Guide

1 year ago
(unsplash.com)
Yuditha Savka

by: Yuditha Savka

Kegelapan pekat mengelilingi Adrian.

Walaupun telah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, ia tidak dapat melihat apapun selain pondok kayu kecil berbentuk bundar tanpa dinding yang berdiri di belakangnya. Di tengahnya tergantung sebuah lentera yang membuat pondok tersebut tampak berkilauan.

Adrian memutuskan untuk duduk di pondok tersebut. Ia tidak bisa gegabah pergi dari tempat ini tanpa adanya penerangan. Ia tidak mengerti di mana ia berada sekarang ataupun alasan mengapa ia berada di sini. Hanya saja begitu tersadar, ia telah berada di sini.

Namun, terus-menerus berdiam diri di sini pun tidak ada gunanya dan hal itu membuatnya kesal. Ketika ia hampir saja mengungkapkan rasa kesalnya dalam kata-kata, sesuatu terjadi. Adrian melihat setitik cahaya berada di depannya. Cahaya tersebut kian mendekat. Dengan sigap, Adrian bangkit berdiri dengan waspada.

Itu orang. Cahaya itu berasal dari lentera yang tergantung di tongkat panjang setinggi tubuhnya yang dipegangnya.

Hampir saja ia berlari mendekati orang tersebut karena senang akhirnya bertemu dengan orang lain sebelum diurungkannya begitu ia bisa melihat sosok orang tersebut.

Seluruh tubuhnya dibalut perban. Paling tidak, bagian tubuhnya yang terlihat, termasuk wajahnya, tertutup perban.

Melihat sikap Adrian yang waspada, orang itu berhenti agak jauh darinya. Ia terdiam sesaat, seakan kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. Setelah beberapa saat, akhirnya orang itu membuka mulutnya, “Ha-halo.” Orang tersebut berkata dengan canggung, dari suaranya ia terdengar masih muda, mungkin sekitar belasan tahun. “Te-tenang saja, saya bukan orang yang mencurigakan!” tambahnya.

Meski kamu bilang “bukan orang mencurigakan”, tapi…, batin Adrian dalam hati. Ia memperhatikan pemuda perban itu dengan seksama. Ia mengenakan jaket berwarna biru pekat dengan celana panjang hitam dan di balik tudungnya mencuat rambut berwarna merah cerah. Mau bagaimana pun juga, penampilannya tidak membuat orang dapat percaya padanya.

“Maaf telah membuat Anda menunggu lama, Tuan Adrian. Saya—”

“Kamu tahu namaku!?”

Mendengar Adrian yang semakin waspada terhadapnya, pemuda itu sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Ia hanya tersenyum kemudian melanjutkan, “Tentu saja, karena saya bertugas sebagai pemandu Anda.”

“Pemandu?”

“Ya, tugas saya adalah untuk mengantarkan Anda sampai tujuan dengan selamat. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bisakah kita berangkat sekarang?”

“…Tunggu!” Adrian sama sekali tidak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh pemuda di depannya itu, terlebih lagi ia tidak bisa memercayainya.

Seakan mengetahui perasaan Adrian, pemuda itu hanya mengangkat bahunya dan berkata, “Saya mengerti, tapi Anda juga tidak bisa terus berada di sini. Lihat,” ucapnya sambil menunjuk lentera yang tergantung di pondok kayu.

Cahaya dalam lentera tersebut semakin meremang dan bisa padam kapan saja.

Memangnya kenapa?, pikir Adrian. Walaupun sekelilingnya gelap gulita, lama-kelamaan matanya akan terbiasa  dan bisa melihat kembali.

“Anda yakin akan terus berada di sini?” tanya pemuda itu lagi. “Tanpa lentera, Anda hanya akan menjadi mangsa mereka.”

Pemuda itu mengangkat lenteranya, membuat sinarnya menerangi sekitar. Berpuluh-puluh, bukan, mungkin beratus-ratus pasang mata memusatkan pandangannya pada Adrian. Walaupun ia tidak mengetahui siapa atau apa dari pemilik mata tersebut, tapi tekanan yang dirasakannya membuat bulu kuduknya merinding. Dalam sekejap, keringat dingin membasahi tubuhnya.

“…A-apa ini ancaman? Kau akan membiarkanku dimangsa mereka kalau aku tidak mendengarkanmu?” tanya Adrian dengan suara tercekat.

“Tentu saja bukan! Saya hanya mengatakan bahwa Anda dalam bahaya apabila terus berada di sini dan saya tidak mungkin membiarkan hal itu menimpa tamu saya!” ucap pemuda itu dengan cepat. “Saya akan menjelaskan semuanya sambil berjalan. Bagaimana?” ucapnya sambil tersenyum.

Adrian masih tidak dapat memercayai pemuda mencurigakan ini, tapi tampaknya ia tidak punya pilihan. Pada akhirnya, ia hanya bisa berkata “Baiklah,” dengan lemah dan mengikuti pemuda itu.

Mereka mulai berjalan, walaupun Adrian sama sekali tidak bisa melihat jalan yang mereka lalui. Tampaknya pemuda itu mengetahui ke mana mereka harus berjalan, pasti karena ia sudah lama menjadi pemandu di tempat ini. Lentera pemuda itu hanya cukup untuk menerangi ia dan pemuda itu saja. Sementara pasang-pasang mata itu masih terus memperhatikan ke mana mereka pergi.

“Memangnya ke mana kita akan pergi?” tanya Adrian yang masih belum bisa menghapus ketegangan dari dirinya.

“Ah, sebelum itu, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Akki, saya bertugas sebagai pemandu Anda.” Berkebalikan dengan Adrian yang tampak tegang, pemuda bernama Akki itu terlihat sangat tenang. “Untuk tempat tujuannya… Anda sendirilah yang akan menentukan, saya hanya bertugas menunjukkan jalan saja.”

“Hah?!” Adrian tercengang mendengar jawaban Akki dan perasaannya berubah menjadi kekesalan. Pertama ia mengancamnya agar Adrian ikut dengannya dan sekarang ia mengesampingkan pertanyaan Adrian. Meski begitu, ia tidak punya pilihan lain selain menempel kepadanya, demi keselamatan dirinya sendiri.

“Tenang saja, selama Anda berada di bawah lentera ini, mereka tidak akan bisa menyentuh Anda. Oh ya, untuk mengisi waktu bagaimana kalau Anda bercerita mengenai diri Anda?”

Apa mungkin dia bermaksud mengalihkan perhatianku?, pikir Adrian dalam hati. Setelah menimbang beberapa lama, ia membuka mulutnya dengan hati-hati. “Namaku Adrian, 26 tahun. Pekerjaanku… aku manajer divisi sales and marketing.”

“Wah, semuda ini tapi sudah menjadi manajer? Anda hebat sekali!”

“Itu bukan hal besar, semua orang juga bisa melakukannya.” Adrian sama sekali tidak merendah. Ia memang berpikir bahwa pencapaiannya adalah hal yang biasa. Oleh karena itu, ia harus mendaki lebih tinggi lagi.

“Bagaimana dengan pasangan? Orang sesukses Anda pasti mempunyai satu ada dua kekasih, bukan? Atau jangan-jangan Anda sudah berkeluarga?”

“Tidak ada,” jawab Adrian dengan kesal. Rasal kesal itu bukan ditujukan kepada pertanyaan tadi, tetapi pada dirinya sendiri. Ada seorang perempuan yang diincarnya, putri presiden direktur perusahaannya, tetapi ada saja yang menghalanginya. Ya, seperti si pegawai baru itu.

“Oh, sayang sekali. Saya pikir orang seperti Anda pasti dikejar-kejar oleh perempuan.”

Hal itu tentu saja. Dengan wajah dan latar belakang yang mengagumkan seperti dirinya, Adrian seharusnya tidak mempunyai masalah dengan perempuan. Seandainya saja begitu.

“Kalau begitu, tipe perempuan seperti apa yang Anda suka? Tipe—”

“Hei, itu pertanyaan pribadi, bukan?! Daripada itu, aku lebih penasaran denganmu. Umurmu berapa? Sepertinya kamu sudah lama bekerja sebagai pemandu di sini.”

“Ah, ya, saya sudah lama bekerja sebagai pemandu di sini. Untuk umur… saya masih muda!”

Adrian memelototi pemuda itu yang kerap mengesampingkan pertanyaannya. Tapi sebelum marah, ada hal yang lebih penting untuk diutarakan.

“Tempat apa ini?”

Pertanyaan itulah yang paling ingin ditanyakannya. Ia menunggu jawaban pemuda itu. Apabila lagi-lagi ia mengesampingkan pertanyaannya, Adrian siap untuk memukulnya.

“Mohon maaf, saya tidak bisa mengatakannya.”

Adrian langsung mengarahkan tinjunya pada Akki, membuatnya mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. “Ta-tanpa perlu saya katakan pun, Anda akan mengetahuinya saat tiba di tujuan!!” ucap Akki dengan cepat untuk membela dirinya.

Adrian menurunkan tangannya dan hanya bisa mendecakkan lidahnya. Tampaknya pemuda aneh ini tidak berniat menjelaskan sama sekali. Adrian kembali berjalan dengan kesal.

Adrian sudah tidak asing lagi dengan perasaan ini karena belakangan ini suasana hatinya selalu buruk. Padahal ia sudah berusaha keras dan menggunakan cara apa pun untuk bisa mencapai posisinya yang sekarang. Sebentar lagi, ia bisa mendapatkan putri direkturnya itu dan masa depannya akan semakin terjamin, tapi tiba-tiba muncullah pengganggu itu. Si pegawai baru itu tiba-tiba datang dan merusak seluruh kerja kerasnya selama ini!

Trak, Adrian bisa mendengar suara sesuatu di belakangnya dan membuatnya tersentak. Ia segera memalingkan kepalanya, tetapi tidak dapat melihat apapun. Perasaannya menegang.

“H-hei, bukankah tadi kamu bilang kalau mereka tidak akan bisa menyentuhku selama berada di bawah lentera ini?”

“Benar sekali. Apa ada sesuatu?”

Tap, tap, tap… Ia bisa mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

“Bisakah kita berjalan lebih cepat?!” desak Adrian dengan suara meninggi.

Walaupun tidak mengerti, Akki mempercepat langkahnya. “Ada apa?”

“…tidak apa-apa.”

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa tidak ada apa-apa. Pikirannya berubah tidak enak. Tubuhnya bergetar hebat dan jantungnya berdetak dengan cepat.

Tap, tap, clak, clak, suara langkah kaki itu masih berlanjut ditambah dengan suara cairan yang menetes. Dengan tegang Adrian membalikkan badannya. Namun, ia masih belum melihat sumber suara itu.

“Ada apa?” tanya Akki sekali lagi yang melihat gelagat aneh Adrian.

“Apa kau tidak dengar?! Ada orang yang mengikuti kita!!”

“Eh? Saya tidak mendengar apa-apa,” ucap Akki kebingungan. Ia kemudian menjulurkan lenteranya tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. “Seharusnya hanya ada saya dan Anda di sini.”

“Kalau begitu suara apa tadi?! Kau mau bilang aku salah dengar, hah?!”

Akki tidak tahu harus menjawab apa. Ia memang tidak mendengar suara yang dimaksud Adrian.

Adrian terus memperhatikan jalan itu lekat-lekat. Ia masih bisa mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat itu. Napasnya terasa berat. Mengapa ia merasa begitu ketakutan?

“Apa Anda dikejar seseorang?”

Dikejar seseorang…?

(Aaa……aa….a……)

Begitu mendengar suara rintihan itu, Adrian sudah tidak dapat bertahan lagi. Dengan cepat ia segera berbalik dan berlari secepat mungkin dari tempat itu, mengabaikan satu-satunya sumber penerangan yang dimilikinya.

“Tolong tunggu sebentar!” Melihat Adrian yang berlari ketakutan, Akki segera mengejarnya.

Adrian mengabaikannya dan terus berlari. Walaupun tidak tahu ke mana ia harus pergi, pokoknya secepat mungkin ia harus menjauh dari tempat itu! Dikejar seseorang? Mungkin benar. Ada beberapa orang yang muncul dalam pikirannya. Ia merasa takut dan juga… bersalah. Peristiwa itu, bukan, dosa yang telah dilakukannya itu kembali muncul dalam pikirannya.

Hidupnya memburuk sejak kemunculan si pegawai baru itu. Direktur yang sebelumnya telah yakin untuk menyerahkan putrinya kepada Adrian mengubah pikirannya dan hal itu dipertegas dengan pengumuman pertunangan antara sang putri dengan pegawai baru tersebut. Ia tidak bisa memaafkannya! Mereka tidak tahu apa yang sudah Adrian lakukan untuk bisa mencapai posisinya tersebut! Oleh karena itu, ia melakukannya. Ia membayar beberapa orang untuk menculik kedua orang itu dan meminta mereka melakukan tindakan asusila pada sang putri direktur dan membiarkan pegawai baru itu melihatnya. Sesuai dugaannya, mereka berdua dan juga sang direktur, hancur setelah itu. Itulah akibatnya apabila mereka merenggut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Tetapi, setelah itu pun, hidupnya masih tidak tenang. Orang-orang yang dibayarnya mulai memerasnya untuk mendapatkan uang lebih banyak. Mereka mengancam untuk melaporkannya ke polisi. Dengan terpaksa, Adrian terus memberikan uang pada mereka. Kesialan pun bertubi-tubi menimpanya, seakan itu adalah kutukan dari orang-orang yang hidupnya telah dihancurkannya. Sampai suatu hari, ketika seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai detektif polisi mendatangi tempat tinggalnya…

Enak saja! Itu bukan salahku!! Kalianlah yang merebut hal yang seharusnya milikku!!

Adrian merasakan bagian belakang kemejanya ditarik seseorang dan membuatnya jatuh terjengkang. Dengan cepat Adrian segera meronta, tapi suara yang didengarnya membuatnya berhenti.

“Syukurlah masih sempat…” Yang menarik kemejanya adalah Akki, ia tampak terengah-engah. “Tolong jangan berlari tiba-tiba seperti itu, kalau saya tidak sempat menarik Anda, Anda sudah…” Akki tidak melanjutkan kalimatnya.

Adrian segera memalingkan kepalanya ke depan. Sebuah tebing tak berdasar menganga lebar di depannya. Terlambat sedetik saja maka ia akan terjun bebas ke dalamnya. Menyadari hal itu, rasanya dadanya menjadi sesak.

“Anda baik-baik saja? Saya mohon jangan menjauh dari saya,” ucap Akki memelas.

“…ah… iya…,” gumam Adrian.

Tapi hal itu tidak berhenti sampai situ. Bagaikan ada orang yang menarik kakinya, Adrian tertarik masuk ke dalam tebing tak berdasar itu. Dengan putus asa, ia mengcengkeram dinding tebing, membuatnya bergantungan di sisinya. Akki segera berlari ke tepi tebing dan menjulurkan tangannya, berusaha mencapai tangan Adrian.

“Ce-cepat tarik aku!!” perintah Adrian dengan panik. Ia mengarahkan pandangannya ke kakinya. Di sana, ia bisa melihat ada sesosok hitam yang menarik kakinya. Dalam sekejap, jantungnya berhenti berdetak.

“Le-lepaskan!!” teriaknya sambil menghentakkan kakinya, berusaha melepas pegangan sosok hitam itu. “Kubilang itu bukan salahku! Kalianlah yang telah merebut apa yang seharusnya milikku!!”

Adrian terlalu memusatkan perhatian pada kakinya sehingga ia tidak menyadari pegangan tangannya terlepas. Ia mulai jatuh dan Adrian dapat merasakan tubuhnya membeku. Ia telah membayangkan dirinya terus terjun ke dalam tebing tersebut sampai ada yang menghentikannya.

Akki berhasil meraih tangan Adrian. Wajahnya menunjukkan ekspresi lega.

Pemuda itu berusaha sekuat tenaga menarik tubuh Adrian ke atas. Setelah bersusah payah, akhirnya mereka berhasil kembali ke tepi tebing dan terbaring dengan terengah-engah. Tidak, yang terengah-engah hanya Akki. Saat ia berusaha menariknya, Adrian hanya tergantung lemah begitu saja. Sekarang pun ia terlihat kalut. Tampaknya peristiwa tadi terlalu berat untuk dicernanya.

Akki membantunya berdiri dan dapat merasakan tangan Adrian yang bergetar. Walaupun pada akhirnya mereka kembali berjalan, Adrian tetap terlihat seperti orang yang pikirannya kacau. Ia terus bergumam, “Itu bukan salahku…” sambil memeluk dirinya yang gemetaran.

Pada akhirnya mereka tiba di persimpangan. Jalan yang selama ini mereka lalui terpecah menjadi dua.

“…Anda tidak apa-apa? Tugas saya hanya mengantarkan Anda sampai sini,” ucap Akki cemas.

Adrian masih tidak merespons.

“Sayang sekali saya tidak bisa mengantar Anda lebih dari ini. Anda harus menentukan untuk melalui jalan yang mana. Saya jamin Anda akan baik-baik saja seorang diri. Apapun yang mengejar Anda tidak akan bisa mengikuti sampai sini.”

Tanpa mengatakan perpisahan dan masih seperti orang dengan pikiran yang kacau, Adrian berjalan melalui jalur sebelah kiri. Di belakangnya ia dapat mendengar suara Akki berkata, “Semoga Anda bisa mencapai akhir yang Anda inginkan”.

Ia terus berjalan hingga akhirnya ia melihat sebuah pintu besar. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu tersebut dan melangkah masuk ke dalamnya.

Di depannya terhampar sebuah ruangan yang berantakan. Ia ingat, ini adalah rumahnya. Buku-buku komik berserakan di lantai. Ia sedang tak ingin membereskannya. Ia sudah muak dengan kondisi rumah ini yang seakan merefleksikan kondisi kehidupannya.

Ia teringat bahwa sejak kecil, ia adalah orang yang selalu berambisi tinggi. Mencapai posisi tinggi baginya adalah hal normal selayaknya bernapas. Oleh karena itu, ia tidak ragu untuk melakukan hal kotor sekalipun demi meraih tujuannya. Tapi tampaknya hidupnya tidak berjalan dengan semestinya.

“Ah… aa…” Seorang anak kecil berumur empat tahun muncul dari balik pintu dan berlari dengan susah payah untuk memeluk kaki kiri Adrian, ia tersenyum lebar untuk menyambutnya.

Melihat anak itu, suasana hati Adrian dalam sekejap menjadi buruk. Ia sudah kesal dengan kondisi di kantornya ditambah anak ini membuat buku-buku yang sudah dibelikan olehnya menjadi berantakan.

“Jangan sentuh aku, bocah sial!” Adrian menghentakkan kakinya, membuat anak itu terhempas dan membentur dinding dengan keras. Tapi Adrian tampak tidak peduli dan melangkah pergi, sementara anak itu dengan susah payah bangkit berdiri.

Tubuhnya dipenuhi memar dan luka gores, bahkan di beberapa tempat tampak bekas darah yang mengering. Dengan terhuyung-huyung, anak itu berlari mengikuti Adrian.

“Apa kau lihat-lihat, hah?!” ujar Adrian kesal sambil sekali lagi mendorong anak itu dengan kasar. Tapi, seperti tak kenal menyerah, anak itu tetap berlari kembali kepadanya. Ia menarik-narik ujung kemeja Adrian dengan paksa, membuatnya kembali naik darah. Adrian berkali-kali mengayunkan tangannya kepada anak itu, tapi ia tetap bergeming walaupun darah mulai menetes dari berbagai bagian tubuhnya.

“Lepaskan! Kubilang lepas, anak sial! Lep—”

Adrian tidak menyelesaikan perkataannya. Punggungnya terasa panas. Begitu berbalik, ia bisa melihat wajah yang tidak asing.

Si pegawai baru itu berdiri di belakangnya dan menancapkan pisau di punggungnya.

Ia kemudian menariknya, membuat Adrian terjatuh ke lantai. Orang itu menendang tubuh Adrian yang tidak berdaya dan membuatnya menatap langit-langit. Kemudian ia duduk di atasnya.

“Karena ulahmu… kebahagiaan kami…,” ucapnya dengan suara bergetar. Ia mengangkat pisau yang digenggamnya tinggi-tinggi dan tanpa ampun menghujamkannya berkali-kali ke tubuh yang tidak berdaya itu.

Adrian teringat. Ini adalah saat-saat terakhir hidupnya.

Sial…!!, teriaknya kesal di dalam hati. Sial… Aku belum mau mati!!

Entah karena keinginannya tersebut dikabulkan, ia tetap tidak mati walaupun telah banyak ditikam berkali-kali. Ia akan merasakan seluruh rasa sakit, ketidakberdayaan, serta kekesalan itu selamanya.

Dan pintu pun tertutup.

***

Setelah sosok Adrian tidak terlihat lagi, Akki hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya berbalik. Ia mengangkat lentera yang dibawanya dan memperlihatkan sosok anak kecil dengan tubuh penuh luka yang berdiri di depannya. Darah yang mengalir dari luka-lukanya menetes membasahi jalan setapak di bawahnya.

Akki berjalan menghampirinya dan berjongkok di depannya. Sambil meletakkan tangannya di atas kepala anak itu, ia berkata, “Sayang sekali, ayahmu tidak mendengarkan peringatanmu. Kalau saja dia mendengarkan lebih seksama, mungkin dia bisa mencapai akhir yang berbeda.”

Akki menatapnya. Anak itu hanya berdiri diam tanpa ekspresi. Sampai kapan pun seorang anak akan mencemaskan orang tuanya, ya…, pikirnya dalam hati sambil sekali lagi menghela napas panjang. Ia bangkit dan berbalik kemudian mengangkat lenteranya untuk menerangi persimpangan jalan.

Di tengah-tengah jalan yang bercabang menjadi dua itu, muncul satu jalan lagi. Di ujungnya terlihat sebuah pintu yang terbuka dengan bagian dalamnya yang bercahaya, membuat tempat itu menjadi terang benderang.

“Kamu lihat pintu itu?” tanyanya kepada anak itu. “Pergilah, ayahmu menunggumu di sana.”

Bohong. Ia tahu bahwa ia mengatakan kebohongan. Ayahnya tidak akan berada di tempat yang sama dengannya. Tapi, anak itu tidak melakukan dosa apapun sehingga ia berhak untuk mendapatkan akhirnya tersendiri.

Mendengar perkataan Akki, anak itu tersenyum. Seluruh luka di tubuhnya dalam sekejap lenyap. Ia memalingkan wajahnya pada Akki sebelum akhirnya berlari pergi menuju pintu itu.

“Terima kasih, kakak…,” ucapnya dengan suara terbata-bata.

Oh, dia bisa bicara…

Setelah anak itu masuk, pintu tersebut kembali menghilang, membuat tempat itu kembali gelap gulita. Akki menancapkan tongkat lenteranya ke tanah dan terduduk di jalan setapak. “Aahh, aku selalu benci melakukan ini,” ucapnya lemah.

(Kalau begitu, kenapa tidak berhenti saja?)

Sebuah suara yang terdengar seperti raungan hewan buas dapat terdengar di tempat itu. Tampaknya pemilik dari suara itu adalah salah satu pasang mata yang berada di sana.

“Kalau bisa berhenti juga aku sudah berhenti,” keluh Akki tanpa memandang si pemilik suara itu. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Di dalamnya terdapat data dari tamunya itu. “Nama: Adrian. Usia: 34 tahun. Pekerjaan: pegawai swasta. Penyebab kematian: kehabisan darah akibat banyaknya luka tusukan di tubuh. Pelaku: rekan kerjanya. Motif: pembalasan dendam atas kematian tunangannya. Keterangan: pelaku KDRT dan menyebabkan kematian istri dan putranya.”

(Oy, kenapa datanya berbeda dari apa yang dia ucapkan?)

Terjadi ketidakcocokan antara data yang diterima Akki dan pengakuan Adrian. Sebelumnya, ia mengaku berusia 26 tahun, bekerja sebagai manajer, dan belum berkeluarga.

“Oh, itu karena dia tidak ingin mengingatnya. Dia mengingat usianya 26 tahun karena itu adalah masa keemasannya. Di usia itu dia menjabat sebagai manajer dan berhasil menikahi putri presiden direkturnya. Dari pernikahannya itu, dia dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu.”

(Kenapa dia tidak ingin mengingat kenangan indah itu?)

“Karena direkturnya, atau mertuanya, jatuh bangkrut. Baginya yang menganggap pernikahan sebagai tangga menuju posisi yang lebih tinggi, tentunya hal ini tidak dapat dimaafkan.  Sejak itu, dia melakukan kekerasan setiap kali suasana hatinya buruk dan menyebabkan istrinya meninggal setahun kemudian. Setelah itu, pada usia 32 tahun, dia bergabung dengan perusahaan baru dan lagi-lagi mengincar putri sang direktur. Sayangnya sang putri telah bertunangan dengan pegawai baru di tempat itu. Tapi, orang itu tidak menerimanya dan membayangkan bahwa putri tersebut direbut oleh si pegawai baru. Sehingga ia melakukan tindakan kriminal itu. Setelahnya, sang putri direktur yang merasa dirinya telah dinodai memutuskan untuk bunuh diri dan membuat sang tunangan membalas dendam dengan membunuh orang itu,” jelas Akki dengan nada seperti membacakan dongeng.

(Anak itu juga akhirnya tewas?)

“Ya, tepat sebelum orang itu ditikam hingga tewas, anak itu berusaha mati-matian memperingati bahwa ada penyusup di rumahnya. Tapi orang itu tidak mendengarkannya dan terus memukulinya. Mungkin karena pukulannya mendarat di tempat yang tidak seharusnya, organ vitalnya terkena serangan dan menyebabkan kematian. Tidak berapa lama kemudian, orang itu juga tewas. Karma, ya.”

Bahkan setelah mati pun anak itu terus mengikuti sang ayah. Sejak awal anak itu terus berada di belakangnya, berjalan sambil memegang ujung kemejanya. Walaupun ia telah berulang kali memperingatkan ayahnya untuk tidak mengambil jalan itu, tapi sang ayah tidak bisa mendengarnya, bahkan melihatnya. Yang ia rasakan hanya ketakutan saat menyadari keberadaan anak itu. Akki sendiri tidak mengerti mengapa anak itu terus berusaha menyelamatkan ayah yang telah memperlakukannya begitu buruk hingga membuatnya terbunuh.

(Kalau begitu, yang mengejarnya…)

“Hanya delusinya saja. Perasaan bersalahnyalah yang membuatnya berkhayal dikejar seseorang,” ucap Akki sambil melambaikan tangannya. “Haa… aku benar-benar benci dengan orang seperti itu. Dia sama sekali tidak bisa mensyukuri apa yang telah dimilikinya. Hanya mementingkan diri sendiri, tidak bisa menerima hal yang tidak sesuai dengan pikirannya, dan dengan mudahnya menghancurkan kehidupan orang lain,” keluh Akki.

“Jiwa manusia benar-benar kotor sampai membuatku muak.” 

(…Apa kau bisa berkata begitu? Bukankah kau sendiri juga demikian?)

Akki tersentak setelah mendengar kata-kata itu.

(Padahal seharusnya kau biarkan saja kami memangsanya.)

“…Walaupun dengan senang hati aku ingin sekali membiarkannya, tapi pekerjaanku adalah mengantar orang sepertinya sampai tujuan. Lagi pula, penjahat kelas teri seperti itu rasanya pasti tidak enak.”

(Kalau saat itu kau juga memilih jalan, ke mana kau akan berakhir? Sama seperti anak itu, atau…)

“Tentu saja aku pasti akan tiba di tempat yang sama dengan laki-laki itu,” ucap Akki dengan cepat. “Tapi, berbeda dengan pengecut itu yang tidak berani mengotori tangannya sendiri, aku melakukan semuanya dengan mengetahui konsekuensinya.”

Sebuah seringai lebar merekah di wajah Akki. Sementara suara itu hanya terdiam mendengar jawaban pemuda tersebut.

Akki melemparkan pandangannya pada data yang terletak di ponselnya. Setelah menekan beberapa tombol, “A-Aaaah!!” Ia menjerit tiba-tiba.

(Ada apa?)

“Da-datanya hilang! Bagaimana ini, padahal aku masih harus mengirim laporan…,” ucap Akki lemah. Sejak dulu ia selalu tidak pandai menggunakan perangkat semacam ini. Ia tidak tahu harus menekan tombol apa dan walaupun telah mengutak-atik ponselnya tersebut, ia tetap tidak menemukan apa yang dicarinya.

“Sekarang, segalanya berubah digital… Apa mereka tidak bisa menyediakan cara manual untuk orang yang tidak mengerti teknologi?” keluh Akki untuk kesekian kalinya.

(Ucapanmu seperti orang tua saja.)

“Berisik! Waktu zamanku masih hidup, alat seperti ini belum ada, tahu!” protes Akki.

Meskipun begitu, melihat Akki yang kesulitan, pemilik suara itu tetap membantunya menjelaskan apa saja yang harus dilakukannya. Mungkin hal itu disebabkan mereka telah saling mengenal dalam waktu yang lama. Walaupun posisi mereka berbeda, tapi mereka dapat dikatakan sebagai teman.

Setelah dipikirkan lagi, langkah-langkah yang harus dilakukannya memang terasa sulit bagi manusia gagap teknologi seperti Akki. Ia baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga sehingga ia cukup bisa bersimpati dengan perasaan Akki.

“Ah,” gumam Akki. Begitu ia selesai mengirimkan laporan kepada atasannya, sebuah notifikasi kecil muncul di pojok kiri atas layar ponselnya. Akki segera berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelah mengambil kembali tongkat berlentera yang tertancap di tanah, ia mulai berjalan.

“Tamu berikutnya sudah datang, aku pergi dulu, ya!”

***

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments