Jump for Life

4 months ago
Bayu Dwi Putra

by: Bayu Dwi Putra

Dunia pada abad ke-22 masehi, ketika segalanya berubah digital. Di mana teknologi dunia sudah tidak bisa dibayangkan lagi kepesatannya. Namun manusia tidak pernah puas dan terus mencoba mengembangkan taraf teknologi ke arah yang lebih mutakhir. Hingga suatu ketika, suatu percobaan besar mengenai pengembangan evolusi mahluk hidup ke tahap selanjutnya mengalami kegagalan total. Menyebabkan mereka harus menghadapi monster yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.

Monster yang mereka sebut sebagai Plague, mutasi mahluk hidup baik hewan maupun tumbuhan, dan tak terkecuali manusia. Mengeluarkan cairan hijau dari tubuh mereka, cairan yang bisa menginfeksi mahluk hidup lain untuk menjadi seperti mereka pula.

Dan segera para pemerintahan dunia mengambil tindakan tegas. Dengan memikirkan bahaya dari Plague yang menyebar dengan cepat di seluruh dunia ini, mereka memutuskan untuk menerbangkan salah satu benua 10.000 meter ke atas angkasa dengan mesin Penolak Gravitasi yang sudah tertanam di dalam tanah. Dan akhirnya, manusia mulai menyerah untuk menginjakkan bumi untuk yang kedua kalinya.

50 tahun kemudian, kini dalam jalan setapak di sektor belanja pusat kota bagian barat benua, seorang bocah berambut hitam lusuh, memakai baju hitam compang-camping, serta jeans putih yang pendek sebelah karena robek di sebelah kaki kirinya. Dia tengah berlari sekencang mungkin hingga menabrak banyak dari gerombolan orang yang berjalan searah maupun berlawanan arah dengannya.  Di kedua tangannya terdapat sebuah keresek besar berisi banyak sekali roti.

“TANGKAP ANAK ITU!!! DIA MENCURI ROTI-ROTIKU!!!” Seseorang yang mengejar nya dari belakang berkata, nampaknya dia adalah pemilik toko yang anak itu curi rotinya. Berlari orang gemuk itu sembari diiringi para pegawainya.

Lalu bocah itu tersandung lubang yang ada di tapak jalan yang ia injak dan terjatuh. Para karyawan dari pemilik toko roti gemuk itu kemudian mengelilinginya. Bocah itu hanya bisa melihat wajah mereka yang tersenyum memperhatikan seberapa menyedihkannya dirinya, dan hanya bisa menunggu wajahnya dipenuhin warna hitam biru babak belur.

Namun tiba-tiba, seseorang bocah berambut putih landak melompat dari banyaknya orang yang menutupi jalan. Dia melompat dengan tingginya dan menghantam orang-orang yang mengelilingi anak berambut hitam itu dengan pipa besi yang ia dapatkan dari rerongsokkan mobil, lalu lantang ia berkata.

“CEPAT!! PERGI DARI SINI!! DIAS!!!” Dia menahan orang-orang yang hendak menangkap bocah bernama Dias itu dan menghempasnya ke belakang, merespon jeritan dari temannya, Dias berlari sembari membawa keresek berisi roti itu bersama temannya yang sudah ada di hadapannya.

Mereka berlari keluar dari sektor belanja pusat kota dan terjun menuju ke bawah sudut benua yang ada di sisi batas kota, dasar sudut benua yang hanya terpenuhi oleh sampah dan rongsokkan barang-barang yang dibuang dari atas pusat kota. Kemiringan tanah kala itu membuat teman Dias merangkulnya, dan menancapkan pipanya ke tanah berpasir untuk memperlambat gerak jatuh mereka berdua.

Berhasil lolos dari para pengejar, mereka berdua yang kini masih terengah-engah kecapaian tengah beristirahat di tumpukan bekas perabotan rumah. Hingga Dias berkata pada temannya.

“Terima kasih… Linga…”

BUGH!!

Bocah rambut putih landak yang bernama Linga itu kemudian memukul pipi bagian kiri Dias hingga dia tersungkur di tanah, lalu dengan wajah yang teramat marah dia berkata seiring meremat kerah baju Dias dan mengangkatnya.

“KAU MAU MATI HAH!!!? Untunglah mereka tidak menghubungi Threat Control!!! Kau tau kan kalau penduduk terbuang seperti kita tidak memiliki hak untuk masuk ke dalam pusat kota!!!”

“T-Tapi… Kalau tidak ada yang mencari makanan… Kita semua akan mati kelaparan!!!” Dias berkata lantang sembari menangis dengan kuatnya.

——————————Dias, Distrik Pembuangan Sudut Barat Benua——————————–

Aku, dinamai Dias Navael oleh orang-orang dewasa yang menemukanku di distrik pembuangan sampah. Aku tidak tahu siapa dan di mana orang tuaku. Namun yang pasti, orang-orang kumuh di distrik pembuangan sampahlah yang bisa kusebut sebagai keluarga.

Para tetua yang ada di distrik pembuangan berkata padaku bahwa semenjak benua ini di terbangkan, populasi yang tidak terkontrol memaksa pemerintah untuk memberikan kebijakan diskriminasi terhadap rakyatnya. Dari lvl 5-0, lvl 5 adalah tempat untuk para peneliti, 4 teknisi, 3 pejabat pemerintah juga bangsawan, lvl 2 militer, lvl 1 para petani, pedagang, dan pengusaha, dan lvl 0 adalah tempat sampah atau distrik pembuangan. Lvl 0 juga adalah daratan yang dulunya pernah menjadi dasar laut yang kini sudah terpenuhi oleh sampah dan rongsokkan dari pusat kota. Kami yang tak punya kerabat, yatim piatu, pengangguran, manula, juga namtan kriminal dibuang ke lvl 0.

Pekerjaan kami yang ada di lvl 0 adalah membersihkan sampah dengan menjatuhkannya ke luar daratan. Pemerintah memberikan upah berupa makanan setiap minggunya, tergantung banyaknya sampah yang bisa kami bersihkan. Namun, tidak semua orang di distrik pembuangan adalah orang baik. Ada juga orang-orang yang merampas makanan bagian orang lain yang sudah di bagi rata, terutama anak kecil. Dan sosok yang melindungi mereka dengan pipa besinya adalah Linga. Aku selalu mengagumi Linga, dia kuat dan pantang menyerah. Dia benar-benar sosok idaman bagi kami, para anak-anak terbuang.

Kami para anak-anak serta orang-orang dewasa di distrik pembuangan bisa hidup semampu kami dan saling memikirkan satu sama lain susah maupun senang. Sampai akhirnya hari itu tiba, satu persatu dari orang dewasa juga anak-anak jatuh sakit dua minggu yang lalu. Pada minggu pertama mereka masih bisa memaksakan diri untuk bekerja agar mendapatkan makanan. Namun, setelah minggu kedua kebanyakan dari mereka bahkan tidak bisa menggerakkan jari mereka. Akibatnya kami hanya bisa mendapatkan sedikit makanan karena kuota sampah yang tidak terpenuhi. Dan kini sudah hari ke-empat semenjak kami kehabisan makanan kami. Karena itu aku nekat mencuri roti-roti itu di pusat kota. karena jika dibiarkan begitu saja, mereka yang bisa kusebut sebagai keluarga akan meninggal dunia.

———————————-Dias dan Linga, Distrik pembuangan————————————–

Kini mereka berdua sudah sampai di tempat di mana rekan-rekan seperjuangan hidup mereka terbaring tidak berdaya. Hanya beberapa anak-anak kecil saja yang tidak terjangkit penyakit aneh itu, dan mereka kini tengah merawat orang-orang yang sakit di dalam gubuk-gubuk yang mereka buat dari kayu-kayu, besi, dan kain bekas.

“Lihat!! Dias dan Linga membawa banyak roti!!!” Seorang anak laki-laki berseru kegirangan. Para anak-anak yang masih sehat mengambil roti-roti itu dan membaginya dengan rata. Menyuapi orang-orang yang sakit dengan roti yang Dias curi hingga mempertaruhkan nyawanya. Kemudian, ketika mereka semua sedang menyantap roti. Dias pun bertanya pada salah satu dari mereka.

“Bagaimana keadaan mereka, Carla?”

“… sepertinya mereka masih bisa menelan makanan… tapi sekarang mereka bahkan tidak bisa bicara lagi… aku belum pernah lihat penyakit yang seperti ini sebelumnya…” Ujar Carla, seorang gadis yang paling tua dari anak-anak yang ada. Dia memakai kacamata dan rambutnya panjang tergerai pirang. Dia memiliki pengetahuan tentang berbagai penyakit semenjak membaca buku-buku kedokteran lama yang sudah tidak terpakai dan dibuang ke distrik itu.

“Lalu, bagaimana caranya kau bisa dapat roti yang terlihat sangat mahal itu? Jangan bilang kau pergi ke pusat kota dan mencurinya?” Carla berkata seiring lensa di kacamatanya merefleksi cahaya matahari ketika memandangku. Sedangkan Dias hanya terdiam dan mengalihkan pandangan.

“Dia nekat masuk ke sektor belanja di atas sana dan hampir tertangkap oleh pekerja tokonya… kalau aku tidak diam-diam ikut, mungkin sekarang dia sudah mati.” Linga berkata seiring Dias mengalihkan matanya.

“Jadi begitu… Terima kasih Dias, kau menyelamatkan semuanya… Tapi tolong, jangan pernah lakukan itu lagi…” Carla berterima kasih dari lubuk hatinya yang paling dalam seiring membungkuk di hadapan Dias dan memohon. Sekarang Dias mengerti, betapa berharganya nyawa yang ia miliki bagi teman-temannya.

“Kalau begitu… kita sisakan rotinya untuk besok pagi…”

BRAKK!!!

Beberapa menit kemudian, ketika keadaan menjadi cukup tenang. Salah satu sisi tembok kayu tipis itu dibobol dengan tendangan dari luar. Kemudian, masuklah tiga orang berwajah bajingan yang sepertinya siap mencari masalah.

“Hehehe seperti yang kau bilang Marlo… Mereka punya makanan…” Orang berbadan kekar itu berkata pada salah satu anak buahnya sembari melihat banyak roti di lantai.

“Benar kan bos Brian… anak-anak ini pasti punya sesuatu untuk dimakan…” Marlo berkata.

“Kalo gitu langsung aja… oi kalian… serahin roti-roti itu sekarang…” Salah satu dari mereka berkata lagi. Tepat saat dia berkata, pipa Linga sudah melesat mengenai kepalanya. Membuatnya terpental jauh dari lubang tenda yang mereka buat. Kemudian tak bergeming lekas Linga menyeringai kuat dihadapan mereka dan menatap tajam mata mereka dengan sorot mata yang berani.

“Coba rebut kalau kalian bisa…” Ujarnya tak gentar.

“Anak-anak… berlindung di balik aku dan Dias…!! Kita harus melindungi makanan yang Dias ambil dengan mempertaruhkan nyawanya!!!” Lantang Carla berkata.

“Marlo, hajar dia…” Brian berkata ketika ia menyadari bahwa Marlo tersentak kebelakang dari tatapan Linga yang gahar.

“Mampus lo bocah!!!” Dia berlari dan mebentangkan tinju kanannya.

Namun dengan cepat Linga menghindar ke arah kanan, membuat tinju sekuat tenaga marlo menghantam tanah. Kemudian ketika marlo masih belum mendapatkan keseimbangannya kembali, Linga meghantam kuat kepalanya dengan pukulan samping memakai pipa besinya. Layaknya bola baseball, Marlo terpental ke kiri dan menabrak dinding kayu.

BRAK!!

“Boleh juga kau bocah… aku mulai tertarik padamu ketika dua cecunguk gak guna itu selalu gagal merebut makanan dari kelompok kalian dengan alasan mereka di hajar bocah pipa gila yang sangat kuat… gimana kalau sebelum merampas makanan kalian, kuhajar dulu kau sampai tidak bisa berdiri lagi?” Bos dari kedua orang itu beraksi sangat cepat, tiba-tiba dia sudah menghantam kepala Linga dengan dua kepal tangannya yang disatukan. Kepala Lingapun menghantam tanah dengan kuatnya.

“LINGA!!!” Seru Dias.

“Aku tidak akan kalah darimu…” Ujar Linga yang merespon panggilan Dias. Kemudian, Brian tiba-tiba terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Atau lebih tepatnya Linga menghantam pipa besinya pada kedua kaki Brian hingga ia terjatuh. Dan ketika Brian masih dalam momen kehilangan keseimbangan, telapak kaki Linga sudah berada di depan wajahnya kala itu juga.

“Karena aku bertarung bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk orang lain…” Ujar Linga dengan pelan seiring ia menendang jatuh Brian dengan telapak kakinya, Brian terpental menuju keluar tenda dan Linga keluar mengikutinya. Menjauh dari Carla dan Dias…

“Hahaha!!! BAGUS!!! Sudah lama aku tidak bertarung dengan lawan kuat sepertimu!!! Tidak seperti orang-orang yang ada di tempat sampah ini yang tidak memiliki ambisi dan keinginan yang kuat selain bertahan hidup!!! Matamu memiliki Ambisi itu!!! keinginan kuat untuk melindungi orang lain!!!” Brian melesat kehadapan Linga seiring berkata dan mengepalkan tinjunya erat-erat.

TANG!!!

Dia menghadapi langsung lesatan pipa besi Linga dengan tinju kanannya yang memerah. Kemudian mengepalkan tinju kirinya dan menghantam perut Linga hingga terpental. Lalu, semenjak terkena pukulan kuat dari Brian. Entah kenapa Linga tidak berdiri.

“Ada apa Linga!!! Kenapa kau tidak berdiri!!!” Aku berkata dengan keras.

“Cepat kita lari dari sini dan bawa makanannya secara terpisah… Linga tidak bisa mengalahkan orang itu…” Carla berkata.

“Apa yang kau katakan Carla…!!? Tidak mungkin Linga kalah!!!” Seru Dias lantang.

“DIA AKAN KALAH!!! KARENA DIA JUGA TERJANGKIT PENYAKIT ITU!!!” Carla berteriak lebih keras lagi.

“Gejala itu muncul minggu lalu… dia menyuruhku untuk tetap menutup mulut agar kalian tidak cemas…” Ucap Carla dengan nada yang pelan.

‘Jadi, selama satu minggu ini dia menahan rasa sakitnya untuk melindungi kami. Rasa sakit yang bahkan dapat membuat orang-orang dewasa jatuh dan sepenuhnya takluk tak bergerak itu? dia menahannya seiring terus bertarung melawan orang-orang yang menindas kami? Dia melindungiku yang dengan bodohnya memasuki pusat kota dengan kondisi seperti itu? Bahkan sekarangpun dia masih bertarung… demi kami?’ Pikir Dias.

“Mau kemana kau Dias!!!” Carla berseru melihat Dias melesat begitu saja dengan cepatnya.

“Sepertinya kau sudah tidak bisa bergerak lagi… kalau begitu sudah saatnya aku merampas roti yang kalian bawa.” Brian berkata sembari beranjak menjauhi Linga. Namun, tangan Linga menangkap dan menahan kaki Brian.

“Aku… masih belum kalah!” Ujar Linga. Lalu Brian menendang Linga kuat hingga terpental jauh. Namun, Linga masih tetap bersusah payah berdiri dengan bantuan pipa besinya.

“Dasar keras kepala!!” Tak pikir panjang, Brian melesat pada Linga dan melesatkan tinju kanannya pada wajah Linga.

BUAK!!!

“Apa-apaan? Kau mau cari mati hah?” Brian merasa kesal ketika tinjunya mengenai sasaran yang bukan targetnya. Melainkan…

Bocah…?” … Sosok Dias yang berdiri di depan Linga. Wajahnya terkena pukulan Brian.

“Apa yang kau lakukan Dias! Cepat Lari!” Lantang Linga berseru terengah-engah. Namun Dias tidak menghiraukan kata-katanya.

“Minggir!!” Brian menghantamkan tinjunya yang lain di wajah Dias. Kala itu entah mengapa Dias mengingat percakapannya di masa lalu bersama dengan Linga.

“Ah sial!!! Kenapa aku harus membersihkan sampah sampai tengah malam begini…” Ujar Linga kala itu. Kini mereka ada di ujung benua dan sedang duduk di batas daratan. Terlihat bulan purnama  yang tampak lebih besar karena mereka melihatnya dari benua terbang. Di bawah mereka terdapat bumi yang berwarna hijau tua karena sudah dipenuhi oleh Plague.

“Salahmu sendiri diam-diam naik ke atas untuk melihat latihan tentara-tentara Threat Control… gara-gara kamu aku juga harus ikut-ikutan bersihin sampah sampai malam tau…” Ujar Dias.

“Ini semua gara-gara kamu tau-tau nongol begitu aja dari belakang terus kita berdua jatuh ke tanah berpasir dan di temuin Carla… tapi yah, aku gak menyesal kok melihat ke atas tadi…”

“Kamu liat kan!!! Tentara-tentara itu bisa melompat di langit!!! Baju mereka penuh dengan mekanisme aneh yang membuat mereka bisa melompat di langit!!! Baju yang disebut Motorik Suits!!!” Pembicaraan Linga tentang kekagumannya terhadap tentara Threat Control pun dimulai.

“Kamu tau Dias, kenapa umat manusia harus menerbangkan benua untuk bisa bertahan?”

“Karena Plague amat berbahaya kan?” Jawab Dias.

“Bukan… Karena mereka tidak memiliki kekuatan… Makanya mereka harus melarikan diri dari musuh yang ada di hadapan mereka… menahan rasa malu yang mereka rasakan, mereka melampiaskannya pada manusia lainnya… karena itu terbentuklah distrik pembuangan ini…” Jelas Linga.

“Kau tahu… impianku adalah menjadi salah satu dari Tentara penjelajah… mereka melompat-lompat di luar benua terbang layaknya burung yang terbang bebas dinaungan sang langit…  dan tidak seperti tentara-tentara yang ada di kota yang melompat untuk melarikan diri… aku ingin menjadi salah satu dari mereka yang… Melompat untuk hidup…” Kata-kata Linga yang terakhir sangat bersinar, layaknya sinar terang bulan purnama yang menyinari mereka bedua kala itu.

Sekarang, Dias tengah tersungkur dengan wajah yang babak belur. Kepalanya pecah dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah segar. Brian yang memukulinya tanpa jeda kelelahan dan sulit bernafas. Kala itu Linga dan anak-anak lainya hanya bisa meneteskan air mata. Tapi, meskipun telah babak belur. Dias masih tetap berdiri dengan tergopoh-gopoh. Membuat Linga berteriak keras sekali.

“KENAPA!!! KENAPA KAU MASIH BERDIRI!!! KAU HANYALAH PECUNDANG LEMAH!!! TAPI KENAPA KAU TIDAK LARI!!! DIAS!!!”

“K-karena… a-aku ingin menjadi sepertimu… Linga. Kuat, tidak pantang menyerah, berambisi, memiliki mimpi yang besar, penuh keberanian dan percaya diri… karena itu untuk kali ini saja, biarkan aku mengambil peranmu untuk melindungi semua yang berharga bagiku… termasuk dirimu…”

“Kau… tidak perlu mengatakan ingin menjadi kuat dan berani sepertiku…” Mendengar kata-kata Dias, Linga merasa bahwa tidak bisa terdiam dan terbaring begitu saja. Dengan paksa dia mengangkat tubuhnya keatas untuk berdiri…

“Karena kau sudah cukup kuat dan berani…” … Di sebelah Dias.

“Tatapan mata yang bagus… nah sekarang ayo kita lanjutkan permai….”

BRUK!!!

Sebelum Brian menyelesaikan kalimatnya, dia merasakan sesuatu yang melompat dan mendarat di belakangnya. Wajah Dias dan Linga berubah biru ketika melihat apa yang berada di belakang Brian. Dan ketika Brian memutar kepalanya. Dia bisa melihat sosok monster raksasa yang selama ini meneror umat manusia, Plague.

“…K-kenapa… KENAPA MONSTER ITU BISA ADA DI ATAS SINI!!” Seru Dias Lantang.

“MENUNDUK!!!” Seru Linga seiring ia mendorong kepala Dias ke bawah tanah.

“Apa yang…” Belum sempat menanyakan apa gerangan yang sebenarnya terjadi, Plague itu sudah mengayunkan lengannya dengan lebar. Membuat Brian  terhempas oleh pukulan itu dan terbasahi cairan hijau yang melumasi tangan Plague. Untungnya Linga menundukkan badannya beserta Dias hingga mereka bisa selamat dari ayunan lengan Plague.

Tak butuh waktu lama, struktur tubuh Brian perlahan berubah menjadi monster yang sama. Saat Dias melihat ke arah tenda tempat Carla berada. Dia mengetahui jikalau Plague ini berasal dari sana ketika ia melihat banyak Plague yang mengejar anak-anak yang ia lindungi satu persatu. Kala itu dia bisa mendengar Carla berteriak sekencang-kencangnya.

“LARI KALIAN BERDUA!!! ORANG-ORANG YANG SAKIT!!! SEMUANYA BERUBAH MENJADI PLAGUE!!!” Tak percaya akan kata-kata Carla, Dias melihat sendiri beberapa orang yang sakit dan masih berbentuk manusia. Dan dia mengerti bahwa yang dikatakan Carla adalah kebenaran setelah melihat mereka berubah menjadi monster.

Kemudian monster yang ada di hadapan kami, melesatkan tinjunya yang besar itu hingga bayangan berbentuk kepal tangannya menutupi kami berdua.

Lalu, para pengawas yang ada di atas pusat kota mulai mengetahui situasinya dan amat kaget melihat monster itu berada di atas benua terbang.

“B-bagaimana bisa, Plague ada di benua terbang ini!!!”

“Pak!! Kita harus menyalakan alaram pak!!! Alaram ancaman tingkat tertinggi!!!” Lekas para pengawas yang ada di pinggir pusat kota membunyikan alaram yang bahkan seluruh distrik pembuangan dapat mendengarnya.

“Lapor pak!!! Plague sudah menginvasi distrik pembuangan bagian barat!!! Hanya tinggal waktu sampai mereka memanjat ke pusat barat kota!!!” Ujar seorang sersan yang mendapat laporan dari bawahannya.

“Kerahkan seluruh unit  Threat Control dan evakuasi para penduduk ke dalam tempat berlindung baja yang ada di tengah benua!!! Kita akan memaksa mereka untuk meninggalkan benua ini!!” Komandan berkata.

[Para Warga diharapkan untuk mengevakuasi diri ke tempat perlindungan yang ada di distrik militer… ini bukan latihan… sekali lagi… ini bukan latihan…] Seluruh penyiar suara yang ada di kota menyeruak.

Dan kini, para tentara Threat Control sudah bersiap dengan Motorik Suitsnya. Mereka menerjunkan diri ke arah Distrik pembuangan bagian barat. Kemudian melompat-lompat di angkasa.

Kembali ke Distrik pembuangan, Linga mendorong  Dias hingga terpental dari jangkauan tinju Plague, lalu setengah tubuhnya terkena tinju berlendir hijau yang merubah Brian menjadi Plague juga.

“LINGA!!!” Cemas Dias berteriak.

“Aku tak apa… Tinjunya hanya menyerempet… yang lebih penting cepat pergi dari sini!!!”

“Apa yang kau lamunkan Dias!!! CEPAT PERGI DARI SINI!!!” Ujar Linga yang ada tepat di depan Plague.

“Kau juga!!! Cepat kemari!! Kita lari bersama!!” Seru Dias.

“Kau lihat sendirikan!!! Aku sudah tidak bisa bergerak lagi!!! Lagipula, meskipun aku bisa lari bersama denganmu… itu hanya akan melahirkan monster baru!!!” Linga berkata keras sekali.

“Biacara apa kau Linga!! Aku tidak akan meninggalkanmu!!” Balas Dias tak kalah lantang. Plague itu kembali menyerang, kali ini bukan dengan tinjunya melainkan telapak tangan dengan kuku-kuku yang tajam.

“Dasar bodoh!! Cepat menyingkir!!” Linga berteriak satu kali lagi, namun Dias tidak mendengarkan. Dia berdiri di depan Linga dan mengangkat salah kedua telapak tangannya ke hadapan tangan Plague.

“Sekarang!! Giliranku untuk melindungimu!!” Keras Dias berteriak, memejamkan mata.  Lalu, cairan putih keluar sangat cepat dari telapak tangan Dias, membentur tangan Plague dan menghancur leburkannya. Cepat sekali hingga tak ada yang tahu apa gerangan yang telah terjadi. Semua orang yang melihat kejadian itu terpana, terdiam kaget akan apa yang baru saja Dias lakukan. Ketika Dias membuka matanya, ia melihat tangan Plague hancur berantakan.

“… A-apa yang terjadi..?” Terkaget Dias, tak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Tanpa sadar, dengan satu tangan yang tersisa Plague yang ada di hadapan mereka menghantam Linga lebih dahulu dengan lengan besarnya, sedangkan Dias tertabrak punggung Linga yang masih belum berubah menjadi Plague. Terhempas mereka keluar benua terbang.

‘Gawat!! Jika dibiarkan begini! Kami berdua akan terjatun menuju permukaan bumi!!’ Pikir Dias yang masih melayang di udara. Tak pikir panjang, Linga menendang badan Dias kuat. Membuat Dias terjatuh tepat di tepi benua, sedangkan Linga terjatuh di luar benua seiring mengulurkan tangannya. Mengharapkan uluran tangan dari Dias.

“PEGANG TANGANKU LINGA!!!” Segera Dias mengulurkan tangannya.

Akan tetapi, setelah melihat tangan kiri Linga yang sudah berubah menjadi tangan mengerikan Plague. Dias sedikit menarik kembali uluran tangannya. Ia takut, pada tangan Linga yang sudah menjadi monster. Linga tertegun mengetahui itu, menundukkan kepalanya sembari menutup mata dengan kecewa. Kekecewaan yang timbul dari rasa takut sahabatnya terhadap dirinya sendiri. Alhasil, dia terjatuh ke permukaan bumi yang telah menghijau.

“LINGA!!!!”   Jeritan penuh kesedihan terlontar di angkasa kala itu juga. Seru dari kesedihan Dias serta ketidakberdayaannya terhadap seberapa menyedihkan dirinya. Dia menyesal karena menjadi seorang pengecut besar.

Pada akhirnya, semua Plague yang ada di distrik pembuangan dijatuhkan oleh tentara Threat Control. Kebetulan pesawat penjelajah juga  telah berpulang dan membantu mengatasi para Plague yang tersisa. Semua orang yang memiliki penyakit yang sama juga dijatuhkan ke permukaan bumi atas perintah atasan, tidak perduli dia manula ataupun anak kecil.

Dan semua warga distrik pembuangan barat diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui jikalau ada yang terkena penyakit lagi, dengan sanksi seperti di atas. Sedangkan Dias, Carla, dan anak-anak kelompok mereka yang tersisa, hanya bisa menangis di depan makam Linga yang mereka buat tepat di hadapan matahari terbenam.

Aku ingin keluar dari benua sempit ini dan melompat dengan bebasnya di atas cakrawala yang luas…” Dias, mengingat kembali kata-kata Linga yang lalu.

“Ya, Linga… aku akan mewujudkan impianmu… Aku akan Melompat untuk hidup…” Dias berkata selaras cahaya indah matahari senja menyinari badannya. Matanya sangat berambisi layaknya sahabat yang amat berharga baginya, Linga.

19 dukungan telah dikumpulkan

Comments