Dunia Dalam Dirinya

3 months ago
Andry Chang

by: Andry Chang

“Nah, aku telah menemukan Pedang Damocles dan telah mengalahkan Morgoth dengan pusaka dewata itu. Kini duniamu telah selamat, kau bisa tenang dan tidur nyenyak sekarang,” kata seorang wanita berambut pendek. Senyum dari wajahnya yang bermake-up sewajarnya cukup untuk membangkitkan simpati, keyakinan dan rasa percaya dari lawan bicaranya.

“Ah, terima kasih bu dokter,” ujar sang pasien, seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang berwajah tirus, mengenakan kaca mata tebal dan bertubuh kurus-kering. “Ibu benar-benar hebat sekali, sudah membantuku dalam misi suciku ini.”

“Tak masalah. Tapi sekali lagi tolong, Julius, jangan beritahukan pada siapapun tentang invasi Morgoth dan caraku mengalahkannya. Biar ini jadi rahasia kecil antara kita berdua, janji?” Si dokter cantik main mata dan mengacungkan jari kelingkingnya.

Julius mengaitkan jari kelingkingnya sendiri di jari penolongnya. “Ya, bu, aku janji.”

“Baiklah. Silakan ke kasir untuk pembayaran biaya terapi dua jam…”

==oOo==

Dua hari kemudian, setelah menangani beberapa kasus “biasa”, ruangan praktek Dokter Hilda Ambarwati didatangi seorang anak laki-laki berusia kira-kira sepuluh tahun yang tampak kejang-kejang, dipapah oleh ibunya.

Dengan panik sang ibu berseru, “Tolong, bu dokter! Anak saya, Ricky sudah kejang-kejang sejak kemarin malam. Saya sudah membawanya ke terapis lain, namun ia malah angkat tangan dan memberikan alamat ibu. Saya mohon, tolonglah Ricky! Sudah delapan tahun ia menjalani terapi autisme dan menunjukkan perkembangan yang amat pesat, hampir bebas dari penyakitnya itu, tak kusangka bisa begini jadinya!”

Dokter Hilda tercenung sejenak. Lalu ia mengangguk. “Baiklah, saya akan menolong Ricky. Nah, silakan ibu menunggu di luar…”

“J-jangan, bu! Biasanya Ricky mau menurut kalau saya mendampinginya.”

“Dalam kasus semacam ini, saya butuh berdua saja dengan Ricky. Mohon pengertian dan kerjasama ibu. Percayakan saja anak ibu pada keahlian dan reputasi saya, biarkan saya bekerja dengan leluasa dan seprofesional mungkin.”

“Tapi…!”

Sang dokter bergeming, ia hanya menatap tajam lawan bicaranya. Sikapnya sudah jelas.

Hampir semenit berlalu, akhirnya ibu Ricky menghela napas panjang. “Aih, baiklah. Tolonglah anakku dengan sepenuh hati dan segenap tenaga.”

Hilda hanya mengangguk cepat. Inilah reputasi profesinya yang telah dibangun dengan caranya sendiri yang hanya dimengerti segelintir orang terdekatnya saja. Andai ia tak harus menggunakan “senjata rahasia”-nya, Hilda pasti mempersilakan sang ibu mendampingi buah hatinya dalam ruangan kedap suara dan tak berjendela ini.

Maka, kini Dokter Hilda tinggal berdua saja dengan pasiennya. Ricky tampak terbaring kejang-kejang di ranjang terapi yang biasa dipergunakan oleh psikiater. Hilda tak bertindak, hanya duduk diam di sebelah ranjang sambil mengamati pasiennya.

Karena tak terjadi apa-apa, beberapa saat kemudian barulah Hilda mendekat. Ia menyentuh pelipis Ricky dengan kedua telapak tangannya sambil berkata lembut, “Aku Dokter Hilda. Bukalah gerbang pikiranmu, Ricky. Biarkan aku memasuki duniamu dan menyelamatkanmu.”

Ricky menjawab, namun yang keluar dari mulutnya bukan suara anak laki-laki, melainkan suara berat ala pria dewasa. “Mau masuk? Lewati aku dulu, Hilda.”

Hilda mengerutkan dahi. “Morgoth,” desisnya, mengenali suara itu.

“Ya, ini aku lagi. Bedanya, kini aku sudah bosan dikalahkan olehmu.”

“Hah! Kau tahu aku tak akan pernah membiarkanmu menang dan merusak ‘dunia’ para pasienku dan mencelakakan mereka, yang berarti juga merusak reputasiku.””Sudah kuduga. Jadi untuk menebus kebosananku, kali ini aku mengubah aturan mainnya.”

Kerutan di dahi Hilda makin banyak, mengiring firasat bahwa ia takkan suka kata-kata Morgoth selanjutnya. “Apa saja yang berubah?”

“Satu, tak akan ada Pedang Damocles dalam dunia ini,” ujar Morgoth dalam diri Ricky.

“Lagipula, dua, kau tak kuizinkan memasuki benak pasien ini!”

“Apa?” Hilda mulai meradang. Ingin ia menerobos hadangan saja dengan mengerahkan segenap energinya. Namun bila ia mengumbar itu, energi gaib dalam tubuh Hilda takkan cukup untuk mengalahkan Morgoth, si perusak dunia-dunia itu.

Pemikiran itulah yang membuat wajah tegang Hilda akhirnya mengendur. “Baiklah, Morgoth. Kita mainkan saja dengan aturanmu. Nah, bisa kita mulai?”

Morgoth lantas menampilkan citra bayangannya di samping tubuh Ricky yang kini tak kejang-kejang lagi. Penampilannya seperti pria foto model berpakaian amat rapi, lengkap dengan setelan jas, dasi, kemeja dan celana serba hitam. Senyuman pria itu mampu meluluhkan hati tiap wanita yang memandangnya.

“Ikut aku, lakukan apapun yang kuperintahkan dan ikutilah tiap petunjuk yang ada. Bila kau berhasil lulus dari rangkaian ujian dariku, kau akan menemukan roh Ricky yang kusandera di suatu tempat dan aku akan membebaskannya tanpa harus adu senjata denganmu lagi. Nah, kejar dan tangkap aku kalau kau bisa!” Citra bayangan Morgoth lenyap seketika. Gantinya, Ricky tiba-tiba bangkit dan berlari keluar dari ruang praktek yang tak terkunci.

“Hei, tunggu!” Terperanjat, Dokter Hilda bangkit dan berlari mengikuti Ricky.

Aneh memang, tubuh Ricky terhitung cukup gempal, namun lari dan gerakannya secepat dan selincah atlit dewasa. Untunglah Hilda gemar berolahraga dan berlatih ilmu beladiri dengan teratur, jadi ia dapat terus membuntuti anak yang kerasukan Morgoth itu.

Wajar saja, di ruang tunggu ibu si pasien menghadang. “Ricky, mau ke mana? Dokter, tolong tahan dia!” Anehnya, di mata Hilda, sosok ibu Ricky telah berubah menjadi gorgon, siluman wanita setengah ular bernama Euryale dalam Mitologi Yunani.

Suara batin Morgoth terngiang. Terobos Euryale. Ia tak boleh ikut campur.

Dengan gesit Ricky menyelinap, menerobos hadangan si siluman.

“Maaf bu, ini bagian dari terapi,” tutur Hilda sehalus mungkin pada monster di hadapannya itu. “Biar kukejar Ricky.” Hilda juga menyelinap secepat mungkin, matanya menghindari tatapan tajam si ibu yang seakan dapat membuat “korban”-nya serasa membatu.

Murka, “Euryale” yang ternyata tak gesit itu hanya berteriak, “Pak Satpam, tahan mereka!”

Hilda terus berlari mengejar Ricky ke pintu keluar klinik. Namun tampak dari arah meja satpam sesosok monster lain berwujud manusia bertubuh teramat kekar, berkepala banteng dan berkulit kelabu menghadang, anehnya ia mengenakan seragam satpam.

Hilda tahu makhluk itu disebut minotaurus, namun sejatinya ia adalah… “P-pak Chairil? Biarkan kami lewat, pak!” serunya.

“Berhenti kalian!” Si satpam merentangkan kedua tangannya. “Ini permintaan klien.”

“Tak bisa, pak, masalahnya pelik sekali…” Hilda berusaha menjelaskan situasinya, mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada orang yang jelas-jelas awam tentang “metode unik”-nya ini. “Pasien mengamuk dan lari amat gesit! Lihat, ia telah menyelinap, melewati hadangan bapak.”

Melihat Ricky telah lari ke jalan, si satpam minotaurus itu mendengus kesal. “Kutahan ibu dulu, baru kutangkap anak kecil itu!”

Hajar dia, ujar suara batin Morgoth.

Hilda protes, Apa? Aku tak boleh…!

Lumpuhkan satpam itu. Kalau tidak, kubunuh Ricky dan kurebut dunianya sekarang juga!

Sambil berdecak jengkel, Hilda terpaksa merangsek maju. Ia melancarkan tendangan ganda sambil berputar dengan gaya ilmu beladiri taekwondo ke arah lawan. Kedua tendangan itu mendarat tepat di dahi dan pangkal leher si kepala banteng. Chairil terpaku sesaat, lalu tubuh besarnya tumbang ke arah depan dan jatuh berdebam di lantai klinik. Si minotaurus dalam benak Hilda itu bergeming.

“Maaf, Pak Chairil. Kuterima surat pengunduran dirimu besok pagi,” kata Hilda sambil berlari, melewati pintu keluar yang terbuka. Ia lantas bergumam sendiri, “Lagipula aku tak pernah suka pada satpam sok jago tapi dua kali tendang langsung tumbang itu.”

Hilda menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Tampak Ricky sedang menunggunya sambil bersandar santai di tiang listrik dekat perempatan di ujung seberang jalan. Hilda lantas bergegas hendak menyeberang jalan, namun ia terperanjat. Yang berlalu-lalang di jalan itu bukan mobil, motor atau semacamnya, melainkan pelbagai jenis satwa liar dan satwa buas. Pergerakan satwa-satwa itu amat cepat, seolah-olah mereka takkan ragu menerjang siapapun yang menyeberang.

Setelah seekor badak dan tiga singa melintas, saat jalanan agak lengang Hilda menyeberang. Namun tiba-tiba dari arah berlawanan seekor gajah berderap dengan kecepatan tinggi, menerompet dengan bunyi “telolet” yang amat keras, membuat Hilda terlonjak. Tak sadar ia malah melangkah mundur.

Seekor babi hutan menyeruak dan hendak menyeruduk tepat di depan si dokter wanita. Tak bisa menghindar, Hilda terpaksa menendang wajah babi hutan itu, memanfaatkan gaya tolak tendangan dan melesat cepat ke seberang jalan. Tinggal si babi hutan berlalu sambil memaki, “Dasar perempuan gila!”

“Bagus!” seru Ricky dengan suara Morgoth dari kejauhan. “Ayo kejar aku lagi, kejutan-kejutan lain sudah kusiapkan khusus untukmu!” Kali ini ada kesan mesra dan keasyikan dalam nada bicaranya.

Hildapun tak menjawab dan terus lari. Raut wajahnya yang tenang dapat berarti dua hal, entah ia sedang terus fokus pada “terapi” ini atau ia sudah mulai menikmati “permainan” ini.

Tiba di sebuah taman bermain, lagi-lagi Hilda melihat keanehan. Bukan sekelompok anak kecil, melainkan monster-monster kecil dengan wujud yang beragam yang sedang bermain kejar-kejaran atau semacamnya di sana.

Persis di tengah-tengah taman itu ada sesosok naga raksasa yang berdiri tegak dan mengibas-ngibaskan sepasang sayapnya. Anehnya, angin dari kibasan sayap itu terasa sejuk. Hilda terkesiap, ia baru teringat bahwa itu sebenarnya adalah menara kincir. Fungsi menara itu adalah agar udara di ruang terbuka ramah anak itu terjaga tetap sejuk dan anak ramah yang bermain di sini tak terusik oleh panasnya Jakarta.

Suara Morgoth datang lagi. Aku benci naga itu. Karena dia, monster-monster kecil itu selalu berdatangan dan memenuhi taman kesayanganku dengan suara-suara bising mereka. Padahal aku ingin menatap daun-daun hijau dan bunga-bunga warna-warni, mendengarkan kepak sayap kupu-kupu dan kicauan burung. Aku benci monster-monster kecil itu. Aku benci naga itu! Aku benci!

Hilda terkesima. Ternyata Morgoth memendam segala rasa itu selama ini. Dendam, takut, duka, cemburu, semua itulah yang mewarnai dunianya. Ia kini menyandera roh Ricky dan telah menanamkan dunia kegelapan ciptaannya sendiri dalam benak korbannya itu.

Lantas, apa maumu? sergah Hilda lewat telepati.

Bunuh naga itu, jawab Morgoth. Bila sang naga angin mati, para monster kecil akan kepanasan dan pergi, takkan pernah kemari lagi. Taman ini akan kembali tenang lagi, hahaha!

Mata Hilda terbelalak ngeri. Ini sama sekali di luar dugaan tergilanya. Maaf, Morgoth. Kau boleh menyuruhku melakukan apapun kecuali membunuh, merusak lingkungan atau mencelakakan orang lain.

Oh, jadi kau lebih memilih mengorbankan nyawa Ricky daripada membunuh satu naga jelek saja? Tak masalah, kata Morgoth, tampil sebagai Ricky di hadapan sang dokter.

Hilda tersentak lagi. T-tunggu! Baiklah, akan kubunuh naga itu, tapi aku tak punya senjata.

Ini, pakai senjata andalanku, Tombak Osiris! Ricky melemparkan sekop yang dibawanya. Saat Hilda menangkapnya, tampak sekop biasa itu berubah wujud menjadi sebilah tombak emas bertatahkan beragam permata. Tombak Osiris adalah senjata dewata yang hanya dapat ditandingi oleh Pedang Damocles. Si Morgoth ini jelas-jelas telah mempersiapkan segala sesuatunya dalam dunia jebakan ini.

Nah, tunggu apa lagi? Cepat bunuh naga itu! seru Morgoth dengan nada memerintah.

Menggenggam erat “tombak”-nya, Hilda melangkah cepat ke tengah taman bermain. Si naga angin menghadapkan kepalanya ke arah Hilda, matanya berkilau murka melihat tombak dewata itu. Sambil mendengus, naga itu mengibaskan sayapnya makin keras. Angin laksana badai topan seketika menerpa ke arah musuh.

Tak hanya itu, langit di atas si naga yang rupanya sudah mendung sejak tadi mencurahkan hujan deras dari awan-awan hitam nan tebal-pekat. Para “monster kecil” seketika berlarian pergi mencari tempat berteduh. Sementara Hilda sendiri memutar-mutar tombaknya, mencoba menghalau terpaan badai dan terus melangkah di bawah guyuran hujan.

Saat akhirnya tiba di jarak jangkauan serang, yaitu tiga langkah di depan si naga, tubuh Hilda yang basah-kuyup sudah gemetaran. Dengan segenap tenaga ia mengayunkan Tombak Osiris, berharap membunuh sang naga dengan sekali serang. Dengan sekali kibasan sayapnya saja, naga angin bersisik kelabu itu menangkis tusukan. Akibatnya, Tombak Osiris hampir terlepas dari tangan Hilda.

Barulah Hilda sadar, naga ini lebih sakti daripada dugaannya. Setiap naga punya titik lemah, jadi ia harus memanfaatkan titik lemah itu untuk jadi sasaran empuk Tombak Osiris. Ia lantas mencoba menghunjamkan tombak ke pangkal leher sang naga. Namun tiba-tiba naga itu menyemburkan halilintar dari moncongnya. Tersambar dan tersetrum petir, wanita itu hingga terpelanting dan jatuh tersuruk di tanah berumput.

Hilda bangun kembali dengan rambut acak-acakan kulit kehitaman. Ia mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Melihat sang naga yang masih berdiri tegak, ia kini malah tersenyum. “Tamatlah riwayatmu,” desisnya.

Membuktikan sesumbarnya, Hilda berlari maju. Ia lantas melompat dan melemparkan Tombak Osiris ke arah si naga. Anehnya, tombak itu malah menancap di ketiak sang naga. Jawaban untuk tindakan aneh Hilda itu datang hampir seketika. Halilintar kembali menyambar tepat di kepala naga, benda tertinggi di lapangan bermain itu. Aliran petir merambat seketika di sekujur tubuh naga, juga Tombak Osiris. Selain gagang tombak yang menghambat kepakan sayap, ujung tombak itu juga rupanya mengenai jantung naga. Aliran petir yang dihantarkan ujung tombak seakan membantu menghancurkan tubuh sang naga dari dalam. Alhasil, kepakan sayap naga terhenti seketika.

Tak hanya itu, petir yang terkonsentrasi di titik tancapan ujung tombak membuat tubuh sang naga bengkok ke satu sisi seakan patah. Sang naga kini tak lagi jadi yang paling tinggi di taman ini. Sosoknya berubah seketika menjadi menara kincir angin yang bagian puncak sampai tengahnya telah patah dan tumbang.

Masih tertunduk di bawah guyuran hujan, mata Hilda yang seakan menitikkan air mata hitam karena eyeliner-nya luntur itu makin nyalang menatap Ricky. Anak laki-laki itu malah bertepuk tangan dan bicara dengan suara Morgoth, “Bagus sekali, Dokter Hilda. Akhirnya ada yang membantuku membunuh monster yang telah bertahun-tahun menggangguku itu. Terima kasih. Nah, sekarang ikutlah aku untuk mengambil imbalanmu.”

Sebelum Hilda sempat menyampaikan protes atau apapun, Ricky sudah berbalik dan lari lagi. Terpaksa, walau tubuhnya sendiri masih terasa nyeri akibat sambaran petir tadi, Hilda berlari mengikuti Ricky. Untunglah tubuh Hilda cepat pulih berkat kesaktiannya, membuatnya selalu menjadi tandingan sekaligus musuh bebuyutan Morgoth.

Selama setengah jam Hilda terus berlari tanpa henti di bawah guyuran hujan deras. Tak ingin jatuh terpeleset, Hilda terpaksa membuka dan memegang sepasang sepatu femininnya, berlari tanpa alas kaki. Kedua kakinya jadi berdarah dan kuku-kukunya rusak, namun itu sepadan demi menyelamatkan nyawa.

Beberapa menit lagi berlari, Hilda akhirnya melihat Ricky berdiri persis di depan pintu sebuah gedung rumah-kantor yang amat kumuh dan lama tak dicat ulang, seakan sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Saat Hilda menghampiri Ricky, Morgoth berkata, “Nah, roh Ricky ada dalam kotak musik dalam kamar dekat jendela lantai tiga, tepatnya di sana.” Ricky menunjuk ke jendela yang dimaksud. “Ambillah, bukalah dan simpanlah kotak musik itu sebagai hadiah dan tanda terima kasihku untukmu.”

Tak mau berbasa-basi, Hilda bergegas hendak masuk lewat pintu depan. Namun suara Morgoth masih terdengar olehnya. “Oh ya, tapi hati-hati! Para penghuni baru rumah lamaku itu sangat berbahaya.”

Rumah lama Morgoth? Pengetahuan baru itu membuat Hilda menghentikan langkahnya. Namun sesaat kemudian ia mengurungkan niatnya itu dan kembali melangkah masuk.

Saat menyusuri koridor yang cukup lebar menuju tangga di ujung rukan, tiba-tiba sesosok pocong, mayat hidup yang diawetkan menghadang Hilda. Bedanya dengan pocong biasa, pocong itu tak melompat-lompat dan kain kafan hanya membungkus dari ujung kepala hingga ke lututnya saja. Si pocong menghardik, “Hei, sudah bosan hidup kau? Nekad sekali, perempuan sepertimu memasuki tempat rahasia kami!”

Hilda baru sadar, tempat ini adalah sebuah jebakan. Pocong yang menghadangnya itu pasti sesungguhnya seorang penjahat dan rukan ini adalah tempat persembunyian geng penjahat.

“Maaf, kukira tempat ini kosong. Aku sedang mencari satu barang milik temanku dalam rukan ini…”

“Jangan banyak alasan! Masuk kemari berarti mati! Teman-teman, ayo ‘lalap’ perempuan cantik ini!” Beberapa pocong lainnya yang serupa dengan pocong pertama berlarian menuruni tangga dan keluar dari kamar-kamar. Sesaat kemudian, Hilda terkepung puluhan pocong. Jalan lari lewat pintu masuk rukanpun sudah tertutup rapat oleh pagar betis para monster-hantu itu.

Daripada dikeroyok, Hilda lebih dulu beraksi. Rentetan pukulan dan tendangannya secepat kilat mendarat telak di tubuh para pocong dekat tangga itu hingga mereka bertumbangan.

Melihat celah terbuka, Hilda berlari menuju tangga. Lengah sesaat, satu tendangan musuh mendarat di rusuknya. Mengerang kesakitan, ia cepat bangkit lagi karena empat pocong telah menyerbunya. Aneh, Hilda malah meringkuk rendah-rendah di tanah. Lalu ia melompat tinggi-tinggi sambil menendang berkali-kali ke kepala para pocong itu. Alhasil, keempat musuh bertumbangan tak sadarkan diri dan Hilda bergegas menaiki tangga.

Beberapa pocong lain menghadang Hilda di tangga. Dengan cerdik si jagoan taekwondo menghajar kaki tiap pocong itu dan membuat mereka jatuh berguling-guling ke bawah.

Sesampainya di lantai tiga, Hilda mulai berlari ke arah kamar dekat jendela depan rukan. Namun langkahnya kembali terhenti melihat sesosok monster mengerikan di depannya.

Wujud tubuh atas monster itu sama dengan rekan-rekannya yang lain, yaitu pocong. Bedanya, sepasang tangannya yang tak tertutup kafan berbentuk capit-capit raksasa. Sementara tubuh bawahnya berwujud seekor kalajengking raksasa, lengkap dengan ekor yang berujung lancip sebesar mata tombak. Di saat itulah sepercik pikiran melintas di benak Hilda, ia berharap sedang memegang Pedang Damocles andalannya saat ini.

“Huh, dasar para anak buah tak berguna! Biar aku saja yang menghabisi perempuan ini!” Dari nada bicaranya, si pocong-kalajengking ini jelas-jelas adalah ketua geng penjahat.

Dengan suara-suara laksana letusan pistol, sang ketua menyabetkan ekor raksasanya yang dapat memanjang ke arah sasarannya. Kewalahan, Hilda bergerak dan melompat kesana-kemari selincah mungkin agar tak terkena serangan mematikan itu. Malang, ujung ekor kalajengking sempat menyerempet betisnya, membuat pergerakannya makin lamban.

“Haha, mati saja kau, perempuan gila!” Dengan penuh keyakinan, si pocong-kalajengking kembali melesatkan ekor beserta kedua capitnya untuk menghabisi si penyusup.

Ajaib, Hilda berhasil menghindari tiga serangan beruntun itu dengan kembali melompat tinggi-tinggi. Rupanya ia sudah pulih dengan cepat dari serempetan tadi. Tak hanya itu, ia bersalto di udara dan mendaratkan rentetan tendangan di kepala dan tubuh atas si siluman yang berwujud pocong. Siluman pocong-kalajengking itu roboh dan pingsan. Lantas Hilda mendarat dan tersuruk di lantai, posisinya kini rentan serangan dan keroyokan para anak buah penjahat.

Saat itu pula terdengar hiruk-pikuk dan baku-tembak dari lantai bawah. Semua penjahat di lantai ataspun rupanya sudah turun untuk membantu rekan-rekan mereka. Bisa jadi sejak tadi pihak polisi telah menguntit Hilda dan kini memberikan bantuan dengan menyerbu sarang persembunyian geng penjahat ini.

Tak mau membuang waktu, Hilda cepat-cepat memasuki kamar yang dimaksud Morgoth. Ia lantas melihat kotak musik merah yang sudah berdebu tebal yang herannya masih bertengger rapi di atas lemari kamar. Sesosok gorgon, minotaurus, naga dan siluman manusia-kalajengking tergambar indah di kotak musik berlatar merah itu.

Tanpa pikir panjang Hilda membuka kotak musik itu. Secara mekanis sepasang boneka manusia, pria dan wanita berdiri tegak dan berputar. Mereka seakan menari bersama, diiringi dentingan musik. Wajah-wajah keduanya tersenyum damai.

Suara batin Morgoth kembali terngiang, Terima kasih, Hilda. Kini Ricky telah bebas.

Seberkas asap putih lantas mengepul dari kotak musik itu dan terbang, menyelusup keluar lewat celah-celah di papan-papan kayu penutup jendela. Hilda berasumsi Morgoth telah benar-benar memenuhi janjinya. Lalu si dokter wanita melangkah terpincang-pincang keluar dari kamar sambil membawa kotak musik antik hadiah kemenangannya itu.

==oOo==

Larut malamnya…

Dengan wajah masih lebam, rambut acak-acakan dan seluruh pakaian dan tubuhnya penuh noda tanah dan darah, Hilda memasuki rumahnya yang masih diterangi lampu remang-remang. Namun dokter wanita itu tak lantas melepas lelah sejenak ataupun membersihkan diri. Ia malah melangkah gontai, memasuki salah satu kamar di lantai satu.

Hilda melihat buku-buku, termasuk buku-buku komik berserakan di lantai kamar. Ia jelas tak ingin membereskannya, karena ia terus melangkah ke arah jendela kamar. Tampak seorang pria duduk di kursi roda menghadap ke jendela sebesar pintu itu. Bayangan yang dipantulkan dari kaca menunjukkan sepasang mata yang berbayang hitam seperti mata beruang panda, pipi yang amat cekung serta tubuh yang bagai kulit membalut tulang.

Dengan lembut, Hilda lantas menaruh kotak musik merah antik di atas meja di sebelah kursi roda, membuka kotak itu dan memperdengarkan denting alunan musik nan merdu. Wanita itu lantas berdiri di belakang kursi roda, kedua tangannya memeluk lembut pundak pria kurus itu.

Dengan suara merdu mendayu-dayu Hilda bicara, “Benar-benar hari yang mengerikan. Tadi aku ditahan beberapa jam di kantor polisi. Semula aku akan menghadapi beberapa tuntutan hukum, seperti menyerang satpam, merusak tiang kincir yang adalah sarana umum kota dan membahayakan pasien yang masih di bawah umur.”

Hilda menatap bayangan di jendela sejenak. Ekspresi wajah pria di kursi roda itu tak berubah, tetap kosong seperti sedang melamun, namun ada sesuatu di matanya yang menyiratkan kebebasan dan semangat hidup yang baru dipulihkan.

Maka Hilda melanjutkan, “Akhirnya, ibu Ricky mencabut tuntutannya setelah klinik memutuskan untuk menggratiskan biaya terapi Ricky dan si ibu mau mengerti setelah menerima penjelasan panjang-lebar tentang metodeku. Lagipula Ricky kini sudah pulih seperti semula dan kembali di ambang pintu kebebasan dari autisme. Pemerintah kota juga mencabut tuntutannya karena tindakanku tadi itu telah mencegah petir terus menyambari tiang kincir sehingga bakal menyebabkan kebakaran di seluruh taman bermain. Pak Chairil, satpam kantor malah minta maaf karena salah paham dan tak jadi mengundurkan diri. Selain itu, pihak Kepolisian malah berterima kasih padaku karena telah membantu meringkus komplotan penjahat dan pengedar narkoba yang selama ini merajalela di ibukota. Yah, untuk sekarang aku bisa dibilang beruntung karena reputasiku selamat dan aku bahkan jadi pahlawan.”

Lalu Hilda mendekatkan wajahnya persis di samping wajah si pria berpipi cekung. “Terus-terang, aku senang aksimu selama ini telah mendatangkan banyak pasien yang mau membayar mahal untuk terapi istimewaku,” desisnya. “Tapi camkan ini baik-baik. Kalau kau entah sengaja atau tidak menjebakku dalam kesulitan seperti tadi, aku takkan mengampunimu lagi… Morgoth.”

331 dukungan telah dikumpulkan

Comments