In Aeternum

11 months ago
Savir M

by: Savir M

Farisha Maryam sama sekali tidak mengkategorikan dirinya sebagai seseorang yang religius—ironis jika melihat latar belakang keluarganya yang kebanyakan pendakwah maupun sekedar guru TKA— perempuan berusia 25 tahun itu hanya ingin mendapat kosan/kontrakan layak huni yang harga sewanya terjangkau. Dia baru saja diterima untuk bekerja di sebuah tempat makan di sebuah daerah yang bukan kota Bandung.

Keberuntungan berada di pihaknya saat sepupunya yang baru saja diterima di sebuah universitas negeri (yang bukan di kota Bandung juga) mengabarkan ketersediaan satu kamar kosong di sebuah kontrakan yang disewanya bersama tiga temannya yang juga mahasiswa baru.

“Cuma 5 jeti per tahun, teh. Agak jauh dari jalan raya, tapi ya, murah.”  Kata Riri, sepupunya yang paling kecil, namun tidak benar-benar kecil. Dia agak sedih saat mengetahui Riri tak begitu ingat masa kecilnya bersama Farisha dulu.

Farisha, tentu saja dengan cepat menyetujui. Mereka pindah ke sana dua minggu kemudian.

Rumah yang mereka sewa ini merupakan rumah tua dengan lantai berupa tegel bercorak tumbuhan di penjuru rumah dan kuning di dapur. Meskipun begitu, kondisinya sangat terurus walau sudah tiga tahun tak mendapat penyewa. Sang ibu pemilik rumah menyalahkan letaknya yang jauh dari jalan raya, dan seolah dibangun oleh seorang yang dikucilkan.

Dari belakang rumah, terlihat jelas sebuah jembatan yang tak kalah tua, menjulang melintasi dua bukit yang mengapit dusun tempat mereka tinggal.

Tadinya jembatan kereta dari jaman Belanda, tapi relnya dicabut, jadi jembatan biasa.” Jelas sang Ibu sembari menambahkan kisah-kisah mistis yang membuat Riri dan tiga temannya saling bertatapan horror.

Asal nteu ngalamun haha!” Lanjut wanita itu saat melihat ketidaknyamanan mereka.

Farisha Maryam tidak benar-benar mengerti bahasa Sunda —ironis jika melihat kolom tempat tanggal lahirnya di KTP— ia menyalahkan orang tuanya yang merantau ke ibu kota sebulan setelah kelahirannya. Beruntungnya tempat ia bekerja tidak mewajibkan karyawannya memiliki kemampuan berbahasa Sunda.

­Oleh karena itu, Riri yang merupakan 100% Sunda menjadi penerjemahnya saat ia menemukan istilah-istilah asing dalam kesehariannya. Riri sama sekali tak keberatan, dan justru, dia terlihat bangga karena merasa memiliki pengetahuan lebih dari sepupunya yang enam tahun lebih tua. Farisha menggulingkan bola mata pada kata ‘Tua’ itu.

Kamar Farisha berada paling dalam, bersebelahan dengan dapur dan dua kamar mandi. Terdapat pintu menuju halaman belakang untuk menjemur pakaian. Dari halaman belakang ini pula Farisha dapat melihat jembatan tua itu. Tentu saja, dia sama sekali tak merasakan hal yang aneh.

Malam itu, malam pertama yang mereka lalui di tanah daerah yang bukan Bandung, dan esok adalah hari pertama para mahasiswa baru untuk mengikuti OSPEK. Farisha dibangunkan oleh jeritan nyaring dari kamar depan rumah. Dia mengenali suara itu sebagai Prima, salah satu teman Riri.

Tikus? Kecoak? Rampok? Pikirnya seraya bergegas keluar kamar.

Farisha mendapati seisi rumah juga melakukan hal yang sama, saat mereka saling bertatap heran di ruang tamu. Kamar Prima masih tertutup, dikunci dari dalam.

“Prim?” Panggil Santi, salah satu teman Riri juga seraya mengetuk pintu. Terdengar sayup-sayup suara tangis dari dalam  kamar dan pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Prima dengan wajah memerah yang basah karena air mata.

Prima menghambur memeluk Santi.

“Kenapa Prim?” Tanya Riri, mewakilkan kebingungan yang dirasakan seantero penghuni rumah. Saras (teman Riri juga) membawakan segelas air dan menawarkannya pada Prima. Gadis itu langsung menghabiskan seisi gelas.

Setan, Ri.” Suaranya bergetar. Gadis itu melirik ke arah kamarnya.

“Setan?!” Seru Santi yang langsung di-hush kan oleh Riri dan Saras.

“Tadi ada suara-suara gitu!” Prima yang masih sesegukan menunjuk-nunjuk ke arah kamarnya.

Farisha tak bisa menahan diri untuk berjalan melihat ke dalam kamar yang pintunya kini tertutup oleh engselnya yang tak berfungsi dengan baik. Perempuan tertua di rumah itu bisa merasakan semua pandangan tertuju padanya. Pintu kamar itu berderit saat ia mendorong papan jati itu.

Tentunya, tak ada yang aneh di dalam sana kecuali bantal dan selimut yang jatuh dari kasur yang ia duga karena Prima yang terbirit-birit membuka pintu. Jendela pun masih tertutup gorden. Farisha menarik gorden kuning kusam itu terbuka, sekadar memeriksa jika Prima lupa menutup jendela.

Dan di seberang kaca itu Farisha melihat bayangan seseorang— sesuatu yang berdiri menatapnya tepat di kedua bola mata. Hal ini terasa aneh karena Farisha tak melihat mata, wajah, atau apapun sama sekali. Hanya siluet. Bisa saja pohon pendek, atau semak.

“Teh Ris?” Panggil Riri yang rupanya ikut mengekor, berdiri di ambang pintu.

Farisha yang teringat pada tujuan utamanya akhirnya langsung melirik selot jendela, mendapati pengunci besi itu tidak terpasang dengan baik. Dia sedikit kaget saat melihat seekor tikus besar berlari dari bawah jendela. Ia melirik Riri dari bahunya sembari mengunci jendela itu.

“Prima lupa nutup jendela, trus ada tikus tadi di luar. Paling tikus.” Katanya.

Riri menggumam ‘Oh’ dan mengangguk sebelum akhirnya kembali keluar ruangan, melaporkan kembali kata-kata sepupunya kepada Santi, Saras, dan Prima.

Meskipun mereka sepakat menyalahkan tikus sebagai biang kerok masalah ini, malam berakhir dengan mengungsinya Prima ke kamar Riri, dan alunan tilawah Santi bersama Saras di ruang tamu.

Sementara itu Farisha kembali ke kamarnya dan melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul satu lebih empat belas. Matanya kembali terasa berat. Setelah meneguk setengah gelas air, perempuan itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan memimpikan resep ayam bakar.

Paginya, tepat setelah shalat Shubuh, Riri dan teman-temannya pamit dan bergegas menuju kampus. Mereka bahkan belum sarapan. Farisha mengerutkan dahi saat Riri menjelaskan jika ini perintah dari para ‘Kakak Tingkat’ di kampusnya.

“Namanya juga OSPEK, teh.” Riri meneguk sisa kopinya habis, membuat Farisha merasa tak nyaman. Kopi sebelum sarapan, serius?

Riri memberitahu bahwa mereka tidak membawa kunci rumah, karena tahu sang sepupu belum mulai kerja hingga minggu depan. Farisha mengangguk setuju. Lagipula, ia masih belum selesai membereskan barang-barang bawaan yang masih berada dalam tas dan kardus. Mereka juga butuh peralatan pel dan cuci piring karena ibu pemilik rumah tak menyediakannya.

Karena tahu tidur setelah shubuh bukanlah hal yang baik (menyebabkan kebablasan yang tak produktif), Farisha memutuskan untuk mandi, dan mungkin mencari penjual nasi uduk atau warteg setelah matahari terbit.

“Hari baru, hidup baru.” Batinnya positif.

Dia mengabaikan bayangan yang seolah memperhatikannya sejak ia mengunci pintu depan setelah Riri dan teman-temannya pergi.

Farisha sama sekali tidak menemukan warteg yang buka, maupun penjual nasi uduk, setelah ia berjalan sangat jauh hingga nyaris mencapai jalan raya. Daerah ini lebih dingin dari kota Bandung, dan jauh lebih dingin ketimbang kota Jakarta, sehingga ia butuh mengenakan jaket tebal saat keluar rumah.

Ia hendak memutuskan untuk membeli seperempat kilo telur di warung dekat rumah nanti siang, saat matanya menemukan sosok ibu-ibu menaruh sebuah rice cooker di meja samping rumahnya, dan mulai menata dagangannya berupa gorengan dan kue tradisional.

Sebuah tulisan pudar pada kertas yang ditempel dengan plester menyatakan ‘Nasi Kuning’ terpampang di dinding sebelah warung dadakan itu, dan mata Farisha langsung berkilau bahagia. Dia menghampiri wanita itu, dan memesan satu bungkus nasi kuning.

“Baru di sini ya, neng? Kuliah juga?” Tanya sang penjual, membuka percakapan. Farisha tertawa kecil dan menggeleng kecil.

“Kerja bu, di sini bareng sepupu. Kebetulan aja deket banyak kampus.” Wangi aroma pandan langsung tercium saat sang ibu membuka rice cookernya. Farisha merasakan perutnya memberikan reaksi tak sabar.

“Ooh. Ngekos di mana?”

“Di ujung, deket jembatan.”

“Aduh, angker dong?” Kata sang ibu dengan nada bercanda. Farisha yang sudah menduga pertanyaan ini hanya bisa tertawa canggung. Pembicaraan pun kembali ke nasi kuning (yang ternyata bukan nasi uduk), Farisha mengiyakan saat sang ibu menawarkan bawang goreng dan sambal.

Seekor kucing belang tiga yang sedang berjemur di teras rumah kontrakan terlonjak kaget saat Farisha membuka pagar. Kucing itu melotot, menatapnya dengan mata hijaunya yang bulat. Kucing itu tampak tegang, namun tidak berlari kabur saat Farisha berjalan melewatinya, dan membuka pintu rumah. Kucing malang. Pikirnya sembari masuk ke dalam.

Farisha membuka semua jendela di ruang tamu dan dapur. Tak ada meja makan maupun kursi di rumah ini. Farisha kini menemukan dirinya duduk di atas karpet berbulu sintetis sembari memakan sarapannya, dan sesekali melirik feeds di akun media sosialnya. Ia mendesah kecewa karena tak menemukan sesuatu yang menarik, selain beberapa meme ironis yang diposting oleh kawan SMA nya.

Saat itulah Farisha merasakan sesuatu yang lembut membelai di kakinya. Perempuan itu terlonjak dan nyaris menjatuhkan piringnya. Seekor kucing belang tiga— kucing di depan rumah tadi, menatapnya sendu dan mengeong ke arah nasi kuning di tangannya.

Dia pasti lewat jendela. Pikir Farisha sembari mengambil selembar tisu, dan meletakkannya di lantai dekat pintu. Kucing itu yang terus mengikutinya mengeong gembira saat Farisha meletakkan beberapa suiran telur dadar di sana. Di sinilah Farisha menyadari bulu kucing itu yang tebal, dan bersih.

Dan inilah bagaimana Farisha mendapatkan teman pertamanya di daerah yang bukan kota Bandung. Ia harap Riri dan kawan-kawannya tak keberatan dengan penghuni tambahan.

Semakin sore, suasana semakin sepi walau masih terdengar suara warga sekitar yang melakukan aktivitas di kebun, maupun sekadar menggosip. Si Betty, yang kini menjadi panggilan resmi Farisha pada kucing belang tiga itu  pun tampak mendengkur di atas karpet di ruang tamu. Posisi tidurnya sangat konyol dan menggemaskan. Farisha bahkan menyempatkan diri mengambil beberapa foto tadi.

Ini tumpukan pakaian terakhir yang dimasukkan Farisha ke dalam lemari kayu tua yang berbau apel dari gantungan pengharum lemari. Ia berpikir untuk menggantinya dengan aroma jeruk yang lebih segar nanti.

Farisha masih mengapresiasi susunan rapi pakaian warna warni itu saat pintu lemari tiba-tiba membanting tertutup. Ekspresi keterkejutannya terlihat jelas di pantulan kembar dirinya di kaca lemari. Farisha melirik ke belakang, namun tak ada siapapun.

Farisha kembali terlonjak saat pintu kamar ikut tertutup.

“Apa—?” Ia mencoba membuka pintu itu, memutar kenopnya berulang kali. Namun tak ada hasil.

Samar-samar ia juga mendengar jendela-jendela di luar sana yang mengalami nasib tak berbeda.

Di belakangnya, tepatnya di sudut atas langit-langit tinggi ruangan, terdapat bayangan hitam yang melambai-lambai bagaikan tetesan hitam tinta dalam air, perlahan melebar dan memenuhi seisi kamar. Farisha tidak bisa menjerit —ia bukan tipe orang yang bisa menjerit— namun ia memukul mukul pintu kamar, berharap siapapun bisa mendengarnya. Siapapun!

Namun bayangan itu memenuhi ruangan dan meredam semua bunyi, kecuali detak jantung Farisha yang semakin kencang. Perempuan itu tak bisa melihat apapun seolah dirinya ditelan oleh kegelapan, namun ia tetap menggedor pintu itu.

Bayangan hitam itu mulai membelai kaki dan tangannya, seolah berusaha membuatnya membatu di tempat. Namun ia meronta dan melepaskan diri. Kini saat ia menggedor pintu itu lagi, tak ada pintu yang bisa digedor.

Farisha berjalan mundur, meraba-raba ke belakang, mencari pintu itu, atau tembok, atau kasur, lemari, apapun—

Sesuatu membelit kakinya, dan Farisha tersandung jatuh. Lantai yang ia sentuh itu kini juga tak terasa seperti lantai, dan jika hawa yang ia rasakan ini sudah dingin, maka sesuatu yang kini membelai pipinya ini terasa sangat dingin. Ia tak mampu menggerakkan tangannya untuk menepis sesuatu itu, jadi ia hanya bisa menundukkan kepala.

Farisha kemudian mendengar suara, seseorang berbicara, dengan nada berbisik yang menggema. Ia sama sekali tak mengerti bahasa yang disampaikan, namun ia tahu kalau itu bukan bahasa Indonesia terlebih Sunda.

Veur iwekh… De meyneh… Veur iwekh… De meyneh. Berulang-ulang bak mantra.

Voor eeuwig. De mijne.

Cahaya yang tiba-tiba menyorot itu membutakan penglihatannya. Dia berusaha menghalaunya dengan bayangan dari punggung tangan yang ia angkat menutupi mata. Pita-pita gelap itu perlahan mundur, menjauhinya.

Farisha yang menundukkan kepala menyadari kehadiran sosok sesuatu—seseorang yang kini berlutut disampingnya, dan telapak tangan berbalut kain sutra lembut perlahan menurunkan tangannya, membuatnya kini dapat melihat dengan jelas sosok orang itu.

De mijne?”

Riri Ristiaini tahu jika kawan-kawannya mengenalnya sebagai orang yang sangat penyabar, bahkan terlalu baik. Itu membuatnya sesekali tersenyum kecil, namun dalam hati ia mati-matian meneriaki dirinya agar tidak menjadi sombong. Orang tuanya sangat bangga saat ia mengabarkan kelulusannya pada pilihan pertama di tes penerimaan perguruan tinggi.

Tentu saja mereka bangga! Itu jurusan pilihan mereka, bukan pilihannya sendiri.

Ia tak mengerti apapun tentang bidang jurusannya, ia sempat takut akan terjatuh di tengah jalan. Namun mereka berkata ‘Hanya pengecut yang mundur sebelum bertempur.’ Dan dengan hati yang bak diiris sembilu, Riri melambaikan tangan pada jurusan yang diinginkannya.

Kemudian dua minggu sebelum perkuliahan dimulai, ibunya menanyakan jika masih ada kamar kosong di rumah kontrakannya. Riri mengangguk. Memang masih ada satu kamar, dia telah merencanakan untuk mencari satu teman lagi untuk—

Kalo buat teh Risa gapapa kan?” Kata ibunya, dengan nada bicara sedikit getir. Riri heran mendengar ibunya menyebutkan nama sang sepupu yang dikenal.. kurang baik di keluarga besar. Dia bertanya mengapa.

Dia dapet kerjaan baru di daerah situ juga. Masih nyari kosan katanya. Kebetulan kamu juga kuliah di daerah sana, jadi Bi Teti nanyain kemaren.

Riri ingat betul saat dirinya baru lulus SMP dan sedang berada di masa liburan akhir semester. Keluarga besar ibunya mengadakan silaturahmi tiap liburan. Saat itu ia menyaksikan Oom Ali menampar pipi anak perempuannya sendiri yang tak lain adalah Farisha.

Dia meneriakkan sesuatu tentang Farisha yang menjadi ‘Aib Keluarga’ karena memilih untuk berhenti kuliah, dan menolak untuk dinikahi anak dari teman Oom Ali. Farisha membalas dengan kata-kata yang terlampau ekstrim, dan—

Ibunya segera menyuruhnya untuk keluar rumah dan membeli entah tepung, atau tomat. Riri yang ketakutan itu pun menurut dan berjalan cepat menuju warung terjauh dari rumah. Sejak saat itu entah mengapa, menyebut nama Farisha Maryam sama seperti menyebut nama sesuatu yang terkutuk di keluarganya. Setidaknya, hingga saat ini.

Riri merasa dirinya takkan pernah bisa mengerti orang dewasa. Ironis mengetahui usianya kini yang sudah jauh dari kata ‘Remaja’. Dia meringis mengetahui semua orang pada akhirnya akan tua, dan mati.

Kini hari sudah terlampau gelap, dan tak lama lagi tiba waktu maghrib. Riri merasa sekujur tubuhnya remuk akibat terlalu lama berdiri-duduk-berdiri-duduk. Santi, Prima, dan Saras juga mengaku merasakan hal yang sama. Mereka mempercepat langkah menuju kontrakan, berharap bisa sampai di sana sebelum adzan berkumandang.

“Kata kating aku, dari jembatan situ banyak yang lompat bundir lho.”

“Saras!” Prima menyikut kesal gadis berkerudung hitam di sampingnya. Sang korban hanya meng-aduh kecil sebelum kembali menertawakan Prima.

“Eh, tapi beneran. Itu ‘kan udah dari jaman Belanda. Siapa yang tau—”

“Kamu juga ikutan Ti?!” Prima memberikan tatapan terkhianati. Riri tak bisa menahan diri untuk ikut tertawa.

“Cuma cerita, Prim! Lagian yang semalem itu emang tikus ‘kan?” Dia berusaha menenangkan. Namun alih-alih, Prima menatapnya horror.

“Bukan tikus, Ri.” Lirihnya. “Mana ada tikus bisa ngomong.”

Kelompok itu terhenyak.

“Halah, mimpi kali Prim!”

“Iiih, serius. Ada yang bilang iwekh iwekh gitu.”

“Iwak kali?”

Prima tak menjawab. Dari wajahnya, Riri bisa melihat temannya ini sedang tak ingin bercanda. Maka dari itu, ia mencoba mengganti topik dengan mulai membicarakan kegiatan OSPEK hari ini.

Ini sudah ketukan kesekian puluh kali, dan pintu rumah tetap terkunci. Lampu-lampunya pun tak ada yang menyala. Riri kembali menyahuti nama Farisha, namun tak ada jawaban. Panggilan telepon pun tak diangkat. Santi menawarkan diri untuk memeriksa pintu belakang. Saras ikut menemaninya.

Kini ia bersama Prima duduk di teras rumah. Prima tampak menyibukkan diri dengan ponselnya, sementara itu Riri berusaha menepis segala pemikiran jelek seperti: Farisha membobol lemari tempatnya menyimpan uang, dan kabur entah ke mana. Cepat-cepat Riri beristighfar.

Adzan telah berkumandang saat Santi kembali menemui mereka, mengatakan bahwa pintu belakang tak dikunci. Tak ada siapapun di rumah, tak ada Teh Farisha.

Riri lagi-lagi kembali memikirkan hal negatif. Namun lampu ruang depan menyala, dan sembari menertawakan Prima yang terlonjak kaget, Santi memberitahu bahwa Saras sudah masuk ke dalam rumah. Pintu depan terbuka tak lama setelah itu, menampilkan sosok Saras dengan ponsel yang dikenal Riri sebagai kepunyaan Teh Farisha.

Di layarnya terdapat enam panggilan tak terjawab dari Riri, dan notifikasi media sosial lainnya.

“Masa dia keluar, trus nyasar?” Saras mengerutkan dahinya. “Mo coba lapor polisi?”

“Udah, udah. Kita shalat aja dulu. Palingan kalo Teh Risa emang nyasar, bentar lagi dia nyampe sini gimanapun caranya.”

Riri menyetujui usulan Santi. Dia tak memperhatikan Prima yang wajahnya memucat dan seolah membeku di tempat. Sebelum berwudhu, Riri menanyakan teman-temannya jika ada sesuatu yang hilang di kamar mereka.

Saat tiga orang itu memberikan tatapan aneh padanya, dia berdalih memastikan mereka tidak dirampok, atau semacamnya. Mereka hanya mengangguk.

Dia nyuri uang ibunya buat kabur ke Malaysia.”

“Dia punya pacar di sana. Pacarnya yang bikin dia kayak gini. Kasian.”

“Dia hamil di luar nikah.”

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Itulah yang dibisikkan hampir seluruh anggota keluarga besarnya (kecuali keluarga Farisha dan Farisha sendiri) tiap kali Riri, dengan wajah polos menanyakan Teh Farisha yang tak lagi muncul di setiap pertemuan keluarga.

Padahal dulu kalian deket banget ya.

Riri bahkan tak ingat seberapa dekat memangnya ia dengan sosok itu. Mereka selalu membicarakan Farisha dengan nada negatif, jadi Riri berhenti menanyakannya.

Namun Bi Maya, Ibu Farisha, berterimakasih padanya saat menyetujui untuk memberikan kamar kosong itu pada sepupunya. Farisha sendiri berjanji untuk membelikannya es krim neapolitan. Kayak dulu waktu kamu masih kecil. Katanya ceria.

Riri sama sekali lupa jika dia pernah menyukai es krim tiga rasa.

“Kau sangat cantik.” Lirih Farisha, dan dia segera menutup mulutnya malu. Namun sosok gadis bergaun putih itu hanya tertawa kecil padanya, wajahnya memerah. Tawa itu bagaikan dering lonceng dan membuatnya ikut tersenyum.

Saat kegelapan itu menghilang, ia tak menyangka akan bertemu dengan.. uh.. bidadari?

Hal ini sulit diungkapkan secara verbal maupun non verbal.

Gadis itu menggenggam tangannya, mengajaknya berjalan ke sebuah tempat yang mungkin hanya bisa ditemui dalam dongeng maupun film layar lebar. Matahari tampak ceria, namun tidak cukup panas untuk membakar kulitnya. Angin sejuk membelai rambutnya lembut.

Mereka berhenti di sebuah jembatan berwarna putih gading. Gadis itu berjalan riang mendahuluinya, dan sesampainya di tengah jalan, ia menengok ke arah Farisha. Terdapat lesung pipi di wajah itu.

De mijne?” Katanya seraya mengulurkan tangan berbalut sarung tangan sutra dengan bordir indah bermotif bunga lili.

Farisha ikut melangkah menyusulnya, dan kembali meraih genggaman lembut itu.

Voor eeuwig.” Balasnya.

Gadis itu tersenyum.

Sandal, maupun sepatu teh Farisha masih ada di tempatnya. Santi semakin mendesak mereka untuk melapor polisi, atau Pak RT yang rumahnya tak jauh dari sini. Mereka semua mulai khawatir. Hal ini lucu dalam artian ironis mengingat fakta bahwa teman-temannya ini baru sehari mengenal sosok Farisha Maryam.

Riri merasa semakin bersalah saat mendapati lemari tempatnya menyimpan uang masih dalam kondisi sangat bagus, dan tak selembar uang pun tak berada di luar tempatnya. Ketiga temannya mengatakan hal yang sama.

Mengenyampingkan sopan santun, Riri mengotak-atik ponsel Farisha yang sama sekali tak diberi password. Dan aktivitas terakhirnya hanya balasan mengenai keadaannya hari ini pada sang ibu.

Sehat bu. Dingin banget, tapi tempatnya bagus kok.’

Terdapat keterangan read pada pesan itu, namun ibunya tidak membalas. Akhirnya ia menuju galeri foto, dan tentu saja tak ada satupun foto selfie di sana. Hanya kucing, dan beberapa pemandangan yang diunduh dari internet. Huh, kucing?

Riri mengenal latar dari tempat kucing belang tiga itu tidur (dengan pose menggelikan). Dia mengetahui karpet hitam berbulu sintetis itu adalah karpet yang sama dengan yang ia duduki sekarang.

“AAAAH!!” Lagi-lagi jeritan Prima. Kali ini dia berada di dapur.

Riri segera berlari ke sana, disusul oleh Santi dan Saras. Ponsel Farisha ia tinggalkan di atas karpet itu, dengan layar masih menampakkan foto seekor kucing belang tiga yang tertidur.

Mereka mendapati Prima terduduk di lantai, sembari menyeret tubuhnya mendekati mereka. Santi membantunya berdiri. Tubuhnya gemetaran.

“Kenapa lagi Prim?” Tanya Saras, dengan nada suara sedikit kesal. Yang dituju perlahan mengangkat tangannya yang juga gemetar, menunjuk ke arah pintu belakang yang terbuka lebar.

Dengan berhati-hati Riri mencoba melihat ke balik pintu itu, dan—

“Kucing?! Prim! Seriusan, kamu ini—”

Riri tidak mendengar kelanjutan ceramah itu, karena ia, entah mengapa, sudah berlari mengejar binatang berkaki empat itu. Ia bahkan tak sempat mengenakan sendal. Di belakangnya, ia mendengar Prima berteriak memanggil.

Riri kehilangan kucing belang tiga itu ketika ia mendapati dirinya berlari semakin mendekati jembatan kuno yang kini menjulang tinggi tepat di depannya. Ia mengabaikan telapak kakinya yang lecet tergores berbagai jenis rumput, batu, dan semak tajam.

Tenggorokannya tercekat saat ia menyadari, di atas parapet jembatan itu, sosok sesuatu—seseorang—berdiri dengan kepala menengadah. Bak Icarus bersiap untuk melompat terbang.

“Teh Risa?!!” Jeritnya saat cahaya lampu jalan berhasil menyibak bayangan dan siluet itu kini jelas rupanya. Sosok itu sama sekali tak bereaksi saat Riri kembali memanggil namanya.

Dan bagai sesuatu yang tak nyata, Riri merasa udara seolah dihempas keluar dari paru-parunya. Kedua kakinya tak lagi bisa menompang beban tubuhnya. Ia berlutut di sana dan menyaksikan sosok sepupunya terjun bebas dari atas jembatan.

Segalanya berubah digital. Headline surat kabar online memajang dengan huruf kapital ‘JEMBATAN MISTIS KEMBALI MENELAN KORBAN’ dengan berbagai click bait di dalamnya. Di dalamnya seorang penjual nasi kuning mengaku bertemu dengan perempuan berninisial FM itu tepat pagi hari sebelum mayatnya ditemukan di bawah jembatan yang diketahui memiliki sejarah dan kisah-kisah mistis.

Penjual itu menyebutkan sosok perempuan itu sebagai sosok yang aneh karena tidak menanggapi pembicaraannya dengan normal selama membeli. Tiga orang teman korban yang tinggal satu kontrakan dengannya juga memberikan pernyataan yang serupa.

Dari keluarga korban, diakui bahwa putri mereka memang seolah mengalami kelainan, namun mereka anggap itu hanya fase kedewasaan. Mereka secara sangat menyesal, mengakui hal ini akan terjadi cepat atau lambat.

Sementara itu, saksi utama yang merupakan sepupu korban, masih dimintai keterangan oleh polisi. Diketahui mahasiswi berinisial RR ini melihat secara langsung detik-detik kematian korban, dan tengah mengalami shock.

Dikabarkan jembatan bersejarah itu akan segera dirobohkan jika kasus macam ini terjadi lagi.

Riri Ristiaini tahu jika kawan-kawannya mengenalnya sebagai orang yang sangat penyabar, bahkan terlalu baik. Itu membuatnya tersiksa. Ia bahkan menepis tangan Saras yang hanya ingin menepuk bahunya, memberikan gestur simpatik.

Tak ada yang menyinggung kejadian malam sebelumnya, bahkan Prima sendiri seolah tak mengingat apapun soal suara yang memanggil-manggil dengan bahasa yang asing.

Namun ia sudah mendengar apa yang telah dikatakan orang-orang. Apa yang dikatakan keluarga Teh Farisha tentang anak perempuan tertua mereka. Apa yang dikatakan ketiga temannya tentang sosok yang baru mereka temui satu hari. Dan tahu apa penjual nasi kuning itu?!

Mereka sebut hal ini wajar dan sudah terduga jika melihat daftar merah Farisha.

Tapi Riri tahu sedikit lebih banyak.

Dia tahu sedikit lebih banyak.

 

-END-

8 dukungan telah dikumpulkan

Comments