Kata-kata Hujan

3 months ago
Bayu Dwi Putra

by: Bayu Dwi Putra

Dalam ruang halte busway sempit yang tak jarang banyak orang berkumpul untuk menunggu bus, hari itu tak biasanya terasa sepi senyap. Hanya ada dua orang remaja yang sedang terduduk berhadap-hadapan di atas kursi campuran logam panjang. Benar-benar hari yang langka karena tak ada siapapun dalam halte kecuali mereka berdua, seorang lelaki dan perempuan yang sama-sama menunggu datangnya bus di arah yang sama. Mungkin semua ini terjadi karena rintikkan bulir hujan yang sedari pagi mengguyur ibu kota hingga siang ini.

Sang lelaki terduduk sunyi dalam hayalnya, tak sadar jika gadis cantik yang ada di hadapannya tengah memperhatikan wajahnya dari tadi, bertanya dalam diam tentang apa yang lelaki itu pikirkan. Namun lelaki itu belum tersadar dari nostalgianya, ia hanya menatap hujan lamat-lamat, dengan wajah penuh dengan duka dan kesedihan. Rintik rintik suara hujan, pelan mengiringi ruangan sepi itu.

“Aku benci hujan…” Tanpa sadar, sang lelaki berkata. Kesedihan dalam matanya masih tak berubah. Si gadis sedikit tersenyum pada lelaki di depannya, membuat sang lelaki memperhatikan sudut bibir gadis itu, dia bertanya dalam hati kenapa dia tersenyum. Lalu, gadis itu berkata.

“Kalau aku suka hujan…” Ujarnya lembut, tersenyum sapa. Mentari yang selama itu bersembunyi dalam awan mendung, menampakkan kilaunya. Kuning cantik, menghias wajah gadis itu.

“… Hujan membuat dunia kita menjadi lebih sempit… mendekatkan satu orang dengan yang lainnya. Menciptakan ingatan baru dengan orang yang baru… Seperti kamu dan aku sekarang… iya kan?” Sang gadis berkata, tulus tak menipu sedikitpun. Itulah yang dirasa oleh sang lelaki.

Lelaki itu tak lepas memandangi wajah si gadis, tertuju perhatiannya pada kata-kata elok yang gadis itu ucapkan dengan senyum menawan. Sejak saat itu, sang lelaki tak pernah melupakan cara pandang indah gadis tersebut. Ya, setiap kali ia melihat hujan, dia akan selalu mengingat wajah sang gadis.

***

Kini semua kenangan itu sudah menjadi angin lalu bagi sang lelaki. Sekarang, dia berada di salah satu ruangan rumah sakit mengingat lagi kenangan itu sembari menatap hujan lewat jendela lembab kamar ruangan. Lalu, dengan semangat pasien pria yang ada di sana merangkul kuat kepala lelaki itu sembari menyebut namanya.

“Oi… Rian! Ngelamun terus!” Serunya lantang.

“Aji lepasin!! Sakit bego!” Secara paksa, Rian melepaskan rangkulan Aji.

Dia adalah Aji Pratama Dewa, anak lelaki dari keluarga di rumah yang sekarang aku tinggali. Sejak dulu dia selalu ada di rumah sakit. Aku adalah seorang anak yatim piatu yang tak memiliki saudara. Semenjak orangtuaku meninggal 5 tahun yang lalu, sahabat karib ayahku,  paman Anton atau ayah Aji memintaku untuk tinggal di rumahnya. Karena itu sekarang aku dan Aji adalah saudara. Pikir Rian, memperhatikan infus yang tertancap di tangan kanan Aji.

Melihat sekitar, Rian mendapati kelakuan buruk Aji. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Karena Aji tidak pernah keluar kamar rumah sakit, komik-komik yang dibawa oleh Rian dan adiknya selalu menjadi pelepur sepi bagi Aji. Tetapi biasanya ia selalu merapihkan buku-buku komik yang telah ia baca. Tak tahu ada angin apa, mungkin dia sedang malas.

“Kamu nih Ji! kalau kamu cukup sehat untuk bisa ngeberantakin kamar, seharusnya kamu juga bisa dong beresin buku komik yang kamu baca!!” Rian berkata pada Aji, agak kesal.

“Hehe, sory deh… beresin yah…” Ucap Aji tersenyum kaku. Kembali Rian menghembuskan nafasnya keluar. Lalu dengan sigap membersihkan buku-buku yang berserakan. Lalu setelah semuanya tertata rapi, lagi Rian melamun menatap khidmad hujan dari balik jendela kamar rumah sakit.

“Kamu tuh setiap kali ada ujan pasti ngelamun gak jelas… mikirin apaan sih?” Tanya Aji.

“B-Bukan urusan kamu Ji..!” Rian menjawab dengan agak kaku. Jelas terbaca oleh Aji jika ada suatu hal yang terjadi ketika hujan turun.

“Hoo… aku tahu-aku tahu… Wanita nih kayaknya… Iya kan?” Aji tersenyum, menggoda Rian. Mendengar kata-kata Aji, wajah gadis itu terbayang kembali dalam kepala Rian. Lalu ia terdiam.

“… Mengada-ada aja kamu…” Setelah terdiam cukup lama, Rian balik membalas.

“Ngomong-ngomong soal wanita… aku kenalan sama yang cantik di sosmed loh… bukan Cuma wajahnya aja yang cantik, pola pikirnya juga bagus-bagus…” Aji berkata, mengambil smartphonenya yang tergeletak di atas meja. Mengutak-atik tombol hurufnya dan memperlihatkannya pada Rian.

“Aku pikir… aku suka sama dia…”

Terkejut Rian ketika melihat foto perempuan yang Aji maksudkan. Gadis itu bernama Fitri Ratna Dewi. Dia adalah gadis yang Rian temui di dalam halte busway 3 bulan yang lalu. Perasaan Rian campur aduk. Karena gadis yang selama ini ia pikirkan ketika hujan turun, kini menjadi wanita yang Aji sukai pula.

Aji memulai kilas balik kenapa ia bisa suka pada Fitri. Ketika dia tengah terpuruk karena penyakitnya. Aji yang sedang membuka facebook membaca salah satu buah pikiran yang ada di sana. Semua orang sama, suatu saat nanti akan menjemput ajal. Yang berbeda hanya kapan akan terjadi. Jadi tertawalah jika esok adalah waktunya. Tunggu dan yakinlah jika kita akan berada di tempat yang sama kelak. Semenjak itu, Aji jadi lebih sering tertawa.

“Semenjak itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya di pesan pribadi. Dan entah sejak kapan kami sekarang jadi akrab… hahaha…” Tersenyum Aji, dengan penuh kebahagiaan.

Mendengar kata-kata Aji, hati Rian tertusuk bertubi-tubi. Namun, kini gadis yang selalu ia pikirkan itu telah menjadi pendukung mental Aji untuk terus bertahan. Sebagai sahabat terbaiknya juga keluarga baginya. Mau tak mau ia harus lupa, tentang Fitri, Halte itu, juga Hujan. Ia harus melupakan semuanya…

“… Kalian berdua serasi kok…” Agar Aji bisa tersenyum lebih lebar lagi.

“Bisa aja kamu Ian!! Haha!!”

***

Hubungan Aji dan Fitri berjalan lancar,  meskipun Fitri tak tahu bagaimana wajah Aji, dia tetap menyukai sifat jujur Aji di dalam dunia maya. Fitri hanya dapat bertanya-tanya seperti apa rupa Aji, karena dalam akun yang ia punya tak ada satupun foto yang menampilkan wajahnya. Aji sengaja karena ia takut Fitri tahu tentang penyakitnya. Lalu, beberapa bulanpun berlalu.

“Rian! Kami janji ketemuan bulan depan!! Kira-kira apa ya pendapatnya tentang aku? Haha” Senyum Aji. Mendengar ucapan Aji, Rian sedikit terdiam.

“… Jadi karena itu kamu setuju di operasi besok?” Ucap Rian, merasa cemas. Aji hanya menjawab dengan senyuman tipis bermakna ganda. Terlihat rambut di kepalanya sudah habis semua. Hanya tinggal waktu sebelum ajal menjemput.

“Tenyata susah ya… tertawa di saat kamu gak bisa ketawa… aku selalu membayangkan, seandainya aja aku gak terbaring di kasur ini… apa semuanya akan berubah?” Ujar Aji.

“… Rian… kalau misalnya operasi ini gak berhasil. Tolong jaga Fitri… aku gak mau dia sedih.”

“… Bego, ngapain aku mesti repot-repot demi kamu… Lakuin sendiri kalau udah sembuh nanti…” Ujar Rian agak sedih namun sedikit bercanda.

Kini Rian mengingat lagi memori yang ada dalam hatinya. Menatap lesu dan mengenang kata-kata Aji belum lama dalam ramainya hujan. Lamat ia menatap nisan yang ada di hadapannya, begitu pula banyak orang yang masih berduka di dalam kesedihan itu. Tersamarkan tetes air mata Rian saat itu, oleh bulir hujan yang jatuh. Kemudian lemas, ia mengangkat dagunya, memperhatikan langit semu mendung yang ikut berkabung dalam duka.

“Ternyata memang, aku benci hujan…” Ujarnya dalam hati.

***

Masih teringat jelas apa yang dikatakan oleh Aji sebelum ia pergi untuk selamanya. Tolong jaga Fitri, aku gak mau dia sedih ucapnya. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mungkin ia tak sedih ketika dia tahu jika Aji, kekasih dunia mayanya telah meninggal dunia. Namun bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan oleh Rian, karena itu satu bulan setelahnya dia pergi menemui Fitri di tempat yang dijanjikan.

Dari banyaknya orang yang berhalu lalang Rian menemukan Fitri yang tengah menunggu sembari bersender pada pilar yang ada di belakangnya. Tempat pertemuan saat itu adalah stasiun kereta. Tanpa ragu, Rian mendekati Firti yang masih sibuk dengan ponselnya.

“Permisi… kamu Fitri ya?” Tanyanya. Mendengar kata-kata Rian, Fitri sedikit kaget dan cepat memperhatikan.

“Kamu… Aji ya!?” Lekas Fitri berkata. Rian tergugu, dia harus membenarkan salah paham ini.

“Aku buk…” Namun sebelum ia menolak identitas Aji, ia mengingat lagi kata-kata terakhir dari sahabatnya.

Tolong jaga Fitri, aku gak mau dia sedih…

“Ya… aku Aji, salam kenal.” Ingatan itu memaksa Rian untuk mengangguk dan tersenyum. Kala itu, dia masih belum tahu jika ini adalah pilihan yang paling ia sesali kelak.

Beberapa minggu sekali, mereka selalu bertatap muka. Untuk mengenal lebih baik satu sama lain. Setiap kali pertemuan itu terjadi, Rian hanya akan menjawab semua kebiasaan Aji dan jawaban yang Aji buat. Dan semakin lama semakin ia mengenal Fitri.

Nampaknya Fitri senang bisa bertemu dengan Aji secara langsung. Berbeda dengan Rian yang harus menanggung tipuan itu. Dia tidak diizinkan untuk merasa gembira. Seperti yang dikatakan oleh Aji detik-detik sebelum operasi, sulit tertawa ketika kamu tak bisa tertawa. Seperti layaknya sekarang, di suatu kafe modern  mereka duduk berdua. Berteduh dari deras hujan yang terjatuh. Seperti biasa Rian memandangi tetes-tetes hujan dari balik jendela kafe. Fitri kembali memperhatikan wajah Rian, kemudian ia bertanya.

“Gimana, kamu masih benci hujan?” Tanyanya, tersenyum tipis.

“… Maksud kamu?” Rian balik bertanya.

“Dulu, saat kita pertama kali bertemu di halte busway itu. kamu juga sedang melihat hujan dengan tatapan yang sama…” Seru Fitri.

“Kamu masih ingat?” Lagi, tanya Rian. Fitri mengangguk. Lalu, setelah terdiam cukup lama memperhatikan senyum Fitri, Rian berkata.

“Terlalu banyak, kenangan yang teringat kembali saat hujan turun… ingatan yang tak ingin kukenang…” Ujar Rian, serius menanggapi. Ia mengenang lagi hujan kala kecelakaan mobil yang merenggut kedua orang tuanya, hujan pemakaman mereka, juga hujan ketika bediri di depan nisan Aji.

“Kurasa itu bukan hal yang buruk… Hujan ingin kamu mengenang ingatan itu kembali, mungkin karena kamu masih belum bisa menerima luka itu. Lalu dia menangis menggantikanmu agar kamu tidak bersedih lagi. Setiap bulir air yang jatuh berbisik padamu, menenangkan dan menghiburmu dengan iramanya. Baik sekali ya, pak Hujan.” Lebar senyum Fitri sembari berkata.

“… Aku tak pernah berpikir begitu… tapi jika benar begitu… Ya, dia baik sekali.” Lagi, Rian menatap hujan, namun dengan tatapan yang berbeda.

“Lagi pula kalau kamu berkata gak mau ingat kenangan saat hujan turun… artinya kenangan waktu kita pertama kali bertemu dalam halte bis itu juga tak ingin kamu kenang?” Fitri berkata cemberut.

“Hahaha!! Apaan tuh ekspresi cemberutmu sama sekali gak cocok buat mukamu!!” Lalu, Rian tertawa melihat wajah gembung Fitri yang semakin mengembung.

“Orang lagi bête malah di ketawain!! Jahat ih!!” Fitri semakin cemberut.

Ah… ternyata memang hati ini, dia sudah mencurinya dariku. Namun sayang, sebagai Aji aku harus memendam semua ini jauh di dasar hatiku. Karena sekarang Fitri percaya, jika aku adalah Aji.

***

Rian sama sekali tak tahu, dirinya sekarang sudah banyak tersenyum. Ia tak lagi pilu ketika hujan turun di kotanya. Malah dia merasa aman saat hujan mengguyur. Suara rintikkan hujan kini menenangkan baginya. Semua berkat Fitri yang mengubah cara pandangnya terhadap hujan.

Rian tinggal di kosan lantai dua dan tak jarang Fitri mengunjungi rumahnya. Sering kali dia bertemu dengan anak gadis SMA lain di sana. Gadis itu adalah Ana, adik kandung Aji yang sering mengunjungi Rian di kosannya. Semenjak Aji meninggal dunia, Rian meminta ijin untuk tinggal sendirian di luar rumah keluarga Aji. Dan Ana selalu mengunjungi Rian beberapa hari sekali. Tentu saja, Rian sudah menceritakan situasinya pada Ana. Jadi ketika Fitri datang berkunjung, Ana akan memanggil Rian dengan sebutan Aji.

“Kak Rian…” Ana bertanya dalam kamar kos Rian, dia sedang membersihkan piring-piring bekas lauk dan makan siang belum lama di atas westafel. Kala itu lagi-lagi hujan menerpa kota. lumayan deras hingga benturan bulir airnya terdengar cukup jelas.

“Apa Ana?” Sahut Rian yang sedang membaca buku.

“Sebaiknya… Kakak berhenti deh, pura-pura jadi kak Aji…” Kata-kata Ana mengangkat alis Rian.

“Kenapa kamu bilang gitu?” Tanya balik Rian pada Ana sembari menutup bukunya.

“Gak baik pura-pura jadi orang yang sudah meninggal… lagian aku udah gak mau lihat kak Rian sakit hati lagi… pasti pedih rasanya, dipanggil dengan nama orang lain oleh orang yang kakak sayang…” Kata-kata Ana jitu, mengenai hati Rian. Ia tahu hal itu, apa yang ia lakukan bukanlah hal yang benar. Namun…

“Ini adalah permintaan terakhir Aji…” Ujarnya, beralasan.

“Bukan… ini bukan permintaan kak Aji… apa yang dia minta adalah tolong jaga Fitri dan aku gak mau dia sedih… dia gak pernah meminta kak Rian untuk berpura-pura jadi dia…” Ana berkata. Mereka tak sadar, ketika sedang berdiskusi Fitri tengan naik ke atas tangga kamar kos Rian, lalu mendengarkan pembicaraan mereka.

“Kakak tahu… tapi gak semudah itu untuk mengatakan yang sebenarnya sama Fitri… Kakak dan Aji gak mau membuat Fitri sedih…” Sorot mata Rian menyempit seiring ia berkata.

“Gak apa… wajar kok kak gak mau membuat orang yang berharga bagi kita sedih… karena itu manusia berbohong… tanpa tahu kalau kebohongan itu malah akan menggali kesedihan orang yang berharga bagi mereka lebih dalam lagi…” Ana berkata menghadap Rian.

“… Aku rasa kakak sudah cukup dalam menggalinya… iya kan?” Sambung Ana, tersenyum.

“Tetap saja… kakak masih belum bisa mengatakannya… kakak gak bisa bilang  kalau Aji, sudah lama mati…”

Terpelatuk Fitri mendengar pembicaraan mereka berdua. Panik ia beranjak pergi dari sana tanpa membawa payung transparannya, lalu ia menyengol rak sepatu di depan pintu. Membuatnya terjatuh.

BRAAK!!

“Siapa itu!?” Tiba-tiba saja suara benturan terdengar di depan pintu kamar Rian, lekas ia memeriksa siapa gerangan yang ada ada di depan. Namun yang ia temukan hanyalah rak sepatu yang terjatuh dan juga payung transparan yang tidak asing lagi di matanya.

Rian melihat jauh ke depan pagar tempat kosnya, Fitri tengah berlari diantara deru derasnya hujan. Melihat Fitri yang berlari, lekas Rian mengejarnya juga. Tak perduli ia harus menerabas hujan bandang di depannya. Dia harus bicara dengan Fitri, sekarang juga.

“Kak Rian!!” Ana memekik cemas. Suaranya makin kecil seiring Rian menjauh darinya.

Rian berlari mengejar Fitri, dalam hujan deras yang menerpa. Deru hujan mengalahkan suara Rian yang memanggil-manggil nama Fitri berulang-ulang. Fitri yang mendengar panggilannya mengabaikan, dan terus berlari. Hingga di persimpangan jalan besar yang ada di depan mereka, Rian berhasil menangkap tangan Fitri.

“Fitri!! Dengarkan aku…” Seru Rian, membalik badan Fitri. Kemudian terkaget melihat wajahnya.

Rian mengingat kata-kata Ana belum lama. Kebohongan itu malah akan menggali kesedihan orang yang berharga bagi mereka lebih dalam lagi. Melihat ekspresi Fitri saat ini tak diragukan lagi, wajahnya benar-benar menyedihkan. Bulir-bulir air mata tersamarkan oleh derasnya aliran air hujan. Namun tampak jelas Fitri sangat berduka. Apakah akan lebih baik jika Rian mengatakan yang sebenarnya saat pertama kali mereka bertemu di stasiun itu? pertanyaan itu muncul bertubi-tubi dalam kepala Rian. Seharusnya, dia tidak pernah berpura-pura menjadi Aji meskipun semua itu demi melihat senyum Fitri.

“… Apa, semua itu benar? Kalau kamu berpura-pura jadi Aji… Dan kalau Aji… sudah mati?” Ujar Fitri dengan pedihnya. Rian hanya terdiam, menatap lantai lamat-lamat kemudian mengangguk pelan.

“Jadi, Aji yang ada di dunia maya itu bukan kamu… tapi orang lain…”

“Maaf…” Ucap Rian penuh dengan penyesalan.

“…  Aji pasti sangat membenciku…”

“Kamu salah!! Di saat terakhirnya memintaku untuk menjagamu, dan tidak membuatmu sedih!! Aji sangat mencintaimu!!” Rian menolak apa yang Fitri katakan.

“… Saat pertama kali akun Aji yang ada di dunia maya menyapaku, aku mencari tahu siapa sebenarnya Aji… Di album fotonya, aku menemukan satu foto… fotomu… jadi sejak awal kupikir orang yang kutemui di halte bis itu… adalah Aji… Aku memang jahat!!”

“Ini bukan salahmu Fitri!! Semua ini adalah kesalahanku!! Seandainya saja aku punya cukup keberanian untuk berkata jujur!! Tapi aku malah memakai kesempatan untuk menjadi Aji dan bersenang-senang bersamamu… benar-benar bajingan…”

“… Tidak, kamu tidak ingin aku tahu yang sebenarnya… karena kamu ingin menyelamatkanku dari kesedihan kan? Maaf, aku telah menyakitimu…” Ucap Fitri bergetar.

“Kamu tahu Fitri… aku selalu kehilangan sesuatu yang berharga saat hujan turun… Karena itu aku membenci hujan… tapi, kamu mengubah cara pandangku… untuk pertama kalinya saat hujan turun, aku dipertemukan oleh orang yang berharga untukku… aku menemukanmu…” Rian berkata, mengingat kembali ruangan halte bis yang lembab oleh hujan kala itu.

“Kamulah yang membuatku sedikit demi sedikit menyukai hujan, dulu setiap kali hujan turun aku selalu memikirkan mereka yang sudah tiada di hidupku. Namun kini, ketika hujan turun… hanya terbayang wajahmu di dalam hayalku…”

“Sejak saat itu, aku tahu kata-kata apa yang hujan bisikkan kepadaku… dia meyakinkanku untuk… mencintaimu.” Tulus, Rian menyatakkan perasaannya pada Fitri. Hujan masih menderu namun lebih lambat dan lembut. Fitri terdiam tak berdaya mendengar rangkaian kata dari Rian.

“A-aku tidak tahu apakah aku berhak untuk mencintaimu… tapi, sejak pertama kali kita bertemu di dalam halte bis itu, dan sejak aku menghabiskan waktuku bersamamu… Aku juga mencintaimu…” Fitri berkata tak yakin, namun pasti.

“Siapa namamu?”

“Namaku Rian… Rian Adi Putra… orang tuaku memberikan nama itu karena mereka suka hujan…”

“Begitu ya… kebetulan sekarang aku sangat menyukai hujan…” Fitri berkata.

“Aku juga…” Balas Rian. Memeluk Fitri lembut di antara butiran hujan yang mengaburkan pandangan disekitar mereka.

Setelah kupikir, apa yang dikatakan Fitri di dalan halte busway saat itu ada benarnya. Hujan mempersempit jarak kita. Mendekatkan satu orang dengan yang lainnya. Jika kita dengarkan bersama, terdengar kata-kata hujan. Lembut, sunyi, dan berirama.

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments