Complete World

11 months ago
Bayu Dwi Putra

by: Bayu Dwi Putra

Saat itu, di sebuah kota yang memiliki berbagai gedung pencakar langit. Gedung yang arsitekturnya sama sekali belum pernah terlihat di masa kini yang mungkin hanya ada jauh di masa depan. Di salah satu gedung tersebut, sosok menyerupai manusia yang berdiri di atap gedung sambil menatap kejauhan kota yang disinari oleh bulan purnama, berkata dalam hati kecilnya.

Andaikan kami memiliki hati yang sama, mungkin di dunia ini tidak ada pertikaian lagi, dan kami akan menjadi mahluk yang sempurna. Itu adalah impian mereka, manusia.”

             “Akan tetapi, setelah impian mereka menjadi kenyataan. Kini mereka menjadi kosong, hampa karena kesunyian dan sepi yang kian menyerang.”

            “… Dan sekali lagi, mereka memiliki impian yang berbeda…  impian itu adalah…”

            “…Kami ingin kembali seperti yang dulu.”

            Ucapnya dalam hati seiring berpaling dari langit kusam yang ia lirik sejak tadi. Langit yang bak menjerit dengan sedihnya, melihat ketidakberdayaan dari sesosok manusia itu. Dan langit yang mewakili rasa sepi dari para manusia yang…

“… tidak memerlukan  siapa-siapa lagi.” Ujar seorang pelajar sekolah menengah atas di kelasnya itu.

Dia kemudian meletakkan pulpen yang selama ini ia genggam untuk menulis kata-kata yang semenjak tadi dia goreskan dalam buku catatannya. Lalu, seorang murid dari kelasnya berkata menyapa dia yang tengah mengistirahatkan diri.

“Neo!!! Karyamu yang terakhir bagus sekali!!! Daun Terakhir yang Jatuh ini benar-benar emosional!!! Seperti yang diharapkan dari penulis novel jenius!!” Ujar teman sekelas pelajar bernama Neo itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.

“Itu belum seberapa, Andre. Karyaku yang selanjutnya pasti akan lebih hebat dari novel itu!!! Dan aku sedang memikirkan idenya sekarang.” Ucap Neo.

“Benarkah!? Sial, aku tidak sabar menunggunya!!! Kalau begitu, semangat ya!!” Andre beranjak dari sana, dari kelas sepi yang para muridnya sudah pulang sejak 30 menit yang lalu. Hanya Neo saja yang ada dalam kelas dan dia kembali menulis karyanya.

‘Seperti yang temanku, Andre bilang. Aku adalah seorang novelis…namaku adalah Neo, Neo Hendrix yang berumur 17 tahun.’ Pikir Neo yang menulis kembali di buku catatannya, menggoreskan kata-kata dari ide yang terus-menerus ia dapatkan.

‘Aku cukup bangga untuk mengatakan karyaku terkenal, seperti yang Andre bilang barusan. Novelku yang berjudul Daun Terakhir yang Jatuh menjadi Booming di tahunku saat ini, 2015. Novel itu sudah terjual 500 ribu buku dalam satu bulan terakhir. Dan kini, aku sudah memiliki ide baru untuk membuat novel lainnya…’ Lagi, dia melanjutkan percakapan sepihak dalam benaknya sembari menempelkan telapak tangan kanannya di atas buku novel Daun Terakhir yang Jatuh itu.

‘ Ide tentang dunia dimana manusia sudah memiliki segalanya dan dapat melakukan segalanya seorang diri, sehingga mereka tidak memerlukan siapapun. Mereka menjadi sempurna berkat program yang berjalan dalam zaman itu, Perfection. Dan karakter utamanya adalah seorang yang datang dari masa lalu… Cerita ini, pasti akan meledak di pasaran!!! Dan cerita ini memiliki judul…’ Ujarnya lagi seorang diri. Dia menulis makin cepat hingga selesai menuliskan bagian pembuka novel serta konsep dari ceritanya itu.

… Complete World ” Serunya sambil melihat catatan yang ia buat dengan jantung menggebu.

Saat itu, langit mulai kusam. Gelegar kecil halilintar terdengar riuh dari dalam kelas Neo. Hal itu menyadarkan Neo bahwa tak lama lagi cuaca akan menjadi tidak menyenangkan. Dan dia melupakan hal itu karena asik menulis pembukaan untuk cerita barunya.

“Si-Sial!!! Aku melupakan hasil ramalan cuaca yang tadi pagi aku tonton karena asik membuat novel!!! Mereka berkata bahwa pada jam 4 sore ini akan datang badai berpetir hebat!!! Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat 42 menit… aku harus cepat!!!” Ujarnya sembari membenahi semua peralatan tulisnya serta buku-buku referensi yang sempat ia baca belum lama, menggantung tasnya di bahu, dan bergegas keluar dari sekolahan.

Kini dia berada di halaman sekolahnya dan berlari menuju gerbang sekolah untuk meninggalkan sekolahan. Saat itu rintik hujan mulai deras berderu dari atas langit berpetir. Neo menutupi kepala serta catatan novel yang ia buat di tas yang berbeda itu dengan tas sekolahnya dan berlari dengan cepat. Tetapi, hembusan angin yang kuat menerpanya dari depan. Membuat jas seragam almameter sekolahnya berkibar tak karuan di belakang badan Neo.

“Gawat!! Aku terlambat!! Kalau begini lebih baik aku kembali berteduh di sekolah…” Ujar Neo sambil membalik tubuhnya, berjalan kembali ke sekolah.

Lagi-lagi, kejadian yang tak terduga terjadi. Sebuah cahaya berwarna silver kekuningan memancar dari atas langit dengan sangat intensif. Makin lama makin terang sorot cahaya itu dan ketika Neo melihat ke atas, dia menyadari bahwa cahaya itu berasal dari halilintar yang akan menyambarnya.

“UWAAA!!!” Serunya lantang seiring semuanya tertutupi sinar halilintar yang luarbiasa terang.

Kesadaran Neo menghilang. Membuatnya dapat melihat kembali rekap hidupnya yang menjijikkan. Ayahnya seorang penjudi yang selalu memukulinya setiap kali kalah bertaruh dan ibunya selalu menyalahkan Neo yang telah terlahir di dunia. “Seharusnya kau tidak pernah terlahir!!” kata-kata dari ibu yang seharusnya menyayangi anaknya yang masih duduk di bangku SD kelas 5 itu, tajam bagai belati.

Bukan hanya tidak pernah mendapat cinta kasih orangtua, ibu dan ayahnya juga selalu bertengkar dengan hebat. Bahan tengkar mereka tidak lain adalah hal klise, yaitu masalah hutang. Suara lantang mereka membuat Neo yang masih kecil itu hanya menyumpal lubang telinganya dengan ear phone yang terhubung dengan i-Phone dan membaca novel miliknya sambil duduk jongkok, bersender pada dinding kamarnya. Novel, i-Phone, dan ear phone yang ia beli dari hasil sisihan dana bantuan operasional sekolah dan merupakan satu-satunya hiburan yang ia miliki.

Hingga suatu hari, ia mendapati tiada seorangpun yang ada di rumah tempatnya tinggal. Orang tuanya pergi meninggalkan Neo Hendrix yang masih 13 tahun itu. Yang dia ketahui hanyalah, mereka kabur dari hutang-hutang mereka dan mengabaikan anak mereka satu-satunya. Saat Neo kehilangan segalanya, dia hanya tertawa sambil menangis. Dia bahkan tidak bisa membedakan antara tawa dan tangis kala itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah tertawa dan tertawa, kemudian dia mulai menggenggam pulpen yang ia ambil dari dalam kotak pensilnya erat-erat. Dan menulis dalam buku belajarnya yang masih kosong sembari tertawa dan menangis bersamaan.

Cerita hidupku busuk bagai bangkai… jika begitu, yang perlu aku lakukan hanya membuat cerita baru… benar, membuat jalan hidup yang baru… aku sudah tidak peduli dengan jalan hidupku.” Ujar Neo sambil terus menulis ceritanya. Cerita yang lebih baik dari kehidupannya kini.

‘Ini… gambaran masa laluku… di sinilah semuanya dimulai, alasan mengapa aku membuat cerita… adalah karena aku ingin lepas dari penderitaanku sendiri… dan saat aku mengajukan cerita tulis pertama di buku belajarku itu, seorang editor menyanjung bakatku sebagai seorang penulis… dan aku bisa menjadi seperti sekarang ini.’ Pikirnya usai melihat masa lalunya yang bak berbisik jangan pernah lupa itu.

“Ya, aku sudah tidak peduli lagi dengan jalan cerita di kehidupanku…” Ujarnya yang terlempar ke kegelapan yang jauh di depan matanya.

Semua kegelapan itu melahapnya hingga hanya hitam pekat sajalah yang mengisi lensa mata dari Neo Hendrix. Beberapa saat kemudian, secara perlahan dia mulai bisa membuka kedua matanya. Dia mendapati dirinya berada di salah satu kapsul dari ruang serba putih yang dikelilingi oleh berbagai kabel-kabel yang tersambung di kapsul tempatnya tersadar.

“T-Tempat apa ini? Seperti laboratorium yang sering aku lihat di filem-filem Golly Wood yang kutonton untuk referensi saja…” Ujarnya sambil berdiri dan menatap sekeliling.

Lalu, dia beranjak dari sana setelah menemukan pintu yang setengah terbuka dari luar ruangan luas itu. Neo berjalan menuju ke pintu itu dan membuka lebar pintunya untuk keluar dari ruang serba putih tempatnya bergumam setelah sadarkan diri belum lama. Melihat keluar ruangan tersebut, betapa terkejutnya Neo menyaksikan gambar yang dihasilkan oleh retina matanya.

Langit yang kelam, Cahaya perkotaan, bentuk bagunan futuristik dengan berbagai fasilitas yang tidak mungkin ada di jamannya saat itu, android yang melakukan tugasnya dimana-mana, dan manusia yang berjalan di jalur yang berbeda-beda. Neo berada di puncak salah satu bagunan yang amat tinggi. Karena itu ia dapat melihat cara mengoperasikan semuanya telah berubah. Ya, segalanya berubah digital.

“A-Apa-apaan ini…?” Akhirnya setelah lama bibirnya mengaga melihat luarbiasanya kota tersebut, dia berkata.

“Semua bangunan itu, Android, bahkan mesin-mesin yang belum pernah kulihat sebelumnya… Seperti aku terlempar jauh ke…”

Masa Depan…” Sebelum Neo Hendrix menyelesaikan kalimatnya, suara yang terdengar parau memotong kalimat yang belum ia sempurnakan itu.

Hal ini membuat Neo memutar kepalanya 180 derajat ke belakang, mencari tahu asal usul suara mirip perempuan yang memotong kalimatnya tersebut. Dan ternyata, yang menyahuti perkataannya belum lama adalah seorang, tidak bukan seorang. Mungkin lebih tepatnya sebuah. Ya, sebuah android yang mengimitasi rupa seorang gadis muda. Dia menatap Neo dengan pupilnya yang bercahaya bak seorang manusia pada umumnya.

“Siapa kau?” Tanya Neo dengan nada yang agak bergetar.

“Aku, adalah yang memanggilmu kemari… Aku tidak memiliki nama… Tapi HC  memanggilku sebagai C-1.” Ujarnya yang tengah mendekatiku.

“Ini dimana? Apa yang terjadi?” Tanya Neo Hendrix.

“Tempat ini adalah 500 tahun yang akan datang dari tempatmu berada…” Jawab C-1.

“J-jadi… ini adalah Bumi 500 tahun mendatang…” Ujar Neo.

Bumi? Oh… nama planet ini dulunya ya… Sekarang planet ini bernama Complete World…” C-1 berkata sembari menyikap rambut pirang panjangnya.

Kata-kata C-1 bagaikan sebuah bom yang meledak di kepala Neo. Membuatnya tersadar akan kefamiliaran dari semua yang ia saksikan sejak tadi. Entah mengapa, Neo Hendrix pernah menyaksikan illustrasi yang ada di depan matanya itu. Dan pertanyaan dari di mana dia melihat pemandangan itu? terjawab setelah Neo mendengar kata-kata terakhir C-1.

“J-jadi… Novel fiksi ilmiah yang ada di kepalaku saat ini… menjadi kenyataan di masa depan?” Ujar Neo, dia menutupi wajahnya secara tidak sempurna dengan telapak tangan kanannya. Kaget akan fakta yang dia temukan.

“Tunggu dulu? Novel? Jangan-jangan kau…”

Sebelum C-1 menyelesaikan kalimatnya, Neo berlari dari sana menuju ke dalam ruang putih untuk menghindari android perempuan itu. Dan bergegas memasuki ruang lainnya, ruang yang pintunya berlawanan arah dengan pintu yang ia masuki tadi.

Dalam ruangan itu terdapat tempat tidur untuk satu orang, atap transparan yang terbuat dari kaca tembus pandang,  buku yang menggunung, cermin yang setinggi dua meter dan selebar satu meter, serta poster seorang pria tua yang agak mirip dengannya.

“Ini semua pasti hanya mimpi, aku harus bersembunyi dan menunggu sampai aku terbangun dari mimpi buruk ini!!” Ujarnya sambil celingukan di kamar yang kemungkinan adalah tempat C-1 itu beristirahat.

Setelah lama ia berdiri, sebuah buku yang ada ditumpukan buku yang menggunung itu terjatuh dan mengenai kepalanya. Membuatnya sedikit mengumpat akibat rasa sakit yang dihasilkan oleh benturan kepalanya dengan ujung buku novel tebal yang agak lancip. Dan setelah dia melihat dengan jelas buku apa itu, betapa terkejutnya Neo hingga bola matanya ingin keluar  ketika melihat judul buku tersebut yang terpampang jelas di depan wajahnya. Ya, judul buku yang saat ini masih ada di kepalanya, Complete World.

“I-ini… jelas sekali ini adalah namaku…” Dia berkata seiring menggusap nama pengarang buku tersebut yang tidak lain tidak bukan adalah namanya sendiri.

“… Dan ada beberapa novel yang bahkan belum pernah aku tulis…” Ujarnya seiring ia menggali tumpukkan buku itu.

“Semuanya… adalah karanganku!!! Tidak diragukan lagi, semua ini adalah bukuku…”

“J-jadi, poster penulis legendaris yang tertempel disini adalah…” Dia memasuki ruangan yang sejak awal adalah miliknya itu. C-1 melanjutkan kalimat dari Neo Hendrix yang sempat terbata karena tercenggat melihat poster itu.

“Ya, dia adalah Neo Hendrix… pembuat novel jenius yang bisa mewakili berbagai perasaan manusia… dan dia adalah…” C-1 mendekati Neo dan menyentuh lembut pipinya. Dari pandangan Neo, C-1 terlihat sangat mempesona setelah cahaya bulan yang tertutupi oleh awan kusam sebelumnya itu mulai menyinari  tubuh mereka dari atap kaca yang ada di atas kamar C-1 tersebut.

Dirimu…” Dia melanjutkan kalimatnya saat cahaya bulan bersinar lebih terang lagi.

“Akhirnya… aku bisa bertemu denganmu… Neo Hendrix…” C-1 berkata sambil meneteskan air mata dan bersandar pada Neo.

‘Aku tidak tahu kalau android memiliki air mata… tapi, kalau dilihat dari kelakuannya ini… dia terlihat seperti gadis remaja pada umumnya.’ Pikir Neo sambil hampir memeluk balik C-1.

Kemudian Neo tersadar akan suatu hal sebelum dia memeluk tubuh langsing dari gadis artifisial itu. Ada suatu hal rancu dari kalimat yang ia lontarkan. Entah kenapa C-1 tidak mengetahui siapa yang ia panggil ke zaman itu.

“Bukankah kau yang memanggilku kemari, seharusnya. Kau sudah tahu kalau aku adalah Neo Hendrix bukan.” Tanya Neo, dia memengang bahu dari C-1 dan menjauhkan badannya.

C-1 tidak berkata apa-apa, yang ia lakukan hanya menunjuk ke cermin yang bahkan Neopun belum lihat sejak tadi. Cermin itu memantulkan refleksi dari C-1 dan Neo yang saling berdekatan satu sama lain. Akan tetapi, Neo malah kaget tercengang melihat bayangan yang dihasilkan oleh cermin tersebut. Karena yang ia dapat dari pantulan perwujudan dirinya bukanlah figur yang ia kenal. Akan tetapi badan telanjang dengan otot-otot bisep, trisep, serta tendon yang terlihat jelas di permukaan tubuhnya. Melihat hal yang bukan tubuhnya itu, dia berteriak histeris kemudian pingsan sesaat setelahnya.

“Kau sudah sadar.” Suara C-1 terdengar menggeming di kedua gendang telinga Neo yang perlahan sadarkan diri.

Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Neo mendapati dirinya terbaring di semacam kasur yang di atasnya memiliki alat bagai sensor yang bertumpu pada kepala bagian atasnya. Dia mencoba untuk beranjak dari sana, akan tetapi tubuhnya di ikat dengan semacam sabuk logam yang menyatu dengan bagian luar tempat tidur itu.

“Ke-kenapa aku diikat di sini? Dan ada apa dengan tubuhku?” Neo meronta, berusaha melepaskan diri.

“Secara teori, mustahil untuk kembali ke masa lalu ataupun pergi ke masa depan. Akan tetapi, kau bisa mengirim data yang ada di otakmu. Dan hanya ke masa depan. Itupun memerlukan daya energy yang sangat besar. Karena itu aku memanfaatkan kejadian alam sebagai energy untuk membawamu ke masa depan dan menggunakan separuh dari energy listrik kota ini untuk mengirimkan sinyal kilat listrik ke zamanmu melalui Badai  sebagai medianya.” Jelas C-1.

“Jadi, halilintar yang menyambarku itu adalah perbuatanmu? Lalu, tubuhku?”

“Yang kau gunakan sekarang adalah tubuh buatan sementara dan otak buatan yang telah dibuat untuk menampung data dari otakmu yang ada di masa lalu. Karena yang bisa dikirim hanyalah data dari otakmu saja, kami membuat tempat untuk menampung kesadaranmu itu. Baiklah, tunggu sebentar.” C-1 beranjak dari sana.

Dia mengoperasikan mesin sensor yang ada di atas Neo saat ini. Membuat kejut listrik menggerakan alat itu bagaikan sebuah scanner. Dan perlahan tubuh Neo kembali seutuhnya seperti sedia kala. Tubuh yang sama seperti figur yang ia lihat ketika sedang bercermin beserta pakaian yang biasanya dia pakai. Kemudian, sabuk yang membelenggunya sampai saat ini terlepas secara otomatis.

“Aku mengembalikan wujud tubuhmu berdasarkan data yang ada di dalam otakmu. Membentuk bagian luar tubuhmu menjadi figur yang kau ingat.” C-1 berkata seiring menghampiri Neo kembali.

“Semuanya seperti apa yang aku pikirkan untuk membuat Complete World… jangan bilang kalau program Perfection juga ada dalam zaman ini…” Ujar Neo sembari meregangkan pergelangan tangannya.

Perkataan Neo membuat C-1 Diam seribu bahasa. Dia hanya memapangkan wajah membiru dan suram. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Neo adalah fakta nyata yang benar terjadi di zaman itu, 500 tahun mendatang. Dan setelah beberapa saat, C-1 membuka kedua bibirnya.

“Itu adalah alasan utama mengapa kau dipanggil ke sini… Neo Hendrix. Untuk menghancurkan program Perfection…” Ujar C-1.

“Menghancurkan? Tapi, aku hanyalah manusia biasa… apa yang bisa aku lakukan?” Tanya Neo.

“Justru karena kau adalah manusia biasa, hanya kau yang bisa menghancurkan Perfection.” Seru C-1.

“T-tapi, kenapa harus aku? Bukankah banyak manusia yang lainnya?” Lagi, Neo bertanya.

“Karena hanya kau yang berhasil kupanggil ke sini!!!” Lantang C-1 berkata.

“Semua percobaan yang kubuat untuk memanggil manusia lainnya gagal… mungkin karena mental mereka menolak untuk pergi melalui kegelapan itu… tapi, di percobaan yang ke 3046 seseorang berani untuk melewatinya… dan dia adalah kau!!! Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau berani mengorbankan hidupmu untuk datang kemari!!”

‘Yang dia maksud sebagai kegelapan mungkin adalah gambaran masa lalu itu ya… mengorbankan hidupku? Aku hanya tidak perduli lagi dengan jalan hidupku… karena itu mungkin secara mental aku menerima panggilan C-1.’ Pikirnya dalam hati.

Suasana menjadi hening sejenak kemudian Neo yang masih menela’ah kalimat dari C-1 itu beranjak dari duduk silanya di atas kasur tempatnya dibelengu belum lama, membelakangi C-1. Dan dengan suara yang agak ragu-ragu, dia berkata sembari menggaruk-garuk kepalanya dengan telapak tangan kanan.

“… Ehmm… entah kenapa aku merasa ini semua adalah salahku… jadi aku akan menolongmu menghancurkan program Perfection…” Neo sedikit mengintip ke belakang, tempat C-1 berdiri.

Merasa senang, C-1 melompat ke depan, memeluk tubuh Neo sembari lantang berkata “Terima kasih” pada Neo. Melihat tingkahnya itu, Neo menjadi semakin tidak percaya bahwa dia adalah android. Dia dapat mengeluarkan ekspresi yang lebih indah dari manusia pada umumnya. Hingga membuat rona wajah Neo makin memerah karena ekspresi manis yang C-1 buat.

Akan tetapi, sebelum Neo menikmati dekapan dari gadis robot itu lebih lama lagi. Suatu peringatan yang amat berisik hingga membuat gedung sedikit bergetar, terdengar di telinga mereka berdua. Layaknya bahaya besar akan muncul, bunyi keras dari alaram peringatan itu terus berdering hingga membuat Neo menyumpal kuping buatannya itu.

Piiiiii!!!!Piiiii!!!! {Warning!!! Warning!!!}

“A-Apa yang terjadi!!!! C-1!?” Seru Neo panik mendengar peringatan yang nampaknya amat serius itu.

HC menemukan keberadaan kita!!! Mungkin karena pemanggilannya berhasil kali ini hingga energy yang disiapkan terkonsumsi… HC mendeteksi tempat ini dan dia akan menembakkan Tyrant menuju ke lokasi kita berada!!!” C-1 berkata sambil mengutak-atik layar komputer transparant yang ia operasikan belum lama untuk membentuk tubuh Neo.

HC!? Tyrant!??” Tanya Neo, makin bingung.

Tyrant adalah satelit militer buatan manusia 300 tahun yang lalu… senjata militer paling mematikan yang membuat perang binasa dari dunia karena ketakutan rakyat pada benda pemusnah itu. Dikendalikan oleh HC sebagai alat pencipta kedamaian… Tyrant mengumpulkan energy dari matahari dan dia akan… menembakkan energy Photon tepat ke arah kita… yang artinya satu menit 30 detik lagi… bersama bangunan ini…  Kita akan binasa” Ujar C-1, wajahnya membiru.

Neo merasa amat familiar dengan kata-kata yang dilontarkan oleh C-1, entah mengapa semua yang wanita android itu katakan sudah menjadi ide Plot pertama untuk cerita novelnya nanti setelah karakter utama terlempar  ke masa depan. Kemudian, Neo yang sudah tahu akan berakhir seperti apa cerita plotnya nanti itu menarik tangan C-1 keluar. Menuju tangga ke atas atap yang ada agak jauh di sebelah kirinya.

“N-Neo? Apa yang kau…?” C-1 bertanya.

“Kemari!! Jika kau mengikutiku, mungkin kita berdua bisa selamat.” Jawab Neo atas rasa tanya C-1.

“T-tapi, itu percuma saja Neo… waktu kita untuk keluar dari gedung ini hanya tinggal… 40 detik.” Tegas C-1.

“Bisa!! Kau harus percaya padaku.” Seru Neo menggenggam erat telapak kiri C-1 dengan tangan kanannya, berdua bergegas menaiki tangga yang menuju ke atas.

C-1 tidak berkata apa-apa melihat keyakinan dari seorang Neo. Dia hanya membalas kata-kata Neo dengan menggenggam balik tangannya erat-erat. Saat ini mereka berdua sudah berada di atap gedung yang amat tinggi itu. dan segera, setelah mereka sampai Neo menarik C-1 menuju ke ujung kanan atap yang memiliki pagar pembatas yang tingginya hanya 130 cm. Neo memanjat pagar pembatas itu dan mengulurkan tangannya kepada C-1 untuk mengangkatnya ke atas pagar itu.

“Lalu? Apa yang akan kita lakukan!?? Kita harus cepat!!! Lima detik lagi, Tyrant akan menembak!!!” Ujar C-1 panik.

Kemudian Neo tersenyum ke arah C-1. Sambil mengulur-ulur waktu agar penempatan waktu yang ia dapatkan dari plot ceritannya tidak kacau. Tak lama, Tyrant menembak dari luar angkasa. Menyisakan titik cahaya yang makin benderang mendekati lokasi tempat mereka berada. Lalu, Neo mulai mengatakan hal yang aneh.

“Hey… Kau bisa terbang?” Tak mengerti maksud kata yang terlontar dari bibir Neo membuat C-1 terdiam sambil menatap mata Neo yang masih menghadap ke arahnya. Kemudian, tiba-tiba keseimbangan dari tubuh C-1 tertumpu ke arah depan. Dia di rangkul jatuh oleh Neo dengan memakai tangan kanannya.

Tak lama, sinar yang amat kuat menerpa punggung mereka. Cahaya yang datang dari atas langit. Membuat mereka berdua memalingkan mata mereka ke belakang sejenak dan mendapati sebuah pilar cahaya yang amat besar menembus gedung pencakar langit tempat mereka berdiri belum lama. Sinar dari Photon yang amat memikat sekaligus mengerikan.

3 dukungan telah dikumpulkan

Comments