Diana

3 months ago
Sumber: Carnaisy Variedo
Carnaisy Variedo

by: Carnaisy Variedo

Dilan masih duduk tak bergerak di tempatnya. Sudah berapa lama ia berdiam di sini? Ia bahkan tidak tahu. Ia tidak sadar. Ia di mana? Entahlah. Yang ia ingat hanya dirinya yang tadi terus berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Matanya masih perih dan sembab. Bola matanya yang kini telah memerah, menunjukkan pada siapapun yang lewat bahwa ia telah terlalu banyak menangis. Ia termenung sendirian, pikirannya sudah berkeliaran ke berbagai tempat. Terutama di sana.

Ya, pikirannya berhenti di satu tempat tertentu. Memori antar dirinya dan Diana. Diana merupakan mahasiswa asal Amerika yang berkuliah di tempatnya. Mereka berada di jurusan yang sama yakni jurusan seni. Diana adalah wanita yang menarik dan juga ramah. Ia wanita cantik yang membuat Dilan bertekuk lutut.

Bukan, bukan karena kecantikannya semata. Juga bukan hanya karena kecerdasan Diana semata. Namun pribadi wanita itu yang membuatnya tidak mudah melupakan sosok manis nan cerdas yang membuat jantungnya bisa berdebar layaknya derap langkah kuda di arena perang.

Diana yang sangat ahli dalam menggunakan kata-kata manis membuat jantungnya kalang kabut. Bunga bibir yang kerap kali dilontarkan gadis itu padanya membuat pipinya senantiasa memerah dan lidahnya kelu tak bergerak.

Ini bukan pertama kali Dilan bertemu dengan wanita yang pandai berkata-kata seperti Diana. Namun Diana memiliki kharisma tersendiri yang tak bisa ia tolak. Untaian-untaian kalimat manis yang mengalun di telinganya membawa Dilan terbang ke langit. Diana bahkan tidak pernah menghubunginya secara pribadi sebelum ia meminta nomor ponsel gadis itu.

“Diana, bisa minta waktumu sebentar?” ujar Dilan kala itu.

Diana telah fasih berbahasa Indonesia sejak pertama kali masuk ke universitasnya. Ia tidak tahu di mana wanita itu belajar, namun hal ini sangat menguntungkan baginya. Karena ia sendiri tidak fasih berbahasa Inggris seperti teman-temannya yang lain.

“Ada apa, Dilan?”

“Ehm… Itu.. Apa aku boleh meminta nomor ponselmu?” tanya Dilan malu-malu.

Dengan anggukan singkat dan senyuman manis yang terlontar, Diana mengambil kertas dan menyoretkan nomor ponselnya di situ. Tanpa banyak bicara, wanita itu memberikan nomor ponselnya pada Dilan dan berjalan menjauh.

Dilan masih diam termenung. Bukan hanya karena ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Diana, namun juga karena coretan kecil yang ditorehkan Diana diujung kertasnya. ‘Akhirnya kau memintanya. Aku sudah lama ingin memberikannya padamu, Dilan.’ Kalimat sederhana itu membuat detak jantung Dilan meningkat.

Setelah berhasil mendapatkan nomor Diana, Dilan langsung mengirimkan pesan singkat padanya. Hanya sekedar sapaan kecil untuk memberitahu gadis itu bahwa nomor yang mengirim pesan singkat itu adalah miliknya.

Bermulai dari sapaan kecil dan saling bertukar pesan singkat, Dilan semakin berani. Suatu hari Dilan menelepon Diana untuk mengajaknya kencan. Jawaban dengan nada ceria dari seberang membuat senyum Dilan mengembang.

Ini kencan pertama Dilan dengan Diana. Ia mencoba menyiapkan kencan romantis untuk gadis itu. Bukan ke diskotik, tentu. Dan sebagai seorang mahasiswa, ia tidak memiliki cukup banyak uang untuk mentraktir Diana di restoran mahal. Ia hanya membawa Diana ke taman dan menyiapkan candle light dinner untuk wanita itu.

Oh ya.. Tentu, Dilan pandai memasak. Ayahnya adalah seorang koki. Dan kemampuan itu diajarkan turun-temurun dari buyut-buyutnya hingga dirinya sekarang. Entah kenapa ia bersyukur karena kemampuannya itu sekarang.

Ketika ia menyajikan hidangannya pada Diana, ia tidak menyangka bahwa gadis itu akan mengapresiasinya sedemikian rupa. Padahal ia sendiri tidak yakin dengan makanan yang ia buat, berhubung itu adalah kali pertamanya memasak steak. Namun senyuman manis dan wajah bahagia yang ditunjukkan Diana sudah cukup menjadi bayaran atas usahanya.

Semenjak kencan pertama itu, Dilan dan Diana kerap kali jalan bersama. Diana tentu tidak tahu apa efek yang dimilikinya terhadap Dilan. Namun Dilan, dengan sadar, tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada sosok Diana.

Dilan tak bisa melupakan bagaimana Diana memanggil namanya ketika mereka bertemu. Ia tak bisa melupakan senyuman yang terukir pada wajah itu ketika Diana berjalan menghampirinya. Ia tak bisa melupakan nada lembut penuh cinta yang mengalir lembut dari bibir ranum itu.

“Dilan.. Matamu cantik. Membuatku terpesona.”

“Dilan, senyumanmu manis sekali. Aku tak bisa berhenti memandangnya.”

“Dilan, tersenyumlah. Kau jauh lebih tampan ketika tersenyum.”

“Hei Dilan! Aku merindukanmu.”

Tiap kali ia akan tidur, hanya Diana lah yang muncul dalam bayangannya. Mulai dari kerlingan mata hingga tawanya. Mulai dari cara duduknya hingga cara gadis itu berlari ke arahnya. Bahkan ia mengingat bagaimana penampilan wanita itu ketika rambutnya tertiup angin.

Dilan tak henti memikirkan wanita itu. Bahkan ketika ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca buku komik, ia tak juga berhasil. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari pikirannya.

Ia membaringkan diri di kasur. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Ia lebih ingin membereskan perasaannya yang kini tengah bergejolak.

Dilan benar-benar telah jatuh cinta pada Diana. Ia tidak pernah jatuh sedalam ini. Ia tidak pernah berharap akan benar-benar dimabuk cinta seperti ini. Diana, wanita yang telah berhasil membuat hatinya bertekuk lutut.

Setelah berminggu-minggu, akhirnya Dilan berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk meminta Diana menjadi kekasihnya. Yang tak diduga oleh pria itu adalah jawaban Diana.

“Diana, aku mau bicara sesuatu. Boleh?”

“Tentu. Ada apa Dilanku yang manis?”

“Kau tahu.. Kau membuatku tidak bisa melupakanmu. Tiap kali aku akan terlelap, hanya wajahmu yang muncul dalam bayanganku. Tiap kali aku tak melakukan apapun, hanya suaramu yang terngiang di kepalaku. Aku tahu ini terdengar bodoh dan berlebihan, tapi aku sadar aku telah jatuh cinta padamu.”

Dilan terdiam sebentar. Ia menggenggam tangan kecil itu dan memandang Diana tepat di wajah. Dengan ekspresi yang lembut, ia mulai bertanya.

“Diana.. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Diana terdiam sebentar. Manik kelam Dilan beradu pandang dengan manik keabuan milik Diana. Wanita itu melepas tangannya dari genggaman Dilan. Ia kemudian meletakkan tangan itu kembali ke pangkuan pria itu.

Jantung Dilan serasa berhenti berdetak. Apa ini penolakan? Apa begini rasanya penolakan? Batinnya meneriakkan kata-kata yang tak bisa terucap dari mulutnya. Namun apa yang dilakukan Diana selanjutnya berhasil membungkam semuanya.

Diana, yang entah sejak kapan telah menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dilan, mengecup pelan bibir pria itu. Mata Dilan terbelalak kaget. Ini kali pertamanya dicium dan mencium seorang wanita selain ibu dan adiknya. Wajah Dilan memerah sempurna. Sedangkan Diana kembali ke posisi awalnya.

Gadis itu menjawab pertanyaan Dilan sambil tersenyum, “Ya. Aku mau menjadi kekasihmu, Dilan.”

Jantung Dilan berdebar kencang. Ia tak bisa menahan senyum yang telah berhasil tergambar pada wajahnya. Dilan tidak tahu harus melakukan apa. Ia salah tingkah di depan wanita ini.

“Aku menyayangimu, Diana..” ucap Dilan lembut.

“Ya.. Aku tahu itu, Dilan,” balas Diana sambil tersenyum.

Setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Dilan kerap kali membelikan bunga untuk Diana. Tidak, tidak sampai sebuket besar yang akan menghabiskan biaya ratusan ribu. Hanya sekuntum mawar merah yang sesekali diberikan Dilan pada wanitanya.

Dilan masih tidak bisa melupakan bagaimana rasanya ketika bibir ranum itu mengecup bibirnya. Walau hanya ciuman singkat tanpa gairah, namun jantung Dilan tetap berdegup cepat tiap kali mengingat peristiwa itu. Mungkin karena itu adalah ciuman pertamanya, ia pun tidak tahu.

Dilan tetap seperti biasa. Ia selalu berkirim pesan singkat pada Diana. Menelepon wanita itu. Mengucapkan selamat tidur disertai dengan ucapan ‘aku menyayangimu’ tiap malam sebelum Diana tidur. Ia juga tak lupa mengajak wanita itu berkencan sesekali. Dan Dilan selalu membuatkan bekal untuknya dan Diana agar dapat dimakan bersama ketika mereka sedang tidak ada kelas.

Namun sedikit yang Dilan tahu, Diana adalah wanita yang selalu hidup dengan bebas. Diana tidak pernah menganggap ikatan kasih seperti berpacaran sebagai suatu hal spesial yang membuatnya terhalang untuk menjadi dirinya sendiri.

Diana, sebagaimana dirinya, tetap melemparkan bunga bibir pada pria dan wanita yang menurutnya layak untuk dipuji. Awalnya Dilan biasa saja dengan kelakuan Diana ini. Namun ketika ada pria lain yang mendekati wanita itu, Dilan terbakar api cemburu.

“Diana.. Boleh aku bicara sebentar seusai kelas?” ujar Dilan singkat.

“Baiklah. Aku akan menemui nanti, Dilan..” balas Diana sambil menyunggingkan senyum.

Ketika mereka bertemu, Dilan menyampaikan maksudnya pada Diana. Ia menyatakan perasaan tidak sukanya ketika Diana menebaran kalimat manis pada semua orang selain dirinya. Hal ini membuat dahi Diana berkerut.

“Maksudmu? Karena aku kekasihmu, jadi aku tidak boleh menjadi diriku sendiri?” hardik Diana, sebal.

“Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya…”

“Apa? Kau cemburu, Dilan?” tanya Diana.

“… Ya, aku cemburu. Aku cemburu melihatmu begitu manis pada orang lain. Aku cemburu ketika mendengarmu mengatakan bahwa mata David terlihat indah. Aku cemburu ketika mendengarmu mengatakan senyum Nathan sangat mempesona. Aku cemburu,” aku Dilan.

Diana terkekeh pelan mendengar penuturan Dilan. Diana menyukai ketika ada pria yang cemburu padanya. Diana menyukai ketika ada pria yang tergila-gila padanya sampai-sampai akan cemburu ketika ia berlaku manis pada pria lain.

Dilan terkaget mendengar rentetan tawa kecil yang keluar dari bibir wanita yang berada dihadapannya. Namun ia lebih kaget ketika wanita itu mengelus pipinya lembut. Dan lebih kaget lagi ketika Diana mengecup dahinya.

“Manis sekali, Dilan. Kau manis sekali. Kau sangat-sangat menyayangiku sampai-sampai kau cemburu, hum?” tanya Diana.

“Ya.. Tentu aku menyayangimu,” balas Dilan.

Dilan hanyalah seorang pria polos dimata Diana. Diana yang semenjak dulu telah hidup dalam lingkungan bebas terus menerus menginginkan petualangan. Dan petualangan bagi seorang Diana adalah membuat pria-pria jatuh dalam genggamannya hanya dengan untaian bunga bibir yang ia lontarkan.

Setelah kejadian itu, Dilan mulai mengekang Diana sedikit demi sedikit. Ia melarang wanita itu memakai baju ini dan itu.

“Diana. Jangan gunakan baju yang terlalu terbuka seperti ini!”

“Terbuka apanya, Dilan? Ini baju lengan panjang..”

“Baju ini.. Terlalu pas dengan bentuk tubuhmu. Baju ini membentuk tubuhmu. Semua orang jadi bisa melihatnya,” balas Dilan.

“Ah.. Tapi aku sudah sering memakai baju ini. Tidak ingat?” tanya Diana, tersenyum.

“… Pokoknya jangan pakai baju ini lagi. Titik. Jangan membantah,” ujar Dilan tegas.

“Baiklah..” balas Diana pasrah.

Dilan melarang wanita itu mengucapkan kata-kata manis pada orang lain selain dirinya.

“Dimas, suaramu bagus sekali. Bernyanyilah untukku. Aku akan menyimpannya dalam pikiranku dan mendengarnya dalam mimpiku,” ujar Diana pada Dimas, teman kelasnya.

“Hei Vindra! Tawamu begitu indah. Seperti melodi yang memang terlahir untuk mengalir lembut di telingaku,” kata Diana lagi pada Vindra, tutornya di kampus.

“David.. Kenapa kau memiliki mata yang indah? Aku tak tahan untuk tidak menatapnya berlama-lama..” ucap Diana lembut pada David, sahabatnya.

Dilan yang mendengar kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut kekasihnya malah terbakar api cemburu. Rasanya urat-urat dikepalanya seperti mau putus tiap kali gadis itu melontarkan bermacam-macam bunga bibir pada pria yang ia temui.

“Diana.. Stop mengatakan hal seperti itu pada para pria..” ungkap Dilan pelan.

“Kenapa? Ada apa memangnya? Aku selalu mengatakan hal seperti itu pada orang lain. Dari dulu. Bahkan sebelum kita berkenalan, Dilan.”

“Tapi kini kau kekasihku.. Tidka bisakah kau memikirkan perasaanku, Diana?” ucap Dilan memelas.

Bagaikan disambar petir, Diana hanya bisa mengangguk. “Baiklah..”

“Terima kasih..” balas Dilan sambil mengelus pelan kepala gadis itu.

Dilan melarang wanita itu untuk duduk dengan pria lain dan bahkan melarang wanita itu untuk mengobrol dengan dosen pria. Hanya karena kecemburuan semata.

Dilan takut kehilangan Diana. Ia tidak ingin ada pria lain yang mencuri perhatian dan hati Diana selain dirinya. Namun ia tidak tahu. Perlakuannya pada Diana malah membuat wanita itu tersakiti hatinya.

Diana merasa sedih, sungguh. Seorang wanita yang terbiasa bebas seperti dirinya tidak suka jika harus dikekang seperti ini. Diana merasa bukan seperti dirinya. Hanya karena ia berpacaran dengan Dilan, ia perlahan kehilangan jati dirinya.

Diana adalah wanita yang dengan mudah mengucapkan kata-kata manis pada semua orang. Dan karena ia mempedulikan perasaan Dilan, ia harus menghentikan itu. Diana suka memakai pakaian yang membuatnya merasa nyaman dan membuat orang lain memperhatikannya. Tapi karena ia ingin membuat Dilan senang, lagi-lagi ia harus mengubah gaya berpakaiannya.

Diana suka berada diantara pria. Ia adalah wanita bebas yang tidak peduli pada ikatan apapun. Namun karena Dilan, ia berusaha menjaga jarak dari para teman prianya. Bahkan dosennya. Hanya karena ia tidak ingin menyakiti hati Dilan. Ia kehilangan dirinya, jati dirinya, hanya demi seorang Dilan yang bahkan belum memiliki ikatan sakral dengannya.

Diana tidak tahan. Ia seorang manusia. Ia manusia yang dapat merasakan emosi. Ia seorang wanita yang perasaannya serapuh kertas. Ia bagaikan kertas berisi gambar yang telah penuh dengan coretan di sana-sini. Coretan yang ditorehkan oleh Dilan. Coretan yang mengubah dirinya. Ia tidak menyukai itu. Ia tidak tahan. Dan ia akan mengatakannya pada Dilan.

“Dilan, aku mau bicara..” ujar Diana malam itu.

“Ada apa, sayang?”

“Jangan memanggilku sayang..” balas Diana pelan.

“Maksudmu? Aku ‘kan kekasihmu. Jadi wajar saja ‘kan aku memanggilmu sayang?”

“Kau tidak menyayangiku, Dilan.. Kau berlebihan. Kau hanya tergila-gila padaku,” ujar Diana.

Air mata wanita itu menetes. Diana tidak bisa menahan rasa sakit dan kecewa yang telah dipendamnya selama beberapa bulan terakhir semenjak pria itu mulai mengekangnya. Ia merasa bagaikan seekor burung yang terperangkap dalam sangkar besi.

“Kau.. Kau mengekangku, Dilan.. Kau membuatku bagaikan boneka. Aku kehilangan jati diriku,” lanjut Diana.

“Tidak! Siapa bilang aku mengekangmu?” balas Dilan sambil menggenggam bahu Diana.

“AKU! Aku yang mengatakannya!” bentak Diana sambil menepis tangan Dilan.

Tanpa mendengar kalimat apapun yang akan diucapkan Dilan, Diana pergi meninggalkan pemuda itu. Dilan mengejarnya, tentu. Namun Diana tetap pergi menjauh sebanyak apapun Dilan memanggil dan menangkap tangan wanita itu.

Dilan memutuskan untuk membicarakan masalah ini besok. Ia berpikiran bahwa Diana mungkin butuh waktu untuk menenangkan diri. Malah, mereka berdua sepertinya benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri. Malam itu, Dilan tidak menelepon Diana untuk mengucapkan selamat tidur.

Keesokan harinya mereka kembali berjumpa di kampus. Diana menghindari tatapan Dilan sebisa mungkin. Diana bahkan menolak untuk duduk berdekatan dengan Dilan. Diana menutup dirinya dari Dilan.

Saat Diana menoleh ketika namanya dipanggil, Dilan dapat melihat kesedihan yang tergambar pada manik keabuan itu. Wajah Diana yang biasanya selalu menebarkan keceriaan, kini terlihat mendung berawan. Diana yang biasanya dapat mencerahkan situasi ketika semua orang sedang sedih, kini malah terlihat gundah gulana.

Hal ini berlanjut selama beberapa hari. Dan selama beberapa hari itu pula Dilan selalu mencoba menghubungi Diana. Namun Diana tidak memberikan balasan apapun. Tidak ada pesan yang dibalas, tidak ada telepon yang diangkat. Tidak ada bertukar sapa, bahkan mereka tak lagi saling bertatapan. Sampai malam itu ada pesan masuk dari Diana.

‘Kita putus.’

Dilan sudah menduga pesan itu akan datang cepat atau lambat. Jujur, ia tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada wanita itu.

‘Lupakan semua memori tentang kita, Dilan.’

Bagaimana ia bisa melakukannya? Semua kata-kata yang diucapkan gadis itu padanya masih terngiang jelas dalam pikirannya. Semua pujian dan untaian kalimat manis yang diterimanya dari gadis itu, tersimpan dalam suatu kotak besi dalam pikirannya. Semua gestur tubuh yang tanpa sadar telah diingat oleh pemuda itu, masih terbayang jelas ketika ia menutup kelopak matanya.

‘Kau bukan pria yang kucari.’

Bagaimana pun Dilan mencoba memperbaiki hubungan mereka, Diana tidak mau menerimanya. Diana tidak ingin lagi menerima penjelasan apapun dari Dilan. Diana tidak ingin berurusan lagi dengan Dilan.

‘Tidak ada penjelasan yang harus kudengar darimu lagi, Dilan.’

Dilan merasa hancur ketika membaca pesan singkat yang dikirimkan wanita itu. Air mata tanpa sadar telah menetes dari kedua pelupuk matanya. Beginikah rasanya patah hati?

Esoknya, Dilan bagaikan orang linglung. Ia tidak fokus pada pelajaran yang dijelaskan dosennya di kelas. Tatapannya kosong, menatap entah ke mana.

Selesai kelas hari itu, Dilan berjalan sendirian. Ia mengunjungi semua tempat yang pernah ia singgahi bersama Diana. Tiap kali ia mengingat memori tentang mereka, air matanya tumpah. Dilan tak kuasa menahan tetesan demi tetesan air mata yang mengalir di pipinya.

Selama beberapa minggu, Dilan masih saja mengulangi ritual yang sama. Ia mengunjungi tempat-tempat di mana ia berbagi memori dengan Diana. Ia berusaha melupakan memori itu dengan terus menerus mengingatnya. Hal yang bodoh memang. Dilan tidak menyadari bahwa perbuatannya malah membuat ia makin mengingat wanita itu.

Ketika ia akhirnya sampai ke tempat di mana Diana menciumnya untuk pertama kali, jantungnya terasa tertusuk. Seakan-akan ada ribuan jarum yang tiba-tiba tertanam di sana. Ia tidak bisa melupakan bagaimana lembutnya bibir Diana ketika menempel pada bibirnya. Ia tidak bisa melupakan bagaimana lembutnya tangan yang mendekap wajahnya. Ia tidak bisa melupakan wanita itu.

Dilan terduduk. Air matanya tumpah bagaikan air hujan. Ia tidak dapat menahan rasa sakit yang ia rasakan. Bagaimanapun ia mencoba, ia tidak bisa melupakan semua memori dengan wanita itu. Ia tidak bisa melupakan bagaimana lembutnya suara yang memanggil namanya. Ia tidak bisa melupakan kerlingan mata, derai tawa dan senyum yang senantiasa disunggingkan padanya.

Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia berdiri, lalu berlari entah ke mana. Ketika paru-parunya berteriak meminta oksigen, barulah Dilan memutuskan untuk duduk. Matanya menatap nanar sekitarnya. Ia tidak tahu ia ada di mana.

Apakah ini hutan ataukah ini taman, ia tidak lagi dapat mengenalinya. Yang ia sadari hanya suatu fakta bahwa ia terlihat seperti orang bodoh. Wajahnya dipenuhi bekas air mata. Matanya memerah dan sembab akibat terlalu banyak menangis.

Ia perlahan menyesali kenapa ia harus jatuh cinta pada Diana. Ia berusaha melupakan dengan mengingat semuanya. Namun hal itu malah menjadi bumerang baginya. Dilan malah makin mengingat masa-masa indahnya bersama Diana.

Dilan mengambil ponselnya. Ia membuka pesan masuk terakhir dari Diana. Pesan singkat yang benar-benar menyakiti hatinya.

‘Selamat tinggal, Dilan.’

Sekarang baginya, cintanya terhadap Diana adalah suatu ilusi besar yang harus ia coba untuk lupakan. Walau ada satu hal, yang ia tahu pasti, akan tetap melekat dalam ingatannya. Ia tahu, ia tidak akan pernah melupakan bagaimana cara Diana mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan. Karena rasa yang ia rasakan saat itu sangat kuat. Dan ia tahu, rasa itu akan bertahan lama. Ia tahu bahwa dirinya bukanlah sosok pria yang dirindukan hati Diana. Dan ia tahu, karena itulah Diana meninggalkannya.

8 dukungan telah dikumpulkan

Comments