Ingatan VS Perasaan

3 months ago
Haris

by: Haris

Aku menjenguk masuk ke kamarnya, cukup berantakan untuk ukuran kamar seorang cewek, beberapa pakaian yang menumpuk di pojok ruangan, buku pelajaran dan alat tulis yang berderet tak rapi di meja belajar serta buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Sementara ia sendiri masih duduk di tempat tidurnya.

Dari kakaknya aku tau kalau dia mengalami amnesia ringan setelah jatuh dari motor. Sebenarnya aku tak heran kalau ia jatuh dari motor, cewek tomboy, enerjik dan ceroboh seperti dia jatuh dari motor bukanlah hal yang aneh, tapi aku tak mengira jika sampai amnesia.

“Kau siapa?” ia bertanya setelah menyadari kedatanganku

“Kau tak kenal aku? Aku Ali temanmu, rumahku di sebelah rumahmu.”

“Oh… ya, ingat sedikit-sedikit.”

“Baiklah kita coba melakukan sedikit tes dengan ingatanmu, pertanyaan pertama siapa namamu?”

“Dina.”

“Nama lengkap?”

“Dinana Ulya.”

“Salah, yang benar Dina Saurus.”

“Enak aja, ganti nama orang sembarangan. Lagian mana ada nama kayak gitu.”

“Ya ya, lanjut. Kamu kelas berapa dan sekolah di mana?”

“Kelas XI, di sekolah…” ia menyapukan pandangan mengamati setiap benda yang ada di kamarnya seperti mencari sesuatu dan berhenti ketika melihat kalender sekolah “Di sekolah SMA 2, benar kan? He he.”

“Selanjutnya, kamu tinggal di mana?”

“Hm… Sebentar.” katanya sambil beranjak dari tempat tidurnya mengambil semacam buku, sepertinya buku raport sekolah dan membukanya kemudian membacakan sebuah alamat.

Sepertinya ia memang benar-benar tak ingat.

***

“Kamu itu kenapa lagi?” tanyaku ketika kujenguk setelah mendengar kabar ia masuk ke rumah sakit lagi.

“He he, jadi gini, kan kemarin aku maen di belakang rumah, kan ada pohon mangganya tu, aku liat kok mangganya keliatan enak, trus aku naik tapi belum sampai dapat mangga aku ngerasa ada yang aneh di kepalaku, eh ternyata darah, kayaknya jahitannya terbuka he he.” ia bercerita seolah itu adalah hal yang biasa.

“Kamu itu cari mati ya? Kalo sakit jangan bertingkah yang aneh-aneh.”

Meski ingatannya hilang sifat cerobohnya tidak berubah, dan karena sifatnya yang seperti itulah aku sering mendapat masalah. Bukan sekali dua kali aku melerai Dina berkelahi terutama ketika masih sekolah SD.

“Tapi sekarang udah gak apa-apa kok.”

“Gak apa-apa gundulmu! Sudah makan belum?” tanyaku basa basi.

“Sudah, eh iya, tadi aku makan daging kambing.”

“Serius? Bagaimana rasanya, enak?” kali ini aku benar-benar penasaran.

“Wah ueenak, beneran, kayak gimana ya… kayak aku gak pernah makan makanan seenak itu.”

“Kau tahu, meski daging kambing begitu enaknya, aku punya teman yang justru gak mau makan kambing, bener-bener gak mau.”

“Iya? Bodoh banget temanmu, padahal kan sebenarnya enak banget.”

“Ya, temanku itu memang bodoh.”

***

“Kok mampir ke tempat warung gule kambing si?” kata Dina protes.

“Kan sudah kubilang kamu gak usah ikut, eh malah maksa, ya udah. Lagian kenapa si kamu gak mau makan daging kambing? Enak lho.”

“Enak apanya, gitu kok dibilang enak.”

“Ya udah kamu pesen minum aja.”

“Gak ah, aku tunggu di luar aja. Gak tahan baunya”

Dasar orang aneh, batinku, makanan enak malah gak doyan.

***

“Eh iya, tadi ada yang menjenguk, banyak si, katanya teman-temanku tapi aku nggak ingat, he he. diantaranya ada yang namanya Muklas, kamu kenal?”

“Kenal.”

“Kata mereka Muklas itu pacarku, bener gak?”

“Mungkin.”

“Kok mungkin si, berarti emang bener ya? Tapi kok aku gak ada perasan suka ya, rasanya biasa aja.”

“Gak tau, mungkin gara-gara amnesiamu, yang hilang bukan cuma ingatanmu tapi juga perasaanmu.”

“Ha? Masak kayak gitu?”

“Entahlah, siapa yang tahu.”

***

“Lalu kenapa tak kau terima saja si Muklas?” tanyaku pada Dina.

“Enggak ah, aku gak suka dia. Masak hanya gara-gara pernah ngantar aku pulang terus dia bilang ke teman-temannya kalo kita ini pacaran? Nggak banget deh.”

“Tapi kan ganteng.”

“Ganteng dari hongkong, lagian ada yang lebih ganteng kok.”

“Maksudmu aku?” kataku sambil memasang wajah sombong.

“PD banget, sapa juga yang ngomongin kamu, whe!”

***

Sebenarnya aku juga penasaran apakah orang amnesia itu juga perasaannya ikut hilang? Atau Cuma ingatannya saja?

Ah ya, mungkin cara itu bisa dicoba.

“Ayo kita tes lagi ingatanmu.” kataku memulai, kemudian aku ajukan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Kali ini dia bisa menjawab lebih baik, sepertinya mulai ada perkembangan.

Dan saatnya mengajukan pertanyaan itu.

“Apa lagu yang kau ingat?”

Kami berteman sejak kecil, Dina sering curhat masalahnya kepadaku, meski kadang be-te juga jika sering-sering dengar curhatannya, makanya aku jadi tahu banyak tentangnya termasuk orang yang dicintainya dan lagu kenangan tentangnya, dia juga sering menyanyikannya.

Jika ia menjawab lagu itu, aku anggap perasaan itu masih ada. Tidak ikut serta hilang bersama ingatannya, meski aku juga tidak yakin apakah ini adalah cara yang benar untuk mengetahui ada tidaknya perasaan itu, tapi setidaknya inilah cara yang paling mudah untuk dilakukan.

“Lagu apa ya? Balonku ada lima.”

Sepertinya ini memang bukan cara yang tepat.

“Lala la la….” Tiba-tiba Dina menyanyikan nada tanpa lirik.

“Lagu apa itu?” tanyaku.

“Nggak tau, tiba-tiba aja inget lagu itu.”

Aku tahu betul yang dia nyanyikan adalah “lagu itu”, hanya saja dia menyanyikan nadanya saja tanpa lirik.

Lalu apakah ini berarti dia masih memiliki perasaan itu? Entahlah.

***

Kami duduk santai di halaman belakang rumah Dina seperti yang biasa kami lakukan, bedanya saat ini Dina seperti mengalaminya untuk pertama kali karena penyakit amnesianya, meski sekarang keadaannya sudah lebih baik dari sejak kecelakaan itu.

“Kamu kan temanku pastinya tahu banyak tentangku, aku ingin tanya sebenarnya pacarku siapa si?” tanya Dina.

“Harusnya kamu tu tanya punya pacar apa nggak.”

“Wah penghinaan, masak cewek secantik dan seanggun saya gak punya pacar?”

“Anggun dari mana? Lebih mirip Cewek bar-bar.”

“Apa kau bilang!!” katanya reflek sambil memukul punggungku yang tak terima karena aku juluki cewek bar-bar. Tapi bukannya justru tindakannya itu membenarkan ucapanku?

“Bukannya pacarmu Muklas?” aku bertanya sambil mengelus punggungku, ah sial dia mukul keras sekali.

“Teman-temannya memang bilang kalau dia pacarku, tapi entah kenapa aku tak memiliki sedikitpun perasaan terhadapnya, masak iya si perasaanku juga hilang ketika ingatanku hilang?”

“Entahlah aku juga penasaran tentang itu.”

“Tapi kenapa perasaan itu tak hilang?” kuperhatikan raut wajahnya, sepertinya kali ini dia benar-benar serius “Entah kenapa beberapa hari terakhir ini aku merasakan perasaan yang aneh, seperti apa ya…. Seperti rindu akan seseorang, rindu yang sangat, tapi entah mengapa ketika aku mencoba untuk mengingat siapa orang itu aku tak bisa mengingatnya, sudah kucoba berkali-kali tapi tetap saja tak bisa kuingat. Dan itu sangat… sangat menyiksa. Apa kau bisa bayangkan bagaimana rasanya jika kau rindu seseorang yang bahkan tak bisa kau ingat?”

Aku hanya diam, tak bisa menjawab. Bagaimana rasanya? Mungkin itu seperti kau berada dalam kegelapan melihat setitik cahaya namun tak peduli berapa jauh atau berapa lama kau berlari menuju cahaya itu kau tak pernah mencapainya bahkan seakan cahaya itu tetap di tempatnya seperti kau tak pernah berjalan.

“Kau kan teman dekatku,” lanjutnya “Apa kau tau sesuatu, mungkin dulu aku pernah cerita atau curhat ke kamu.”

Harus kujawab apa?

***

“Maaf Din, tapi aku gak bisa menganggapmu lebih dari teman.”

“Oh gitu, ya dah gak apa-apa kok, lagian aku juga gak begitu serius kok he he, udahlah anggap aja ini gak pernah terjadi.”

“Maaf.” kataku lagi, aku hanya menunduk tak berani melihat wajahnya.
“Tenang aja, aku gak apa-apa kok. Aku pulang duluan.”

Aku tak tahu apa yang terjadi pada Dina setelah itu. Tapi yang jelas dua hari setelah kejadian itu, Dina tak masuk sekolah, tak keluar rumah, hanya mengurung diri di kamar. Bahkan kakaknya sampai menanyakan kepadaku ada apa dengan Dina karena hampir tak mau makan jika tidak dipaksa, tentu aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya hanya kujawab “tak tahu.”

Di hari ketiga dia berangkat sekolah seperti biasa, bersikap seperti biasa seakan tak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku tahu ia masih menyimpan perasaan itu. Itulah kenapa dia tak bisa menerima Muklas.

***

“Bagaimana jika…” jawabku ragu “Ternyata orang yang kau rindu setengah mati itu ternyata tak mencintai bahkan tak merindukanmu sedikitpun?”

“Gak apa-apa. Entah dia mencintaiku atau tidak, yang penting aku tahu dia itu siapa.”

“Aku tahu.”

“Beneran? Siapa?” kuperhatikan wajahnya yang penuh semangat dan harapan.

“Tapi orang itu tak mencintaimu.”

“Oh… gitu.” semangat yang tadi kulihat di wajahnya kini sedikit meredup.

“Sudahlah, sebaiknya kau gak usah tau, karena itu hanya akan membuatmu sedih.”

“Katakan saja, gak apa-apa. Itu lebih baik daripada harus mencintai seseorang tapi bahkan tak tau siapa dia.”

Aku tak tahu mana yang lebih baik, apakah terus berada dalam ketidaknyamanan karena penasaran, atau sakit hati karena mengetahui kenyataan.

“Baiklah, orang itu adalah aku.”

Dina terdiam, kemudian memalingkan wajahnya dariku. Terasa berbeda sekali dengan Dina yang biasa kukenal, kali ini terlihat sekali sisi feminimnya.

“Pantas saja…” katanya dengan suara tertekan, menahan tangis yang akan meledak “Pernah ketika aku sendirian di kamar, dengan membawa kertas dan pulpen mencoba mengingat memori yang hilang karena amnesia, entah bagaimana tanganku menulis sebuah nama, dan itu adalah namamu. Tertanya itu kau.”

Kami terdiam, Dina seperti mencoba menghentikan tangisnya, mencoba mengeringkan air matanya dan aku hanya tertunduk tak berani menoleh ke arahnya. Sampai akhirnya Dina berdiri.

“Yah sudahlah, terimakasih karena sudah mengatakannya, akhirnya jadi tau, sudah gak penasaran lagi. Sekali lagi terimakasih, aku pulang dulu.”

Dina masuk ke rumah, tanpa sedikitpun melihat ke arahku. Ia menahan tangis yang tak mampu dihentikan dengan menyembunyikan air mata yang mampu ia keringkan. Sementara aku, dengan suara lirih yang takkan sampai ke telinga Dina mengatakan “Maaf, karena telah melukai perasaanmu sekali lagi.”

Tamat.

6 dukungan telah dikumpulkan

Comments