Happiness

1 year ago
Sumber: pexels.com
Lumi

by: Lumi

Semakin ke sini, kebanyakan bentuk benda telah berubah untuk mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Misalnya, seperti lagu, foto, gambar, tulisan dan video yang mampu dikumpulkan menjadi satu benda saja. Memang, umat manusia sekarang sudah menggenggam super-computer di sakunya masing-masing yang bernama handphone. Berkat kemudahan benda itu, kehidupan manusia menjadi serba kasat mata.

Segalanya berubah digital.

Tidak bisa dipungkiri juga kalau sebagian hidup manusia berada di dunia maya. Banyak yang mampu mencari cara dan menghidupi dirinya sendiri hanya bermodalkan koneksi internet serta komunitas dunia digital. Bukanlah hal yang tidak mungkin jika semua aspek kehidupan manusia kelak akan berubah bentuk menjadi rentetan data yang mampu diakses di mana saja.

Namun, bagaimana kalau seseorang bisa mengunduh kebahagiaan?

Aku sempat mendengar rumor konyol itu dan tertawa remeh, meragukan kabar absurd seperti itu. Namun, sebuah link dari nomor yang tidak dikenal tiba-tiba masuk ke dalam telepon genggamku dan mengubah anggapanku untuk selamanya. Sejak saat itu, aku menjadi saksi kebenaran atas rumor tersebut.

Kejadian itu berlangsung di suatu sore yang mendung. Suasana hari itu memang berbeda dengan biasanya. Tetapi karena diburu oleh waktu, aku mengacuhkan semua hal remeh seperti itu dan berlari pulang dari kampus.

Akhirnya tiba di kos. kusiapkan laptop dan peralatan menulis yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas esai yang entah seberapa banyak itu. Bagus, wi-fi lancar. Mau tidak mau, tugas kuliah ini harus selesai nanti malam.

Keadaanku sekarang cukup terpojok. Berkat banyaknya kegiatan organisasi yang sempat mengambil waktu kuliah, kuliahku terancam gagal karena banyaknya tugas dan kuis yang terlewati. Jadi, tugas rumah ini menjadi satu-satunya penyelamatku di semester ini dan aku berharap tidak ada gangguan sampai besok pagi.

Topik esai kali ini adalah tentang Konsekuensi Ekonomi dan Teori Akuntansi Positif, minimal lima lembar. Tapi, aku tahu kalau dosen kelas ini akan memberikan nilai yang sebanding dengan jumlah halaman yang melebihi minimal. Dengan kata lain, aku harus menambahkan beberapa jurnal-jurnal terkait agar mampu mencapai nilai yang sempurna. Aku rasa sebagai ganti beberapa kuis yang terlewati, mengerjakan—

Teleponku tiba-tiba berdering, mengagetkanku saja.

“Ya, halo,” jawabku tanpa melihat nama yang menghubungi. Terdengar suara lembut dari seberang sana.

“Entar malem jangan lupa, ya~?”

“Risa? Oh, yang nge-date itu, ya? Erm…,” ucapku terbata-bata. Seketika itu juga aku baru ingat kalau ada janji kencan dengan Risa, pacarku nanti. Gawat, waktunya nggak cocok. Posisiku sekarang sedang terpojok. Mau tidak mau, kita tunda dulu kencannya.

“Jadi, begini, Ris. Gimana kalau… kita tunda aja acaranya. Kalau hari ini, aku nggak bisa. Banyak tugas.”

Terdengar nada terputus dari seberang sana.

Sejak kapan aku berbicara sendiri? Astaga, cewek ini tetap seenaknya kalau sedang berurusan sama orang lain.

“Kalau orang belum selesai ngomong jangan diputus, dong!” makiku kesal kepada handphone yang tidak bersalah. Tak ingin membuang waktu lagi, tanganku melempar benda kesayangan umat manusia itu ke kasur dan melanjutkan tugas esai yang belum mulai dikerjakan.

Tanpa terasa beberapa jam telah berlalu. Matahari yang telah setia memberikan penerangannya kini telah menghilang. Tanganku meregang sesaat agar kembali lemas. Untuk selalu fokus di depan laptop dan mengerjakan berbagai teori cukup melelahkan. Sang perut juga sempat mengingatkan kalau ini waktunya untuk makan malam. Ketika aku melihat ke arah jam laptop, sudah menunjukkan pukul tujuh petang. Terang saja kalau tubuhku meminta sesuatu untuk dicerna. Sebuah dilema mempertanyakan keputusanku, untuk mengisi perut segera atau melanjutkan tugas kuliah yang masih belum setengahnya ini.

Lalu, aku teringat akan janji kencan dengan pacar. Semoga Risa sempat mendengarkan kalimatku yang terakhir sebelum memutus teleponnya. Kalau tidak bakal bisa—

Tiba-tiba pintuku terbuka dengan sedikit kasar. Aku bisa melihat sesosok gadis dengan tatapan wajah yang tidak bersahabat berjalan ke arahku. Itu Risa! Kenapa dia malah kemari?!

“Eeh, kok kamu ada di sini?”

“Gitu, ya! Sama pacar sendiri nggak kasih kabar. Kamu tahu uda berapa lama aku duduk sendirian kayak orang bego di sana? Punya hape dilihat, dong!”

“Ya, kan aku udah bilang kalau mending kita tunda—“

“Kapan bilangnya?! Bales chat atau kirim sms, kek!”

Pekikan suaranya benar-benar menusuk telingaku. Sempat mataku melirik sebentar untuk mencari di mana telepon genggamku sekarang berada sembari memikirkan pembelaan selanjutnya. Oh, iya. Tadi sempat kulempar ke kasur supaya bisa lebih konsentrasi. Sialan!

Sesuatu yang lunak sempat mengenai dahiku dengan kerasnya. Aku kewalahan, namun menyadari kalau Risa barusan melemparkan tasnya padaku. Ketika pikiranku semakin kesal dan berdiri untuk bisa sejajar dengannya, mata gadis itu berubah sembab.

“Tahu nggak, sih… kalau aku nunggu banget waktu kencan kita. Jarang-jarang kita bisa dapet waktu luang seperti ini. Aku kangen kamu, kangen banget. Kamu selalu sibuk, sibuk, dan sibuuuk terus! Kamu pilih organisasi apa aku?!”

Layaknya anak kecil yang mengamuk karena tidak bisa mendapatkan hal yang diinginkannya, Risa menangis kesal dan mengucapkan kata-kata yang tidak dapat aku mengerti di sela-selanya. Kemarahanku menguap begitu saja melihat kenyataan bahwa aku menyakiti seorang gadis. Aku mencoba untuk mendekat, namun ia menepis tanganku yang ingin merangkul bahunya.

“Ya… kita ‘kan masih bisa cari waktu lain, sayang. Aku mau menjelaskan posisiku tadi tapi kamu buru-buru putisin teleponnya,” belaku di antara suara isak tangisnya.

“Oh, gitu, ya. Bahkan kamu nggak minta maaf sama sekali sama aku. Ya, udah,” responnya dan menunduk sebentar untuk mengambil tas yang sempat ia lempar tadi. “Kita putus.”

Apa? Hubungan kita berakhir hanya begini saja?

“Risa! Dengerin dulu, deh. Iya, aku minta maaf sama kamu. Tapi coba—“

“Udah, nggak perlu. Kita nggak usah ketemu lagi,” potongnya dan langsung berjalan pergi, masih menangis. Sedangkan, aku hanya mampu berdiri di pintu kamar kos, memandangi sosok gadis yang terlihat kecil dan rapuh itu menghilang di antara dinding-dinding. Kemudian, setelah isak tangis itu tidak lagi terdengar, aku berlutut, mengeluarkan suara pelan yang panjang sebagai pelampiasan rasa kesalku.

Kepalaku menggeleng, tidak mengerti apa yang telah terjadi. Bolpoin yang sedari tadi berada di tangan kanan langsung kulempar ke tembok. Beberapa buku referensi yang susah-susah kuambil dari lemari juga ikut terlempar bergantian. Konsentrasiku buyar sudah.

Seharusnya ini hanya perkara kecil yang bisa diselesaikan baik-baik. Tapi, kenapa Risa malah bersikap seperti itu?

“Dasar cewek.”

Kuperiksa telepon genggam yang menjadi saksi putusnya hubungan kami di kasur. Memang, ada sekitar beberapa belas kali panggilan masuk dan chat yang berasal darinya. Namun, aku tidak mendengar apapun karena berada di mode getar. Akhirnya bermuara pada pertengkaran percuma seperti tadi.

Padahal aku mau kalau kita pergi kencan dengan segala tanggung jawab yang telah tuntas. Apakah hal itu sangat berat untuk dilakukan?

Mau bahagia aja ribet…

Tiba-tiba datang pesan masuk ketika jemariku masih sibuk menyapu layar telepon genggam ini. Pesan dari nomor misterius.

Untuk mereka yang ingin segera bahagia.’

4277999.site.file.di

Aku membelalakkan mata. Apakah ini yang kudengar saat di kampus tadi, sebuah ‘kebahagiaan’ yang bisa diunduh dan dinikmati orang banyak? Apa memang hal itu memang benar adanya?

Jadi, kalau aku ingin bahagia sekarang seharusnya bisa, dong?

Dadaku sedikit berdebar-debar, memikirkan segala resiko yang mungkin akan muncul. Namun, berkat pertengkaran tadi yang berujung pada putusnya hubungan kami, kemampuanku untuk mengambil keputusan tidak sebaik yang seharusnya.

Persetan dengan resiko! Kalau apa yang mereka katakan sebelumnya memang benar, maka berilah aku kebahagiaan itu sekarang!

Setelah aku menekan link mencurigakan itu, layar teleponku tiba-tiba berubah hitam. Dadaku berdebar kencang untuk yang kesekian kalinya, berharap kalau tidak terkena serangan virus atau semacamnya. Benda ini adalah satu-satunya akses dengan semua kenalanku, baik teman kuliah, dosen, atau urusan organisasi lainnya. Kalau handphone ini rusak—

Tiba-tiba layarku menampilkan wajah seseorang dengan kulit putih pucat, tersenyum mengerikan padaku. Mulutku memekik pelan, melempar benda itu sekali lagi sampai terbentur dinding dan jatuh di kasur kembali. Tubuhku berjalan mundur, tidak memercayai apa yang aku lihat sebelumnya. Yang tadi itu apa?!

“Maaf membuat anda terkejut. Bukan maksud saya pula untuk menggoda anda dan melemparkan telepon ini. Saya hanya ingin menyapa manusia yang sangat beruntung karena hidupnya akan terselimuti oleh kebahagiaan yang amat sangat!”

Awalnya suara parau itu muncul dari arah kasur. Kemudian, telingaku bisa mendengarkannya dari tempat yang berlainan—laptopku yang sedari tadi menyala! Wajah mengerikannya juga muncul di sana!

Seakan-akan mengerti apa yang aku lakukan selanjutnya, sosok itu memundurkan wajahnya yang memakan seluruh layar, memperlihatkan seluruh tubuhnya dan membungkukkan badan dengan terburu-buru. “Maaf, sekali lagi maaf. Jangan matikan dulu laptop ini. Saya pasti bisa memberikan anda sebuah kebahagiaan. Pasti!”

Aku masih tidak bergerak dari tempatku, memerhatikan layar yang memuat sosok absurd tersebut dengan seksama. Perlahan-lahan, mataku mulai terbiasa dengan penampakan laki-laki yang terus membungkuk dalam waktu lama itu. Ia mengenakan setelan jas hitam rapi layaknya pelayan di suatu restoran elit, rambut hitam yang sedikit memudar menjadi abu-abu yang berantakan dan sepatu merah yang sama sekali kontras dengan seluruh penampilannya. Kemudian, ia kembali berdiri tegap, melayangkan senyum ramah padaku.

Bagaimanapun, senyuman itu masih terlihat mengerikan dipadukan dengan wajah putih pucatnya yang abnormal. Meski sempat bergidik ngeri, aku berusaha menenangkan diriku dan duduk di depan laptop. Aku bisa lihat dari pandangan matanya kalau ia memang bersungguh-sungguh atas ucapannya barusan.

“Oke, jadi kamu…?”

“Perkenalkan, saya Khusa. Bertugas sebagai penyambut bagi siapa saja individu yang merasa ingin bahagia.” Ia membungkuk hormat, memberikan sebuah salam hangat kepadaku. “Tapi, melihat reaksi anda barusan membuat saya berpikir untuk mengganti cara penyambutannya.”

“Ya, ya. Jadi… kamu bisa bikin aku bahagia, ‘kan?”

Khusa tersenyum lagi. “Tentu saja! Apapun masalahnya, perasaan anda masih akan tetap terjaga selama kebahagiaan menyelimuti diri anda! Hanya dengan satu tombol klik, maka anda langsung bahagia!”

Seems too good to be true. Orang itu juga menggerakkan tangannya untuk memunculkan sebuah emote tersenyum berwarna merah muda yang tampil di layar.

“Klik saja simbol ini dan biarkan kebahagiaan bekerja dengan semestinya.”

“Apakah tidak ada bayaran atau sejenisnya?” tanyaku curiga. Berhati-hati adalah peraturan utama ketika akan menggunakan sebuah layanan misterius dari internet.

“Ada. Bayaran yang saya minta adalah kebahagiaan anda. Terdengar kontradiktif? Jangan khawatir! Pasti anda akan bahagia kelak, bahkan meluap-luap melebihi luasnya samudra! Di saat seperti itu, saya akan meminta sedikit kebahagiaan anda dan selesai. Bayaran yang mudah, bukan? Kita sama-sama senang!”

Penjelasannya masih terdengar tidak masuk akal bagiku. Mengambil kebahagiaan? Apakah hal itu benar-benar bisa dibayarkan? Namun, kalau yang ia katakan adalah kelak aku akan sangat berkecukupan dengan rasa bahagia-ku, tidak ada salahnya untuk berbagi sedikit. Sesuai perkataannya, kita semua saling menguntungkan.

“Baiklah. Aku menyetujui bayaran itu,” ujarku mantap dan menekan simbol itu dengan tetikus laptop. Khusa menyeringai dan membungkuk sekali lagi, memberikanku penghormatan untuk yang terakhir kalinya dan menghilang.

***

Esoknya, satu kesialan datang menghampiri. Aku kesiangan dan terburu-buru menuju kampus karena ada kelas pagi. Bahkan, tugas esai yang sempat kukerjakan itu masih belum sepenuhnya selesai karena mood yang memburuk tadi malam. Hah, kebahagiaan yang akan datang apanya? Tidak ada sesuatu yang membuatku bahagia pagi ini!

“Oh, nggak ada kelas, kok. Tiba-tiba dosennya batalin kelasnya mendadak,” ujar ketua kelas begitu aku tiba dengan susah payah. “Oh, iya. Buat periode tugas esainya juga diperpanjang. Paling lambat minggu depan.”

“Hee?”

Jadi, pagi ini tidak ada kuliah? Terus, aku masih mempunyai kesempatan mengerjakannya lagi?

Syukurlah. Rupanya pagi ini cukup beruntung. Namun, masih ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku. Percakapan tadi malam yang berujung putusnya hubungan kami setelah satu tahun lebih masih tidak bisa kupercaya. Sehingga aku berusaha untuk mengumpulkan keberanian dan toleransiku kembali di kantin kampus yang kebetulan sepi ini dan memanggil Risa melalu telepon. Seingatku, ia tidak ada jam kuliah untuk pagi hari ini.

Panggilan pertama tidak diangkat. Begitu juga dengan panggilan kedua dan ketiga. Saat pikiranku berkata lebih baik menghubunginya di lain waktu dan beranjak dari kantin, Risa menelepon balik.

Buru-buru aku mengambil teleponku dan mengangkatnya. “H-Halo, Risa?”

Aku bisa mendengarkan responnya yang lemah dari sana. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku segera minta maaf dan menjelaskan semuanya yang aku bisa. Meskipun via telepon, yang penting bisa tersampaikan.

“—jadi begitulah. Aku mohon kamu bisa mengerti.”

“…kamu di mana sekarang?”

“Eh? Di kantin fakultas. Kenapa?”

Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Ia mendekapku erat sampai-sampai perutku terasa sedikit sakit.

“Maafkan aku juga, ya…,” ucap Risa lirih. Untung saja tempat ini benar-benar sepi sehingga tidak ada yang melihatku dengan keadaan seperti ini di tempat umum.

Dengan begini, hubunganku kembali aman. Kami segera pergi kencan pada malam harinya dan bersenang-senang. Tugas esai telah dikerjakan dengan sempurna sesuai batas tenggat waktu tambahan. Untuk urusan organisasi, entah kenapa kakak senior menyuruhku untuk tidak perlu sering-sering datang. Alasannya karena kontribusiku sudah lebih dari cukup dan lebih baik aku beristirahat sebentar. Perasaanku sekarang? Bukan main senangnya.

Apakah ini kebahagiaan yang dimaksud oleh Khusa? Berarti, keampuhan situs itu benar-benar terbukti! Hidupku jauh lebih baik daripada sebelumnya. Malah, aku tidak sabar untuk menanti hari esok dan menerka keberuntungan apa lagi yang akan datang. Terima kasih banyak, Khusa!

Ada satu hal yang membuatku penasaran. Sampai sekarang, Khusa belum menghubungiku lagi untuk meminta sedikit kebahagiaanku sebagai bayaran. Ketika iseng kubuka lagi situs itu, muncullah satu smiling emoticon baru yang berwarna biru.

“Untuk mereka yang berkehendak lebih, Masih banyak kebahagian yang belum kalian capai di luar sana,” gumamku membaca keterangannya.

Apa ini berarti bahwa aku masih bisa meminta lebih dari yang kudapatkan sekarang?

Kalau begitu, akan kuambil!

Usai menekan simbol itu, aku tertawa puas layaknya seseorang yang mencapai tingkat tertinggi dalam kehidupan. Sayup-sayup terdengar pula suara parau yang menyenangkan, berusaha untuk memberikan tanggapannya terhadap sikap salah satu anak manusia.

“Kebahagiaan akan segera datang, melebihi apa yang kamu rasakan.”

***

Siapa sangka kalau kebahagian datang bertubi-tubi sebelum aku sempat untuk menerimanya.

Nilai-nilaiku mendadak bagus, padahal aku tidak belajar terlalu rajin. Malah, beberapa dosen mengajakku untuk ikut serta di dalam penelitian mereka. Urusan organisasi? Jabatanku naik, dengan workload yang entah kenapa menjadi lebih berkurang dari sebelumnya. Namun, mereka semua senang dengan kepemimpinanku sehingga relasi kami menjadi sangat baik. Lalu, untuk hubungan romantis—

“Eh, jangan liat ke Tina terus, dong. Kamu harus perhatian sama aku juga,” rajuk Risa manja dari sisi kiri.

“Nggak apa, dong. Lagipula, kamu ‘kan pacar pertama. Seharusnya dia udah bareng sama kamu lama. Gantian, ya,” timpal Tina menggoda dari sisi kanan. Kemudian, mereka saling melotot satu sama lain namun dengan cara yang imut.

“Erm, girls. Kalau kalian gini terus aku nggak bisa lanjut kerjain proyek dosen, nih.” Aku berusaha untuk menggaruk kepala yang tidak gatal. Sayang, Tina menahan tangan kananku. Bisa gawat, nih. Aku membuat beberapa penghuni kosan lainnya sirik karena pertengkaran dua bidadari ini, hehe.

Bahagia? Tentu saja. Keseharianku benar-benar berubah usai mengunduh sebuah ‘kebahagiaan’ di situs itu. Awalnya, aku hanya sedikit terbawa suasana karena Tina diam-diam suka padaku. Namun, siapa yang sangka kalau Risa mengijinkan untuk mempunyai pacar kedua. Mimpi apa aku semalam? Terima kasih, Dani! Terima kasih, Khusa! Semoga kalian juga sama bahagianya!

Tiba-tiba, di tengah kebahagiaan seperti ini datanglah sebuah notifikasi masuk di telepon genggamku. Ada tawaran dari Khusa kalau terdapat smiling emoticon baru di situs biasanya. Ternyata mereka mampu menyediakan ‘kebahagiaan’ yang lebih baik lagi daripadai sekarang, hebat!

Tentu saja aku menekan ikon smile emoticon yang berwarna hitam itu.

“Hmm? Ada apa?” tanya Tina, menghiraukan racauan Risa yang protes karena ia semakin mendekat ke arahku.

“Nggak. Cuma spam yang nggak jelas.”

Tidak terima aku menanggapi Tina sebentar saja, tiba-tiba Risa memotong. “Eh, ada gosip seru, nih. Katanya kalau kamu lagi sedih mending download aja ‘kebahagiaan’ di internet!”

“Eeh, serius? Kamu nggak lagi membual ‘kan biar dia menoleh ke arahmu terus?”

Itu memang benar, wahai pacar pertama. Berkat rumor itulah aku bisa menduakanmu secara terang-terangan. Namun, akan lebih baik kalau aku diam saja terkait hal itu, hehe.

“Tina berisik banget. Makanya, mungkin Tina pengen coba biar bisa bahagia. Nggak sirik terus.”

“Tak perlu. Toh, aku udah seneng banget bisa deket sama kamu.” Tina mengerlingkan matanya padaku. Aku benar-benar tersipu melihatnya dan refleks memalingkan muka. Risa kembari mengomel dan Tina hanya tertawa renyah saja menanggapinya.

Benar-benar suatu sore yang menyenangkan.

***

Satu hal yang tidak sempat kusadari saat itu adalah; ‘kebahagiaan’ ini bersifat candu. Tubuhku menuntut untuk bisa merasakannya lagi dan lagi, melebihi batas yang seharusnya diterima oleh seorang manusia.

Aku telah merasakan apa yang seorang laki-laki impikan di dunia ini. Uang, reputasi, kekuatan, dan perempuan. Hah! Sudah berapa banyak gadis yang menjalin hubungan denganku, baik yang telah menjadi mantan maupun yang masih bertahan. Kalau mau dihitung jumlah pacarku sekarang itu… ah, entah. Terlalu banyak.

Namun, semuanya berujung pada satu titik kejenuhan. Semua ‘kebahagiaan’ yang kudapatkan tidak lagi mampu menyenangkan pikiranku. Sempat kurasakan debaran dada yang begitu kencang, tertapi hal itu perlahan-lahan memudar. Gawat. Aku harus mendapatkan kembali pemicu kebahagiaanku lagi.

Tubuhku terus mencari dan mencari, berusaha menemukan sumber endorphin yang telah lama hilang. Sampai akhirnya, aku menemukannya. Kukejar, kutangkap, dan kunikmati.

“Ah, ya, ya. Saya rasa, ini sudah waktu yang tepat untuk menagih bayarannya kepada anda.”

Entah darimana, aku melihat wajah familiar yang pernah kulihat entah di mana. Mimik rupa yang pucat dengan rambut acak-acakan, dipadukan dengan setelan jas rapi dan sepatu merah yang begitu mencolok, hadir di hadapanku dengan seringai anehnya. Apakah aku pernah bertemu dengan orang ini di lain waktu?

“Wah, wah, wah. Rupanya anda telah menemukan cara anda sendiri untuk bahagia. Tidak apa. Berarti, itu adalah pertanda bagi saya bahwa jasa yang telah kami berikan tidak mampu lagi untuk memuaskan anda.”

Mulutku hanya menganga lebar mendengarnya, tidak mampu memproses apa yang ia katakan. Apa maksudnya? Apakah ia mau memberikanku sebuah kebahagiaan yang tidak terkira besarnya?

Tangannya yang mengenakan sapu tangan mendekat ke wajahku, berusaha menyentuh kening dan menutupi seluruhnya. Usai beberapa detik, ia menarik tangannya dengan begitu cepat ibarat menyambar sebuah topeng yang sedang dikenakan.

Seketika itu juga seluruh kesadaranku kembali. Khusa! Dia adalah seseorang yang menyambutku di situs itu! Kenapa dia—sebentar. Kenapa aku di sini? Sejauh mata memandang, aku berada di ruangan gelap dengan bola lampu bercahaya redup sebagai satu-satunya penerangan.

“Bayaran telah diterima. Terima kasih telah mau menggunakan jasa kami. Semoga anda bisa mencari kebahagiaan tertinggi versi anda sendiri,” salam Khusa dan membungkuk hormat padaku.

“Maksudmu apa?!”

“Lihatlah tangan anda.”

Darah?

Aku telah membunuh orang?

Tubuhku tersentak ngeri, menendang mayat yang daritadi kududuki dan menjauh darinya. Namun, punggungku langsung menyentuh sesuatu yang juga terasa basah. Saat kupalingkan kepalaku ke belakang, ada mayat dengan keadaan yang mengenaskan pula!

“Kok… begini…”

“Begitulah. Sayang sekali jika anda tidak puas dengan pelayanan kami. Sehingga, saya datang dan meminta bayarannya: sebuah kebahagiaan. Nah, kalau begitu saya permisi dulu.”

Khusa menghilang tak berbekas layaknya asap yang melebur bersama udara. Aku ingat semuanya. Entah bagaimana, aku menganggap bahwa mengambil nyawa seseorang memberikan rasa kebahagiaan tersendiri bagiku. Ibarat seorang pembunuh berantai yang selalu haus darah, aku melihat seseorang yang layak kubunuh dan mengikutinya sampai ke tempat sepi untuk membunuhnya. Sekarang, semua yang pernah kurasakan menghilang. Hanya tersisa kekalutan yang sangat dalam.

Tidak mampu membendungnya lagi, tenggorokanku memekik pilu. Tak ada lagi yang tersisa pada diriku selain tubuh yang menyedihkan ini. Semuanya telah kubuang demi mengejar sebuah kebahagiaan semu. Sekarang, aku tidak ada ubahnya dengan hewan buas.

Apa yang harus aku lakukan?

Cahaya Bulan menyinari sebuah obyek yang berkilau. ia terlihat indah di tengah kubangan darah yang begitu amis dan menjijikkan. Aku melihatnya sebentar dalam beberapa menit dan tersenyum ke arahnya.

Sebuah pisau yang akan mengantarkanku mengenali kembali kebahagiaan yang hakikik. Bagus. Dengan begini, aku bisa mengakhiri semuanya.

Kuposisikan belati itu tepat di depan kerongkonganku. Tanganku bergetar hebat, memikirkan apa yang telah terjadi sampai sekarang. Tidak ada jalan lain lagi. Hanya ini yang bisa kulakukan.

Dengan satu dorongan pasti, maka sele—

419 dukungan telah dikumpulkan

Comments