Gadis Bunga

3 months ago
http://ayyasap.deviantart.com/art/Red-Rose-559130963
Yudha Pasca

by: Yudha Pasca

Kicau burung menyapa pagi, membangunkan jiwa yang masih terlelap dari tidur nyenyaknya. Bersama sang mentari, dia kembali menggantungkan sinarnya di atas langit Jakarta.

Hiruk-pikuk kendaraan meramaikan jalan, mereka melaju mengejar waktu di atas panasnya aspal. Namun aku tidaklah seperti mereka yang setiap hari berjalan kaki, karena jarak apartemen dan kantor bagai ranting dan daunnya.

Melewati pasar yang telah lama berdiri, para sesepuh sedari subuh telah menjajakan dagangannya. Kebutuhan dapur mulai dari bumbu-bumbu, daging ikan, ayam, sampai berbagai macam sayur-sayuran ramai terlihat di bahu jalan. Transaksi jual-beli di sini setiap hari ramai terjadi, dan untuk pemuda sepertiku yang belum menikah, hanya seminggu sekali aku berbelanja.

Yang menarik perhatianku di pagi ini adalah seorang gadis kecil bertopi kuning. Dengan wajah ceria dia menyapa pagi, membawa secangkir semangat pada dagangannya yang menurutku tidak sangatlah penting.

Rambut ekor kudanya itu melambai-lambai saat dia menawarkan satu tangkai bunga pada siapa saja yang lewat. Tak peduli berjam-jam diacuhkan, dia terus menawari dagangannya pada mereka.

Semangatnya membuatku terpanggil.

“Hai, Dik,” sapaku.

Aku berjongkok, menyamaratakan tinggiku dengan bola matanya. Sungguh indah bak intan permata di bawah samudera. Gadis ini begitu cantik jika dilihat dari dekat.

“Hai, Kakak. Mau membeli bunga?”

Senyum manis itu menggores parasnya saat dia menawarkanku setangkai mawar merah. Jika dilihat, dia membawa berbagai macam bunga-bunga indah di pelukannya.

Kutanya dengan senyuman, “Kamu menjualnya berapa?”

“Dua ribu rupiah, Kak.”

“Waw, murah sekali,” kataku. “Aku beli sepuluh, boleh?”

Dia mengangguk cepat. “Boleh, kok. Boleh. Mau bunga apa saja?”

“Bunga apa saja yang kau punya?”

“Ada mawar merah, mawar putih, matahari, bunga lili.”

“Aku mau mawar merah dan matahari, deh. Masing-masing lima, ya.”

Dia mengangguk lagi, lalu memilihkan bunga-bunga itu.

“Ini, Kak.”

Bersamaan dengan itu, aku merogoh selembar kertas merah dari dompet, dan kuberikan padanya.

“Makasih, ya.”

“Iya, sama-sama. Semoga hari kakak menyenangkan, ya. Kalau kakak sedih, bunga-bunga itu bisa menghibur kakak, lho.”

Kumiringkan wajah, bertanya pada penyataan yang terdengar aneh. “Oh, ya?”

Dia mengangguk lagi, dan dengan senyum dia menjawab, “Kalau sedih aku selalu main sama bunga. Aku suka bunga. Ibuku juga.”

Aku tertawa kecil, begitu pula dengannya. Dia sangat senang saat kepalanya kuusap pelan. Secara tak langsung, dia menularkan semangat paginya padaku yang lesu ini.

“Oh ya, ngomong-ngomong aku harus ke kantor. Kalau begitu sampai jumpa.”

“Iya. Hati-hati, Kak.”

Untuk yang terakhir kali aku mengusap kepalanya, dan tanpa bosan dia tersenyum kembali.

Beranjak dari tempat, aku lalu melanjutkan perjalanan lagi menuju kantor. Saat aku menoleh ke belakang, dia melambaikan tangan mungilnya, seakan dia berkata ‘selamat berjuang’ dari kejauhan.

Selama perjalanan aku mengingat wajahnya, senyumnya, tawanya. Gadis bertopi kuning itu tampak ceria, memiliki sifat optimis untuk menjalani kehidupan.

Dan ya, aku tak bertanya siapa namanya, dan di mana dia tinggal. Seharusnya, untuk gadis seusianya, dia harus menempuh jenjang pendidikan sekolah dasar, bukan?

Ah, dia mengingatkankan pada Fifi, adikku yang ada di kampung halaman.

Sesampainya di kantor, aku lalu absen pada mesin sidik jari. Kunaiki tangga karena lift benar-benar penuh pagi ini. Menyebalkan, namun lumayan juga buat olahraga pagi.

Di meja kerja, kutaruh bunga-bunga yang tadi kubeli pada vas kosong. Sekarang terasa penuh nan indah, senyum simpul gadis penjual bunga itu terlukis di sana, seakan menyemangatiku mengawali hari pertama kerja.

“Erik, kamu kenapa senyam-senyum ke bunga-bunga itu?”

Bagai topan menghempas pasir, lamunanku buyar saat seorang gadis berjas hitam itu bertanya.

“Oh, ini aku abis beli bunga. Bagus, ‘kan?”

“Beli, atau dari cewek lain?” tanyanya sinis sambil membenarkan posisi kacamatanya. Wajar saja dia bereaksi begitu, karena dia adalah tunanganku.

“Serius, deh. Aku beli dari anak kecil yang jualan bunga di pasar.”

“Emangnya ada?”

“Ada, kok,” jawabku. “Besok aku mau beli lagi. Vas bungamu kosong, ‘kan?”

Rambut hitam panjang itu ikut berayun saat dia menoleh ke mejanya. “Iya, sih. Yaudah, deh, mawar merah sama kayak kamu, ya?”

“Iya.”

Setelah aku menjawab, dia lalu pergi menuju mejanya yang dipenuhi buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Sengaja, batinku. Dia yang kukenal memang suka meja yang berantakan, berbalik denganku yang suka kerapihan.

Meja yang berantakan membuatnya nyaman saat menulis laporan, namun sekali saja ada yang merapikan komik-komiknya itu, dia lalu marah. Dan kau tahu? Sasaran utamanya adalah aku.

Dan ya, mengingat tentang laporan, kerjaanku minggu kemarin belum selesai.

“Sial.”

***

Mentari bersembunyi, dia seakan enggan menampakkan sinarnya. Sejauh mata memandang, awan di sana menghampar hitam-kelabu. Nampaknya Selasa ini akan diguyur hujan. Namun baguslah, karena Selasa adalah hari yang panjang, hujan yang turun akan menaikkan mood-ku saat bekerja.

Pagi ini, aku berangkat sepuluh menit lebih awal hanya untuk bertemu dengan gadis kecil penjual bunga kemarin. Berharap dia ada di tempat yang sama.

Dan benar saja, dia terus menawari bunga-bunga indah itu, namun sayang mereka semua buta warna. Tak ada dari mereka yang melihat pesona indahnya.

Segera aku menghampirinya, dan dia langsung tahu bahwa aku lah pria yang kemarin pagi.

“Kakak! Kakak! Kakak mau membeli bunga lagi?”

Dia begitu riang gembira saat aku mengangguk. Gadis itu lalu memperlihatkan bunga-bunga miliknya yang ditaruh dalam plastik hitam.

“Pagi ini kamu semangat sekali,” pujiku padanya.

“Oh, iya, dong! Kalau nggak semangat bunga-bunga ini juga akan layu.”

Indah sekali jawabannya, batinku berkata. Anak ini sebenarnya sarapan apa, sih, sampai seceria ini di pagi yang kelam? Bahkan karyawan sepertiku saja masih merasa lemas walau sudah mandi dan minum kopi.

“Aku pesan mawar merah sepuluh, bunga matahari lima, sama bunga lilinya lima, dong.”

Sedetik kemudian wajahnya menunjukkan reaksi terkejut. “Waaah! Pagi ini kakak memesan banyak banget. Buat siapa aja, Kak?”

“Tunangan kakak yang pesan. Dia suka sama mawar merahmu yang aku beli kemarin.”

“Benarkah?” tanyanya. “Aku juga suka sama mawar merah. Selera kami sama.”

“Oh, ya?”

“Yap.”

Senyum macam apa itu? Aku diam mematung memandangnya. Begitu manis, begitu dalam. Aku tak bisa bergerak untuk sesaat.

“Ini.”

Aku tersadar saat dia memberikan bunga-bunga itu. Segera kurogoh dompet dan mengeluarkan selembar uang kertas warna hijau, dan selembar warna merah.

“Eh, kakak. Ini kelebihan.”

Ya, aku tahu. Melebihkan saat membeli itu amal, bukan? Terlebih, gadis ini seharusnya sudah berada di sekolah dan bermain bersama teman-temannya.

“Gapapa, kok. Lebihnya bisa kamu tabung, atau buat jajan es krim,” jawabku padanya.

Dia begitu senang mendengar jawaban tadi. “Makasih, ya. Kakak baik banget. Semoga kakak cepat menikah, ya sama tunangan kakak!”

“Hehee, iya. Makasih doanya. Nanti kamu kakak undang, mau?”

“Sungguh?!” Dia seakan tak percaya. “Iya, aku mau banget ngeliat kakak nikah! Aku suka gaun pengantin.”

“Oh, ya? Kamu lucu juga, ya.” Aku benar-benar terhibur melihat tingkah polosnya. “Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?”

“Nina,” jawabnya singkat.

“Nina? Nama yang bagus. Nanti Nina bakal kakak undang ke pesta pernikahan kakak, jadi tamu yang paaaaling spesial!”

“Eh—?! Oh, ya?! Oh, ya?! Janji, ‘kan?!”

Aku mengangguk, menunjukkan jari telingkingku padanya. “Janji.”

Lalu dia merespon dengan melilitkan jari kelingkingnya padaku. Di sini kami telah membuat janji, yakni pada lima bulan lagi Nina akan datang ke resepsi pernikahanku.

Senyum bak bulan sabit terlukis lagi di wajahnya. Benar-benar murni dia gadis baik yang butuh kasih sayang.

“Aku harus berangkat.” Jari kami pun terpisah. “Besok kita ketemu lagi, ya!”

Dia menggangguk, lalu kuusap kepalanya lagi.

Setelah itu kami berpisah. Terlihat dari kejauhan dia terus melambaikan tangannya hingga aku menghilang belok di persimpangan.

Melanjutkan perjalanan, aku terpikir di manakah orang tuanya, di mana dia tinggal, sementara tadi aku hanya sempat bertanya siapa namanya. Sial, karena senyum manis itu benar-benar membuatku lupa oleh segudang pertanyaan yang telah disiapkan.

Rintik hujan pun mulai turun, dan untung saja kantor hanya tinggal beberapa meter lagi. Kini aku terpikir oleh Nina. Apakah dia kehujanan? Apakah dia kedinginan? Apakah dagangannya laku saat hujan? Entah. Aku hanya berharap yang terbaik untuknya.

Sesampainya di meja kerja, aku memberikan bunga pesanan pada Julia, tunanganku. Dia nampak bahagia saat melihat merahnya mawar itu merekah bak api dalam gelap.

“Waw, Erik, bunga ini kok bagus banget, ya?”

“Yang jual juga cantik, kok.”

Segera kedua matanya menyipit. Aura jahat pun terasa. Sabit seolah dikeluarkan, rambut panjangnya naik seperti ular-ular di kepala Medusa. Dia kini bagai malaikat kematian yang siap mencabut nyawa ini.

“E-eh, gadis kecil, kok. Bukan dewasa,” jawabku membela. “Aku mau kita mengadopsinya nanti setelah menikah. B-boleh?”

“Adopsi? Emang dia nggak punya orang tua?”

Kedua bahu kunaikkan. “Kurang tau, sih.”

Entah pikiran itu datang dari mana, tiba-tiba aku ingin mengadopsi Nina sebagai anak. Dia gadis paling ceria yang pernah kutemukan. Jika aku mempunyai anak seperti Nina, hubungan rumah tanggaku dengan Julia pasti harmonis.

Senyum Nina, senyum yang dia miliki memang patut dipertahankan.

***

Hujan mengguyur pagi di hari Rabu. Aku benar-benar khawatir pada Nina. Khawatir dia tidak bisa menawarkan dagangannya. Khawatir pada pemasukannya akan berkurang hari ini.

Dengan payung dan jaket, aku berlari menembus derasnya hujan, berharap Nina sedang meneduh di salah satu emperan toko. Sungguh benar aku tak peduli pada cipratan kotor yang akan menodai pakaian yang aku kenakan.

Hanya Nina yang ada di pikiran ini.

Kucari ke berbagai blok demi blok, dari yang menjual daging hingga sayuran, yang ada hanya warga dan penjual sedang meneduh menunggu reda. Kucari lagi dengan teliti menyusuri, namun Nina memang tak ada di tempat ini.

Ke mana dia?

Pagi ini dia absen, mungkin karena hujan juga. Aku sedikit bersedih. Dan karena aku tak melihat senyum indahnya pagi ini, membuat mood-ku turun kurang bergairah.

Dengan rasa kecewa, aku kembali berjalan menuju kantor dengan jaket dan celana yang hampir basah kuyup.

Sesampainya di kantor, Julia bertanya padaku, “Kamu kok murung? Tumben nggak bawa bunga, ke mana?”

Aku menatapnya, hanya kujawab dengan senyuman kecil. Kurasa dia dapat membaca pikiranku tanpa harus dengan rangkaian kata. Benar-benar menyebalkan, memang. Tanpa bunga baru dalam vas, meja kerja jadi tak terlihat indah.

Biarkan saja mereka berantakan. Hanya Nina yang aku pikirkan.

***

Udara segar kembali menghampiri Kamis yang cerah. Sejuk sekali saat angin bertiup mengibaskan rambut-rambutku yang tadi habis keramas.

Dengan ceria aku berangkat kerja. Mungkin ini hari paling ceria yang aku miliki, karena hari ini aku akan bertemu dengan Nina, gadis kecil penjual bunga yang biasa berjualan di pasar.

Sedikit aku curiga. Pagi ini tidak seperti biasa Nina absen di pagi yang cerah. Hanya ada tukang bubur ayam dan ketoprak yang berjualan. Seharusnya dia ada di sini, berdiri di tempat sekarang aku berpijak sambil menawarkan bunga-bunga indahnya pada para pejalan kaki.

Batinku merasa tak enak, ke manakah dia pergi?

Kembali aku menyusuri pasar seperti saat hujan kemarin. Dari blok ke blok, dari gang ke gang. Aku berlari mengejar waktu sampai keringat pun mengalir membanjiri kening dan seragam putih yang kukenakan.

Nihil. Tak ada. Gadis bertopi kuning itu belum juga kutemukan.

Napasku memburu, waktu sudah menunjukkan tepat pukul tujuh. Tanpa senyumannya, hari ini akan seperti hari kemarin yang berjalan sangat membosankan. Namun mau bagaimana lagi, karena waktu sudah tidak mendukung, aku berhenti mencari Nina dan berangkat menuju kantor.

Kembali, baru saja aku duduk di meja kerja, Julia pun menanyakan hal yang sama. “Nggak bawa bunga lagi? Bunga kamu udah layu, lho.”

Memang benar, bunga-bunga itu hampir layu, dan harus segera diganti. Namun sayang harus tertunda besok.

Dan oh ya! Aku baru ingat jika besok adalah tanggal merah. Jadi aku punya waktu banyak dengan Nina, dan akan berbicara banyak tentangnya.

***

Jum’at ini lebih cerah dari hari kemarin. Awan putih di sana terlihat jarang, hanya mentari dan langit biru itu sebagai atap manusia di pagi ini.

Mengenakan kaos merah dan celana hitam panjang, setelah mandi aku lekas berjalan menuju pasar untuk bertemu Nina.

Sudah sangat ramai antusias warga. Karena hari ini tanggal merah, para suami dapat menemani istrinya berbelanja di sini. Seharusnya aku juga pergi berbelanja, namun karena ada agenda lain jadi aku harus melakukannya esok hari.

Sesampainya di tempat biasa Nina berdiri, hari ini ternyata dia absen lagi. Sudah tiga hari tak kudengar suara anak kecil menawarkan bunga pada para pejalan kaki.

“Ke manakah dia?” batinku bertanya.

Pagi ini dengan santai aku mencari Nina, berharap mungkin dia hanya pindah tempat berjualan, karena memang di tempat biasanya terlihat kurang strategis.

Beberapa gang telah aku lewati, dan yang ada hanya para pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi. Pasar ini begitu padat, membuat jarak pandangku terbatas. Beberapa kali aku harus berdesakkan dengan ibu-ibu yang membawa banyaknya barang belanjaan.

Begitu ramai dan terasa panas. Sudah satu jam aku mencari, namun Nina belum ketemu. Hingga akhirnya aku berdiri di tempat pertama kali kami bertemu.

Di depan sana ada pangkalan ojek. Mereka dengan asyik sedang mengobrol sambil menikmati kopi hitam dan gorengan hangatnya.

Kuhampiri mereka dan bertanya, “Permisi, Pak. Ada yang tau anak kecil yang suka jualan bunga di sini?”

Mereka lalu saling bertatap muka. “Udah beberapa hari nggak jualan, Mas. Ada apa, ya?”

“Saya mau beli bunganya.”

“Tapi sayang, Mas, anak itu nggak jualan hari ini.”

“Bapak tau rumahnya?”

“Dia nggak punya rumah, Mas.”

Sontak jawaban itu membuatku terkejut.

“Lalu dia tinggal di mana, ya?”

“Biasa saya lihat dia tidur di emperan toko.”

Tak bisa dipercaya, batinku terhentak lagi. Bagaimana dia bisa memasang senyum dan bertingkah ceria dengan kondisi kehidupannya yang jauh dari kata layak? Apa senyum itu, apa tawa itu, apa semua keceriaan itu semuanya palsu? Kusimpan itu semua untuk nanti.

“Oh, terima kasih, Pak. Saya mau cari anak itu lagi.”

Setelah pamit, aku pergi. Targetku kali ini adalah para pemilik toko.

Aku berjalan menghampiri beberapa toko yang buka. Satu per satu dari mereka kutanyakan. Beberapa menjawab tak pernah melihat, bahkan yang pernah melihat pun tak tahu asal-asul gadis tersebut.

Aku masih tak menyerah. Kusisir daerah keliling pasar ini, bertanya pada siapa saja yang pernah melihat sosok Nina. Sayang aku tak punya fotonya, jadi aku sedikit lelah mendeskripsikan rupa gadis itu ke semua orang.

Sudah hampir tiga jam aku mencari, namun hasil masih nihil. Hari pun mulai panas, matahari terlihat hampir menduduki posisi puncak.

Hingga pada saat itu, jawaban dari seorang warga membuat hatiku tertusuk. “Oh, dia yang kemarin kena tabrak lari, Mas.”

“Apa?!” Jantungku seperti berhenti berdetak mendengarnya. “Beneran? Masnya nggak bohong, ‘kan?”

“Bener, kok, Mas. Saya juga ikut menyolatkan dan menguburkan anak kecil itu,” jawabnya. “Dia udah nggak punya siapa-siapa, Mas, makanya dia jualan bunga buat makan sehari-hari.”

Aku jatuh berlutut, tak sadar air mata telah membanjiri pipi. Tangis ini tak terkendali tiba-tiba keluar, yang padahal aku bukan siapa-siapanya dia. Bapak itu mencoba menenangkanku, namun tangis yang meleleh tak bisa berhenti untuk saat ini.

“Mari saya antar ke makamnya,” ajaknya, dan aku mengiyakan.

Tak jauh dari sini memang ada pemakaman. Tak lebih dari dua ratus meter berjalan, kami pun sudah sampai di muka gerbang.

Tumpukan tanah itu memang masih baru, juga rangkaian bunga itu masih segar bertebaran di atasnya. Tertulis nama ‘Nina Kinarsih’ di batu nisan beserta tanggal lahir dan kematiannya yang sudah dari kemarin.

Sampai sana, tangisku pecah lagi. Batu nisannya kupeluk erat. Mengingat momen saat pertama kali kami bertemu. Padahal di hari itu dia berjanji akan datang ke pernikahan kami. Pada hari itu aku pun juga sudah berjanji akan mengundangnya menjadi tamu paling spesial, dan di sana dia akan melihat gaun pengantin yang indah laksana pakaian bidadari. Dan aku pun juga sudah berencana akan mengadopsi Nina sebagai anak kami nanti.

Namun takdir berkata lain. Musnah sudah rencana indah itu. Dia lebih dulu telah meninggalkanku, meninggalkan semua bunga-bunga yang telah menyemangati paginya.

Setangkai mawar merah yang tertancap itu bergoyang terhembus angin, seolah dia menjawab kesedihanku. Entah bayangan atau apa, aku melihat raut wajah Nina yang sedang tersenyum terlukis di sana, seolah dia berkata, “Kak Erik jangan bersedih, Nina bahagia kakak akan menikah sebentar lagi. Nina janji akan datang.”

Aku tersenyum, Nina tersenyum. Dalam bayangan itu aku menangis saat Nina menyerahkan mawar merahnya padaku.

“Aku cinta Kak Erik. Papah. Titip salamku pada mamah.”

17 dukungan telah dikumpulkan

Comments