Dunia Sebelah Pun, Kekinian

9 months ago
Sumber: Somei
Somei

by: Somei

“Beth, kamu dengar suara musik itu?” Kucolek bahu Bethany yang berbaring di sampingku.

Bethany membuka mata, menatapku dengan kedua alis terangkat tinggi. Mulutnya membentuk kata “Apa?” tanpa suara.

Kujulurkan kedua tanganku ke kedua telinga Bethany, menarik lepas headset yang dikenakannya. Bethany berusaha mengambilnya. Aku menyembunyikannya di belakang punggung.

“Lise, kembalikan headsetku. Aku perlu mendengarkan lagu-lagu pengantar tidurku agar terlelap.”

“Evanescence? Korn? Linkin Park? Atau Metalica?”

Bibir Bethany membentuk seringai lebar, penuh kemenangan saat menjawab, “Suicide Silence.”

Aku menggelengkan kepala. Bethany tahu aku sama sekali tidak tahu band metal yang dia maksud. Seperti aku tidak tahu bagaimana musik metal yang mengoyak gendang telinga bisa membuai Bethany, mengantarkannya ke alam mimpi. Sungguh. Aku tidak mengerti. Bagiku, lagu pengantar tidur haruslah alunan musik lembut….

Seperti alunan musik yang kembali aku dengar.

Aku kembali menatap Bethany. “Kamu dengar itu, Beth?”Kedua alis Bethany bertaut. Dua kerutan terbentuk di keningnya. Aku tahu, Bethany berusaha menangkap alunan samar nada-nada yang dibawa angin. Kemudian, kerutan di kening Bethany bertambah. “Sepertinya….musik klasik?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk. “The Four Seasons, Vivaldi,” jawabku dengan yakin.

“Yeah, aku bukan pecinta musik klasik sepertimu, Lise. Jadi, aku percaya saja.”

Aku tersenyum. Selera musik kami berdua, bisa dibilang unik. Walau Bethany dan aku kembar identik, tapi kami mempunyai selera musik yang bertolak belakang. Bethany penggemar berat musik metal. Sedangkan aku jatuh cinta pada musik klasik. Aneh kan?

“Hei, Lise, siapa yang memainkan musik hampir tengah malam begini?”

“Itu juga yang aku pikirkan.”

Kami berdua saling menatap, berkomunikasi lewat mata. Bagaimana pun juga, kami kembar, kami hampir selalu merasakan dan memikirkan hal yang sama. Seperti saat ini. Mata kami mengutarakan pertanyaan yang sama. “Siapa yang memainkan musik klasik di tengah perkebunan apel yang luas?”

Alis Bethany kembali bertaut. “Apa para pekerja kebun sedang mengadakan pesta?”

Aku menggeleng. “Rasanya tidak. Mereka selalu mengadakan pesta di pemukiman. Dan, biasanya mereka memainkan lagu-lagu jawa dengan gamelan atau dangdut. Iya kan?”

Bethany mengangguk. “Iya sih.”

“Dan, suara musik mereka tidak pernah sampai ke sini. Jaraknya terlalu jauh.”

Bethany kembali mengangguk. “Iya ya, Lise. Jarak rumah oma dengan pemukiman mereka lumayan jauh, dipisahkan berhektar-hektar kebun apel. Kalau begitu, siapa yang memainkan musik?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Bethany. Mataku menatap korden hijau tua yang menutupi seluruh kaca jendela. Pikiranku memilah fakta yang ada. Rumah oma dan rumah pak Herman, dipisahkan oleh kebun apel luas milik pak Herman. Untuk mencapai rumah pak Herman, diperlukan hampir tiga puluh menit berkendara dengan mobil.

Fakta lainnya, setiap kali ada acara di rumah pak Herman, salah satu anak atau pekerja pak Herman selalu menemui oma, meminta kehadiran oma di pesta mereka.

Kecuali, pak Herman tahu oma sedang berlibur ke rumah tante Emma dan mengira rumah ini kosong, jadi tidak ada yang datang kemari untuk memberi tahu kalau ada pesta disana. Masuk akal. Tapi….

“Hei, Lise.”

Aku menarik turun tangan Bethany yang dilambaikan di depan wajahku. Sekejapo kemudian, aku melompat turun dari tempat tidur.

“Kamu mau kemana?” Kening Bethany kembali berkerut melihatku memakai jeans.

“Mencari asal musik ini.”

“Kamu gila ya?”

“Tidak. Hanya penasaran.” Aku meraih jaket tebalku dan memakainya.

“Lise, sekarang jam sebelas malam. Tidak bisakah kamu menyimpan rasa penasaranmu itu sampai besok pagi? Aku akan menemanimu mencari tahu siapa yang memutar musik.”

“Tidak bisa. Aku perlu mencari tahu. Sekarang.” Aku meraih pegangan pintu.

“Kamu akan meninggalkan aku sendiri, Lise? Di rumah tua ini? Tega sekali kamu.”

Aku bisa mengendus sikap manipulatif Bethany. “Kamu akan baik-baik saja di sini, Beth. Aku juga tidak akan lama.”

“Lise, aku adikmu. Seharusnya kamu tetap disini bersamaku, menjagaku. Bukannya meninggalkan aku sendiri. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kamu pergi?”

Aku menghela napas. Menjadi penggemar musik cadas tidak membuat Bethany sekuat cadas. Ini, hal lain yang tidak aku mengerti. “Well, kamu bisa ikut denganku.”

Bibir Bethany mengerucut.

Aku melihat jam dinding dan mulai menghitung. “Dua puluh. Sembilan belas….”

“Elise.”

“Tujuh belas. Enam….”

“Kamu menyebalkan setiap kali kamu melakukan ini padaku.”

Aku menyimpan senyumku saat Bethany melompat turun dari tempat tidur, mengenakan jeans dan jaketnya dengan cepat. Seharusnya Bethany sadar, aku ini kakak kembarnya yang lahir sepuluh menit lebih cepat darinya, tentu saja aku tahu trik-trik yang dia gunakan, seperti aku tahu cara mengatasinya.

***

“Lise, aku yakin mataku tidak rabun atau minus. Tapi, kenapa mataku melihat pesta besar dengan hidangan dan hiasan megah di tengah kebun apel? Aku mengalami halusinasi atau apa?”

“Bukan halusinasi, Beth. Aku melihat yang kamu lihat. Termasuk laki-laki dan wanita rupawan dalam balutan pakaian indah di sana.”

“Hem-hem. Dan aku yakin mereka bukan pekerja kebun, istri atau anak mereka.”

Aku mengangguk. “Itu juga yang aku pikirkan.” Aku melirik Bethany, “Siapa mereka?”

Bethany mengedikkan bahu.

Bethany dan aku bersembunyi di antara bayangan pohon-pohon apel, mengamati pesta meriah yang berlangsung di depan kami. Kami berdua terpesona dengan yang kami lihat.

Tapi, aku merasa ada yang sesuatu yang tidak biasa dengan orang-orang itu dan pesta mereka. Aku tidak tahu apa. Hanya saja, ada yang aneh.

Keningku berkerut saat menyadari sesuatu. Mereka terlalu sempurna.

“Lihat gaun mereka, Lise,” Bethany mendesah, “Begitu indah, membuat iri.”

“Setahuku, kamu tidak suka memakai gaun, terutama gaun-gaun semacam itu. Lemari pakaianmu penuh dengan kaos bercorak aneh, jeans robek dan jala nelayan.”

Bethany mencubit pipiku. “Itu baju wajibku saat menonton konser metal. Bukan jala ikan, kakakku sayang. Dan, aku punya beberapa gaun di lemariku.”

“Yang semuanya berwarna hitam atau abu-abu gelap.”

“Well, aku berencana membeli dua atau tiga gaun indah, seperti milik mereka.”

Kedua alisku terangkat tinggi mendengar kata-kata Bethany. “Benarkah? Terima kasih, Tuhan.”

“Lise….”

“Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?”

Suara berat dari balik punggung kami mengejutkan Bethany dan aku. Sontak kami berbalik, langsung gemetaran melihat mahluk tinggi, besar, hitam, dengan bulu lebat di sekujur tubuh.

“Lise, apa….”

Suara gedebuk memberitahuku kalau Bethany pingsan.

Aku berlutut di samping Bethany, memanggil namanya, menggoyangkan bahunya, berusaha menyadarkannya sambil melirik ketakutan ke arah mahluk menyeramkan di depanku.

Bum! Mahluk menyeramkan itu menjatuhkan dirinya.

Aku melihat kepadanya, terkejut mendapati kesedihan mendalam di kedua mata besarnya.

Mahluk itu menarik lepas dasi kupu-kupu dari lehernya, melemparnya ke tanah. “Aku sudah membersihkan diri, mengenakan pakain baru, memakai parfum, merapikan bulu-buluku,” Mahluk itu menghela napas berat. “Tetap saja aku jelek, menakutkan, menyeramkan.” Makhluk itu melihat sekilas Bethany yang masih pingsan, kemudian menatapku. “Begitu menyeramkan hingga membuat dia pingsan.”

Tiba-tiba, ketakutanku hilang.

“Kamu tidak terlalu menyeramkan kok.”

Mahluk itu terkejut mendengar kata-kataku. Aku sendiri juga terkejut. Sepertinya kesedihan mendalam di kedua mata besar itu mendorongku untuk mengatakannya, menghiburnya.

Melihat sorot tidak percaya di matanya, kata-kataku kembali mengalir. “Aku tidak pingsan kan? Artinya, kamu tidak terlalu menyeramkan.”

“Tapi kamu takut padaku.”

“Itu wajar. Kamu tiba-tiba ada di belakang kami. Dan kamu, emm, berbeda.”

“Karena aku berasal dari dunia lain, yang berbeda dengan dunia kalian. Kamu bisa menebak dunia yang aku maksud kan?”

“Sepertinya begitu. Apa mereka juga sepertimu?” Aku membuat gerakan kepala ke arah tempat pesta.

Mahluk itu mengangguk. “Ya. Mereka kaumku, kuntilanak, sundel bolong, pocong, jerangkong, juga genderuwo, seperti aku.”

“Tapi tidak satupun dari mereka yang terlihat menyeramkan seperti di film-film atau diceritakan orang.”

“Karena itu yang kami tampilkan saat ini. Agar banyak orang terpedaya.”

“Begitu ya?” Aku melihat sekilas pesta di seberang, ke arah laki-laki dalam balutan pakaian rapi dan licin, kepada wanita-wanita dalam gaun-gaun indah, gemerlap. Mataku mengerjap melihat tiara indah berkilauan di atas rambut merah burgundy yang dibentuk keriting gantung. “Pesta itu, pakaian kalian, musik klasik, jujur, aku tidak pernah mengira kalian juga menyukai semua itu.”

“Karena di film kami selalu digambarkan menyeramkan dengan kain putih lusuh bernoda darah dan tanah, bukan berarti kami selalu seperti itu. Kami juga mengikuti perkembangan jaman. Kami jalan-jalan ke mall, pergi ke bioskop, menonton pertunjukan drama, mengukuti tren terbaru. Kami tidak berbeda jauh dengan kalian.”

Mulutku terbuka.

“Mengejutkan ya?”

Aku mengangguk. Aku mengamatinya. “Kamu disini untuk menghadiri pesta itu?”

“Ya.”

“Lalu, kenapa kamu malah duduk di sini? Pergilah kesana.”

Mahluk itu menggelengkan kepala. “Sepertinya, aku tidak cocok berada disana.”

“Kenapa tidak?”

“Aku terlalu menyeramkan. Aku membuatnya pingsan. Benar-benar pingsan hingga belum juga siuman.”

Aku melihat Bethany yang masih diam tak bergerak, dan memutuskan membiarkan Bethany meneruskan sandiwaranya. “Jangan kawatir. Beth baik-baik saja. Dia hanya suka sekali tidur. Terutama di atas hamparan rumput, seperti ini. Jadi, kamu bisa pergi ke pesta itu tanpa mengkhawatirkan kami.”

Mahluk itu menggeleng. “Aku tidak akan ke sana. Aku tidak pantas ada di sana.”

“Aku tidak mengerti.”

“Lihatlah diriku. Pakaian ini sangat tidak cocok denganku, terutama karena bulu-buluku. Aku juga tidak pandai segala macam dansa, Tango, Flamenco, Salsa, bahkan Hip-Hop. Sedangkan teman-temanku di sana, mereka keren sekali. Pakaian mereka, gaya mereka, tarian mereka. Huff, aku ingin seperti mereka. Aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.”

Aku mengamatinya sesaat. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang dansa dan tarian. Tapi aku bisa membuatmu terlihat lebih baik, emm, dengan sedikit merapikan bulu-bulumu. Beberapa potongan di sana-sini dan gel rambut, kamu akan sempurna dan pantas menghadiri pesta itu.”

Kedua mata besarnya membulat dan ada harapan besar disana. “Menurutmu begitu? Karena aku sangat ingin ke pesta itu. Ada, emm, seorang Kunti yang aku sukai di sana.”

Aku terkejut, sedikit terhibur melihat binar malu di kedua mata besar itu. “Kalau begitu, cari gunting, sisir dan gel rambut. Aku akan membuatmu tampil lebih baik.”

“Kamu sungguh bisa melakukannya?”

“Jika aku mempunyai peralatan yang aku butuhkan.”

“Beri aku beberapa menit untuk mencari gunting dan semuanya.

Mahluk itu menghilang begitu saja.

Sesaat kemudian Bethany sedikit membuka mata dan berbisik, “Dia benar-benar sudah pergi?”

“Dia sudah pergi, tapi akan segera kembali.”

Dengan cepat Bethany berdiri sambil menarikku. “Ayo, Lise, kita pergi dari sini.”

“Tidak bisa, Beth. Aku sudah berjanji padanya.”

“Aku mendengar janjimu. Dan menurutku kepalamu perlu diperiksa.” Bethany kembali menarikku pergi.

Aku bergeming. “Kalau kamu ingin pergi, pergilah, Beth. Aku akan tinggal sedikit lebih lama.”

“Lise….”

“Aku sudah mendapatkan gunting….hai, kamu sudah siuman.”

Bethany kembali jatuh ke tanah berumput melihat siapa yang tiba-tiba berdiri di hadapan kami.

“Dia pingsan lagi.”

Aku tersenyum. “Tidak mengapa. Bukankah sudah aku katakan dia suka tidur di tanah berumput?” Aku mengulurkan tangan. “Berikan gunting dan sisir itu. Lalu duduklah di tanah selama aku merapikan bulumu.”

“Gelnya?”

“Bawa saja dulu.”

“Oke, ma’am.”

Beberapa menit kemudian.

“Selesai. Kamu siap ke pesta itu,” kataku sambil menyerahkan kembali tube gel.

“Aku sudah terlihat tampan?”

Aku mengangguk. “Yup.”

“Terima kasih banyak. Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu? Atau kamu punya keinginan? Katakan saja, akan aku lakukan sebagai tanda terima kasihku.”

“Tidak, tidak, aku tidak menginginkan apapun. Lebih baik kamu segera pergi ke pesta itu.”

“Baiklah, tapi bagaimana dengan dia? Dia belum juga siuman.”

“Jangan kawatir. Sebentar lagi dia akan siuman. Pergilah.”

“Baiklah. Sekali lagi, terima kasih.”

“Sama-sama.”

Setelah tuan berbulu pergi, aku bersedekap, menatap Bethany yang masih melanjutkan akting pingsannya.

“Beth, kamu bisa membuka mata dan berdiri. Dia sudah pergi. Dan aku ingin pulang.”

Dengan sigap Bethany berdiri dan langsung menarikku pergi. “Ayo.”

***

Belasan menit kemudian….

“Beth, kurangi kecepatan.”

“Tidak mau. Aku ingin segera keluar dari desa ini, kembali ke kota, ke peradaban. Aku ingin sejauh mungkin dari mahluk-mahluk menyeramkan itu.” Bethany melirikku, matanya menyorotkan kemarahan. “Semua ini salahmu, Lise.”

“Salahku?”

“Ya, salahmu. Kalau kamu tidak mengikuti rasa penasaranmu dengan mencari tahu siapa yang memutar lagu The Seasons….”

“The Four Seasons,” koreksiku.

Bethany melotot. “Kesukaanmu itu, kita tidak akan bertemu hantu-hantu yang sedang berpesta itu.”

“Seingatku kamu menyukai gaun-gaun indah mereka. Bahkan berniat membeli gaun seperti itu.”

“Tidak jadi. Batal. Setelah tahu para hantu, mahluk menyeramkan menyukai gaun-gaun cantik model terbaru, aku mengurungkan niat membeli. Dan, karena mereka menyukai musik klasik, aku tidak akan mau lagi menemanimu atau siapapun ke pertunjukkan musik klasik.” Bethany menganggukkan kepala. “Konser rock jauh lebih asik dan aman dari para hantu.”

“Siapa bilang?”

Bethany menyeringai. “Lise, kita tidak melihat satu pun hantu berdandan metal atau gotik di pesta tadi kan? Itu karena mereka tidak menyukai musik metal.”

“Tidak di pesta tadi. Tapi aku tahu ada dari mereka yang juga menggemari musik rok.” Aku berhenti sejenak. “Mungkin, mereka juga mengadakan konser musik metal. Yang aku tahu, mereka mendatangi konser musik yang di adakan manusia.”

“Apa sih yang kamu katakan, Lise? Jangan mengada-ada dan mencoba menakutiku ya.”

“Aku tidak mengada-ada, Beth. Aku pernah melihat hantu menghadiri konser musik metal yang kita hadiri.”

Tanpa melambatkan mobil, Bethany menatapku, “Kamu bergurau.”

Aku menggeleng. “Kamu ingat pertunjukkan musik rock di kampus tahun lalu?”

“Ya. Kamu bersikeras pulang beberapa saat setelah pertunjukkan dimulai. Aku sebal sekali padamu waktu itu.”

“Kamu tahu kenapa aku memaksa pulang?”

“Telingamu hampir pecah.”

Aku menggeleng. “Sebenarnya, aku melihat banyak hantu di sana. Di pintu masuk. Di panggung. Di antara penonton.”

“Aku tidak melihat satu pun dari mereka.”

“Tapi ada satu yang memperhatikan kita, mengikuti kita. Karena itu aku memaksa pulang. Berharap hantu itu berhenti mengikuti kita. Ternyata tidak.”

“Tidak?”

“Dia mengikuti kita sampai rumah.” Aku menghembuskan napas panjang. “Untunglah bukan aku yang dia ikuti.”

“Maksudmu, dia mengikuti, aku?”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa padaku?”

“Aku tidak ingin kamu ketakutan.”

Bethany menghembuskan napas pendek. “Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih, Lise.”

“Hemm.”

Suasana hening sejenak, hingga Bethany melirikku dengan pandangan menyelidik. “Lise, katakan, saat ini tidak ada hantu yang mengikuti kita kan?”

Dengan sengaja, aku melihat kursi belakang dan tersenyum. “Tidak ada. Kita aman.”

Bethany menghela napas lega.

“Andaikan ada pun, kamu tidak akan tahu kan?”

“Eliseeeee.”

***

16 dukungan telah dikumpulkan

Comments