King’s Will

12 months ago
Indra Pharmantara

by: Indra Pharmantara

Aku terbaring kelelahan di rumput lapangan area pelatihan ksatria kerajaan siang itu setelah latihan bertarung melawan Mor. Mor dulunya adalah kapten ksatria elit kerajaan kami, Arules. Di umurnya yang sudah mencapai 60 tahun ini dia meminta izin dari Raja Arze, ayahku, untuk pensiun dari garis depan. Raja mengizinkannya dan menunjuknya sebagai pelatih para ksatria pemula.

“Apa Putri tidak apa-apa?” Tanya Mor sambil mengulurkan tangannya.

“Ugh… badanku susah digerakkan…” Jawabku menarik diriku bangun dengan bantuan Mor.

“Tidak heran. Putri sudah terlalu banyak menggunakan mana saat latihan tadi.” “mana” yang dibicarakan oleh Mor adalah sebuah kekuatan dalam tubuh berupa bahan mentah untuk menghasilkan kekuatan sihir.

“Kalau aku tidak bertarung seperti itu, aku tidak akan bertahan semenitpun melawanmu.”

“Aku merasa terhormat. Tapi ngomong-ngomong sihir Putri fleksibel sekali. Aku tidak pernah melihat ahli sihir selain Tuan Putri yang mengkombinasikan sihir dan pertarungan jarak dekat.”

“Tapi tetap saja aku tidak bisa mengalahkanmu.”

“Itu karena perbedaan pengalaman kita. Setelah Tuan Putri semakin menguasai cara bertarung Putri, aku tidak ada apa-apanya.”

Kami kembali ke dalam istana dengan dikelilingi tatapan penuh kagum para ksatria junior yang menyaksikan latihan tadi. “Putri, kami akan mendukungmu di Turnamen nanti.”

* * *

Namaku Fia Arules. Umurku 17 tahun. Putri kedua kerajaan Arules yang dipimpin oleh Raja Arze Arules. Aku memiliki 2 orang kakak. Pangeran Deis, kakak sulungku yang sudah dipastikan akan menjadi penerus Raja, dan Putri Eft. Aku sangat mengagumi kedua kakakku. Kak Deis dengan kemampuan berpedangnya telah menggantikan Mor sebagai kapten dan sekarang sedang berada di garis depan medan pertempuran untuk menahan serangan dari kerajaan tetangga. Kak Eft menemaninya sebagai ahli taktik yang telah memenangkan puluhan pertempuran dengan korban jiwa sesedikit mungkin yang bisa diharapkan.

Sebagai adik mereka, aku selalu dibanding-bandingkan dengan mereka. Apapun yang aku capai, selalu dijawab dengan “Seperti yang diharapkan dari adik Sang Pangeran.”, atau “Sebagai adik Sang ahli taktik, hasil seperti ini bukan tidak mungkin.” dari para bangsawan bawahan Raja. Tidak seorangpun yang memujiku karena jerih payahku sendiri, kecuali Raja.

“Kau telah berjuang keras.” kata Raja suatu ketika saat aku masih kecil.

“…” saat itu aku hanya bisa menangis memeluk Raja. Bukan, ayahku.

Tapi tidak lagi. Aku telah tunjukkan pada orang-orang bahwa aku tidak kalah dari kakak-kakakku. Setelah mengalahkan lawan-lawanku di Turnamen yang diadakan oleh Raja, aku berdiri di babak final. Lawanku adalah seorang petualang bernama Belza yang menggunakan pedang besar untuk bertarung dan baju zirah menutupi sekujur tubuhnya.

Gong berbunyi dan pertandingan final dimulai. Belza langsung berlari menyerangku dengan kecepatan seolah-olah baju besi berat yang dipakainya sama sekali tidak mempengaruhinya. Aku menyiapkan tongkatku dan mulai merapalkan mantra.

“~~~ Fire Ball!!mana berkumpul di ujung tongkatku dan bola api muncul dan menyerang Belza yang ditebas dengan pedang besarnya. Belza mengambil ancang-ancang menebas secara horizontal tapi aku siap menangkisnya dengan “~~~ Light Shield!”. Kekuatan tebasan Belza melebihi pertahanan perisaiku. Aku membiarkan diriku ikut terlempar dengan kekuatan pedangnya untuk menjauhi Belza.

Aku menangkap diriku sebelum terjatuh dengan “~~~ Mud Wall!” yang empuk lalu bersiap melancarkan serangan selanjutnya. “~~~ Mud Grab” tangan-tangan muncul dari tanah dan menyerang Belza. Belza menebas semua tangan yang muncul satu-persatu, membuat mereka kembali menjadi lumpur biasa. Tapi dia tidak tahu kalau itulah yang sudah aku rencanakan.

Belza kembali berlari menyerangku dengan gerakan yang sedikit tertahan karena lumpur yang menempel di badannya. Aku membidik lumpur tersebut dengan sihirku “~~~ Mud Grab!”. Lumpur di badan Belza berubah menjadi tangan dan menahan pergerakan Belza. Ini kesempatanku! “~~~ Compound! Elemental Fist!” dari 4 arah di sekeliling Belza, muncul sebuah kepalan tangan selebar 2 meter terbuat dari api, air, angin, dan tanah menyerang Belza.

Setelah debu di ring pertarungan menipis, semua penonton dapat melihat Belza sedang berlutut dengan satu kaki. Baju zirahnya kotor, penyok, dan retak di mana-mana. Dia berusaha berdiri dengan ditopang oleh pedangnya. Jelas sekali dia sudah tidak dapat melanjutkan pertandingan. Sejujurnya, rasanya cukup anti-klimaks.

Hasil pertandingan diumumkan dan seluruh penonton di arena turnamen bersorak. Raja menutup turnamen ini dengan sebuah pidato penutup dan undangan ke pesta di istana untuk semua peserta turnamen. Pesta akan diadakan besok malam agar para peserta bisa menyembuhkan diri sebelum menghadiri acara tersebut.

***

Siang keesokan harinya aku latihan bersama Mor seperti biasa.

“Aku cukup yakin bisa mengalahkan anak itu hanya menggunakan kakiku.” katanya saat aku meminta komentarnya mengenai pertandingan final kemarin.

“Sudah kuduga, lawanku saja yang terlalu lemah.” balasku menghela nafas.

Karena malam ini aku harus menghadiri pesta di istana, latihan hari ini hanya berlari mengelilingi lapangan ditemani para junior. Akan muncul masalah jika terjadi kecelakaan saat kita latihan bertarung sebelum acara seperti ini.

“Aku bahkan tidak perlu menggunakan pisauku untuk melawannya. Dia terlalu banyak memiliki celah sampai-sampai aku mempertanyakan kualitas petarung untuk turnamen ini.” tambahku.

“Mau bagaimana lagi? Semua petarung hebat sudah dikerahkan ke garis depan. Gaji di sana lebih besar dibandingkan hadiah dari turnamen ini.”

Aku memutuskan untuk menyudahi sesi latihan siang ini setelah semua ksatria junior yang berlari menemani kami tergeletak tak berdaya.

***

“Selamat karena telah memenangkan turnamen yang sudah diatur ini, Tuan Putri.” kata seorang pria paruh baya sombong. Para tamu pesta mengarahkan pandangan mereka ke arah kami.

Tuduhan demi tuduhan kecurangan dilontarkannya padaku. Pria ini adalah seorang bangsawan kelas bawah yang sepertinya memusuhiku karena Raja menolak permintaannya untuk menikahkan anaknya denganku beberapa tahun lalu. Benar-benar orang yang dangkal.

“…kalau anakku ikut turnamen itu, pasti dia bisa mengalahkanmu.”

Hee… aku melirik anaknya yang terlihat gugup sedikit di belakangnya. Dia mengenakan baju zirah lengkap dengan sebuah pedang panjang di pinggangnya. Mungkin dia bertugas sebagai bodyguard untuk ayahnya. Sekali lirik pun aku bisa tahu kalau dia tidak akan bertahan semenitpun melawanku. Aku membungkuk sopan sambil memegang ujung samping gaunku untuk pamit pada mereka tanpa berkata apa-apa lalu melangkah pergi.

“Putri! Aku menantangmu duel melawan anakku!” kata suara dari belakangku. Haah… sudah kuduga akan seperti ini.

“Boleh juga.” aku menjawab tantangannya.

“Bagus. Untuk waktu pertar…”

“…Ah, sekarang pun aku tidak keberatan.” potongku. Para tamu undangan langsung menjauh dari kami seolah membentuk arena untuk duel kami. Raja terlihat tidak keberatan dengan duel kami, tapi bisa dipastikan si bangsawan tadi akan dihukum karena telah mengganggu ketenangan pesta. Salah satu alasan kenapa aku menerima tantangan duelnya saat itu juga.

***

“Hahahaha!!! Fia, belajarlah untuk sedikit menahan diri. Apa jadinya kalau kau tidak sengaja membuat anaknya menjadi cacat lalu tidak bisa meneruskan keluarga ayahnya?” aku menghubungi Kak Deis dan Kak Eft menggunakan fitur video call dari kristal komunikasi ciptaanku.

“Eh? Aku sudah cukup menahan diri kok, Kak. Dia saja yang terlalu lemah.” kataku membela diri.

“Yah, semoga saja tidak ada lagi yang meragukan kemampuanmu seperti mereka.” Kak Eft tersenyum padaku.

Tidak perlu dipertanyakan lagi mengenai hasil duel tadi. Aku menang telak. Dimulai dengan lawanku maju menyerang sambil mengangkat tameng besarnya yang terlihat tidak stabil untuknya. Dengan tenang aku menyanggul rambutku dan mengeluarkan pisau perakku lalu mengalirkan mana ke dalamnya “~~~ Wind Rapier Mode.”, membuat pisauku mengeluarkan aura hijau membentuk pedang tipis. Aku menyerang titik kelemahannya di kaki pusat keseimbangannya. Dengan tameng seberat itu dan penggunanya yang terlihat jelas tidak terbiasa, ada banyak sekali titik kelemahannya sampai-sampai aku merasa ini bukan lagi pertarungan, tapi penyiksaan.

Di akhir pertarungan lawanku sudah terbaring dengan wajah penuh kesakitan. Aku mengubah posisi pisauku menjadi backhand dan auranya menjadi pistol keemasan dan menembak titik sedikit di sebelah telinganya membuatnya pingsan ketakutan. Penontonpun langsung bersorak merayakan kemenanganku. Aku melepas sanggulku lalu berjalan ke arah meja prasmanan mengambil minum. Aku lihat si bangsawan menarik anaknya keluar dari aula pesta dari sudut mataku.

Selesai bercerita pada kakakku, aku mematikan kristal komunikasiku, lalu melemparkan diriku ke tempat tidur sambil menatapnya. Ukuran kristal ini cukup untuk digenggam tangan, dan berbentuk seperti papan kecil. Kristal ini adalah alat sihir yang kuciptakan yang dapat melakukan komunikasi jarak jauh seperti yang baru saja kulakukan dengan kakak-kakakku.

Dengan alat ini aku melakukan revolusi besar-besaran mengenai media komunikasi kerajaan kami. Penerapannya dalam militer sangat membantu Kak Eft untuk mengatur taktik yang lebih efisien dengan hilangnya jeda waktu antar pesan. Alat ini adalah salah satu alasan aku tidak lagi dibanding-bandingkan dengan kakak-kakakku.

***

Dua tahun lalu, saat aku masih memiliki inferiority complex, aku memfokuskan diriku untuk mendalami ilmu sihir. Selain belajar dari ahli sihir tertinggi kerajaan, aku juga memperdalam pengetahuanku dengan membaca buku-buku di perpustakaan istana. Di salah satu buku, aku menemukan informasi mengenai Raja pertama, Gares Arules.

Raja Gares adalah pendiri kerajaan Arules. Dikatakan bahwa Raja Gares dan beberapa temannya datang dari sebuah kastil putih dengan bentuk yang aneh. Raja Gares mengumpulkan beberapa penduduk dari desa di sekitar lalu mengajari mereka untuk menjadi tentara. Setelah itu perlahan-lahan Raja Gares menyatukan desa-desa lain dan mendirikan kerajaan Arules.

Kehidupan para penduduk di bawah kepemimpinan Raja Gares sangat makmur. Berkat ide-ide dari Raja Gares para penduduk bisa menghasilkan hasil panen yang melimpah dibandingkan sebelumnya. Raja Gares juga menyebarkan sebuah papan yang disebut sebagai smartphone. Sebuah alat yang telah menjadi artifak dan terkubur di ruang bawah tanah istana karena tidak seorang pun yang mengetahui alasan kenapa artifak tersebut berhenti bekerja.

Menurut buku ini smartphone memiliki fungsi komunikasi dua arah tanpa jeda. Artinya orang-orang tidak perlu lagi menggunakan merpati atau pengantar pesan yang bisa membutuhkan waktu lama. Raja Gares menggunakan ini untuk memberikan perintah dan mendengar laporan dari bawahannya.

Anehnya, alat ini sama sekali tidak menggunakan sihir. Tidak ada tanda-tanda mana yang terkumpul seperti saat seseorang menggunakan kekuatan sihir. Para ahli sihir menjadi kebingungan mencoba mengerti cara kerja smartphone. Sinyal? Motherboard? Processor? Banyak sekali istilah yang tidak dimengerti. Hal ini membuat replikasi smartphone susah dilakukan dan akhirnya teknologi itu mati hingga saat ini. Raja Gares sempat frustrasi karena tidak seorangpun penduduk yang bisa mewarisi pengetahuannya.

Banyak hal yang dilakukan Raja Gares tidak dapat dimengerti oleh rakyatnya, tapi rakyatnya selalu percaya bahwa Raja Gares melakukan apa yang terbaik untuk rakyatnya, walaupun terlihat tidak berguna. Seperti saat Raja Gares menerbangkan sebuah tabung raksasa ke langit. Rakyat berpikir mungkin itu adalah ide Raja Gares untuk mengirimkan surat kepada Tuhan? Tidak ada yang tahu.

Menjelang akhir hayatnya, Raja Gares sudah menyerah untuk menyalurkan ilmunya mengenai smartphone dan sering terlihat pergi ke hutan di sebelah barat kerajaan. Ada seekor naga hidup di hutan itu, membuat para bawahan Raja khawatir setiap kali Raja bepergian. Aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang dilakukan Sang Raja Pertama di hutan tersebut.

***

“Hah, hah, hah…” Aku terengah di dalam kubah tanah yang kubuat dengan sihir untuk melindungi diri dari semburan api naga.

Gawat, pikirku. Buku itu bukan sekadar dongeng. Karena tidak pernah ada serangan naga di daerah sekitar, aku pikir naga di dalam buku itu sudah lama pergi sejak jaman Raja Pertama ratusan tahun lalu.

Setelah semburan apinya berhenti, aku menghilangkan kubah yang kubuat dan langsung berlari menuju sang naga. Naga itu mengibaskan ekornya dari samping yang kuhindari dengan “~~~ Wind Step!” ke udara. Aku menggunakan sihir angin untuk membuat pijakan di udara dan menghindari serangan-serangan naga lalu terus mendekatinya.

“~~~ Earth Needle!” dengan sihirku, pilar-pilar besar berbentuk jarum menyerang naga itu. Sebagian jarum patah karena kuatnya sisik naga, tapi tidak masalah. Aku terus memunculkan pilar-pilar itu yang lama-kelamaan menahan naga tersebut. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk memasuki menara yang dijaga oleh naga tadi. Aku tidak harus mengalahkannya.

***

Aku bisa mendengar suara geraman naga di luar, tapi sepertinya dia tidak akan menyerangku jika aku di dalam menara ini. Aku tidak menghiraukannya dan menaiki tangga ke ruangan di puncak menara. Di dalam menara ini cukup terang walaupun tidak ada jendela atau obor. Satu-satunya sumber cahaya adalah tabung-tabung putih yang bercahaya lebih terang daripada obor di dinding menara. Anehnya saat kuperiksa aku tidak merasakan aliran mana dari tabung itu. Sepertinya bukan alat sihir menggunakan sihir cahaya.

Di ruangan di puncak menara, aku melihat banyak sekali barang-barang aneh. Aku mengenali salah satunya sebagai smartphone, artifak di kerajaan kami.

“Anak kecil, kau tidak seharusnya datang ke sini.” kata seseorang tiba-tiba mengagetkanku.

“… siapa yang kau sebut anak kecil?” balasku. Aku tidak melihat siapapun di ruang ini.

“Ini adalah menara Raja Gares, sahabatku. Aku telah menjaga tempat ini selama ratusan tahun.” suara itu berasal dari luar jendela. Di jendela itu aku melihat tatapan naga yang penuh kemarahan.

***

“Hoo… jadi kau adalah cucu Gares? Kalau dipikir, baumu memang sedikit mirip Gares.” kata Erda, naga yang menjaga menara ini setelah aku memperkenalkan diri.

Erda adalah naga api yang dibesarkan oleh Raja Gares. Naga api selalu meninggalkan telur mereka di alam liar. Anak naga yang tidak bisa bertahan hidup akan segera menjadi mangsa makhluk lain. Hal ini menjadi alasan jumlah populasi naga api yang sangat sedikit. Sebaliknya, untuk anak naga yang berhasil bertahan hidup, mereka menjadi sangat kuat saat dewasa karena kerasnya kehidupan mereka sejak lahir.

Untuk Erda yang dibawa oleh Raja Gares sejak kecil dan hidup di alam liar, mungkin ia tidak sekuat naga api lain, tapi setelah hidup di antara manusia, Erda mendapatkan ilmu dan kebijaksaan sebagai ganti kekuatannya. Erda bisa menggunakan sihir, hal yang tidak bisa dilakukan oleh naga api lain. Walaupun saat bertarung denganku tadi dia tidak menggunakannya karena dia tidak serius bertarung melawanku.

Erda mendengar ceritaku mengenai ambisiku untuk berdiri sejajar dengan kakakku, dan mengenai apa yang kubaca di buku tentang Raja Gares dan artifaknya. Sepertinya Erda cukup familiar dengan artifak-artifak yang dibuat oleh Raja Gares, tapi sayangnya Erda hanya mengerti cara menggunakannya, dan bukan cara kerjanya. Alat-alat untuk menciptakan artifak itupun semuanya hilang saat kastil putih tempat tinggal Raja Gares hancur beberapa puluh tahun lalu saat wabah monster menyerang.

Erda bercerita tentang kunjungan Raja Gares ke menara ini menjelang akhir hayatnya. Raja Gares meninggalkan semua pengetahuannya di dalam kotak ini yang disebut komputer, untuk suatu hari ditemukan oleh seseorang yang mungkin bisa menghidupkan kembali teknologi yang hilang.

“Jadi, aku harus menekan ini?” tanyaku lalu menyalakan komputer. Aku tidak merasakan aliran mana di alat ini. Sungguh aneh. Menurut Erda, Raja Gares sama sekali tidak dapat menggunakan sihir. Mungkin itu salah satu alasan artifak yang dibuatnya dapat digunakan oleh semua orang dengan mudah bahkan untuk orang yang tidak punya kemampuan sihir sekalipun.

***

Selama beberapa hari aku tinggal di menara itu. Setiap hari Erda membawakanku binatang hasil buruannya di hutan yang kemudian dia masak dengan nafas apinya. Aku harap dia membawakanku sayuran atau buah-buahan sekali-kali. Sambil mengigit paha ayam tangkapan Erda hari ini, aku membaca file di sebuah folder “Curhat”.

“Tiga bulan sejak aku membangun kerajaan ini, aku dan teman-temanku semakin gencar mempromosikan smartphone kami dan membangun hubungan baik dengan penduduk. Para penduduk menerima baik smartphone ini. Segalanya berubah digital. Atau setidaknya media komunikasinya yang berubah digital.

Tapi sepertinya perjalanan ini akan semakin berat untuk ke depannya. Kita semakin kehabisan material untuk membuat smartphone di pabrik, dan aku belum menemukan alternatif penggantinya. Ah… aku perlu kopi.”

Dari file itu aku tahu bahwa ternyata Raja Gares pun tidak begitu mengerti komponen artifak yang dibuatnya. Artifak itu dibuat oleh golem yang ia sebut “Robot” di dalam istana putihnya yang disebut “Pabrik”. Suatu hari material yang diperlukan untuk membuat artifak ini menipis, sehingga produksi harus dihentikan. Raja Gares kemudian berusaha menyalurkan pengetahuannya ke rakyatnya dengan harapan ada yang memiliki ide tempat di mana mereka bisa mendapatkan material yang dibutuhkan atau setidaknya memiliki alternatif lain menggunakan sihir. Karena tidak mendapatkan jalan keluar, akhirnya teknologi ini terlupakan.

Aku mencoba membuat beberapa rumus menggunakan sihir yang aku tahu untuk membuat alat sihir dengan fungsi seperti smartphone. Tumpukan kristal tempat menyimpan mana yang juga merupakan produk gagal hasil eksperimenku semakin meninggi. Sebulan sejak aku tinggal di menara ini akhirnya aku berhasil membuat sebuah kristal komunikasi yang mirip smartphone yang diceritakan di dalam komputer.

Kristal ini dapat menyimpan mana di dalamnya sehingga orang yang tidak dapat menggunakan kekuatan sihir pun dapat menggunakannya. Aku mengukir beberapa lingkaran sihir sebagai pengganti mantra. Hanya dengan menyentuhnya lingkaran ini akan bereaksi dengan mana yang tersimpan di dalam kristal lalu mengeksekusi mantra di dalamnya. Menyentuh lingkarannya sekali lagi akan memutuskan hubungan lingkaran itu dengan mana.

Lingkaran yang kubuat di kristal ini berisi mantra serupa dengan mantra yang digunakan oleh mata-mata untuk merekam barang bukti berupa gambar, dan mantra untuk memperbesar volume suara. Gambar dan suara yang diambil oleh mantra ini akan diberikan kode khusus yang kemudian disebarkan ke aliran mana seperti sungai di dalam Bumi yang disebut leyline. Kristal lain yang menjadi penerima akan mengambil gambar sesuai dengan kode tersebut lalu membentuk sebuah koneksi serupa video call. Saat koneksi diputuskan, gambar dan suara dengan kode tersebut hilang dari leyline sehingga komunikasi juga terputus.

Dengan teori yang sama aku menambahkan fitur untuk mengirim pesan berupa surat. Bedanya, untuk yang satu ini kristal penerima langsung menerima isi surat tanpa harus disetujui oleh pemilik kristal seperti saat menerima koneksi video call. Jika mana di kristal telah habis, pemiliknya dapat mengisinya sendiri dengan menyalurkan mana ke dalamnya.

Selain itu aku membuat sebuah senjata. Mungkin sebuah pisau akan cocok untukku? Sebagai seorang ahli sihir, hampir tidak ada skenario di mana aku harus bertarung dalam pertarungan jarak dekat. Dengan ilmu yang kudapat dari buku-buku yang dikumpulkan oleh Raja Gares, yang mungkin digunakan sebagai bahan riset alternatif smartphone, aku membuat sebuah pisau yang dapat menerima mana penggunanya. Dengan mengubah pola kristal di gagang pisau ini, aku dapat memunculkan senjata dari berbagai elemen. Aku sudah memasukkan lima elemen ke dalamnya. Api yang akan memunculkan sebuah pedang besar, air yang akan menjadi cambuk, angin yang akan menjadi pedang tipis rapier, tanah yang akan menjadi palu, dan cahaya yang akan menjadi senjata bernama pistol berdasarkan informasi yang ditinggalkan oleh Raja Gares.

***

Malam itu sehabis mandi Erda memberitahuku bahwa ada sekitar 100 prajurit sedang menuju ke sini. Mereka berkumpul sekitar 300 meter dari menara ini. Aku baru ingat kalau waktu itu aku hanya berniat untuk pergi dari istana selama beberapa hari. Karena penemuan ini aku malah tinggal di sini selama sebulan lebih. Mungkin pasukan tadi adalah pasukan yang dikirim Raja untuk mencariku.

Saat aku berpikir seperti itu, sebuah cahaya menyilaukan datang dari arah hutan menyerang Erda. Erda menahannya dengan sihir Shield, tapi sepertinya dia sedikit terlambat karena sayapnya terluka. Sihir tadi bukan sihir yang digunakan untuk menyelamatkan sandra! Walaupun lawan mereka adalah seekor naga, menggunakan sihir seperti tadi terlalu beresiko. Kalau saja Erda tidak berhasil menahannya, cahaya tadi bisa menelan seluruh menara tempatku berada saat ini.

Merasa ada yang aneh, aku melompat keluar dari jendela menara dan mendarat dengan Wind Step. Saat itu juga puluhan ksatria datang menyerbu. Dengan ditemani serangan bola-bola sihir dari pasukan jarak jauh di belakang mereka.

“Selamatkan Tuan Putri!!!”

“Habisi naga itu!!!” teriak mereka. Aku ada di depan kalian!

“~~~ Wind Barrier!!” sebuah membran berwarna hijau transparan muncul di udara dan menahan bola-bola api yang datang.

Apa kalian benar-benar datang untuk menyelamatkanku?! Ksatria-ksatria yang datang sedang bertarung melawan Erda, dan aku yang menghadapi serangan dari pasukan jarak jauh. Aku tidak yakin ini adalah operasi penyelamatan. Aku keluarkan pisauku lalu mengalirkan mana ke dalamnya “~~~ Flame Sword Mode”. Pisauku mengeluarkan aura seperti api membentuk sebuah pedang besar. Dengan Wind Step aku menghindari bola-bola api yang datang lalu membalas dengan api berbentuk bulan sabit ke arah mereka, sebisa mungkin tidak membunuh mereka.

Setelah bertarung selama sejam, aku dan Erda mengikat semua pasukan dan menginterogasi mereka. Tampaknya mereka disuruh oleh seorang bangsawan. Tepatnya bangsawan yang beberapa waktu lalu meminta untuk menikahkan anaknya denganku. Mungkin dia tidak terima dengan keputusan Raja lalu memutuskan untuk membunuhku saat aku hilang. Para ksatria ini dibujuk dengan bayaran mahal dan “Kalian tidak akan dituduh membunuh Putri jika kalian bisa menjadikan naga itu sebagai kambing hitam.”. Untung saja aku tidak menikah dengan anak dari orang seperti itu. Aku memutuskan untuk pulang keesokan harinya bersama Erda dan membawa mereka sebagai saksi.

“FIA!!! AWAS!!!!!!” teriak Erda tiba-tiba saat aku merapalkan mantra Wind Step untuk kembali ke ruang di puncak menara. Cahaya menutupi pandanganku dan sekilas aku melihat bayangan Erda. Sihir Cahaya level tinggi, Judgement.

Erda terkena serangan Judgement yang dilancarkan oleh para pasukan ahli sihir. Dia tidak sempat menangkisnya dengan Shield seperti sebelumnya. Setelah cahayanya mereda, Erda ambruk di depanku. Tubuhnya perlahan-lahan terkikis dan menjadi abu. Kejadiannya begitu cepat aku tidak sempat bereaksi apa-apa.

“Ahh…” begitu sadar, di depanku hanya tersisa tumpukan abu Erda.

“Ahhh…” tanganku gemetar.

“. . .” tidak akan kumaafkan.

“Kalian…” seperti menjawab kemarahanku, angin bertiup kencang. Langit menjadi gelap. Ini adalah sihir ciptaan terbaruku yang dapat mengendalikan cuaca. Dengan gabungan sihir api, air, dan angin, aku mengubah tekanan udara di sekitar dan menciptakan awan dengan menguapkan air. Tak lama kemudian, awan petir terbentuk. Sihir yang kugunakan sebenarnya adalah sihir level rendah yang tidak membutuhkan mantra. Aku mengimplementasikan ilmu yang kudapat dari komputer dan menciptakan sebuah sihir baru. Sihir Fisika. Aku mengendalikan titik-titik air di udara untuk menjadi jalur yang akan dilewati petir dan menyerang pasukan yang telah membunuh Erda.

Hujan mulai turun. Pasukan-pasukan tadi semakin ketakutan. Kilat menyambar tapi karena aku belum terbiasa, aku tidak bisa membidik mereka dengan tepat. Sedikit lagi…

“Fia…”

Sedikit lagi aku akan bisa membidik mereka.

“Fia!!”

Berisik! Aku harus berkonsentrasi!

“Fia! Tenanglah!”

Eh?? Erda???

“Fia, tenanglah. Aku telah menjadi telur.” kata suara Erda di dalam kepalaku. Perlahan-lahan pikiranku menjadi jernih. Aku menghilangkan awan petir yang kubuat tadi.

“Naga Api itu kuat. Setelah hidup selama beratus-ratus tahun, Naga Api yang mati akan terlahir kembali sebagai telur.”

***

Aku menaruh kristal komunikasiku di meja di sebelah tempat tidurku lalu membaringkan badanku. Beberapa hari lagi alat teleportasi ciptaanku tiba di kastil tempat Kak Deis dan Kak Eft berada. Alat ini akan menghancurkan tubuh seseorang di titik A, lalu merekonstruksinya kembali di titik B dengan seketika. Saat tubuhnya hancur, jiwa orang tersebut akan masuk ke leyline dan pergi ke tempat tubuhnya direkonstruksi, dan teleportasipun selesai.

Teori ini tidak dapat disalahgunakan seperti misalnya seseorang ingin memindahkan jiwanya ke tubuh orang lain, atau untuk menghindari kematian. Jiwa seseorang itu seperti kunci yang hanya bisa masuk ke pintu yang cocok dengan dirinya. Jiwa seseorang yang terpisah walaupun sedetik saja tanpa menemukan tubuh yang cocok akan terhisap ke dalam leyline dan hilang selamanya, karena itu jiwa orang tersebut harus mati bersama tubuhnya, atau hilang begitu saja. Semoga saja tidak ada orang bodoh yang nekat menantang maut karena hal ini, pikirku.

***

Minggu ini, seperti biasa aku pergi ke menara di hutan barat. Sejak saat itu aku terus mengunjungi telur Erda setiap minggu. Awalnya aku ingin membawanya ke istana, tapi menurut guru ahli sihirku, telur naga api seperti Erda yang muncul dari abu lebih rapuh dibandingkan dengan telur dari induk naga api. Telur Erda harus selalu dikelilingi abunya sebagai inkubator.

Walaupun Erda sedang berada dalam keadaan yang sangat rentan, tidak ada seekor hewanpun datang mengganggu telurnya. Ini adalah karakteristik telur naga yang terus mengeluarkan aura yang membuat hewan lain tidak nyaman saat berada di dekatnya. Setidaknya aku tidak perlu khawatir tentang keadaan Erda.

Setelah makan siang berupa daging bakar, seperti yang biasanya dibawakan Erda untukku dulu, aku kembali ke istana. *Krak*, aku mendengar suara retakan kecil saat aku bersiap untuk kembali. Suara itu berasal dari telur Erda. Di sana ada garis retakan halus yang kemudian semakin membesar. Aku bisa melihat sebuah mata berkilat terkena cahaya dari lubang di telur itu. Tidak lama kemudian, seekor naga kecil keluar dari cangkang telurnya lalu menatapku.

“Selamat datang kembali, Erda.”

20 dukungan telah dikumpulkan

Comments