KEKINIAN!

4 months ago
Anis

by: Anis

Make up?”

“Check!”

Rambut plus jedai-nya?”

“Check!”

Wedges?

Check!”

“Blazer motif macan?”

“Che—tunggu, blazer motif macan?”

Suasana kamarku seperti kapal pecah. Baju-baju berserakan di lantai sampai tempat tidur, kotak-kotak make up dibiarkan terbuka dan tergeletak memenuhi meja rias, tak lupa juga, beberapa kotak sepatu terlihat kosong melompong, isinya sudah dikeluarkan oleh Kanaya yang tengah memegang sebuah notes mungil.

“Lah? Lo nggak buka grup ya tadi pagi?”

Aku langsung menyambar ponselku yang terletak di antara baju-baju yang ada di atas tempat tidur. Kalimat Kanaya membuatku meringis karena tidak mengecek ponsel sejak pagi hari.

Rebellions Squad!

Renaira : Gengs, ada tambahan buat dress code party nanti malam ya, blazer motif macan, nggak pakai itu nggak boleh masuk.

Kinara : APAHHHHHHH?! SUMPE LO?

Reinaira deleted Kinara from the Group.

Renaira : Alay udah nggak jaman, ngerti kan gengs? Inget, bla-zer mo-tif ma-can.

Fianka : Siap bos!

Kanaya : Aye-aye captain!

“Sial, gue mana punya blazer motif macan?!” seruku frustasi sambil melempar ponsel ke atas tempat tidur. Tidak-tidak, aku masih belum punya cukup tabungan untuk membeli ponsel baru kalau-kalau ponsel itu rusak karena membentur dinding.

Kanaya menatapku prihatin. “Siapa suruh nggak cek grup.”

Aku memutar bola mata malas. Namun sedetik kemudian, sebuah bola lampu ide muncul di atas kepalaku. “AH, GUE ADA IDE!”

Dengan cepat, aku membanting pintu kamar dan berlari keluar rumah. Kemudian, aku menghampiri rumah tetanggaku dan menekan belnya dengan tidak sabar.

Ting tong ting tong ting tong ting—

“BIASA AJA WOY NEKEN BELNYA!” Aku langsung terkesiap dan menarik tanganku dari bel. Sesosok laki-laki yang mengenakan kaus oblong plus celana bokser lengkap dengan sebuah handuk di rambutnya yang masih meneteskan air, menggerutu kesal. “Ngapain lo ke sini?” tanyanya ketus.

Aku terkekeh pelan sambil menggarukkan kepalaku yang tidak gatal. “Ehm itu, kakak lo ada nggak, Dar?”

Dia Darian. Teman sekelasku dari jaman Taman Kanak-Kanak sampai saat ini, SMA. Kadang bisa menjadi sepedas cabai rawit kalau sedang kesal. Namun, dia juga bisa jadi semanis martabak cokelat keju yang dibawakannya kalau-kalau aku sedang mengelus-elus perut karena kelaparan di balkon kamar yang bersebelahan langsung dengan balkon kamarnya.

Darian menatapku tajam. Uh-oh, ini pasti karena pakaianku. Mini dress selutut tanpa lengan yang bagian roknya mengembang. Dress code party malam ini yang akan diadakan di rumah Renaira. “Mau ngapain ketemu kakak gue?”

“Err, kakak lo kan mantan anggota Rebellions, tanyain dong, dia punya blazer motif macan nggak?” tanyaku sambil memberikan cengiran kecil. Darian menggerutu kembali, namun ia akhirnya berbalik masuk ke rumahnya.

“Cepetan masuk atau gue berubah pikiran,” ujar Darian datar.

Yes! Aku mengepalkan tangan kanan ke udara sambil berlari-lari kecil masuk ke rumah Darian yang sudah seperti rumahku sendiri. Di dekat tangga, Darian berseru lantang, membuatku sport jantung seketika.

“WOI KEBO! PUNYA BLAZER MOTIF MACAN NGGAK?”

Satu detik…

Dua detik…

“SIAPA YANG LO PANGGIL KEBO, HAH?” Seorang perempuan berusia di awal duapuluhan muncul di ujung tangga. Wajahnya masih memakai masker plus irisan mentimun di atas kelopak mata, tidak lupa piyama beruang dan rambut ala singa menjadi penampilannya.

“Elo lah, gue bisa bertaruh kalo lo belom mandi, ini udah jam tiga sore tahu!” ujar Darian tak kalah sewot. Aku jadi korban penonton tak dibayar dari pertengkaran kedua kakak beradik ini, rupanya.

“Ck, apaan sih, gue udah mandi kali, eh tunggu, ada Lira, tumben main ke sini?” Kak Vania, alias kakak Darian, akhirnya menyadari keberadaanku. Aku berdehem sekilas sebelum mengutarakan kalimatku.

“Ehm, ini Kak, kakak punya blazer motif macan nggak? Malam ini aku ada party di rumah Renaira, kakak tahu dia kan?” Kak Vania ber-oh ria lalu berlalu kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

“Wait ya, Lir!”

Selama menunggu Kak Vania, aku melirik Darian dari sudut mata. Sebenarnya, kalau bukan karena terpaksa, aku tidak akan sanggup kembali ke rumah ini karena aku dan Darian tengah bertengkar. Alasannya? Tentu saja karena pergaulanku dengan Rebellions.

“Lo ngapain sih masih ikut party sama mereka? Ngabisin duit aja, mending duitnya buat dibeliin martabak cokelat keju.” Aku berusaha menahan tawa melihat Darian yang berujar dengan nada sok ketusnya.

“Biar kekinian, Dar,” jawabku simpel. Telingaku menangkap suara helaan napas gusar dari Darian yang kuabaikan begitu saja, karena sudah terbiasa dengan responnya akan segala hal tentang Rebellions yang kuutarakan.

“Lira…Sori, kayaknya blazer gue ilang deh, gimana dong?” Kak Vania tiba-tiba muncul sambil menatapku bersalah. Seketika, bahuku melorot mendengarnya. Bagaimana aku bisa ke pesta malam ini?

“Yah…ya udah deh Kak, makasih udah nyoba nyariin, ntar aku pikirin lagi caranya gimana…” kataku dengan nada tak yakin. Kemudian, aku segera pamit pada mereka berdua, meskipun Darian masih melengos kesal saat aku keluar dari rumahnya.

Di kamarku, Kanaya tengah asyik memainkan ponselnya, seketika menyerocos panjang saat melihatku kembali. “Lo kok main kabur gitu aja sih? Abis dari mana? Terus gimana blazer motif macannya? Ada nggak?”

Melihat wajahku yang suntuk, Kanaya dapat langsung menebak jawabannya. Aku merebahkan tubuh di atas tumpukan baju yang menutupi tempat tidurku dan mengerang jengkel. Tetapi, tiba-tiba Kanaya berseru antusias.

“Gue ada ide, Lir!”

[]

Ugh, ke mana sih Kanaya? Aku sudah bosan menunggu di salah satu semak-semak yang berada di taman rumah Renaira. Aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Dan, tebak apa ide konyol Kanaya?

Kalau sudah berada di dalam rumah Renaira, Kanaya akan melemparkan blazer motif macan miliknya dari jendela yang berada di lantai dua ke semak-semak yang berada di taman rumah Renaira. Katanya, aku akan masuk dengan blazer Kanaya dan mengembalikan blazer-nya ketika sudah kembali bertemu Kanaya di lantai dua. Lalu, aku akan beralasan kegerahan yang membuatku menaruh blazer-ku di sembarang sisi di rumah Renaira dan melupakan di mana meletakkannya, sehingga Rebellions tidak akan menendangku dari rumah Renaira karena ketahuan tidak memakai blazer.

Pluk!

“Akhirnya Kan—eh, kok?” Aku berusaha menyingkirkan sebuah blazer yang tiba-tiba jatuh di atas kepalaku dan terkejut saat melihat sesosok wajah yang kukenal tengah mendengus sambil berusaha untuk tidak menatapku. “Darian?”

“Cepetan pake terus masuk, gue tunggu di depan kalo udah selesai.” Kemudian dia pergi begitu saja dan membuatku bingung setengah mati. Wow, jadi Darian menyusulku hanya untuk memberikan blazer motif macan ini?

Aku menarik napas panjang dan bangkit berdiri mendekati pintu utama rumah Renaira. Yah, let’s do this thing!

[]

Welcome, Lir! Lo dateng di waktu yang tepat, kita baru aja mau mulai pelantikan anggota baru Rebellions dengan tradisi baru yang gue buat!” Renaira langsung menyambutku saat aku menjejakkan kaki di lantai marmer rumahnya.

Tak lama kemudian, Kanaya muncul dengan sebuah gelas berisi minuman berwarna ungu. Mungkin sirup, pikirku. Dia menepuk dahi lalu tertawa berlebihan saat menatapku. “Ah iya, sori gue lupa sama rencana kita, Lir.” Aku memutar bola mata dan mengabaikannya.

“Nah, sekarang ikut gue, Lir.” Renaira menggiringku menuju ruang utama, di mana seluruh anggota Rebellions tengah bercengkrama, namun aku menyadari satu hal. Apa mereka … mabuk? Bahkan, aku dapat melihat di sudut ruangan ada sepasang laki-laki dan perempuan entah tengah melakukan apa, aku tidak ingin melihat lebih jauh. Suara tawa dan aroma alkohol memenuhi ruangan, membuatku menahan mual.

Salah satu hal mengapa aku tertarik ikut Rebellions adalah karena sejauh cerita Kak Vania, Rebellions tidak pernah melakukan hal yang terlalu menyimpang, selain bolos saat jam mata pelajaran berlangsung. Namun sepertinya, karena pergantian ketua, yang menjadikan Renaira sebagai ketua baru, nampaknya aku telah salah besar dalam menilai Rebellions.

“Nih, minum ini, maka lo akan resmi menjadi anggota baru…” Renaira melirik kumpulan anak-anak terkenal di sekolah yang terlihat setengah mabuk. Seketika, mereka menyahut kalimat Renaira.

“Rebellions! Hidup Rebellions!” Aku bergidik melihat mereka yang seperti kesetanan. Bahkan, ada Kanaya yang tengah dirangkul seorang laki-laki yang kuketahui adalah seorang pembuat masalah di sekolah.

“Err…Ren, gue boleh nggak kalo nggak minum itu?” tanyaku perlahan sambil menunjuk gelas berisi cairan ungu di tangannya yang disodorkan padaku. Wine. Aku berani bertaruh itu bukan sirup.

Renaira terlihat tersinggung karena sedetik kemudian, dia berujar lantang yang membuat ruang utama seketika hening. “APA? LO MENOLAK REBELLIONS? LO, MENOLAK KAMI?”

Seketika, ruangan kembali gaduh karena sorakan-sorakan dari seluruh anggota Rebellions yang mencecarku tanpa ampun. “MINUM! MINUM! MINUM!”

Aku perlahan beringsut mundur saat Renaira masih menatapku penuh amarah. “G-gue pulang aja deh, Ren, thanks buat party-nya,” cicitku sambil berjalan mendekati pintu utama.

Renaira menarik napas panjang dan mengacungkan telunjuknya padaku. “NGGAK ADA YANG BOLEH LOLOS DARI REBELLIONS!”

Aku membelalakan mata dan segera mengambil langkah seribu setelah membanting pintu utama rumah Renaira. Dapat kurasakan kalau gerombolan Rebellions berusaha keluar dari rumah Renaira juga untuk mengejarku. Aku sampai melepas wedges-ku supaya dapat berlari dengan lebih leluasa.

Beberapa meter dari rumah Renaira, mataku menangkap sebuah mobil terparkir sendirian di pinggir jalan. Mobil Darian! Aku tahu itu!

Segera, aku membuka pintu mobil itu dan masuk dengan tergesa-gesa. Darian yang tengah menutup wajahnya dengan majalah otomotif terlonjak kaget mendengar suara pintu mobil yang kututup dengan keras. “Lira? Udah seles—”

“Cepetan cabut Dar! Liat kaca spion lo!” Tanpa diminta dua kali, Darian menengok kaca spionnya dan melotot saat melihat kumpulan anggota Rebellions tengah berusaha menghampiri mobilnya. Bahkan, beberapa perempuan mengacung-acungkan wedges mereka sambil menyumpahiku karena membangkang sang ketua, Renaira.

“Pegangan, Lir!” Kemudian, Darian memacu mobilnya tanpa ba-bi-bu, membuat punggungku menabrak jok mobil.

Apa-apaan yang barusan itu?

[]

“Gila, udah gue bilang apa! Mereka tuh nggak bener! Vania bahkan pernah bilang kalo si Renaira itu nggak waras!” Darian malah mengomeliku seusai berhasil lolos dari gerombolan Rebellions yang tengah marah.

Aku menyandarkan punggung ke jok mobil dan menatap pom bensin tempat kami berhenti saat ini. “Sori, gue nggak tahu kalau mereka bakal segitunya, sampe mabok-mabokan, gue kira bakal cuma sekedar bolos aja,” ujarku sambil mengatur napas.

Darian menghela napas panjang. Detik-detik kami lewati dalam keheningan, sampai akhirnya lelaki itu mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya.

“Nih, mending lo makan ini daripada mabok-mabokan nggak jelas.” Darian menyodorkan sekotak martabak cokelat keju padaku yang terperangah. Kemudian, aku tersenyum tanpa sadar.

Thanks Dar, tapi gimana nasib gue di sekolah besok? Bisa-bisa abis gue sama mereka,” ujarku sambil meringis dan membayangkan kalau besok adalah hari neraka-ku di sekolah. Rebellions pasti tidak akan tinggal diam dengan pengkhianatanku.

“Tenang, ada gue,” kata Darian sambil menyuap sepotong martabak. Aku kontan memukul lengannya karena merasa geli dengan kalimatnya.

“Geli lo, Dar.”

Malam itu kami habiskan dengan menyantap martabak manis dan beberapa guyonan Darian yang sukses mengocok perutku. Yah, kurasa tidak kekinian pun tidak apa-apa, asal aku punya martabak manis dan Darian yang senantiasa mentraktirku ini.

[]

BERITA TERKINI

Senin (20/4) Satuan Narkoba Polrestabes Jakarta berhasil mencokok lima belas remaja pengguna narkoba jenis sabu di dalam sebuah rumah di kawasan real estate Kemang, Minggu (20/4/2017) malam tadi sekitar pukul 22.04 WIB.

Lima belas pelaku yang diduga anggota sebuah geng bernama Rebellions tersebut yakni, RS (17) ketua geng tersebut, KP (16), dan tiga belas pelaku lainnya, ditangkap di dalam sebuah rumah yang dijadikan lokasi di mana pesta narkoba berlangsung.

 

Polisi menjelaskan bahwa para pelaku menggunakan sabu di dalam rumah karena berpikir rumah tersebut adalah tempat yang tertutup dari dunia luar, terutama berada di kawasan di mana warganya bersifat individualis. Namun, seorang saksi bernama Thavania Narendra (20) melaporkan kejadian tersebut usai mendengarkan kesaksian dari temannya yang baru saja kembali dari pesta tersebut karena merasa ada yang tidak beres dari pesta tersebut.

Saat ini pelaku dan barang bukti sudah berada di Mako Polrestabes Jakarta untuk proses hukum lebih lanjut.

 

END

12 dukungan telah dikumpulkan

Comments