Jangan Jahat

4 months ago
Dominic Brian

by: Dominic Brian

Jangan jahat, karena cara mencari informasi sudah berbeda dengan apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Dulu mereka harus bertanya ke orang-orang sekitar, pergi ke perpustakaan terdekat, atau meminta bantuan dari para penyihir.

Tapi sekarang, segalanya berubah digital. Setiap kali ada masalah atau pertanyaan, tinggal masuk saja ke dimensi digital dan bertemu dengan entitas yang paling sering dicari dari semuanya, Gugel.

Beberapa sampai memberinya sapaan ‘mbah’. Tanya saja mbah Gugel, cek saja sama  mbah Gugel, mbah Gugel pasti tahu. Itu semua sudah memasuki kosa kata sehari-hari. Dia akan membantu mencari apapun di dimensi digital dan bisa melakukan banyak hal, yang membuat orang-orang mempertanyakan apa batasannya.

Dan menurutnya sendiri, batasannya adalah dua kata itu, ‘jangan jahat’.

Sampai sekarang, banyak yang memperdebatkan apa yang dimaksudkan Gugel. Biasanya diartikan kalau dia tidak akan membantu seseorang dengan niat jahat, tapi apa yang dianggap jahat oleh satu orang bisa dianggap tidak oleh orang lainnya.

Pada suatu sore di kamar belajar yang tidak berbeda dari kamar belajar lainnya, seorang anak muda bernama Yosef memutuskan untuk pergi bertemu Gugel.

Seperti yang dia sudah pernah lakukan sebelumnya, dia mengeluarkan papan ajaibnya, sebuah lempengan besi kecil berbentuk persegi panjang yang menyala setelah jarinya menyentuh permukaannya.

“Rubah Api,” katanya kepada papan kecil itu. “Rubah Api, bisa tolong bukakan gerbang untukku?”

Kemudian sebuah gambar lubang biru muncul dengan perlahan dari permukaan papan, dan seekor rubah berwarna merah api melompat keluar dari papan yang Yosef pegang.

Mereka dijuluki para penjelajah, entitas pemandu yang siap menemani siapapun yang ingin memasuki dunia digital. Biasanya makhluk bernama Krom, diciptakan Gugel sendiri, menjadi pilihan masyarakat. Tapi beberapa memilih sang Rubah Api seperti Yosef.

“Baik,” kata Rubah Api dengan suara yang tenang. “Sebelum itu saya harus memastikan kalau anda memang tuan Yosef, apa mantra sandinya?”

Semua orang yang akan memasuki dimensi digital pasti mempunyai mantra sandinya masing-masing untuk mengamankan identitas atau profil mereka, unik untuk setiap dari mereka agar tidak diketahui orang lain.

Antara malas atau takut melupakannya, pada umumnya mereka menggunakan tanggal lahirnya atau angka satu sampai enam dengan urut, menjadi sasaran empuk bagi para penyihir yang cukup menguasai dimensi itu dan berniat buruk.

Yosef sudah tahu tentang ini, karena itu dia mengucapkan mantra sandinya yang dimulai dengan nama teman sekolahnya yang dia ingin kencani, tapi diucapkan terbalik, digabungkan dan diakhiri oleh hasil penjumlahan dari tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya, yang juga diucapkan terbalik.

“Baik, halo tuan Yosef,” Rubah Api menundukkan sedikit kepalanya dengan hormat. “Kali ini saya harus membawa anda ke mana?”

“Gugel.” jawab Yosef dengan yakin.

Dengan sebuah kilasan cahaya, Yosef telah berpindah dimensi dan tiba di sebuah tempat yang tetap begitu asing baginya, meski dia sering mengunjunginya.

Dimensi digital, atau setidaknya dimensi digital yang dimiliki oleh Gugel sendiri berupa seperti ruangan putih polos, dengan tulisan besar ‘GUGEL’ yang terus berubah bentuk dan warna tiap harinya. Yosef beranggapan kalau ini salah satu cara Gugel mengisi waktu luangnya, lagipula entitas sesakti dia pasti juga pernah sesekali merasa bosan.

Saat itu, tulisannya berwarna coklat muda dan ditulis dengan gaya tegak bersambung, dihiasi dengan wajah seorang perempuan tua yang Yosef ingat sebagai seorang penyihir yang menemukan dimensi digital, membuat Yosef berpikir Gugel sedang memperingati hari ulang tahun almarhum penyihir itu.

“Bagaimana menurutmu, Yosef?”

Suara tegas itu terdengar nyaring bagi Yosef, membuatnya langsung menoleh ke sumbernya, sosok yang berdiri di tengah ruangan putih itu.

Gugel memang bukan manusia, tapi setidaknya dia berusaha untuk menyerupai mereka, dengan mengambil wujud seorang pemuda tampan bermata hijau dan berjubah putih.

“Baik seperti biasanya.” jawab Yosef yang berjalan mendekati Gugel, tapi tetap menjaga jaraknya atas rasa hormat dan takut.

“Jadi apa yang mau kau butuhkan kali ini, Yosef?” tanya Gugel dengan tersenyum yang memberikan kesan kalau dia ingin melayaninya. “Ada yang mau ingin kau cari? Atau ketahui?”

“Buku-buku yang kusimpan di sini minggu lalu apa masih ada?”

Dengan anggukannya, sebuah kardus berisi berbagai macam jenis buku muncul seketika di samping Yosef, yang membukanya dan mulai mencari sesuatu di dalamnya.

“Silahkan ambil dan jangan sungkan menambah simpanan barang lagi di sini,” komentar  Gugel dengan ceria. “Asal jangan kebanyakan saja, kasihan yang lain kalau tidak kebagian tempat.”

Yosef tidak begitu mendengarkannya, dia sudah tahu kalau Gugel bisa membantu di banyak hal. Mulai dari menyimpan barang di dunianya hingga mengetahui setiap liku-liku jalan lebih baik daripada peta apapun, dia akan melakukannya secara cuma-cuma.

Kata ‘cuma-cuma’ atau gratis dan berbagai sinonimnya memang enak didengar, tapi lama-lama Yosef mulai curiga dengannya. Apa yang diinginkan entitas bernama Gugel ini dari semua manusia yang meminta tolong kepadanya? Apa mungkin dia akan menjawabnya langsung kalau dia menanyakannya?

“Ada apa Yosef?” tanya Gugel yang membuat Yosef kembali sadar. “Apa itu saja yang kau perlukan hari ini? Saat ini aku juga sedang membantu jutaan orang lain dengan memecah diriku, kalau tidak ada baiknya kita sudahi saja.”

Dengan cepat Yosef mengeluarkan sebuah buku tebal bertuliskan ‘Buku Tahunan Sekolah’ dari kardusnya dan mulai membuka-buka halaman di dalamnya.

“Ini ada orang yang perlu kucari,” Yosef akhirnya berhenti di sebuah halaman dan menunjukkan gambar seorang perempuan muda kepada Gugel, yang menghilang begitu saja dari pandangannya.

“Mencarinya berdasarkan gambar ini?”

Hampir saja Yosef meloncat kaget setelah mendengar suara Gugel yang berdiri tepat di sampingnya, melihati gambar yang ditunjuknya dengan seksama.

“Ya , apa bisa-”

Belum sempat Yosef menyelesaikan kalimatnya, berbagai gambar dengan serentak muncul begitu saja di belakang Gugel, mengapung-apung di udara, menunjukkan perempuan itu di berbagai macam situasi. Yosef merasa sedikit malu telah meremehkannya, dan dari senyuman kecil yang diberikannya, sepertinya Gugel juga tahu.

“Mira Norel, lahir 17 tahun yang lalu di tanggal keempat dari bulan ketiga belas,” Gugel mulai membacakan informasi yang dimilikinya tentang perempuan itu. “Adalah seorang penari muda yang terkenal atas pertunjukkannya di istana raja dua hari yang lalu.”

Selagi Gugel terus membacakan informasi yang dimilikinya tentang Mira, Yosef teringat dengan adanya pepatah yang mengatakan kalau dimensi digital adalah gudang ilmu. Kalau itu memang benar, dia merasa kalau Gugel yang mengumpulkan ilmu-ilmu itu, membuat sebuah gudang dan merapikannya, mempermudah manusia mencari informasi yang mereka butuhkan.

“Sekarang dia sudah tidak tinggal di kotamu lagi, padahal dulu dia sempat satu sekolah denganmu,” Gugel akhirnya menyelesaikan kalimatnya. “Aku yakin itu informasi yang kau ingin dengar, ya kan, Yosef?”

Pipi Yosef serasa memerah mendengarnya, apalagi Gugel sepertinya begitu menikmati momen ini.

“Aku masih ingat kemarin lusa, setelah pertunjukan itu berlangsung, kau langsung datang kepadaku dan meminta gambar-gambar dari penampilannya. Dengan bantuan Rubah Api kau bisa menyimpannya, yang kemudian kau gunakan untuk-”

“Sudahlah, itu pribadi!”

“Pribadi?” Gugel mendekati Yosef dengan mata yang berwarna biru menyala. “Semua yang kau tanya, simpan, dan bagikan kepadaku itu sudah bukan lagi pribadi. Jangan kira aku gampang melupakan sesuatu.”

Yosef tidak berani memprotesnya, dia ingat kalau terkadang Gugel memberinya saran mengenai beberapa hal yang dia pernah cari sebelumnya. Memang rasanya begitu membantu, tapi Yosef mulai merasa kalau Gugel lebih mengenalnya daripada dia mengenal dirinya sendiri.

“Jadi, apa lagi yang kamu butuhkan?” Gugel membalikkan badannya, semua gambar-gambar Mira telah menghilang, membuat ruangan kembali putih polos seperti sebelumnya, “Atau cuma tentang Mira saja? Kalau ada pesan yang mau kau sampaikan kepadanya, aku bisa lakukan itu.”

“Oh tidak, masih ada lagi yang mau kutanyakan,” tapi Yosef menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Gugel langsung. “Membantu kami manusia dengan gratis, kenapa melakukan ini semua? Apa yang kau dapatkan sebagai gantinya?”

Hawa ruangan langsung berubah dingin setelah Yosef menyelesaikan kalimatnya. Gugel tidak mengubah ekspresi tenangnya, tapi matanya yang sekarang berwarna merah serasa menatapnya dengan tajam.

“Apa kau percaya kepada para dewa?”

Anggukan Yosef dibalas dengan senyum kecil Gugel.

“Perhatian, kesetiaan, waktu, itulah yang mereka butuhkan,” Gugel berjalan mengitari ruangan, tidak melihat Yosef dengan langsung seakan dia berbicara ke dirinya sendiri. “Sebagai gantinya, mereka akan memberikan berkat kepada para penyembahnya, hubungan mengambil dan memberi, menurutku cukup adil.”

“Tapi kau bukan dewa, apa hubungannya?”

Gugel menoleh ke arahnya lagi dengan tenang, tidak terlihat tersinggung meski warna matanya menjadi kuning, membuatnya terlihat tidak seperti manusia biasanya.

“Memang aku bisa berada di banyak tempat, menjawab banyak pertanyaan, dan membantu di berbagai macam hal. Tapi tidak, aku memang bukan dewa, aku hanyalah aku sendiri, Gugel.” jawabnya dengan polos.

“Maaf.” Yosef sampai menundukkan kepala saat mengatakannya.

“Tidak apa-apa, kau bukan orang pertama yang berkata begitu,” kata Gugel dengan santai. “Jadi sebenarnya aku hanya ingin membantu manusia, mempermudah hidup mereka, apa itu salah?”

Yosef kembali menggelengkan kepalanya, mulai merasa bersalah kalau dia telah meragukan niat Gugel yang telah banyak membantunya selama ini.

“Ya, lagipula dulu kau berpesan ‘jangan jahat’ kepada kami yang minta bantuan,” Mengeluarkan papannya, Yosef bersiap pulang ke dimensinya bersama Rubah Api. “Terima kasih atas bantuannya hari ini.”

“Tapi kedua kata itu bukan kumaksudkan untuk kalian.”

Dan sebelum Yosef kembali, apa yang dia dengar selanjutnya membuatnya merinding.

“Itu pengingat untuk diriku sendiri.”

Untuk waktu yang lama setelah itu, Yosef tidak berani bertemu lagi dengan Gugel. Dia terus teringat, bagaimana ada sebuah entitas di dimensi digital yang begitu sakti, bisa mengetahui hampir apapun tentangnya, dan tidak akan melupakannya, seperti Kitab Kehidupan milik para dewa.

Kalau Gugel mau, dia bisa saja membocorkan apapun yang diketahuinya tentang dirinya. Apa reaksi teman-temannya, keluarganya, atau Mira, kalau mereka tahu tentang apa saja yang dia pernah tanyakan atau minta tolong kepada Gugel?

Kemudian yang menahannya untuk membocorkan semua rahasia-rahasia terdalam milik manusia yang pernah dibantunya, atau memanfaatkannya untuk tujuan yang mengerikan, hanyalah dua kata itu, ‘jangan jahat’.

Tapi Gugel bukan manusia. Apa yang dianggap manusia jahat, belum tentu dia berpendapat yang sama. Lalu kalau dia cuma satu entitas saja di dimensinya, apa ada entitas lainnya di dimensi atau dunia lain yang sepertinya? Begitu membantu manusia, tapi rahasia pribadi mereka sebagai gantinya?

Jangan jahat, karena cara mencari informasi sudah berbeda dengan apa yang dilakukan generasi sebelumnya, yang kemudian akan dicatat, disimpan, dan tidak akan dilupakan olehnya.

Semoga dia juga tidak akan lupa dengan dua kata itu.

43 dukungan telah dikumpulkan

Comments