Hiraeth

6 months ago
Savir R

by: Savir R

Betapa menenangkan jika mengetahui bahwa di dunia ini ada sebuah tempat yang menunggu kedatangan kita. Tempat itu tidak harus berupa bangunan berdinding beton, namun bisa pula berupa seseorang yang membuat kita sungguh merasa pulang, yang membuat kita merasa aman dan hangat.

Peradaban yang berkembang dan semakin kerasnya kehidupan seiring waktu membuat manusia kadang lupa diri dan terus-menerus berjuang untuk mengejar apa yang disebut impian. Ambisi telah menjadi darah dan daging, hingga keberadaan hati terlupakan. Terus menatap ke depan dan melupakan rumah. Pada akhirnya, dehumanisasi dianggap sebagai cara paling praktis untuk hidup.

Kota G— adalah sebuah kota dengan kawasan petrokimia yang sangat strategis dan dekat dengan laut. Hal ini menyebabkan banyak dari mereka yang berkuasa pada era kolonial dahulu menetap dan mendirikan bangunan-bangunan berlangit-langit tinggi untuk mengurangi hawa panas mentari tropis. Kini bangunan-bangunan tua yang bertahan masih menjulang menunggu kepastian akan masa depan mereka: diruntuhkan, ditinggal dan dilupakan, atau yang beruntung dirawat dan dipertahankan.

Di pertengahan bulan September dengan cuaca tak tentu ini, Adam, seorang pemuda yang perawakan fisiknya terlihat lebih tua ketimbang usia sesungguhnya baru saja terlibat cekcok dengan sopir angkutan umum yang menagih biaya perjalanan yang lebih tinggi dari seharusnya. Jika istilah ‘dengan berat hati, mengikhlaskan’ bukanlah kalimat ekspresi kontradiktif, hal itulah yang ia rasakan sekarang.

Tubuhnya sudah lelah atas perjalanannya selama hampir 12 jam untuk bisa kembali ke kampung halamannya ini. Namun ia tetap memaksakan kakinya untuk melangkah melanjutkan medan terakhir menuju rumah dengan menembus pasar setempat yang semakin sepi semakin gelapnya hari. Sesekali ia melirik layar ponsel pintar miliknya, mengharapkan balasan pesan ataupun sekadar keterangan ‘Read’ dari dua orang dengan label kontak ‘Ibu’ dan ‘Ayah’.

Pesan tersebut sudah ia kirim sejak dua hari lalu, setelah sebuah panggilan dari nomor tak dikenal ia angkat, dan didapatinya tangis dan berbagai pertanyaan sulit dari mulut seorang gadis berusia 9 tahun yang terguncang atas apa yang baru dilihatnya. Adam yang baru saja menyelesaikan pertemuan kuliahnya langsung berlari menuju stasiun dan membeli tiket kereta malam, mengabaikan pertanyaan bingung teman-teman seangkatannya yang mengagungkan kekeluargaan dalam jurusan.

Pada akhirnya, harapannya untuk langsung bertatap muka dengan baik orang tua maupun adiknya kandas saat ia mendapati bangunan tua yang ia sebut ‘Rumah’ itu terlihat gelap karena tak ada satu lampu pun yang menyala. Saat ia menarik kenop pintu jati itu, dia terkejut mengetahui itu tidak dikunci. Ia mengedipkan mata, berusaha beradaptasi dengan kegelapan di dalam sebelum memasuki ruang tamu.

“Ibu? Ayah? Manda?” Sahutannya tak berbalas. Dirinya mengumpat saat kaki telanjangnya tak sengaja menginjak pecahan beling yang berserakan di sekitar ruangan. Beruntungnya itu hanyalah goresan kecil pada sisi bagian dalam kakinya. Adam menelan ludah, ini bagaikan memasuki rumah kosong yang bisa kau temui sebagai latar film dan video game horror.

Setelah meraba-raba dinding dan menemukan tombol lampu, pemandangan kacau balau dari ruang tamu hingga dapur adalah sambutan jahat untuknya. Adam kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Sofa yang tidak sesuai dengan posisi seharusnya, serakan pecahan piring dan gelas, kursi dan meja yang terbalik, rumah ini bak kapal pecah.

Adam membayangkan inilah yang dilihat adiknya, saat piring dan gelas-gelas itu diterbangkan oleh seseorang kepada seseorang. Dia memutuskan untuk memasang kembali alas kaki sebelum melanjutkan ke bagian rumah yang lebih dalam. Dia terheran-heran saat melihat TV dan beberapa hiasan antik masih berada di tempatnya—sepertinya mereka beruntung tak ada pencuri yang menyempatkan diri untuk berkunjung—itu, atau..

Edwin.” Lirihnya. Temperatur ruangan perlahan menurun, tiupan angin dingin berhembus lembut melewati rambut pendeknya dan menjatuhkan beberapa helai poni. Mereka yang tak terbiasa mungkin akan mengalami mual, seperti yang Adam rasakan pada masa-masa awal ia bertemu dengan sosok itu.

Dia terlihat dan terasa begitu nyata. Sosok pucat pemuda Eropa brunet dengan iris mata sehijau zamrud. Pipinya kemerah-merahan seolah ikut merasakan dinginnya udara yang tak bisa ditoleransi oleh rompi kelabu dan kemeja linen putihnya. Kaki beralaskan sepatu kulit itu menjejak di atas lantai granit gelap rumah. Membuat mereka seolah berjalan di angkasa. Ekspresi di wajahnya menampilkan rasa simpati, ia menggelengkan kepala.

“Mereka tidak kembali sejak dua hari lalu. Ibu dan adik angkatmu pergi ke rumah bibimu. Aku tidak tahu dengan ayah angkatmu.” Jelasnya penuh pengertian. Logat asingnya terdengar jelas dan membuat perkataannya seolah kaku. Dia menghampiri Adam yang masih menunduk, mengangguk kecil sebagai balasan.

Edwin sepanjang hidup dan matinya telah melihat berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikis yang terjadi di rumah yang telah berdiri sejak abad ke 18 ini, masih tidak mengerti cara berhadapan dengan seseorang yang sedang emosional. Dulu kakak perempuan yang membesarkannya seorang diri hanya akan melarikan diri ke taman belakang, memastikan Edwin tidak melihatnya menangisi suami yang menelantarkannya.

Pertama kali dirinya bertemu Adam pun saat bocah kecil itu dikurung oleh orang tua angkatnya di loteng karena tiga nilai merah di buku raport sekolah dasar. Kala itu Edwin hanya muncul di sana, menepuk punggung kecil yang telah sering menerima cambukan dari besi ikat pinggang sang ayah angkat. Edwin tidak menyangka Adam kecil akan meraih lengannya itu dan memeluknya. Dia menangis di sana. Namun Edwin sama sekali tidak mendapati bajunya basah.

Jika dilihat lagi, satu-satunya masa bebas kekerasan di tempat ini hanya saat kakek dan nenek angkat Adam yang masih muda, membeli rumah tua ini dari keluarga yang bangkrut dan sangat membutuhkan uang. Edwin ingat betapa kecewa dirinya saat pasangan itu memutuskan untuk pindah ke tempat lain, membiarkan putri semata wayang mereka dan suaminya yang sepuluh tahun tak dikaruniai anak menyiksa anak laki-laki yang mereka angkat sendiri. Edwin tak bisa berbuat apapun selain menjadi penonton pasif, kekurangan untuk mereka yang tak lagi hidup.

Dia justru merasa sedih saat melihat kilau cemerlang di mata Adam tiap kali kakek dan neneknya berkunjung. Mereka akan menceritakannya dongeng, mengajarinya memainkan piano tua di ruang tamu, hingga mengajaknya berjalan-jalan ke pelabuhan dan menamai kapal-kapal dengan tokoh dongeng. Seolah-olah hanya keberadaan dua sosok berusia senja itu yang bisa membuat Adam merasakan kasih sayang.

Edwin pernah membujuk Adam untuk membicarakan perlakuan orang tua angkatnya kepada mereka, namun anak itu menggeleng dan mengaku dia masih menyayangi mereka karena telah membawanya pergi dari panti asuhan yang menurutnya lebih buruk lagi. Edwin tidak mau membayangkan bagaimana panti asuhan tersebut memperlakukan Adam.

Kemudian setelah Adam menginjak masa remaja, akhirnya kedua orang tua angkatnya diberi keturunan biologis yang mereka panggil ‘Manda’. Jika Edwin merasa inilah akhir dari beban kehidupan Adam, dia salah. Dua orang itu juga memperlakukan Manda tak jauh berbeda dengan Adam. Karena itulah Adam sangat protektif pada gadis itu. Edwin menyayangkan Manda yang tidak bisa melihatnya.

Bukan rahasia jika Adam sangat berambisi menjadi komikus, bertentangan dengan kehendak ayahnya. Edwin mengingat saat itu Adam baru kembali dari sekolahnya setelah nyaris 12 jam. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Alhasil saat sang Ayah melakukan inspeksi mendadak, buku-buku itu lenyap dibakar di atas asbak.

Keadaan makin parah saat kakek dan nenek meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Edwin ikut terkejut saat mengetahui nama Adam tertulis sebagai pewaris dari rumah tua ini—dia bahkan tidak terikat darah! Tapi menurutnya itulah hal yang seharusnya, Adam pantas untuk tinggal dengan damai di rumah ini. Ia punya kekuatan untuk melarang orang tua angkatnya menjejakkan kaki di rumah ini jika ia mau.

Tapi Adam adalah tipe lelaki yang membukakan pintu toko untuk seorang wanita tua bukan karena wanita itu adalah ibunya, tetapi ibu dari orang lain. Adam adalah tipe laki-laki yang menawarkan diri untuk membelikan permen bagi anak kecil yang rewel kepada orang tuanya. Adam bagaikan personifikasi dari apa yang disebut ‘Belas Kasih’ yang ironisnya jarang ia dapatkan.

Inikah hukuman sang Pencipta padanya?

Detik-detik sebelum kematiannya, Edwin telah menghilangkan banyak nyawa dari mereka yang berbuat kurang ajar kepada dirinya dan kakaknya. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk lokal. Sebangsa pemeras, penipu, dan penjilat yang menginginkan harta mereka yang tersisa sangat sedikit. Edwin tidak menyesal sedikitpun saat melemparkan tubuh-tubuh tak bernyawa itu kembali kepada keluarganya, termasuk anak dan istri mereka.

Kakaknya murka saat mengetahui hal ini, dan menghadiahkannya sebuah tamparan yang masih terasa perihnya hingga sekarang. Dia menangis dan bertanya kepada Tuhannya “Aku kini memiliki tak satupun! Dan kau hendak mengambilnya juga?”

Edwin seharusnya sudah menduga akan terjadi yang dinamakan balas dendam. Mereka berdua diseret saat sedang tidur. Kakaknya menatapnya sendu, meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat. Hingga moncong senjata api itu menempel di belakang kepalanya, dan ditembakkan. Edwin belum pernah berteriak sekencang seperti saat itu. Dia tidak ingat apa yang terjadi kepadanya setelah itu, tapi jelas jika mereka tidak cukup puas hanya membunuhnya, mereka membuatnya terjebak di antara mereka yang hidup untuk menonton dan tak bisa berbuat apapun.

Katakanlah dia dikutuk, hingga ia bertemu Adam.

Adam saat ini sudah selesai membereskan segala kekacauan di rumah, dan sedang menuangkan air panas pada teh celupnya. Kini dirinyalah kekacauan terakhir. Rambut pendeknya berdiri ke sana kemari, terdapat beberapa tempelan plester di jari tangannya karena terkena beling.

Kantung matanya menceritakan jumlah jam tidurnya yang tak teratur. Namun tetap saja, ia mengangkat cangkirnya ke arah Edwin dan tersenyum seolah berterimakasih atas bantuannya yang sama sekali tidak ada kecuali menonton dan sesekali bergurau tentang apapun kecuali kondisi keluarganya.

Mereka terlonjak saat mendengar suara pintu depan dibanting terbuka. Adam meraih sebuah sapu seolah itu akan menjadi senjata pelindungnya. Edwin memutar bola matanya.

“Ibu?!” Adam melemparkan sapunya dan bergegas mengampiri wanita paruh baya yang tampak mabuk itu. Sang Ibu meronta dan sempat memaki-maki Adam untuk melepaskannya.

“Setelah semuanya?! Sungguh! Tentu saja kau yang muncul!!” Wanita itu pun terjatuh dan memuntahkan isi perutnya di atas lantai yang baru saja dibersihkan Adam. Setelah tubuhnya benar-benar lemas, Adam kembali membopong wanita itu untuk berbaring di atas sofa. Wanita itu merintih dan akhirnya tertidur dalam tangis. Edwin perlahan berjalan ke sampingnya dan menepuk pundak Adam, dia tidak melewatkan Adam yang merinding saat kontak tersebut terjadi.

“Istirahatlah. Kau sangat membutuhkannya.” Ujar Edwin selembut mungkin. Adam, dengan mata yang berkaca-kaca berpaling ke arahnya. Edwin membuang keraguannya dan mencoba menghapus air mata itu dari sana, namun tentu saja hasilnya nihil. Adam menyadari usaha Edwin dan tertawa kecil untuknya. Edwin mengerjapkan matanya, heran.

“Ya, aku rasa aku juga akan berbaring di sini saja.” Adam merebahkan diri di atas sofa yang berseberangan dengan ibunya. Dia menutup matanya dan dengan cepat jatuh tertidur. Edwin menyempatkan diri untuk memeriksa luar rumah dan menutup pintu gerbang yang tak sempat diperiksa Adam. Jika ada yang melihat, mungkin akan memilih menduganya sebagai angin.

Adam dibangunkan dengan aroma wangi kopi dari arah dapur. Kepalanya sakit, dan ia merasa sangat kotor. Dia terlonjak begitu menyadari ibunya tak lagi berada di sofa dan bertambah bingung saat tak ada lagi noda bekas muntahan di lantai. Ia membiarkan kakinya mengantarkan ke dapur, dan di sana ia menemukan ibunya, sudah membersihkan diri dan berganti baju, sedang menikmati kopi. Mereka saling bertatapan, membuat suasana makin canggung.

“Aku tak pernah melakukannya di depan Manda, tenang saja.” Kata wanita itu tiba-tiba, seolah malu dan menyesal. Adam hanya mengangguk, membuka kulkas dan menuangkan segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi.

Ibunya masih di sana saat ia kembali. Rambutnya masih basah dan beberapa tetes air memercik ke lantai, namun tak cukup untuk membuat seseorang jatuh terpeleset. Merasa dirinyalah yang ditunggu oleh sang Ibu, Adam memberanikan diri duduk di seberangnya, berhadapan empat mata.

“Manda memberitahumu.” Itu merupakan pernyataan yang menuntut konfirmasi. Adam mengiyakan, tidak mengalihkan pandangan kecuali pada wanita yang mengangkatnya sebagai anak itu. Wanita itu menghembuskan napas pasrah.

“Kami memutuskan untuk cerai.” Itu tidak mengejutkan. Adam mengangkat bahu, menyatakan bahwa itu bukan haknya menghakimi. Ibunya menahan diri untuk tidak mendengus.

“Ayahmu bangkrut, dan ditambah masalah ini.. Kita memerlukan dana tambahan…” Oh, Adam tidak menyukai arah pembicaraan konversasi ini. Dia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan menjual rumah ini.” Katanya tegas. Tidak cukup tegas untuk mematahkan kegigihan wanita ini, percayalah, ini bukan topik percakapan yang baru pertama kalinya diungkit. Sang Ibu sudah kehabisan kesabaran.

“Kau bocah tak tahu diri! Ini untuk masa depanmu dan Manda juga! Kurang bersyukur apa kau ku selamatkan dari tempat pembuangan itu?! Seharusnya kubiarkan kau MATI di sana!!” Amuknya sambil memukul meja. Dia dengan kasar beranjak dari mejanya dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Saat Adam mendengar suara mesin mobil yang dinyalakan dan melaju dengan ban berdecit atas kecepatan tidak aman, dia akhirnya memutuskan untuk melepaskan segalanya. Edwin yang entah sudah sejak kapan berada di sana menariknya ke dalam pelukan, seperti yang sering  mereka lakukan dulu.

“Mereka takkan menjual rumah ini.” Geramnya. Edwin mengangguk lemah. Dia tahu begitu banyak memori yang tak ternilai harganya dari rumah ini dan segala kejadian yang terjadi di dalamnya untuk Adam sejak dua orang itu mengadopsinya. Dia melihat sendiri perjalanan kehidupan yang dialami anak itu, kesabaran dan ketabahannya. Namun pada akhirnya Adam tetaplah manusia, kini dia memperlihatkan kelemahannya pada semesta, pada Edwin.

Mereka kembali ke ruang tamu. Adam terduduk di hadapan piano tua yang telah dua tahun tidak ia mainkan. Piano itu seolah menatapnya menghakimi, dan Adam hanya bisa tersenyum kecil sembari membuka papan penutup alat musik tekan itu.

“Ingin bernostalgia, huh?” Seringaian terukir di wajah Edwin. Adam mengangguk. “Kalau begitu mainkan sesuatu yang bahagia!”

Adam menatap deretan kunci berwarna hitam dan putih itu. Meskipun kakek telah mengajarinya sejak kecil, dia tetap bukanlah seorang pianis handal. Dia masih sering salah menekan kunci dan membuyarkan mood dari lagu, namun kakeknya hanya ikut tertawa dan mengacak rambutnya.

Terkadang dari ekor matanya, Adam bisa melihat Edwin ikut menonton dan berdendang. Lagu-lagu yang kakeknya mainkan memang kebanyakan waltz klasik. Namun ia pernah tampak antusias menyuruh Adam mendengarkan sebuah lagu modern berjudul I Giorni.

Kerling cemerlang menyala di iris gelap pemuda itu. Setelah mencari posisi duduk yang paling nyaman, ia mulai menekan tuts pertama. Adam bermain sambil mengenang masa kecilnya. Dia ingat sang Kakek akan menceritakan kisahnya saat masih muda, bagaimana dia bertemu neneknya saat dia sedang berbuat hal yang konyol.

Mereka bertiga akan tertawa saat kakeknya salah menekan kunci. Akhirnya ia akan mengulangi dari awal, sampai Adam hafal partitur ini di luar kepala. Manda bahkan meminta Adam untuk mengajarinya, tapi ayah dan ibu selalu memberikannya tatapan peringatan saat ia hendak memutuskan. Mereka baru memperbolehkan Adam bermain dengan Manda saat kakek dan nenek sudah dikebumikan. Bermain piano tidak semenyenangkan biasanya setelah itu.

Pandangannya buram karena air mata, saat Adam sudah mencapai puncak lagu. Tangannya gemetar, namun ia berusaha untuk tetap menjaga tempo. Adam tenggelam dalam permainannya. Di sini dia tidak peduli dengan konsekuensinya membolos di kampus. Tak peduli jika ibunya akan kembali dengan puluhan pengacara untuk menuntutnya. Tak peduli jika ayahnya akan mendobrak masuk rumah dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan ibunya semalam.

Adam hanya ingin merasakan rasanya berada di rumah. Ingatannya tentang panti asuhan yang menampungnya dulu mungkin samar-samar, namun Adam tahu itu bukan ingatan yang bagus. Di rumah inilah buku barunya dimulai, pahit-manis berada di dalamnya. Tapi setidaknya dia punya tempat yang selalu menerimanya.

Sentuhan dingin di pundaknya mengembalikan Adam ke dunia nyata. Sudah berapa lama sejak lagunya selesai? Dia tidak tahu. Adam menatap Edwin yang berdiri di sampingnya. Jika Edwin merasa terganggu dengan air mata dan ingus yang menghiasi wajahnya, dia tidak menunjukannya. Adam memeluk sosok itu tanpa basa-basi dan membiarkan dirinya menangis di baju bergaya khas kolonial yang ketinggalan zaman. Edwin tak mengatakan apapun kecuali mengusap punggung pemuda itu.

“Kau benar-benar tidak berubah, ya?” Edwin menyerahkan secangkir teh hangat itu pada Adam yang kini duduk memeluk lutut di atas kursi. Matanya masih sembab, dan secangkir teh adalah penawar yang bagus. Adam bahkan tidak bertanya bagaimana ia menyeduh teh.

Mereka duduk berhadapan di kursi berbantal merah muda yang menurut kakeknya sudah lama berada di sini bersama dengan piano dan benda-benda antik lain. Edwin mengaku kalau kakaknya lah yang memesan kursi itu dari Prancis. Seperti Adam dan kakeknya, kakak perempuan Edwin gemar memainkan pian0. Dan lagu-lagu waltz lah yang paling disenanginya.

“Hm, aku suka sesuatu yang tidak berubah.” Adam menghirup aroma tehnya yang terasa mahal.

“Tak menemukan orang lain yang menarik hatimu?” Edwin meminum teh miliknya. Adam mengangkat salah satu alisnya, membuat ekspresi keheranannya terlihat komikal.

“Yah, hidup terus berlanjut suka atau tidak. Oh, aku terlihat bodoh bukan? Menangisi rumah ini. Aku baru tahu jika satu-satunya hal yang membuatku sentimental hanya bangunan ini,” Dia terkekeh. “atau mungkin aku hanya seorang yang egois.”

Mereka terdiam. Edwin tidak mengerti mengapa ia bisa melihat sosok kakaknya pada Adam. Kakaknya merupakan seseorang yang supel dan ambisius dalam artian baik jika dia sedang tidak berduka. “Menurutku, kau memang pantas mendapatkan rumah ini.” Celetuknya. Kemudian Adam membalasnya dengan dengusan.

“Bukankah itu ironis? Aku menyukai rumah ini karena aku bahagia di dalamnya, sementara itu kau membencinya karena mati di dalamnya. Dan kita berteman selama belasan tahun!”

Adam.” Suhu ruangan turun drastis dan perubahan itu membuat Adam menjatuhkan cangkir tehnya yang mendadak sedingin es. Cangkir itu pecah dengan suara nyaring.

Edwin mengerjapkan matanya dan suhu ruangan perlahan kembali terasa ramah.

“Maaf.” Ujar mereka di saat yang sama. Kemudian mereka saling bertatapan. Edwin melakukan sesuatu yang membuat cangkir itu kembali utuh dan menuangkan lagi teh ke sana. Dia menyodorkannya kepada Adam. Mereka kembali bertatapan, hingga gelak tawa pun pecah.

“Aku sungguh-sungguh! Jika mereka ingin mengambil rumah ini dariku, mereka harus melangkahi mayatku. Bayangkan, mereka menggunakan masa depanku dan Manda untuk menebus kesalahan yang mereka buat sendiri! Menggelikan!” Adam kembali meminum tehnya. Ia merasa pandangannya kembali kabur dan dengan kasar ia mengusap matanya, berusaha untuk tidak kembali menangis.

“Aku hanya ingin memiliki rumah yang sungguh sebuah rumah. Mereka sudah mengambil segalanya. Mengapa mereka tidak mau meninggalkanku sendiri?” Suaranya bergetar. Mereka kembali terdiam.

“Edwin?” Dia tersentak dan nyaris mendorong Adam yang entah sejak kapan berada tepat di depannya jatuh. Edwin bisa melihat jelas kekhawatiran di wajah pemuda itu, pemuda yang ia anggap sebagai personifikasi dari ‘Belas Kasih’. Edwin terlihat berjuang dengan kata-katanya.

“Aku bisa melakukannya, kau tahu?”

“Melakukan apa?”

“Memberikanmu rumah ini, untuk selamanya.” Edwin meraih pergelangan tangan Adam yang terasa hangat, kontras dengan dirinya. Adam ingin menganggapnya sebagai candaan kejam, namun ia pribadi sudah melihat berbagai macam hal-hal tidak seharusnya yang merupakan Edwin.

“Kau sedang bergurau?” Tanyanya ragu. Iris gelap itu berkilau, Edwin sangat berharap dia dapat melihat pantulan dirinya di sana.

“Tentu tidak! Maukah kau menerimanya?” Edwin menautkan jemari mereka. Sudah sekian lama bagi Edwin untuk melihat seseorang bahagia karenanya, dan bahagia untuknya. Jika terjebak bersama mereka yang hidup adalah kutukan, hal itu tak begitu buruk saat Adam bersama dengannya.

Pemuda di hadapannya tampak mengalami konflik batin. Dahinya mengerenyit, dan mata beriris coklat gelap itu berkilat. Edwin sendiri menjadi merasa dia telah menawarkan sesuatu yang salah. Bagus, dia akan membencimu. Pikirnya ngeri. Jantungnya mungkin sedang berdegup kencang jika saja dia masih memilikinya.

Raungan sirine meramaikan malam pengap di salah satu kota di bagian timur pulau Jawa ini. Di antara banyaknya bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonialisme ini, terdapat satu titik dengan kobaran api yang makin meramaikan suasana. Kayu dan tiang-tiang runtuh bersamaan dengan isi dari bangunan malang tersebut.

“Kak Adam!!” Gadis itu meronta dalam pelukan ibunya yang mencegahnya untuk berlari menuju api. Para pemadam berlarian ke sana kemari berusaha mematikan titik-titik api. Beberapa warga ada yang membantu, namun ada pula yang hanya menonton dan bahkan mengabadikan momen—oh betapa wanita itu ingin melemparkannya pada bara api.

“Dia membakarnya. Dia membakarnya.” Seorang lelaki paruh baya di sebelahnya duduk di atas lututnya sembari menggerakkan tangannya bak membelai rumah yang mulai lenyap dibakar api itu. “Kita bangkrut! Oh Tuhan!”

Wanita itu tidak peduli. Ia memeluk erat anak gadisnya yang terus meraung-raungkan nama ‘Adam’ dan mengusapi punggungnya. Suara dentingan piano membuatnya mencari-cari ke arah rumah dan—

Alangkah terkejutnya saat ia melihat dua sosok pemuda berdiri menatapnya dari balik kobaran api. Salah satu dari mereka ia kenali sebagai anak angkatnya, sedangkan yang satu lagi—siapa yang satu lagi?

“A-Adam?” Bisiknya pelan, berhati-hati agar Manda dalam pelukannya tidak ikut melihat mereka. Sosok di samping Adam menatapnya tajam seolah mengatakan ‘Lihat apa yang kalian perbuat padanya. Kubuat kalian menyesal jika melakukan hal yang sama kepada gadis itu.’.

Dua sosok itu menghilang setelah dia mengerjapkan mata.

Mereka bertepuk tangan saat ia selesai memainkan lagunya. Kakek memeluknya erat dan menyampaikan rasa bangganya padanya. Nenek mengusap air yang menggenang di pelupuk matanya. Harusnya dia merasa heran saat mereka yang ia sebut ‘Kakek’ dan ‘Nenek’ terlihat berparas lebih muda—seperti yang pernah dilihat di album foto keluarga—namun hanya kebahagiaan dan kehangatanlah yang dirasakannya.

Ada penonton lain yang ikut menyaksikannya. Mereka adalah seorang wanita muda berambut pirang dengan kerling ceria di matanya, juga seorang pemuda yang tampak sebaya—atau sedikit lebih tua darinya. Mereka mengangkat cangkir-cangkir teh itu ke arahnya dan dia membalasnya dengan senyuman.

Saat ia melihat ke luar jendela, ia mendapati sebuah padang tulip beraneka warna yang berayun-ayun tersisir oleh hembusan angin. Dia juga baru sadar pakaian yang ia, kakek, dan neneknya kenakan bertema sama dengan pakaian yang digunakan keluarga Belanda itu. Dahinya mengkerut.

“Selamat datang di rumah, Adam!” Sahut pemuda Belanda itu dengan aksen kaku yang menggelikannya. Dia berjalan menghampiri dirinya, dan meraih pergelangan tangannya. Pemuda itu memberikan aba-aba kepada kakek agar ia mulai memainkan pianonya.

Adam terkejut saat kakek memainkan waltz dan pemuda itu menuntun dirinya untuk melangkahkan kakinya ke sini dan ke sana mengikuti irama. Mereka berputar dan bergerak beriringan. Dari ekor matanya ia melihat mereka semua memandanginya dan ia berusaha untuk tidak menginjak kaki rekannya.

“Apa… Kau sedang mengajariku berdansa?” Tanya Adam. Pemuda itu tersenyum menyeringai.

“Oh, aku sedang berdansa denganmu!”

 

-TAMAT-

16 dukungan telah dikumpulkan

Comments