Kepalsuan: Sebuah Antologi

8 months ago
Kepalsuan Sebuah Antologi Cover Schadenfreude
Schadenfreude

by: Schadenfreude

Masih teringat jelas di ingatanku, bagaimana kisah pengingkaran kebencianku pada kakek. Tujuh belas tahun lamanya aku hidup, pun kejadian itu telah berlalu sepuluh tahun. Namun, kepedihanku masih terasa nyata seperti melihat ke dalam kaleidoskop yang baru kubeli kemarin sore.

***

Boris masih mengeluh sambil menuangkan jus jeruk ke gelasku, “Inggris selalu muram seperti biasa, Tuan Muda.”

Callum Carradine namaku, anak berusia tujuh tahun yang hanya mengangguk pada basa-basi pelayannya sambil melahap sarapannya dengan bersemangat. Tak ada alasan untuk bersedih hati atas muramnya cuaca ini, karena aku akan berkunjung ke rumah sepupuku tersayang.

Tiga jam menumpangi kereta kuda bukanlah hal besar. Tidak bisa dibandingkan dengan hukuman kakek apabila aku masih gagal membaca buku cerita berbahasa Prancis dengan benar setelah tiga kali mencoba. Suara ketoplak-ketoplak kaki kuda yang riuh itu mengetuk selaput timpaniku dengan irama konstan yang memuaskan. Pelayanku yang setia, Boris, masih terduduk tegap di bangku depanku sembari mengulas senyum tipis.

Boris tahu aku sedang senang. Boris tahu aku akan menghabiskan liburan musim panas ini dengan sepenuh hati. Boris juga mungkin tahu, dengan satu atau lain cara, bahwa liburanku kali ini akan membawa kiamat kecil pada kehidupanku berikutnya.

Kediaman kerabatku di Tenterden tak ubahnya sebuah parade rumah lawas yang berisi orang-orang suci. Kakek Alastair bilang si pemilik adalah adiknya yang pernah lama hilang; Kakek Dionysius namanya. Dengan berat hati, kakek Alastair selalu mengingatkanku bahwa mental adiknya itu sedikit terganggu. Meskipun tidak pernah betulan terucap, namun bisik-bisik dalam setiap pertemuan keluarga Carradine selalu mengganggu tidur kakekku.

Tuduhan bahwa Kakek Alastair sebetulnya bukan pewaris sah dari kebun anggur yang luasnya berekar-ekar milik keluarga Carradine adalah momok yang selalu membuatnya menenggak banyak sekali anggur sebagai rutinitas sebelum tidur. Bagi Kakek Alastair, hidup Kakek Dionysius layaknya bagaimana orang-orang suci yang gemar menyebar sermon. Penuh kebohongan dalam setiap ucap manis, seperti cipratan air suci yang dianggap dapat membersihkan diri jemaatnya dari dosa.

Rerumputan hijau menyambutku, pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan kediaman-kediaman Carradine lain. Kebun anggur berhektar-hektar, musim panas ini rupanya hasil panen mereka melimpah. Sais mengetuk sisi luar kabriolet yang kutumpangi dua kali, saatnya turun karena telah sampai di tujuan.

“Apakah Anda sudah siap?”

Aku menahan tawa. Pertanyaan Boris seolah berusaha membangunkanku dari sebuah mimpi indah.

“Tentu saja aku siap. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Cicera,” senyumku tersimpul kemudian.

“Bukan begitu, Tuan Callum.” Air muka Boris berubah masam, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya namun ia tak kuasa mengucapkan.

“Cepat, cepat! Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Cicera!” seruku tak sabar pada Boris yang menghalangi pintu keluar kereta.

Tangan Boris menahan kedua bahu kecilku, seolah pria itu ingin aku mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Maka alisku hanya terpaut tidak paham, dahiku mengerut seketika.

“Hati-hati, jangan berkelana di tempat yang terlalu jauh. Aku akan berada di dalam kapan pun kau membutuhkanku,” ucapnya sambil mulai membuka kunci gerendel kabriolet. Memandangku dengan lamat-lamat sebelum membiarkan pintu keretanya terayun terbuka. “Aku bersungguh-sungguh. Jangan pergi ke tempat yang tidak kauketahui,” tukas Boris sambil membiarkan pintunya terjembab ke luar.

Terperangah aku memandang Boris. Namun aku mengangguk, sekadar memuaskan Boris supaya berhenti menceramahiku. Kami pun menjejakkan kaki di depan mansion lawas yang cukup terawat itu. Jullian, pelayan Kakek Dionysius sudah menyambut kami di depan seperti gargoyle penunggu yang tertancap erat di depan kastel berbatu. Senyumku timpang, menatap Jullian yang mulai mengambil koper-koperku dari kereta kuda dan membawanya ke kamar tamu. Aku pun segera menghambur ke dalam mencari sosok gadis kecil yang sudah kurindukan.

***

Cicera Carradine bukanlah gadis biasa. Satu, sepupuku itu gemar sekali mengenakan gaun hitam. Ini Inggris tahun 1806, gadis-gadis lebih senang mengenakan gaun beraneka warna dengan renda di sana-sini supaya tampak semakin manis. Mungkin bagi Cicera, gaun tersebut membuat kulit porselennya jadi tidak mencolok. Aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.

Dua, Cicera diam-diam menikmati bermain di luar. Aku juga begitu, terlalu lama belajar bisa membuatku uring-uringan. Apalagi jika kakek sedang tidak bepergian dan menguji kemampuanku secara tiba-tiba saat makan malam tiba. Setiap kegagalanku rasanya menorehkan sebuah dosa besar di tubuhku. Maka aku hanya bisa menunduk dan menahan tangis apabila aku tidak bisa memenuhi harapannya. Karena jika aku menangis, aku akan dikurung semalaman di dalam gudang anggur yang lembab dan gelap.

Tiga, mata Cicera sangat indah. Aku yakin Cicera bukanlah gadis paling periang yang pernah kutemui. Namun pandangan matanya selalu meyakinkanku bahwa ia betulan berniat berteman denganku. Nama marga kami sama-sama Carradine, hidup kami sama-sama dicengkeram oleh dua laki-laki tua yang ingin ahli warisnya menjadi penerus keluarga, namun aku tidak pernah merasakan persaingan itu setiap bertemu dengan Cicera.

Siang itu kami bermain di pekarangan depan rumah. Cicera sangat menyayangi boneka perempuan yang selalu dibawanya ke mana-mana itu. Selembar kain berpola Gingham Check berwarna merah-putih digelar, di atasnya berbagai macam bentuk peralatan makan dengan ukuran yang jauh lebih kecil daripada aslinya beterbaran. Saat itu aku tidak tahu, bahwa permainan itu telah mengubah segalanya.

“Aku harus mulai memasak makan malam, sebentar lagi suamiku pulang,” Cicera menggerakkan boneka perempuan yang dinamainya Catriona itu ke sebuah pojok yang diimajinasikannya sebagai dapur.

Aku memainkan sebuah boneka laki-laki dengan sungguh-sungguh. “Aku pulang!” Seruku sambil mendekatkan boneka di tanganku ke arah Catriona. Berpura-pura mengecup kedua pipi boneka yang menjadi istri bonekaku. “Bagaimana kabarmu? Apakah segalanya baik-baik saja?”

“Oh, Archibald!” seru Cicera dengan suara mencicit dan kekehan geli yang mengintai. “Aku memanggang seloyang pai apel yang sangat wangi, hingga beberapa anak tetangga mengintip dari jendela dapur!”

“Betulkah?” aku bertanya-tanya, nada terhibur tebersit dari suaraku yang direndah-rendahkan meniru seorang lelaki dewasa. “Lalu apakah kau membaginya dengan mereka?”

“Tentu saja,” Cicera menjawab pertanyaanku dengan senang hati dan menggerakkan Catriona untuk memeluk Archibald. “Aku memberi mereka sepotong demi sepotong, namun hanya kepada anak-anak yang berjanji untuk bersikap manis.”

Aku mendudukkan Archibald di depan sebuah piring kecil yang sudah tertata di sana. “Jadi, apakah menu makan malam kita hari ini?”

Catriona digerakkan supaya duduk manis di depan Archibald, menunjuk satu per satu pinggan yang terjajar di antara mereka. “Aku memasak stik daging sapi panggang, kau bisa menikmatinya dengan saus barbeku,” Cicera mendorong tangan Catriona supaya mendekatkan mangkuk kosong itu ke arah Archibald. “Ada sup kacang polong hangat supaya tidurmu nanti malam lebih nyenyak,” senyum Cicera lebar sambil memainkan bonekanya.

“Wah, semuanya tampak lezat!” aku berseru senang sambil menggerakkan lengan Archibald supaya mengambil sepotong daging dan saus imajiner itu ke dalam piring di hadapannya. “Aku tidak salah memilihmu sebagai istriku, semua masakanmu sangat enak,” aku bergumam dengan suara ‘nyam-nyam’ rendah seolah Archibald melahap makanan imajiner itu betulan.

Cicera terkekeh geli, ia terdengar begitu gembira. Aku pun turut tersenyum. “Apakah aku mendapat hadiah karena telah menjadi istri yang baik untukmu?” Cicera mengangguk-anggukkan Catriona sambil tersenyum lebar.

“Hmm,” aku menggumam, berpura-pura sedang berpikir. “Bagaimana kalau kita berlibur?” Suaraku yang masih serak ini terdengar semakin konyol karena direndah-rendahkan. Berusaha terdengar seperti pria dewasa itu sulit. “Kita bisa berangkat besok pagi, Sayangku. Apakah kau siap?”

Catriona digerakkan seolah terkesiap, kedua tangannya membekap mulut. Cicera memekik senang, “Oh tentu saja aku senang, suamiku.”

Aku mempercepat alur cerita permainan rumah-rumahan saat itu supaya kami bisa segera berjalan-jalan, tentu dengan kedua boneka kami. Archibald adalah boneka laki-laki yang selalu disimpan Cicera ketika aku pulang ke Maidstone. Kami sudah berjanji akan bertemu setiap musim panas dan bermain bersama. Melakukan kegiatan kegemaran masing-masing secara bersama-sama. Satu kegiatan favoritku, yaitu berjalan-jalan seolah berpetualang di tempat yang asing. Satu lagi kegiatan favorit Cicera, yaitu bermain rumah-rumahan.

Maka dengan segera aku mengenakan sepatu di atas rumput pekarangan yang selembut beledu, memberi isyarat supaya Cicera melakukan hal yang sama. Setelah empat kaki itu terbungkus dengan sepatu, aku mengambil Archibald dan Catriona. Menyerahkan Catriona pada Cicera, lantas aku menawarkan tangan kananku untuk menggamit tangan kiri sepupuku.

“Jadi kau mau ke mana, Sayangku?aku ingat saat itu bertanya sembari mengangkat boneka itu ke arah Cicera.

“Ke mana saja asal bersamamu, Archibald,” balas Cicera sambil mengeratkan genggaman tangannya.

Senyumku merekah lebar, “Baiklah, kita mengikuti arah angin saja ya!”

Aku berjalan menyusuri pagar kayu rendah sambil mengayun-ayunkan lenganku yang menggandeng Cicera. Membuat banyak sekali cerita baru tentang perjalanan imajiner saat itu. Tanpa terasa, siang menjadi sore, kami telah menghilang di balik semak pekarangan belakang rumah Dionysius Carradine.

Mataku mengerjap-ngerjap, saat mendapati sebuah pintu tingkap yang setengah terbuka di salah satu sudut pekarangan. Dua tahun aku kemari, belum pernah sekali pun mengetahui keberadaannya. Jullian pernah bercerita bahwa mereka mempunyai gudang minuman yang sangat luas di bawah tanah, maka aku mulai menyadari bahwa mungkin ini bisa menjadi pintu masuk alternatif ke bawah sana.

“Pssst, aku tahu tempat liburan yang menyenangkan!” Aku masih bermain peran sebagai Archibald, suami kesayangan Catriona. Menarik lengan Cicera supaya tubuhnya merapat pada tubuh mungilku, kami mengintip pintu tingkap yang setengah terbuka itu dengan hati-hati.

Cicera menggeleng kuat, menarik tanganku supaya kami pergi jauh-jauh dari sana. “Kurasa ini bukanlah tempat liburan yang menyenangkan, Suamiku,” Cicera mengetuk bahuku menggunakan bonekanya, seolah ia masih bermain rumah-rumahan denganku.

“Jangan takut, aku ada di sini,” aku mengangguk mantap, berusaha meyakinkan Cicera supaya aku bisa berkelana dalam ruang bawah tanah yang misterius itu.

“Tapi Kakek bilang—”

“Tidak ada Kakekmu kan sekarang?” Seringai jahilku muncul, kemudian mulai menjejakkan kaki ke arah tangga yang menuruni ruang gelap tersebut. Mataku mengerjap-ngerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang hampir alpa di bawah sini. “Cicera, sudah aman, ayo turun!” Aku berbisik sedikit keras pada gadis yang menatapku dengan bimbang, tanpa memandang matanya aku tahu bahwa Cicera tidak senang dengan ideku.

Gadis itu menyerah pada ajakanku untuk berpetualang di ruang bawah tanah itu. Kami kembali berpegangan, sebelah tanganku yang memegang Archibald mulai berfungsi ganda karena aku merabai dinding batu yang dingin. Di kejauhan, ada cahaya temaram dari obor yang mulai meredup. Namun aroma anyir itu mulai membuat sebelah tangan yang menggamit Cicera ditarik kuat-kuat.

“Kenapa?” tanyaku sambil berbalik pada gadis itu, langkahku terhenti.

“Aku takut, tempat ini gelap dan menyeramkan. Apalagi kalau Kakek tahu kita bermain-main ke sini …” Cicera mulai mencicit ketakutan, namun tanganku menggenggamnya lebih erat.

“Tenang saja, kita hanya akan melihat-lihat lalu pergi. Kita bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa,” aku berusaha menenangkan sepupuku tersayang. “Kau harus berjanji padaku tidak akan bersuara sedikit pun, oke?”

Anggukan Cicera yang setengah ketakutan membuat benakku sedikit merasa kalut. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri lorong itu hingga mencapai ujung lain. Kedua mataku sejak tadi mencari-cari rak-rak anggur yang lazimnya berada di gudang-gudang anggur seperti di kediamanku. Namun nihil, aku tidak menemukan botol-botol berleher tinggi dengan label `Carradine` yang seharusnya berada dalam krat-krat bertumpuk. Aku hanya menemukan rantai-rantai berat. Banyak sekali rantai. Beberapa tergantung secara permanen di langit-langit. Lebih banyak rantai yang tergantung pasrah setinggi dua meter di dinding.

Aroma anyir yang menusuk indra penciumanku secara samar tadi mulai menguat. Ketika aku berbelok mengikuti lorong, betapa terkejutnya aku menemukan ruangan yang lebih luas tanpa pintu. Tanganku dicengkeram erat oleh Cicera, gadis itu berjalan mundur perlahan tanpa kusadari. Aku hanya bisa menganga sesaat. Apa yang ada di hadapanku tidak bisa dicerna oleh otak seorang anak tujuh tahun.

Ada seseorang yang kedua tangannya dirantai ke dinding merintih ketika melihat kami.

“To-tolong …”

Bulu kudukku seketika merinding. Merasa iba, aku mendekat ke arah laki-laki itu. Kepalanya dipenuhi peluh di sana-sini. Jejak darah menetes dari kepalanya yang bocor. “A-apa yang bisa kulakukan untukmu?” Cicera bersembunyi di balik tubuh mungilku, aku bisa merasakan tangannya gemetar hebat.

“Lepaskan aku, sebelum dia datang.”

“Dia?” suaraku serak, seolah tidak tahu siapa yang dimaksud olehnya. Sebetulnya, jauh di lubuk hatiku, aku tahu siapa yang dimaksud laki-laki ini. Namun aku menolak percaya sebelum mendengarnya dengan telingaku sendiri, atau melihatnya dengan kedua mataku sendiri. Cicera kembali menarik-narik badanku, membuyarkan konsentrasiku. Tanpa berpikir panjang, aku menarik kasar tanganku dari dekapan tubuh Cicera, berusaha membebaskan kekangan pada tubuhku. “Siapa yang membuatmu hingga seperti ini?”

Dari kejauhan, ada suara langkah kaki menggema, mulai menuruni tangga dari ujung lain lorong tersebut. Tatapan pria itu nanar, berusaha meminta tolong padaku namun aku tak kuasa. Cicera sudah menarik tubuhku supaya bersembunyi di salah satu ceruk yang bernaung dalam kegelapan. Meninggalkan seorang pria yang tempurung kepalanya bocor seperti sebutir semangka yang dipecahkan terburu-buru.

Ketika langkah itu sudah memangkas jarak, sosok Kakek Dionysius Carradine jelas membayang pada kedua mataku. Dengan rambut yang memutih di sana-sini, ia tak jauh beda dengan Kakek Alastair. Kakek Dion menarik sebuah panel kayu yang semula dirapatkan pada dinding lorong. Menghasilkan sebuah meja kayu darurat yang tertaut rantai dari kedua sudut-sudutnya ke sebuah cincin besi yang tertanam permanen pada dinding. Dari sana, Kakek Dion mengambil sebuah pipa pemukul yang terbuat dari logam. Dia memukul-mukulkan pipa logam itu ke telapak tangannya yang kosong, seolah bersiap untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada pria itu.

“Jadi, apakah kau sudah mau memberikan nama-namanya?” geramannya terdengar samar. Aku bisa melihat ia tersenyum puas, sebelah ujung bibirnya terpuntir ke atas. Bagaimana bisa ia senang melihat orang yang sedang celaka? Jantungku berdentum-dentum menggertak rusukku. Boris berada di dalam mansion, aku tak mungkin memanggilnya sekarang hanya untuk menolong pria yang terikat rantai di dinding.

Jalan paling baik adalah menunggu. Gigi Cicera bergemurutuk pelan ketika kakeknya menyeret pipa itu yang menyisakan jejak garis samar pada lantai. Genggaman tanganku mengerat, Dionysius kini sudah berada di depan korbannya. Pria tua itu memagut dagu korbannya dengan tangannya yang pucat, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Tentu saja, aku dan Cicera bisa menebak apa yang akan terjadi. Pipa logam itu diangkat tinggi-tinggi, Dionysius siap memukul kepala korbannya tanpa ampun.

KLANGG!!

Punggungku terasa basah, sebagian karena keringat dingin yang membasahi, sebagian lagi aku bisa merasakan Cicera mulai terisak-isak ketakutan. Aku terkesiap saat lolongan pria itu terdengar seperti anjing gila yang dipukuli orang sekampung. Badanku mundur, mendorong Cicera yang terpojok hingga ke dinding berbatu yang dingin. Gadis itu mencicit kesakitan karena aku tidak sengaja menggencet tubuh mungilnya.

“Aaaa!”

“Ssssh!” desisku keras sambil berbalik dan membungkam mulut gadis itu. Archibald tergelincir dari genggamanku di luar kesadaranku.

Kami tidak tahu bahwa pendengaran Kakek Dionysius bisa menangkap suara sekecil apa pun. Suara langkah kaki itu dengan cepat berpacu ke arah kami. Cicera yang berhadapan denganku dengan tangan kecil sedang membungkam mulutnya, tiba-tiba terbelalak lebar. Kepalanya menengadah, menunjuk sesuatu yang muncul dari balik punggungku.

Tiba-tiba kerah kemejaku terasa sesak, badanku terangkat tinggi. Kakiku terayun-ayun beberapa senti di atas tanah. Dua mataku dihadapkan pada dua mata besar dan menuduh milik Kakek Dionysius.

“My, my. Tak kusangka masih ada tikus yang menyusup kemari, hmm?” retorika dari mulut Dionysius membuat bulu kudukku merinding.

“Maafkan kami, Kakek. Kami hanya bermain-main, berpetualang. Lalu menemukan tempat ini,” aku menjawabnya sepatah-sepatah, berusaha meyakinkan bahwa kesalahan ini adalah sebuah ketidaksengajaan.

BRUK!!

Badanku dihempaskan di lantai dengan kasar, aku bisa merasakan badanku ngilu-ngilu. Dionysius menarik cucunya sendiri, ingin melihat ekspresi gadis kecilnya di bawah pantulan cahaya.
“Kau, Nona Muda,” ujar Dionysius tajam. “Bukankah aku sudah berulang kali bilang bahwa tempat ini bukan untuk perempuan sepertimu?”

Cicera bungkam, ia menggigil ketakutan. Pelupuk matanya tampak berat, mungkin sebentar lagi dia akan menangis. Anggukannya cepat-cepat diberikan supaya kakeknya tidak murka. Aku berusaha kembali berdiri untuk mengajak Cicera keluar dari sana.

“Kakek, kami berjanji tidak akan kemari. Kami akan bersikap manis,” aku mengucapkan sumpah sambil mendekat ke arah Cicera. Dengan tangkas, Dionysius menghalangi langkahku menggunakan tungkainya yang panjang, kemudian menendang tubuhku supaya tidak mendekat ke arah cucunya.

“Jullian! Jullian! Cepat kemari!” suara membahana Dionysius terdengar. Tendangan darinya membuatku meringkuk kesakitan. Perutku terasa nyeri karena sepatu kakek Dionysius tepat mengenai ulu hatiku. Aku bisa merasakan pandangan menusuk yang dilemparkan oleh Kakek Dionysius.

“Uhh, perutku sakit. Kakek, kami tidak akan kemari lagi. Tidak, aku yang berjanji, tidak akan kemari lagi,” aku memohon dengan sungguh-sungguh sambil mendesis kesakitan. Mataku basah karena menahan rasa sakit ini. Rintihanku diabaikan, bahkan Kakek Dionysius kudengar tertawa lirih. Kini aku masih mendesis setiap ingatan itu muncul secara tiba-tiba.

“Hahaha. Kau, berjanji? Seorang cucu dari Alastair Carradine mengumbar janji?” pria itu tertawa semakin keras, membuatku semakin ingin tahu apakah dia bersungguh-sungguh. Kutengadahkan kepalaku tinggi-tinggi untuk mencari sorot mata itu. Apakah pria itu serius berkata seperti yang kudengar.

Aku mulai memahami betapa pria itu menaruh dendam kepada kakekku. Tawanya tidak surut-surut, juga sorot mata itu tidak jauh berbeda dari sorot mata kakek Alastair setiap aku melakukan kesalahan ketika memperkenalkan diri dalam Bahasa Prancis. Tertegun diriku, menyadari bahwa kedua kakak beradik itu sama-sama tidak waras. Namun pandangan penuh ketakutanku hanya membawa amarah baru pada Dionysius Carradine.

“Jangan menatapku dengan pandangan kurang ajar itu,” suaranya tenang namun dalam. Pria itu meletakkan sol sepatunya di pelipisku, berusaha menghalangi tatapanku yang terlalu ngeri pada kemurkaannya. “Berdoalah, Callum, selagi kau bisa,” tukasnya lembut dan tenang, seperti embusan angin pembawa badai yang meniup helai rambutmu dengan manja.

“Kakek, sa-kit …” suaranya terputus-putus, pelipisku yang sebelah merasakan dinginnya lantai plester ruang bawah tanah. Aku mencicit dan mulai berdoa. Melantunkan kata-kata yang betulan keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam. “Tuhan, tolonglah aku. Lepaskanlah aku dari siksaan yang tidak—”

“Salah! Ulangi!” bentak Dionysius padaku sambil menekan kepalaku hingga mata kananku sangat dekat dengan lantai.

Aku berpikir keras. Sepanjang pengetahuanku, Dionysius Carradine bukanlah pengusaha anggur biasa seperti kakeknya. Alastair bilang pria ini bertingkah layaknya seorang santo, sermon-sermonnya palsu. Seperti kebohongan manis yang meresapi peradaban bobrok di Canterbury. Perlahan ingatanku kembali; sermon, santo, dan Canterbury.

Dioysius Carradine adalah seorang Uskup Agung Canterbury. The Most Reverend Primate, The Archbishop of Canterbury.[1] Callum Carradine baru mengingatnya sekarang.

“Aku memohon,” suaraku terbata, sambil masih mendesis kesakitan. “Kepada Yang Mulia Dionysius Carradine. Kumohon supaya tidak menyiksaku atau Cic—argh!” Dionysius memelintir gerakan sepatunya sekali lagi di pelipisku. Tidak jauh berbeda dengan Alastair rupanya, semakin aku tampak kesakitan, mereka akan semakin menyiksaku.

Maka aku membungkam diri, menahan isak tangis dan desis kesakitan yang mungkin lolos dari sudut bibir. Cicera menarik-narik tangan kakeknya supaya berhenti menyiksaku, namun badan kokohnya bergeming melawan usaha setengah mati seorang gadis kecil. Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari arah luar. Jullian yang dipanggil Dionysius datang tergopoh-gopoh, lantas terkesiap melihat posisi kepalaku yang hampir rata dengan tanah.

“Tu-tuan Besar?” tanya Jullian sambil menegakkan tubuh di hadapan Dionysius. Tangan kuat yang mencengkeram lengan Cicera itu menghempaskan gadis kecilnya ke arah pelayan setia keluarga mereka. Cicera terhenyak, ia memekik pelan sambil kesakitan.

“Bawa Cicera pergi dari sini,” Dionysius mengedik pada pintu tempatnya semula masuk. “Tidak ada makan malam, juga makan pagi dan makan siang. Kunci dari luar.”

Aku mengangkat tanganku, berusaha menarik pergelangan kaki Kakek Dionysius supaya aku bisa bangkit. Namun usahaku gagal, Dionysius justru menginjak tanganku, dan menindihnya tanpa ampun. “Aarrrgh, ampun Kek!” aku merasa sedang melolong, seperti serigala yang mencari kawan di malam padang bulan. Pandanganku nanar, napasku terengah-engah, hanya bisa melihat Cicera yang ditarik paksa keluar dari sana sembari tidak melepaskan tatapan ketakutannya padaku.

“Bo-ris.”

Suaraku parau hampir-hampir alpa, melafalkannya pada gadis itu supaya memanggil pelayan setiaku. Boris bilang ia akan di rumah utama, namun aku yakin Cicera akan dikurung di kamarnya segera setelah ia menginjakkan kaki di sana. Pun Jullian tidak akan angkat bicara ketika waktu makan malam tiba, namun Callum tak kunjung kembali ke meja makan.

“Kakek kumohon, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan membocorkannya kepada siapa pun, kumohon,” insting kekanakanku untuk menyelamatkan diri seolah baru saja menyala. Siapa yang tahu bahwa tinggal bersama Alastair alih-alih dengan orang tuaku sendiri membuatku semakin terbiasa untuk disiksa?

“Hmm? Ha-ha-ha,” tawa sinisnya membuat siapa pun yang menjadi objek dominasinya mengerut. “Callum Carradine, cucu Alastair Sr. Carradine, mengemban nasib yang sama dengan kakekmu, eh?” Dionysius berjongkok menghadap padaku, lantas mengangkat daguku tinggi-tinggi supaya mataku bertatapan dengannya.

“Kau tahu, apa yang telah dilakukan kakekmu padaku?”

Aku menggeleng, jujur saja aku tidak tahu apa-apa selain kisah dari Alastair bahwa kakek Dionysius sedikit gila. “Ti-tidak tahu,” ucapku sambil terbata-bata.

“Hee … menarik sekali. Aku jadi penasaran apa yang diceritakan oleh kakekmu tentangku.”

Mendadak jantungku berdegup kencang. Hingga saat ini ia tahu betul bahwa lebih baik menutup mulut daripada harus mengucapkan kejujuran. Aku tidak bodoh. Setidaknya aku mengetahui hal itu. “Sudah kubilang, aku tidak tahu apa-apa, Kakek,” suaraku tercekik karena badanku terlalu sakit untuk diangkat. Kepalaku merasakan delirium parah yang hampir membutakan.

“Kau ingin tahu, apa yang dilakukan kakekmu padaku?”

Aku tidak mengangguk, maupun menggelengkan kepala. Ini hanyalah retorika lain yang dilontarkan Dionysius Carradine untuk memuaskan egonya. Maka aku hanya menuruti bagaimana adik kakekku ini menjalankan permainannya. Tubuh ringkihku diseret, tangannya mencengkeram kedua kerah kemejaku menuju bagian dalam terowongan yang belum sempat kujelajahi. Dionysius masih menggerung kesal, aku tahu amarahnya masih meluap-luap karena aku memergokinya menyiksa seseorang.

Sekarang aku tiba pada kesadaran bahwa, kedua orang yang kukenal ini adalah monster. Mereka, kedua insan yang saling mencibir dan memaki satu sama lain, namun di mataku keburukannya sama saja. Alastair yang selalu menuntutku untuk tampil sempurna dan siap memberiku hukuman apa saja supaya sopan santunku tak pernah lekang. Dionysius, tak ubahnya sang pewaris yang terbuang menghendaki cucunya menggantikanku sebagai pewaris utama.

“Monster.”

Dionysius terbahak. Perlahan, kemudian semakin keras. “Kau tahu, bagaimana Alastair berusaha menjatuhkanku dengan menyebar fitnah bahwa aku gila?” Dionysius mengangkat tubuhku, mendorongnya hingga badanku membentur dinding batu yang keras. “Aku, terusir dari rumahku sendiri karena ucapan kakekmu. Apakah Alastair pernah menyebutkan hal itu?”

Aku terbatuk-batuk, tenggorokanku terasa sakit. Tercekat karena rasa tangis yang tertahan, juga karena cengkeraman tangan Dionysius yang memblokir saluran pernapasanku.

“Jadi, beritahu aku. Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan dari cucu seorang pengkhianat sepertimu, Callum?”

Tatapanku nanar, mulai memahami apa yang membuat pria ini begitu mendendam kepadanya. Itu semua bukan dosa-dosaku, namun mengapa harus aku yang menanggungnya? Hatiku menjerit ngilu, tidak terima atas perlakuan ini. Dionysius membuka sebuah pintu yang sejak tadi berada di sisi tubuhnya, di dalamnya ada ruangan begitu gelap. Tiba-tiba pria itu melemparkanku ke dalam ruangan tersebut, seringainya terulas lebar.

“Renungilah kesalahanmu, Tuan Muda.” Lantas pintu itu berdebum tertutup, gerendel berat bergeser di sisi luarnya.

***

BANG! BANG! BANG!

Sudah berapa lama aku memukuli pintu berat ini? Aku meringkuk di sudut ruangan tanpa cahaya yang membuatku tak bisa mengira-ngira berapa luasnya ruangan ini. Namun aku terlalu takut untuk memeriksanya. Kesadaranku pasang dan surut seiring dengan waktu. Perutku melilit karena sangat lapar. Aku tidak dapat melihat apa pun, namun aku bisa mendengar segalanya dari sini.

Tentang lolongan pilu pria yang kepalanya bocor.

Tentang panasnya lidah api yang menjilat-jilat kulit kepala pria itu.

Tentang kedua bola matanya yang lebih baik tetap utuh daripada kelengkapan kaki dan tangannya.

Kakiku tertekuk, kepalaku berada di antara lutut. Kedua tanganku menutup telingaku erat. “Tidak, tidak. Aku tidak mau mendengarnya lagi,” ujarku pada diri sendiri. Isak tangisku mengiringi beberapa kali. Mana Boris? Apakah pelayanku itu tak lagi setia? Apakah tidak ada yang tahu bahwa aku sudah menghilang?

Sudah berapa lama aku berada di sini? Dua hari? Tiga hari? Aku sudah kehilangan hitungan.

Keributan lain dengan suara riuh terdengar dari kejauhan, membuatku semakin mengerut. Suara familier kakeknya membuat mataku mengerjap penuh pengharapan. Kakek? Boris? Gerendel berat pintu itu terbuka, pintunya terayun terbuka ke luar. Aku menyipitkan mata karena intensitas cahaya yang meningkat tiba-tiba. Aku menemukan Alastair yang geram menghela napas kesusahan. Kakek tampak jauh lebih tua dari biasanya.

“Callum!” seru kakek sambil berjongkok. Aku ditarik ke pelukannya, wajahnya masih pucat pasi melihat keadaanku.

“Kakek, kakek! Tolong aku, Kakek!” aku meraung-raung di pelukannya.

“Dionysius, aku tidak akan melupakan hal ini,” ujar Alastair tegas. Boris berusaha merebutku dari pelukan kakek, namun Alastair menghalaunya. “Ingat, keluargamu tidak akan pernah menjadi penerus Carradine.” Dionysius hanya mencebik ringan, seolah mengolok.

Seketika aku merasa bangga dan sangat menyayangi Alastair. Semua kebencianku luruh kepadanya. “Aku sayang kakek,” bisikku sambil dibopong keluar dari sana.

Kau tidak salah dengar. Aku sayang kakekku yang pengecut. Dahulu, sekarang, dan selamanya.

FIN

[1] Merupakan gelar yang didapatkan oleh Uskup Agung Canterbury, Inggris.

7 dukungan telah dikumpulkan

Comments