Karangan Bunga

3 months ago
Karangan Bunga (Sumber: cleamour.tumblr.com)
chocoabitter

by: chocoabitter

Itu adalah hari yang muram untuk keluar dari penjara. Dunia di luar sel menyambutnya dengan hujan gerimis yang turun tanpa henti, tahi anjing di bawah kaki, dan selagi ia terpekur untuk membersihkan kemalangan di sepatunya itu, lungsuran pohon bunga Jacaranda di tepi jalan jatuh menerpa kepalanya. Sekawanan muda-mudi berseragam yang baru pulang sekolah dan berpapasan dengannya di trotoar itu terkikik di bawah payung mereka. Payung, pikirnya seraya menengadahkan kepalanya yang berbau busuk bunga, dan basah. Haruskah dia membeli satu, kini?

Di sepanjang jalan bertebaran minimarket. Begitu banyaknya hingga ia melihat satu ketika melihat ke kiri, dan melihat dua lagi ketika menoleh ke kanan. Yep. Dunia di luar sel masih absurd seperti ingatannya. Tiga minimarket dan kesemuanya tentu menjual payung, tapi ke minimarket yang mana dia akan menuju? Dia terkekeh kering merenungkan itu, dan menggeleng-gelengkan kepala, membersihkan kelopak-kelopak busuk di antara rambut cepaknya. “Semau-mau orang, lah…” Gumamnya sendiri, bicara sendiri.

Dia menarik napas panjang, melupakan payung, melupakan bunga dan reranting kering, melupakan tahi. Sesaat tangannya terentang, lalu berayun maju dan mundur, meregangkan badan. Suara adzan dzuhur berkumandang membelah perkotaan yang bising oleh suara kendaraan, atau suara hujan, dan ia hanya melirik sekilas pada kubah bangunan ibadah yang dirajai warna emas-putih itu. Di penjara, ia tak pernah absen beribadah karena itulah yang ia pikir orang ingin ia lakukan, tapi lepas dari kurungan membuatnya tak memerlukan itu lagi.

Pula, tak ada yang mengingatkannya. Keluarga tak punya. Teman-teman dekatnya menjauh. Tapi ia ingat pada rumahnya, pun ia masih memiliki kuncinya. Ingatan itu mengirim senyum kecil di wajahnya yang dikepung brewok tipis, dan, mengabaikan tiga minimarket di segala penjuru mata angin itu, ia menghampiri warung kecil dekat loket parkir yang dari jauh tampak seperti parade mini berbagai jenis rokok.

Penjaganya, nenek warung yang di masanya pasti pernah disebut gadis warung, lalu ibu warung dengan sisa gurat ayu di mukanya, seperti terkesiap melihatnya.

“Mbah, Mi ada?”

“Ada, ada… goreng apa rebus…?”

Hm. “Dua-duanya.”

“Lima ribu.”

“Telur ada, gak?”

“Ada tapi… sudah agak lama.”

“Biar, lah. Sebutir saja.”

“Sepuluh ribu.”

Alisnya naik sebelah, matanya membelalak. “Gak tujuh? Paling pol delapan.”

“Tapi saya belinya harga segituan, apa-apa mahal sekarang. Oo, dagang apa-apa sekarang susah. Orang beli rokok pun sudah jarang sekarang, sejak ada toko-toko itu. Katanya lebih murah. Dan ya—“

“Ya, ya. Sepuluh ribu.” Ia menguak dompetnya untuk menyerahkan selembar Mahmud Badaruddin—produk sebelum masa uang baru, masa ia belum masuk penjara—dan mengambil belanjaannya dengan hati diriang-riangkan. Menembus hujan, ia berjalan, seolah merasakan setiap tetes dan rintik dengan khidmatnya. Lewat sini terus setelah dua gang, masuk, lalu berbelok dua kali. Di pertigaan, bocah gundul dan sepedanya menerobos kencang dari sisi kanan, setang sepedanya membentur plastik mi dan telur di tangan. Pecah. Dan ternyata telur seharga lima ribu itu busuk, baunya menyengat kemana-mana.

“Asu,” kutuknya.

Pria itu, dua puluh enam tahun, bernama Rakai. Ia telah membunuh orang empat bulan lalu.

***

Kampung tempat rumahnya berada adalah puing dari masa jaya segala media cetak, tempat buku-buku dan majalah ditumpuk lebih tinggi dari tiang-tiang kayu rumah. Ada jajaran potret wanita kulit-putih dalam pakaian pantai mengiringi langkahnya hingga ke rumah kios sebelah, tempat buku-buku pelajaran untuk anak sekolah dasar ditumpuk sekena hati, basah dan bau cendawan oleh tempias hujan. Rakai meneruskan jalannya. Ia setengah-bersyukur hawa dingin membuat perkampungan itu sepi, namun tetap saja, semakin ia mendekat ke jalan ke rumahnya, semakin dalam Rakai menunduk menatap tanah—takut ada yang keluar dan mengenalnya. Langkahnya berangsur semakin cepat begitu ia mengenali pohon kersen tinggi dengan papan kayu usang bertuliskan: PERSEWAAN KOMIK R&B (Buka: 07.00 – 09.00 21.00)

“Pendek amat Kak, bukanya cuma dua jam?” Bocah dengan kaus kucel menunjuk, kedua alisnya kawin.

“Kepalamu, empat belas! Jadi Badrun bisa goler-goler di sini sambil tunggu aku pulang, sambil dapat uang.”

“Kalau gitu tulisnya dua-satu-nol-nol Kak, kata Bu Guru begitu.”

“Gitu, ya. Nih ganti.” Rakai, waktu itu lebih muda, asal menyapukan cat ke papan itu.

“Ga ada cat cokelat apa, Kak? Ceprot tenan.”

“Gih beli, pakai gigimu.”

“Wee. Nanti laku gak ya, Kak?”

“Orang suka baca komik, ya mesti laku lah. Badrun suka?”

“Suka, Kak.” Dia tertawa.

“Jadi, jangan ngamen lagi. Jangan main sama anak-anak gak bener lagi.”

“Siap, Kak!”

Pohon kersen itu persis depan rumahnya, sekaligus yang dulu tempat kerja adiknya. Dan mungkin akan tetap begitu, kalau saja arus zaman sempat berkata permisi pada mereka. Segalanya berubah digital. Ia dengar, kini, ke layar-layar kecil yang menyediakan komik-komik secara gratis alih-alih seribu rupiah per judul, per hari. Menjelaskan anak-anak sekolah yang tidak lagi datang untuk menyewa dan muka kuyu Badrun yang berangsur-angsur permanen. Menjelaskan juga mengapa kampung khusus buku loakan ini perlahan meranggas mati—dan nyaris bergantung sepenuhnya pada mahasiswa kere yang kadang-kadang datang mencari referensi murah. Dan Badrun? Rakai akan menggadaikan apa saja yang dia punya untuk secuil kabar mengenai adiknya itu.

Kau tidak bisa mengharapkan seorang sopir truk logistik untuk selalu memasang mata pada keluarganya. Badrun sudah pergi suatu hari, dan menghilang, begitu saja. Kau juga tidak bisa berharap banyak padanya, untuk mengurus rumah—kusen pintu yang berkarat dan mau lepas, sesemakan rumput setinggi lutut. Di dalam, ia bayangkan keadaan akan masih sama dengan terakhir kali ia meninggalkannya—saat hari naas itu terjadi—piring sisa semalam menumpuk di bak cuci, kakus berlumut. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Dan tumpukan pakaian kotor yang kini musti sudah jadi sarang keluarga tikus. Tapi meski puing begitu, ini tetap rumahnya. Dan yang ia inginkan sekarang adalah semangkuk mi panas, yang airnya hasil jerangan dari tungku kayu, biarpun tanpa telur, dan tidur untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya kini setelah ia kehilangan pekerjaannya.

Ia memasukkan kunci ke mulut pintu, dan membukanya. Pintu berderit terbuka. Namun alih-alih bau tinja tikus dan daki-daki bujangan, yang menyapa hidungnya adalah bau bunga. Begitu banyak bunga. Mirip tujuh merk pengharum ruangan dibuka bersamaan dan memabukkan. Ia hanya bisa ternganga, ketika melangkah masuk, sebab berpuluh-puluh karangan bunga besar dijajarkan di keempat penjuru dinding; semarak lili putih, mawar merah, aneka bakung kuning, bahkan buah. Dan pada masing-masing karangan bunga terdapat tulisan yang sama:

Terima kasih!!!

Dengan tiga tanda seru, seolah satu saja tidak cukup.

Dirasainya langkah kakinya memberat, setengah-takut, setengah-bingung. Ia tak kenal siapapun yang mau repot-repot melakukan ini semua. Perusahaan tempatnya bekerja dulu terlalu irit untuk segala pemborosan ini (dan, pula, untuk apa menyelamati orang yang merugikan mereka?).

“…Apa-apaan…” Ia memandang sekeliling, walau hanya ada bunga sejauh mata memandang saking besar dan banyaknya, tapi toh akhirnya ia menemukan beberapa bundel koran edisi beberapa bulan lalu. Jantung Rakai seolah berhenti; kesemuanya khusus memuat berita yang sama.

DIDUGA SOPIR MENGANTUK, TRUK TABRAK MOBIL, SATU TEWAS

Kecelakaan maut terjadi di Jalan X, Kota ,Y pada hari Sabtu, 1 April 2017. Truk pengangkut logistik menabrak mobil Toyota Kijang yang dikendarai korban, Leona Anggraeni (19)…

Ia meneguk ludah, darah seperti terkuras dari wajahnya. Mual. Terima kasih!!! Tentu. Ia telah membunuh orang. Tentu ada yang marah padanya. Jadi, ini ulahnya? Namun bagaimana ia masuk kemari?

“Ngh…”

Kepalanya menoleh cepat, menyadari ada orang lain di sini. Di rumahnya. Asalnya dari ruangan bekas ‘ruang baca’ tempat Badrun dan rak-rak komiknya—di sana. Hati-hati ia melangkah, dan hal pertama yang ia sadari adalah bahwa hamparan buku komik di lantai itu lebih berantakan dari biasanya. Seolah seseorang baru saja menurunkan semua isinya untuk alasan entah-apa.

Bundel Mari-Chan: Bintangnya Cinta telungkup terbuka dihimpit Shonen Magz volume-volume awal. Dari sela-selanya, kaki bersepatu hitam menyembul.

Sepatu kecil, berpita, sepatu gadis.

“A…”

Sepasang kaki itu bergerak sedikit mendengar suaranya. Rakai menunduk, terheran-heran melihat buku komik ditata seperti benteng runtuh dekat sesosok gadis mungil yang tengah tidur miring. Rambut panjangnya yang diikat dua masai berantakan di lantai, tangannya memeluk majalah W.I.T.C.H bersampul koyak dengan posesif. Napasnya naik-turun lembut, walau…

“Ngh… hnguh…” Sesekali ia merintih, alisnya bertaut. Sesaat, ia teringat wajah adiknya saat bermimpi buruk.

Siapa dia? Bagaimana ia masuk kemari?

Kenapa ia masuk kemari?

“A… hei,” Tangan Rakai yang gemetar terulur, mengguncang pelan bahu penyusup kecil itu—yang begitu kurus hingga ia takut akan meremukkannya. “Oi, bangun.”

“Ngh—ngghuu—“ Ia menggeliat, menepis, raut mukanya tidak senang. Namun matanya masih tertutup, sampai Rakai menyentak lengannya dan gadis itu pun terlonjak, dan terkesiap menatapnya.

Matanya adalah mata paling besar dan paling cokelat yang pernah Rakai lihat, membuatnya sesaat tercenung.

“Oh… oh…” Penyusup itu menangkup mulutnya dengan tangan. “Kamu datang.”

Rakai masih terdiam.

Si gadis mengulum senyum—bagaimana bisa ia terlihat begini tanpa dosa?—dan membawa tangannya ke kedua pita merah kuncir rambutnya, merapikannya. Ia mengenakan kemeja putih berenda dan rok hitam selutut, stocking hitam tinggi menyamarkan kulit kakinya yang pasti sama putih dengan wajahnya. Dan ketika bicara, suaranya seolah berdendang. “Aku sudah lama menunggu-nunggu kamu.”

“Untuk?” tanya Rakai datar, duduk berjongkok kini, ibu jarinya menunjuk ke ruang sebelah. “Itu semua, ulahmu?”

“….Iya.” Ia tersenyum memamerkan giginya. “Kamu penyelamat jiwaku.”

Rakai mengabaikannya. “Bagaimana kau masuk ke sini?”

“Oh, gembok kunci rumah kamu—emm, berkualitas rendah. Mudah diakali.”

“Kapan?”

“Pagi ini saja. Kudengar kamu bebas hari ini.”

“Kau.. apa?”

“Kudengar, ku tahu,” jawabnya kalem. “Rakai Hardian, aku selalu mengikuti kabar tentang kamu. Aku juga yang menebusmu agar keluar dari bui lebih cepat. Senang?”

Rakai terlongong-longong. Semua informasi ini terlalu berlebihan untuknya. Tiba-tiba pemotongan masa tahanan. Lalu bunga. Dan sekarang, gadis ini. Yang sekarang bangkit dari posisi duduknya dan mulai berdiri, dan jemarinya menyisir punggung-punggung serial Naruto yang sudah berdebu dan berjamur di rak. Ia menarik salah satunya, “Kamu penyelamat jiwaku. Aku berhutang banyak. Sebut saja apa yang kau mau, akan kukabulkan. Uang? Kekasih? Menyulap gubuk ini jadi istana?” Ia tertawa renyah. “Oh, tapi jangan sampai kau buang komik-komik tua ini. Aku menyukainya…”

“Apa,” Suaranya tercekat. “Apa yang sudah aku lakukan? Siapa kau—”

“Terima kasih telah membunuh Leona, ya, Rakai.”

Mendengar itu, seluruh ototnya beku. Wajahnya pucat pasi. Kembali terbayang olehnya kejadian malam itu, saat truk yang disopirinya gagal menghindari mobil Kijang yang melaju serampangan dari arah berlawanan. Di beberapa malamnya, bayangan itu masih muncul. Seperti teror. Mereka mendeskripsikan kondisi mayat si gadis kepadanya berulang-ulang—kaca dashboard yang pecah menghujam bagian ini dan itu, bagaimana kakinya tertekuk sekian sekian derajat, bagaimana engsel ini lepas dari tempat yang seharusnya, dan… kolam darah.

Yang terakhir itu ia lihat. Merah. Bak pita di kedua pita rambut si gadis yang tengah tersenyum itu. Senyum yang pastinya lupa mampir di wajah kedua orang tua dan adik-adik korban yang selalu menatapnya dengan sorotan dingin, cacian, seolah ia sengaja membunuhnya. Hei, Bung, kau menyuruh kendaraan seberat puluhan ton dan setinggi sekian meter mengerem mendadak demi satu pengendara gila? Rakai ingin teriak, ia tidak bersalah. Rakai ingin ada yang berkata padanya, mereka hanya butuh orang untuk dipersalahkan. Kalau Badrun ternyata sudah mati dengan cara serupa, ada kah yang mau mendengar kalau perih hatinya tidak berbeda?

Dan sekarang gadis ini. Bilang, terima kasih. Untuk menghilangkan nyawa. Ia ingin Rakai menjawab apa, sama-sama?

***

“JANGAN BERCANDA!”

Ia menyambar komik tebal di lantai dan melemparkannya ke arah si gadis—luput membentur dinding, sementara penyusup kecil itu menunduk memegangi kedua telinganya. Suaranya menggelegar, dan napasnya terengah-engah. Mendadak mualnya muncul, sehingga ia terhuyung mendekati jendela dan memegangi dadanya, muntah.

Teror. Gemetar. Dingin. Udara hujan yang semestinya mirip tanah terasa seperti karat besi.

Gadis itu nyata berhati besi, karena tak lama ia mendengar ketukan sepatunya pada lantai, mendekatinya, menyodorkan tisu.

“Tidak bercanda, kok.” Tuturnya. “Tidak usah merasa begitu bersalah. Dia pantas mati.”

“Kau anjing, itu nyawa orang.”

“Apa aku anjing yang lucu?”

Rakai menepis uluran tisunya, dan menatap mata gusar pria itu, si gadis malah terbahak. Merdu. “Tidak semua nyawa berharga, Rakai. Kalau ya, kalau saja kamu tahu apa yang sudah Leona lakukan padaku…”

“Bukan urusanku.”

“Kalau ini bisa menghilangkan rasa bersalahmu, tenanglah: Dia toh akan mati juga pada akhirnya.”

Ia membisu.

Tapi gadis itu tetap melanjutkan bicaranya. “Aku lah yang akan membunuhnya, kalau bukan kau.”

Ini sudah keterlaluan. Gadis sialan ini dan segala omong kosongnya. Berapa umurnya? Tentu tidak lebih dari tujuh belas. Dan kaya. Anak-anak kelas menengah atas menyebalkan yang berpikir mereka punya segala, menghambur-hamburkan uang orang tua mereka, membesar-besarkan masalah mereka yang sejatinya kecil. Dengan tangan mulus itu, Rakai ragu penyusup ini pernah mengerti arti susah. Dan bunga. Orang tolol mana yang kepikiran bunga akan ada gunanya?

“…Keluar.” Katanya, mengusap mulut. “Dan bawa sampah-sampahmu itu.”

“Urusan kita belum selesai.”

“Aku tidak mau berurusan denganmu.”

“Kamu akan membusuk di penjara kalau bukan karena aku.”

“Bukan soal.”

“Rakai, biarkan aku membayarmu. Aku tidak bisa pergi begitu saja.”

“Kau bilang apa saja, bukan?”

Wajah gadis itu berseri-seri. “Tentunya.”

“Kalau begitu hidupkan lagi Leona—siapalah ini.”

Rona di wajah si gadis berubah. Ia menatap Rakai datar, kemudian tertawa terbahak. “Kamu lucu,” ujarnya. “Yang itu, aku tidak bisa. Kalaupun bisa, aku tidak mau.”

“Haaaahhh,” Rakai mencengkeram kepalanya, mulai sadar berbicara dengan gadis ini adalah kesia-siaan.

Seolah mengambil kesempatan dari hening setelahnya, si gadis penyusup malah menyamankan duduknya, bersandar pada rak penuh Samurai Deeper Kyo, dan bertutur. “Kalau Leona tidak ada sejak dulu, aku pasti punya masa sekolah yang menyenangkan. Punya teman. Punya karir.” Tangannya mencengkeram pergelangan kakinya. “…tidak harus membenci diri sendiri dan menangis tiap malam. Dia merebut pacarku, kamu tahu? Atau lebih tepatnya, dia membuat pacarnya memacariku, hanya supaya aku merasa cantik, merasa layak, kemudian menghempaskanku. Kamu juga harus tahu fitnah-fitnah kejam yang dia buat untuk mencelakaiku—dan keluargaku. Gadis itu iblis, Rakai. Dia…”

“Itu saja?”

“Maaf?”

“Hanya untuk alasan-alasan remeh, kamu dendam kesumat sampai ingin dia mati?”

“Alasan-alasan remeh?” Suaranya meninggi. “Berani-beraninya. Kamu tidak tahu rasanya…”

“Kau tidak berdarah dikata-katain doang.”

“Tetap saja sakit!”

“Dasar sinting,” Rakai beranjak berdiri, dengan tangkas menyambar pergelangan tangan si gadis.

“Kamu mau ap—“ Ia diseret, menjauh. “—Hei—“ Meronta, namun perbedaan besar badan dan tenaga terasa nyata kini. Mereka melewati pintu ke ruang sebelah, dan Rakai menyeretnya melewati lantai kotor bersaput kelopak-kelopak bunga gugur, dan wanginya yang memabukkan, lalu membuka pintu depan.

Dengan sentakan kuat, ia mendorong gadis itu keluar seperti membuang kucing. Di bawah hujan.

Gadis itu mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah. “Kamu akan menyesali ini.”

“Kau juga, kalau kau sudah cukup besar untuk mengerti omonganmu. Kau pikir enak ya memb—tidak sengaja membunuh orang?”

“Dendam, Rakai. Kita menyebutnya dendam…”

Sejenak ada hening, dan Rakai mengacak rambutnya lagi. Frustasi. Ia sedang bersiap membanting pintu, ketika si gadis tiba-tiba berkata lagi,

“…Setelah kupikir-kupikir lagi, aku dendam padamu.”

Mereka bertatapan, dan untuk kali itu Rakai menyadari mata cokelat si gadis bersorot dingin. Sangat dingin. Ia bisa merasakan bulu kuduk di tengkuknya berdiri, yang tidak ada hubungannya dengan hujan.

“Bebas,” balas Rakai.

“Seharusnya aku lah yang membunuhnya. Seharusnya kau tidak menyela.”

Si pemuda mendengus, mengibaskan tangannya. Namun sesungguhnya, dia gemetar. Ada sesuatu yang membuatnya bergidik dari gadis itu.

“Aku akan datang lagi,” kata suara merdu itu, namun Rakai segera menutup pintu. Tidak tahu dan tidak mau tahu apakah ia jadi pergi. Nalurinya bilang, gadis itu betulan akan kembali besok. Mungkin untuk menghantuinya. Karena… apa? Kakinya seolah tak bertulang, maka ia merosot, bersandar di pintu. Sementara lautan bunga-bunga di sekitarnya masih mekar dengan meriah, menatapnya.

16 dukungan telah dikumpulkan

Comments