Kelakar

3 months ago
Nariswari Ratu Artina

by: Nariswari Ratu Artina

Tuhan! Takdir macam apa yang kau sajikan padaku? Kebahagiaan yang Engkau sajikan selama ini palsu! Ini menyakitkan! Hatiku terlalu perih. Aku tertunduk dengan tangan menutup wajah. Aku yakin rambutku sudah berantakan. Bahkan basah karena tangis. Tapi aku tak peduli. Seakan jiwaku telah melayang entah ke mana, mencari-cari jawaban. Mencoba menyangkal, tetapi gagal. Mungkin saja saat ini Tuhan sedang berkelakar dan ketika usai, segalanya akan kembali seperti semula. Kenyataan ini terlalu pahit untuk menjadi nyata. Mengapa aku? Mengapa dari setiap manusia yang ada di bumi ini, mengapa harus aku? Tuhan tak akan mungkin menjawab pertanyaan retoris ini dengan berbisik di telingaku, meskipun Ia tahu segalanya sekalipun aku meminta dengan sangat.

Andai saja aku tak pernah mengenalnya. Semua tak akan sesakit ini.

***

Aku sedang termangu di depan halte bus, ketika suara klakson mengagetkanku. Kak Asep, senior semester lima jurusan teknik industri yang sama denganku menawarkan tumpangan. Tentu saja dengan senang hati aku menerimanya.

“Untung aku lewat sini. Mengapa kau tak meneleponku saja? Daripada kau naik bus, bukankah lebih enak bila aku menjemputmu?” Kak Asep berseru menandingi suara angin yang tak kalah kerasnya.

“Ah, tak enak merepotkan kakak terus! Sekali-kali aku ingin mandiri!” aku membalas dengan berteriak pula.

Deru motor mengeras tanda laju sepeda motor mengencang. Aku yang tadinya tak berpegangan refleks memegang bahu bidang pria itu. Nakal, pikirku sambil terkekeh. Sejurus kemudian, aku memeluk erat Kak Asep dari belakang, menyandarkan kepala pada punggungnya, mencium wangi parfum yang tadi ia kenakan. Hangat, nyaman. Aku tersenyum, dan aku yakin Kak Asep juga begitu. Sosok berambut cepak dengan wajah menawan itu selalu bisa membuatku lumer. Matanya yang aduhai dengan bola mata coklat itu membuatku selalu rindu pada ibuku.

Tak pernah terbayangkan idola kaum hawa ini ternyata selalu memperhatikanku. Kak Asep adalah sosok yang terkenal ganteng tapi galak saat masa ospek. Sering sekali aku dihukum olehnya meski beberapa adalah murni karena kesalahanku. Andai ia tak lebih tua setahun dariku, aku pasti membalas semua perlakuannya.

Aku masih ingat saat ia mencoba mencurahkan perasaannya padaku enam bulan lalu. Aku hanya diam. Ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan. Euforia menguasaiku, membuat otak seakan berhenti bekerja. Kemudian yang terasa hanyalah rangsangan impuls yang memaksaku untuk mengangguk, meskipun hasilnya tetap saja kikuk bukan main. Tapi kak Asep tahu dari gelagatku, bahwa aku menerimanya. Ia terlihat sumringah, dan kami resmi menjadi pasangan baru di kampus. Semenjak itu, ia selalu menjaga dan memperhatikanku. Kami tak pernah bertengkar lama. Ia selalu sabar meladeni tingkah kekanakanku. Menggandeng tanganku yang lebih mungil, menasehatiku dengan kata-katanya yang terdengar dewasa. Senyumnya, tawanya, tabiatnya, membuatku selalu percaya bahwa Tuhan memang menakdirkan dirinya untukku. Kadang aku membayangkan suatu masa di mana kami saling bercanda di dapur. Ia memelukku dari belakang saat aku memasak. Ada satu dua anak yang berlarian di sekitar dan ikut-ikutan memeluk kami. Ah, indahnya.

Perjalanan singkat kami berakhir. Kami tiba di kampus. Kemudian aku berpamitan pada Kak Asep untuk memasuki ruang kuliah, tak lupa berjanji untuk bertemu di kantin usai urusan masing-masing selesai.

Kak Asep luar biasa sibuk akhir-akhir ini. Ia akan menjadi wakil mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar ke Jerman selama dua bulan. Kekasihku itu memang luar biasa bukan?

Berbeda dengannya, rutinitasku kini hanyalah kuliah. Tapi jangan salah, beberapa kali aku menyabet gelar juara karya ilmiah. Lebih menyenangkan melakukan kegiatan di luar kelas daripada kelas teori yang membosankan. Dijejali buku-buku yang sepertinya tak habis untuk didiskusikan. Ditambah lagi dosen yang irit bicara, namun murah hati memberi tugas. Tapi saat rasa malas menggodaku, terbayang sosok perempuan paruh baya berwajah teduh sedang membelaiku.

“Ami, kalau kamu ingin sekolah di luar Jakarta, Ibu tidak apa-apa kok. Memang Ibu ingin selalu dekat sama Ami, menjaga Ami, tapi Ibu rasa, tidak baik kalau Ibu selalu mendiktemu. Ami sudah besar, sudah saatnya membuat pilihan sendiri dan menjadi dewasa. Sekolahlah dengan sungguh-sungguh. Kalau kau rindu, pulanglah. Ibu akan menunggu di Jakarta,” kalimat Ibu selalu melekat dalam otakku. Benar, aku harus sungguh-sungguh. Siapa lagi yang bisa membahagiakan wanita itu kecuali aku. Ayahku meninggal saat aku SMA, sakit karena komplikasi yang diawali diabetes. Aku terkejut ketika mengetahui Kak Asep juga terindikasi memiliki penyakit gula tersebut. Sejak saat itu, aku mulai hati-hati dengan makanan manis, dan menjadi wanita bawel saat Kak Asep merengek meminta gula.

Kuliahku berakhir saat matahari sudah mulai lelah berada di langit. Teman-temanku langsung berkumpul di taman untuk sekadar bercanda dan update gosip terbaru. Tentu saja aku bergabung, tapi tak lama. Aku ada janji. Baru saja hendak pamit, Kak Asep lewat dengan langkah buru-buru.

“Kak Asep!” Seruku yang disambut dengan sorak dan siul teman-teman. Mereka langsung kabur meninggalkanku sendiri saat Kak Asep menghentikan langkahnya dan menoleh padaku. Berapa kalipun kejadian ini terulang, aku masih saja salting.

Kak Asep membawa setumpuk perkamen berbahasa asing yang enggan aku teliti satu persatu. Aku tahu ia lelah, tapi ia tetap berusaha untuk tersenyum. Ia bilang bahwa dokumen-dokumen itu tak mungkin membunuhnya, paling-paling hanya akan membuatnya tepar semalam.

“Mau ke mana kak? Aku baru saja mau ke kantin.”

“Ada urusan sebentar, Mi. Mau minta cap buat berkas. Kau tunggu di sini saja ya, aku segera kembali,” ujar Kak Asep, kemudian ia berbalik meninggalkanku.

Sendirian, aku memilih duduk bersandar pada kursi. Kini pikiranku merambah ke segala arah. Suara gemerincing menarik perhatianku. Seorang bocah berlarian dengan lonceng tersimpul di tasnya. Kuperhatikan lamat-lamat.

Aku jadi ingat pada teman dekatku di Jakarta. Namanya Edo. Entah bagaimana, kami selalu sekelas sejak SMP. Seperti diriku, dia juga suka membaca komik. Hal inilah yang membuat kami dekat. Nasib tak terlalu mendukung Edo. Pagi hari ia berangkat untuk mendaftar di universitas idamannya. Naas, belum sempat ia sampai di tujuan, ia mendapat telepon dari adiknya bahwa sang ayah yang begitu ia cintai, meninggal karena jatuh terpeleset saat memperbaiki genting musholla. Tepat sebulan setelah ibunya dipaggil Yang Maha Kuasa. Urunglah ia untuk melanjutkan kuliah. Ia harus bekerja. Setidaknya untuk tetap menyekolahkan adiknya hingga lulus SMA. Ia gantikan ayahnya menjadi penjual sate keliling. Semenjak peristiwa itu, ia menjadi pribadi yang sangat protective. Hei Edo, bagaimana kabarmu kawan? Maaf, aku belum bisa pulang ke Jakarta.

Lamunanku buyar saat kudapati Kak Asep telah berada di sampingku. Ia mengajakku berkeliling ke sebuah pasar malam. Saat kami bersama, ia tak pernah melepaskan tanganku meski sejenak. Macam pasangan-pasangan di komik remaja koleksiku. Kudapati beberapa orang memandang iri pada kami.

“Pasangan itu cocok banget ya? Yang laki tampan dan yang perempuan cantik banget,” kata seorang perempuan pada temannya. Wajahku tak bisa berbohong kalau aku senang mendengarnya. Aku dan kak Asep memang serasi, kan? Semoga Tuhan juga berpikir begitu.

“Kak, kita ini macam pasangan di komik ya? Aku suka banget baca komik, romantis, hehe..”

“Sama aku suka mana?”

Ah, Kak Asep menggodaku. Wajahku memerah.

“Kak Asep! Ami suka Kak Asep seribu kali lipat dari komik!”

“Benar? Kalau gitu komikmu aku buang, ya!”

“Jangaaan!” pekikku yang disambut tawa Kak Asep. Ia mendadak berubah menjadi serius, “Tapi… di komik biasanya ada konflik”

Aku terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Jangan khawatir, kak! Kita pasti bisa menangani semuanya!” Kami berdua terkekeh.

Sayang, cuaca tak mengizinkan kami bersenang-senang lama. Karena gerimis, kami memutuskan pulang. Cuaca masih tak membaik. Justru sebaliknya, saat perjalanan pulang, hujan turun amat deras hingga baju kami basah. Sampai di kosku, hujan masih belum reda.

“Tunggulah di sini sampai hujan reda, Kak. Kalau kau pulang ke kosmu sekarang, besok kau bisa sakit,” Kak Asep menurut. Ia akan menunggu hujan reda, baru pulang ke kosnya. Hal itu melegakanku. Setidaknya kami masih akan bersama beberapa waktu ke depan. Tetapi aku khawatir ia kedinginan, bajunya sangat basah sekarang.

“Sayang Kak, aku tak punya baju ganti untukmu. Semoga handuk ini bisa mengeringkanmu,” kataku sembari menyodorkan handuk. Tangan kami bersentuhan. Kami saling berpandangan, wajah Kak Asep benar-benar tampan saat itu. Ia menarikku perlahan dan berbisik, “Mi, aku engga akan bosan bilang ini. Kamu itu cantik banget,” Aku tersipu dan menutup mata, mempersilahkan Kak Asep mendekat.

Malam itu, hanya aku, Kak Asep, dan Tuhan saja yang tahu.

***

Hubungan kami menjadi cukup serius sekarang. Atas inisiatifnya, Kak Asep mengajakku berkenalan dengan orang tuanya di Bandung. Ia ingin melegalkan hubungan kami pada orang tua sebelum berangkat ke Jerman. Aku sedikit gugup, kukepalkan tangan untuk menutupinya. Setelah dari rumah kak Asep, aku bakal pulang ke Jakarta. Aku rindu pada Ibu. Sudah lama kami tak bersua.

Sampai di Bandung, kami langsung disambut orang tua Kak Asep, Om Budi dan Tante Rina.

“Apa orangtuamu sudah tahu kamu berpacaran dengan Asep?” Tante Rina, ibu Kak Asep bertanya penuh selidik.

“Belum, Tante,” aku memang belum bercerita. Meskipun setiap minggu aku menelepon Ibu, aku menyimpan sebuah rahasia. Aku ingin memberinya kejutan saat pulang. Calon suami masa depanku nanti, tiba-tiba datang dan bersalaman dengan Ibu. Aduhai rasanya.

Obrolan santai kami terus belangsung. Aku bercerita soal siapa diriku, asal usulku, keseharianku dan lain-lain. Kulihat wajah Om Budi dan Tante Rina yang awalnya ceria, lama-kelamaan menjadi muram saat aku menyebutkan nama ayah dan ibu. Om Budi seakan kenal dekat dengan orang tuaku, bahkan ia tahu mengenai penyakit diabetes ayah. Raut muka Om Budi bertambah pucat saat banyak tebakannya benar. Mereka benar-benar mengenal satu sama lain. Tante Rina bahkan menyambar tangan Om Budi, memegang erat dengan muka yang sama-sama pucat.

“Maaf, kalau boleh tahu, bagaimana Om bisa kenal Ayah, ya?” tanyaku. Om Budi tak segera menjawab. Mukanya bingung.

“Anu, eh… Ayahmu…” jawab Om Budi terbata sesekali menelan ludah, ia menoleh pada Tante Rina yang gemetar menahan tangis. Ruangan terdengar hening, tiada satupun yang bersuara hingga Tante Rina mengangguk dengan mata basah. Ia beranjak dari tempat duduk, melepas genggaman Om Budi, dan meninggalkan kami bertiga.

Ada yang tidak beres. Begitu janggal gerak-gerik orang tua Kak Asep. Melihat Tante Rina menangis membuatku bingung. Situasi ini membuatku tak nyaman.

“Ayah, sebenarnya ada apa?” tanya Kak Asep yang sama bingungnya denganku.

Om Budi tersenyum getir memperhatikan anaknya. Kemudian ia menghela nafas panjang dan menjawab,” Asep, ada sesuatu yang harus kami beritahu padamu,”

“Apakah itu, Ayah?”

“Tunggu Ibumu sejenak ya, Nak,”

Tak lama, Tante Rina kembali membawa sebuah foto usang. Disodorkannya foto itu pada kami.

“Itu orang tuaku,” ujarku saat kulihat foto yang memperlihatkan sosok Ayah dan Ibu saat masih muda serta seorang bayi mungil yang digendong Ibu. “Tapi aku tak yakin bayi ini adalah aku,”

Mataku tertuju pada Tante Rina, meminta penjelasan, tetapi tak dihiraukan. Tante Rina justru beranjak dan memeluk Kak Asep. Pelan ia elus kepala anak semata wayangnya. Ia menangis.

“Asep, maafkan kami, Nak. Ibu…” Tante Rina semakin memeluk erat Kak Asep. Ia menunduk dan Om Budi ikut memeluk Kak Asep.

“Ayah, Ibu, ada apa ini? Ada Ami, lho! Tidak enak dilihat,”

“Asep, sebenarnya…” Om Budi terhenti, ia menatap mata anaknya dengan mata berkaca-kaca dan melanjutkan,”…Kau bukan anak kandung kami,”

Laksana balon yang tertusuk duri, jatungku bagai berhenti berdetak. Tante Rina dengan mengucapkan kata maaf berulang kali, dengan nafas tertahan agar air mata tak lagi keluar dari pelupuk matanya, memberitakan bahwa aku dan Kak Asep adalah saudara kandung. Omong kosong! Drama macam apa ini?

Om Budi langsung menyambung, diceritakannya dulu, perusahaan orang tuaku sedang mengalami pailit, hampir bangkrut. Tak ada yang tersisa hingga Ayah dan Ibu harus menjadi seorang penghutang. Sementara, Tante Rina memiliki kelainan rahim sehingga kemungkinan hamil hampir tidak mungkin terjadi. Karena keadaan inilah, Om Budi dan Tante Rina yang kebetulan adalah sahabat Ayah, menawarkan untuk merawat bayi yang masih berusia beberapa bulan itu. Namanya Asep. Tante Rina dan Om Budi sangat menyayangi bayi tersebut dan dianggapnya anak sendiri. Karena pekerjaan, beberapa bulan kemudian, keluarga Om Budi pindah ke berbagai tempat hingga akhirnya menetap di Bandung. Selama kepindahannya itulah, Om Budi dan Tante Rina kehilangan kontak dengan ayah dan ibu Ami. Ibu memang pernah bercerita bahwa aku punya seorang kakak. Tapi itu sudah lama dan aku tak pernah antusias membahas sosok seorang kakak yang tak diketahui rimbanya itu.

Kak Asep marah, sembari menahan tangis. Ia merasa dibohongi. Ia berontak dan berlaku kasar.

“Mengapa kalian tak pernah memberi tahuku sebelumnya?” teriak Kak Asep. Belum pernah aku melihat kak Asep seliar itu.

Om Budi dan Tante Rina menengahi, masih terbata dan tersedu, “Kami belum mendapat waktu yang tepat, Nak! Kami hendak memberi tahumu sebelum kau kuliah dulu, tapi Ibumu tak sanggup. Ia selalu menganggap dirimu darah dagingnya sendiri!”

Tante Rina semakin tersedu.

“Lalu kalian pikir ini saat yang tepat? Saat aku memperkenalkan calon istriku yang ternyata adalah adikku? Tak bisa kupercaya!” Kak Asep membuang muka. Ia pergi meninggalkan kami dengan geram.

Aku sendiri masih shock. Duduk terdiam dan mencerna kenyataan yang tak pernah diduga. Sejurus kemudian, beribu pertanyaan menyeruak masuk dalam otakku, membuatku terbata ketika tak ada satupun jawaban yang dapat aku simpulkan. Nol.

Ya Tuhan, Mengapa kau buat skenario hidupku seperti ini? Padahal aku selalu membayangkan kami akan berumah tangga dan memiliki beberapa anak. Aku ingin menyangkal, aku ingin lari. Aku berharap saat ini aku sedang bermimpi, dan sudah saatnya aku bangun untuk bersyukur bahwa semua kejadian ini hanyalah khayalan imajinasiku semata.

Kucubit pipiku. Sakit. Ini nyata. Ini bukan mimpi. Suratan takdir telah tertata. Tak mungkin seorang insan dapat mengubahnya. Hukum melarang aku dan kak Asep bersatu. Itu garis takdir kami. Meski begitu, aku masih belum bisa menerima itu semua. Terbesit dalam hati, aku merasa Tuhan tidak adil.

Mengapa kami? Mengapa dari setiap manusia yang ada di bumi ini, mengapa harus kami? Aku tahu Tuhan tak akan mungkin menjawab pertanyaan retoris ini, membisikkannya pada telingaku, meskipun Tuhan tahu segalanya, dan meskipun aku meminta dengan sangat. Yang kutahu sekarang, aku harus menerima kisah menyedihkan ini. Getir ini bukan cuma aku yang merasakannya. Kurasa, menutup mata sejenak akan membuat otakku berpikir lebih jernih. Tapi tetap saja kudengar lirih suara tangis Tante Rina. Kucoba tak hiraukan, karena aku sedang ingin berdamai dengan diriku sendiri. Dan tentu saja berdamai dengan Tuhan.

Nyatanya aku tak bisa berdamai. Hatiku terlalu kalut, jauh dari tegar. Biarlah. Biarlah saat ini aku kembali menjadi seorang anak kecil yang menangis sejadi-jadinya. Toh, tak ada yang menyalahkan, tak ada pula yang dipersalahkan. Tak ada yang akan memarahiku. Tak akan kurasakan malu. Saat ini aku hanya ingin menangis.

Akhirnya, aku dan Kak Asep memutuskan untuk menemui Ibu. Haru biru mewarnai pertemuan Ibu dengan Kak Asep.

“Tak kukira kau sudah sebesar ini, Nak. Dulu kau masihlah bayi mungil yang tak bisa apa-apa.” Kisah yang sama juga kami dapati dari mulut Ibu,

“Setelah perekonomian keluarga stabil, Ami lahir. Ibu benar-benar merindukan kakakmu Mi, tapi Ibu tak tahu di mana Asep saat itu.”

Sedih memang. Tapi apa yang bisa kulakukan lagi? Aku hanya bisa pasrah. Perasaan cinta ini tak akan pernah beruntaian. Kucoba untuk tak menyalahkan siapapun, termasuk kau, Tuhan. Aku mencoba untuk menerima takdir, meski perih.

“Mungkin lebih baik begini. Kita tak ditakdirkan bersama. Aku minta maaf, Ami. Kita tidak boleh menjalin kasih lagi. Mulai sekarang, kau adalah adikku, dan aku adalah abangmu,” putus kak Asep. Kami berpelukan dan saling menangis. Pelukan terakhir sebagai seorang kekasih.

Kak Asep kembali ke Bandung hari berikutnya. Ia harus bersiap untuk program pertukaran pelajarnya. Sementara aku masih tinggal di Jakarta untuk mengisi kerinduan dengan kampung halaman, serta agar aku bisa mengatasi kekalutan hati ini.

Kutemui Edo, penjual sate sahabatku. Rambut ikalnya mulai panjang, tak ia potong. Badan gemuknya dulu sekarang tak nampak. Edo sedang bersantai saat aku ke sana. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Tak hanya komik, rumahnya cukup berantakan karena banyak baju menggantung. Tapi sepertinya ia tak terganggu. Ia malah asyik membaca hingga menyadari keberadaanku. Wajahnya langsung cerah ketika melihatku.

“Do, untung aku kawanmu, jadi aku biasa saja melihat kekacauan ini.” Edo hanya menyeringai saat aku mencoba merapikan buku-buku.

“Coba kalau pacarmu yang datang. Kau-“ ucapanku terhenti. Banyak hal yang membuatku sensitif semenjak Kak Asep pergi. Kata pacar seakan menjadi martil yang berdentum keras di jantungku. Aku mulai menangis. Edo anak baik, tak banyak bertanya. Malah, ia menghiburku. Hatiku sedikit terobati.

Sudah seminggu. Aku harusnya pulang ke Semarang. Tapi urung. Aku sedang tak ingin melihat Kak Asep, hingga akhirnya ia menelepon untuk berpamitan. Ia berangkat ke Jerman selama dua bulan. Dalam kurun waktu itu, aku harap perasaanku padanya hilang. Kumohon Tuhan, bila memang kau menakdirkan kami seperti ini, hilangkanlah perasaan seorang hawa pada adam ini, gantikanlah menjadi kasih sayang antar saudara.

Sebulan kemudian di Semarang, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Setelah diperiksa, ternyata aku telah berbadan dua. Aku panik! Sangat panik karena bapak jabang bayi ini tak lain adalah Kak Asep, abangku sendiri. Akhirnya aku beranikan diri untuk pulang ke Jakarta. Betapa ibu sangat terpukul mengetahui aku mengandung anak abangku. Ia tak marah, karena tahu aku pastilah lebih terpukul. Dan itu benar.

Malam itu, aku berhasil menghubungi kak Asep meski aku tak ingin. Mendengar suaranya membuat hatiku kacau. Kututurkan baik-baik apa yang terjadi. Sayang, ia malah mengusulkan aborsi. Tidak! Aku tak mau anak ini diaborsi! Ia akan lahir! Meskipun tanpa bapak, ia akan lahir! Bukannya tak memikirkan resiko anak yang terlahir cacat, namun aku lebih takut membunuh darah dagingku sendiri. Betapa banyak perempuan yang menginginkan anak tapi tak mampu melahirkan seperti Tante Rina. Aku akan melahirkannya! Tapi… apakah semua akan beres dengan melahirkan bayi ini nantinya? Entah seperti apa gunjingan tetangga nantinya.

Ketika Edo bertamu, ia dapati aku seperti orang gila. Setelah ia tahu bahwa aku mengandung bayi abangku, dan kami tak mungkin menikah, ia memelukku.

”Aku bisa menjadi ayah bayi itu,” ujarnya mantap.

Seingatku, aku tak pernah menyetujui Edo akan menjadi suamiku. Aku hanya langsung memberitahu Ibu bahwa Edo ingin menjadi suamiku, sebelum aku mengutarakan pendapatku. Tapi Ibu langsung menghela nafas lega.

“Kau yakin, Do? Ia sedang hamil!” tanya Ibu.

“Saya telah lama memendam rasa pada Ami. Asal bisa mengurangi bebannya, saya tidak masalah, Bu,” ujar Edo mantap. Aku tak tahu Edo suka padaku selama ini. Aku hanya menganggapnya sebagai teman. Tak pernah terbayangkan di benakku ia akan menggantikan sosok Kak Asep. Ah, sudahlah. Bila memang seharusnya begini, biarkanlah.

Aku memutuskan untuk cuti kuliah demi kesehatan mentalku juga untuk mempersiapkan pernikahan. Aku sekarang berada di Jakarta menemani ibu. Kualihkan mataku ke kalender. Usia kandunganku sudah hampir tiga bulan. Sebulan sudah semenjak usulan aborsi itu. Selama itu pula aku memutuskan komunikasi secara sepihak dengan Kak Asep. Ah, harusnya ia sudah pulang ke Indonesia. Bagaimana bila Kak Asep datang kemari? Apa yang harus aku lakukan?

Benar saja, siang itu, ia benar-benar datang. Betapa aku ingin menghindarinya, tetapi selalu saja terkejar. “Maaf,” itulah kata pertamanya. Hei, apakah aku terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa memaafkan? Berkali-kali kucoba melupakanmu, Kak Asep. Tapi sulit. Seakan benang merah itu telah tertanam dalam hatiku, dan sulit untuk dilepaskan. Bahkan aku mengandung jabang bayimu. Anak haram, kata orang.

”Pergilah, Kak!” ucapku.

“Ami!” Kak Asep mendekat, mencoba meraihku. Ia berhasil memegang tanganku. “Lepaskan, Kak! Andai aku tak pernah bertemu kakak, andai kakak tiada, aku tak perlu menanggung beban ini!” Aku ingin menangis, air mata itu sudah hampir menetes, tetapi kutahan.

Tuhan, lagi-lagi aku menyalahkan orang lain. Maafkan aku Tuhan, aku bukanlah perempuan tegar yang bisa menghadapi cobaanmu dengan tersenyum. Aku masihlah terombang-ambing dalam sampan yang berada di samudra luas yang setiap saat dapat tenggelam bila ombak neptunus datang menggulung lautan. Dua pilihan yang mesti kupilih. Tenggelam dan mati, atau terdampar dan melanjutkan hidup. Kak Asep mencoba memelukku, hingga Edo datang.

“Hei, kau! Mau apa kau dengan calon istriku!” Edo berseru marah.

“Calon istri?” Kak Asep melihatku lamat-lamat.

“Kita tak mungkin menikah, Kak. Biarkanlah orang lain yang menggantikan peranmu”

Kak Asep berkaca-kaca. Ia merangkulku. Aku berontak. “Tak bisakah engkau menunggu hingga aku siap untuk melepasmu? Meski agama melarang, aku masih menyayangimu! Setidaknya aku masih kakakmu yang sah untuk menolak pernikahanmu. Aku tak mau kau berakhir dengannya!”

Edo merasa geram. Ia yang baru saja pulang dari menyembelih daging membawa pisau tajam di tangan kanannya. Ia kalap melihat ada orang lain memeluk calon istrinya, disertai embel-embel tak menyetujui pernikahannya denganku.

“Dasar! Mau kau apakan calon istriku? Menjauhlah dari Ami!” teriak Edo. Aku kaget. Tiba-tiba saja Ia ayunkan pisau dengan cepat ke arah tangan kanan Kak Asep. Rangkulan Kak Asep mengendor. Aku oleng dan jatuh terjerembab. Perutku terbentur sangat keras. Kak Asep mengerang kesakitan. Edo yang awalnya kalap kini tersadar. Ia gemetar. Ia jatuhkan pisaunya. Aku? Aku diam, gemetar, sesaat merasa dingin, kemudian aku tak tahu apa yang terjadi.

Perlahan, kubuka mataku. Putih. Kemudian terlihat sosok Ibu. Di ruang yang berbau obat itu, aku tergugu. Aku tak sadar diri selama beberapa hari. Ibuku bilang bahwa Edo dipenjara karena membacok Asep. Asep selamat, tetapi ia harus rela menjadi cacat. Diabetes membuat dokter harus mengamputasi tangannya. Tak kuasa membendung air mata, aku menangis. Ibu mengelusku, berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi aku tak percaya. Akhir suatu cerita tak pernah benar-benar bahagia, kecuali dalam kisah dongeng. Setelah agak tenang, aku teringat akan keadaanku.

“Ibu, sebenarnya kenapa aku dirawat di rumah sakit?”

Ibu hanya menatapku dengan pandangan nanar, ia berkaca-kaca, namun berhasil mengatasinya. Ia memelukku sekali lagi, mendekapku dengan sangat erat.

“Nduk, nggak apa-apa kok. Nduk sehat-sehat saja kok, tapi…” suara ibu tercekat

“Tapi apa, Bu? Ami kenapa?” Aku mulai tidak sabar dan khawatir.

“Ami… Ami sayang…” suara Ibu tercekat. Ia membelai rambutku, mengelus perlahan kepalaku. Kemudian dengan terbata-bata, ia teruskan kalimatnya, ”…Ami keguguran.”

Mendengar kalimat itu, sontak seluruh pandanganku berubah menjadi hitam. Pekat.

Mungkin memang inilah yang ingin Tuhan lihat. Mungkin Tuhan memang ingin melihat pergolakan batinku yang sampai saat ini belum damai. Tapi Tuhan, sudahlah, sudah cukup. Aku sudah lelah. Aku tak bisa lagi mengikuti kelakar-Mu. Pikiranku terlalu kacau untuk diluruskan kembali. Aku akan meminta maaf untuk yang terakhir kali, Tuhan, sebelum pikiranku terlalu ruwet untuk sekadar melantunkan maaf. Semoga Engkau mendengarnya. Tuhan, Maaf. Maaf, dan maaf.

***

“… Jadi begitu ceritanya, Susan. Loh kok anak Ibu belum ngantuk? Ibu cerita lagi deh kalau begitu.”

Aku sedang bercerita untuk anakku yang kudekap erat, hingga seorang suster mendatangiku. “Ami, masuk ya, dingin lho!” Suster itu tersenyum.

Aku menggeleng, ”Tidak mau suster! Aku kan sedang asyik bercerita. Susan mau dengar cerita lain dari Ibu, kan?”

Suster itu tetap tersenyum. “Kau memang pandai bercerita. Ayo, di dalam saja ceritanya, boneka- Oh! Maksudku, Susan sudah lapar. Ayo, kita ke ruang makan untuk mengisi perut!”

Kupandangi Susan lamat-lamat. Aku beranjak, ”Benar, Susan, anakku belum makan, ayo suster!”

Kami berjalan pelan menuju bangunan yang bertuliskan “Rehabilitasi Jiwa”, melewati orang-orang yang tak kukenal dan tak kupedulikan. Kudekap erat Susan, kemudian dengan langkah cepat aku berlari. Berlari menjauhi suster, berlari menjauhi dunia, berlari menjauhi segalanya.

***

End

71 dukungan telah dikumpulkan

Comments