Eversphere

3 months ago
(Sumber: dreamstime)
Andry Chang

by: Andry Chang

Namaku Chase Juniar. Julukanku Cyclone, mungkin karena rambutku sering tampak berkibar laksana badai berpusar.

Mungkin suatu hari kau akan berpapasan denganku di lapangan atau tempat-tempat umum di Jakarta dan melihatku sedang bertingkah aneh. Kadang kala aku memunguti benda-benda tak kasat mata, memukul-mukul udara atau semacamnya.

Tidak, aku tidak gila.

Aku bukan pula sedang berlatih menjadi artis pantomim.

Lihat kacamata transparan sebening air yang kukenakan ini? Itu tandanya aku sedang bermain game online.

Tak percaya? Buktinya, beberapa orang di dekatku kini sedang mengenakan kacamata serupa. Merekapun bertingkah sama sepertiku, walau jelas mereka tak akan saling melukai, baik satu sama lain maupun orang-orang yang sedang ‘tidak dalam permainan’.

Lebih parahnya, aku malah meneriakkan perintah aneh, “Awas, behemoth itu menerjang ke arah kita!” Para pemain lainpun ambil ancang-ancang untuk bergerak menghindar.

Baiklah, daripada kau terus mempertanyakan kewarasan kami, silakan melihat dengan mata-kepalaku ini. Lewat kacamata realitas virtual ini, kau akan tahu bahwa aku berkata jujur.

Makhluk berwujud seperti banteng raksasa yang disebut behemoth itu berlari kencang, tanah di bawah kakiku serasa bergetar dibuatnya. Dari arah kepalanya, ia jelas-jelas sedang mengincar diriku. Apakah mungkin karena aku sedang pakai baju merah?

Apapun alasannya, aku malah tersenyum di hadapan si raksasa itu. Sementara para pemburu monster lainnya bergerak menyamping, aku malah berdiri menghadapinya dengan lutut agak ditekuk dan tubuhku setengah membungkuk. Entah telah berapa banyak peluru, anak panah, sinar laser yang mengiris tubuh banteng raksasa itu, namun derap langkahnya tak surut sedikitpun. Sedikitnya tiga pemain terkena terjangan tanduk raksasa si behemoth dan lenyap dari pandangan mataku. Itu tanda mereka telah dianggap tewas dan baru bisa dibangkitkan lagi setelah beberapa menit.

Walaupun tampaknya aku hampir pasti akan bernasib sama dengan tiga rekanku yang ‘malang’ itu, aku tak mau menyerah begitu saja dan menunggu dibangkitkan kembali. Dengan gerakan amat atletis aku bersalto tinggi-tinggi di udara sehingga tanduk si behemoth hanya menusuk ruang kosong. Lantas aku mendarat tepat di belakang kepala si raksasa, seolah sedang menungganginya.

Si behemoth sempat menggelengkan kepalanya untuk menjatuhkan diriku, jadi kuhunjamkan dua bilah senjata semacam gasing sebesar perisai yang disebut fidget spinner tepat di ubun-ubunnya. Ketiga lengan spinner yang ujungnya berbentuk bundar itu terus berputar pada porosnya, digerakkan dengan tenaga dalam digitalku lewat gagang yang kugenggam erat. Bilah gergaji seperti piringan laser disc pada lengan-lengan itu terus menggali, membongkar kulit tebal si monster. Si behemoth meraung kesakitan, tubuh dan kepalanya terus menghentak-hentak.

Namun aku tetap bertahan di tempatku layaknya seorang penunggang banteng rodeo ulung. Sepasang senjataku terbenam makin dalam di kepala si behemoth, dan putarannya baru berhenti setelah terdengar bunyi gesekan tulang tengkorak. Bersamaan dengan itu pula, si raksasa yang saat berdiri di atas empat kaki kira-kira tiga kali lebih tinggi dariku itu tumbang dengan suara berdebam keras.

Sempat aku mengernyit jijik karena terciprat banyak darah dari otak hewan raksasa yang sudah jadi bangkai itu. Namun aku cepat-cepat bersikap biasa lagi, baru sadar bahwa darah itu hanya bagian dari program digital yang realistis saja. Setelah memastikan aku mendapat banyak ‘nilai pengalaman’ dari aksi luar biasa tadi, kusentuh bagian kacamataku dekat telinga. Citra behemoth yang kududuki itu lenyap seketika, berganti dengan lapangan rumput yang datar.

“Wah, selamat ya Chase!” sapa seorang gadis manis berambut hijau-kebiruan hasil rekayasa genetik. “Aksimu tadi itu luar biasa, kami belum tentu bisa seatletis dirimu. Pantas saja kau menduduki peringkat dua sepanjang masa dari semua pemain Eversphere!”

“Ah, masih banyak yang lebih piawai dariku, Kayla,” kataku merendah, padahal kepalaku sudah terasa seperti balon kebanyakan udara. “Eversphere ‘kan baru berlangsung satu tahun lebih. Kalau sudah lebih lama, pasti akan banyak pemain yang menyalipku.”

Aku ingin menambahkan ‘kalau bisa’, tapi nanti si manis Kayla bakal mencap diriku besar kepala dan menjauh dariku. Akan sulit mencari penembak sepiawai dia dalam tim kami ini.

“Ayo kita cari monster lain untuk diburu!” ajak Kayla.

Aku menggeleng. “Cukuplah untuk hari ini. Aku ‘kan tak semaniak Naciens, si peringkat pertama itu.”

“Iya deh.” Kayla lalu menggandeng lenganku. “Kalau begitu temani aku belanja di mal, ya.”

Keringatku serasa membeku seketika.

==oOo==

Karena kebanyakan orang masih lebih suka melihat barang nyata sebelum membelinya, tradisi belanja di toko dan mal masih belum pudar di zaman serba online ini. Bahkan toko-toko tradisional seperti di kawasan Tanah Abangpun masih berdiri.

Maka, tak heran pula bila aku menggunakan waktu istirahat ini dengan menyeruput Kopi Aceh Gayo kesukaanku sambil menikmati pemandangan serba futuristik di VadisMall, mal terbesar di Jakarta saat ini.

Satu-satunya hal yang menyesakkan dadaku adalah saat melihat kantung-kantung plastik organik penuh belanjaan di lantai. Sesekali aku melihat ke layar gelang smartphone setipis kain di lengan kiriku. Dahiku berkerut seketika saat kulihat angka-angka yang tertera di sana.

Sambil menunggu Kayla selesai ‘cuci mata’, kulayangkan pandangan ke sekeliling. Citra holografik raksasa seorang pria berkumis-janggut, berpakaian dan bertudung serba putih sedang tayang, seolah-olah ia sedang melayang di atas atrium mal.

Tentu aku kenal pria itu. Ia adalah Alistair Kane, pengembang game Everna Online yang telah disempurnakan lagi menjadi Eversphere. Sejak diluncurkan setahun silam, kini jumlah pemainnya mencapai dua ratus juta jiwa di seluruh dunia. Nah, apa kataku tadi, demam ‘kegilaan’ seperti pantomim itu sudah jadi hal yang umum dan biasa sekarang.

Ada panggilan masuk, jadi kusentuh saja tombol kacamata serbagunaku. Citra holografis wajah Kayla terpampang di depan wajahku, seolah aku sedang bicara langsung dengannya. “Halo Kay, perlu kubayari lagi?” ujarku dengan nada setengah menyindir.

“Chase, aku sedang diserang pemain lain!” teriak Kayla.

“Lho, bukankah kau tinggal menjauh, lalu menembak dia saja?”

“Sudah, tapi ia balas menembakku dan… aku terluka!” Kayla menunjukkan bahunya yang berdarah terserempet peluru atau semacamnya.

“Apa? Aku datang!”

Aku meninggalkan semua belanjaan dan kopiku dan berlari ke arah suara-suara hiruk-pikuk pertarungan itu berasal, yaitu atrium utama mal. Beda dengan atrium samping tempat aku duduk-duduk tadi, tempat ini malah sebesar lapangan atletik di Stadion Madya Senayan, beratapkan kubah yang setara tingginya dengan atap Stadion Utama Senayan. Sedang ada pameran mainan dan pernak-pernik di sana, namun lokasi itu sudah berantakan. Semua rak dan showcase pameran sudah hancur, barang-barang yang dijual di sana berserakan di lantai.

Yang pertama menarik perhatianku tentu saja Kayla yang tengah terkapar di lantai. Sambil meneriakkan namanya, aku berlutut di sisinya. Kayla tak menjawabku, namun dadanya masih tampak naik-turun, membuatku menghela napas lega.

Tiba-tiba suara seorang pria membuatku terkesiap. “Ternyata benar dugaanku. Ada Snippy, pasti ada Cyclone juga! Akhirnya, inilah saatnya untuk menjalankan rencanaku.”

Aku menegadah dan melihat seorang pemuda yang tampak sebaya denganku sedang berjalan dengan santai. Postur tubuh rampingnya sedikit miring ke samping, membuat rambut hitamnya yang acak-acakan seakan tersapu ke satu sisi. Dari kantung matanya yang seakan menghitam serta wajah tirusnya dengan tulang pipi yang menonjol, ia terkesan seperti menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal-hal selain makan dan tidur. Namun, dilihat lewat kacamata Eversphere-ku, di balik punggung pemuda itu ada aura hitam yang terbentang dan berwujud seperti tiga pasang sayap-sayap kelelawar.

Jangan-jangan dia… “Astaga… kekuatan ini… Apakah kau Juara Eversphere Sepanjang Masa di saat ini, Naciens?”

“Ya, akulah dia,” jawab Naciens dengan nada mengigau. “Sudah lama aku mengincarmu, Cyclone. Aku telah berlatih keras dan mendapatkan kekuatan maha dahsyat. Sengaja aku datang jauh-jauh dari Birmingham, Inggris Raya untuk mengajakmu bergabung denganku.”

“Dalam hal apa?” Dahiku berkerut, perutku terasa mual. Aku tak ingin tahu jawabannya.

“Mengambil alih Eversphere, lalu mengubah seluruh Bumi menjadi Eversphere.”

Bibirku bergetar. “M-maksudmu…?”

“Alasanku sederhana saja. Aku sudah bosan jadi pecundang di dunia nyata ini. Di Eversphere aku dipuja bagai dewa, tapi ini hanyalah permainan. Segala gelar juara dan predikat penguasa itu tidak nyata, di dunia nyata aku tetaplah seorang pemuda putus sekolah, bukan siapa-siapa!”

“Lho, mengapa kau sampai putus sekolah? Apa gara-gara Eversphere?”

“Bukan. Aku menderita ADHD, attention deficit hyperactivity disorder. Aku tidak lulus Sekolah Menengah dan ditolak oleh semua Universitas di Inggris. Hanya di Eversphere-lah aku berjaya dan kini aku mengajakmu untuk berbagi kejayaan yang lebih tinggi lagi. Di dunia yang telah jadi Eversphere, kita para juara akan menjadi dewa-dewanya! Nah Cyclone, maukah kau jadi pengikutku?”

Tak perlu berpikir lagi, aku langsung menjawab, “Itu tawaran yang menarik, Naciens. Tapi maaf, aku cukup baik-baik saja di dunia nyata ini jadi aku harus menolak kebaikanmu itu. Malah aku harus menghentikan kegilaanmu yang mustahil dan tak masuk akal itu!”

“Mustahil? Tak masuk akal? Simak baik-baik, inilah kekuatan yang telah kuperoleh dari Eversphere dan akan kukembalikan lagi ke Eversphere! Di napas terakhirmu, kau pasti akan menyesal telah menolak tawaranku! Aku, sang dewa!”

Naciens lantas melambaikan kedua tangannya, gerakannya seolah tengah membuat pusaran. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan satu entakan mengulurkan kedua tangannya itu lurus-lurus sambil berseru, “Selamat datang di Semesta Jagad Digital, heaah!”

Seberkas cahaya terpancar menyilaukan, memaksaku menutup mata sejenak. Saat aku membuka mata lagi, anehnya aku tak melihat perubahan apapun di sekelilingku.

Aku tersenyum penuh percaya diri. “Sudahlah, Naciens. Menyerahlah dan hukumanmu pasti akan jauh lebih ringan. Atau kau lebih suka kami paksa?” Kulihat sedikitnya ada dua belas pemain Eversphere di atrium ini yang siap mengeroyok sang juara bila perlu.

“Bukalah kacamatamu dulu dan lihatlah ke sekelilingmu,” kata Naciens sambil merentangkan kedua tangannya penuh gaya.

Lho, bukankah itu berarti kita semua keluar dari permainan Eversphere? Bukankah itu berarti kita semua, termasuk Naciens kembali jadi orang-orang biasa tanpa kekuatan adikodrati?

Namun baru kusadari kemudian, Naciens sendiri tidak mengenakan kacamata Eversphere. Jadi, didorong rasa ingin tahu kutanggalkan kacamataku dan kumasukkan ke kantung celanaku.

Yang pertama mengejutkanku adalah spinner kembar yang dalam keadaan menyatu masih tergenggam di tangan kiriku. Yang berikutnya kusentuh adalah rak besi pameran yang sudah remuk. Anehnya, permukaan di patahannya terdiri dari kotak-kotak piksel, seperti yang kerap kutemukan pada game-game dari masa sekitar tiga puluh tahun silam.

Gawat, jangan-jangan… segalanya berubah digital!

“Nah, itulah kekuatan mahakuasaku.” Senyum Naciens makin mengembang seperti pembunuh psikopat yang baru saja mendapat mangsa. “Pelajarilah ini dariku, dan kita akan mendigitalisasi setiap tempat yang kita datangi di seluruh dunia!”

Aku mendelik. “Oh, jadi yang jadi digital baru mal ini saja?”

“Tepat. Mal ini dan semua benda di dalamnya.”

“Termasuk kau, aku dan semua orang di sini?”

“Hanya aku saja, karena aku telah lama menjadi digital. Dengan ini aku tak perlu tidur, tak takut penyakit, makan hanya bila ingin dan bisa pergi ke tempat manapun di dunia dengan menunggang sinyal satelit saja. Akulah dewa digital yang baru! Nah, untuk terakhir kalinya, Cyclone, apa kau mau jadi dewa di dunia digital ini juga, menjadi abdiku?”

Kukatakan lagi dengan terus-terang, “Wah, maaf saja bung. Kalau aku jadi dewa digital sepertimu, aku akan kesepian. Kayla akan menyembahku saja, takkan berani mengerlingkan tangannya pada lenganku. Jadi aku tetap memilih hidup di dunia nyata tanpa kekuatan adikodrati. Eversphere tetap hanya sarana hiburan saja, tak lebih.”

Semua pemain lain yang hadirpun mengangguk, setuju denganku.

Naciens meradang. “Dasar tak tahu diuntung! Matilah kalian semua!”

Sepasang pistol semi-otomatis di genggaman Naciens menyalak, memuntahkan peluru digital yang seakan tak ada habisnya ke segala sasarannya.

Aku pontang-panting menghindar dan menangkal beberapa peluru dengan perisai spinner-ku. Rasa nyeri luar biasa lantas menyengati paha dan lenganku. Darah yang tersembur dari kedua titik itu membuatku ingat pada luka-luka Kayla dan terkesiap.

Kekuatiranku jadi nyata. Begitu hujan peluru reda, kulayangkan pandangan ke sekeliling. Beberapa pemain, bahkan pula pengunjung mal yang tak sempat melarikan diri terkapar di sana-sini. Kebanyakan dari mereka merintih kesakitan, segelintir lainnya bergeming di tempat. Yang masih bisa berdiri telah melarikan diri, tinggal aku dan lawanku berhadap-hadapan di atrium ini.

Demonstrasi kekuatan Naciens tadi membuatku tak habis pikir, sanggupkah kekuatanku yang setelaga ini mengatasi kekuatan lawanku yang laksana samudera?

“Oh, masih berdiri ya? Bagus, kau layak dapat peringkat dua.” Naciens tak tersenyum lagi. “Tapi untuk melampauiku, kau harus berlatih seratus tahun lagi!”

Naciens melontarkan kedua pistolnya ke sisi kiri-kanannya. Sebilah cemeti besi digital muncul dan tergenggam di tangannya. Kupisahkan perisai spinner, gagang-gagang besi berkaitnya kugenggam erat dengan dua tangan. Walau kata-katanya tadi bernada meremehkan, tantangan untuk bertarung jarak dekat satu-lawan-satu ini menunjukkan setidaknya ada setitik kehormatan tersisa dalam diri si psikopat itu.

Maka, akupun tak gentar, apalagi meremehkan lawanku itu. “Terserah, kita tuntaskan saja ini secara jantan! Mulai!”

Kedua petarung lari, merapatkan jarak. Masuk jarak jangkauan cemeti, kuulurkan sepasang perisaiku yang berputar pada porosnya, ambil posisi bertahan.

Benar saja, Naciens melecutkan cemetinya secepat kilat sehingga tampak seperti ribuan ular menerjang bersamaan ke satu titik sasaran. Bilah-bilah baja seperti taring ikan hiu pada ruas-ruas baja cemeti itu berdentangan di permukaan kedua perisaiku. Lantas, Naciens bergerak mundur.

Tetap berdiri tegak, diam-diam kuhela napas lega. Namun tiba-tiba darah bercipratan dari beberapa titik di sekujur tubuhku. Rasa nyeri luar biasa membuatku jatuh berlutut. Setelahnya, tubuhku terasa kebas dan mati rasa.

“Nah, apa kubilang?” kata Naciens sambil menjilat bercak darah di punggung tangannya. “Sejauh itulah perbedaan kekuatan kita. Kurasa kubiarkan saja kau jadi lumpuh total atau mati kehabisan darah. Tapi sebelum itu, biar kusuguhi kau satu pertunjukkan lagi. Aha, aku tahu! Kematian Snippy alias Kayla!”

Naciens bergerak ke arah Kayla yang masih terkapar tak sadarkan diri.

Jangan, jangan Kayla.

“Takkan kubiarkan kau mencelakai Kayla, Naciens!”

Teriakanku membahana, seiring semburat aura energi digital yang terpancar di tubuhku. Bahkan Nacienspun berbalik dan matanya terbelalak menyaksikan gejala itu.

Tiba-tiba, satu bisikan terngiang dalam benakku. Ingat, Cyclone, kemampuan istimewamu di Eversphere adalah memanipulasi segala yang berwujud digital di sekitarmu. Gunakan itu.

Bisikan itu membuat mataku terbelalak, sarat asupan semangat baru.

Tangan Naciens sudah hendak mencekik leher Kayla, siap mengerahkan kekuatannya yaitu menyerap seluruh saripati kehidupan gadis itu. Namun lesatan sepasang spinner-ku menghantam tubuhnya, membuatnya terpelanting. Usahanya meluluhkan semangat juangku kandas sudah.

Sebaliknya, aku malah bergerak lebih cepat dari cahaya. Kutangkap tubuh Kayla dan membawanya jauh dari ancaman bahaya. Aku lantas lari kembali ke arah lawanku sambil berseru, “Naciens! Kau telah membajak Eversphere yang bukan milikmu, kubuat kau membayarnya!”

“Coba saja kalau bisa!” Mengerahkan kekuatan pamungkasnya, Naciens menembakkan segala energi digital yang telah diserap dan dikumpulkannya di Eversphere selama ini, energi supranatural yang telah membuat dirinya menjadi wujud digital itu ke arahku. Terjangan energi pamungkas seolah hendak mengurungku makin rapat seperti menjala ikan.

Masalahnya, aku bukan ikan atau sama tak berdayanya dengan ikan.

Buktinya, dengan satu entakan kurentangkan kedua tanganku. Saat itu pula, benda-benda berwujud digital di sekitarku terangkat dari tanah. Barang-barang dagangan pameran, rak-rak, perabotan, semuanya. Dengan amat cepat kukibaskan tanganku ke atas, segala benda itupun berubah menjadi wujud energi, menerjang sekaligus menjebol jala energi digital Naciens.

“A-apa?” Naciens ternganga, namun pikirannya kembali terpusat seketika. “Baik, rasakanlah seluruh energi Eversphere, heaa!” Ia lantas menyerap sebanyak-banyaknya energi dari dunia digital di sekitarnya dalam tubuhnya, lalu dipancarkan kembali sebagai daya penghancur ke arahku bagai hujan deras.

Namun kali ini aku sudah siap dan takkan terkurung dua kali dalam jebakan yang sama. Kali ini, yang kugerakkan adalah semua benda mati yang tersebar dalam mal ini. Karena Naciens telah mengubah itu semua menjadi digital, yang bakal menerpanya ini tentunya berwujud energi digital yang lebih padat dan nyata. Gerakan jurusku ini jelas sama dengan caraku menggerakkan fidget spinner-ku hingga terbang sendiri dalam serangan jarak jauh.

Bedanya, aku tak mau hanya menghujani lawanku saja. Kukibaskan tanganku kesana-kemari, nyaris dengan gemulai. Segala benda itu ikut meliuk mengikuti gerakan tanganku, wujudnya bagai ular naga bertubuh kira-kira sebesar dan sepanjang kereta api barang, menepis hujan energi Naciens. Saat ‘naga’ itu lewat di atas kepalaku, kugerakkan kedua telapak tanganku mengikuti posisi lawan yang terus bergerak, tembakanku melesat ke arah lawan seperti peluru kendali.

Tentu Naciens tak kehabisan akal. Pancaran energinya yang semula terarah ke tubuhku saja kini dipusatkan ke satu titik, yaitu kepala naga raksasa. Namun aku tetap tak gentar. Kedua larik energi digital dari kedua petarung itu bertumbukan dan saling dorong-mendorong di satu titik. Beberapa saat kemudian, energi cahaya warna-warni mulai menekan energi naga digital. Gawat! Setiap saat aku bisa kehabisan benda digital, seberapapun melimpahnya itu di mal ini.

Saat aku terkesiap itulah kulihat wajah Naciens jadi pucat-pasi, putih seperti mayat. Satu firasat terbit di benakku dan kuputuskan untuk bertaruh atas firasat itu. Dengan satu entakan energi terakhir, kubuat nagaku bergerak makin cepat dan kuat. Ledakan energi yang dihasilkannya ganti menekan cahaya warna-warni Naciens dengan jauh lebih cepat.

Terkejut, konsentrasi Naciens buyar dan begitu pula tembakan energinya. Tanpa ampun, sisa energi digital dari benda-benda padat itu menghunjami seluruh tubuhnya. Begitu dahsyatnya hantaman itu, tubuh kurus Naciens tampak terangkat dari lantai.

Di ujung asanya, Naciens berteriak histeris, “Tidaak! Akulah penguasa baru Eversphere!”

Seperti pepatah, orang yang tinggal dalam sebuah rumah belum tentu adalah pemilik rumah itu. Naciens yang bodoh telah menyatukan dirinya dalam ‘rumah’ yang bukan miliknya, mengira dengan cara itu ia dapat merebut ‘rumah’ itu dari pemilik sejatinya, Alistair Kane.

Tugasku hanyalah menegaskan kenyataan bahwa usaha Naciens itu jelas sia-sia belaka.

Jadi aku hanya perlu berucap, “Keluar kau dari Eversphere, Naciens!”

Dikikis terus-menerus, raga digital Naciens makin terurai dan menyerpih. Tak seujung rambutpun dari dirinya tersisa di Eversphere. Yang paling parah, mustahil dunia nyata yang telah ia tinggalkan sudi mewujudkan raga kasar Naciens lagi di dalamnya.

Hasil pertarungan itu tak ayal membuatku tersenyum dan berkata, “Siapapun kau yang berbisik padaku, terima kasih untuk petunjukmu. Cukuplah untuk… hari ini.”

Di kata terakhir itu, aku tumbang. Hal terakhir yang kudengar sebelum segalanya jadi gelap adalah bunyi benturan antara tubuhku dan lantai.

==oOo==

Ketika aku kembali membuka mata, pemandangan kamar rumah sakit membuatku tersenyum lega. Ya, tempat ini jelas lebih baik daripada neraka atau bila tiba di akhirat sebelum waktunya.

Insan pertama yang kulihat adalah Kayla, yang menyambutku dengan pelukan mesra dan berkata, “Terima kasih, Chase! Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku!”

Sebenarnya saat itu hatiku terasa sesak karena tidak bisa menyelamatkan semua orang. Saat benakku mulai bertanya-tanya tentang nasib para korban dalam ‘Insiden Naciens’, orang kedua tampil ke muka dan membuat Kayla menyingkir ke sisi ranjangku.

Aku terperanjat. Jelas aku tak mengenal orang ini secara pribadi, tapi ia sangat terkenal. Ia orang yang sama dengan sosok holografis raksasa dalam tayangan iklan di VadisMall itu. Tanpa mengenakan tudung putihnya dan menampilkan rambut putihnya yang panjang terurai sebagai gantinya tak membuatku salah mengenalinya. “A-astaga… bapak… Alistair Kane?”

“Ya, nak Cyclone… atau kurasa aku akan memanggilmu ‘Chase’ saja,” ujar Alistair sambil tersenyum lembut kebapakan. “Terima kasih sudah menyelamatkan Eversphere dan dunia nyata dari ancaman hacker psikopat bernama Naciens itu.”

Namun hatiku tak kunjung tenang. Kutatap kedua tanganku yang bergetar hebat sambil berkata, “T-tapi… aku telah membunuh Naciens. Aku telah menghilangkan nyawa manusia. Seharusnya aku dihukum pidana dan masuk penjara, atau…”

“Oh, Naciens tidak mati.” Alistair mengelus janggut putihnya. “Ia mengira dirinya telah menjadi digital, padahal tubuh aslinya masih terduduk koma di rumahnya di Birmingham. Ya, tidaklah sulit melacak keberadaan Nester Fairbanks, si Naciens itu begitu ia beraksi. Kini ia telah jadi penghuni sebuah rumah sakit jiwa di Inggris sana.”

“T-tapi… bagaimana dengan semua orang yang telah ia lukai dan ia… bunuh?”

“Yah, berkat reaksi cepat tim programmer dan hacker kami, tidak ada orang yang terbunuh dalam insiden itu. Segala benda yang dirusak untuk pertarungan itupun hanyalah tiruan digital yang cepat-cepat kami tempatkan di seluruh mal, baru aku membisikkan petunjukku padamu. Jadi, setelah avatar Naciens lenyap, dunia digital ciptaannyapun lenyap dan kembali menjadi dunia nyata. Kami hanya perlu mengganti rugi kerusakan properti pameran di atrium saja.”

Oh, pantas saja. Dari suaranya aku baru ingat, ternyata Alistairlah yang telah membantuku dalam pertarunganku melawan Naciens. Ternyata kesempatan emasku juga hasil ciptaan timnya.

“Lalu, bagaimana dengan Eversphere?” tanyaku. Sebenarnya setelah kejadian pahit itu, aku sudah tak ingin memainkan permainan berbahaya itu lagi.

“Untuk sementara, tampilan dan user interface Eversphere kami sederhanakan lagi jadi game gaya lama yang dimainkan dengan duduk di depan layar monitor saja. Tentu saja itu untuk sementara, sampai kami menciptakan cara terampuh untuk mencegah peretasan tingkat dewa seperti yang dilakukan Naciens itu,” kata Alistair.

Namun, wajahku tak menampilkan ekspresi kecewa. “Wah, baguslah. Kurasa kini aku bisa berhenti main game online untuk sementara waktu ini dan lebih banyak meluangkan waktu untuk keluargaku dan… Kayla.”

Mendengar namanya disebut, wajah manis Kayla bersemu merah.

“Terima kasih, Chase,” kata Kayla. “Setelah kau pulih dan keluar dari rumah sakit nanti, ayo temani aku jalan-jalan di mal lagi dan kembali membeli barang-barang belanjaan yang telah kauhilangkan waktu itu.”

Wajahku pucat-pasi seketika. Lantas aku menegadah dan berbisik di telinga Alistair, “Ngg, kurasa aku berubah pikiran. Bagaimana kalau aku jadi game tester di kantor bapak saja?”

510 dukungan telah dikumpulkan

Comments