Kemarahan Penulis

8 months ago
Shenzi

by: Shenzi

VESPA GTS gemuk yang melanggar lampu merah dan meluncur melampaui batas seolah muncul begitu saja dalam kesunyian malam di perempatan Pondok Indah, mengejutkan seorang eksekutif muda yang sedang melajukan sedannya. Segera saja ia menggebrakkan kaki ke pedal rem, mengira akan menabrak bedebah sinting itu—namun tak ada benturan yang terjadi. Skuter tersebut meraung kurang ajar meninggalkannya, sebelum berbelok masuk di tikungan dan menghilang. Tegang terengah-engah, si eksekutif muda telat membunyikan klakson kemarahan yang memekakkan telinganya sendiri. Ia memaki-maki kesal, tanpa pernah mengetahui si pengendara motor saat ini jauh lebih kesal dibandingkan dirinya.

Lepas dari perempatan, Odietamo melambatkan laju Vespanya, gagal tersenyum sewaktu satpam kompleks pemukiman yang ramah menyorotinya dengan senter, dan buru-buru mengangkat palang portal ketika mengenali sosok pemuda tersebut. Setidaknya Odiet sempat mengangguk, dan tak sampai semenit tibalah Odiet di rumah nomor delapan tempat ia tinggal sendirian.

Gagasan menendang pintu ruang tamu sungguh menggoda, namun Odiet merasa ia sudah cukup membuat keributan saat tadi membanting pagar hingga berkelontang membentur tembok tetangga. Memasuki rumah, ia menonjok sekuat tenaga semua saklar lampu yang terjangkau, mengabaikan sakit pada tinjunya. Akal sehat sesaat mencoba merasuk setelah ia meneguk air dingin banyak-banyak, namun mendadak Odiet melempar gelas kaca besar ke seberang ruangan dan salah satu pecahan beling melesat menggores betisnya di balik jeans. Perlu beberapa raungan gila dan tindakan brutal kesetanan sampai akhirnya, bersimbah keringat kehabisan nafas, Odiet membuang T-shirt lusuh lepek yang dikenakannya, merebahkan diri di sofa lebar depan televisi—nyaris menangis, namun keburu tertidur kelelahan…

 

Mungkin itulah ledakan amarah terbesar Odietamo dalam sembilan belas tahun hidupnya, dan barangkali menjelaskan mengapa ia merasa pusing sekali ketika baru terbangun sore keesokan hari. Odiet, berambut gondrong sebahu lebih kusut dari biasanya, wajah tirusnya kumal berminyak, dengan luka gores yang sudah mengering di betis kurusnya, belum pernah terlihat menyedihkan seperti sekarang.

Hal pertama yang mengingatkan Odiet akan kejadian kemarin adalah saat mata sembapnya menangkap kekacauan yang telah dibuatnya. Hatinya kembali bergejolak sengit, darah sadisnya tergugah ingin menghabisi orang itu. Namun kali ini ia berhasil menahan diri—syukurlah, ini melegakan, sebab Odiet kelak berhasil mengalihkan kemarahannya ke hal lain yang justru menambah nilai hidupnya: menulis cerita.

Sembari mandi dan berniat membereskan rumah setelahnya, Odiet merenung, mengingat bagaimana semua ini berawal di sore yang sama pada pukul lima kemarin; kala itu Odiet sedang frustasi berjalan mondar-mandir di kamarnya, laptopnya terbuka menampilkan lembar halaman kosong berjudul Cerpen Belum Ada Judul, menanti untuk diketik. Namun Odiet bahkan tidak tahu apa yang mesti ia lakukan, padahal cerpen itu sudah harus selesai paling telat seminggu lagi… kalau Odiet ingin mengikuti lomba mengarang cerpen.

Memenangkan lomba cerita pendek menjadi salah satu resolusi Odiet dalam rangka mengisi liburan akhir semester di pertengahan tahun. Jauh sebelum ia kuliah, sejak kecil Odiet memang senang menikmati fiksi-fiksi terbaik terutama novel bergenre fantasi, sekalipun perangainya sama sekali tak kelihatan seperti orang yang suka berkhayal.

Cepat atau lambat, minat menulis akan muncul dalam diri mereka yang gemar membaca, begitu pula dengan Odiet belakangan ini. Kebetulan ia cukup beruntung dan terbantu oleh salah satu sahabatnya punya minat sejenis.

Maka, sewaktu Odiet secara mengkhawatirkan mulai tertawa sendirian, betapa senangnya ia ketika ponselnya bergetar, diingatkan oleh sobat kentalnya apakah ia akan datang ke pertemuan bulanan Klub Menulis—ya ampun, bagaimana mungkin Odiet sampai lupa? Akhirnya bisa kumpul-kumpul santai melepas penat, pikir Odiet lega. Rupanya tidak mengetik apa pun cukup melelahkan baginya.

Segera sehabis berganti pakaian, Odiet bersenandung riang sambil menstarter Vespanya dan mengeluarkannya dari garasi rumah nomor delapan. Selama mengendarai motor ke arah kafe tempat anggota Klub Menulis biasa berkumpul, Odiet membayangkan gathering kali ini pastilah menyenangkan seperti yang sudah-sudah… namun kita semua sudah tahu betapa kelirunya Odiet dinilai dari kemarahannya nanti malam.

Ketika melangkah memasuki kafe menjelang isya, sekumpulan sosok familier berbagai usia termasuk sobat kentalnya menyadari kehadiran Odiet dan langsung saling menyapa dengan tulus. Odiet ikut duduk setelah memesan satu cangkir americano. Ada banyak perdebatan menarik seputar tulis-menulis diselingi seruput kopi atau teh dan tawa senda-gurau, sampai akhirnya pembicaraan bergulir ke karya macam apa yang sedang mereka kerjakan.

Kebanyakan dari anggota Klub Menulis, yang setidaknya pernah sekali menerbitkan buku, yang bahkan ada editor penerbit besar dan dosen Bahasa Indonesia, terdengar cerdas serta antusias menanggapi satu sama lain sehingga ketika tiba giliran Odiet berbicara, kekagumannya menyerap ilmu dari mereka semua tergilas oleh rasa malu yang melintas. Odiet sadar, konyol sekali membandingkan Cerpen Belum Ada Judul dengan segala hal yang sudah mereka bicarakan, jadi ia memutuskan bercerita tentang resolusi liburannya saja.

‘‘… jadi, peserta lomba dikasih tiga kalimat prompt penulisan,’’ Odiet tengah menjelaskan sambil membuka situs resmi lomba cerpen tersebut melalui ponselnya. Ia menemukan detail yang dicari pada bagian syarat dan ketentuan, lalu membacakan untuk mereka semua:

Berikut adalah prompt penulisan untuk lomba:

  • Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.
  • Segalanya berubah digital.
  • Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga

 

‘‘… terus kita pilih satu buat dimasukin ke cerpennya,’’ pungkas Odiet.

 

Seperti semua manusia waras pada umumnya, tak seorang pun yang ingin terlihat payah di depan keramaian atau saat berkumpul seperti Odiet sekarang, kecuali pelawak—dan Odietamo bukanlah pelawak. Keseriusan dalam diri Odiet mengharamkannya menjadi guyonan publik. Ia berhasil membawakan diri dalam topik ‘‘karya terbaru’’ sekalipun belum menghasilkan satu pun karya, sementara anggota Klub Menulis menunjukkan ketertarikan mereka dan sebagian kecil menimbang serius sempatkah mengikuti lomba ini dan memenangkannya mengingat tenggat waktu tinggal seminggu lagi.

Namun seperti yang terjadi pada semua orang juga, seringkali hal yang tidak diinginkan justru malah terjadi tanpa kenal belas kasihan. Odiet, hanya bersenjatakan Cerpen Belum Ada Judul-nya, merasa berhasil menghindar dari potensi pembodohan depan publik, seketika mendapat pukulan pembuka tak terduga dari seorang bapak paruh baya polos yang tentu saja tak ada niatan buruk.

‘‘Mas Odiet pilih prompt yang mana kalau begitu, sudah jadi belum?’’ tanya Si Bapak ingin tahu.

Secara naluriah mengikuti kecenderungan moralitasnya, Odiet menghindari kebohongan tak perlu, namun menjawab taktis demi menjaga martabatnya, ‘‘Lagi proses, Om.’’ Ia meneguk americano pahit dari cangkirnya. ‘‘Ini tinggal lima halaman lagi.’’

Si Bapak tersenyum kagum, mengangguk paham. Sebuah pemahaman sesat mengesankan karya seorang Odietamo tinggal lima halaman lagi, tinggal sedikit lagi sebelum selesai. Tetapi Si Bapak dan anggota Klub Menulis lainnya tak mengetahui aturan lain dari lomba cerpen itu: minimal halamannya memang hanya lima halaman.

Odietamo dengan lembar kosong Cerpen Belum Ada Judul-nya secara teknis tidak berbohong. Tak ada yang dirugikan di sini. Seharusnya gathering mereka bisa berakhir baik-baik saja bagi Odiet seperti biasanya, kalau bukan karena tusukan yang amat tak diharapkan dari seorang sobat kental.

Tanpa beban dengan alis terangkat, Sang Sahabat bertanya agak keras keheranan, ‘‘Lah bukannya loe bilang belum kelar, Dit?’’

Logika Odiet memahami kata-kata sobatnya tidak dimaksudkan sebagai upaya mempermalukannya di depan banyak orang, hanya sekadar ketidakpahaman spontan. Sekalipun begitu, perasaannya tetap saja tersinggung. Keheranan sahabatnya diungkapkan dengan suara dominan hingga mendapat perhatian penuh seluruh anggota Klub Menulis. Dan Odiet, yang terkejut tak menduga, yang belum pandai mengalihkan topik, yang berdasarkan kejujuran pribadinya enggan bermuslihat bersilat lidah, berusaha berwajah pasif. Namun sesuatu yang amat pahit dan tidak ada hubungannya dengan secangkir americano naik ke kerongkongannya, menegangkan otot leher dan meluapkan kemarahan terhina yang terpancar halus di balik ekspresi datar Odiet. Semua ini terjadi hanya dalam sepersekian detik.

Sang Sahabat agaknya menyadari apa yang terjadi, dan berniat memperbaiki kekeliruannya namun dengan cara yang sangat fatal. Ia bergurau dan dalam gelak tawanya mengatakan Odiet bego, bodoh betul tidak berterus terang di sini, begitu bodoh tidak meminta bantuan ke para anggota yang jelas lebih pandai dan berpengalaman dari Odiet untuk urusan literatur, mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan telunjuknya dan berkata seharusnya Odiet lebih menggunakan otaknya, hingga seluruh anggota Klub Menulis larut dalam tawa dan nyengir berkepanjangan. Sang Sahabat juga meyakini Odiet, jangankan menang, Odiet bahkan tidak akan mampu menyelesaikan cerpennya dalam seminggu.

Anomali dalam watak pemarah seorang Odietamo adalah ia nyaris mustahil meledak di muka umum. Sifat melankolisnya yang dominan mencegah ia melakukan demonstrasi kebrutalan di depan orang banyak. Dengan hati masam ia menelan kejadian ini sebagai penghinaan pribadi. Pertahanannya dalam wujud ekspresi pasif secara mengagumkan berhasil menyembunyikan denyut-denyut kemarahan… dan saat momentumnya tepat, Odiet mengundurkan diri dan pulang lebih cepat dari biasanya sekalipun hari memang sudah larut… dan sekali lagi kita sudah tahu apa yang terjadi pada malam itu.

 

Membereskan kekacauan rumah sendirian ternyata memakan waktu lebih lama dari yang Odiet kira, tapi mungkin ada baiknya juga. Pikirannya tercabang selama harus membungkuk untuk membersihkan beling-beling gelas dan piring yang berhamburan, karena sapu ijuk yang ia gunakan juga menjadi korban amukannya dan patah menjadi dua. Pekerjaan ini seharusnya hanya memakan waktu setidaknya dua jam, tetapi Odiet juga memikirkan cerita pendek macam apa yang akan ia tulis, atau yang lebih penting, bagaimana cara menulis dengan baik dan benar.

Hari lagi-lagi sudah terlalu malam ketika Odiet baru selesai mengepel rumah nomor delapan sehingga ia secara bijak memutuskan mulai fokus kepada lomba keesokannya. Ini bukanlah penundaan bersifat malas, sebab saat deadline tinggal lima hari lagi, kediamannya sudah sangat bersih rapi dan Odiet, masih dalam suasana liburan semester, mempunyai segala hal dari lingkungan yang nyaman hingga fasilitas untuk mengetik; walau semua itu tak ada artinya tanpa komitmen.

Odiet membuktikan dirinya berhasil memanfaatkan energi negatif dari api kemarahannya menjadi bahan bakar untuk mempelajari segala hal yang ia butuhkan untuk menulis cerita pendek dalam waktu singkat. Sebagian besar tips yang ia pelajari baik dari internet maupun (dengan enggan ia mengingat) Klub Menulis pada dasarnya mengatakan, untuk dapat menulis dengan baik maka si penulis harus menjadi pembaca yang baik, dan Odiet setuju. Ia mempunyai bekal pengalaman mengasyikkan dari buku-buku fiksi favoritnya, dan kurang lebih tahu bagaimana agar tidak menghasilkan tulisan yang menurutnya gagal dari novel bersampul menarik dan ternyata parah sekali.

Odiet memutuskan, ia akan menuliskan proses pembelajarannya ini sebagai bahan baku dasar cerpen yang dilombakan. Dan pada saat tenggat waktu tinggal sehari lagi, betapa heran dan bangganya ia berhasil menyelesaikan cerpennya sendiri, cerpen pertamanya. Dan rasa senangnya semakin bertambah ketika ia berulang kali membacanya. Untuk pertama kalinya sejak seminggu terakhir, Odiet kembali tertawa sendiri namun tak ada yang perlu dikhawatirkan kali ini.

 

Dan begitulah, Odietamo memulai kariernya sebagai penulis. Dan ketika pengumuman lomba diumumkan, Odiet akan kembali berkumpul bersama Klub Menulis untuk bercerita pengalamannya dengan bangga sebagaimana ia akan bangga menceritakannya di tahun-tahun setelah seorang Odietamo dikenal sebagai penulis handal.

5 dukungan telah dikumpulkan

Comments