Book… Let’s Talk!

1 year ago
Bayu Dwi Putra

by: Bayu Dwi Putra

Di suatu SMA terkenal yang satu-satunya berakreditasi S di Indonesia. Seorang pemuda yang sedang duduk bersender di salah satu kursi kelas yang berlabel IX.A, menunjukkan wajah yang amat bersahaja sambil melihat seorang gadis cantik yang merupakan salah satu anggota dari kelas itu. Pemuda itu mempunyai rambut yang lumayan panjang dan lebat tapi rapi, wajah oval yang agak dewasa, serta porporsi tubuh yang ideal. Dia juga memakai kacamata.

‘Mungkin saat-saat ini adalah momen yang paling berharga semenjak aku bersekolah.’ Pikir pemuda itu.

‘Bisa satu sekolah dengan orang yang paling aku sayangi sedari dulu, sekelas lagi! Ini membuatku merasakan apa itu arti kebahagiaan sejati…’

‘Bila saja… dikehidupanku tidak ada ITU mungkin aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih normal…’

Pria itu berpikir sambil menatap tajam ke salah satu bukunya yang ada di atas meja.  Buku itu lebih mencolok dari buku-buku lainnya. Buku itu mempunyai sampul yang berwarna silver dengan corak-corak emas yang bercahaya. Di depan sampulnya terdapat kata INTELIGENT dan di belakang sampulnya terdapat kata WISDOM.

#Bila aku tidak ada… mungkin sekarang kau sudah ada di SMA yang akreditasinya C atau mungkin D.#

‘Benar… Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah menjadi siswa paling dungu di Indonesia ini…’

‘Ceritanya bermula pada 1 tahun yang lalu… Aku menemukan sebuah buku yang amat mencolok di tempat pembuangan sampah. Dan setelah aku memunggutnya dan membawanya ke rumah.’ Kilas balik Gusti, ketika ia memasuki kamarnya yang berantakan. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Lekas ia meletakkan buku aneh yang baru ia pungut di atas meja belajar. Lalu sebelum ia meninggalkan kamarnya karena ingin melakukan sesuatu.

#Jadi kau adalah pemilikku yang selanjutnya ya.# Terdengar suara yang membuat Pria itu panik.

“S-siapa? Siapa yang berbicara barusan?” Dia melirik ke segala arah kamarnya.

#Aku ada di bawah sini… ada tepat di mana kau menggengam.#

“Ja-jangan-jangan… buku ini… yang berbicara?”

#Benar…#

Lepas kontrol, pemuda itu melempar buku itu ke lantai dan menyudutkan diri di sudut kamar. Saat buku itu membentur lantai, buku itu berteriak layaknya suara om-om yang di tampar oleh istrinya. Buku itu menegakkan dirinya sendiri seakan bisa bergerak semaunya.

“A-apa-apaan ini? Tidak mungkin buku bisa bicara. Kau ini apa?”

#Aku adalah sebuah buku yang bisa membebaskanmu dari rasa ingin tahu… Aku adalah Buku Pengetahuan kau bisa memanggilku sebagai Knowledge.#

Nolet? Jadi namamu adalah Nolet! Baiklah, aku akan memanggilmu Nolet juga.”

#Ti-Tidak… KNOWLEDGE!!! Namaku adalah KNOWLEDGEK-N-O-W-L-E-D-G-E…. Bila dituliskan… akan menjadi seperti ini!!” Buku itu melayang di angkasa dan membuka dirinya sendiri, memperlihatkan ejaan bahasa inggris yang benar di salah satu lembar tubuhnya.

“Hmm… Apa itu? Aku tidak bisa membaca tulisan bahasa inggris… sudahlah kupanggil Nolet saja. Oh iya, namaku Gusti Ryandi…”

#Ti-Tidak!! Namaku… Nama agung dari dewa pengetahuan…# Buku itu terjatuh lemas dan mengakhiri kilas balik dari pemuda itu.

Kelas berakhir, dan cahaya sorepun menerpa kelas itu. Pemuda bernama Gusti itu masih duduk di tempat duduknya tadi. Dia melihat dalam keluar jendela di mana langit sedang berusaha menggoda orang-orang dengan warna kuning keemasan yang cantik, awan-awan yang pada awalnya berwarna putih juga semakin tergradiasi menjadi warna kuning kemerahan, pergerakan alam saat itu seperti membelai sanubarinya.

#Kau benar-benar suka sore hari bukan…# Nolet mengambil sebuah topik pembicaraan. Saat itu Nolet juga terterpa cahaya indah dari matahari sore.

“Hm… Aku benar-benar menyukainya… Senja…” Gusti berkata sambil membayangkan gadis yang ia tatap sebelumnya. Sepertinya nama gadis itu adalah Senja.

#Kalau kau menyukainya, cepat sana beritahu perasaanmu… Aku sudah repot-repot membantumu untuk bisa satu sekolah, bahkan satu kelas dengannya… tapi kau belum pernah mengambil tindakan sejak 3 bulan setelah masuk SMA…#

“Ke-kenapa memangnya? Aku sama sekali tidak keberatan dengan keadaanku yang sekarang… entah kenapa keadaanku saat ini terasa indah. Karena dengan begini, rasa cintaku tidak mungkin berkurang.”

#Kalau menurut orang lain, kondisimu saat ini adalah kondisi yang Menyedihkan tau.# Mendengar kata-kata Nolet, dada Gusti seperti tertusuk kata-katanya.

#Hanya orang bodoh yang mencintai. Kalau orang yang pintar, dia lebih suka dicintai.# Lagi-lagi kata-kata itu menusuk dada bagian belakang Gusti.

“Terserahlah kau mau berkata apa. Sudah kubilang aku cukup puas dengan keadaanku sekarang.” Gusti berpaling dari hadapan buku itu ke jendela yang masih menangkap keindahan langit sore.

#Kenapa kau tidak menulis saja di dalamku, tulis : Mencintai Gusti Ryandi adalah mutlak. Maka Senja pasti akan mencintaimu juga…#

“Aku tidak mau ah, itu namanya memanipulasi perasaan seseorang. Dan aku paling benci itu.” Jawab Gusti sambil beranjak dari kursinya dan bersiap pulang.

Sekarang gusti sedang berjalan pulang dikelilingi dengan siluet petang, dia melewati ujung sisi kanan jalan raya, menyipitkan mata setiap kali lampu sorot mobil menembak matanya. Saat itu dia juga membawa Nolet di telapak tangan kanannya.

#Kalau begitu, coba sebutkan apa saja kegunaanku?# Nolet bertanya.

“Sialan kau… aku tidak sebodoh itu sampai tidak bisa mengingat hal yang penting.” Saat sedang berbicara dengan Nolet, seorang anak yang berjalan dengan ibunya menunjuk Gusti dan berkata”Mama, mama… Orang itu bicara sendirian…” Ibunya hanya berkata “Hus… Jangan ditunjuk..”

“Pertama, semua pengetahuan ada di dalammu. Dari yang sudah ditemukan umat manusia, hingga yang belum.”

“Kedua, kau bisa membaca pikiran orang lain di seluruh dunia untuk mengukur kepintaran mereka.”

“Dan yang terakhir, bila pemilikmu menuliskan sesuatu di kertas bukumu. Tulisan itu akan menjadi pengetahuan umum di seluruh jagat raya. Misalkan bila aku menuliskan 1+1=11… Maka seluruh jagat raya akan percaya bahwa 1+1=11.”

#Benar sekali… dan ada satu tambahannya, [Sang pemilik buku akan dijatuhi hukuman ketika dia menghapus pengetahuan baru yang ia buat. Dia akan melupakan pengetahuan yang ia hapus itu.] Artinya, bila kau menghapus 1+1=11 yang sudah dituliskan di kertasku, kau akan kehilangan ingatan mengenai 1+1=11 maupun 1+1=2.#

“Karena itu aku tidak pernah memakai fitur ke-3..”

#Karena takut dengan hukumannya?#

“Bukan!! Hanya saja, bukankah itu terlalu egois? Memaksakan pengetahuan yang Cuma diketahui olehmu untuk disebarkan secara umum…” Gusti merasa marah.

#Haha… Karena sifatmu inilah mengapa Dewa Pengetahuan memilihmu.#

Saat Gusti sedang berjalan melewati kemilau kota disaat senja. Tiba-tiba saja sebuah kejadian besar terjadi. Sebuah mall besar dibajak oleh kalangan terroris yang sudah amat terkenal. Dan saat Gusti melihat tajam ke-TV yang ada di atas gedung itu. Di antara para Sandra yang ada, dia bisa melihat adanya Senja.

Seorang reporter yang menerawang mall itu dari atas angkasa dengan menaiki helikopter berkata di depan kamera.

[Terroris yang selama 1 tahun terakhir dicari-cari oleh aparat polisi kembali menunjukkan dirinya. Akan tetapi setelah mereka terpojok, mereka membajak mall yang ada di bawah saya dan mengancam aparat kepolisian agar menyerahkan 2 unit helikopter.]

[…Ini adalah video ancaman mereka yang disiarkan melalui televisi beberapa menit yang lalu…]

Gambar di televisi berubah, menjadi beberapa orang yang memakai kevlar (Baju anti-peluru) dan membawa senjata berat berkumpul di tengah-tengah mall besar bertingkat 12 itu. Mereka tidak memakai topeng ataupun penutup wajah, mungkin karena wajah mereka telah diketahui oleh aparat kepolisian.

[Mulai dari sekarang… setiap 10 menit sekali kami akan membunuh satu sandra hingga helikopternya tiba… salah satu dari kami akan menunggu di atap mall yang akan menjadi tempat pendaratan helikopter itu… jangan mencoba melakukan sesuatu, atau kami akan membantai para sandra.] Ancam seorang terroris yang tampaknya menjadi pimpinan mereka.

“Nolet!! Senja… Senja menjadi salah satu sandra mereka!! Kalau dibiarkan Senja bisa!!” Gusti berkata panik.

#Tenangkan dirimu Gusti!! Dia masih memiliki kesempatan untuk selamat… selama helikopternya datang, dia masih bis…#

DOR!!

Terdengar suara yang amat nyaring dari dalam gedung, yang tidak lain tidak bukan adalah suara tembakan senjata api. Semua orang berteriak karena mendengar suara itu. Reporter wanita itu juga menegaskan hal yang baru saja terjadi.

[Su-suara tembakan… suara tembakan baru saja terdengar!! Dan kami mendapatkan video lagi dari dalam mall.]

Sepertinya sudah 10 menit berlalu dan seorang bapak-bapak kantoran telah tertembak tepat di kepalanya. Lantai di sekitar tubuh tak bernyawa itu dibanjiri oleh darah segar. Kata-kata mereka adalah kebenaran. Tubuh tak berkulai pucat pasi dari bapak itu menjadi bukti kesungguhan mereka.

[Selanjutnya… 10 menit ke depan aku akan menembak, gadis ini.] Pimpinan itu berkata sambil menyeret Senja dari kerumunan.

“SENJA!!” Gusti hanya bisa berlari panik tak karuan menuju pusat pembelanjaan itu.

#Gusti!! Pikirlah menggunakan kepala dingin!! Apa yang bisa kau lakukan di dalam mall sana ha?! Kau itu hanyalah manusia biasa!!# Kata-kata Nolet menghentikan langkah kaki Gusti.

“Lalu apa yang harus aku lakukan ha? Aku tidak bisa meninggalkan Senja sendirian!!” Jawab Gusti dengan suara yang lantang.

#Kita masih punya waktu 10 menit… Lebih baik kita menunggu hingga helikopternya datang… dan bila tidak datang, kita akan melakukan…# Nolet berbisik pada Gusti.

“Tapi… Aku tidak ingin menggunakan fitur ke-3!!” Jawab Gusti setelah mendengar rencana Nolet.

#Apa sekarang adalah waktunya untukmu berkata begitu… kalau tidak kau lakukan, kemungkinan Senja akan Mati!!#

“B-baiklah!! Aku akan melakukannya…”

Gusti membuka Nolet dan mengambil pena. Sambil melihat permukaan kertas Nolet yang perlahan timbul denah sebuah bangunan beserta titik-titik berwarna hitam dan putih. Tampaknya denah tersebut merupakan denah mall berlantai 5, titik-titik hitam merupakan para terroris, dan titik putih para sandra. Ada sebuah titik yang paling besar dan berwarna abu-abu, kemungkinan itu adalah Senja.

#Ini adalah denah mall tersebut… titik hitam artinya terroris, titik putih artinya sandra, dan titik abu-abu adalah Senja… mereka menetap di tengah-tengah lantai 5 mall…#

“Tapi, tidak hanya di lantai 5 saja. Beberapa dari mereka ada di atap mall tersebut…”

Gusti dan Nolet saling berbincang setelah melihat grafik yang tercantum di permukaan kertas Nolet. Ada 5 titik hitam, 37 titik putih, dan 1 titik abu-abu di lantai 5, 3 titik hitam di atap mall, serta 4 titik hitam di lantai 1. Posisi mereka saling tegak lurus.

#Dan tepat seperti prediksi, posisi mereka satu garis lurus… Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.#

Mereka berdua hanya bisa menunggu detik dan menit mengalir perlahan. Hingga reporter wanita yang tersorot di televisi berseru lantang. Sebuah helikopter datang tepat 2 menit sebelum waktu korban selanjutnya dibunuh usai.

[Helikopter pertama telah datang… sekarang, bagaimana reaksi para terroris, apakah mereka akan melepaskan para sandra.] Video di televisi besar di luar dinding mall yang sedang terbajak itu berganti.

[Kerja bagus telah mengantarkan helikopernya tapi sayang, 10 menit baru saja berlalu. Itu artinya… gadis ini akan Mati.]

Pimpinan terroris itu menodongkan pistolnya ke arah kepala Senja. Membuat Senja menutup kedua matanya sambil menitikkan air mata menahan rasa takutnya. Di sisi lain, Gusti dan Nolet harus menerima kemungkinan terburuk itu dan menjalankan rencana mereka yang sebelumnya dibisikkan oleh Nolet.

#Gusti!! Cepat tulis!!# Nolet berseru sambil membuka tubuh bukunya sendiri.

“Sial…. Sial!!! SIAL!!” Gusti menulis dengan cepat kata demi kata.

Akan tetapi, suara tembakan terdengar seiring ia menyelesaikan kalimat yang ia buat di dalam Nolet. Setelah Gusti menyelesaikan kalimat itu, Nolet bersinar terang hingga cahaya yang itu tertembak ke atas langit malam. Cahaya berwarna keemasan yang artinya, pengetahuan baru telah terlahir di dunia.

Tak lama kemudian, semua terroris yang ada di mall itu tersungkur ke bawah tanah seperti ditekan oleh sesuatu beserta peluru yang ditembakan barusan. Bahkan helikopter yang terbang di atas mall tersebut juga terjatuh membentur atap mall dan membuat lantai atap mall rubuh bersama 3 orang  terroris di atas atap. Membuat helikopter dan 3 orang itu jatuh menembus lantai demi lantai hingga ke lantai dasar. Para aparat polisi yang sedang menunggu, mengelilingi mall itu langsung bergerak untuk menggerebek para terorris. Semua sandra berlari dari mal menjauhi Senja, sedangkan Senja hanya terdiam berduduk lutut. Hingga saat aparat polisi datang mengepung semua penjahat yang ada di sana.

Saat itu dalam watu singkat, Gusti menuliskan di dalam Nolet : benda apapun di 8 meter sekitar Senja Purnama akan terjatuh di hadapannya. Membuat pengetahuan itu menjadi kenyataan di seluruh jagat raya demi menyelamatkan Senja, gadis yang ia cintai.

Setelah pengetahuan baru itu lahir. Semua orang langsung tahu jika berada di sekitar senja akan membuat mereka jatuh. Termasuk diri Senja sendiri. Aparat polisi dengan hati-hati menghindari kemampuan Senja sembari menangkap para teroris satu-persatu. Dengan begitu, selesai sudah kasus terorisme tersebut. Gusti sangat bersyukur ia sempat merubah pengetahuan sebelum Senja tertembak. Dengan begini, semuanya akan kembali normal. Pikir Gusti.

Namun jelas, setelah pengetahuan itu lahir. Tak mungkin semuanya menjadi normal. Meskipun dia telah menyelamatkan Senja, pengetahuan yang ia buat juga membuat Senja menjadi menderita. Karena semua orang yang ada 8 meter di sekitarnya akan tersungkur ke tanah, Senja di jauhi oleh teman-temannya karena kondisinya yang aneh itu. Bahkan saat di kelas, dia hanya bisa duduk di kursi pojok. Dijauhi oleh kursi-kursi lainnya.

Hal ini membuat Gusti merasa bersalah. Tapi, menurutnya ini lebih baik daripada Senja mati. Sampai saat ia mendengar Senja yang sendirian di belakang sekolah ketika istirahat, berkata dengan menyedihkannya.

“Lebih baik mati saat itu aku mati…” Pelan Senja berkata sedikit terisak.

Kata-kata itu menyadarkan Gusti bahwa yang ia pikirkan selama ini salah. Kondisi yang dilalui oleh Senja kini sama saja hidup tapi mati yang bahkan lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Karena itu merobek kertas Nolet yang berisi tulisan yang ia buat untuk menyelamatkan Senja dan menjentikkan korek api yang ia bawa saat itu juga. Korek api yang khusus ia beli untuk membakar kertas pengetahuan itu.

#Kau yakin akan melakukan ini Gusti? Kau tahu kosekuensinya bila menghapus pengetahuan itu bukan?# Nolet memperingati Gusti.

“Tak apa Nolet… itu merupakan hukuman yang pantas bagi orang yang cukup arogan untuk menulis di atas kertasmu.”

#Tapi… akulah yang mengusulkan ide itu… seharusnya hukuman itu jatuh ke tanganku!!#

“Akulah yang menerima idemu, jadi sepenuhnya itu adalah salahku. Karena itu akulah yang akan bertanggung jawab.” Gusti berkata sambil membakar kertas itu. Dan semuanya menjadi hitam.

Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula. Senja tidak lagi membuat orang yang ada di dekatnya terjatuh ke tanah, dan dia sudah berteman lagi dengan banyak orang. Sedangkan Gusti setiap harinya masih duduk di kursi kelas hingga petang untuk menatap langit sore.

Pada suatu sore yang memiliki cahaya jingga yang indah, Gusti bertanya pada Nolet sambil melihat keindahan langit sore dari jendela.

“Hey, Nolet… Apa kau tahu kenapa aku selalu melihat sore hari dari jendela ini setiap hari?” Gusti berkata, dia tidak mengingat alasan paling penting dari kebiasaannya itu. Karena ingatannya tentang Senja sudah tersapu habis.

#…# Nolet terdiam sesaat, kemudian ia menjawab.

#Aku tidak tahu…#

Gusti tersenyum ke arah Nolet. Cahaya sore yang indah itu menerpa wajahnya dan ia berkata.

“Ternyata ada juga ya… yang tidak kau ketahui…”

Permohonan dari Gusti telah menjadi kenyataan. Kini cintanya akan menjadi cinta tak terbalas untuk selamanya. Cinta yang bahkan dirinya sendiri tidak mengetahui keberadaannya.

2 dukungan telah dikumpulkan

Comments