THE DEATH MUST GO ON

5 months ago
Andri Valerian

by: Andri Valerian

Kamar Juna layak disandingkan dengan Kapal Pecah

Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Begitu juga dengan kemeja putih beserta dasi yang dipakai tempo hari, masih terbaring mengenaskan di pelataran kamar. Dari berbagai standar kerapian yang ada di dunia ini, tak akan ada yang mengatakan bahwa kamarnya sekarang berada dalam kondisi rapi.

Tidak hanya dua benda itu yang berserakan. Sebut saja tas kerja hingga laptop beserta pengisi dayanya.

Keadaan si empunya kamar tak lebih baik. Berantakan. Ia tidur dengan celana pendek setinggi paha dengan atasan kaus oblong berwarna putih. Tadi malam Ia tak sempat mandi air hangat ketika pulang. Mata sudah begitu berat, begitu juga dengan badannya yang tak bisa diajak kompromi lagi untuk merengsek ke kamar mandi. Bau badan sisa kemarin masih melekat di tubuhnya.

Tidur lelapnya mencapai akhir ketika ponselnya mengingatkan untuk bangun. Dengan susah payah, badannya beralih posisi menjadi duduk tegak. Tangannya mencengkeram erat bantal. Matanya masih sayu plus kabur, yang berusaha dijernihkan dengan beberapa usapan halus di mata.

Adrenalinnya sedikit terpacu ketika melihat kombinasi angka di penunjuk waktu ponselnya. Jumat 30 November. Jam digital sudah menampakkan angka 06.30. Sudah saatnya untuk segera berangkat.

Ia melepas kaus oblong dan melemparnya sembarang. Kakinya lekas berjingkat ke kamar mandi, tak mengindahkan barang-barang yang berserakan di petak linoleum.

Tak sampai lima menit, Ia sudah beranjak lalu memilih kemeja dalam lemari jati. Keluhan meluncur dari mulutnya, perihal mesin pemanas yang tiba-tiba tak berfungsi. Ia akan meminta pengelola untuk memeriksa dan memperbaikinya nanti.

Setelah memadukannya dengan celana hitam katun, agenda berikutnya adalah mengisi perut dengan donut Krispy Kreme yang terdampar di dalam kulkas sembari menonton televisi

Berita pagi di televisi menyiarkan peristiwa supir angkot dan ojek konvensional alias ojek pangkalan menghambur ke jalan. Tujuannya untuk mengintimidasi pemerintah memberikan regulasi khusus pada penyedia jasa ojek online. Menurut mereka, ojek modern tersebut telah mengikis penghasilan mereka sehari-hari.

Juna menggelengkan kepala. Bibir di sisi kiri tertekuk sepersekian senti. Semua sudah berubah digital sekarang. Gerombolan supir angkot dan juga ojek perlahan akan termakan monster bernama perubahan zaman. Mungkin saja beberapa tahun ke depan peran manusia akan direduksi oleh intelegensi buatan dalam diri robot mekanik seperti yang Ia jumpai dalam komik atau film-film Science Fiction yang memusingkan kepala.

Acara nonton TV pagi itu diakhiri dengan sebuah tawa kecil. Ia mengganjur tas kerjanya yang tergeletak di sampingnya dan melesat keluar.

“Sudah mau berangkat lagi nih?” tegur Ali, pria arab 35 tahun yang menempati unit tepat di sebelah kirinya. Ia menggendong seekor kucing persia lucu yang selalu menarik perhatian jika mereka bertemu.

“Iya. Aku sudah agak terlambat sepertinya.” Ia melirik arloji swissnya. “Kau sendiri habis bawa jalan-jalan Hyena?”

“Stok makanannya tinggal sedikit. Aku ingin membelinya di supermarket dekat sini tapi juga kosong. Mau beli online enggak ngerti caranya. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian ternyata susah juga.”

Percakapan pun cepat pungkas. Ia bergegas menuju elevator. Seorang ibu penghuni apartemen yang tak pernah dijumpai, berdiri di depan elevator. Bersama anaknya yang sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanak. Si Anak tampak sibuk, memeriksa tas ransel bergambar bumblebee beserta rekan robotnya.

“Mama, sepertinya kotak bekalku ketinggalan.” Ia mendengar si anak merajuk pada ibunya. Diikuti dengan sedikit ocehan bernada kesal dari sang Ibu, mereka undur diri dari hadapan pintu elevator dan kembali ke kamarnya.

Sendirian di Elevator, Ia mengarah ke B1, tempatnya memarkir mobil. Tanpa masalah, Ia meninggalkan apartemennya menuju hiruk pikuk jalanan Jakarta yang padat.

Mobil langsung Ia serahkan pada petugas vallet parking yang setia menunggu di lobby. Sepasang wanita cantik yang berdiri di balik konter penerima tamu melempar senyum manis diiringi ucapan, “Selamat Pagi.” Ia hanya membalasnya dengan seulas senyum.

Sekretarisnya sudah ada di balik meja ketika Ia muncul di ruangan kerjanya. Setelah serangkaian ucapan salam, Ia langsung membeberkan jadwal hari ini pada atasannya. Semuanya tampak biasa baginya. Pertemuan di sana, rapat koordinasi di sini.

Namun pernyataan terakhir yang membuatnya memicingkan mata. Membuat emosinya tersulut.

“Tadi ada Pak Bara datang ke sini. Ia ingin memberikan undangan pernikahannya.”Si sekretaris mengangsurkan sebuah kartu undangan yang cukup menarik. Warnanya dominan merah muda. Ada gambar animasi sepasang manusia yang bergandengan tangan. Mereka mengenakan baju pernikahan modern. Laki-laki mengenakan setelan jas formal sementara pasangannya terbalutkan gaun berwarna putih.

Puncak kepiasan wajahnya terlihat ketika Ia mendapati nama pasangan yang tertera dalam undangan itu.

“Bara dan Cindy.”

Pikirannya ingin meletus, mengeluarkan kembali luka lama.

Arjuna dan Bara, persandingan dua nama tersebut pantas disematkan sebutan sahabat sejati. Mereka baru bersua ketika nama mereka sama-sama terdaftar dalam senarai panjang mahasiswa baru Jurusan Public Relation di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung Raya. Mereka tak memiliki kisah kebersamaan sepanjang khatulistiwa, namun dalam perjalanannya mereka begitu dekat.

Sebagian besar waktu kuliah mereka habiskan dalam kata “sama”. Tinggal di asrama besiswa yang sama, masuk di kelas yang sama, memiliki dosen wali yang sama, hingga mendapatkan penghasilan tambahan yang sama.

Arjuna dan Bara bukan mahasiswa komunikasi yang dekat dengan hura-hura, seperti apa yang dipercaya sebagian orang dekat dengan mahasiswa ilmu komunikasi. Keduanya memiliki latar belakang ekonomi yang serupa, jauh dari kata mampu. Bahkan cenderung kekurangan. Alih-alih menghabiskan waktu untuk berlenggok di pelataran pusat perbelanjaan mewah, mereka banyak menghabiskan waktu mengakrabkan diri dengan buku yang dipinjam bergantian di perpustakaan.

Prinsip mereka tak boleh ada waktu yang terbuang. Tak ada jadwal bermalas-malasan, pun dengan menitipkan tanda tangan di daftar hadir kelas. Catatan kuliah mereka paling lengkap seantero angkatan.

Masalah antara dua kepala itu mulai muncul ketika Bara mendapatkan posisi lebih tinggi dari kawannya di tempat mereka bekerja sambilan. Arjuna yang mulai merasa ada sesuatu yang salah. Mereka memulai bersama namun tak mendapat posisi yang sama.

Lagipula selama ini Arjuna sudah menahan diri. Posisinya selalu berada di belakang Bara, Tut Wuri Handayani. Di belakang memberikan dorongan. Jika Bara tampil sebagai ketua sebuah acara, maka Arjuna akan mendukungnya. Arjuna biasanya menangani pos acara, mengonsep bentuk hingga memastikan rundown event.

Dalam satu sisi, Bara memang lebih vokal. Ia berani menyuarakan pendapatnya jika merasa ada yang tak sesuai dengan pemikirannya.

Arjuna menjatuhkan pilihan untuk membentengi rasa tidak enaknya. Mari kerjakan saja amanah yang ada di tangan, tidak usah mencoba mengambil apa yang sudah dititipkan di tangan orang lain. Lagipula Ia tak ingin rasa irinya menjadi penyebab merenggangnya persahabatan mereka.

Semuanya berjalan mulus hingga sampai pada saat benteng Arjuna mulai keropos. Ia meradang tatkala Cindy lebih melirik Bara di bandingkan dirinya. Yuki adalah idola Juna. Ketika bertemu atau berpapasan dengan Yuki di kampus, sudah dipastikan Arjuna pasti sulit melupakan momen tersebut hingga keesokan harinya.

Ia merahasiakan hal itu, Tidak ada yang tahu perihal itu, pun dengan Bara. Ia terlalu asyik dengan fantasinya hingga tak sadar Bara menarik perhatian si wanita lebih dulu dengan keluwesannya.,

Mulut Arjuna mendadak kelu ketika Bara menginformasikan hal itu. “Aku sudah jadian sama Cindy nih Jun!!”

Sejak itu, tak ada lagi dua sahabat yang dekat. Mereka memang masih tetap satu atap, namun sedikit sekali tawa renyah di antara mereka. Bara mungkin tak sampai menganggap bahwa persahabatan mereka sudah jadi past tense. Arjuna yang menjunjung tinggi acara pembubaran tersebut, walau tak terang-terangan memproklamasikannya pada Bara.

Hingga hari ini, Bara masih awet dengan Cindy. Sementara Arjuna masih memasang label “sendiri” pada statusnya. Kartu undangan yang sampai hari itu merupakan wujud hubungan mereka.

Undangan tersebut digeletakkan begitu saja di atas mejanya. Sementara itu, Arjuna mendudukkan diri di kursi hitam besar di balik meja kerjanya. Sunyi. Bokongnya terperenyak begitu saja sementara isi kepala mengawang ke cerita masa lalu.

Wanita yang Ia sukai akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Ia tak bisa membayangkan bagaimana memandang dua orang itu di kursi pelaminan, menerima salam dari tamu, teriring doa agar rumah tangga baru itu lancar.

Harusnya aku yang berada di sana.

Harusnya namaku yang ada di undangan itu.

Rolling Stones mengatakan bahwaYou Can’t Get Everything That You Want. Juna selalu rela melihat Bara atau orang lain bahagia. Ia legowo saja perjalanan Bara lebih mentereng daripada miliknya. Namun soal Cindy, Ia agak sulit untuk melapangkan dada dan juga jalan Bara.

Jikalau Ia tak berpikiran logis, kegaduhan mungkin sudah terjadi. Vas bunga dan barang pecah belah mungkin bisa berakhir tragis di petak marmer. Mungkin saja Ia bisa berteriak hingga suaranya memenuhi lorong tingkat 15 ini.

Emosi yang ditahan di pikirannya itu berujung pada keputusan final. Ia sudah bisa menentukan apa yang akan dilakukannya terhadap kartu undangan ini.

Sudah cukup Ia menahan diri.

Juna merogoh ponsel pintar dari saku celana. Ia menghubungi Bara, langkah pertama dalam rencana besarnya. Emosi di atur sedemikian rupa agar terdengar dan tampak bersahabat.

“Halo Juna!! Lu udah terima undangan gue?” Bara langsung menyahut ketika nada tunggu panggilan di ponselnya tandas.

“Tentu. Selamat ya, Bar! Lu memang cocok sih sama dia. Oiya, malam ini kosong enggak?”

“Kosong kayaknya.” Begitu jawaban itu meluncur, Juna merasakan kemenangan.

“Gue mau ketemu sama Lu. Yah, mungkin bisa dibilang pesta bujang kecil untuk kita. Gimana bisa enggak?” Suaranya bernada begitu ramah, seakan semua yang mengganjal persahabatan mereka selama ini lenyap begitu saja.

Bara mengiyakan, kemenangan sudah dipastikan. Rumah Bara menjadi tempat pertemuan mereka. Mereka akan bertemu pukul sepuluh malam. Arjuna akan datang membawa banyak kudapan, botol wine, dam beberapa majalah gravure impor langsung dari Jepang yang menjadi favorit Bara.

Arjuna tak bisa menahan gelak tawa ketika sambungan telepon itu terputus. Persetan anggapan dari sekretarisnya di luar yang menganggapnya sedikit miring. Ia ingin merayakan kemenangan tersebut.

Puas tertawa, Arjuna mengaktifkan kembali teleponnya. Ia menghubungi nomor yang jarang sekali dijamah olehnya.

“Halo, Lu kosong enggak malam ini? Gue punya kerjaan.”

Venue pesta bujang malam itu sudah dipastikan. Berlokasi di hadapan LED 43 Inch, Bara dan Arjuna akan mengumbar obrolan masa lalu dan menjalin tawa renyah bersama lagi. Ia cukup tahu bahwa hubungannya dengan Arjuna mulai merenggang. Pesta malam ini mungkin akan jadi kesempatan untuk membangun lagi jalinan persahabatan itu.

Bara menunggu sembari memutar musik dari playlist Spotify ponselnya. Ia menyukai sederet lantunan melodi dari Simple Plan. Begitu juga dengan sipogang melodi yang mengajak bergoyang dari Shawn Mendes.

Bel berbunyi. Bara melirik ponselnya, tepat pukul 22.00. Arjuna memang tak pernah berubah. Ia akan selalu datang tepat waktu, tak akan telat barang semenit pun.

Bara pun bergegas menuju pintu depan. Wajahnya berseri, menyambut kawan lama yang akan menghabiskan waktu lama di sini.

Tak dinyana, yang berdiri di depan pintu bukan Arjuna. Wajahnya ditutupi syal hitam, begitu juga matanya yang tersilap lensa hitam. Sebuah kerutan muncul di dahi Bara. Apakah Arjuna tengah menderita penyakit kulit sehingga tampil bak pemain ski?

Itu bukan Arjuna yang terjangkit panu. Hal itu terjawab ketika sebuah magnum 50 mm diarahkan si tamu pada tuan rumah. Moncong senjata tepat terarah ke dahi. Peluru siap meluncur.

“Arjuna titip salam untukmu.”

Peluru pun melesat. Bara tak punya reflex bak Barry Allen sehingga peluru itu berhasil membuat lubang di kepalanya. Badannya terjatuh, darah mulai merembes dari lubang kepalanya.

Si penembak melangkah hati-hati masuk ke dalam rumah. Ia melaksanakan apa yang diperintahkan, buat rumahnya menjadi kacau. Ambil barang-barang berharga untuk meninggalkan kesan bahwa ini adalah perbuatan perampok.

Tak lupa si penembak mengdokumentasikan hasil pekerjaannya dan akan dikirim ke pemakai jasanya, Arjuna.

Kopi di gelasnya hampir tandas ketika ponselnya berdering. Sebuah pesan bergambar meluncur masuk ke sana. Ia tersenyum. Rasanya ingin tertawa namun Ia meredamnya. Alasannya sama, Ia tidak mau dicap sebagai pengunjung yang terganggu mentalnya karena tertawa puas tanpa ada sebab.

Gambar jasad Bara yang terbaring lemas, lalu potret rumahnya yang berantakan. Semuanya sudah sesuai dengan rencananya. Tujuannya tercapai tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.

Menu ponselnya beralih pada aplikasi bank online. Ia mengirim uang dua puluh lima juta rupiah. Begitu transaksinya pungkas, Arjuna menghubungi orangnya.

“Kerjamu bagus. Sudah kulunasi.” Ia langsung memutuskan telepon, menghindari banyaknya kontak dengan si pekerja kotor.

Arjuna langsung angkat kaki dari kedai kopi tersebut. Ia meninggalkan selembar uang kertas sepuluh ribuan di bawah cangkir kopinya. Keberhasilan sedang ada di pihaknya dan tak ada salahnya berbagi kegembiraan dengan orang lain.

Semuanya sudah dibereskan. Begitulah isi pikirannya ketika Ia mulai melaju dengan mobilnya kembali ke kondominium.

Kamarnya yang berantakan segera dibereskan. Potongan pakaian bekas pakai Ia simpan pada tempatnya.Tak ada lagi komik yang terbengkalai di lantai. Kapal pecahnya sudah tersusun lagi.

Ketika hendak mandi, Juna merasa lega. Air hangat sudah siap mengucur dari shower. Badannya yang pegal hari ini akan terobati. Mandi dengan air hangat yang membuat nyaman akan menjadi penutup yang sempurna.

Dalam balutan piyama bermotif garis-garis biru yang nyaman, Arjuna menghamburkan badannya ke atas ranjang yang empuk. Senyum belum bosan tampil di bibirnya.

Di tengan alunan musik piano klasik, Ia mulai terlelap dan menemukan kedamaian yang selama ini dicari.

Yang membuatnya terbangun adalah getar alarm dari ponselnya. Arjuna mengganjur ponselnya untuk mematikan alarm yang terus berbunyi. Ini hari Sabtu. Sebuah alasan yang cukup untuk membuat Ia kembali terlelap.

Otaknya seakan berhenti bekerja ketika Ia melihat kolom hari dan tanggal di layar ponselnya.

Jumat, 30 November 2016.

Rasa-rasanya ini bukan sebuah lelucon pagi hari. Otaknya belum kopong sehingga tak sampai mengingat kemarin hari apa dan tanggal berapa. Matanya lalu dipejamkan, mencoba menemukan logika di tempurung kepala yang mampu memecahkan ini.

Arjuna memilih tak lama-lama berkutat dalam persoalan itu. Ia beralih menuju menu pengaturan dan dengan mudah mengganti pengaturan hari dan tanggal untuk mengembalikannya ke dalam kehidupan normal. Ia tidak mau kehidupan sabtu paginya tersita karena persoalan sepele.

Gosok gigi serta membilas muka adalah agenda berikutnya. Ia memutuskan untuk menonton televisi saja sembari ditemani secangkir kopi.

Namun agenda sabtunya kembali terganggu ketika melihat pelataran kamarnya.

Komik-komik masih berserakan. Pakaian yang sudah Ia benahi tadi malam kembali ada di atas linoleum.

Arjuna tak mau berlama-lama terheran, seperti apa yang terjadi pada ponselnya. Ia segera membereskan semuanya. Meletakkan komik pada rak di kamarnya dan pakaian diletakkan dalam keranjang pakaian kotor. Penalaran logisnya mungkin Ia lupa akan apa yang sudah dilakukannya semalam. Mungkin saja beres-beresnya kemarin merupakan bagian dari adegan mimpi.

Sesampainya di pintu kamar mandi, Ia kembali menghadapi persoalan yang sekarang bisa dikatakan sebagai masalah pelik. Di badannya melekat kaus oblong putih beserta celana pendek hitam sepaha.

Satu lagi, pemanas air kembali tak berfungsi.

Apa sekarang Ia sudah menderita pikun stadium lima? Apa sekarang Ia sudah tidak bisa mengingat apa yang Ia pakai sebelum tidur?

Sebuah helaan napas panjang Ia tempuh untuk membetulkan pikirannya. Ditambah lagi dengan secangkir kopi, semuanya akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Beralih menuju ruang makan, Ia membuka lemari es untuk melihat makanan yang bisa Ia santap. Tak dinyana, ada dua potong donut krispy Kreme yang masih utuh.

Ia mundur selangkah. Tangannya masih memegang pelipir pintu kulkas. Donut itu kan sudah ia santap kemarin pagi?

Pasti ada yang tak beres. Untuk memperjelas semuanya, Ia menghidupkan televisi dan menyaksikan berita yang sepertinya sudah pernah Ia dengar sebelumnya. Ojek pangkalan tengah berunjuk rasa menuntut keadilan.

Ia yakin sekali berita ini sudah tayang kemarin. Tentu saja Ia ingat bagaimana nada suara si pembaca berita, running text yang melintas di layar, hingga momen demonstrasi yang ditampilkan oleh yang punya siaran. Di layar televisi, hari dan tanggal yang terpampang juga masih serupa.

Jumat, 30 November 2016

Satu hal lagi yang harus dipastikan. Arjuna bergegas menuju pintu kondonya untuk bisa melihat kondisi lorong. Bingo!! Ali dan kucing imutnya ada di sana. Semuanya serupa seperti tempo hari.

Baru saja Ali ingin menyapa, Arjuna sudah memberondongnya. “Kau pasti akan bertanya padaku sudah mau pergi lagi dan kau pasti baru dari mini market yang ada di bawah untuk membeli makanan kucingmu dan stoknya habis bukan?”

Ali tampak pilon.

“Benar atau tidak?” Arjuna sedikit mengeraskan suaranya, bisa dikatakan sedikit membentak. Ali akhirnya menganggukkan kepala.

Masih ada satu lagi. Ia berlari menuju elevator dan bertemu lagi dengan si ibu dan si anak dengan tas bumblebee. Si anak merogoh-rogoh tasnya.

“Nak, kotak bekalmu sepertinya tertinggal di kamar. Coba diperiksa lagi,” ujar Arjuna. Si Ibu dan anaknya melongo ke arahnya. Keduanya kemudian saling berpandangan, mempertanyakan penyataan Arjuna. Si Ibu kemudian memandangnya dengan ganjil seakan Arjuna adalah seorang penguntit yang mengetahui isi rumah mereka.

Si Ibu dan si anak beranjak ke kamarnya, begitu juga dengan Arjuna. Ia terperenyak di sofa ruang tamunya. Semua yang dialami seperti sudah dialami olehnya kemarin. Ini sejenis Déjà vu tapi terasa lebih nyata.

Namun jika semuanya sama seperti kemarin, berarti orang itu masih hidup.

Ia langsung memanggil ponselnya dan langsung menghubungi nomor orang yang sudah Ia bunuh kemarin. Dadanya gemetar ketika suara Bara masih terdengar di telinganya. Suara itu masih menyapanya seperti biasa.

“Kau masih hidup, Bar?” tanya Arjuna. Ia tahu bahwa pertanyaannya cukup aneh.

Ada tawa sebelum Bara menjawabnya. “Duh, lu kok ngomongnya gitu sih, Jun? Kita sudah lama enggak ketemu tapi nanyanya jangan gitu dong.”

Arjuna masih bergulat dengan tanda tanya dalam pikirannya. Jika orang yang ingin dibunuhnya kemarin masih hidup, maka Ia akan coba membunuhnya lagi.

Ia mencoba mengajak Bara untuk melakukan hal yang sama di hari kematiannya kemain. Melakukan pesta bujang mini dan nanti akan ada yang datang untuk menembak dirinya. Skenarionya benar-benar sama seperti kemarin.

Langsung saja, Ia mengangkat ponselnya.

“Membunuh Bara? Seperti yang sudah dilakukan kemarin? Rasanya kemarin Aku tidak membunuh orang?” komentar si pembunuh. Emosi Juna sedikit meninggi. Ia harus memulainya dari awal lagi.

*****

Seperti yang sudah Ia lakukan kemarin, atau apapun sebutan untuk satuan waktu yang dalam perasaannya sudah Ia lalui, Juna duduk di kedai kopi dekat rumah Bara. Ponselnya tergeletak di atas meja ditemani segelas Iced Americano.

Rasa heran masih belum hilang. Apa yang menimpamya sekarang? Ia pikir semua bagian di otaknya masih baik-baik saja selama ini. Tak ada benturan dan juga gangguan di sana. Ia masih bisa menyelesaikan berbagai pekerjaan sulit yang mampir ke meja kerjanya.

Ia seperti tidak beranjak dari hari Jumat, tanggal 30 November. Semua kejadian yang dialaminya benar-benar serupa. Ketika Ia memeriksa saldo tabungannya tadi siang, jumlahnya masih utuh. Tak ada pengurangan dua puluh lima juta untuk bayaran pembunuhan Bara malam kemarin.

Berarti memang Ia belum memintanya untuk membunuh Bara. Semua panggilan telepon ketika Ia menelepon Bara siang hari di kantor, begitu juga dengan panggilannya beberapa saat kemudian dengan si pembunuh bayaran. Seluruhnya tak tercatat seakan Ia memang belum pernah melakukannya.

Ponsel itu akhirnya berdering. Bara sudah tewas lagi. Semuanya sudah persis seperti keinginannya. Namun Arjuna meminta satu hal yang berbeda. Kali ini, Ia meminta untuk membakar rumah Bara agar sahabatnya benar-benar hilang. Jika Ia masih hidup, mungkin Ia harus memastikan diri untuk pergi ke Psikiater karena mungkin dirinya sudah gila.

Ia lalu undur diri dari kedai itu. Ingin segera pulang ke rumah dan memastikan dirinya memang tidak gila.

Arjuna memeliki cara untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia memutuskan untuk tidur di ruang tamu mala mini. Seusai merapikan kamar tidur, Ia beringsut menuju ruang tamu dan memastikan semuanya berjalan baik. Ponselnya memutar instrument musik klasik yang membantu meregangkan ketegangan di pikiran dan juga nurani.

Akhirnya Ia terlelap.

***

Ketika Ia membuka mata pagi itu, Ia benar-benar menganggap dirinya sudah gila. Ia ada di kamar tidurnya. Komik-komik masih berserakan. Pakaian kotor lokasinya tak menentu. Badannya masih ditutupi kaus oblong putih dan celana hitam sepaha.

Pilihan yang ada adalah Ia berteriak, meluapkan kegilaan dan ketidaklogisan yang terjadi padanya. Ia memukul ranjangnya dengan gerakan histeris. Gerakan tersebut diikuti dengan kepala yang dihujamkan ke tembok dengan keras. Darah mengalir begitu saja.

Sedikit pikiran logisnya yang tersisa mengarahkannya untuk meraih ponselnya. Tanpa mengindahkan indicator hari dan tanggal yang tak kunjung berubah, Juna segera menghubungi Bara. Pening semakin menyerang kepalanya.

“Halo, Jun. Tumben pagi-pagi sudah hubungin gue? Ada apa nih?”

Tak ada jawaban dari Juna. Ia malah memekik lagi sembari melemparkan ponselnya menghantam tembok. Pecahan ponsel tersebut kemudian tambah menderita karena Juna datang untuk menginjak-nginjaknya. Hancur tak berbekas.

Temannya belum tewas juga. Ia masih ada di rumahnya, masih bisa membuka mata seakan tak terjadi apa-apa.

Apa yang sebetulnya terjadi? Ia masih terperangkap di hari yang sama. Tadinya sempat muncul hipotesa bahwa semua ini terjadi di alam mimpinya. Namun pening yang Ia rasakan dan semua sensasi nyata yang Ia temui pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya meyakinkan bahwa ini bukan dalam dunia mimpi.

Semuanya dimulai ketika Ia mencoba membunuh Bara. Setelah Bara tewas dalam satuan waktu miliknya, semuanya jadi mimpi buruk.

Apakah kematian itu yang mengutuknya?

Ia kemudian keluar menuju balkon yang ada di kamarnya. Hembusan angin pagi langsung menyerbu, membuat kepalanya sedikit berdenyut. Jika memang ini perihal kematian, mari kita coba dalam satu eksperimen ini. Lagipula ini juga membuktikan bahwa apa yang dialaminya sebuah mimpi atau bukan.

Dalam gerakan yang pasti, Ia melompat dari tingkat 15 kamarnya. Matanya ia tutup, tak berani memandang aspal yang akan jadi landasan mendaratnya.

Ia menutup mata. Rasanya seperti sedang tertidur.

Ponsel itu kembali bergetar. Arjuna membuka matanya. Ia masih ada di kamarnya. Tak ada darah dan masih bernapas.

Tak ada gerakan lain yang terbayang selain menggapai ponselnya untuk menengok hari dan tanggal berapa sekarang.

Jika ada pistol, maka Ia akan menembak dirinya sendiri.

Jumat, 30 November 2016.

 

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments