Archerfish

8 months ago
Antonius Setiadi K.

by: Antonius Setiadi K.

“Striker dari tim Jepang berhasil menembus pertahanan tim Indonesia! Yang tersisa sekarang hanyalah sang kiper. Ini akan menjadi pertandingan 1 lawan 1 di dalam kotak penalti… Akankah Indonesia ataukah Jepang yang akan membawa pulang piala dunia !!?”

Angka 1 tertulis di punggungku. Ya. Itulah aku. Seorang kiper. Dengan bangga kukenakan seragam timnas negaraku bersamaan dengan kacamata olahraga dan sarung tangan yang berwarna hitam oranye. Di lapangan sepak bola ini, mataku hanya tertuju pada bola dan pemain Jepang di depanku. Aku berlari meninggalkan gawang untuk mematahkan serangannya. Aku menggerakkan jari-jari di tangan kananku memastikan bahwa mereka tidak kaku.

Aku mencoba memancingnya untuk bergerak ke kanan dengan menutup jalannya. Namun yang terkecoh adalah diriku, tidak hanya ia berhasil membuatku berpikir bahwa ia akan ke kanan, ia juga memutarbalikkan bolanya melewati kolong kakiku untuk ke kiri.

Level pemain internasional memang beda, tapi itulah yang membuat olahraga ini menyenangkan.

Aku memutar kepalaku dan melihat ia sedang mengambil aba-aba untuk menendang. Aku meloncat ke depan dengan sekujur tubuhku. Aku ulurkan tangan kananku. Pas di saat ia menendang – telapak tangan kananku yang ku buka berada di depan bola nya.

Bam!

Bunyi bola yang ditendang dari kakinya menyentuh telapakku. Dengan cepat, bola yang telah kutahan tersebut kutarik dan peluk di dadaku. Aku dapat mendengar suara di lapangan berteriak kencang bersamaan. Membuat seluruh stadium bergetar.

“Sekali lagi! Akas alias Archerfish berhasil menyelamatkan timnya dari kebobolan sekali lagi! Ia adalah pemain bola pertama dengan tangan prostetik yang ikut kejuaraan World Cup! Karenanya sekarang banyak olahraga yang memperbolehkan orang dengan alat prostetik ikut berpartisipasi. Apakah ini akan menjadi titik tertinggi dari mimpinya!? ”

Mimpi? Aku berdiri sambil memegang bola yang berhasil kuamankan.

Apakah ini mimpiku? Apa yang terjadi jika aku sudah menemukan akhir dari mimpiku?  Aku kembali melihat tanganku dan menggerakkan jarinya satu per satu memastikan bahwa mereka bergerak dengan baik. Mungkin merekalah yang membuatku untuk terus bermimpi.

SMA Batavia

Ku tatap telapak tanganku. Sebuah tangan robot berwarna putih. Aku masih tidak dapat percaya apa yang terjadi pada telapak dan jari-dari tanganku. Ketika aku mengetahui tangan kananku hilang sampai pergelangan, aku hanya dapat terdiam dan menangis. Mimpiku yang seharusnya ada dalam genggaman tanganku kini hilang. Dokter di kotaku menyarankanku untuk membuat tangan prostetik dan darinya lah aku berpindah ke ibukota untuk rehabilitasi.

Waktu yang dibutuhkan untuk rehabilitasi tidaklah cepat, tiap orang memiliki fase yang berbeda dalam beradaptasi, belum lagi ongkos pulang pergi yang boros. Keluargaku akhirnya memutuskan untuk membiarkanku menetap di ibukota bersama paman dan bibiku. Aku mencoba mengepalkan tangan kananku, jari-jari yang melekuk sangatlah kaku dan tidak teratur.

Apakah ini semua berarti?

Tanpa kusadari orang-orang yang berada di depan gerbang sekolah memperhatikanku, tangan ini memang selalu menarik perhatian. Aku pun kemudian memasukkan tangan ku ke dalam saku celana. Mulai hari ini aku akan menjadi murid pindahan dadakan. Aku memilih sekolah ini karena memang dekat rumahku dan letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit yang kudatangi untuk rehabilitasi, membuat lokasi sekolah ini cukup strategis.

Aku menghela nafas panjang dan berjalan menuju ruang guru untuk memberi tahu tentang kedatanganku.  Aku pun mengetuk dan menggeser pintu tersebut dengan tangan kiriku. Ketika kubuka, guru-guru yang berada di dalam nampak bingung. Aku mengeluarkan tangan kananku dari saku dan menunjukkan tangan robotku.

“Ah!!!” salah satu guru yang sedang memegang lipstick tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arahku.

Ia mengancungkan lipstik di tangannya dan memanggilku ke mejanya. Letak guru tersebut di ujung belakang kanan. Hal yang tidak aku lihat adalah  gadis cantik yang sedang membawa segempal kertas di dadanya. Gadis tersebut yang tepat berada di sebelah amatlah manis. Ia memiliki rambut sepanjang bahu berwarna hitam dengan bola mata berwarna biru dan mengenakan sebuah pita berwarna biru yang cocok dengan warna bola matanya.

“Ah!! Kau murid pindahan yang punya tangan robot yah!?”celetuk gadis tersebut dengan tatapannya yang berbinar-binar.

Aku tidak pernah menyangka bahwa gosip tentang keberadaanku sudah menyebar di sekolah ini dengan cepat.

Teng-tong-teng-tong

“Heh, sudah-sudah. Mana sini kertas formulirnya? Nanti kakak perkenalkan di kelas aja. Tuh bel dah bunyi. Kamu suruh anak-anak siap-siap yah.”

“Siap kak!” ia memberikan kertas tersebut kepada ibu guru sambil tersenyum.

“Sampai ketemu di kelas nanti yah!”

Gadis tersebut berbisik kepadaku kemudian berjalan keluar sambil melambaikan tangannya. Senyuman gadis tersebut amatlah manis.

“Ehem! Nanti juga ketemu koq ama si Delia”

Aku merasa aku akan selalu mengingat nama tersebut.

“Ah! En-enggak koq. Bukan seperti itu…”

“Hmm? Bentar yah.”ia berkata sambil mengambil beberapa barang di dadanya.

Kami pun berjalan bersama keluar ruangan guru. Aku berjalan di belakang mengikutinya sambil menganggukkan kepalaku kepada guru-guru yang kulalui.

“Namaku Mika. Biasa dipanggilnya Kak Mika karena masih muda, oke!?”

“Baik, B- Kak Mika.”

“Good! Kakak sudah dengar cerita tentang tanganmu dari kepala sekolah. Yah paling tidak, kamu harusnya bersyukur karena kamu tidak kehilangan hal lain..”

Ia tidak tahu bahwa aku juga kehilangan mimpiku. Tiba-tiba Kak Mika berhenti tepat di depan pintu kelas yang memiliki papan bertuliskan 10D. Dari luar aku dapat mendengar gemuruh keras anak-anak yang berbincang. Kak Mika memberikan tanda “stop” kepadaku. Ia menunjuk ke arahku kemudian menunjuk ke lantai dengan jari telunjuknya dan kemudian diakhiri dengan tanda “ok” di tangannya. Aku pun membalasnya dengan memberikan tanda ok.

Brak!

Ia kemudian membanting pintu kelas nya dengan keras. Aku mengintip dari luar pintu yang tidak tertutup. Suasana di dalam menjadi diam dan rapi.

“Ehem, kita akan memiliki teman baru yang akan bergabung dengan kita. Silahkan masuk.”

Kulangkahkan kakiku ke dalam. Aku melihat sekeliling kelas dengan cepat, aku dapat merasakan tatapan mereka ke tangan kananku yang mencolok. Hal lain yang mencolok untukku adalah Delia. Mata kami bertatapan, ia kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Yak, dia memang unik tapi baik-baiklah ke dia oke? Silahkan perkenalkan dirimu..”

“Namaku Akas Ru —”

“Keren! Lihat tangannya dong!”

Aku tidak menyangka bahwa mereka lebih tertarik dengan tangan kananku dibanding diriku. Nada bicara mereka berbeda dengan orang yang biasa meledekku di jalan.. Hal ini membuatku tersenyum kecil. Aku dapat merasakan murid-murid di sini lebih menerimaku, namun pertanyaan yang melontar membuatku bingung untuk menjawabnya.

“Sudah,sudah! Aku tahu kalian mau nanya aneh-aneh supaya ga belajar kan!?”

“Kak Mika ge’er ih!!”

Aku melihat Delia tertawa kecil mendengar teman-temannya di dalam kelas berperilaku seperti itu. Kak Mika menyuruhku duduk di bangku kosong dekat jendela, tepat di sebelah Delia. Aku pun menaruh barang-barangku sembari melihat ke arah Delia.

“Kita ketemu lagi!” ia mengulurkan tangannya untuk menyalamiku.

Aku mengulurkan tangan kananku, namun aku sempat ragu karena tanganku seperti ini. Aku sempat berpikiran untuk menukarnya dengan tangan kiri, namun Delia kemudian memegang tangan robotku dan menariknya untuk bersalaman dengannya. Ia pun tersenyum senang. Banyak hal yang kulewatkan dengan tanganku ini. Salah satunya adalah aku tak dapat merasakan sentuhan kulitnya yang terlihat halus.

Pelajaran pun berlanjut seperti biasa. Pada saat istirahat banyak yang mendatangiku dan bertanya-tanya tentang tanganku. Banyak juga anak-anak yang memintaku untuk berfoto bareng dengan mereka. Namun pose-pose yang mereka minta sangatlah sulit. Aku pun baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Tanpa disadari kelas pun sudah berakhir. Aku berkemas untuk siap-siap pulang. Saat aku memasukkan buku-buku pelajaran, aku melihat kacamata olahraga berwarna hitam oranye yang sering ku pakai. Banyak kenangan yang tersimpan di kacamata tersebut, mungkin inilah yang biasa orang sebut jimat keberuntungan.

“Akas! Mau ikut jalan-jalan ga?”salah satu teman sekelasku mengajak.

“Maap, tapi Akas sudah punya rencana denganku..!!” Delia tiba-tiba memotong sebelum aku sempat membalas.

“Oh, ya sudahlah! Besok-besok kita jalan-jalan yah…”

“Maap yah…” Delia meminta maaf mewakiliku.

Aku tidak pernah mengingat bahwa diriku membuat janji dengannya.

Ayo ikut aku Akas!” Delia menarik tangan kananku.

“Em.. kita mau ke mana?”

“Ada dehh!” jawab Delia sambil menarik dan tersenyum.

Yah jika kita memang pergi untuk jalan berdua, tentu aku tidak akan menolak. Di lain pihak aku juga bersyukur karena tangan robotku tidak berkeringat, tangan kiriku yang tidak dipegang olehnya saja sudah cukup berkeringat. Delia berjalan dengan cukup cepat. Aku berusaha mengikuti langkahnya agar tidak tersandung. Tidak hanya melewati lorong, kamipun menaiki anak tangga. Atap sekolah?

Ia kemudian berhenti di sebuah pintu kecil yang memisahkan atap dan sekolah. Aku dapat mendengar sebuah teriakan kecil yang bergema di balik pintu tersebut. Delia membukanya, angin berhembus masuk menerpaku. Pemandangan yang kulihat cukup mengejutkan. Sebuah lapangan futsal berada di atap dengan bangku penonton yang berbentuk anak tangga di samping lapangan tersebut. Tidak hanya itu, bagian atap dan sisinya ditutup oleh kerangkeng besi agar bola tidak tertendang keluar.

“Tendang!!” teriakan penonton yang cukup ramai.

“Ayo!”kata Delia sambil menarikku.

Aku kemudian ditarik memasuki sebuah pintu besi kecil. Ada sebuah net yang membatasi antara tempat duduk dan lapangan. Ini mungkin dipasang agar penonton tidak terkena bola. Kedua tim dibedakan dengan seragam mereka, 1 mengenakan jersey berwarna oranye hitam dan 1 lagi mengenakan jersey berwarna merah hijau. Skor di papan bertuliskan 1-1.

Mengapa aku dibawa ke sini? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku..

Sampailah kita di satu kursi kosong, tidak ada yang menduduki. Di seberang aku melihat beberapa pemain dengan seragam merah hijau. Aku mengambil kesimpulan bahwa aku sedang duduk di kursi pemain lawannya. Delia adalah manajer tim mereka? Lantas mengapa ia membawaku? Aku kan tidak bisa bermain futsal, belum lagi tangan kananku yang seperti ini.

“Maap aku menarikmu ke sini…”

“Kau manager tim ini yah?”

“Iya” ia menjawab dengan senyumannya yang ragu.

“Kau mau merekrutku? Aku tidak bisa maen futsal loh…”

Delia yang tadinya menatapku kemudian menundukkan kepalanya.

“A..aku… cuma ingin memberikan kau m-mimpi baru..” suaranya terdengar kecil.

“Hah!? Apa maksudmu…”

Aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit…

“Nama gadis yang kau selamatkan adalah Delia…”

Mataku tiba-tiba terbuka lebar dan berkeringat dingin. Aku menatap ke arah Delia. Ia tidak terlihat seperti gadis yang kuselamatkan. Gadis yang kuselamatkan memiliki rambut panjang yang dikepang berwarna coklat dan berkacamata. Sementara gadis di sampingku tidak mengenakan kacamata dan rambutnya hanya sebahu. Namun 2 hal yang sama ialah pita biru di rambut mereka. Tanganku yang bergetar kemudian memegang tangannya.

“A-apa nama panjangmu?”

“Delia Delavara…”

Delavara. Delia Delavara aku mengingat nama itu, itu adalah gadis yang kuselamatkan.

Aku-pun terduduk lemas. Begitu banyaknya emosi yang menggumpal di dadaku. Banyak hal yang ingin kutanyakan kepadanya.

“Mengapa kau hilang di saat aku kecelakaan…?”

“.. Aku datang ke kotamu untuk pulang ke rumah kakek dan nenekku… Aku sudah menunggu kau bangun selama 2 minggu… namun kau tak kunjung bangun, hingga akhirnya aku dipaksa pulang oleh orang tuaku….”terlihat tatapannya yang sedih dan suaranya yang bergetar.

“Lalu apa hubungannya denganku dibawa ke sini?”

“Dokter.. dokter yang merawatmu adalah ayahku. Saat kau berkunjung untuk memasang tangan prostetik dan juga saat rehabilitas aku selalu mengawasimu…”

“… Apa yang kau maksud? … Ah…”

Aku teringat ketika pertama kalinya ke sini untuk memasang tangan prostetik, aku berpikir bahwa aku dapat beradaptasi dengan cepat. Aku berpikir bahwa aku bisa mengejar mimpiku. Namun tidak…untuk menggerakkan jari telunjukku saja aku menghabiskan 2-3 bulan. Perasaanku yang menggumpal itu membuatku menangis di lantai, merelakan mimpi yang aku impikan sejak kecil.

“…Aku ingin meminta maaf kepada dirimu. Namun suasana sekitarmu tidak pernah mendukung. Hingga akhirnya aku mendengar bahwa kau akan pindah ke ibukota. Aku mencoba mengubah diriku agar kau tidak ingat padaku dan di lain pihak, aku berharap dapat memberikan kau sebuah mimpi baru…”

“…biar kutebak.. yaitu dengan membuatku bermain futsal? Karena mereka boleh menggunakan kaki?”

Ia mengangguk kecil. Aku menghela nafas panjang tidak dapat mempercayai semua ini. Aku dapat melihat matanya yang berkaca-kaca. Perasaan sesal yang mendalam dapat kurasakan hanya dengan melihat matanya. Namun ini bukanlah hal mudah untukku. Mengubah mimpi? Tidak semudah itu. Aku pun berdiri sembari mengangkat tasku.

“Tunggu.. A-aku mohon!” Delia yang panik berusaha menghentikanku.

“Maaf… tapi mengubah mimpi bukanlah hal mud–”

“Goooll!!” bunyi penonton yang tiba-tiba mengaggetkanku.

Aku dapat mendengar rentihan dari arah gawang. Aku melihat kiper mereka terlentang di gawang tak sadarkan diri. Aku tak bisa membayangkan betapa keras tendangan bola tersebut membuat kiper mereka seperti itu. Kiper mereka kemudian dibawa dengan tandu.

“Akas! P-paling tidak… cobalah dulu! Kau boleh menyalahkanku atau apapun, tapi cobalah dulu…” Delia menggenggam tanganku memohon pelan.

Dengan cepat orang sekeliling melihat ke arahku. Aku merasa seperti seorang tokoh jahat. Tiba-tiba aku dapat merasakan hembusan nafas dekat di samping telingaku.

“Hei, kauu tangan robot… Apa yang kau lakukan dengan manajer kita?”sesosok pria berbadan tinggi dengan codet abri di pipinya tiba-tiba muncul di balik net lapangan.

Aku pun kaget karena pria tersebut terlihat seperti seorang tentara. Aku tidak ingin mendapat masalah di sekolah ini. Dengan berat hati kubalikkan badanku.

“Satu kali saja…”

Delia kemudian mengangkat badannya dan terlihat senang. Aku dapat melihat matanya yang masih berair. Dengan cepat ia mengambil barang-barang, seakan ia sudah mempersiapkan segalanya untukku. Aku pun menaruh tasku dan mengganti bajuku dengan jersey bertuliskan 1 berwarna orange hitam, kebalikan dengan pemain depan kita. Aku mengikat tali sepatu futsal yang kupinjam  dan menukar kacamataku dengan jimat keberuntunganku, aku tidak pernah menyangka aku akan memakainya lagi.

“Hei Robocop, apakah kau pernah bermain futsal?”

Hmm? Dia memanggilku? Selama hidupku dengan tangan ini, baru kali ini ada yang memanggilku dengan julukan Robocop. Aku memang sudah terbiasa dengan panggilan “tangan robot” ataupun “robot”, karena aku sendiri memang merasa tanganku seperti itu. Tapi ketika aku dipanggil robocop, sebuah film robot yang kugemari dulu. Aku merasa cukup senang.

“Tidak.”

“Terus kenapa kau main? Sebaiknya ka–”

Sebelum dia dapat menyelesaikan kata-katanya, aku berdiri sembari menarik sarung tangan oranye hitam yang membungkus kedua tanganku. Aku masuk ke lapangan futsal yang tidak berbeda jauh dengan lapangan yang dulu selalu kuinjak. Dan berjalan mendekati orang dengan codet tersebut.

“Intinya aku harus menjaga gawang saja kan? Pantulkan bola, tangkap apapun itu..”

“Hoo…Sungguh jenius sekali! Bahkan nenekku juga tidak tahu kiper ngapain…”

Ia menyindirku dengan kata-katanya. Aku melihat papan skor yang bertuliskan 3-3 dengan waktu sisa 3 menit, ini berarti kita harus mencoba membobolkan 1 agar menang. Aku pun berdiri di depan gawang, kick-off akan dilakukan oleh kita. Aku dapat melihat satu pemain kecil dengan rambut berwarna coklat bernomor 10.

“Siapa itu? Ia kan murid pindahan yang bertangan robot? Aku tidak pernah melihatnya.”

“Ya, mereka emang bener sih. Panggil aku Tos. Dengarkan aku robocop, jika kau dapat bola, lempar ke orang di depan yang bernomor 10. Keq gitu bisa kan?”

“Tentu saja.”

Aku tersenyum lebar. Sudah lama sekali aku tidak menginjak lapangan dan bermain. Namun hal yang paling aku senangi adalah melempar. Peluit berbunyi, pemain nomor 12 mengoper ke nomor 10. Nomor 10 mencoba men-drible,  dengan cepat bolanya berhasil direbut oleh musuh. Tos kemudian memukul mukanya dengan tangannya. Salah satu pemain di samping kiri dengan nomor 5 berusaha menghadang pemain lawan.

“Robocop, dengarkan aku. Pemain itu akan mengoper bolanya, aku akan berusaha menghadang agar ia tak menendang lewat kanan. Hadanglah bolanya agar tidak masuk gawang.”

Aku mengangguk padanya. Mataku mengikuti bola yang berada di sebelah kiri bersama pemain lawan. Sesuai perkiraan Tos, ia mengoper bola tersebut ke samping kanan di mana seseorang berbadan besar berlawanan dengan Tos. Kakinya yang terbentuk itulah yang meyakinkanku bahwa ia yang membuat kiper sebelumnya pingsan. Jika dirangkum, ia terlihat seperti gorilla.

Aku dapat melihat tatapan mata Tos kepadaku. Tos kemudian mencoba mengecohnya dengan bergerak ke kanan. Gorilla tersebut kemudian bergerak ke kiri dan mengambil ancang-ancang. Dengan cepat setelah menipu, Tos menaruh kaki kirinya di depan bola. Tendangan dari sang pemain tersebut berhasil dihalang olehnya, namun tendangannya yang kuat itu membuat kaki Tos terpantul. Tapi berkat dia, tendangannya jadi lebih lambat sedikit. Tendangan tersebut mengarah tepat ke dadaku dengan kencang. Dengan sigap aku langsung menaruh tanganku di tengah untuk menangkapnya, aku dapat merasakan tendangannya dengan tangan kiriku yang keras seperti batu. Jari lengan tanganku yang belum dapat kukontrol dengan baik membuat bola tersebut terpantul dari dadaku dan berguling di tanah.

“Tangkap!!”teriak Tos yang melihat.

Aku menjatuhkan badanku dan menahannya dengan kepalan tangan kiriku. Aku tidak menyangka menangkap bola akan se-melelahkan ini. Aku kemudian berdiri dan merangkul bolanya. Aku dapat mendengar beberapa orang menertawaiku karena aku tidak bisa menangkap. Namun sekarang bola sudah ada di tanganku, perlahan-lahan aku menggerakan tangan robotku agar jari-jarinya memegang bola dengan benar.

“Cepat, lempar ke nomor 10…”

“Anu, boleh nggak lempar langsung ke gawang?”

“Menurut ngana!?”

Aku dapat mendengar nada bicara Tos yang sarkastik. Nomor 10. Di manakah dia, ia terlihat tertutupi oleh pemain lain yang lebih tinggi darinya. Kalau seperti ini, berarti aku harus melemparnya seperti… Sejak kecil ketika aku memegang bola, entah mengapa aku dapat melihat sebuah jalur di mataku.

“Hmm…Mungkin dia ketakutan setelah menahan bola tadi?”salah seorang pemain yang duduk di bangku meledekku.

Kata-kata tersebut tidaklah menggangguku. Aku memundurkan tangan kananku beserta bola ke belakang mengambil ancang-ancang. Aku menarik napas dalam-dalam dan dengan cepat aku mengayunkan lenganku seperti cambuk dari arah bawah. Aku dapat merasakan bahwa bola yang kulempar akan sedikit melenceng dengan tanganku yang seperti ini. Bola tersebut hilang dari tanganku dan sampai ke perut pemain nomor 10 seperti sulap. Muka pemain nomor 10 tersebut nampak kesakitan dan kaget namun ia juga tersenyum lebar. Dengan cepat ia memainkan bola tersebut dan menendangnya ke arah gawang musuh.

Kiper mereka yang telat bereaksi hanya terdiam melihat hal tersebut. Bola pun melewati garis dan gol pun dihasilkan. Wasit yang kaget terlihat panik karena lupa meniupkan peluitnya.

Priit! Priiit! Priiit!! Priiiiitt!!!

Peluit menandakan gol dan berakhirnya pertandingan berbunyi. Dengan cepat, seluruh penonton berteriak dan terbangun. Tos dan pemain lainnya tiba-tiba berlari ke arahku, melemparku ke udara. Aku jadi teringat akan masa-masa dulu. Hal seperti inilah yang selalu membuatku terus ingin bermain. Tim. Pemain nomor 10 kemudian memberikan sebuah jempol kepadaku.

“Nice…. nomor 10.. ummm….”

“Joe…”

“Nice Joe!” teriakku padanya sambil memberikan jempol.

Gorilla tersebut kemudian mendatangiku. Ia memandangi diriku dengan rasa tidak percaya. Ia kemudian memberikan tangannya untuk berjabat tangan. Aku pun melepas sarung tangan kananku dan menjabatnya.

“Siapakah kau?”

“Akas. Akas Delio..”

“Hmm? Koq rasanya aku pernah dengar nama itu?Akas, akas…” Tos berpikir.

“Ahhhh!!!” Salah satu pemain musuh kemudian berteriak sambil menunjuk ke arahku.

“Kau kan salah satu pemain basket yang terpilih untuk bermain di Tim U16!!!”

Semua mata tiba-tiba tertuju padaku. Aku hanya dapat tertawa canggung kepada mereka.

“Aku ingat!!!!!! Kau dikenal dengan julukan archerfish! Karena kau mengenakan kacamata olahraga yang terlihat seperti kacamata renang beserta lemparanmu yang akurat dan cepat! Lalu kenapa kau tidak bermain di U16? Bukannya pertandingannya besok yah? Ah….” Tos yang tiba-tiba memotong kemudian melihat ke arah tangan kananku dan terdiam.

Ya inilah alasanku tidak dapat ikut bermain. Tidak hanya gerakan jari-jariku yang terbatas, aku juga tidak yakin aku akan diperbolehkan bermain dengan tanganku ini. Aku hanya memandang ke arah tangan kananku yang masih kaku. Tiba-tiba muncul sebuah tangan yang gemulai memegang telapakku. Tangan itu ternyata milik Delia. Ia memandangiku mencoba tersenyum, namun aku dapat melihat bahwa di dalam bola matanya ia masih menyesal.

“Gimana? Kalo kita sih pasti dengan senang hati menerimamu di tim futsal!” Tos tiba-tiba memegang bahuku beserta dengan Joe yang mengangguk dengan antusias.

“Tunggu dulu, gimana kalo kamu gabung tim sepakbola aja?”lelaki berotot tersebut tiba-tiba memberikan penawaran lain.

Oh..jadi ini pertandingan antara tim futsal dan sepakbola.

“Tim kalian kan dah ada dua kiper!”

“Oh, kiper yang kalian sewa kan tadi tewas!”

“Ya itu salah kamu tendang keras keq gorilla!!!”

Aku yang melihat mereka berkelahi hanya tertawa kecil. Namun secara tiba-tiba tangan kananku merasakan sebuah sentuhan halus dan lembut seperti ketika aku masih memiliki tanganku yang dulu. Aku dengan cepat melihat ke arah tanganku yang dipegang oleh Delia.  Karena panik Delia melepaskan tangannya, aku yang tidak dapat percaya hal tersebut, kemudian memegang tangannya dan menaruhnya di tangan kananku. Nihil.

Apa yang terjadi!? Mengapa tanganku tiba-tiba dapat merasakan sesuatu tadi? Selama aku memiliki tangan ini, ini baru pertama kalinya aku merasakan hal tersebut. Mungkinkah jika aku ikut klub ini aku dapat menemukan hal baru?

Dengan tangan kiriku, aku mengelus kepala Delia dan tersenyum ke arahnya. Matanya memandangku dengan penuh harapan. Aku pun mengangguk ke arahnya. Ia kemudian terjatuh dan menangis lega. Perasaan bersalah yang ia pendam telah lepas sudah.

“Jadi gimana Robocop? Eh!? Kau apakan lagi manajer kita?”

Aku berjalan menuju arah bola yang terletak di tengah lapangan. Aku meraihnya dan dengan perlahan menggenggamnya dengan tangan kananku. Kemudian kuputar badanku menghadap mereka.

Di sinilah aku berdiri sekarang. Dulu aku bertanya-tanya apa arti hidupku. Tapi sekarang hal tersebut berubah setelah aku diberikan kesempatan untuk menggenggam mimpi yang baru.

“Hei Robocop! Cepat lempar!”

Aku pun menarik napas dalam-dalam dan mengambil ancang-ancang. Aku tersenyum sesaat, di saat itu juga aku bersyukur aku telah menyelamatkan Delia.

7 dukungan telah dikumpulkan

Comments