Highlander

5 months ago
Bunga

by: Bunga

Aku Luchou, pemuda tua penderita sindrom highlander. Di mana kau akan tetap muda, tak menua dan hanya jiwamu yang menjadi dewasa.

Aku Luchou, pemuda tua berusia 90 tahun. Berharap mati dan tak mendapat perlakuan spesial karena sindromku.

Aku Luchou, pemuda tua yang akan bercerita pada kalian semua.

 

H I G H L A N D E R

 

Aku berkelana ke seluruh dunia, sudah banyak bahasa yang kukuasai, tak terhitung jumlahnya. Banyak kota dan negara yang telah kusinggahi…

Saat ini aku tengah berada di kerumunan orang yang berlalu-lalang. Mereka berjalan, sedangkan aku tidak. Aku berhenti, bingung akan kulanjutkan ke mana perjalanan ini, sampai aku melihat seorang wanita yang nampak lebih bingung dariku, aku mendekat, dan menyapanya.

“Nona, apa yang tengah kau lakukan di sini?”

Dia menatapku dan berkata, “Tuan, tolonglah aku. Aku lupa di mana aku tinggal…”

Dan aku memutuskan menemani wanita ini. Ia tak terlalu tua, namun tak lagi bisa dikatakan seorang gadis. Rambutnya kemerahan sebahu dengan mata biru, tak lupa bintik-bintik di wajah yang menyamarkan cantik wanita itu. Ia memakai terusan hitam dengan bercak putih di bagian bawah, memakai sepatu hitam dan kaus kaki putih setengah betis. Saat aku tengah memperhatikannya, ia berdiri dan mulai berjalan. Aku ingin memastikan bahwa ia mengingat tempat tinggalnya. Aku menarik lengannya, dan mulai basa-basi.

“Nona, apakah Anda sudah ingat alamat rumah Anda?” tanyaku sopan. Ia melotot ketakutan dan berteriak, “Siapa, kamu? Dasar orang mesum, lepaskan aku!!!”

Plaakk!!

Kini pipiku dihiasi dengan jiplakan tangan seorang wanita. Ah, dengan warna merah juga rasa sakit.

***

Tidak puas terhadap perlakuan wanita itu, aku membuntutinya hingga sampai ke sebuah pondok tua, cat putihnya sudah mulai kotor dan mengelupas. Tapi kekurangan itu tertutup dengan taman dan tanaman hijau yang menghias pondok, tak lupa koleksi bunga yang sangat indah di pojok bangunan.

Aku pun berjalan masuk dan mulai mengawasi sekitar. Ternyata seorang anak kisaran 15 tahunan menghentikanku.

“Hei, lelaki bodoh. Apa yang kau lakukan di rumah orang?” Ia lompat dan menjambak rambut putihku, iris hijauku tampak melotot kaget. Ada apa dengan bocah pirang ini?!

“Hei, Nak! Lepaskan aku! Aku hanya ingin bertemu wanita berambut merah itu!!” Aku berusaha melepaskan tangan anak itu, percuma. Ia kuat sekali mencengkeram rambutku.

“Apa yang kau inginkan dari kakakku?!” tunggu, mereka kakak-adik?

“A-aku hanya ingin bicara. Tolong jangan menarik rambutku!” Bocah itu nampak ogah-ogahan walau akhirnya melepas jambakannya.

Ia menatapku dan mengisyaratkan aku untuk duduk di kursi taman dekat pot tanaman kaktus. Aku duduk dan anak itu duduk tepat di kursi yang menghadap langsung ke arahku. Manik hijau daunnya menyipit, mencoba menelusuri penampilanku, sepertinya. Kurasa ia ingin mengecek apakah aku orang yang mencurigakan.

Aku sedikit membenarkan mantel hitamku, membiarkan kaki jenjang yang terbalut celana bahan putih bersih itu terkena daun dan hembusan angin sore. Sepatu hitamku terkena rerumputan hijau bekas pembabatan. Kurasa aku harus membersihkannya nanti di rumah.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?” wajah juteknya mulai melemas, ia menatapku.

“Tadi, kakakmu itu meminta tolong padaku. Saat aku ingin menolong dan memanggilnya, ia malah memukulku. Lihatlah pipi kemerahan ini!!” Aku menunjuk pipiku dengan mengharap rasa iba. Ia hanya menatapku.

“Ah… itu, ya. Tunggu, jadi kau ke sini ingin meminta ganti rugi padanya?”

“Tidak, tidak. Hanya saja, aku ingin memastikan bahwa ia pulang ke rumahnya. Kurasa, dia telah pulang karena kau mengakui ia kakakmu.” ucapku, ia menatapku dan berkata, “apa kamu mau tau suatu rahasia?” Aku heran, dan mengangguk tanpa sadar.

“Kau tau penyakit Alzheimer? Penyakit setipe dengan demensia, tapi ini membuat penderitanya melupakan sesuatu dengan jangka waktu 10-20 tahunan, mereka bilang. Kadang ingatan yang baru saja mereka alami terlintas, atau kadang mereka melupakannya. Dan… kakakku. Ia hanyalah wanita malang berumur 29 tahun. Ia menderita penyakit itu yang notabene diderita oleh lansia. Entahlah, kurasa ia sangat stress dan depresi karena mengurus dan bertanggung jawab seorang diri dalam usia muda. Dahulu ia bekerja sebagai apa saja. Hampir semua kantor di kota ini pernah mempekerjakannya. Jadi, bukan hal aneh jika ia mendadak lupa di mana dia tinggal dan ingat kembali. Atau ia mengajakmu berbicara tapi selanjutnya memukulmu. Semua ada alasannya. Dan alasan dia tak melupakanku karena aku adiknya. Ia sudah bersama denganku sejak kecil. Dan kami baru saja pindah ke kota ini saat aku berumur 15 tahun. Wajar saja ia lupa.” Jelasnya panjang. Ah, aku baru tahu ada penyakit seperti itu di dunia ini.

“Hm? Lho, kau pindah ke sini saat umur 15 tahun?” tanyaku heran.

“Ya, kenapa?” Aku menerawang bocah lelaki itu, bingung. Berapa umurnya sekarang? Bukankah seharusnya ia berumur 15?

“Berapa umurmu?”

“20 tahun.”

‘APAAAAAA??!!! Tunggu, mana nungkin ini terjadi!!!’

“A.. anu, Nak. Ada batasannya kalau harus berbohong.” Aku berusaha menutupi keterkejutanku. Apa benar ia 20 tahun? Maksudku, ia sangat kecil dan lucu. Bahkan mengaku sebagai anak SMP—- Tidak, SD saja orang akan percaya.

“Iya aku tahu, banyak yang berkata aku masih SMP atau semacamnya. Tapi, hey. Aku jengkel. Kenapa sih, dengan wajahku?!” Aku menatapnya yang tengah geram. Kurasa, ia tak pernah bercermin sebelumnya…

“Kau tahu… Ada batasan untuk menjadi se-baby face itu…” Ucapku. Jadi karena ini ia bersikap tak sopan?

“Aahhh, berisik! Kau juga berumur 20 tahunan kan sepertiku?! Tak usah mencoba untuk menasehati!!” Ia berdiri dan menunjukku -lagi- aku tercengang dan menyadari fakta bahwa ia belum tau kelainanku.

“Uhm, sayang sekali anak muda… wajahku memang menipu, ya?” ucapku, ia bingung dan bertanya, “maksudmu? Kau 30 tahun? Yang benar saja??”

“Tidak, Nak. Aku bahkan bisa disebut ayahmu, ah, tidak. Kakekmu…” ia menyipitkan matanya, “yang benar saja kalau bicara…”

“Ayolah, aku penderita Sindrom Highlander, di mana pertumbuhan fisikku akan terhenti. Tapi tentunya umurku akan bertambah.” Pemuda itu -kurasa-aku-harus-memanggilnya-pemuda- menyimak. “Bukan berarti aku tak bisa mati, sih. Karena pada dasarnya manusia tak ada yang abadi, ya. Aku bisa mati karena penyakit, kecelakaan, atau apapun yang sudah menjadi takdirku.” Lanjutku.

Ia tetap menatapku, menunggu ceritaku dilanjutkan, mungkin.

“Kau tahu berapa usiaku?” tanyaku.

“B-berapa…?”

“90 Tahun!!” banggaku, ia menatapku kaget dan bingung. Lalu berkata padaku.

“Kau tahu… Ada batasan untuk menjadi se-baby face itu…”

Aku mematung.

Ah, dia membalikkan kalimat yang aku lontarkan padanya tadi..

.

.

.

“Sudah malam, di mana rumahmu? Bagaimana jika kau menginap saja di sini?”

“Ah, oke. Aku akan menginap.”

Sang surya sudah pergi, ia membuat seisi kota gelap, tersadar kalau hari sudah malam. Ternyata berbincang dengan anak ini boleh juga. Kami membagi informasi mengenai orang-orang dengan sindrom, penyakit aneh  dan nasib malang yang ada di pondok ini. Membuat aku tak bisa jauh dari topik pembicaraan itu.

“Ah, iya. Aku Luchou. Namamu?” tanyaku saat berjalan beriringan dengan bocah— um, pemuda jutek tadi. Ia menatapku, dan tersenyum.

“Lukas.”

Lalu kami berjalan memasuki pondok tua itu.

.

.

“EMAA!! AYO LEMPAR ITU KE SINI!!”

“AAHHH, JANGAN KE ARAHKU!!”

“Oh, yaampun. Koleksiku… KOMIKKU!!!”

“AKU LAPAAARRRRR!!!”

“JANGAN BERMAIN DENGAN PONSELKU!!”

Kekacauan adalah satu yang dapat menggambarkan ini semua. Buku-buku komik berserakan, ia sedang tak ingin membereskannya, ya? Kenapa dilempar seperti itu? Padahal lingkungan bersih adalah nomor 1. Belum lagi kertas dan baju-baju yang ada di sini, oh ayolaaaah! Apa di sini tak ada yang membereskannya?

“Hm, Lukas. Apa yang terjadi di sini?” tanyaku.

“Maaf.” kurasa Lukas geram walau ia meminta maaf padaku dengan wajah merah…

“KALIAN! AKU PERGI SEBENTAR SUDAH MEMBUAT HANCUR RUMAH INI! NANTI INGIN TINGGAL DI MANA?!” omel Lukas. Uwah, dia galak sekali, ya.

“LUKAS PULAANGG!!!”  Semua orang di sana, termasuk aku pergi bersembunyi. Ya ampun siapa sangka ia menakutkan begini?!

“BERESKAN SEMUA, ATAU TIDAK ADA MAKAN MALAM!” titah Lukas sukses membuat semua orang di sini -juga aku- membereskan semuanya.

Mulai dari menyapu, mengepel, hingga mengelap kaca, tak ada yang tertinggal.

“LAPOR! Sudah beres, Pak!” Seorang anak lelaki berambut coklat bermata merah dengan baju tidur berwarna putih menghadap Lukas dengan penuh percaya diri, padahal kuyakin, ia tadi hanya duduk diam di sudut ruangan…

“Kalian ke kamar sana, kalau makan malam sudah siap, aku panggil.” dengan begitu, semua anak pergi ke kamar mereka masing-masing.

“Mereka semua siapa, sih? Adikmu? AH, ATAU MEREKA ANAKMU—–“ Aku dipukul oleh buku, “Jangan sok tahu.”

Sakit…

“Mana kakakmu?” tanyaku sambil melepaskan mantel panjangku.

“Kalau dia tak keluar, berarti ia sedang hilang ingatan sementaranya lagi. Tunggu, kenapa kau menanyakan itu? Apa kau jatuh cinta dengannya?” Ia menatapku jijik.

“Tentu saja tidak, aku tahu umurku.” setelahnya, kami pun memasak makan malam… ah, tidak, sih. Kurasa hanya Lukas saja. Aku tak bisa memasak. Haha!

Sekiranya 40 menit untuk memasak semua dan menatanya di meja makan, Lukas memanggil semua orang untuk makan termasuk kakaknya. Tentu saja aku juga ikut makan!

“Ah, kamu pria yang tadi, ya. Ke mana saja? Kok langsung menghilang saat aku sadar?” tanya wanita berambut merah itu. Ah, aku tak mungkin menceritakan yang sebenarnya…

“Ahahaha…” Aku pun hanya bisa tertawa canggung.

“Kak, malam ini dia akan menginap.” ucap Lukas, sang kakak menatapku lalu tersenyum.

“Tentu saja. Siapa namamu?”

“Luchou…”

“Hai, Luchou. Aku Marrien.” Ia menjabat tangaku lalu kembali duduk.

Uwah, tanganku disentuh oleh wanita muda…

.

.

.

Kami menikmati makan malam seperti keluarga. Di sini aku bisa tahu siapa saja yang tinggal di pondok ini.

Mulai dari Emi dan Ema. Gadis berusia 10 tahun ini kehilangan orang tuanya saat kecelakaan. Begitu juga kedua kakinya. Mereka berdua adalah gadis malang yang sangat manis. Kepangan rambut hitam mereka menambah kecantikan Emi dan Ema. Mata biru mereka yang besar, juga baju dress putih kebesaran yang mereka pakai membuat keduanya manis walau tanpa sepasang kaki.

Ada Ice. Bocah nakal bersurai coklat dan mata merah tadi. Ia seorang anak yang ditemukan Marrien saat pergi ke negeri seberang 10 tahun yang lalu. Saat itu masih musim dingin, sangat dingin. Ia bersyukur bahwa Ice bisa bertahan dalam suhu rendah seperti itu. Walaupun bermasalah di jantung dan beberapa syaraf Ice tidak berfungsi dengan baik, seperti kadang bergetar saat memegang sesuatu terlalu lama atau terkadang ia kejang otot tiba-tiba. Tapi tak membuat bocah ini berhenti tersenyum.

Lalu ada Enn. Remaja penyuka komik berumur 16 tahun. Ia seorang Factitious Disorder. Tipe masokis yang sangat suka dengan perhatian. Ia menyukai sakit, karena dengan itu ia akan mendapatkan perhatian yang lebih. Kadang dia melukai dirinya sendiri dan jika tidak diperhatikan ia akan merajuk seperti anak kecil. Ia rela melakukan apapun asal mendapat perhatian, termasuk menyingkirkan orang yang ada di sekitarnya. Mata merah, rambut putih dan kulit penuh luka menjadi ciri khasnya.

Jun, 17 tahun. Lelaki ini memiliki Sindrom Tangan Alien. Membuatnya tak bisa menggerakkan tangan kirinya dengan baik. Bahkan kadang lengannya melukai dirinya tanpa kendali diri sendiri. Ia tak bisa melakukan apapun dengan lengannya, macam dikendalikan makhluk lain. Bukan otak Jun sendiri. Rambut coklat mudanya sangat indah dengan kulit putih dan mata kuningnya. Sweater merah kebesaran menjadi favoritnya. Lengkap dengan celana panjang putih dan kuas yang sering ia pakai untuk melukis dengan tangan kanannya.

Beda dengan Jun, ada Oila, gadis 15 tahun pembenci seni. Ia penderita Sindrom Stendhal. Di mana ia akan kejang, gelisah, berkeringat, denyut meningkat, bahkan pingsan jika melihat karya seni yang indah. Karena itu ia sangat benci pada Jun yang selalu melukis dengan indahnya. Rambut bob ungu dan mata biru membuatnya terlihat cantik dengan dress mininya. Minus perilakunya yang jutek, sih.

Dan ada yang membuatku tertarik. Zeyhn. Ia mengidap Sindrom Walking Corpse. Di mana ia mengira bahwa dirinya tak ada, sudah meninggal dan yang ada di dunia ini hanyalah ilusi. Tak bergairah dan tak punya tujuan. Bahkan untuk makan saja merasa tak butuh. Ia melakukan sesuatu hanya jika dipaksa. Pemuda 19 tahun ini memilih berkutat dengan boneka kucingnya dibanding dengan manusia. Kadang rambut hitam bergelombangnya yang gondrong itu membuat orang takut padanya, belum lagi mata ungu berkantung panda yang menatapmu dengan tajam. Mantel hitam yang dikenakannya hanya akan diganti apabila Lukas menyuruhnya.

Dan kata Lukas, sih. Masih ada 3 orang lagi yang belum aku temui, Lukas hanya bilang, lihat saja nanti…

“Baiklah, ini Luchou. Dia akan menginap hari ini.” Ucap Lukas sambil menatapku, Semua orang di meja makan mulai beralih ke arahku.

“Heh? Apa dia simpananmu, Kak Lukas?” Ice, bocah itu… apa maksudnya?

“Jangan mengada-ngada, Ice. Aku sudah muak denganmu.” Ucap Lukas tanpa menatap Ice, Ice hanya cemberut.

“Ayolah, Ice, kau hanya bocah berumur 10 tahun, tak berhak berbicara seperti itu.” Jun mulai angkat bicara, pribadi Jun sepertinya sangat dewasa dan bisa diandalkan…

“Heh, kau juga bocah, tau!” Oila meledek Jun dengan wajah manisnya. Jun hanya menatapnya dan tersenyum kikuk.

“Oila jahat, Jun kan lebih tua darimu!” Ema turun dari kursinya dan menjambak rambut Oila.

“Emi! Jangan menarik rambutku! Dasar anak bodoh!” Oila berusaha melepaskan cengkraman itu.

“Aku Ema! Dasar! Kau yang bodoh!!!” Lalu mereka bertengkar, tak lupa Ice yang menyemangati mereka, Jun yang berusaha melerai juga akhirnya terkena pukulan Oila, berbeda dengan Enn yang malah terlihat berusaha terkena pukul…

“PERGI KALIAN DARI RUMAHKU!” Teriakan Marrien membuat kami semua mematung.

Ah… penyakitnya kambuh, ya…

.

.

Makan malam sudah selesai, Marrien dapat ditenangkan dan akhirnya sadar karena Lukas, sungguh adik idaman.

“Luchou, pergilah ke kamar di ujung lorong, kamar Zeyhn. Dia kabur dari meja saat kita tengah berisik tadi. Bawa makanan ini bersamamu.” Titah Lukas, aku hanya mengangguk. Kini aku memakai baju Jun yang memang hampir berukuran sama denganku, sweater hijau dengan motif ranting.

Aku mengetuk kamar Zeyhn. Tak ada jawaban, akhirnya aku membuka pintu dan masuk tanpa izin.

Zeyhn menoleh, menatapku tajam. Aku sedikit merinding. Tapi aku dekati ia sampai makanan itu ada di sampingnya.

“Hai, Zeyhn. Aku Luchou.” Aku meletakkan nampan berisi piring itu di atas meja dekat dirinya yang memojokkan diri, banyak sekali piring kotor di sini.

“Tipuan dunia macam apa lagi kau ini, Luchou?” Zeyhn menatapku dengan wajah dinginnya.

Aku menghela nafas, “Kau tahu, Zeyhn. jangan bersikap seperti itu. Jika ragamu sakit, kau akan mengerti apa itu hidup. Apa itu sehat. Apa itu artinya ada di sini. Maka makanlah dan jangan merajuk oke? Kau sudah 19 tahun kan tahun ini?” Ucapku panjang lebar. Walau kutahu ia hanya anak penderita sindrom aneh, tetap saja aku tak bisa membiarkan orang yang dengan santainya membuang-buang hidup mereka di dunia ini.

“Aku juga seorang yang spesial sama sepertimu. Hidupku hampir satu abad, jika begini, aku tak bisa bukan, berkata bahwa ini semua hanyalah ilusi seperti yang kamu pikirkan? Bagi kebanyakan orang, hidup lama adalah hal yang sangat penting. Ada, lho orang yang tak mempunyai waktu lama dalam hidup, tapi mempunyai ledakan semangat yang melebihi semangat Ice.” Zeyhn menatapku bingung, mulutnya sedikit terbuka.

“Aku tahu itu semua, tentu saja karena aku hidup lebih lama dari dirimu. Jika penyakitmu memang tak bisa disembuhkan, maka cobalah untuk mengatasinya. Kami di sini akan membantu, jika kau tidak punya semangat atau kepercayaan dalam melakukannya, kau boleh menyerah. Tapi, kami di sini bukan menunggumu untuk memakan satu suap ataupun mencoba mengganti baju sendiri. Kami di sini hanya menanti untuk dianggap ada olehmu yang selalu menganggap kami ilusi. Walau aku memang tak pantas mengatakan ini karena baru di sini kurang dari sehari, tapi aku tau apa itu rasanya menjadi spesial di mata orang lain.” wajah pucat Zeyhn mulai berbinar, namun pada akhirnya ia menunduk lagi.

“Akan kucoba…” Zeyhn memeluk bonekanya dengan erat, aku tersenyum.

“Kalau begitu, besok ayo kita mulai perubahan besar, Zeyhn!”

Zeyhn tersenyum padaku, senyum menawan yang sangat manis, “Iya!”

Aku keluar kamar Zeyhn dengan perasaan lega karena mengetahui anak itu mau mendengar perkataanku, dan lagi, ia sangat mudah dibujuk!

“Sudah selesai, Tuan Motivator?”

“Uwah!” suara Lukas mengagetkanku, ia hanya menatapku sambil tersenyum meledek, gawat… apa ia mendengar semua perkataanku pada Zeyhn?

“Hahahaha, aku benci mengatakan ini, tapi terima kasih karena menyemangatinya begitu. Kau memang kakek yang baik.”

“Jangan panggil aku kakek. Aku malu.” ucapku jujur. Tak pernah ada yang memanggilku kakek sebelumnya. Jadi aku merasa sedikit canggung mendengar itu.

Lukas hanya tersenyum. “Kau pakai kamar di sebelah sini, kebetulan pemiliknya sedang pergi entah ke mana.” Ia menunjuk sebuah kamar dengan pintu hijau. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar itu, menyalakan lampunya dan terkejut melihat isi kamar ini. Penuh dengan senjata tajam dan manekin. Di sini juga dilengkapi komputer canggih dengan berbagai aspek yang mungkin melebihi yang sudah pernah kupakai sejauh ini, lihat saja semuanya! Hanya karena segalanya berubah digital, huh? Kamar aneh!

Siapa siluman pemilik kamar ini??!

“Hey! Itu kamarku! Kamarmu sebelah kanannya lagi!” Lukas mengomel padaku.

EEHH??? KAMAR LUKAS?!

Aku pun pergi buru-buru ke dalam kamar yang Lukas maksud. Kamar berwarna cream dengan tata ruangan yang simpel dan minimalis, mengingatkanku pada kamarku saat berumur 15 tahun…

Aku merebahkan diri di atas kasur itu dan tanpa kusadari aku telah terlelap.

.

.

“AAAH! SIAPA KAU!?” Aku terbangun secara tidak halus, melompat dari kasur dan terjatuh, membuat badanku sakit di pagi hari.

“Ma-maaf, kamarnya aku pinjam.” Masih dengan sedikit mengantuk, aku menatap orang di depanku. Seorang pemuda berambut orange dengan mata ungu menatapku aneh sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Rompi coklatnya tampak terbuka, kemeja hitam pria itu terlihat jelas.

“Apa hubunganmu dengan kami?”

“Aku hanya tamu Lukas.” Jawabku seadanya.

“LUKAAASS!!” pemuda tadi berlari menjauh dariku, kurasa ia menuju kamar Lukas.

Lalu lukas datang bersama 2 orang lainnya ke kamar ini. Aku belum meengenal mereka. Mereka semua menatapku dengan aneh. Seorang wanita dan seorang pria. Sang pria tampak memiliki harga diri yang tinggi walau memasang wajah yang mengesalkan. Ia mempunyai rambut merah dan mata kuning seperti rubah. Sedangkan wanita itu memiliki mata berwarna kelabu dengan rambut kemerahan seperti langit senja. Mereka memakai pakaian formal lengkap dengan dasi.

Aku tidak tahu, seperti ada aura aneh mengelilingi kedua orang ini.

Tiba-tiba pemuda berambut orange tadi datang dan berteriak pada Lukas. “Lukas! Aku tadi mencarimu! Ke mana saja kamu?!” Ia mencubit pipi Lukas walau akhirnya mendapat pukulan di kepalanya.

“Baiklah, Luchou. Aku perkenalkan, Perempuan ini Seira. Pemuda ini Prade, sedangkan yang paling berisik itu Heinatsu.” Lukas memperkenalkan mereka ke arahku. Mereka semua membungkuk dan mulai pergi meninggalkan kamar ini.

“Lukas, apa mereka juga istimewa?” tanyaku pada Lukas. Lukas hanya menoleh sebentar lalu menunduk.

“Seira penderita Synesthesia, kelainan indra di mana ia bisa melihat suara dan mendengar gambar. Anak yang lain normal. Hanya saja, mereka istimewa dalam hal lain.” mata Lukas berkilat, tersenyum padaku. “Mereka adalah pembunuh di kota ini.”

“Eh??”

“Yah, pembunuh sekalipun pasti punya niat untuk berubah, bukan? Karena itu aku membawanya ke sini.”

“Lukas kamu hebat, ya…” Ia hanya membalas perkataanku dengan senyuman.

Di saat pemuda seperti Lukas bekerja hanya untuk membangun hidup orang lain lebih nyaman, aku hanya berusaha membuat hidupku hebat seiring berkembangnya zaman. Aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Belum lagi umurku yang sudah terbilang tak lagi muda. Tapi, di sini ada Lukas dan Marrien. Mereka tidak menghiraukan perubahan dunia luar, melainkan menginginkan perubahan kecil dari orang-orang istimewa di sini. Tak terlalu kekinian, namun juga tak melupakan bahwa ia ada di zaman yang lumayan berkembang.

Bahkan orang jahat pun bisa berubah, orang kurang pun punya semangat, dan orang yang semangat belum tentu punya segalanya. Di sini aku diajarkan bagaimana caranya memikul beban bersama, menjadi keluarga tanpa hubungan darah dan bersatu layaknya saudara.

Tak semua dari mereka sempurna, tapi mereka istimewa.

.

.

.

“TOLONG IZINKAN AKU TINGGAL DI SINI!!!”

“HAH?!”

Ya, aku meminta izin pada Lukas untuk tinggal di pondok tua ini. Di sini sangat keren! Mereka yang istimewa ada di sini, untuk apa aku pergi mengelana lagi?

“Tentu saja, semakin ramai semakin asyik!” Marrien tiba-tiba muncul sambil memegang tanganku, aaahh… tangan wanita menyentuhku lagi…

“Eh?! Kakak serius?!” Lukas nampak kaget dengan persetujuan kakaknya, Marrien hanya tersenyum lembut padanya.

“Tolong izinkan Luchou tinggal di sini, kumohon…” Zeyhn menarik lengan Lukas lembut. Suaranya masih parau karena jarang dipakai untuk bicara. Aaahh, Zeyhn juga menginginkanku untuk tinggal!

“Baik. Tapi kamu harus bekerja!” Lukas masih dengan wajah dinginnya menatap padaku.

“Baik!” kami semua riuh, senang akan dapatnya keluarga baru, terlebih aku.

.

.

Jadi, hari esok seperti apakah yang akan menyambutku dan keluarga istimewaku ini?

23 dukungan telah dikumpulkan

Comments