Dasar Bodoh

1 year ago
Putra Arif Pamungkas

by: Putra Arif Pamungkas

Chapter 1

Senja pamit sesaat setelah langit mendengar adzan maghrib. Mendung, pria berambut komersil itu nampak terburu-buru memacu vespa merah mudanya. Melintasi gang kecil berkelok, bak labirin melawan arus manula yang berdoyong-doyong pergi ke masjid. Suasana sempat riuh karena Mendung tidak menegur atau mencoba sopan sedikitpun. Dia tetap binal berkendara, kontras dengan rambut panjangnya yang tertiup menantang angin, sangat agung.

Gang Kelinci depan angkringan di mana roda vespa berhenti, seorang hawa telah menunggu. Sky, begitu dia dipanggil, “Ngebut lagi ya pasti?! Dasar bodoh.” Sontak ia bertanya sambil menarik kencang beberapa helai rambut Mendung, “Aww sakit.. Kalau nggak cepet-cepet, Kamu bisa telat ikut audisi! Ayo cepet naik!” Mendung membela diri, “Udah sholat belum?” tanya Sky. “Udah”, jawab Mendung memalingkan pandangan.

Sky pun duduk ‘ngangkang’ di singgasana mungilnya seperti biasa. Mendung mengambil arah yang sama ketika dia datang, kembali melewati gang sempit, kembali melewati masjid, “Kiri mas!” Sky minta untuk berhenti seperti penumpang ojek.

“Ya ampun kenapa lagi sik?!”

“Berhenti aku bilang!”

“Aduuhh”, Sky menarik sehelai rambut Mendung, Sky sangat tahu kalau dia menarik terlalu banyak helai, Mendung tidak akan merasa sakit dan tak mau memenuhi perintahnya, seperti hukum lidi yang lemah ketika sendiri tapi digdaya ketika bersama. Mereka berhenti tepat di samping parkiran masjid.

“Mau pipis?”

“Enggak, kamu sholat!”

“Aku udah sholat!”

“Yaelah, kita temenan udah dari SMA aku tahu kamu kalau lagi bohong gimana!”

“Ya deeh, pengen banget jadi atheist kayak kamu biar nggak sholat”

“Arghhh!” tarikan kali ini membuat beberapa helai rambut Mendung patah, “We need to talk about this, but not right now! Sekarang kamu sholat dulu !” Mendung tak lagi berani membantah karena dia tahu dia salah, Sky juga merasa bersalah karena tidak perlu sampai ada tragedi rambut yang patah, setelah Mendung berwudhu Sky teriak pelan dari kejauhan, “Tolong sampaikan salamku ke Tuhanmu ya!” Mendung terlihat manyun, marah karna helai mahkotanya dinodai.

Mendung masih sempat ikut berjamaah, jamaah sholat maghrib yang kebanyakan orang tua berusia lanjut kaget seusai salam, karena di belakang mereka berdiri sesosok gondrong. Mendung yang bangun dari sujud memang tidak mengibas rambutnya membuat seluruh wajahnya tertutup rambut mengingatkan pada hantu Jepang yang keluar dari televisi atau si lokal, kuntilanak.

Setelah menyelesaikan sholatnya, Mendung tahu dia dalam masalah. Jamaah masjid ini adalah rombongan manula yang tadi dia dzolimi dengan vespanya, dia mengendap keluar masjid berharap penyakit pikun menyerang para manula yang sedang bercengkrama di pelataran. Salah satu jamaah yang sepertinya veteran perang 45 menyapanya ramah, “Assalamualaikum, Mas temannya Dek Sekai ya? Lain kali pelan-pelan ya kalau di gang, banyak anak kecil soalnya.”

“Oh, iya Pak tadi buru buru.” Mendung lega dan segera tahu ini ulah siapa. Sky melihatnya dari kejauhan, dia menawarkan senyum impas perihal tragedi patahnya rambut tadi. Dia membalas senyum Sky dengan anggukan sebagai tanda persetujuan dan rasa terima kasih karena telah menyelamatkannya dari sabetan kain sarung para veteran.

Chapter 2

Keluarlah sekawan itu dari komplek perumahan. Sky yang merasa Mendung sudah terlalu tergesa-gesa berusaha menjinakkannya,”Mas Mendung ganteng, pelan aja, nanti kalau remnya blong trus ada bus di depan, kita ketabrak, kita kelindes, kepala pecah, badan kebelah, usus keluar, gimana?”

“Iyaaa tapi kita udah telat ini lho!” Sementara Sky tetiba terdiam bengong melihat pemandangan sepanjang jalan dekat lapangan, berderet penjual arum manis, martabak, parkiran motor yang membeludak, Sky mengalihkan pandangan ke langit. Di sana menjulang bianglala dan ia pun teriak, “Pasar malam!”

“Enggak!” Mendung yang sebelumnya telah melalui jalan ini seakan sudah menyiapkan larangan. Dia tahu Sky menyukai pasar malam dan membujuknya kembali ke rencana awal yaitu mengikuti audisi nyanyi salah satu televisi swasta.

“Suara kamu bagus, aku percaya kamu bisa lolos audisi. Jadi please..jangan sampai sifat impulsif kamu merusak semuanya! Besok malam kan masih bisa ke sini lagi” Suasana seketika hening. Mendung merasa berhasil membujuk Sky sampai Sky menjawab, “Kalau besok pagi aku mati dan ini permintaan terakhir aku?” Mendung mengumpat dalam hati, berbalik arah menuju ke pasar malam yang sudah 100 meter lebih terlewati.

Kematian dan kehilangan adalah phobia terbesar Mendung setelah belalang. Jadi jika Sky bosan dengan rambut Mendung, Sky akan menggunakan kata kematian sebagai alat komando. Sesampainya di pasar malam, Sky berlari, Mendung tidak berusaha untuk mengejar tapi tetap mengikuti di belakang. Sky berhenti tepat di khatulistiwa pasar malam. Angin bertiup begitu dramatis, Sky menghirup nafas dalam-dalam dan memejamkan mata.

Dia berusaha mencerna energi masa lalu yang ia rindukan, “Mesin waktu itu nyata Ndung. Papaku dulu sering mengajakku pergi ke pasar malam, dan itu adalah hal paling berharga yang sampai sekarang masih aku simpan. Dia orang kantoran yang sibuk, tapi bukan tipe orang tua sibuk yang menyuap anaknya dengan harta. Dia bahkan tidak pernah memberiku hadiah ketika aku ulang tahun, tapi dia menyiapkan sesuatu yang lebih dari sekedar kue ulang tahun. Dia meluangkan waktu, tidak ada yang lebih tulus dari irisan waktu yang dia berikan padaku. Mesin waktuku adalah pasar malam dan tiap orang pasti memiliki mesin waktunya sendiri, yang perlu mereka lakukan hanyalah mencari di mana letak bahagia mereka di masa lalu.”

Mendung mematung kira-kira tiga langkah di hadapannya, Mendung melihat sesuatu yang ganjil dari Sky. Ganjil terindah yang pernah dia lihat, seolah hanya ada Sky di matanya. Seolah waktu berhenti untuk menawarkan asmara. Mendung resmi jatuh cinta.

“Kenapa bengong?! Dasar bodoh, ayo naik kuda-kuda an!” Kata Sky sambil menarik rambut Mendung. Mendung tersadar dan kaget, seperti remaja yang baru bangun dari mimpi basah pertamanya, semarak bercampur gelisah. Sky dan Mendung menunggu di antrian komedi putar, “Ada yang collapse tu, Ndung. Hahaha.” Sky menunjuk om-om yang muntah sesudah wahana berhenti berputar.

Sky menengok ke arah Mendung dengan heran, mengapa dia tak tertular tawa. “Cinta itu kayak komedi putar ya, terlihat menawan tapi memusingkan.” ucap Mendung. “Hahaha bodoh, kenapa kamu? Gebetan kamu si Indah nge-read doang? Hahaha…tenang, besok aku lobi lagi dia.” Senyum tak lepas menghias wajah Mendung. Mendung sangat mudah naksir seseorang tapi mudah pula rasa suka itu hilang. Setelah kejadian di tengah pasar malam tadi, dia begitu yakin, dia yakin itu cinta. Jika itu bukan cinta dan hanya rasa suka biasa, tidak mungkin sampai memakan waktu enam tahun pertemanan mereka, pikir Mendung.

Wahana pasar malam telah hampir semua dinaiki, Mendung menjadi sangat penurut karna cinta, padahal sepanjang malam rambutnya ditarik kesana kemari oleh Sky. Meski begitu, Mendung sempat berharap jemari Sky berpindah dari rambut ke pelukan jemari tangannya, agar lebih terlihat seperti pasangan. Malam itu ditutup dengan bianglala yang mencumbu gravitasi semalaman, berputar pelan searah jarum jam, sangkar besi berkaratnya seperti tanda bahwa dia bosan menjadi saksi sebuah cinta yang tak kunjung diutarakan.

Chapter 3

Jumat pagi di kelas agama, Mendung kena hukuman untuk menyalin Surat Yasin ke white board depan kelas, karena malam harinya Mendung sibuk mendengarkan lagu cinta. Dia lupa mengerjakan tugas. Ya, dia masih jatuh cinta dengan Sky. Saat sedang menyalin, tetiba ponsel Mendung berdering “AND I…. WILL ALWAYS LOVE YOU.. UOOO…” Suara merdu Whitney Houston membuat suasana kelas pecah. Gelak tawa membahana, Mendung dengan merah jambu minta izin kepada dosen untuk angkat telpon di luar. Dia siap memurkai si penelpon, dia melihat layar ponsel. Terpampang inisial C dan empat tanda titik mengikuti.

“Halo Sky, kenapa? Ada apa?” Nama Sky yang dulu di kontak bernama Si Kampret kini naik strata.

“Nanti jam 1 ke SMA YK ya ! Aku ngisi pensi di sana.”

“Oh, oke. Aku jemput ya!”

“Nggak usah, siang kan kamu sholat jumat, aku ngangkot aja.”

“Oiya, lupa.”

“Ok, see u there!”

Setelah sholat jumat, dengan motor matic yang dia pinjam dari ibu kos nya, Mendung meluncur ke SMA YK tempat Sky mengisi pentas seni. Dalam perjalanan, Mendung sempat digoda tiga cowok SMP yg bonceng berdempet, “Hi cewek…” Mereka terkecoh eloknya rambut Mendung. Mendung yang memakai masker menoleh. Tiga bocah itu makin horny terpukau oleh mata Turki Mendung yang ia wariskan dari sang ibu.

“Minta no hp nya dong kak cantik..”

“Gue kasih jakun aja ni cuuk!” Bentak Mendung melepas masker dan menunjuk-nunjuk jakunnya. Mereka pun kabur.

“Huahahaha, dasar bodoh!” tawa Sky mendengar aib Mendung sesaat sebelum naik panggung. Pensi berjalan lancar. Sampai di lagu terakhir, Sky membawakan Imagine dari John Lennon, lagu suci bagi para atheist. Sky melakukan stage diving sebelum intro lagu dimulai. Ia mengambang di lautan manusia bersamaan dengan denting piano dan siap bernyanyi. Mata Sky seperti menangkap sesuatu di langit.

Dia lalu turun berdesak mencoba keluar dari kerumunan penonton. Mendung yang berada di belakang panggung melihat Sky lari ke selatan. Dia segera menyusul. Mendung tidak sabar untuk kembali ke haribaan fikiran Sky yang surrealis. Sky hampir terkejar, “Sky mau kemana??” teriak Mendung. Sky menoleh, tersenyum dan menunjuk langit, “Itu! Aku ngejar layangan putus!”

“Hahahaha tunggu aku!”

“Layangannya nggak mau nunggu !” Sky menjawab. Mendung berseri. Sekali lagi, menuju entah berantah bersama Sky. Pohon apel menjadi pilihan layang-layang untuk berpijak. Mendung naik ke pohon dan menggapai layangan dengan ranting. Sky juga ikut naik.

“Aduhh!”

“Sky kenapa?” Mendung khawatir

“Nggak tau nih, dari kemarin kepala suka nyeri gitu aja”

“Kebanyakan makan daun kali, vegan sih.. haha..”

“Hahaha sehat tauuk..” Mendung berhasil meraih layangan. Mereka berdua lantas duduk di atas cabang pohon yang cukup kuat untuk beristirahat. Ke timur mereka menghadap, syahdunya benam surya sore itu teramat layak tuk diingat berabad-abad. Sky bilang ke Mendung “Tuhanmu emang paling bisa yah !”

Chapter 4

Pukul lima sebelum terang. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

     Tolong ke sini.

Pesan singkat dari Sky cukup membuat Mendung cemas setengah mati. Subuh itu dia memilih lari ke tempat Sky karena vespanya terhalang sepeda motor lain di parkiran kos. Dua kilometer dipenuhi dengan panggilan telepon Mendung ke Sky. Namun selalu berbuah umpatan, sebab tak pernah ada jawaban. Mendung mempercepat ayunan kakinya. Kekhawatiran Mendung beralasan, mengingat tempo hari Sky pingsan selepas mengejar layang-layang.

“Tok! Tok! Tok!” Ketukan tak berirama yang diulang-ulang menghias pagi di Gang Kelinci. Sky membuka pintu sepuluh menit kemudian, menyapa Mendung dengan pucatnya.

“Sky kenapa?!” Tanya Mendung.

“Maaf, aku..” Sky tak menyelesaikan kalimat dan langsung lari kembali masuk ke dalam. Mendung juga.

“Huogh.. huogh..” Suara Sky yang dulu pernah Mendung dengar di pasar malam seusai naik komedi putar, kembali terdengar. Hanya saja, kali ini lebih fasih dan menyakitkan. Sky mimisan dan muntah darah. Mendung kalang kabut menunggunya di luar kamar mandi.

Sky keluar dengan nafas tak pasti. Mendung menuntunnya ke sofa, segera mengambilkannya air putih, juga menelpon taxi agar menjemput mereka di Gang Kelinci. Sebenarnya waktu pingsan di kebun apel kemarin, Mendung membawa Sky ke rumah sakit. Dokter menyarankan supaya Sky memeriksakan diri ke dokter spesialis syaraf. Tapi Sky selalu menolak ketika Mendung menawarkan untuk mengantarnya berobat. Sky takut akan kemungkinan terburuk.

Mendung duduk disamping Sky, menunggunya untuk bicara tentang apa yang dia rasakan.

“Aku pusing banget.. Aku udah nggak tahan..” Sky berurai air mata.

“Habis ini kita ke rumah sakit, Sky akan baik saja” Mendung mencoba menenangkan sambil mengelus kening Sky dengan jemarinya yang masih gemetar.

Sesampainya di rumah sakit, bising mengisi satu ruangan, “Katakan itu cuma bercanda, dok! Kanker otak?! Itu nggak mungkin! Dia masih muda, Sky selama ini hidup sehat! Pasti dokter salah!” Mendung melawan vonis dokter.

“Saya tahu ini berat, tapi penyakit kanker tidak pandang usia dan..”

“Dasar bodoh! Ini genetik! Dulu papaku dibunuh kanker!” Lantang nan terisak, Sky memotong pembicaraan. Membuat suasana seketika hening. Mendung tertunduk lemas dan menangis setelahnya.

Chapter 5

Ramadhan tahun ini Mendung banyak melewatkan waktu di rumah sakit. Menemani Sky kemo adalah waktu buatnya ngabuburit.

“You don’t have to do it all the time, Ndung. Aku masih bisa kok berangkat kemo sendiri. Aku nggak mau bikin hidup kamu jadi ngebosenin.”

“Justru hidup aku ngebosenin kalau pas lagi nggak sama kamu.”

“Hih, dasar bodoh.”

Mereka turun di kebun apel. Sejak layang-layang mengenalkan ke pohon apel itu, mereka jadi sering ke sana. Tempat itu sekarang menjadi sakral. Tempat untuk mencerna segala sesuatu yang terjadi beberapa hari belakangan. Hujan yang turun tadi siang masih menyisakan kelabu di awan.

“Gimana sih rasanya punya Tuhan?” Lirih Sky meletupkan tanya ke Mendung. Butuh puluhan detik untuk Mendung menjawab, “Emm.. aku juga bingung, tapi yang jelas seperti selalu ada yang ngemong.”

“Kamu bisa ngerasain kalau Dia ada?”

“Tiap kali aku ngelakuin hal yang nggak baik, misal aku nggak sholat, aku bohong atau ngelakuin hal yang Tuhan larang lainnya, rasa bersalah selalu mengikuti. Dan rasa bersalah itu mungkin cara Tuhan nunjukkin kalau Dia memang benar ada.”

Tanya mengantri di kepala Sky. “Aku agnostik, aku atheist lemah, papaku nggak pernah ngenalin aku sama Tuhan. Menurutmu, adil nggak sih kalau Tuhan hadir di awal kehidupan kamu tapi tidak di awal kehidupan aku? Apa Tuhan sebegitu pilih kasih?” Mendung tercengang. “Sky…aku nggak pernah merasa seberuntung ini sebagai manusia yang lahir di keluarga ber-Tuhan sampai apa yang kamu bilang tadi..” Sky melanjutkan, “Dia berubah 180 derajat setelah kanker, dia jadi pemurung, dan benci apapun, jauh dari sosok papa yang dulu aku kenal, aku nggak mau berakhir seperti dia, mati menyebalkan, I don’t want to die as stranger, dan mungkin ke alpa an Tuhan di hidup papa jadi penyebabnya. Apa Tuhan mu bisa bantu aku?”

Mendung menutup mata sambil menempel jari telunjuk ke dahinya, seperti sedang bertelepati. “Siap laksanakan! Allahuakbar!” Mendung tegap. Sky kaget dan bingung “Eh Sky! Aku baru dapet mandat buat bikin hidup kamu bahagia! Ayo!” Mendung menarik rambut Sky. Saking semangatnya, beberapa helai rambut Sky patah. “Eh..” Mendung gelagapan. “Haha, santai Ndung. Aku juga bakal botak” tawa Sky.

Chapter 6

Siang itu Mendung sedang di barbershop dekat uni, menunggu giliran untuk merapikan rambutnya yang akhir-akhir ini tak terurus bak semak belukar. “Plontos ya mas” pinta pelanggan pada salah satu barber, mengingatkan Mendung pada perkataan Sky bahwa dia akan segera botak karena efek kemoterapi.

“Rambut Sky memang cuma sebahu, tapi itu yang selalu aku rindu” pikir Mendung. Nyala bohlam seolah muncul tiba-tiba di atas kepalanya. Dia sontak berdiri “Eh mas ini trimmer nganggur? Aku pinjem bentar ya!” Dia langsung pergi buru-buru. “Sekaiiiii” Mendung bagai kilat telah berada di halaman rumah Sky. Tak lama, Sky membuka jendela kamar lantai duanya, “Oi! Aku di sini! kenapa?”

“Ayo turun! Aku bawa trimmer! Kita cukur separuh rambut kita dan pergi jalan-jalan!” Mendung semangat.

“Hahaha, ganjil kamu!” Saut Sky.

“Haha, ayo menjadi ganjil bersama!” Canda menggema selama bercukur.

“Done! Coba ngaca!”

“Hahaha, aku kayak tikus got.”

“Haha, giliranku. Ayo, Sky bantu!”

“Yakin kamu? Udah sepanjang ini loh.”

“Yakin, nanti juga panjang lagi.”

“Yah..Aku jadi nggak bisa jambak rambut kamu.”

“Hari ini puas puasin deh.”

Momen ini semoga bisa lebih dikenang bila nanti rambut Sky benar habis, harap Mendung. Mereka keluar rumah dan melihat refleksi diri mereka di genangan air sisa hujan semalam.

“Genap”, celetuk Sky.

“Iya, ganjil ditambah ganjil jadi genap” Jawab Mendung.

“No, look, we need each other to feel normal” Sky menjelaskan maksud ucapannya.

“We?” Mendung sumringah.

“..And by we, I mean people. Ayo ah, udah sore!” Sky menarik sisa-sisa rambut di kepala Mendung.

“Aw, siap!” Vespa pink itu pun melaju.

Sky teriak ala Buzz Lightyear, “To insanity and beyond!”

Mall di akhir pekan sangat ramai, apalagi mendekati Lebaran. Hampir semua yang berpapasan dengan duo ganjil itu melirik sinis, tapi mereka terlalu bahagia untuk peduli.

“Eh, lagi ada komunitas kucing yah?!” Kucing hitam ras persia mencuri perhatian Sky.

“Aaa lucu..” Sky manja sambil meremas mesra kaki si kucing.

“Nama kucingnya siapa, Mas?” Tanya Sky pada pemilik kucing.

“Halo, Kak.. nama aku Libra..” Ucap masnya dengan nada imut, mencoba mewakili kucingnya bicara.

“Uuh..Hi Libra..I’m cancer..” Sky memperkenalkan diri dengan gurau. Mendung menatapnya haru.

Chapter 7 (Tamat)

“Untuk mengangkat sel kanker sebanyak mungkin, jika operasi berhasil, saudari Sky akan merasa jauh lebih baik.” Dokter menjelaskannya dengan sederhana agar Mendung mengerti.

“Jika operasi berhasil?”

“Operasi besar selalu beresiko tinggi, bahkan kematian. Rumah sakit ini punya staff dokter bedah mumpuni dan akan mengusahakan yang terbaik.”

Mendung terdiam setelah dengar kata kematian. Sky dituntun Mendung kembali ke ruangannya. Dia sudah 5 hari opname di rumah sakit karena kondisinya menurun drastis.

“Aku pengen pulang.”

“Sky, kamu sakit.”

“Tapi aku nggak mau terus-terusan begini!”

“Kita pulang setelah operasi.”

“Maksudmu setelah aku mati?”

“Sky..”

“Kita nggak pernah tahu. Aku cuma pengen hidup wajar sebelum hari abu-abu itu.”

Mendung tak bisa menahannya. Sky pun pulang hari itu juga. Gerimis menemani mereka saat sedang menunggu taxi. Sky menarik-narik lengan Mendung, memainkan bola matanya ke arah hujan berasal. Terlihat layang-layang terbang. Mau tak mau, Mendung menangkap kode yang diberikan Sky, “Ayo naik!”

Mendung berlutut melapangkan punggungnya untuk menggendong Sky yang terlalu lemah untuk berlari. Lalu ia lepas kemejanya dan ia kerudungkan ke kepala Sky mengingat cuaca dingin berawan. Hujan deras suka turun seenaknya. Pengejaran layang-layang jilid dua ini berlangsung gemulai, sebab layang-layang melayang rapuh bersama rintik hujan, “Banyak pujangga yang menyanjung hujan, tapi mereka mengumpat saat kehujanan.” Ucap Sky.

“Realistis sih, hujan hanya menyenangkan ketika kita menikmatinya dari dalam rumah, siapa sih yang rela basah kuyup hujan-hujanan selain anak kecil?” balas Mendung.

“Apakah anak-anak justru lebih bijaksana dari kita? Gembira mereka senyaring gerutu orang dewasa ketika jumpa hujan, siapa yang pandai bersyukur kalau begitu?” Sky menarik nafas panjang dan melanjutkan. “Menjadi dewasa memang jebakan ya. Persahabatan kita dengan realita, menyebabkan banyak mimpi binasa. Anggap layang-layang adalah mimpi dan hujan adalah realita. Layang-layang akan terbang makin rendah jika hujan makin deras. Seperti mimpi-mimpiku yang tak lagi terbang setinggi dulu. Terlepas dari itu, semua hujan tetaplah hujan. Salah satu mahakarya yang Tuhan berikan.”

“Tuhan siapa dulu dong.. hehe.” Mendung menyombongkan diri.

“Calon Tuhanku  juga, kok.” Bisik Sky.

135 dukungan telah dikumpulkan

Comments