Dimasku Penguasa Hatiku

3 months ago
Ramahjaya

by: Ramahjaya

Hujan baru saja selesai menyirami Kota Bandung. Jejaknya masih terlihat di permukaan jalan, juga pada kendaraan yang berlalu-lalang sejak hujan masih turun tadi. Suasana jalan raya di kota besar ini masih dengan sibuknya ditemani bunyi klason yang terdengar di sisi kiri dan kanan.

Waktu masih berada pada pukul sembilan malam, tetapi suasana di kawasan Kiaracondong mengatakan seperti telah memasuki pukul dua belas tengah malam. Mungkin berpengaruh dengan hujan deras yang turun tadi.

Di sebuah rumah. Dalam ruang tamunya berwarna kuning, di samping pintu yang terbuka, terlihat seorang gadis sedang duduk sambil memainkan laptop di pangkuannya.

Ia sedang melihat isi beranda facebooknya, di-like foto atau status yang menarik di matanya. Bosan dengan isi beranda, ia kemudian beralih ke bagian obrolan. Terlihat tiga puluh lima teman yang sedang aktif.

“Dia tidak OL.” ucapnya datar.

Ia kembali ke bagian beranda. Di-refreshnya isi beranda itu. Tak lama kemudian, muncul sebuah foto yang membuat gadis itu menatap foto itu lebih lama dibanding foto-foto yang sebelumnya ia lihat.

Dipandangnya foto itu sambil tersenyum. Foto yang diambil setengah badan berisi cowok mengenakan kemeja jeans navy sedang tersenyum, rambutnya baru dicukur model spiky. Foto yang diunggah dua puluh lima menit yang lalu.

Di-like dong…”

Suara barusan membuat gadis itu terkejut.

“Dimas! Sejak kapan dia di situ?!” ucapnya dalam hati.

Gadis itu memandang cowok itu dengan salah tingkah. Di-likenya foto yang ia pandang barusan lalu menghilangkan sikap canggung di dirinya. Cowok yang tadi ia cari di obrolan kini tengah duduk di sampingnya.

***

Nama gadis itu Amanda Djullysyah. Sering dipanggil Ama. Ciri khasnya yaitu rambutnya sering dikepang kuda. Tubuhnya yang minimalis berisi. Style andalannya yaitu kemeja lengan panjang, jeans skinny, dan sepatu sneaker. Hobinya curhat di atas diari, kadang juga di blog pribadinya.

Gadis yang akhir-akhir ini percaya dengan perkataan yang sering muncul di ftv yang pernah ia tonton yaitu cinta itu bisa datang kapan saja.

Seperti yang ia rasakan sekarang pada sahabat kecilnya. Ia juga tidak tahu daya tarik apa yang dikeluarkan cowok berpostur tubuh tinggi ideal itu, hingga ia bisa jatuh hati padanya. Cowok itu adalah Dimas. Dimas Pratama.

Persahabatan mereka terjalin sejak mereka kecil. Orang tua Dimas tinggal di rumah kontrakan millik tantenya Ama, tepat di samping rumah Ama. Dimas punya seorang adik laki-laki namanya Prasetya Ainunda, biasa dipanggil Setya. Usianya beda enam tahun dari Dimas.

***

Di dalam ruang tamu rumah Ama. Ada Ama, Dimas, dan Setya di situ sedang jongkok mengamati isi kardus di samping meja. Di dalamnya terlihat induk kucing sedang menyusui dua ekor anaknya. Kulit bayi kucing itu masih sangat tipis, bayi kucing yang satu berwarna abu-abu kehitaman dengan ekor yang lumayan panjang dan bayi kucing yang satunya lagi bulunya berwarna putih, dua kaki di sebelah kanan berwarna hitam dan ada tahi lalat di ujung hidungnya.

“Lucu banget yah?” Ama mengelus-elus anak kucing itu.

“Namanya siapa?” tanya Dimas.

“Belum ada.” balas Ama seadanya.

“Gue kasih nama yah. Yang warna abu-abu namanya Dimas dan yang warna putih

namanya Ama.” Setya tiba-tiba nimbrung di antara mereka.

Dimas dan Ama memandang Setya dengan bingung.

“Kenapa bukan nama lo aja?” tanya Dimas dengan kening yang tengah naik sebelah.

“Nama gue nanti aja, kalau Monny ngelahirin lagi. Dan kalau Monny ngelahirin

kayak begini lagi, gue akan beri nama Setya dan Chelsea Islan.”

“Kucing-kucing Ama, tapi yang sibuk kasih nama elo!”

“Biarin! Gue kan penyumbang tempat Monny melahirkan. Kalau tidak ada gue, Monny

mau melahirkan di mana coba? Tempat tidur nyokapnya Ama lagi?”

“Ah sudah-sudah! Terserah namanya siapa yang penting kucing gue bisa berumur panjang tidak seperti almarhum anak Monny yang kemarin.”

Dimas mengangkat kedua alisnya, lalu mengikuti Setya mengelus-elus anak kucing itu. Di samping itu ada Ama yang sedang melirik Dimas sambil tersenyum.

***

Hei, kamu lagi apa sekarang?

Hei, pemilik senyum manis, senyum yang membuat hati ini sangat senang saat senyum itu dibentangkan. Selengkapnya di http://amandadjully199796@gmail.com. Kirim.

Itu adalah caption dari sebuah foto yang barusan Ama unggah pada akun facebook miliknya. Foto yang berisi latar berwarna biru muda dengan tulisan berwarna merah jambu di atasnya ‘Untuk Penguasa Hati Ku Sejak Februari’.

Ada harap setelah link blog miliknya itu ia upload, yaitu agar si penguasa hati yang sering ia curhatkan di blognya membaca isi blognya itu.

***

Di ruangan tengah pada kontrakan Dimas. Hanya ada Ama dan Setya di situ, beserta tumpukan barang dan kardus di dekatnya. Itu adalah pesanan langganan ibu Dimas yang sedang menjalankan bisnis online shop. Di lantai tidak jauh dari mereka, terlihat banyak koleksi milik Setya. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

Setya paling mendominisi pembicaraan di antara mereka berdua. Hampir setiap kalimat yang anak bertubuh tipis itu keluarkan membuat Ama tertawa.

Tak lama kemudian, Dimas datang. Ada sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya pada dirinya. Senyuman. Senyum itu melekat pada wajahnya sejak ia datang, membuat wajahnya makin manis.

Setumpuk pertanyaan juga hinggap di pikiran Ama.

“Apa mungkin senyuman itu karena dia sudah baca isi link di foto aku tadi? Dia sudah peka? Dia sudah tahu aku suka sama dia?” ujar gadis itu dalam hati. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya, ditambah lagi sikapnya yang jadi salah tingkah.

“Kenapa lo?” selidik Setya ikut bingung dengan tingkah kakaknya itu.

“Coba tebak, gue kenapa?” tanya Dimas balik.

“Gak tau!” jawab Setya secueknya.

Di samping itu Ama hanya terdiam. Tangannya masih mengemas barang pesanan bersama tumpukan pertanyaan di kepalanya. Sesekali dialihkannya pandanganya ke cowok yang masih memertahankan senyumnya itu.

Coc yang tadi malam gue liatin ke elo sudah laku…!!” ujar Dimas penuh kegirangan.

“Yaelah… gue pikir apa. By the way gue seneng liat kalian, kalian banyak kesamaan, selalu sama-sama hari ulang tahun, sama-sama suka pedas, sama-sama pernah mengidap penyakit usus buntu, dan sama-sama jomblo he he he jadian gih!” ucap Setya tersenyum.

Ama makin salah tingkah dengan ucapan adik Dimas barusan. Ucapan tersebut membuat perutnya tiba-tiba mulas.

Dimas mengacuhkan ucapan adiknya. “Eh Ama, yang lo maksud tadi di postingan lo itu siapa? Cie…”

Pertanyaan Dimas barusan membuat Ama sedikit terkejut “Hah?! Em, lo buka linknya?”

“Nggak, gue cuma like aja he he he.”

Ama sejenak terdiam karena ucapan Dimas barusan. “Ohh itu cuma iseng-iseng aja kok gue buat, gak ada maksud  nyinggung siapa-siapa.”

Semua pertanyaan yang sejak tadi ada di pikiran gadis itu salah. Padahal ia sudah senang sekali sejak foto dari postingannya itu di-like oleh Dimas, ditambah ia datang sambil senyum-senyum.

***

Hari ini Ama akan mengenalkan teman barunya ke Dimas yang ia ceritakan tadi malam.  Namanya Rere Wulandari. Pertemanan mereka dimulai saat Rere me-reply tweet Ama yang saat itu sedang berada pada trending topic. Selang beberapa saat, ia mengirimkan pesan perkenalan ke Ama. Ternyata cewek itu satu kampus dengan Ama, hanya beda Fakultas. Alasan Ama menceritakan Rere ke Dimas adalah karena cewek itu mempunyai hobi yang sama dengan Dimas. Sama-sama suka bermain game.

Suasana kantin telah sesak dengan pengunjungnya. Memang jika telah memasuki waktu istirahat begini, kantin jurusan ini sudah mulai ramai. Beberapa mahasiswa tidak jadi masuk karena meja sudah penuh semua. Kecuali sebuah meja dengan seorang mahasiswa cowok di sana, dua bangku meja itu memang kosong, tapi sudah di-booking oleh mahasiswa itu.

Kopi tinggal setengah di gelas bening di hadapannya. Perhatiannya masih dengan layar ponselnya. Hampir setengah jam ia di situ.

Yang ditunggu telah tiba, Ama dan Rere tengah berdiri di pintu kantin. Mata mereka mencari cowok dengan kemeja tartan coklat. Itu dia! Sangat mudah memang menemukan seseorang di kantin yang berukuran sedang ini.

“Hei Dimas.” sapa Ama menepuk pundak Dimas.

“Hey!”sapa Dimas balik dengan senyum manisnya.

Sorry yah Dims lama, Dims ini Rere cewek yang gue maksud itu,”

“Hai! Dimas,” tutur Dimas mengulurkan tangannya.

“Rere, Kak…” balas Rere menjabat tangan Dimas.

Dimas dan Rere kemudian mengobrol sedikit, kemudian obrolan mereka mengarah ke game yang Ama tidak mengerti sama sekali. Rasa canggung di antara mereka kemudian hilang.

“Re, sebentar. Malam lo ada acara nggak? Kalau nggak ada, ke rumah yuk. Sekali-kali kita tanding.” Ajak Dimas.

“Wah, boleh-boleh, Kak. Aku juga lagi tidak ada acara kok nanti malam,”

Ama menepuk pundak Rere. “Lo pasti menang kok, Re. Dimas tuh masih cemen main gamenya!”

“Ha ha ha,” Dimas dan Rere dibuat tertawa dengan ucapan Ama barusan.

***

Sekitar jam delapan malam. Ada Dimas, Ama, Setya, dan Rere di ruang tengah berwarna putih itu, mereka sedang di rumah Dimas. Di salah satu sisinya, terdapat peralatan game milik Dimas.

Satu jam kemudian.

Setya sudah dibuat sibuk dengan komiknya. Kadang dia menanyakan sesuatu ke Ama, biar gadis yang sejak tadi memerhatikan dirinya membuat komik itu tidak bosan. Sedangkan Dimas sudah sibuk dengan point blank beserta teman barunya. Yang tanpa ia sadari, ada gadis yang sejak tadi menutupi rasa cemburunya dengan senyum palsu yang melekat di wajahnya. Dan tanpa gadis itu ketahui, juga ada Setya yang sering mendapatinya sedang memerhatikan Dimas yang sedang asik bermain game dengan Rere.

***

Sebuah foto di dinding biru laut. Berisi tiga remaja dengan senyuman polos dalam foto itu. Di bagian tepi bawah foto itu terlihat tulisan MY LOVELY.

Terlihat Ama, Dimas, dan Setya di dalam ruangan berwarna biru laut itu. Itu adalah kamar Ama. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Dimas berbaringan di tempat tidur sambil memainkan game get rich di ponselnya, lalu di meja belajar ada Setya dengan wajah tidak kalah serius dengan komik yang tidak lama lagi ceritanya ia selesaikan. Dan si pemilik kamar duduk di lantai sembari memainkan laptopnya.

Weekend besok ke pantai yuk, sudah lama nih nggak ke pantai.” ajak Ama dengan pandangan masih pada layar laptopnya.

“Ayo…” sahut Dimas.

“Gue sih iya-iya aja, asalkan kalian baha, gi, a…” tutur Setya dengan nada seperti lagu dari band Armada.

“Eh Ama, si Rere tadi bbm gue, katanya chat dia dua hari yang lalu belum lo balas-balas, lo enggak lagi marahkan sama dia?” tanya Dimas masih memainkan game di ponselnnya.

“Marah? Marah kenapa? Isi chat-nya itu, dia mau ngajak gue keluar. Tapi gue lagi malas keluar, jadi itu deh alasan gue kenapa tidak balas chat-nya dia.”

“Tapi kan tidak semestinya chat-nya lo cuekin juga. Lo balas aja seharusnya, dia pasti enggak akan marah karena lo nolak ajakan dia.”

“Dims, Dims, Ama itu nggak balas chat dari Rere karena dia itu cemburu! Lo lupa?

Kemarin lo cuekin dia habis-habisan saat main game sama Rere? Ama itu su…”

Seketika Ama memotong ucapan Setya. “Setya! Lo ngomong apa sih? Lebih baik lo fokus aja sama komik lo itu! Daripada ngomong sembarang seperti itu!” Ama dengan mimik kesal penuh di wajahnya.

“Iya, maaf…” ucap Setya lemah.

“Ama, Rere itu hobinya apa aja selain game? Di twitter dia biasa updet status tentang apa aja?” tanya Dimas kini duduk memandang Ama.

“Tidak tahu.” Balas Ama datar.

“Masak lo nggak tahu, lo kan temannya.”

Ama kini mengalihkan pandangannya ke wajah Dimas ”Dimas, meskipun dia itu teman gue, bukan berarti gue bisa tahu semua apa yang dia suka. Dan sejak kemarin, gue gak pernah lagi main twitter. Jadi gue gak tahu dia sering updet status apa saja. Lagipula gue berteman dengan dia juga baru.”

Sejenak Dimas dibuat terdiam dengan jawaban Ama barusan.

“Ama, kok lo marah sih? Jangan-jangan yang dibilang Setya benar, kalau lo suka sama gue?”

Sekilas Ama memutar biji matanya ke atas “IYA! GUE SUKA SAMA LO MAKHLUK TIDAK PEKA!!” teriaknya dalam hati. “Ya lo sih! daritadi siang bahasnya Rere, Rere, Rere terus, gue bosan dengarnya.”

“Iya deh sorry… habis Rere itu yah sudah cantik, gamer, anime lover, feminim lagi.”

Ama kembali menatap Dimas dengan wajahnya yang semakin kesal, dua garis vertikal terlihat jelas di antara kedua matanya “Itu kan, lo bahas dia lagi, mood menulis gue tiba-tiba hilang karena lo tahu gak Dims?!” ucapnya lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Di samping itu, Setya melihat Ama berjalan keluar dari kamar. Diambilnya satu komik yang ada di hadapannya, lalu berjalan ke Dimas “Gara-gara lo tuh, Ama jadi marah kayak begitu. Huh!!” ucapnya kemudian membuang komik yang ia pegang ke wajah Dimas. Ia lalu ikut keluar kamar.

***

Pantai dengan airnya yang masih surut. Ada banyak terlihat lubang-lubang kecil tempat munculnya kepiting-kepiting kecil keluar dari dalam pasir.

“Kita duduk di situ, yuk.” ajak Dimas menunjuk tepi pantai.

Mereka tengah duduk di tempat yang ditunjuk Dimas tadi. Pandangan mereka menatap hamparan pasir yang airnya masih surut. Ama duduk di antara Dimas dan Setya. Tak lama kemudian, Dimas dan Setya saling memberi kode dari mata mereka.

“Em Ama, hari kamis di minggu ini kita mau pindah ke Kendari.” tutur Dimas dengan nada lemah.

Ama dibuat terkejut dengan ucapan Dimas barusan. Dipandangnya sahabatnya itu bergantian. “Kalian tidak lagi bercanda kan?”

“Tidak Am… Kita juga baru dikasih tahu tadi malam pas pulang dari rumah elo.”

Ama kemudian tertunduk diam, rasanya ia ingin menangis tapi ia tahan karena tidak ingin dilihat oleh Dimas dan Setya.

“Tenang, kan ada telpon, ada bbm, ada facebook. Kita masih bisa berhubungan kok.” ucap Setya sambil memegang pundak Ama. Kemudian Dimas juga ikut memegang pundak Ama. Ama lalu mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum sambil memandang wajah sahabatnya yang akan pergi meninggalkannya.

***

DIMAS MY LOVE                                                                                                   01.15 AM

Tidak terasa besok kamu akan pergi meninggalkan aku. Meski kita masih bisa ngobrol lewat sosmed atau telpon. Tapi aku rasa itu semua tidak cukup Dims. Entah bagaimana nanti besok, Pasti rasanya terasa aneh. Aku tidak bisa lagi melihat senyum kamu secara nyata.

Dan perasaan ini?

Aku tidak tahu, apakah dia juga akan pergi mengikuti kamu.

Entah.

Esok diari ini aku akan berikan ke kamu sebagai kenang-kenangan dari aku yang entah apakah suatu hari nanti bisa bertemu kamu atau tidak.

G. nite Dimas ku,

I LOVE YOU

AMANDA DJULLYSYAH.

SENIN, 15 FEBRUARI 2014.

Ama kemudian menutup diarinya. Dimasukkan diari bersampul kotak-kotak berwarna merah itu ke dalam laci meja. Kemudian berbaring di atas tempat tidur dengan menyamping sambil memeluk guling.

***

Februari. Bulan yang menjadi saksi di mana Ama memiliki detak terhadap sahabat kecilnya. Dimas Pratama. Dan di tahun ini, Februari menjadi saksi perpisahan mereka.

Pesawat yang Dimas tumpangi akan terbang sekitar pukul enam pagi. Satu setengah jam sebelumnya Ama sudah bangun. Sengaja alarmnya disetel lebih awal karena dia sering lamban dalam bergerak.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, segera Ama menarik lacinya untuk mengambil diarinya, terlihat tas punggung berbahan jeans berada di atas mejanya dengan resleting sudah terbuka.

“Ama…”teriak Mama Ama dari arah dapur.

Ama terhenti sejenak “Iyah ma… kenapa?”

“Sini sebentar, Nak!”

“Iya tunggu…” balasnya kemudian bergegas segera ke arah suara mamanya.

Pesawat yang Dimas tumpangi sejam lagi akan berangkat. Terlihat Ama dengan langkah yang sedikit terburu-buru menarik tas di atas mejanya. Dipakainya tas itu kemudian berjalan ke luar rumah.

“Ma, aku pergi yah…” teriaknya.

“Iya…! Hati-hati!” balas mamanya dari dalam kamar.

Dinyalakan gas motor metiknya yang terparkir di depan rumah, lalu ditinggalkannya halaman rumah itu menuju bandara.

Embun masih jelas terlihat hinggap di tanaman. Suasana sepanjang jalan masih terlihat sepi. Sekitar dua puluh menit lagi Ama akan sampai di tujuan.

Di tengah perjalanan, ada sebuah motor yang membuat hatinya tidak tenang. Dua orang pemuda berboncengan sejak tadi terus mengikutinya. Ama memandang lagi spion motornya. Laki-laki bermasker hitam itu masih mengikutinya. Ama menaikkan kecepatan laju motornya, lelaki itu juga ikut melaju motornya.

“Ya Allah!” Teriak Ama dalam hatinya penuh ketakutan.

Motor yang mengejarnya kini tepat di hadapannya menghadang. Boncengan laki-laki yang menghadang kini turun menghampiri Ama. Lelaki itu menaikkan kaca helmnya, kemudian menurunkan masker yang ia kenakan. Wajahnya datar, brewoknya membuat Ama makin ketakutan.

“Mbak, resleting tasnya terbuka tuh!” Lelaki itu menunjuk tas Ama. “Tadi saya klakson-klakson tapi mbak malah balap.” tambahnya.

“Saya buru-buru soalnya. Terima kasih banyak, Pak.” ucap Ama yang kini berhati lega.

Dua pria itu kemudian pergi meninggalkan Ama. Hati Ama kini menjadi lega. Tapi itu hanya sejenak, tiba-tiba ia dikejutkan kembali dengan diari miliknya.

Segera ia periksa isi tasnya. Diarinya tidak ada. Baru diingatnya, ia lupa memasukkan diari itu saat dipanggil oleh mamanya tadi.

Segera ia putar balik motornya lalu melaju cepat ke rumahnya.

***

Semua isi laci bahkan lemari telah Ama buka, tapi diarinya tidak ia temukan. Kini ia tunduk melihat ke bawah tempat tidurnya, hanya kosong yang ia temui. Dilihatnya juga pada bawah bantalnya sama hasilnya juga tidak ada.

“Jangan-jangan diarinya jatuh di jalan? Ya Tuhaan!!” teriaknya menepuk jidat.

Dipandangnya jam tangannya “Astaga! Tiga puluh menit lagi Dimas berangkat!”

Segera ia berlari ke luar, mengunci pintu, lalu membawa motornya dengan kecepatan empat puluh lima kilometer per jam.

***

Setelah memarkirkan motornya, Ama berlari untuk menemui Dimas. Hingga langkahnya ia hentikan karena melihat wanita paruh baya di hadapannya.

“Mama? Ngapain?” tanya Ama.

“Mama antar Dimas sama keluarganya. Kamu pergi ke mana tadi pagi sekali? Padahal mama rencananya mau ajak kamu sama-sama antar Dimas. Pesawat Dimas baru saja berangkat, mereka semua titip salam ke kamu.”

Ama terdiam memandang wajah mamanya, seketika tubuhnya dibuat lemah karena ucapan wanita itu barusan, kalau Dimas sudah berangkat.

“Ma, aku balik.” ucapnya singkat, lalu berbalik meninggalkan mamanya. Raut wajah wanita itu berubah sendu melihat putrinya yang tidak sempat bertemu sahabatnya sebelum pergi.

***

Di tengah perjalanan, Ama tumpahkan semua sedihnya. Pipinya kini basah. Karena air matanya, sengaja ia turunkan kaca helmnya biar dia bebas menangis tanpa dilihat oleh orang lain.

Di dalam kamar berdinding biru laut. Terlihat Ama duduk di lantai – samping tempat tidurnya, bersama air matanya sejak di perjalanan pulang tadi. Terlihat bengkak di bawah matanya. Ditatapnya foto dengan tulisan “my lovely” yang melekat di dinding di atas meja belajarnya.

“Kenapa? Kenapa aku kembali tadi? Kenapa? Kenapa?” batinnya.

***

Tiga Tahun Kemudian

 Setya tengah dibuat sibuk dengan pekerjaan yang berawal dari hobi yang ditekuninya sejak kecil. Komik telah memberikan ia tambahan uang jajan lebih. Sedangkan abangnya kini menyandang status sebagai abdi Negara. Polisi, cita-citanya sejak kecil telah ia gapai. Dan Ama sama seperti dengan Setya, hobi juga telah mengantarnya menjadi seorang penulis novel.

Sejak enam bulan terakhir di tahun ini, Ama tidak lagi chatingan dengan Dimas. Tempatnya untuk melihat Dimas telah berganti di instagram, aplikasi yang ramai digunakan anak muda sekarang. Salah satu tujuannya memang membuka aplikasi itu, yaitu untuk melihat postingan atau story dari cowok itu sebagai obat rindunya. Yah, masih ada Dimas di hatinya.

***

Ama duduk bersandar pada sofa setelah barusan membantu mamanya mengurus barang jualan yang baru masuk. Dibukanya instagram, ada story ia temukan dari cowok berkemeja jeans navy mengenakan helm merah dengan kedua tangan ditarik ke belakang kepalanya. Itu adalah profile picture dari Dimas.

Jarinya mengetuk story itu, isinya ada cewek cantik berkulit putih sedang melakukan boomerang.

Senyum yang tadi ada di wajah gadis itu seketika hilang “Pacarnya?” tanyanya dalam hati.

***

“Pesan dari novel ini adalah jika kamu punya perasaan dengan seseorang sebaiknya diungkapkan agar kamu bisa lega dan juga tidak menyesal di kemudian hari. Namun bagi kamu yang tidak berani dengan itu maka menulislah, biar ceritamu dibaca banyak orang yang bisa jadi di antaranya ada orang yang kamu singgung di situ.” ucap Ama sebagai jawaban terakhir dari bagian tanya jawab di acara launching novelnya yang kedua. Pembicaraan selanjutnya diambil kembali oleh MC.

Launching telah selesai, Ama pun bersiap pulang. Saat berjalan ke luar toko buku itu, ia melihat seseorang yang tidak jauh di hadapannya, langkahnya pun ia hentikan karena itu. Pemuda dengan kemeja hitam lengan panjang, postur tubuhnya tegap gagah, sedang melipat tangan sambil tersenyum memandang Ama.

“DIMAS!” mata Ama membesar ikut terkejut dengan kehadiran Dimas di sini.

Mereka saling berpandangan. Waktu terasa seperti berhenti sejenak.

“Kamu kapan datang?” tanya Ama. Ingin rasanya ia memeluk erat-erat sekuat tenaga pada cowok yang sedang di hadapannya itu.

“Tadi malam, aku tadi ada rencana mau ajak kamu ke pantai. Tapi kayaknya kamu capek deh.”

“Ah, enggak kok. Tadi cuma duduk-duduk sebentar aja.”

“Jadi bisa?”

“Bisa…” balas Ama tersenyum. Masih dipandangnya wajah sahabatnya itu dengan sedikit menengok karena tubuh Dimas yang tinggi. Baru lagi ia jumpai senyuman manis itu.

***

Langit dengan pemandangannya sedang menyambut kedatangan orange. Ada ombak dan angin yang tenang membuat kita nyaman berada lama-lama di situ.

Terlihat dua insan duduk tidak jauh dari tepi pantai, pandangan mereka pada pantai yang tenang itu.

“Dims, maaf yah aku nggak datang waktu kamu akan pergi.” Ama membuka percakapan.

Dimas hanya mengangguk tersenyum.

“Pacar kamu sekarang siapa?”

“Tidak ada.”

Jawaban Dimas barusan membuat Ama mengalihkan pandangannya pada Dimas yang masih memandang pantai. Pikiran Ama terbawa pada saat ia melihat story Dimas dua hari yang lalu. Wajah perempuan cantik itu masih jelas di ingatannya.

Dimas mengalihkan pandangannya pada gadis di sampingnya. Kini mereka saling berpandangan. “Pasti di pikiran kamu sekarang ada cewek yang di story aku kemarin dulu kan? Tenang, dia cuma teman kerja aku saja. Dia memang sering begitu sama teman lain juga, dia kayak gitu. Setelah buat story, pasti dia tag dirinya sendiri, katanya sih buat tambah-tambah follower” jelasnya lalu menggelengkan kepala kemudian tertawa kecil.

“Aku senang kamu masih suka sama aku, pemilik senyum manis.”

Alis Ama mengerut karena ucapan Dimas barusan.

“Asal kamu tahu, aku sering baca isi blog kamu, bahkan sebelum kamu memasukkan link blog kamu di caption foto yang kamu upload di facebook.” ucap Dimas lalu mengeluarkan sebuah album tebal dari dalam tas di sampingnya. Album merah bermotif kotak-kotak, di sampul depannya tertulis UNTUK DIMAS PRATAMA.

“Ha!” Ama terkejut melihat diari yang ia cari di tiga tahun kemarin ada pada Dimas.

“Waktu di bandara, mama kamu bilang ada kenang-kenangan dari kamu dalam kardus yang dia bawa. Dia lihat album ini dalam laci kamu waktu mau ambil isolasi buat nutupin kardus oleh-oleh buat keluargaku. Kata dia, mungkin kamu lupa kasih ke aku.”

“Astaga, aku pikir diari ini jatuh di jalan Dims,”

By the way, kamu tidak capek yah dari dulu sampai sekarang hobinya nyinggung aku di sosmed terus? Capek tahu ge-ernya. Oh iya, aku first love kamu yah, duh…jadi malu.”

Ama malu mendengar ucapan Dimas barusan, ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya.

“Malah dibuatkan tokoh lagi dalam novel, enggak pernah nyangka sama sekali bisa jadi tokoh dalam novel yang dibaca banyak orang,” tambah Dimas.

“Duh…sudah dong bicara seperti itu, aku maluu,” Ama masih menutup wajahnya. Di sampingnya ada Dimas yang kini tertawa lepas melihat tingkah Ama.

Dimas menurunkan tangan Ama sehingga terlihatlah wajahnya yang memerah karena malu “Ama… lihat aku.”

Gadis itu mengikuti ucapan Dimas barusan. Diangkatnya wajahnya memandang Dimas.

“Aku juga suka sama kamu. Sejak aku pindah di kontrakan itu lalu melihat kamu, rasa itu mulai ada dan terus berkembang. Dan soal Rere? Aku hanya senang dengan anak itu, karena baru pertama kali saat itu aku lihat ada cewek yang hobinya sama persis dengan aku. Tapi aku senang sih kamu cemburu. Ama. Aku ingin kamu jadi bagian terpenting dalam hidup aku, menjadi tempatku bersandar saat suatu ketika masalah dunia menghampiriku. Terimalah aku menjadi penguasa hatimu yang nyata Am.”

Ama hanya terdiam memandang Dimas yang barusan melamarnya, bibirnya terasa berat untuk berkata apapun, sementara matanya telah dibuat berkaca-kaca.

“Ama?” tanya Dimas.

Masih dipandangnya wajah Dimas. Tak lama kemudian, ia mengangguk. Disekanya air matanya yang jatuh “Iya.” jawabnya menerima lamaran Dimas.

Dimas begitu senang dengan ucapan yang ia dengar barusan. Itu adalah ucapan paling indah dari ucapan indah yang ia dengar sebelumnya. Dipeluknya gadis itu. Kemudian tangannya mengambil kotak hitam dari dalam sakunya.

“Rencananya, kalung ini akan aku kasih ke kamu saat di bandara. Tapi kamu tidak datang saat itu. Kenapa aku tidak titip saja ke mama kamu? Karena aku maunya kalung ini aku berikan langsung dari tangan aku ke kamu. Dulu aku sempat bilang, kalau kita jodoh, Tuhan pasti mempertemukan kita lagi.” ucap Dimas. Kemudian kalung itu ia pasangkan di leher Ama.

“DUA?” tanya Ama kini memegang mainan kalung itu.

“Dimas Untuk Ama. Kalau Ama Untuk Dimas jelek dibacanya, masak AUD?”

Ama tertawa kecil mendengar itu. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada Dimas. Dimas menyambutnya dengan hangat. Dikecupnya kening gadis yang kini tengah bersandar pada dirinya.

SELESAI.

45 dukungan telah dikumpulkan

Comments