Insiden

4 months ago
Arif Juliyanto

by: Arif Juliyanto

Hari libur merupakan waktu untuk berkumpul bersama pasangan, sahabat, maupun keluarga. Contohnya saja di hari Minggu. Banyak tempat-tempat wisata yang akhirnya diluapi oleh banyaknya pengunjung. Dan salah satu tempat wisata yang memikat masyarakat yaitu Taman Kota. Karena selain udaranya yang begitu sejuk, tak butuh biaya banyak pula untuk berkunjung ke sana. Termasuk aku dengan Dr. Fredi. Tapi kami di sini bukanlah datang untuk berlibur, melainkan untuk menyelesaikan sebuah misi.

Paling tidak, berkat misi inilah aku mampu keluar dari jeruji besi untuk sementara. Sampai saatnya menentukan pilihanku.

“Apakah tidak aneh kalau kita yang ditugaskan untuk menyelesaikan masalah ini?” Tanyaku kepada Dr. Fredi.

“Pada awalnya aku juga merasa aneh. Namun bila dipikir-pikir lagi, sepertinya kemampuan kita ini memang sangat dibutuhkan untuk proses penyelidikan.” Himbaunya.

“Benarkah? Bagiku ini masih sangat sulit dipercaya.”

Ya, bagiku hal ini memang masih sulit dipercaya. Bagaimana tidak? Aku ini adalah seorang mantan pembunuh berantai yang tinggal menunggu untuk dihukum mati. Lalu tiba-tiba saja aku diberi tugas seperti ini. Siapa yang tidak merasa bingung.

Orang itulah yang mengawali keterlibatanku ini. Orang itu datang menghampiriku, tepat seminggu sebelum akhirnya aku mendapat hukuman mati. Dia memberiku sebuah penawaran. Penawaran akan sebuah kebebasan. Dia bilang dia bisa saja membebaskanku. Dengan syarat, aku harus mau bergabung di agen penyidik kepolisian dan membantu mereka dalam menyelesaikan serangkaian masalah yang terjadi.

Namun aku menolaknya.

“Hey Andra, ku tak menyangka kau akan menolaknya secepat itu. Bagaimana kalau kau mencobanya dulu. Sebagai masa percobaan, akan kuberi kau sebuah misi. Setelah menyelesaikan misi ini, akan kuserahkan sepenuhnya pilihan kepadamu. Mau bebas lalu bergabung di pihak penyidik, atau mau kembali ke penjara lalu menunggu dihukum mati.” Tawarnya.

“Sepertinya kau begitu memaksaku untuk mencoba misi ini.” Ujarku dengan sedikit kemarahan.

“Kau harus mencobanya. Karena kau mungkin menemukan jati dirimu kembali.”

Apa? Jati diri katanya?

Lalu aku menerima penawarannya.

Setelah aku setuju dengan penawarannya, orang itu kemudian bilang, ”Kau akan memulai misinya besok, tepat pada hari Minggu pagi. Oh ya, sepertinya kau akan memulai kerja samamu kembali dengan Dr. Fredi untuk menyelesaikan misi ini.”

Tunggu dulu, apakah dia menerima tawarannya juga? Dilihat dari situasinya, sepertinya iya. Ku sedikit senang  setelah tahu akan bekerja kembali dengan rekan lamaku yaitu Dr. Fredi.

Dr. Fredi adalah seorang ahli forensik yang memiliki kemampuan pengamatan sangat bagus. Tak jarang para anggota kepolisian sangat bergantung padanya. Tapi karena suatu kondisi, ia akhirnya ketahuan memiliki keterlibatan kasus yang sama sepertiku dan menerima hukuman yang tak jauh beda pula. Sungguh kisah hidup yang rumit.

Kucukupkan sajalah cerita tentang Dr. Fredinya. Yang pasti pada awalnya aku sama sekali tidak tahu misi apa yang harus kuselesaikan, sebab orang itu tak memberitahuku. Sampai pada akhirnya aku tiba di kepolisian dan mereka memberitahuku. Bahwa misi yang harus kuselesaikan adalah menangkap seorang pembunuh misterius yang telah menghabisi sepasang suami istri minggu lalu.

Berikut laporan berita yang mereka berikan kepadaku dan Dr. Fredi :

Tepat pada hari Minggu pukul 11.00, telah terjadi pembunuhan yang menewaskan sepasang suami istri bernama Bima dan Rani. Mereka berdua tewas setelah keduanya tertembak di bagian dada..

Kronologi cerita dimulai ketika mereka berdua sedang ingin berlibur bersama seorang anaknya bernama Yoga. Mereka ingin menghabiskan hari Minggu dengan berlibur di kawasan Taman Kota. Tapi apa boleh buat, sebelum waktu jam makan siang keduanya tiba-tiba ditembak oleh orang misterius dengan sebuah pistol yang pada akhirnya menghilangkan nyawa mereka.

Anaknya yang selamat, mengalami depresi berat atas kejadian tersebut. Sedangkan kondisi taman saat itu yang sangat ramai, membuat tak banyak orang yang menyadari ciri-ciri fisik si pembunuh dan menjadi saksi mata atas insiden ini.

Sampai saat ini, diketahui bahwa Bima adalah korban pertamanya. Baru kemudian diikuti oleh Rani yang ikut ditembak setelahnya.

Begitulah laporan berita yang mereka berikan kepada kami.

Peristiwa tersebut dikenal juga dengan istilah “Insiden Hari Minggu” di kalangan masyarakat. Hampir seminggu setelah insiden berdarah itu, kepolisian belum juga dapat menemukan jejak si pembunuh. Apalagi mereka pastinya dihantui kekhawatiran, jika kejadian tersebut bisa terulang lagi di hari minggu berikutnya. Sehingga inilah yang memunculkan spekulasi, bahwa mereka butuh ahli cekatan untuk memecahkan masalah secepatnya.

Dan orang itu pasti muncul untuk bernegosiasi dengan kepolisian. Untuk membebaskan aku dan Dr. Fredi. Entah jaminan apa yang dia berikan kepada polisi. Namun saat ini kepolisian benar-benar percaya akan kinerja kami.

Kalau yang dilibatkan itu Dr. Fredi, masih bisa masuk akal. Tetapi kenapa aku juga ikut dilibatkan? Aku ini bukanlah mantan agen kepolisian ataupun orang yang berpengalaman sebagai seorang detektif. Apapun pertanyaan yang muncul tentang keterlibatanku saat ini, pasti orang itu tahu semua jawabannya.

Terlepas dari semua pertanyaan itu, aku sepertinya akan menikmati pekerjaan ini.

Jam mulai menunjukkan pukul 10.30, namun belum ada satupun tanda akan kehadirannya. Aku juga tak habis pikir, setelah ada kejadian penembakan minggu lalu, masih ada saja orang yang berani berkunjung ke sini. Bisa dibilang masih ramai seperti hari minggu biasanya.

Mau bagaimana lagi, dari banyaknya deretan gedung pencakar langit dan tempat-tempat lainnya, mungkin hanya taman kota ini saja yang menyisakan lahan terbuka hijau. Areanya pun luas. Tersedia lahan bermain anak, air mancur, tempat duduk santai, berbagai tanaman hias dan rindang. Itu membuat kami harus melakukan strategi berpencar, agar dapat mengamati setiap orang di sekitar sini. Pembagiannya yaitu aku pergi ke kawasan bermain anak dan air mancur, sedangkan Dr. Fredi ke kawasan duduk santai dan tanaman hias.

Dan belum ada hal mencurigakan yang kutemukan. Ini membuatku berpikir bahwa si pembunuh sepertinya sudah mengetahui keberadaan kami. Mungkin sekarang dia menyelinap di kalangan pengunjung dan bersiap-siap menggambil waktu yang tepat.

Tapi seharusnya kemungkinan seperti itu tak bisa terjadi. Karena aku yang memiliki kemampuan mengamati aura seseorang, bisa dikatakan mampu membedakan mana orang yang beraura keberadaan jahat atau tidak. Dulu bakat ini sempat kusalahgunakan untuk menghakimi seseorang. Menghakimi siapa saja yang menurutku telah memikul banyak kejahatan di pundaknya. Dan tanpa pandang bulu, aku menghabisi mereka secara keji.

Namun sekarang tidak akan lagi. Akan kugunakan bakat ini sebijak mungkin. Akan kukontrol emosiku ini sebisa mungkin.

“Hey Andra, cepat ke sini!”

Tiba-tiba kudengar suara orang memanggilku. Terdengar seperti ada di belakangku. Aku lalu menoleh ke belakang dan mendapati Dr. Fredi yang nampak tergesa-gesa menghampiriku. Mengetahui hal ini, aku langsung mendekat.

“Ada apa Dok?” Tanggapku.

“Ayo ikut aku, akan kutunjukkan sesuatu.” Nampak  raut wajah yang begitu optimis dari Dr. Fredi.

Berpikir dia telah menemukan tersangkanya, aku lalu mengikutinya ke kawasan tempat duduk santai. Kawasan yang terletak berdekatan dengan kawasan tempatku berdiri saat ini, yaitu kawasan bermain anak-anak. Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana.

“Bisakah kau amati aura orang-orang yang di sekitar kawasan itu?” Perintah Dr. Fredi kepadaku.

“Baiklah, akan ku coba.”

Ku coba amati. Terlihat ada banyak keluarga yang sedang duduk bersantai. Mereka ada yang menggelar tikar ataupun duduk di kursi taman. Menghabiskan akhir pekan bersama keluarga memang suatu momen yang berharga.

Tunggu sebentar…, ada dua orang remaja yang nampak beraura aneh. Aku curiga ada niatan jahat di antara salah satu dari mereka. Salah satunya memakai pakaian training berwarna merah dan satunya lagi memakai jaket hitam dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Langsung aku laporkan semua pengamatanku ini ke Dr. Fredi.

Jelas  mataku lebih tertuju kepada orang kedua yang mengenakan jaket. Kuamati terus gerak-geriknya, sampai akhirnya ia berusaha menyelinap di balik semak dan pepohonan rindang. Dan tebakanku sepertinya benar. Ia nampak berusaha mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya secara diam-diam. Dan benda itu adalah sebuah pistol. Lalu diarahkannya pistol tersebut ke pengunjung secara diam-diam. Pastinya responku benar-benar panik melihat hal ini.

“Dok, izinkan aku untuk menangkapnya!” Pintaku. Dengan sigap kuambil pistol di kantong jasku, dan mengarahkan tembakan keras ke langit lepas. “Hei, berhenti kau dasar bedebah! Taruh pistolmu dan jangan bergerak!”

Setelahnya aku langsung lari secepat mungkin ke arah anak itu, sembari menyiapkan borgol untuk menyekapnya. Semua pengunjung taman lari berhamburan karena ketakutan. Si terduga pembunuh terlihat  pasrah dan diam di tempat. Sepertinya dia kaget melihat keberadaan polisi yang tiba-tiba mengancamnya.

Sambil mengacungkan pistol, aku lalu memerintahkannya untuk menjatuhkan senjata yang dibawanya. Kupastikan dia tidak melakukan tindakan perlawanan sedikitpun. Setelah semuanya aman, aku langsung memborgol kedua tangannya.

“Andra, sepertinya kau terlalu terburu-buru.”

“Apa maksudmu Dok?”

“Cepat buka masker yang menutupi wajahnya dan kau mungkin akan mengerti sendiri!” Jawab Dr. Fredi yang sepertinya tidak suka dengan tindakanku.

Ku tak tahu apa yang ada di pikiran Dr. Fredi, jelas-jelas saat ini aku sudah menangkap dalangnya. Tapi ya sudahlah, kupatuhi saja perintahnya. Kubuka masker yang menutupi sebagian wajah anak ini. Dan kudapati sebuah kebenaran yang mengejutkan. Wajah yang terlihat tak asing bagiku. Secara tidak langsung, aku seakan pernah melihatnya.

“Apakah kau lupa siapa dia? Dia itu adalah yoga, anak dari korban pembunuhan” ujar Dr. Fredi yang menyela kebingunganku.

“Yoga katamu?”

Oh ya, aku sudah mulai mengingatnya kembali. Aku pernah melihat fotonya di bagian laporan berita kepolisian saat itu. Sambil menampakkan sikap marah, kecewa, dan sedih yang bercampur aduk, Yoga kemudian menanggapi pembicaraan kami. “Ya, aku ini adalah Yoga. Tujuanku di sini untuk membalaskan kematian ayah dan ibuku yang telah dibunuh olehnya.”

Apa? Pembalasan?

“Hey Andra, serahkan interogasi anak ini kepadaku. Sekarang carilah anak berpakaian merah tadi!” Perintah Dr. Fredi kepadaku lagi. Tanpa pikir panjang, aku segera bergegas mencari anak berpakaian merah itu. Aku terus berkeliling taman, namun hasilnya nihil. Apakah dia berhasil kabur? Sepertinya begitu.

Argghhh…, sial, sial, sial.

Kenapa aku begitu ceroboh. Seharusnya tadi aku berdiskusi dulu bersama Dr. Fredi untuk mengambil strategi terbaik. Tapi keegoisanku ini menaklukkan segalanya. Sekarang hilanglah sudah kesempatan menangkapnya. Aku hanya bisa kembali dengan tangan kosong. Aku hanya bisa berharap, anak yang bernama Yoga itu mampu memberikan informasi lebih kepada kami.

“Maafkan aku, tapi aku tak bisa menemukannya.” Ucapku selagi merasakan kekecewaan yang amat tinggi.

“Tidak apalah, yang penting kita bisa mendapatkan banyak informasi dari anak ini.” Ucap Dr. Fredi dengan lugasnya.

“Benarkah?” Perasaan senang langsung mengurai dariku.

“Yoga, sekarang laporkan kembali semua informasi yang kau ketahui. Jangan sampai kau berpikir mampu menyelesaikan semua ini sendirian. Semua akan jauh lebih mudah dilakukan, bila ada kerja sama di dalamnya.” Tegas Dr. Fredi.

“Baiklah, biarkan aku menceritakannya. Saat peristiwa penembakan terjadi, aku begitu sadar dan berusaha mencari sumber peluru. Dan di situlah aku mulai melihat sosok pembunuh yang menggenggam pistol. Tak menunggu waktu lama, ia langsung menyimpan kembali pistol yang digenggamnya di saku celana dan langsung kabur dari pusat keramaian. Tak banyak orang yang menyadari keberadaanya, kecuali aku. Jujur, sebenarnya aku enggan sekali membicarakannya dengan polisi. Aku ingin membalaskan dendam kematian orang tuaku ini melalui tanganku sendiri. Aku lalu beralasan mengalami depresi berat agar terhindar dari banyaknya interogasi polisi. Namun dengan ringan hati, sekarang akan kuberitahukan semua yang ku ketahui.

“Pelakunya bernama Reza Baskara. Anak sombong yang sempat sekelas denganku. Julukan anak sombong bermula pada semester pertamanya di SMA. Dia dikenal sebagai anak cerdas dan suka menyombongkan diri atas berbagai prestasi yang didapatnya. Sehingga banyak teman sekelas bahkan seangkatan yang begitu membencinya. Mereka yang iri, kemudian melakukan aksi bullying. Dan aku adalah salah satu anak yang ikut memelopori tindakan tersebut.

“Atas tindakan ini, Reza kemudian mengalami kemerosotan drastis. Hal ini terlihat dari rangking semester 2-nya yang bisa dikategorikan sebagai anak terbodoh seangkatan. Mengetahui hal ini, aku merasa bahwa tindakanku itu sudah terlalu berlebihan. Namun ketika aku ingin meminta maaf atas segala tindakanku kepadanya, tiba-tiba saja ia tak pernah lagi datang ke sekolah dan menghilang entah ke mana.

“Peristiwa minggu lalu, membuatku di ambang kebingungan. Kalau semua ini atas niat balas dendam, mengapa dia tidak membunuhku saja? Mengapa harus kedua orang tuaku yang menjadi targetnya? Aku sama sekali tak bisa memaafkan tindakannya ini. Bermodal pistol bekas milik ayah, aku berencana untuk menghabisi nyawanya.”

Balas dendam ya?

Istilah yang muncul setelah adanya rasa dendam. Perasaan sakit hati yang sulit lepas dari benak hati seorang manusia. Tak dipungkiri lagi, kehilangan orang yang sangat disayangi terkadang membuat akal sehat manusia menjadi buta. Apalagi bila rasa kehilangan tersebut muncul atas citra pengkhianatan. Maka akan timbullah yang namanya rasa dendam.

“Kenapa kalian tadi menghentikanku? Kenapa? Seharusnya kalian membiarkanku menembakkan peluru di dadanya!” Ucap Yoga sembari meneteskan air  mata.

Jujur, aku sangat mengetahui bagaimana perasaan sakit yang dirasakan Yoga saat ini. Karena rasa dendam itulah yang dulu membuatku menjadi seorang bak algojo juga. Rasa yang menggugurkan sifat empati, kasih, dan manusiawi dari diri seseorang.

Aku tak ingin ada orang yang terjerumus di lubang yang sama lagi. Makanya dengan gamblang aku otomatis langsung menanggapi pertanyaannya tadi.

“Yoga kau harus tahu, bahwasannya tindakan balas dendam itu tak akan menyelesaikan berbagai masalah yang ada di kepalamu. Justru kesedihan yang bertambah besarlah yang akan kau dapat. Jangan lupakan perkataanku ini.” Begitulah penjelasanku kepadanya. Lalu anak itupun terdiam. Tidak hanya dia, tapi kami juga ikut terdiam.

“Apakah anak yang bernama Reza itu yang tadi mengenakan training warna merah?”  Memecah keheningan sesaat, Dr. Fredi mengajukan pertanyaan kepadanya.

“Ya, benar sekali.”

“Kau sama sekali tidak tahu alamatnya di mana?”

“AKu tidak tahu. Makanya aku selalu menunggu di taman ini agar bisa bertemu dengannya.”

“Hahh….. Sial.” Beginilah ungkapan kesal yang dilontarkan Dr. Fredi.

Tak berselang waktu lama, ia tampak kembali tenang dan langsung mengajakku.

“Andra, bagaimana kalau sekarang kita pergi makan siang dulu sebelum melakukan pencarian lagi?”

“Baiklah. Mengisi energi itu juga penting.” Beginilah jawabku, selagi dari tadi rasa lapar ini juga mengganggu konsentrasi berpikirku.

Kami mampir di kedai makanan yang ada di sekitar taman. Kami memilih makan di sini karena selain makanan dan minumannya enak, harganya pun tidak terlalu menguras isi dompet. Sembari energiku terisi kembali, mulai banyak juga pertanyaan baru yang muncul dalam pikiranku. Dan aku berusaha menanyakannya kepada rekanku.

“Dr. Fredi, menurutmu bagaimana bisa si pembunuh itu mengetahui bahwa keluarga Yoga akan pergi berlibur di taman?” Tanyaku.

“Mungkin mereka begitu dekat.” Jawabnya setelah menghabiskan air minum yang dipesannya.

“Aku tahu, mereka itu memang pernah saling kenal. Tapi bukankah…,“

“Yang kumaksud bukan itu, Ndra. Tapi coba kau pikir lagi,  bagaimana bisa orang yang letaknya berjauhan mampu  mengawasi dan tahu apa yang selalu dilakukan seseorang?” Jawabnya setelah memotong pembicaraanku.

“Bisa saja. Mungkin di rumahnya terdapat CCTV yang di hack,  atau mungkin mereka malah sering menge-post setiap kegiatan di media sosial.” Ucapku selagi memakan buah yang disediakan.

“Itu tidak benar. Kami tak punya satupun CCTV yang dipasang di rumah. Bahkan kami juga tidak suka menyombongkan liburan keluarga di medsos, termasuk minggu kemarin.” Tampik Yoga di antara debat argumen kami.

“Hey Yoga, apakah ada yang aneh di kawasan tempat tinggalmu?” Tanyaku kepadanya.

Setelah beberapa saat mengingat-ingat, Yoga memberi jawaban,“Sekitar satu bulan lalu, aku sekeluarga pindah ke rumah kami yang baru di kawasan komplek bunga indah. Walaupun belum lama tinggal di sana, aku merasa rumah yang berjarak 5 meter di depan rumahku itu memang agak aneh. Serasa tidak berpenghuni. Tapi kenyataannya, semua rumah di kawasan itu sudah habis terjual dan pastinya dihuni. Aku tahu hal itu, sebab kami adalah kelurga terakhir yang berhasil membeli satu rumah sisa di kawasan tersebut.”

Seketika Dr. Fredi berdiri dari kursi dan menanggapi ucapan Yoga.

“Yoga! Segera tunjukkan alamat rumahmu kepada kami. Setelah membayar semua tagihan ini, mari kita segera bergegas pergi ke sana.”

“Rumahku hanya sekitar 1 kilometer dari sini.” Jawab Yoga.

“Baiklah. Mari kita naik mobil, agar cepat sampai di sana.” Ujar Dr. Fredi yang kembali memperlihatkan raut wajah yang begitu semangat dan optimis. Hal ini membuatku tak kalah semangat pastinya. Aku yakin, saat ini kami sudah semakin dekat dengan keberadaan si pembunuh itu.

Tampak di perjalanan, cuaca yang tadinya begitu cerah berubah menjadi langit mendung hitam. Cahaya panas terang kemudian tertutupi. Dunia menjadi gelap seperti malam hari. Semoga saja ini bukanlah pertanda buruk.

Setelah menempuh waktu cukup lama, akhirnya sampai juga kami di kawasan komplek yang dituju. Mobil kemudian kami parkir di depan rumah terduga. Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, aku sengaja memborgol tangan Yoga dan meninggalkannya di dalam mobil. Hanya aku dan Dr. Fredi yang akan datang bertamu.

Aku perhatikan keadaan sekeliling, dan kubandingkan tiap rumahnya. Sama seperti yang dikatakan Yoga. Walaupun umumnya rumah di kawasan komplek itu ukuran dan bentuknya sama, namun rumah ini memang kelihatan aneh dibanding yang lain. Dilihat dari luarnya saja, rumah ini memang kelihatan tidak berpenghuni. Selain tak terurus, rumah ini juga kelihatan sangat sepi. Sepertinya orang yang tinggal di dalamnya jarang keluar dan bersosialisasi.

…..Teng…..Tong…..

Bel kami bunyikan.

…..Teng…..Tong…..

Kami bunyikan kembali untuk kedua kalinya. Tapi sayangnya belum ada orang yang merespon kedatangan kami. Berhubung pintunya juga sedang tidak dikunci, kami pun segera  masuk tanpa ijin. Ketika kami masuk, rumah ini bagaikan kapal pecah. Barang-barang tersebar di mana-mana tanpa dirapikan. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

Begitulah dugaanku.

Orang yang tinggal di sini sepertinya seorang pemalas. Atau mungkin malah mengalami gangguan jiwa. Karena biasanya orang seperti mereka akan menghamburkan dan merusak benda-benda di sekitarnya sekedar untuk memuaskan emosional.

Tak lama kemudian terdengar suara orang yang sedang menuruni anak tangga. Sepertinya dia ingin menyambut kedatangan kami di lantai bawah.

“Maaf, tadi aku baru menyelesaikan tugasku di atas. Ehmm…, keperluan kalian berkunjung ke rumahku apa ya?” Sambutnya sambil menunjukkan tatapan sinis.

“Sebelum kami menjawab pertanyaan anda, bisakah anda hidupkan dulu lampu di ruangan ini? Tak sopan rasanya berbicara di situasi gelap.” Jawab Dr. Fredi

Seketika orang ini langsung mengeluarkan aura liciknya dan berkata, “Sekali lagi maaf, karena sepertinya listrik rumah ini sedang mati.”

Mengetahui hal ini aku langsung memperingatkan  Dr. Fredi.

“Doktor, siap-siap dalam posisi berjaga.”

Yang benar saja. Tak lebih sedetik setelah ku bicara, dia dengan cepat mengambil pistol dan mengarahkannya kepada kami.

…..DUARR…..DUARR…..DUARR…..

Sudah sebanyak 3 kali tembakan peluru yang ia arahkan. Dan tak satupun yang berhasil mengenai kami. Di keadaan gelap seperti ini, tampaknya ia malah mempersulit dirinya sendiri.

Ehmm…, dalam situasi gelap ya. Gelap, situasi gelap?

Hahahahaha…. Hahahahaha………

Betapa bodohnya aku, kenapa aku tak pernah memikirkannya. Dia kelihatannya belum tahu siapa orang yang saat ini dilawannya. Bagiku, ini seperti taman bermain.

“Hei bocah sialan, inilah balasan karena telah meremehkanku.” Kubalas tatapan sinisnya dengan aura sadis yang ada pada diriku.

INILAH JATI DIRIKU!

Secara perlahan, kusembunyikan aura keberadaanku di balik kegelapan. Akan kuakhiri semua ini secepat mungkin. Ketika ia ingin menembakkan peluru keempat kalinya, tanpa ia sadari aku dengan sigap langsung memegang pergelangan tangan kanannya yang memegang pistol. Kuarahkan tembakan itu ke atas, lalu kupukul wajahnya. Kuambil pistol yang ia genggam, kemudian dengan keras kutendang tubuhnya hingga tersungkur.

Namun perlawananku ini sepertinya belum cukup untuk melumpuhkannya. Ia masih mampu berdiri untuk melakukan serangan balik setelah mengalami banyak cedera.

Tapi sayang, semua itu tak ada gunanya.

Karena aku yang sudah berkamuflase di balik kegelapan sulit untuk diamati keberadaan sekaligus pergerakannya. Sehingga lagi-lagi dia tidak sadar, bahwa posisiku saat ini sudah berada di belakangnya. Tanpa basa-basi, segera kucekik lehernya dari belakang hingga tak berdaya lagi. Namun sebelum aku melakukan halnterburuk, Dr. Fredi berhasil mengingatkanku.

“Berhenti, Ndra! Sudah cukup. Apakah kau ingin kembali ke jati dirimu dulu sebagai seorang pembunuh? Sekarang juga, cukup borgol dia dan hubungi kantor polisi. Aku akan berkeliling mengamati rumah ini.”

Menyadari bahwa diriku sudah bertindak berlebihan, dalam hati aku hanya bisa berteriak, ”APA YANG TELAH KULAKUKAN? INI BUKANLAH JATI DIRIKU YANG KUCARI, SIALAN!”

Kecewa sekali rasanya, mengetahui bahwa darah pembunuh masih mengalir deras dalam diriku. Aku yakin mampu mengontrol emosiku ini sebaik mungkin, tapi kenyataannya belum sama sekali. Untung saja aku hanya membuatnya pingsan. Hahh…, daripada terus meratapi nasib yang begitu menyedihkan ini, akan lebih baik jika aku langsung saja menghubungi kantor polisi sesuai perintah Dr. Fredi.

Setelah kantor polisi sudah berhasil kuhubungi, sekarang aku hanya perlu menunggu mereka datang utuk melakukan penggeledahan di sini. Rasanya aku juga perlu menenangkan pikiranku kembali.

“Ndra, Andra.” Panggil Dr. Fredi.“Ternyata Bima bukanlah korban pertamanya. Kemarilah! Kau pasti akan terkejut mengetahui fakta ini.”

Di laporan berita tertera tulisan, diketahui bahwa Bima adalah korban pertamanya. Kalau begitu, mengapa tiba-tiba Dr.Fredi berkata demikian?

Ia mengajakku ke salah satu kamar di lantai atas, dan hasilnya memang sungguh mengejutkan. Di dalam kamar itu tergeletak mayat wanita. Bukan, lebih tepatnya mumi wanita.

“Dok, apakah kau sudah tahu ini mayat siapa?”

“Sepertinya sudah. Hanya saja aku belum berani memberitahumu, sebelum ada bukti-bukti kuat yang mendukung. Apakah kau sudah menghubungi kantor polisi?”

“Sudah.” Sahutku dengan percaya diri.

“Baguslah kalau begitu.”

Lima menit setelah kutelepon, kepolisian kota segera datang ke lokasi. Garis polisi segera dipasang sebagai penanda tempat kejadian perkara. Aku dan Dr. Fredi kemudian menceritakan apa saja yang telah kami alami. Mulai dari bertemu Yoga sampai penemuan mumi di kamar.

Sampai saat ini Yoga menjadi satu-satunya saksi mata yang bisa diwawancarai oleh polisi. Atas tindakannya di taman tadi, sepertinya dia akan terjerat hukum pembunuhan berencana. Kita tinggal serahkan saja proses hukumnya di pengadilan.

“Walaupun belum sepenuhnya diselidiki, kusudah yakin dengan dugaanku, Ndra. Aku akan menjawab pertanyaanmu.” Ucap Dr. Fredi

“Siapa korban pertamanya itu?” Tanyaku kepada Dr. Fredi.

“Tampaknya…, ibunya sendiri.” Sahutnya dengan ragu-ragu.

“Betulkah? Lagi-lagi sukar dipercaya.” Tanggapku.

Setelah mendengar pernyataan tragis ini, aku kemudian mulai menyusun hipotesis di pikiranku untuk mencari penyebab demi penyebabnya. Hipotesisku menyatakan bahwasannya Reza adalah anak yang kesepian, sangat kesepian. Ia sedemikian itu kesepian setelah ditinggal mati oleh ibunya. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Perasaan sedih luar biasa menghantui alur kehidupannya. Hal ini tak pernah terprediksi oleh Reza sebelumnya.

Bisa jadi tekanan terbesar dalam hidupnya bukanlah di-bully, melainkan paksaan yang diberikan ibunya sendiri. Ibunya mungkin tak pernah mau memperhatikan perasaan anaknya. Setelah nilainya merosot drastis, yang ia tahu hanyalah kurang belajar.

Itu saja.

Sehingga ia terus-terusan memaksa Reza untuk belajar tanpa henti. Tanpa memperkirakan kondisi mental Reza yang mengalami aksi bullying di sekolah.  Ini merupakan kesalahan besar. Namun ibunya sama sekali tak menyadarinya.

Sampai suatu saat Reza mencapai batas kesabaran. Yang menjadikannya kehilangan akal sehatnya sendiri. Pemikiran jahatpun kemudian terpancing keluar. Dilihat dari jenis pistol yang digunakan, sepertinya hasil pembelian di pasar gelap. Senjata hasil pembeliannya itu lantas ternodai oleh niatan jahat sang anak untuk membunuh ibunya sendiri.

Dan hal itu benar-benar dilakukannya.

“Apakah perasaan yang dirasakan Reza terlihat deja vu dengan perasaanmu dulu?” Tanya Dr. Fredi.

“Hampir sama.” Gumamku.

“Setelah diidentifikasi, diketahui bahwa Reza hanya tinggal bersama ibunya saja. Ayahnya memutuskan bercerai di waktu ia masih kecil dan pergi entah ke mana.”

“Dan ia justru menghilangkan nyawa ibunya sendiri yang selalu bersamanya. Lantas teman-teman di sekolahnya juga tak berkenan baikan dengannya lagi. Tak ada satupun orang yang mau menemaninya.”

“Itulah alasan yang membuatnya tidak bersekolah lagi sejak satu tahun yang lalu.”

“Ya, aku juga setuju denganmu. Ia begitu kesepian.” Kataku. ”Sampai akhirnya dia tak sengaja melihat kebersamaan keluarga Yoga. Pastinya ia merasa iri. Lalu berencana membuat hidup salah satu temannya itu menjadi seperti yang dia rasakan. Dengan cara membunuh kedua orang tuanya.“

“Anak itu mengambing hitamkan rasa balas dendamnya ketika di-bully.”

“Betul sekali. Hipotesis kita ini mampu menjawab pertanyaan Yoga, mengapa dia dibiarkan selamat sedang kedua orang tuanya yang dibunuh.”

Pastinya kebenaran hipotesis kami ini belum terjamin. Harus ada interogasi mendalam dengan Reza. Walaupun begitu, kami yakin nanti hasilnya tak jauh beda.

“Wah, kayaknya ada perbincangan menarik nih?” Sahut seseorang yang tiba-tiba menghampiri kami. “Kalian berdua kelihatannya menyukai pekerjaan ini. Apakah kalian jadi menerima tawaranku?”

“Baru-baru ini kau sering menjumpaiku ya.” Tanggapku.

“Aku hanya ingin memastikan saja.” Jawab orang itu.

“Aku akan menerima tawaranmu.” Tegas Dr. Fredi.

“Andra, bagaimana denganmu?” Tanyanya kembali.

“Aku akan menerima tawaranmu untuk lanjut bekerja di agen kepolisian juga.” Balasku dengan penuh keyakinan. “Aku masih ingin menemukan jati diriku yang baru. Aku juga tak ingin pasrah begitu saja. Kalau ada harapan hidup yang lebih baik dari sebelumnya, mengapa harus ditolak?”

16 dukungan telah dikumpulkan

Comments