Hikayat Kiai Subakir dan Para Lelembut

3 months ago
Ahmad Aufar Husaini

by: Ahmad Aufar Husaini

Javanesia, sebuah negeri yang berbentuk pulau memanjang. Berada jauh di timur dan melewati samudera Hindia, sehingga perlu berbulan-bulan untuk sampai ke sana dari negeri Arabia jika menggunakan kapal laut. Hujan badai dan angin mati adalah ancaman serius bagi para pelaut yang nekat melewati Hindia. Namun alhamdulillahnya saat aku pergi ke situ sudah ada teknologi yang bernama kapal udara. Aku merupakan pemimpin rombongan dari Kesultanan Seljukiyah Rum untuk menyebarkan ajaran agama ke negeri Javanesia.

Sudah sekitar lima tahun aku tinggal di Javanesia ini, yang berarti total aku sudah menjomblo selama 30 tahun yang dihitung sejak lahir. Untuk pengetahuan sendiri saja ya, salah satu alasan aku dikirim oleh Sultan Seljukiyah ke sini karena di antara para ulama hanya aku saja yang belum menikah. Aku masih ingat perkataan Syekh Jakfar pada Sultan Aladdin Kaygubad di istana kota Bursa saat rapat pengiriman utusan ke Javanesia dulu,

“Di sini ada yang menyanggupi untuk pergi ke Javanesia?” tanya sang Sultan. Tidak ada jawaban sama sekali dari peserta rapat. Hampir seluruh ulama peserta rapat itu sudah punya istri masing-masing, jadi di antara mereka tidak ada yang berani menawarkan diri. Aku saat itu masih anak bawang di majelis ulama, jadi ya tidak terlalu serius mengikuti rapat.

“Di sini kelihatannya tidak ada yang bisa menyanggupi. Aku punya saran wahai Sultan,” kata Syekh Jakfar.

“Apa itu Syekh?” tanya Sultan Aladdin penasaran.

“Bagaimana kalau kita kirim saja ulama muda yang belum menikah?” Para peserta rapat mengangguk setuju semuanya dengan pendapat itu. Kejadian selanjutnya sudah tidak perlu dirinci lagi; karena hanya aku satu-satunya anggota rapat yang masih jomblo maka jadilah aku yang dikirim ke Javanesia. Mustahil aku akan menolak, aku tidak punya alasan sama sekali.

***

Perkenalkan, namaku Mehmet Baqir – versi turkinya, kalau versi orisinalnya Muhammad Baqir. Namun begitu sampai di sini versi namaku bertambah lagi, yaitu versi Jawa: Kiai Subakir. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak tahu alasan apa yang menyebabkan prefiks ‘Su’ bisa ada di sana. Javanesia pun bukan hanya menambah versi namaku saja, versi nama yang lain juga. Sultan Algabah, Kesultanan Ngerum, dan kota Brusah adalah contoh besarnya.

Dalam lima tahun ini kami rombongan utusan Kesultanan Seljukiyah telah mencapai kesepakatan-kesepakatan menguntungkan dengan Kerajaan Majapaitisme. Padepokan dan pesantren-universitas di Burangrang Mountain berhasil didirikan. Sebagai balas jasa, kami memperkenalkan beberapa teknologi canggih dari Seljukiyah yaitu wireless network. Kini masyarakat Javanesia tidak perlu lagi menggunakan kabel LAN untuk internetan jarak dekat. Segalanya berubah digital saat ini.

Kehidupan kami serombongan disini memang pada awalnya bisa dibilang sulit, biasa lah anak rantau. Perlu sekitar tiga bulanan bagi kami untuk melatih perut supaya merasa kenyang setelah makan nasi, enam bulan untuk membiasakan diri menghadapi nyamuk aedes aegypti, dan cukup dua hari untuk membiasakan diri mandi air hangat di pemandian Ciater. Kini semuanya sudah terasa nikmat; malahan keadaan kami sudah mapan di sini. Aku yang asalnya sering kerja outdoor pada tahun-tahun pertama, sekarang kebanyakan hanya berdiam di dalam masjid kampus. Biasanya aku menulis sesuatu di sana, seperti juga hari ini.

“Assalamu..mualaikum Kiai!! Gawat!!” teriak seorang santri yang berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Huruf ى ‘ya’ yang hendak kutulis mendadak berganti wujud menjadi lambang integral. Segera aku menengok pada sang santri, kulihat wajahnya sudah pengap, kemerahan.

“Wa alaikumsalam,” jawabku, “tenangkan dirimu dulu!” Kemudian kuajak ia duduk di selasar masjid. Santri ini kalau kuperhatikan dari gamis himpunannya, bisa dipastikan adalah santri arsitektur. Setelah keadaan mulai menenang, baru aku berani bertanya padanya.

“Ada apa sebenarnya?”

“Utusan kelompok Lelembut barusan mendatangi padepokan kita Kiai!” jawab sang santri masih dengan nafas setengah-setengah.

“Oh tidak mengapa atuh! Mungkin mereka mau studi banding ke kampus padepokan kita,” jawabku dengan santai.

“Bukan begitu maksud mereka Kiai!” balas sang santri arsitektur.

“Memang apa maksudnya?”

“Mereka hendak menutup padepokan kita!”

“Astagfirullah..” Tidak ada kata-kata lain yang bisa aku ucapkan lagi, rasanya seperti aku kena serangan mendadak. Kukendalikan diriku sebentar lalu kupersilakan sang santri untuk keluar dari masjid.

Mulutku tidak berhenti mengucapkan zikir untuk meminta pertolongan Tuhan. Perlahan napasku yang barusan acak-acakan kembali berpola lagi, pertanda bahwa pikiranku sudah kembali ke keadaan wajar. Peristiwa barusan terasa begitu cepat dan mendadak bagiku. Aneh.

Lima tahun aku memimpin padepokan ini belum pernah kutemui kelompok seperti Lelembut ini. Biasanya yang mengganggu hanyalah preman-preman desa di pinggiran kampus, mereka mudah sekali diusir oleh satuan pengamanan kampus. Namun tidak pernah kutemui kelompok yang benar-benar serius berencana menutup padepokan. Apa sebenarnya Lelembut itu?

Pertanyaan itu membuatku segera mengambil handphone di saku baju gamisku untuk mencari tahu. Kubuka peramban internet dan mengakses mesin pencari, lalu kuketik kata kunci ‘Kelompok Lelembut’. Ternyata hanya ada empat halaman yang menunjukkan hasil penelusurannya, menandakan bahwa kelompok ini sebenarnya tidak begitu populer di dunia maya. Sebagai perbandingan, kata kunci ‘Pondok Pesantren Kiai Subakir’ menunjukkan tiga belas laman hasil penelusuran – meskipun kebanyakan dipenuhi oleh foto-foto santri narsis di media sosial.

Di antara empat halaman itu aku menemukan satu tautan menuju akun media sosial kelompok Lelembut. Isinya adalah foto dan gambar yang kebanyakan bernuansa hitam dan disertai teks-teks propaganda. Pada status profil akun tersebut, ada tulisan berbahasa inggris: Hassan i Sabah fans.

***

Azan subuh dari masjid membangunkanku dengan lembut hari ini, muazinnya asli santri dari Pasai. Seperti biasa setelah mataku terbuka, aku langsung menyampingkan tubuhku untuk mengambil handphone yang berada di atas meja sebelah kanan ranjang tidurku. Tapi sebelum aku menggerakkan tanganku untuk mengambil handphone, mataku melihat sesuatu yang mengejutkan. Di samping kananku sudah ada keris tajam disertai secarik surat ukuran kertas origami kecil. Semuanya tertulis menggunakan aksara pegon.

Subakir,
Anda sudah dalam genggaman kami. Kau tahu bisa saja kami langsung membunuhmu tadi malam saat kau terlelap. Namun kami hanya ingin agar kau segera menyerah saja dan menutup kampus padepokanmu.

Utusan kelompok kami akan datang dua hari perjalanan lagi menggunakan sepeda motor. Kau wajib mengikuti seluruh tuntutannya. Bila kau menolaknya, mungkin saja keris ini bisa berada di dalam dadamu nanti.

Suhendar, Amir Lelembut

Saat kubalik kertas surat itu, ada catatan nomor telepon selular. Di bawahnya ada tulisan dengan huruf pegon: كَوْنْتاكْ ڢٔرْسَوْنْ ‘kontak person’. Pasti ini adalah nomor telepon seseorang yang akan menghubungiku untuk pertemuan dengan utusan kelompok Lelembut nanti.

Kuambil handphone untuk menambahkan nomor kontak person itu pada daftar kontakku. Tidak sampai satu menit, nomornya sudat tercatat.

Nama: ‘Abang Teroris’

Nomor: +628780000092348

Selesai menambahkan nomor teleponnya pada daftar kontakku, segera aku mempersiapkan diri untuk pergi salat subuh ke masjid. Di masjid sudah banyak santri yang menungguku, soalnya aku adalah imam tetap masjid padepokan.

Aku mengimami salat subuh lalu dilanjutkan wirid berjamaah sampai fajar, lalu para santri membubarkan diri dari masjid untuk mempersiapkan diri pergi kuliah di kampus padepokan. Aku sendiri pulang ke kamarku untuk mandi dan sarapan. Kemudian saat jam delapan, aku pergi ke masjid untuk salat duha.

Setelah salat duha, seperti biasanya aku berdiam diri di masjid. Kuambil buku catatanku dan pulpen di lemari mihrab. Aku mencari posisi wenak untuk mulai menulis, yaitu di pojok dekat jendela. Namun baru saja aku duduk, tiba-tiba ada telepon dari nama kontak ‘Abang Teroris’.

“Selamat siang Subakir,” begitu suara ‘Abang Teroris’ di telepon.

“Masih duha Pak,” balasku.

“Terserahku!”

“Eh iya.. iya..” Dalam batinku ada monolog, “Lah, galak bener si ‘Abang Teroris’ ini.”

“Aku adalah orang dari Lelembut yang akan memberitahumu informasi tentang pertemuanmu nanti.”

“Oh iya.. iya.. sudah tahu kok.”

“Kau bisa lebih serius kah Bakir?”

“Oh iya.. iya.. siap Bang.”

Kulihat melalui jendela masjid ada seorang santri di luar yang sedang menelepon juga dan seolah-olah membalas percakapanku dengan si ‘Abang Teroris’. Santri yang sama seperti santri arsitektur kemarin. Setiap si ‘Abang Teroris’ berbicara dalam telepon selalu saja berbarengan dengan si santri berbicara juga. Pikiranku terbang kebut-kebutan saat teringat keris dan surat itu bisa masuk ke kamarku pasti melalui orang dalam, orang luar padepokan tidak mungkin tahu letak kamarku. Apa mungkin padepokan sudah disusupi? Atau mungkin mereka saja yang sengaja membuat pikiranku jadi kacau?

“Sudah pak?” tanyaku pada ‘Abang Teroris’, berhubung percakapan ini sudah menghabiskan waktu 20 menit.

“Sudah!” balasnya ketus.

“Oh iya.. iya.. siap.”

“Jangan lupa Subakir, besok jam sepuluh malam di gedung kuliah bersama ruang S.305!”

“Oh oke.. oke.. siap.” Telepon langsung ditutup oleh si Abang. Si santri yang tadi kucurigai itu ternyata masih bertelepon, handphone-nya masih ia tempelkan ke samping kepalanya. Eh, tapi kok si ‘Abang Teroris’ bisa tahu ada gedung kuliah bersama di sini?

“Ah, mungkin ini hanya pikiran buruk saja,” kataku dalam hati.

Aku tidak mau terjebak dalam paranoia dan kecemasan tidak beralasan, takutnya nanti bisa jadi seperti orang depresi. Kini kufokuskan pikiranku untuk pertemuan nanti dengan utusan Lelembut. Setelah salat zuhur, aku tidak kembali berdiam di masjid lagi; aku langsung pergi ke kamar. Di perjalanan ke kamar, aku bertemu dengan santri arsitektur yang tadi.

“Assalamualaikum,” tegurku padanya. Ia langsung menyalami dan mencium tanganku.

“Wa alaikumsalam, Kiai.”

“Kamu santri yang kemarin itu kan?” tanyaku padanya.

“Betul, Kiai.”

“Jurusan apa kamu?”

“Eksterior, Kiai.”

“Oh bagus.. bagus… Saya duluan ya!”

Sampai asar aku terus memikirkan persiapan nanti saat bertemu utusan Lelembut. Kususun urutan-urutan rencana mulai dari Alif, Ba, Jim, sampai Dal; diurutkan dari yang paling ‘aman’ sampai ke yang paling ‘celaka’. Ide-ide kreatif pun ikut turun berjamaah, mulai dari yang serius dan elegan sampai yang konyol-konyol. Begitu azan asar, rencanaku sudah siap.

Selesai salat asar, aku segera pergi ke kamar lagi untuk mencari tahu lebih lanjut soal kelompok Lelembut ini. Dari sekedar stalking media sosial, aku mulai mencoba-coba peretasan terhadap situs resminya. Kucoba juga mencari tahu tentang ‘Abang Teroris’ dan catatan percakapannya.

Ba’da magrib kupanggil kedua pengawalku untuk melakukan upgrade senjata. Senjata yang mereka pakai saat ini adalah pedang panjang yang diimpor dari kota Hauthah. Kedua pedang itu adalah dari jenis smartsword yang sudah dilengkapi motherboard dan sistem operasi tercanggih. Proses upgrade yang sangat memakan waktu aku kerjakan sendiri. Jadi sepanjang malam itu aku melakukan peningkatan dan modifikasi pada dua pedang itu dengan menambahkan teknologi terbaru yang kumiliki, wireless control 4.0.

***

Sesuai dengan jadwal yang diberitahukan oleh ‘Abang Teroris’, aku beserta kedua pengawalku berangkat menuju ke gedung kuliah bersama. Gedung itu sepi sekarang, aktivitas perkuliahan di sana telah selesai dari jam 5 sore. Lagian mana ada santri yang ngalong di gedung kampus? Jam sembilan malam begini seluruh aktivitas santri di kampus sudah tidak diperkenankan.

Kami bertiga naik lift ke lantai tiga untuk menuju ke ruang S.305. Sampai di depan, kugunakan kunci lengkap gedung S untuk membuka pintu. Kunyalakan lampu dan bersama dua pengawalku, aku menyusun meja dan kursi supaya cocok untuk dipakai bernegosiasi. Selain itu, kami bertiga memasak kopi Mukha instan menggunakan air hangat dari dispenser di dalam ruangan. Bulan kemarin aku mengimpor tiga dus kopi Mukha instan dari negeri Yaman.

Sekitar jam setengah sepuluh, kami bertiga sudah mempersiapkan posisi: aku duduk di kursi, dan kedua pengawalku berdiri di belakangku. Di depan kami ada meja panjang dan kursi untuk utusan Lelembut, jadi saat nanti negosiasi kami akan saling berhadapan. Tidak lupa, kuperintahkan seorang pengawalku untuk mengoleskan lem tikus pada kursi yang disiapkan untuk sang utusan.

Tidak pakai ngaret, jam sepuluh kurang sedikit utusan kelompok Lelembut sudah datang. Seseorang berbadan pendek disertai seorang berbadan tegap dan tinggi mengempaskan pintu ruangan. Yang pendek menggunakan gamis para ulama, sedang yang tegap lebih mirip bodyguard. Sudah pasti, yang pendek adalah utusan Lelembut dan yang tegap adalah pengawalnya.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kuucapkan salam, namun mereka berdua tidak ada yang membalas salamku. “Kok tidak dijawab salamnya?”

“Buat apa menjawab salam dari orang sesat macam kau Bakir,” jawab orang yang berbadan pendek.

Weleh…weleh… baru masuk sudah langsung spaneng. Ya sudah, silakan monggo duduk dulu.” Setelah sang utusan yang berbadan pendek itu duduk, aku melanjutkan bicara, “Ada maksud dan tujuan apa ini kemari?”

“Jangan banyak basa-basi kau Subakir! Kau sudah tahu apa tujuan kami kemari.”

“Waduh punten ya malah jadi marah, sok perkenalkan diri dulu.”

“Namaku Dadang Abu Rudal, dai mutlak Lelembut.”

“Aku Muhammad Baqir, rektor di sini. Kalau Anda ingin bertanya soal jurusan dan uang kuliah tunggal di sini, bisa tanya pada saya.”

“Sudah kubilang jangan banyak basa basi!”

“Oh iya siap.. siap..” kataku sambil mengambil segelas kopi. “Baru aku tahu di kelompok Lelembut ini ada jabatan dai mutlak. Sebenarnya kalian ini kelompok apa?”

“Memang kau tahu apa dai mutlak itu ha, Subakir?” tanyanya retoris.

“Sepengetahuanku ya, itu adalah jabatan tinggi di kelompok Hasyasyiyyin. Bukan begitu?”

“Pintar juga kau he.. he.. Jadi begini kualitas lulusan Nizamiyah.”

“Iya dong.” Perlahan aku menyeruput kopi Mukha hangat. “Mau Dang?” tawarku pada Dadang sang dai mutlak. Dia tidak membalas tawaranku.

“Dalam keadaan semacam ini kau masih sempat-sempatnya ngopi? Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang!” ujar Dadang.

“Iya tahu, sama dai mutlak Lelembut.”

“Kurang ajar sekali kau, kau pasti belum tahu sama sekali tentang Lelembut.”

“Oh punten atuh. Sok mangga dijelaskan dulu apa itu kelompok Lelembut teh.”

“Lelembut adalah perkumpulan yang didirikan oleh Baginda Syekh Suhendar dari negeri Persia. Ia menyebarkan ajaran kebenaran yang diturunkan langsung oleh Tuhan kepadanya. Aku, Dadang Abu Rudal adalah tangan kanannya yang setia.”

“Ah, mana ada orang Persia namanya Suhendar. Bobotoh Persib mungkin?” sengaja aku memancing emosinya.

“Sifat kurang ajarmu itu sudah di luar batas Subakir. Jelas nama aslinya bukan itu, bodoh! Baginda Syekh Suhendar memiliki nama yang mulia yaitu Sayidina Haydar Khan. Ia merupakan dai utama dari pengikut Hassan i Sabah dan merupakan keturunan langsung Imam Nizar. Nama Lelembut itu sebenarnya merupakan pelafalan Alamut bagi orang Javanesia.”

“Bohong ah kamu mah, mana mungkin Hasyasyiyyin buka cabang di Javanesia?”

“Jangan sebut nama itu Subakir! Sebuah penghinaan menyebut kelompok kami dengan nama itu.”

“Ya sudah, bagaimana kalau kusebut Suhendariyyin saja?” Aku melihat wajah bulatnya makin memerah, jadi lucu kalau dilihat.

“Sudah hentikan pembicaraan soal Lelembutnya” – dia menyodorkan surat – “Sekarang kuminta kau untuk menandatangani surat ini.”

Aku disodorkan selembar kertas surat ukuran A4 yang mungkin golongan 80 gsm. Pada kepala surat terdapat tulisan dengan huruf jawi سورت ڢرڽاتأن ڢنوتوڢن ‘surat pernyataan penutupan’. Jelas, aku pasti akan menolak.

“Tidak akan kutandatangani.”

“Kau berani Subakir?”

“Berani sok!”

“Kau ingin tahu bagaimana kekuatan kami yang sebenarnya ha?” ujarnya dengan tatapan ‘kepedean’ padaku, “Akan kutunjukkan sekarang juga.”

“Silakan!” tantangku.

“Baik! Musa, keluarlah dari ruangan ini.” Pengawal yang dari tadi menemaninya perlahan mundur dan pergi keluar. “Sekarang aku sudah tidak punya pengawal lagi kan?”

“Ya, tentu saja.” Aneh pikirku, mana mungkin tantangannya adalah adu silat satu lawan tiga.

“Aku dalam posisi yang lemah sekarang, dan kau yang kuat. Bukan begitu?” cakapnya masih dengan nada ‘kepedean’. Belum aku menjawab apa-apa, dia sudah membacot lagi, “Bukan! Tidak seperti itu Subakir, ha.. ha..”

“Maksudmu apa Dadang? Mau adu silat?” Kulihat malah kelakuan si Dadang ini makin aneh, dia malah tertawa sejadi-jadinya seperti manusia jadi-jadian. Selanjutnya dia berteriak, “Mulai!”

Ada dua mata pedang mendadak berada di depan leherku. Refleks, mataku melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari siapa yang memegang pedangnya. Kedua pengawalku! Ya, aku sedang dikhianati sekarang. Ah, padahal mereka berdua barusan kuberi kopi gratis tadi.

“Celaka kau Subakir! Sekap dia sekarang!”

Sebelum kedua pengkhianat itu melakukan apa-apa kepadaku, segera aku menekan tombol ajaib yang sudah kusiapkan dalam saku baju gamisku.

Zzzt..Zzzt..

Suara khas listrik tegangan tinggi terdengar dari kanan dan kiriku. Kedua pengkhianat ini sekarang tersetrum oleh arus listrik 50 A yang lewat melalui gagang pedang yang terbuat dari perunggu. Hasil modifikasiku tadi malam pada pedang itu benar-benar berfungsi. Kedua pengawal itu ambruk setelah lewat sekitar tujuh detik. Dadang melihat kejadian itu dengan tatapan ngeri.

“Sekarang siapa yang sedang lemah?” kataku pada Dadang dengan nada ‘kepedean’.

“B..bagaimana mungkin?”

“Aku sudah tahu kedua pengawalku itu adalah pengkhianat yang membelot pada kelompok Lelembut–” belum selesai aku bicara, Dadang sudah berkoar lagi.

“Tidak mungkin! Kelompok kami bekerja dengan sangat rahasia, setiap pembocor akan dihukum mati kau tahu!”

“Berarti kamu harus mematikan paket datanya, seluruh chat antara kalian sudah aku sadap,” kini mendadak Dadang diam terpelongo menatapku, “seluruh jaringan di Javanesia ini sebenarnya bisa aku sadap semua.”

“Mustahil!” teriaknya, kubalas saja senyum kecut. “Mana mungkin alumni Nizamiyah bisa melakukan itu! Itu kan sekolah ulama.”

“Aku dari jurusan elektro, mau bilang apa kamu?” Bicara soal Nizamiyah University, saat ini sudah ada 15 fakultas di sana; aku sendiri berasal dari fakultas teknik. Unggulnya Nizamiyah dibanding universitas lain adalah, semua alumni bisa dipastikan mahir dan cakap dalam ilmu agama, seminimalnya bisa menjadi ustadz komplek.

Dadang nampaknya mati gaya sekarang, bahkan mati percepatan juga. Kaku seluruh tubuhnya seperti pohon kayu jati.

“Sialan kau Subakir!”

“Aku bahkan sudah tahu bahwa kau mengirim santri arsitektur bohongan kepadaku tiga hari yang lalu,” lanjutku, “Dia sudah dimasukkan ke penjara padepokan! Lain kali kau jangan mengirim santri bohongan seperti dia.” Jujur saja, aku segera tahu dia adalah santri palsu saat dia menjawab “Eksterior” waktu itu; di padepokan ini tidak pernah ada jurusan Eksterior, yang ada adalah Interior.

Kemarahannya memuncak, ia segera hendak berdiri dan menarik pisau panjangnya dari sarung. Belum sempat berdiri, terdengar suara sobek kain dari gamisnya. Ya, dia sudah kena jebakan lem tikus yang tadi dipasang seorang pengawalku yang pengkhianat itu.

“Benar-benar kau kurang ajar!”

Kini walau dia sudah memegang pedang, aku sudah beberapa tingkat lebih menang darinya. Aku menyiapkan taktik selanjutnya, rencana Jim.

“Kau tahu Dadang, teknologi apa yang kugunakan tadi pada kedua pengawalku?” tanyaku padanya, “itu namanya Tesla Coil.” Sebenarnya aku asal sebut saja, lagian mana mungkin aku menyiapkan Tesla Coil dan memasangnya dalam waktu kurang dari semalam.

Dadang masih terdiam menatapku.

“Dang, sebaiknya menyerah sajalah. Pedangmu bisa langsung ikut nyetrum begitu aku menekan tombol ini.” Kulihat Dadang melemaskan pegangan pada pedangnya. Rasanya aku ingin langsung tertawa melihat kelakuannya.

“Mustahil! Harusnya saat kau menekan tombol itu tadi pedangku ikut nyetrum juga.”

“Tadi pedangmu masih di dalam sarung Dadang, apa Syekh Suhendar tidak mengajarkan hal semacam itu padamu?” Tak pernah kusangka petinggi kelompok Lelembut macam si Dadang ini benar-benar sebodoh ini.

Kemudian kuambil telepon genggamku untuk menelepon satuan kepolisian padepokan. “Aku tidak tahu kau sudah menyusupkan berapa orang lagi, tapi yang jelas kau akan tertangkap wahai Abu Rudal.”

“Padahal bisa saja aku berteriak dan pengawalku itu langsung datang membunuhmu Subakir,” balasnya dengan nada orang cerdik.

“Dadang.. Dadang.. Begitu kau berteriak, aku bisa saja menekan tombol ajaib itu dan kau yang akan mati.”

“Tapi pengawalku tetap akan membunuhmu juga kan Bakir?”

“Kutekan saja tombolnya sekali lagi, nanti pengawalmu akan ikut mati juga.” Skak Mat kau Dadang Abu Rudal.

Satuan kepolisian padepokan mengangkat telepon dariku, kemudian aku memberi tahu bahwa ada di gedung kuliah bersama ada empat orang teroris separatis buronan Kerajaan Majapaitisme. Setelah beberapa pertanyaan tentang lokasi dan rincian kejadian, pihak kepolisian menutup teleponnya.

“Siap Kiai! Akan kami kirim 10 orang ke sana.”

 

***

Jam setengah satu para polisi dari satuan kepolisian padepokan menggerebek ruangan S.305. Pintu ruangan langsung didobrak, sekitar 7 orang polisi masuk ke dalam lalu menangkap Dadang Abu Rudal. Pengawal Abu Rudal sudah terlebih dahulu diborgol dan kini dijaga oleh tiga polisi di luar. Mereka kemudian segera dibawa ke penjara padepokan yang berada di paling selatan kampus. Pasti mereka akan diinterogasi habis-habisan besok.

Usai penggerebekan, aku pulang ke kamarku didampingi dua polisi padepokan yang asli dari Seljukiyah. Sampai di kamar, kucoba untuk terlelap supaya bisa ikut menginterogasi para utusan Lelembut besok.

 

 

34 dukungan telah dikumpulkan

Comments