Dari Warnet Sampai ke Rumah

4 months ago
Dari Warnet Sampai Rumah
Ahmad Aufar Husaini

by: Ahmad Aufar Husaini

Akhirnya aku sampai ke rumah, setelah mengalami kemacetan luar biasa di kawasan car free day dan jembatan Pasupati. Badanku terasa susah digerakkan, lantaran  malas gerak dan ingin tidur. Jadinya pas sampai di rumah, aku langsung ke kamar dan secepat-cepatnya menguasai ranjang. Biasanya sih kalau langsung tidur begini mah aku langsung di-carekan (dimarahi) sama Umi, disuruh ganti baju. Tapi untuk yang kali ini alhamdulillah Umi tidak nyarekan sedengarnyaku, mungkin Umi tidur juga. Singkat cerita, sesaat setelah menelungkupkan diri di ranjang, aku hilang kesadaran. Alam mimpi menyeruak masuk menjajahi pikiran, sekarang sudah hilang dunia nyata; segalanya berubah digital. Memori-memori di otak yang berbasis listrik sepenuhnya mengambil kendali.

Aku terbangun oleh nyamuk yang ujug-ujug datang bersamaan dengan azan zuhur dari masjid sebelah. Seperti biasanya orang baru bangun tidur, aku mengalami fase “penyadaran diri” dari alam mimpi ke alam dunia. Rasanya agak aneh mimpiku ini; kombinasi antara pengalaman tadi malam, warnet Roadside beserta Samara-nya, dan alam-alam aneh yang hukum fisikanya berubah sepanjang waktu. Kesel aing teh atuh! Masa’ aku yang sudah posisi aman di rooftop gedung bisa tiba-tiba jatuh ke jalan raya lantaran “hukum fisika”-nya berubah. Tapi pokoknya mah, aku sudah bangun sekarang.

Habis bangun, aku langsung mengambil air wudu dan salat zuhur. Sekarang sudah jam satu siang ternyata, dan aku bingung mau ngapain lagi selanjutnya. Hidup hari libur di rumah mah memang selalu begini, bingung mau kemana-mana teh. Maka selepas salat, aku cuman bisa terdiam di sajadah. Dan gara-gara mimpi barusan, aku jadi mengingat-ingat pengalaman tadi malam dan menghubungkannya dengan Samara si jurig (hantu) warnet. Mencari-cari wangsit tentang apa yang harus dilakukan, sesuai petuah para sepuh di blogspot ahli mistis tafsir mimpi.

Ah Samara, gadis aneh yang baru saja kukenal seminggu terakhir ini. Aneh, baru pertama kali aku menemukan ada anak seumuran anak SMA berwajah agak Belanda menjadi penghuni tetap warnet alias ‘pengurus tidak resmi’. Seseorang yang benar-benar galak dan tertutup saat pertama kali kutemui.

***

Waktu itu aku ada masalah sama komputer warnet yang colokan USB-nya rusak. Saat aku menanyakannya ke operator warnet, aku malah disuruh pergi ke lorong belakang untuk menemui ‘heker’ ofisial warnet. Entah kenapa seorang hacker selalu memilki keterkaitan dengan dunia gelap. Sampai ujung lorong aku hanya menemukan satu pengguna komputer, seorang perempuan berambut kusut dengan daster putih, Samara. Oh iya, Samara sebetulnya sama sekali bukan hacker, dia hanya paham masalah hardware sedikit.

Pertemuan pertama dengan Samara berakhir dengan buruk, buruk sekali malah. Aku dilempari bantal dudukan dan nyaris kena cakar; semuanya lantaran aku terlalu kepo-an, kelewat banyak menanyakan urusan pribadi. Ya kemungkinan paling besarnya saat itu aku pasti disangka lagi menggombal berkedok interogasi.

“Pergi sia gob**k!” teriaknya keras-keras, untung tidak terlalu terdengar di lobby warnet.

Hai besoknya aku kembali datang ke warnet, mau minta maaf rencananya. Alhamdulillahnya itu berhasil, malahan aku sempat membuat Samara tertawa dengan jokes yang sebetulnya bisa dibilang ‘penghinaan atau perendah-dirian pada diri sendiri’. Kami mulai akrab sejak saat itu, sudah mulai bercerita tentang masing-masing.

Samara, gadis yang membikin kasihan. Dia sebetulnya memiliki rumah yang ada kebun kecil di belakangnya. Di sana ia tinggal bersama kakak perempuannya yang sedang kuliah. Rumah itu letaknya di Cimahi utara, namun terbakar habis sekitar setahun yang lalu. Bukan ‘terbakar’ sebetulnya, dia bercerita bahwa peristiwa ‘terbakar’ itu sudah sepaket dengan penculikan kakaknya. Kaget membaca kata ‘penculikan’? Aku juga bahkan belum bisa menerima bahwa Samara menyebutkan kata ‘penculikan’ itu dengan tenangnya, seolah-olah dia merencanakan suatu pembalasan.

***

Setelah tepekur dan tapakur, tiba-tiba datanglah sejenis wisikan ke dalam pikiran: Aku akan mengajak Samara ke rumahnya, sekalian mau jalan-jalan juga.

Maka habis itu aku langsung siap-siap, mencari jaket dan helm serta kunci motor juga STNK. Tapi setelah aku melihat jam, ternyata sudah sebentar lagi mau azan Asar. Karena sudah keburu malas berdiam lagi di rumah, aku pergi saja ke Masjid Agung untuk menunggu azan lalu salat. Setelah selesai salat Asar, aku mengeluarkan motorku untuk pergi ke warnet Roadside. Di depan Masjid ada banyak mang-mang jajanan masih mangkal, jadinya aku jajan dulu. Aku membeli cilor 3 tusuk, satu tusuk harganya seribu. Habis jajan, baru aku pergi ke warnet.

Sampai ke warnet aku ketemu sama teteh operator berkaos hijau polos yang saat aku datang langsung dia senyumin. Senyumnya mah aneh sekali, kalau di sinetron dan FTV bisa digolongkan sebagai senyum ‘jahat’ atau ada rencana ‘jahat’ begitu lah. Eh bukan jahat maksudnya, lebih tepatnya seperti senyum ‘ciye..!’ atau ‘ih..lagi pdkt!’.

“Ini Hasanudin yang kemarin itu kan? Mau ketemu Sem kan?” sapa si teteh operator. Sem adalah nama panggilannya Samara.

“I..Iya teh” jawabku salting (salah tingkah) pada si teteh, lalu dia pergi ke belakang untuk memanggil Samara. Aku disuruh menunggu dulu di depan meja operator yang ditempelin stiker ‘Lobby’. Singkatnya mah aku menunggu di lobby warnet.

Selang beberapa waktu kemudian, aku dipanggil teteh tadi untuk pergi ke kamarnya Samara. Sampai ke kamarnya aku melihat sosok wanita yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan muka kusut siga (mirip) jurig.

“Wah, ini mah pasti belum mandi ya?” kataku kepadanya. Sekejap aku langsung ditatap Samara dengan tajam. Jujur sih tatapannya itu cenderung menyeramkan, tapi aku sudah sering melihat dia melakukannya sebelumnya. Yang jelas ini pertanda buruk buatku.

“Lah kunaon (kenapa)? Terserah aing (aku) mau mandi apa enggak.”

“Ih kamu mah kalau gak mandi malah lebih mirip hantu. Kamu teh sudah autohantu Sem!”

Pasca mulutku melakukan pengucapan kata-kata barusan, terjadilah satu sesi menyakitkan. Alhamdulillah untuk sesi ini aku mengalami jambakan ekstrim yang belum pernah kualami lagi sejak TK dulu.

***

Sumpah, aku mah tidak tahu sebetulnya rumah Samara itu siga kumaha (seperti apa) dan dimana. Aku sendiri membayangkan rumah Samara ada di kawasan Cipageran yang berbatasan dengan Pakuhaji, soalnya cocok sama lokasi kebakaran yang ditunjuk Samara. Kalau soal bentuk rumahnya mah, aku menganggap bahwa rumah Samara adalah sebangsa rumah kebun berlantai dua, entah atas dasar apa khayalan itu muncul.

“Has, ngapain sih kesini?” tanya Samara kepadaku.

“Bentar atuh, biar serprayz (surprise).” Aku kemudian duduk di lantai lalu mengeluarkan kantong plastik bening berisi makanan dari dalam tas yang kubawa. Makanan itu adalah cilor, akronim dari aci-telor yang merupakan jajanan bocah berupa adonan aci bulat mini yang disate-in lalu dililit telur kocok dan digoreng.

“Aku beli tadi di deket SD depan Masjid Agung,” kataku sambil mengunyah cilor.

“Nih buat kamu, aku kasih dua tusuk.” Aku menyodorkan dua tusuk cilor yang terbungkus kantong plastik bening kepada Samara.

“Jadi begini Sem, aku teh mau ngajak kamu jalan-jalan,” kataku sambil beranjak berdiri.

“Kemana emang Has?”

“Rumah kamu,” kulihat Samara terdiam resah, “Sem, naha cicingeun (kenapa diam)? Sok dimakan dulu cilornya.” Samara pelan-pelan mengunyah cilor yang kuberikan, tapi sorot matanya masih menunjukkan keresahan.

“Lah kalau sama cilor mah gak dieman lagi kan!” ujarku dengan suara girang riang gembira.

Kumaha aing atuh (Terserah aku dong)!” Jawabku ketus.

“Jadi ikutan gak?” aku mengembalikan jalan pembicaraan.

“Ayo!” jawab Samara, kemudian ia mengusirku keluar; mau ganti baju.

Beberapa saat kemudian Samara membuka pintu dengan pakaian khas cewek geng motor Cimahi: celana jins logor dan jaket bahan bermotif kotak-kotak warna merah-hitam. Dalam penampilannya yang semacam ini, aku tidak bisa menyebut Samara jurig lagi melainkan anak gothic.

Terkait senyum ‘ciye..’-nya si teteh operator saat aku pertama masuk warnet tadi, rasanya terbukti dengan kejadian saat aku mau keluar dari warnet bareng Samara. Saat itu tak sengaja aku melihat ke belakang, ke dalam ruangan warnet dan melihat ada beberapa Aa-aa (anggap saja pemuda dalam bahasa Sunda) menatap kami dengan terpelongo. Ada raut wajah kecewa parah kalau menurutku, mungkin gara-gara Samara.

Tadi saat ia bilang ‘Ayo!’, dalam hati aku berpikir mungkin nanti dia bakal nunjukin jalan ke rumahnya. Jadinya sepanjang jalan aku sering ningali kaca spion untuk melihat Samara, bisi siapa tahu memberi petunjuk arah. Aku pergi melewati Masjid Agung dulu awalnya, dan Samara tidak memberi aba-aba apapun hingga jadinya aku melanjutkan jalan ke sana. Aku melihat dia malah macam anak kecil yang baru dibawa ke pusat kota, seperti semangat sekali melihat-lihat pemandangan. Gara-gara itu, aku jadi menyuruhnya jajan dulu di dekat Masjid Agung.

Habis dia jajan, aku membawa motorku ke Jalan Masturi arah utara dan Samara masih diam-diam saja. Aku mulai mengajak dia mengobrol soal jajanan yang tadi dia beli. Ya kitu lah, obrolanku dengannya cuman sekedar basa-basi. Setelah beberapa saat kami melewati perempatan Citeureup.

Kok si Samara belum ngasih petunjuk apa-apa sih? Dengan begini makin lama improvisasi membawa motor semakin dominan, hartina (artinya) mah aku semakin berjalan mengikuti wangsit yang muncul di pikiranku. Dengan petunjuk ‘wangsit’ aku berbelok ke kiri menuju Cipageran, dan dengan ajaibnya Samara teriak “Itu SD aku!” saat kami melewati SD Cipageran. Ternyata Samara pernah satu sekolah dengan si Fany ‘Juara Kelas Selama-lamanya’, seorang penduduk Perumahan Puri I yang rumahnya dekat pasar kaget.

Kemudian aku mendapatkan wangsit yang menunjuki bahwa aku harus belok kanan pas di pertigaan depan SMP 5 melewati Gapura bekas Agustusan. Lah? Ini kan rute yang sering aku lalui dulu waktu jalan-jalan gak jelas mengisi liburan habis UN SMP dulu! Ya, dulu aku sering wisata ‘alam’ dan ‘arsitektur’ lewat sini.

Kubawa motorku terus mengikuti jalan sesudah gapura melewati sawah dan kebun yang alhamdulillah masih ada. Aku jadi teringat dulu aku sering duduk-duduk karena kecapean di atas rumput saat melewati beberapa kawasan komplek perumahan gagal selesai. Kalau tidak salah sih, sebentar lagi kami akan melewati rumah ‘teleskop’. Rumah teleskop adalah sebutanku untuk rumah berwarna hijau dengan dua lantai yang kelihatan ada teleskopnya. Waktu aku lewat sana dulu, aku berhenti sejenak dan melihat rumah itu lama-lama, lalu tiba-tiba ada teteh-teteh dengan tatapan menyeramkan menatapku dari lantai dua rumah itu. Ah, era pisan lah aku waktu itu mah.

Tapi sekarang aku malah sampai di rumah yang sudah habis terbakar dan ada kebunnya di belakang. Sialan! Saat sampai ke sana aku melihat Samara menatap-natap sekitar dengan wajah sedih begitu. Kami nyasar ke tempat yang benar kalau begini.

“Samara, urang nyasar yeuh (aku nyasar nih),” kataku pada Samara, tapi dia malah turun dari motor dan jalan sambil masih pakai helm batok. Aku yang tadi menghentikan motor di depan rumah itu langsung turun dan melepaskan helm.

“Samara?” kataku lagi, dan kali ini Samara menengok ke arahku dengan muka sedih, aku melihat dia agak menangis. Perlahan kumendekatinya, dan sambil berjalan aku berpikir bahwa jangan-jangan ‘Rumah Teleskop’ itu memang rumahnya.

Belum sempat aku bilang apa-apa, Samara langsung ambruk dan jatuh di badan depanku; menangis ia.

Aku hampir ikut ambruk juga kalau tidak cepat-cepat melakukan gerakan kuda-kuda dengan kaki belakang yang sering kulakukan di commuter Bandung Raya kalau lagi mau nge-rem. Kemudian aku mendengar suara tangisan yang harusnya dibarengi dengan keluarnya air mata dan ingus, tapi aku tidak bisa merasakannya secara langsung lantaran aku sedang pakai jaket sekarang. Kadang-kadang Samara meremas jaketku yang agak tebal, kalau enggak pakai jaket mah mungkin aku bakal kesakitan. Lama-lama aku merasakan air matanya yang hangat merembes ke dalam menembus jaketku.

Mendadak dia lepas dan pergi berlari menjauhiku ke arah kebun, kemudian berhenti lalu duduk dengan posisi peluk kaki. Aku lalu berjalan pelan menyusulnya yang ternyata masih menangis menelungkupkan kepala, dan helmnya sudah tidak terpasang dengan pas lagi di kepalanya.

“Samara?” tegurku sambil dengan pelan-pelan aku melepaskan helm batok putih dari kepalanya. Habis itu aku ikut duduk di sebelahnya, menatap pemandangan reruntuhan rumah dengan background Kota Bandung. Terbesit dalam pikiranku, “Fix sih ini mah, ini memang rumah Samara.”

Samara masih belum menjawab apa-apa, tapi cuman terdengar suara tangisannya saja. Dan selama ia belum menjawab, aku terus melamun menatap view pemandangan kota: Bandung, Cimahi, Ngamprah. Dibelakang kota, ada deretan gunung-gunung yang tertutup awan dan waduk berwarna campuran hijau-biru yang besar tapi tertutup kabut. Keadaan senyap dan hanya ada suara angin yang datang.

“Aku gak pernah mau ke sini lagi Has!” mendadak Samara berkata kepadaku, masih dengan posisi kepala terkelungkup.

“Hah, kumaha?” Aku bingung soalnya tadi di warnet saat aku ajak, dia bilang ‘Ayo!’. Samara masih terdengar sesenggukan, pelukan kakinya terlihat makin kuat.

“Has, harusnya kita gak bakal sampe! Harusnya sia nyasar! Harusnya aku gak pergi ke sini!” Harusnya? Kenapa dia bilang ada sebuah keharusan untukku supaya nyasar dan tidak pernah sampai ke sini?

Perkataan Samara itu membuatku nge-hang sejenak dan mulai berpikir. Kemudian aku tepekur berpikir hingga sadar bahwa Samara memang tidak pernah memberikan petunjuk jalan kepadaku tadi, dan memang tidak akan pernah. Sepanjang jalan tadi dia membiarkanku membawa motor ‘sesuka hati’ supaya tidak akan sampai ke rumahnya. Jadi kalau begitu, harusnya aku tidak akan pernah sampai ke sini. Kenyataannya sih kami nyasar, tapi nyasarnya sampai ke tempat tujuan; Samara tidak mau itu terjadi.

“Samara, kita emang nyasar kok.” Samara mulai mengangkat kepalanya, melihat ke depan ke arah kota. Tangisannya sudah agak mendingan sekarang, tapi matanya masih sembap.

“Kamu udah paham kan Has?”

“Iya.” Ya, aku paham kalau dia ingin aku tidak sampai ke rumahnya.

“Tapi kenapa kita bisa sampai?” tanyanya seolah retoris.

“Aku gak tau, aku mah cuman ngelewatin rute touring dulu waktu masih SMP.” Samara agak tersentak, lalu menengok padaku.

“Hah? Naon? Kamu berarti pernah lewat rumahku sebelumnya?”

“Berarti iya,” jawabku. Samara kembali mengalihkan pandangannya dariku, lalu melihat ke belakang. Aku juga ikut melihat ke belakang, di sana cuman ada rerumputan dan ujungnya ada jalan kampung yang tadi kami lewati. Samara kemudian berdiri, lalu mengajakku ikut dengannya. Kami berdua lalu berjalan menuju rumahnya yang sudah macam kapal pecah tersambar petir.

“Tadi ceunah (katanya) gak mau?” kataku dengan nada guyon pada Samara, tapi dia terus diam dan tidak menjawabku. Kami lanjut berjalan ke reruntuhan rumahnya yang kelihatannya sudah agak ‘menyatu dengan alam’. Aku mengikutinya masih sambil memegang helm batok, dan ini malah bikin ribet.

Di bagian depan ada pintu kayu lapuk yang sudah terbuka, lalu kami masuk lewat sana. Lantai rumahnya terbuat dari parkit coklat yang sekarang sudah bolong-bolong dan ditumbuhi rerumputan lebat. Lalu aku melihat ke samping-samping rumahnya, beberapa jendela sudah pecah kacanya. Gorden yang terpasang juga terlihat kotor, dan sudah tidak utuh dengan bekas bakaran di ujung-ujung bawahnya. Di dalam ada banyak furnitur yang jatuh dan tersusun acak-acakan serta beberapa ada yang patah. Kulihat juga ada lemari besar yang masih utuh, tapi jatuh terkelungkup di lantai.

Kami terus berjalan menyusuri ruangan-ruangan, kesemuanya dengan kondisi yang hampir sama. Setiap ruangan pasti memiliki loteng bocor dan rumput yang lebat. Kadang-kadang juga ada bau aneh yang bisa bikin merinding. Kemudian saat mencapai sebuah ruangan yang mungkin ada di tengah, Samara berhenti. Ia lalu membalikkan badan menghadapku yang dari tadi mengikuti di belakangnya.

“Kamu tahu ini tempat apa?” Aku melihat sekitar ruangan itu dengan seksama, sampai detil kecil-kecil. Kalau kuperhatikan dari beberapa meubel dan tata ruangannya, ini pasti adalah ruang kumpul keluarga. Aku merasai nuansa ruangan itu, yang kemudian memunculkan perasaan-perasaan yang nggak enak di hati.

“Tempat terakhir aku melihat kakakku,” Sem melanjutkan monolognya.

Hening sudah keadaan sekarang, mutlak. Samara mulai menangis lagi, lalu dia membalikkan badannya membelakangiku. Aku sendiri tidak tahu mau melakukan apa; sebetulnya aku sedang berpikir, berpikir tentang apa yang akan kulakukan. Tapi pikiranku malah makin bergeser ke perasaan, perasaan tidak enak dan kasihan.

Aku tidak bisa menyusun kata-kata untuk melanjutkan pembicaraan ini. Merencanakan pembicaraan adalah urusan pikiran, urusan otak. Masalahnya sekarang perasaan yang mendominasi, dan perasaan tidak bisa diandalkan untuk menyusun kata-kata. Perasaan itu merangsang pembayangan-pembayangan visual tentang interior ruangan ini. Bayangan-bayangan yang muncul semuanya disertai sejenis rasa yang tidak enak di hati, sesuatu yang menyebabkan ulu hati seperti tertusuk ringan.

Pikiranku mulai bekerja sedikit.

“Sem, sekarang aku mengerti sedikit,” kataku kepadanya dengan harapan dia akan balas menjawab sesuatu. Tapi dia tidak memberikan balasan, malah berjalan. Lalu ia duduk di atas meja oval ukuran sedang di tengah ruangan. Keadaan hening kembali.

“Ngerti apa Has?” tanya Samara.

“Ngerti kamu lah.” Jawabku pendek pakai logat sunda. Habis selesai menjawab, aku melihat Samara tersenyum kecil. Bukan senyum-senyum olok-olok karena salah jawaban, tapi senyum polos yang biasa saja. Suasana menjadi rileks sekarang, dan aku mulai ikut tersenyum juga. Dibalik senyumku sebenarnya ada kegundahan yang tersusun menjadi doa: Semoga Samara mengerti maksudku barusan, takutnya yang tadi disangka ngebanyol.

29 dukungan telah dikumpulkan

Comments