Garuda Angkasa

5 months ago
Affan Abiyyu

by: Affan Abiyyu

“Rudi suka Garuda Angkasa!”

“Kalau begitu gambar saja komik Garuda Angkasa.”

“Tapi kan itu komik ayah.”

“Menurutmu komik ayah bagus nggak?”

“Bagus!”

“Jelas lah! Hahaha”

“Hahahaha!”

“Ayah juga suka, Garuda Angkasa.”

“Kalau menggambar?

Kenapa ayah suka menggambar?”

***

Omong kosong, omong kosong, omong kosong.

Garis-garis tak bermakna. Garis-garis sia-sia. Coretan, goresan, tinta tak bermakna. Itu cuma tinta. Cuma tinta. Dan kalian menyukainya. Tak ada maknanya.

Dan kalian tetap menyukainya.

Goresan itu menipu kalian. Ini semua cuma tipuan, kalian kutipu demi kepuasanku sendiri. Makna apanya, arti apanya, tujuan apanya, omong kosong. Cuma kepuasanku yang berharga.

Tidak ada mahakarya. Tidak ada yang bermakna, lagi.

Semuanya sudah berakhir. Selesai.

Tapi mungkin, kau belum mengerti awalnya.

Jadi, biar aku ceritakan.

***

5 chapter, 20 halaman per chapter, dalam 1 bulan, bukan masalah.

Full colour, background kompleks, bukan masalah. Sama sekali bukan masalah. Pengalamanku selama seumur hidupku tidak akan bisa berbohong. Penelitian berkata, butuh 10.000 jam untuk menjadi seorang ahli dalam sebuah bidang.

Perkenalkan, namaku Rudi. Manusia yang melalui 20.000 jam dalam menggambar komik. Selain dari kerja kerasku, bakat ini turun dari ayahku yang juga seorang komikus.

Untuk menyelesaikan sebuah komik, dibutuhkan disiplin dan kreativitas yang tinggi. Latihan keras, mempelajari banyak gaya gambar dari berbagai sumber, dan menguasai satu-per-satu alat gambar, dengan cara itu mahakarya akan tercipta.

Mahakarya yang belum pernah orang lihat. Kombinasi dari bakat, skill, etos kerja puluhan tahun, kreatifitas, dan keberanian untuk mencoba hal baru.

Dan aku yakin, aku ditakdirkan untuk itu. Sebuah mahakarya.

Mahakarya yang bisa membuat orang lain kagum dan terkejut. Mahakarya orisinal yang kuciptakan sendiri. Mahakarya yang akan dikenang selamanya oleh orang-orang. Sesuatu yang bisa kubanggakan sampai nanti disaatku mati.

Tapi, untuk menciptakan mahakarya, seseorang harus punya orisinalitas. Goresan tintanya sendiri. Dan selama 40 tahun menggambar komik, akhirnya kutemukan goresanku. Goresan hasil dari kerja keras dan penelitian bertahun-tahun.

Dan diumur 45 tahun ini, sedang kuciptakan mahakarya itu. Satu jilid komik, dengan konsep gambar dan cerita yang sudah kusiapkan sejak aku kecil. Mahakarya yang kusiapkan matang-matang.

Komik ini berjudul …

***

“Garuda Angkasa kuat, ya, Yah.”

“Masa’ sih?”

“Buktinya dia bisa ngalahin musuhnya, si Yaksa.”

“Kamu tahu nggak kenapa Garuda Angkasa kuat?”

“Karena dia punya kekuatan super dari Garuda!”

“Salah!”

“Terus kenapa dong?”

***

“Bi, bagaimana proses latihannya?”

“Masih selesai 2, Pak.”

“Dari 10, masih selesai 2?”

Kemudian kulihat hasil gambarnya. Lumayan, tapi belum cukup.

“Kalau begitu, maaf, tapi kamu belum bisa jadi …”

Ucapanku terputus saat aku melihat tumpukan kertas tebal di sebelah kirinya. Kertas-kertas itu berisi usaha gambar-gambar dari 10 contoh yang aku berikan. Selama ini dia mencoba menggambar semuanya, tapi cuma 2 gambar yang ia anggap bagus untuk ia tunjukkan padaku.

“Sudah kuputuskan. Kau asisten baruku.”

***

Namanya Abi. Seorang remaja berumur 20 tahun. Dari cerita yang kudengar, dia tidak kuliah, dan bahkan tidak SMA. Banyak cerita lain yang kudengar tentangnya, tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya di sini. Yang jelas sepertinya ia punya masa lalu yang kelam. Abi adalah anak yang pendiam dan tertutup, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya. Sesuatu yang istimewa.

Dengan mata seorang komikus profesional yang menggambar sejak kecil, bisa dengan mudah kuyakini bahwa: Abi sama sekali tidak berbakat.

Gambarnya bisa kubilang: jelek.

Tapi, bukan berarti ia tidak istimewa. Ia adalah anak yang mau bekerja keras. Benar-benar keras. Ia mau menghabiskan banyak waktunya untuk membuat gambar yang bisa disandingkan dengan komik yang sedang kukerjakan.

Ia sangat mencintai dunia komik, sama sepertiku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa seperti ini sekarang, tapi aku yakin komik memang dunianya.

Katanya, ia adalah penggemar komik-komik yang aku buat. Dan anehnya, dari puluhan komikku, ia menyukai komik pertamaku yang kubuat saat aku remaja: ‘Hujan Bintang’. Komik yang jauh dari kata sempurna, tapi entah kenapa ia menyukainya.

Lalu selama beberapa bulan berikutnya, aku melatihnya menggambar. Ia dengan cepat berkembang.

Entah kenapa ini terasa sangat menyenangkan.

***

“Ayah, kenapa gambar Rudi mirip ayah, Ya?”

“Masa’? Coba ayah lihat … Hmm … Iya, ya.”

“Kenapa komikus lain punya gaya gambar yang beda-beda, Yah?”

“Gaya gambar itu kadang muncul sendiri. Lewat pengalaman menggambar, memperhatikan hal-hal sekitar, dan lain-lain. Semua orang itu istimewa, semua orang punya gaya gambarnya sendiri. Mungkin sekarang, gambarmu memang mirip ayah,

Tapi waktu besar nanti, Ayah yakin kamu menemukan goresanmu sendiri.”

***

Tinggal 1 chapter. Tinggal 1 chapter lagi, mahakarya itu selesai. Aku dan Abi sudah bekerja keras. Kami berdua sangat menyukai cerita dan gambar yang kami ciptakan. Ketika komik ini terbit di luar sana, aku yakin semua orang akan menyukainya.

Tapi tidak … itu tidak terjadi.

Ya, kalian akan mendengar akhir dari cerita ini.

***

“Operasinya sukses. Tangan kanannya masih bisa digerakkan, tapi jangan dipakai untuk kerja yang berat-berat dulu. Lebih baik banyak-banyak istirahat. Nanti malam sudah boleh pulang.”

Itu yang kudengar dari dokter.

Tapi tak sepatah kata pun kudengar dari mulut Pak Rudi.

Ia duduk termenung diatas tempat tidur rumah sakit, memandang keluar jendela. Menolak untuk berbicara denganku. Menolak untuk menatap wajahku.

Aku bisa mengerti. Mungkin baginya, saat ini semua usahanya sia-sia.

45 tahun. Harus berakhir seperti ini … ?

Tidak. Ini bukan akhir dari ceritanya.

Cerita ini masih berlanjut.

***

“Kenapa kamu buang kertasnya?”

“Rudi nggak bisa gambar, Yah …”

“Rudi bisa, kok, Ayah lihat sendiri. Nih, gambarmu bagus.”

“Tapi kata teman Rudi, gambar Rudi jelek.”

“Sini coba, ayah ajarin … sini tangannya … sret … sret … nah ini dikasih kayak beginian … nah gini … terus coba gini …”

“Kok … bisa bagus, Yah?”

“Percaya.

Percaya sama dirimu sendiri.”

***

Aku memasuki ruangan kerjanya. Nafasnya terengah-engah.

Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

“Kenapa kau kesini?” Ia bertanya padaku.

“Pak … Apa tugasku selanjutnya?”

“Tugas? Udah selesai, semuanya. Kamu boleh pulang. Nanti gajinya saya kirim.”

“Tapi komiknya …”

“Komik apa? Komik ini?!” teriaknya sambil melemparkan naskah komik yang sudah kita gambar bersama. Ke arahku. “Itu komik bodoh!”

“Tapi gimana dengan kerja keras selama ini? Tentang orisinalitas, tentang mahakarya?”

“Mahakarya? INI MAHAKARYA!” teriaknya sambil mengepalkan tangan kanannya yang diperban ke arahku. “Mahakarya itu cuma omong kosong. Semuanya sia-sia, 40 tahun mengejar mimpi bodoh, goresan tinta bodoh, MAHAKARYA BODOH!”

“Kalau begitu, saya saja yang gambar.”

“Gambarmu jelek, Bi!”

“Tapi saya mau menggambar komik ini!”

“Kalau gitu ambil semuanya. Ambil!”

Ia mengusirku dari ruangannya, dan mengunci pintu kamarnya.

Akan kuselesaikan naskah komik ini, bagaimana pun caranya. Semua orang harus membaca mahakarya ini.

Bisa kudengarkan sayup-sayup, Pak Rudi menangis di dalam kamarnya.

***

Sudah berhari-hari berlalu. Bisa kulihat, lampu di ruangan tengah masih menyala. Anak bodoh itu pasti masih mengerjakannya.

Semuanya berakhir, seperti ini?

45 tahun perjuanganku semua kini sia-sia. Semua perjuangan keras, semua bakat dan ilmu, etos kerja.

Hidup. Hidupku sia-sia.

Kenapa aku menggambar? Kenapa dari awal aku menggambar, bila kenyataannya seperti ini?

Kuambil sebuah pena dan kertas, mencoba menggoreskan tinta diatasnya …

Tidak bisa …

TIDAK BISA!

Berat …

Tanganku gemetaran. Kucoba sekeras mungkin, gambar garuda itu tidak muncul. Tidak ada garuda. Tidak ada angkasa. Tidak ada makna.

Cuma tinta yang sia-sia terlukiskan diatas kertas.

Aku keluar dari ruanganku, menghampiri meja Abi. Banyak tumpukan kertas di sana, seperti biasa. Dan itu membuatku muak.

“CUKUP!”

Kusobek kertas-kertas itu dihadapannya.

“PAK!”

“Kamu nggak ngerti, hah?! Buang semuanya!”

“…”

“Udah, selesai, Bi! Komik itu cuma sampah, cuma gambar-gambar yang nggak ada artinya!”

Abi terdiam dan tertunduk.

Kemudian ia mengambil sebuah komik dari dalam tasnya, dan memberikannya kepadaku.

‘Hujan Bintang’.

“Ini nggak ada artinya, Pak?” tanya Abi, sambil menahan tangisannya. “Gambar-gambar yang tidak ada artinya ini, membuat saya menjadi manusia.”

“…”

Kemudian ia mengambil sebuah buku lain dari tasnya, buku tulis. Kemudian memberikan ini padaku. Buku tulis yang sudah kusam.

“Ini komik pertama saya. Bapak pernah, denger, kan, cerita-cerita tentang saya? Ini cerita aslinya.”

Buku tulis itu berisi sebuah komik.

***

Langit gelap mencekam.

Kosong, semua, kosong.

 

Tidak ada aku, tidak ada mereka.

Hanya satu bintik harapan akan sesuatu yang mustahil.

 

Kaki ini, tidak kuat berdiri, ia ingin terbang.

Badan ini, tidak kuat menopang, ia ingin melayang.

Kepala ini, ingin tertunduk di sana,

Di sebuah tali.

 

Tali, tali, menggantung.

Terang sendirian dalam semua yang gelap.

Tali, tali, tali mengundang, menawarkan kebahagiaan.

Akankah tubuh ini ke sana?

 

Gelap … gelap … ia datang.

Aku berjalan ke sana, berlari, ke sebuah taman. Sendirian, dalam hujan.

Alam menghajarku, air, menjatuhkanku.

Gelap merasukiku.

 

Ku lihat seberang. Ku lihat di sekitarku. Di mana bahagia? Di mana cinta? Yang ada cuma langit gelap.

Aku menangis, bersama hujan.

 

Tapi, ketika ku tatap ke sana,

Jauh ke sana,

Memperhatikannya, ada sebintik cahaya kecil.

Bintang. Kecil, kecil sekali.

Sama sekali tidak bermakna. Tidak bisa mengalahkan gelap.

Tapi cuma ia yang bersinar. Satu bintik harapan kecil.

Kecilkah dia?

 

Aku sama sepertinya, aku kecil.

Aku tidak bermakna, aku tidak ada artinya.

Hanya hujan dan gelap yang berkuasa.

Tapi bolehkah, bolehkah aku,

Terus terang seperti dirinya?

Meski hitam besar, meski gelap, bolehkah?

Bolehkah aku terus berdiri, terus berdiri, hanya percaya pada satu bintik harapan kecil?

 

Aku melangkah. Mendekatinya, bintik kecil itu.

Kini kusadari,

Ia tidak kecil.

 

Ia BESAR. Ia SANGAT BESAR.

Ia sangat terang.

 

Seketika gelap ini tidak menyakitkan, hujan ini tidak menjatuhkan,

Gelap ingin berkata, bahwa ia ada, agar bintang itu ada,

Hujan ingin berkata, bahwa ia ada, agar air mata ini tidak sendirian,

 

Yang sia-sia, akan jadi makna.

***

Aku terus menggambar. Menggoreskan tinta di atas kertas. Semua ini belum berakhir.

Cerita ini belum berakhir.

***

“Ayah juga suka, Garuda Angkasa.”

“Kalau menggambar? Kenapa ayah suka menggambar?”

“Ayah ingin melihat orang lain tersenyum sepertimu. Melihat orang lain merasakan apa yang ayah rasakan, ayah jadi merasa dimengerti. Itu hadiah sesungguhnya dari sebuah karya. Dan semua itu dimulai dari sini.

Dari pena ini.

Membentuk garis-garis hitam di atas kertas, dan dengan ajaib orang lain bisa tersenyum bahkan menangis karenanya. Itulah kenapa ayah menggambar. Untuk membuat keajaiban, melalui goresan tinta.”

***

Terus, gambar terus. Meski berat. Tanganku kuluruskan, garis-garis hitam tergambar awut-awutan. Tidak apa. Terus coba, terus gambar.

Aku ingin semua orang membacanya. Tersenyum dan menangis karenanya. Seperti Abi. Sepertiku sekarang.

Keajaiban itu ada.

Semua orang harus membaca mahakarya ini.

***

“Kamu tahu nggak kenapa Garuda Angkasa kuat?”

“Karena dia punya kekuatan super dari Garuda!”

“Salah!”

“Terus kenapa dong?”

“Karena dalam cerita itu, cuma dia satu-satunya yang manusia.”

***

Berat … Ayo, angkat … angkat …

Tidak bisa menekuk, apalagi mengangkat tangan.

Kalau tidak bisa ditekuk, lurus saja!

Kalau tidak bisa diangkat, geser-geser saja!

Kalaupun nggak punya tangan, nggak usah pakai tangan!

Apapun caranya,

 

Orang harus baca mahakarya ini!

Apapun!

 

Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu. Dengan tangan ini mencoba menggoreskan tinta, tanpa mengangkat pena. Garis awut-awutan tercipta, berusaha membentuk sebuah gambar.

Mencoba menggoreskan tinta.

Mencoba melukiskan cinta.

“Kenapa kamu buang kertasnya?”

“Rudi nggak bisa gambar, Yah …”

Sampai di suatu titik, aku lelah. Mata ini terpejam, tanpa mempedulikan air mata di dalamnya. Dalam sunyi, dalam mimpi,

“Rudi bisa, kok, Ayah lihat sendiri. Nih, gambarmu bagus.”

tanganku bergerak lagi.

Ia,

ia ada di sana,

“Sini coba, ayah ajarin … sini tangannya … sret … sret … ”

di sebelahku, menggerakkan tanganku.

Sampai ia nampak.

Garuda Angkasa.

Yang sia-sia akan jadi makna.

6 dukungan telah dikumpulkan

Comments