepertinya juga melupakan bahwa ibunya adalah orang yang suka mengerjai anaknya sendiri.

***

Fadly dan Amel sekarang duduk tertunduk dihadapan Radit. Mereka berdua tahu kesalahan mereka sehingga Radit sampai menatap mereka dengan tajam. Saat ini adalah waktu yang di tunggu-tungu Radit setelah menunggu ibunya berangkat mengantar kue pesanan. Ibunya pasti akan membela mereka.

“Jadi kenapa kemarin kamar Kak Radit bisa sampai berantakan?”

“Maafin kami Kak Radit,” ucap mereka bersamaan dengan perasaan bersalah.

“Apa alasannya karena ini?” Radit mengeluarkan sebuah benda kecil berukuran segenggaman tangan yang dia angkat setinggi dada, Fadly dan Amel yang melihat benda itu hanya bisa mengangguk.

“Sudah kuduga,” ucap Radit sambal menghela nafas panjang.

Dugaan Radit ternyata benar, alasan mereka mengacak-ngacak kamarnya adalah untuk mencari modem wifi miliknya yang sengaja dia bawa selama perjalanan. Meskipun dia tahu malah kurang berguna jika dia bawa, tapi yang terjadi kemarin adalah sesuatu yang dia tidak perkirakan. Mungkin dari awal seharusnya Radit menyimpannya saja di rumah, tapi sebenarnya inilah permasalahan yang membuatnya sedikit rumit.

Dari awal mula mereka mulai sering di titipkan di rumah ini, mereka sudah memegang ponsel pintar di tangan mereka. Alasannya sendiri hanya untuk berjaga-jaga setelah banyak terjadi kasus penculikan anak dan pedofilia kala itu. Radit masih tidak khawatir pada awalnya.

Setelah beberapa lama perubahan pada Fadly dan Amel mulai disadari oleh Radit. Mereka terlihat seperti kecanduan dengan ponsel mereka. Bahkan bibi Radit mulai berpesan padanya agar jangan membiarakan Fadly dan Amel main ponsel terlalu lama. Alasannya karena semenjak mereka memakai ponsel nilai sekolah mereka jadi turun drastis, bahkan jadi malas ketika disuruh belajar. Radit mengiyakan perkataan bibinya, namun tetap saja dia tetap kewalahan menolak permintaan keponakannya yang sering merajuk. Radit mulai sedikit menyesali hadiah modem wifi hasil dari juara tiga pada lomba fotografi. Seharusnya dia jadi juara satu untuk mendapat hadiah uang tunai.

“Tapi kami masih jaga janji sama bibi gak ganggu mainan Kak Radit,” timpal Fadly yang membela diri dan berharap hal itu bisa mengurangi kesalahan mereka. Meskipun pesan ibunya membuat semua koleksi gunplanya aman, tapi bukan itu kesalahan mereka sebenarnya.

“Iya Kak Radit tahu tapi kenapa tidak kalian beresin lagi?” tanya Radit dengan tegas.

“Tadinya mau sih, tapi mama udah jemput duluan jadi gak keburu.” Fadly berdalih pada Radit dan Amel sebagai adik hanya mengangguk sebagai penguat alibi, tetapi Radit lebih melihat itu sebagai alasan yang mengada-ada.

“Yakin mama kalian langsung jemput?” Radit mulai meragukan alasan mereka.

“Gak juga sih kami ketiduran,” Jawab Amel dengan polosnya. Fadly menyikut adiknya karena mengatakan hal yang tidak perlu. Setelah mendengar penjelasan dan melihat wajah bersalah mereka, Radit memutuskan untuk memaafkan mereka berdua. Lagipula meraka sudah mengakui kesalahan mereka. Fadly dan Amel langsung bernafas lega. Namun perasaan girang mereka bukan merujuk pada hilangnya rasa bersalah, tapi lebih kepada perasaan lega agar bisa bersikap biasa lagi kepada Radit.

“Jadi kami boleh minta password wifi-nya?” pinta mereka dengan cepat.

“Gak boleh.” jawab Radit datar.

Eksperesi mereka kembali cemberut. Radit kali ini melarang mereka sebab ibu mereka kali ini menitip setumpuk tugas liburan sekolah yang tidak mereka kerjakan sama sekali, padahal ini sudah hampir melewati setengah dari waktu libur sekolah mereka. Radit lalu menyuruh mereka untuk mulai mengejakan pekerjaan rumah yang sudah mereka bawa atau lebih tepatnya di paksa oleh ibu mereka. Tapi setelah setengah jam berlalu mereka hanya sebatas membolak-balikan buku tanpa ada niat untuk menyesaikan tugas mereka. Radit sepertinya tak punya pilihan lain karena hanya ada satu hal yang membuat mereka mau mengerjakannya.

“Kalau tugasnya sudah selesai semua Kak Radit kasih tahu password wifi -nya.” Radit memberikan mereka reward yang dia anggap sebagai satu-satunya cara.

“Benaran Kak??” tanya mereka untuk memastikan.

“Beneran. Tapi ingat ya, selesai semua.” Sontak mereka berdua kegirangan dan segera mengerjakan dengan cepat, meski tahu bahwa pekerjaan rumah mereka mereka lebih dari satu mata pelajaran, namun dengan tujuan yang jelas apapun itu akan memberikan semangat tidak terkecuali mereka. Akhirnya tugas mereka selesai setelah Radit mengoreksi ulang tugas mereka beberapa kali. Fadly dan Amel mulai menagih janji ke Radit.

“Sekarang mana password-nya Kak Radit,” Seru Fadly dan Amel.

“Iya Kak Radit bakal kasih kok.” Radit menyodorkan kata sandi untuk mereka ketik sendiri. Mereka berdua terlihat ceria setelah mendapatkan sesuatu yang mereka perjuangkan.

“Sepertinya tidak apa-apa kalau hanya kali ini saja,” pikir Radit.

Fadly dan Amel mulai mencari tempat nyaman masing-masing untuk memainkan smartphone mereka. Radit lalu membuka jendela dan mencari posisi nyamannya sendiri diatas kasur. Tetapi baru beberapa saat berbaring suara keluhan datang dari mereka.

“Kok internetnya gak jalan sih Kak Radit,” keluh Fadly begitu juga Amel. “Iya Kak aku juga sama.”

Radit pun mengecek ponselnya sendiri, ternyata tidak ada sebatang sinyalpun terpancar di Mifi-nya. Dia sudah mencoba berbagai cara namun tetap tidak ada sinyal sama sekali. Fadly dan Amel pun kecewa, hal yang mereka perjuangkan ternyata sia-sia. Tapi Radit berpikir masih ada yang bisa mereka lakukan.

Radit mulai mencari-cari sesuatu di bawah kasurnya. Fadly dan Amel hanya bisa melihat Radit mengorek-ngorek kolong kasur. Tak lama kemudian sebuah dus berhasil dikeluarkan. Sedikit berdebu tapi Radit yakin semua isinya masih utuh. Radit mengeluarkan semua yang ada di dalamnya untuk membuat mereka lebih tertarik.

Radit merasa sedikit bernostalgia. Dia masih ingat betul bahwa dulu teman-temannya sering bermain di rumahnya. Semua barang itu bukan miliknya, hanya milik temannya yang tidak pernah mereka ambil lagi sampai sekarang.

Fadly dan Amel heran dengan mainan dikeluarkan Radit, namun ada juga yang sedikit familiar bagi mereka. Dari game smartphone mereka tentunya.

“Jadi sampai menunggu internetnya jalan kita main ini aja, daripada bosen.” Radit sedikit merayu mereka. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengenalkan permainan yang dulu biasa dia mainkan mengurangi kecanduan mereka terhadap gadget. Fadly dan Amel merasa ini bukan pilihan buruk karena mereka sedikit tahu permainannya.

Selama menunggu jaringan kembali normal Radit akhirnya bisa mengajak keponakannya memainkan permainan anak 90-an. Dia hanya ingin mereka merasakan rasanya bermain tanpa smartphone mereka. Namun rasa jenuh yang menerpa mereka adalah hal yang mulai dia khawatirkan.

“Ayo sekarang giliran Amel,” ucap Radit

“Gak mau ah, udah kalah juga.” Fadly dan Amel menolak untuk melanjutkan main monopoli. Radit lalu menyadari mereka berdua tidak menikmati permainannya.

“Kenapa gak seru ya?” tanya Radit melihat mereka kehilangan semangat.

“Iya Kak, lebih asik main yang di hape,” jawab mereka.

Radit tidak dapat menyangkal hal itu, karena sekarang segalanya berubah digital. Semua permainan sekarang lebih menyenangkan dimainkan di layar sentuh yang sudah berkembang pesat dengan tampilan yang menarik. Radit sebenarnya lebih ingin mengobati kecanduan mereka dengan bermain di luar. Namun masalahnya tempat bermain sekarang sudah semakin sempit. Lapangan yang dulu selalu menjadi tempat bermain bersama teman-temannya telah berubah menjadi komplek tempat mereka tinggal. Teman-teman mereka sendiri juga tidak jauh berbeda dengan mereka.

Radit tidak ingin keponakannya terbelenggu oleh gadget tanpa menikmati masa kanak-kanak seperti dirinya. Sekarang hanya terpikirkan satu cara. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Radit lalu memegang pundak mereka berdua, menatap dengan penuh keseriusan.

“Apapun yang terjadi, kalian harus menikmati masa kecil kalian.!!!” Fadly dan Amel saling menatap satu sama lain. Kemudian menjauh bersamaan.

“Apaan sih Kak Radit aneh banget.” Fadly dan Amel terlihat tidak nyaman dengan perkataan Radit.

Ternyata gagal. Radit berharap caranya yang seperti dikomik-komik bakal berhasil, ternyata sama sekali tidak berpengaruh pada mereka.

“Mungkin ini yang namanya Jones kali yah.”

Jleb…. Perasaan yang Radit ucapkan dengan sungguh-sungguh hanya di balasan ejekan yang sebenarnya terasa seperti sebuah hinaan. Radit tidak tahu dari mana mereka tahu istilah itu, semua pasti dari media sosial yang mereka baca. Radit sekarang merasa tersinggung dengan ejekan yang dilontarkan padanya.

“Siapa yang kalian bilang Jones! gini-gini juga Kak Radit cukup popular di kampus loh.”

“Masa?” Fadly dan Amel meragukan dan malah meminta bukti. Radit langsung berkeringat dingin. Tapi seakan ingin membuktikan, Radit mulai mencari sesuatu untuk dijadikan barang bukti.

“Ini sertifikat-sertifikat Kak Radit loh,” tunjuknya pada mereka. Radit memperlihatkan semua sertifikat yang dia punya di lemarinya. Meskipun memilahnya sedikit karena kebanyakan sertifikatnya hanyalah sertifikat seminar.

Namun sepertinya Fadly dan Amel kurang percaya. Mereka lalu mempertanyakan keunggulan Radit lainnya yang membuat dia popular. Radit mulai kembali kebingungan, namun kali ini Radit memikirkan hal yang lebih sederhana.

“Kak Radit itu jago dibidang olahraga juga.” Kali ini dengan cukup yakin Radit memperlihatkan otot-otot hasil menu latihan yang dia dapat dari internet dengan bangganya. keponakannya bahkan tidak ingin mengomentari tentang hal itu.

“Jadi gimana, masih cari tidak percaya?” Radit kali ini dengan jemawa menantang bukti pada Fadly dan Amel. Namun Radit tidak akan menyangka pertanyaan mereka katakan selanjutnya.

“Kalau begitu siapa pacar Kak Radit?” Mereka berdua tersenyum menyeringai. Radit langsung tersentak sampai tidak bisa berkata apa-apa, karena dia tidak punya pacar selama hidupnya.

“Berarti kak Radit itu Jones.” Tandas Fadly dan Amel.

Gubrak!!! Radit langsung tersungkur, kesombongan membuatnya jatuh dalam penyesalan. Rasanya ingin sekali diam dipojokan dan mengutuk diri sendiri, tapi dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan keponakannya.

“T-Tapi kak Radit sebenarnya punya gebetan loh.” Radit sedikit memaksakan senyumnya. Fadly dan amel kembali merespon Radit dan mempertanyakan pernyataan Radit barusan.

“Emangnya gebetan Kak Radit itu kayak gimana,” tanya Fadly sinis.

“Ya… dia itu cantik, ramah, baik hati. Ya tipe kak Radit gitu deh,”

“Kayak perempuan yang ada di ponsel kak Radit maksudnya?” Celetuk Amel.

“Ya emang dia sih…. Eh bukan…. Ma-Maksudnya…. ARGGGHHHHH!!!!”

Radit menyerah, dia malah menunjukan kebodohannya sendiri. Radit langsung kabur dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Fadly dan Amel terlihat puas melihat Radit menderita.

Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar dari luar. Radit yang sekarang masih lari dari kenyataan menyuruh salah satu dari Fadly dan Amel membukakan pintu. Bisa saja itu ibunya yang baru saja pulang, karena Radit selalu mengunci rumah dari dalam ketika ibunya keluar. Amel bersedia untuk menjadi sukarelawan. Tapi beberapa saat kemudian dia kembali lagi dan membangunkan Radit yang tidak tidur sama sekali.

“Kak Radit itu bukan bibi,” ujar Amel.

“Bukan ya?” Radit beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk membuka pintu. Namun tubuh Radit langsung membeku tak menyangka siapa yang datang ke rumahnya.

Wajahnya, rambutnya, lesung pipinya, dia tahu betul siapa yang ada dihadapannya.

“Hai Dit.” senyum ramah dari perempuan itu membuat Radit merona.

“H-Hai Nisa” Radit membalas dengan terbata-bata. Dia tidak menyangka bahwa yang datang itu ternyata gebetannya. Ya Benar-benar gebetannya.

Sambil mengobrol Radit mencoba menebak kenapa Nisa datang kerumahnya. Setelah memperhatikannya membawa sebuah tas yang dia kenal. Radit baru ingat bahwa dia meminjamkan kameranya kepada Nisa.

“Oh, iya Nisa masuk dulu,” ajak Radit. “Ah gak usah, cuma mau ngembaliin kamera kok.” Nisa menolak halus.

Fadly dan Amel dari tadi melihat mereka dibalik pintu kamar, mereka tidak pernah lihat Kak Radit sesenang itu. Setelah tahu siapa yang menemui Radit, timbulah senyum jahat dari mereka berdua untuk mengganggu Radit dengan perempuan yang disukainya itu. Fadly dan Amel pun mulai melakukan aksinya.

“Kakak Nisa, Kan?” Fadly yang tiba-tiba nimbrung membuat Radit dan Nisa langsung kaget. Seketika itu juga membuat suasana mereka menjadi canggung.

Dengan sigap Radit langsung membawa Fadly kembali ke kamarnya, tapi ketika Radit kembali terlihat Amel sedang membisikan sesuatu yang membuat wajah Nisa memerah, Radit segera membawa Amel saat itu juga. Namun kerjasama Fadly dan Amel cukup apik untuk di hadapi Radit. Meraka bergantian menghampiri Nisa untuk mengatakan hal-hal tentang Radit seperti makanan kesukannya, hobinya mengoleksi gundam, sampai memberi tahu bahwa dirinya menyimpan foto-foto Nisa di ponselnya membuat dia langsung panik. Radit yang geregetan dengan Fadly dan Amel langsung menyeret mereka berdua dan mengunci mereka di kamarnya sendiri.

“Maaf ya Nis, keponakanku emang gitu,” desah Radit.

“I-Iya gak pap-,” Sebelum teman Radit itu melanjutkan ucapannya, Fadly dan Amel yang tak di duga-duga keluar dari jendela kamar langsung berteriak sekeras-kerasnya.

“KAK RADIT SUKA SAMA KAK NISA!!!”

Nisa langsung kaget membatu, begitu juga Radit. wajah mereka yang sama-sama merah layaknya stroberi dan tomat. Dengan wajah malu Nisa mengembalikan kamera kepada Radit dan pamit tergesa-gesa. Fadly dan Amel bertepuk tangan karena rencana mereka berhasil.

Radit melihat Nisa pergi seakan takkan pernah ingin kembali lagi kerumahnya. Radit bahkan tidak bisa mengejarnya karena ibunya yang baru tiba berpapasan langsung dengan Nisa dihadapannya. Radit sekarang tidak bisa menyalahkan keponakannya yang masih polos itu di depan ibunya. Kali ini Radit benar-benar mengunci dirinya dan diam di pojok kamarnya. Fadly dan Amel mulai kembali merasa bersalah.

***

Hari ini Radit benar-benar tidak ingin berada di rumahnya. Setelah kejadian kemarin dia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Nisa yang bahkan tidak membalas pesannya setelah kejadian kemarin. Dia berharap Nisa tidak mengangapnya serius meskipun dia memang benar-benar suka padanya. Radit kali ini memutuskan untuk menghindar dari keponakannya dan juga ibunya yang beberapa kali bertanya kenapa dirinya mengurung diri sejak kemarin.

Tapi masalah Radit bukan itu saja. Akibat memaksakan diri untuk liburan agar terlihat kekinian, Radit sekarang tidak punya uang sama sekali. Bahkan modem wifi yang kemarin dia kira hanya masalah jaringan ternyata rusak, memperbaikinya berarti menambah daftar biaya tak terduga dari daftar pengeluarannya selama liburan yang sudah kacau balau. Setelah menyesal karena telah tergoda oleh rayuan teman-temanya yang mengikuti tren Radit baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.

Radit tidak memikirkan tujuan kemana dia akan pergi. Dia hanya berharap semoga saja dia tidak harus mendorong motornya sebelum sampai ke rumah. Namun sialnya Radit sekarang malah dicegat bibinya tepat di depan gang.

“Radit, kebetulan ketemu.” Radit tidak bisa menghindari bibinya yang sudah menyapanya. Fadly dan Amel terlihat bersembunyi di belakang ibunya ketika melihatnya.

“Eh tante mau kemana?” tanya Radit sedikit basa-basi.

“Tante ada acara sosial. Peresmian rumah baru panti asuhan, kebetulan tante mau minta tolong sama kamu.”

“Jagain Fadly sama Amel??” Radit menebak-nebak permintaan bibinya yang biasanya tidak perlu diminta.

“Bukan kali ini soal pekerjaan.” Balas bibinya.

“Kerja?” Radit keheranan karena perkiraanya salah kali ini.

“Iya foto-foto kegiatan bibi hari ini. Kamu kan punya kamera. Nanti tante bayar deh.”

Radit kali ini merasa enggan untuk menerima tawaran itu meskipun bibinya memohon. Tapi dia juga merasa butuh uang itu. Radit akhirnya menerima tawaran itu meski kali ini dia tidak terlalu suka bibinya membawa Fadly dan Amel. Radit segera mengambil kameranya yang kemarin sudah di kembalikan. Hal itu malah membuat Radit terbawa perasaan.

***

Radit sampai di panti asuhan lebih cepat daripada yang dia perkirakan. Dia tidak menyangka panti asuhannya tidak terlalu jauh dari komplek perumahan bibinya. Setelah peresmian dan acara formalnya selesai, Semua panitia dan orang-orang dari panti asuhan mulai membereskan sisa-sisa kegiatan. Kecuali anak-anak di bawah sepuluh tahun, mereka di izinkan untuk bermain di halaman depan.

Radit tidak lupa mengambil gambar kegiatan ini dan sesekali membantu membereskan. Merasa foto sudah cukup, Radit memutuskan untuk istirahat. Terlihat anak-anak sedang bermain di halaman depan panti asuhan. Mereka tampak bahagia meskipun tidak ada gadget ditangan mereka. Tidak seperti Fadly dan Amel.

“Ngomong-ngomong dimana mereka?” Batinnya. Setelah melihat lebih seksama ternyata mereka sedang duduk muram di anak tangga depan panti. Dia tahu bahwa ibu mereka menyita ponsel mereka sepanjang hari ini. Radit yang tidak tega yang melihat mereka seperti terkucilkan memutuskan untuk menghampiri mereka.

“Kenapa kalian gak ikut main?” tanya Radit.

“Eh- K-kak Radit. G-Gak kenapa-napa kok, Kak.” Mereka sedikit takut ketika Radit menyapa mereka. Radit kemudian menghela nafas, mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Radit tahu bahwa mereka hanya malu untuk ikut bermain bersama anak-anak panti asuhan. Dia akan kembali berusaha mengajak Fadly dan Amel untuk bermain tanpa ponsel mereka.

“Ayo ikut Kak Radit.”

“Ke mana?” Fadly dan Amel kaget seketika.

“Udah ikut aja.” Radit langsung menarik tangan mereka berdua, meskipun mereka menolak sangat keras tapi Radit juga tidak melepaskan cengkramannya. Sampai akhirnya mereka berhenti ketika Radit mengumpulkan semua anak-anak panti asuhan.

“Hai semuanya. Kita main bareng yuk,” seru Radit.

“Main apa Kak?” Tanya salah satu dari mereka. Radit lupa dengan hal itu. Dia lalu meminta anak anak-mengumpukan barang yang sedang mereka mainkan. Dengan meneliti dengan seksama Radit mencoba memilih permainan yang bisa dimainkan semuanya.

“Kita main Boy Boyan Yuk,” teriak Radit sambil mengangkat bola tenis di tangannya. Anak-anak panti langsung bersorak kecuali Fadly dan Amel yang tidak tahu permainan apa itu. Mereka langsung berinisiatif mencari pecahan genteng. Radit juga tidak lupa untuk menjelaskan permainannya pada Fadly dan Amel.

Setelah pecahan genteng di rasa cukup Radit mulai membagi anak-anak menjadi dua. Tim A terdiri dari 5 orang dengan anggota yang memiliki postur cukup tinggi dan Tim B terdiri dari 7 orang dengan postur lebih kecil dimana Fadly dan Amel ada di tim itu.

Radit sengaja membaginya seperti itu supaya tidak ada yang dijadikan anak bawang, untuk lebih seimbang Radit juga masuk Tim B meskipun hanya dalam bagian melempar. Dirasa sudah siap Radit lalu memulai permainan dan Tim B mulai terlebih dahulu.

“Ayo kita mulai.” Radit pun berteriak seolah dia juga adalah wasit pertandingan.

Fadly dan Amel mulai memasuki barisan pelempar bola. Pelempar dari Tim B semuanya berusaha untuk melempar sekencang-kencangnya namun gagal. Fadly dan Amel terlihat sedikit antusias untuk menjatuhkan tumpukan genteng itu tapi kembali muram ketika mereka gagal. Sampai giliran seorang gadis paling kecil melempar cukup terarah, potongan genteng itu luluh lantah, Tim B langsung berpencar.

Meskipun sudah diberitahu oleh Radit bahwa inti permainan ini adalah harus menumpukan pecahan genteng dengan menghindari lemparan tim lawan namun tetap saja mereka sepertinya belum paham dan berakhir menjadi sasaran empuk Tim A, pada Akhirnya Tim B gagal membangun kembali genteng itu. Sementara itu Tim A berhasil meraih skor pertama di giliran mereka. Radit mencoba memberikan semangat kepada Tim B. Anak-anak Tim B pun kembali bersemangat. Namun Fadly dan Amel tidak terlihat senang dan malah menghampirinya.

“Ada apa? permainannya sudah mau mulai lagi.” Tanya Radit.

“Kami gak mau main lagi,” Ujar Fadly, Amel juga mengangguk sependapat dengan kakaknya.

Radit mensejajarkan tingginya dan mencoba mendengarkan alasan mereka. Alasan Fadly dan Amel sederhana, mereka merasa hanya menjadi beban. Namun Radit langsung menyanggah ucapan mereka. Karena tidak peduli meskipun menang atau kalah yang terpenting adalah untuk bisa bersenang-senang dengan semuanya. Radit lalu memperlihatkan bahwa tidak ada satupun anak panti yang menyalahkan mereka. Kali ini Radit berhasil membujuk mereka berdua untuk kembali bermain.

Merasa senang dengan sikap Fadly dan Amel kali ini Radit lalu kembali mengumpulkan Tim B dan memberikan sebuah strategi dan motivasi agar bermain lebih kreatif. Setelah semua arahan sudah di mengerti, mereka pun bersiap untuk kembali menjadi tim pelempar. Radit mulai menjalankan rencananya dengan menjadi pelempar pertama.

“Kalian lihat dan pelajari yah.” Radit mencoba terlihat keren di hadapan Timnya.

Radit mengambil ancang-ancang seperti pemain bisbal, membuatnya di perhatiakan seluruh anak-anak. Dengan satu kaki di angkat dia mulai mengayunkan tangannya seperti pelempar bisbol professional yang bersiap dengan lemparan kerasnya. Namun ayunannya langsung berubah dan menjadi seperti lemparan bola bowling yang membuat bola tenis itu terbang melambung pelan, namun jatuh tepat tumpukan genteng. Membuat seluruh anak-anak terkesima.

Setelah seluruh genteng jatuh, seorang gadis kecil mulai memprovokasi Tim A. Anak yang memegang bola dari Tim A pun terpancing dan melempar bola kearah gadis itu meskipun dia berada posisi paling jauh dari anak yang lain. Radit tidak menyalahi hal itu karena semua itu adalah bagian dari rencananya. Sekarang hanya satu yang harus di lakukan.

“Ayo cepat susun gentengnya” bisik Radit pada Fadly dan Amel.

Fadly dan Amel sedari tadi gelisah karena tidak berlari dan hanya bersembunyi di belakang Radit sesuai perintahnya akhirnya mengerti. Mereka berdua langsung menyusun semua genteng dengan cepat karena lemparan Radit tidak membuat pecahannya terpencar jauh.

“Ayo cepat teriak Booy” bisik kembali Radit. Fadly dan Amel pun sedikit kebingungan, mereka tidak tahu kalau mereka harus berteriak Boy setelah berhasil menyusun kembali gentengnya.

“BOY!!!” Fadly dan Amel berteriak sekencang-kencangnya.

Seketika Tim B langsung bersorak dan berlari menuju Fadly dan Amel. Rekan setimnya yang memuji membuat mereka berdua senang. Radit akhirnya bisa melihat keponakannya terlihat bahagia. Sepertinya dia sudah tidak perlu lagi mendampingi mereka.

“Sepertinya Kakak gak bisa main lagi, kalian lanjutin permainannya ya.”

“Iya Kak,” jawab seluruh anak-anak panti. Tapi kali ini juga Fadly dan Amel kembali menghampirinya.

“Kak Radit mau kemana?” tanya Fadly dan Amel seraya menghalangi Radit.

“Mau kerja lagi. Kak Radit disini kan sebenarnya di suruh ibu kalian.”

“Tapi…,” Melihat mereka berdua Radit pun tahu bahwa mereka takut di tinggalkan. Namun Radit hanya mengatakan satu hal untuk menghilangkan keraguan mereka.

“Kalian lupa apa yang Kak Radit katakan kemari….” Radit mengelus kepala mereka berdua “Bersenang-senanglah, nikmati masa kecil kalian,” ucap Radit sambil tersenyum kepada mereka. Mereka kali ini benar-benar mengerti maksud dari perkataan Radit dan kembali bermain tanpa di didampinginya.

Radit kembali duduk di anak tangga panti asuhan karena meninggalkan mereka bermain hanyalah sebuah alasan. Melihat mereka berdua bermain mengingatkannya pada masa kecilnya dulu, terutama pada ayahnya.

Dulu ayah Radit sering menjemputnya karena Radit sering lupa waktu kalau sudah keasyikan bermain, bahkan tak jarang ayahnya ikut bermain bersamanya yang membuat ibunya marah. Namun kebersaman dengan ayahnya harus berakhir karena ayahnya meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Namun dia tidak merasa waktu itu bersama ayahnya terbuang sia-sia, karena dia sudah menikmati masa kecilnya seperti apa yang dia katakan pada Fadly dan Amel, juga seperti yang dikatakan ayahnya padanya.

                                                                        ***

Tidak terasa waktu sudah petang. Bibi Radit memintanya untuk mengantarkan Fadly dan Amel pulang duluan. Setelah bersalaman dengan pamannya Radit kemudian langsung pamit. Radit kemudian mendengar Fadly dan Amel menyampaikan sesuatu ketika dia akan pulang.

“Terima kasih kak Radit. Sekarang kami akan mulai menikmati masa kecil kami.” Seru Fadly dan Amel sembari melambaikan tangan mereka. Radit senang akhirnya mereka bisa menjalani masa kecil mereka dengan seharusnya. Bermain bersama teman-teman sebaya. Mungkin dia akan mulai sering menjemput mereka di panti asuhan.

Sesampainya di rumah Rumah, Radit terkejut karena ibunya sedang menikmati kue yang sepertinya bukan buatannya.

“Itu dari siapa, Ma?” Tanya Radit penasaran.

“Ohh ini, tadi siang perempuan yang kemarin datang lagi. Katanya minta maaf soal yang kemarin. Terus di ngasih ini buat kamu, tapi karena kelihatannya enak mama jadi makan beberapa.”

“Ini dari Nisa, Ma?”

“Gak tahu, mama lupa nanya. Tapi pokoknya donatnya sebagai ucapan terima kasih karena meminjamkan kamera, gitu aja. Dia-nya langsung pergi. Ngomong-ngomong darimana dia tahu kamu suka donat?”

Radit langsung mengambil kotak berisi donat itu dan pergi ke kamarnya. Mengabaikan ibunya yang masih tergiur donat madu. Ibu Radit khawatir dia akan mengurung diri lagi di kamarnya, Namun dugaan itu hilang ketika melihat wajah merah merona Radit menatap donat-donat itu.

Bagi ibunya, mungkin sekarang saatnya untuk Radit untuk menikmati masa-masanya jatuh cinta.

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments