Kohaku

2 months ago
Sumber: A. Pradipta
A. Pradipta

by: A. Pradipta

Entah sudah berapa tahun berlalu sejak saat itu.

Aku, Nakajima Masaharu—yang beranjak tua tanpa pernah menghitung hari demi harinya—hanya mampu memandang langit senja di musim semi yang kata orang selalu indah ini dengan tatapan nanar. Sama seperti senja kemarin, musim lalu, bahkan berpuluh-puluh tahun lalu.

Mungkin bagi orang lain aku adalah seorang veteran perang Asia-Pasifik yang cukup beruntung karena bisa kembali ke Jepang tanpa menemui kesulitan yang berarti. Banyak dari teman seangkatanku yang harus merelakan masa mudanya habis menjadi tawanan perang sebelum bisa kembali pulang. Mereka yang seperti itu biasanya mencercaku habis-habisan. Mereka mengataiku sebagai prajurit yang beruntung, pemuda yang dilindungi Dewa, anak mami kebanyakan jimat, dan lain sebagainya. Tidak. Mereka salah. Sebenarnya aku tidak seberuntung yang mereka kira.

“Kehilangan satu kaki masih jauh lebih beruntung ketimbang kehilangan martabat!” begitu kata mereka dengan menatap sinis kaki kananku yang tidak lagi berfungsi. Aku hanya mendengus saja, tertawa kecil lalu menjalankan kursi rodaku menjauhi mereka. Mereka jelas tidak mengerti. Dan tidak akan mudah membuat mereka mau mengerti.

Namun aku selalu berharap suatu saat nanti mereka akan memahami kisah rahasia kecilku yang bagai batuan karang digerogoti erosi ini. Kisah yang kini telah lenyap dihapus zaman. Era di mana kesederhanaan dan tradisi mulai tergeser oleh teknologi yang tak kupahami sama sekali. Segalanya berubah digital. Berubah semu. Namun tidak untuk sketsaku ini.

Ya. Hanya lewat sketsa dengan guratan pensil kasar yang selalu menemani sisa hela nafasku inilah aku bisa mengingat segala kejadian pada hari-hari itu. Sketsa di atas kertas buram yang kubuat untuk kuberikan padanya. Ia yang telah menghangatkan hatiku pada dinginnya masa perang.

“Sensei!”

Ah. Tanpa terasa senja pun telah berubah rupa.

***

“Oi, Nakajima! Bilang pada dia kalau kita mau singkong-singkong ini!”

Aku mengernyitkan dahi mendengar seruan itu. Saat itu—aku masih ingat jelas—memasuki pertengahan bulan Maret tahun 1942 pada jadwal patroli ketiga kami di sebuah pasar di Kota Semarang, sebuah kota besar yang berada di tengah pulau Jawa. Shimura dan Tadashi yang tengah mengganggu seorang wanita pedagang singkong melirik tajam ke arahku. Jujur sebenarnya aku malas menanggapi tingkah kekanakan mereka. Tapi sebagai seorang perwira muda Dai Nippon Teikoku Kaigun—Angkatan Laut Jepang, aku juga punya anggapan bahwa menakut-nakuti pribumi dengan bayonet kami yang masih baru ini terlihat cukup keren.

“Hah? Kenapa harus aku?” tanyaku pura-pura bodoh.

Tadashi menjawab sambil memainkan singkong-singkong di tangannya. “Kan cuma kamu yang bisa bicara Bahasa…” Oh, menyebalkan sekali.

“Ck. Ryoukai—Oke…” kataku malas lalu mendekati wanita pedagang singkong itu. Mukanya begitu pucat. Aku ingat sekali suasana saat itu. Pasar yang semula ramai mendadak menjadi hening. “Ibu,” kataku dengan berbahasa Indonesia lancar, “Kami mau singkong-singkong ini! Gratis. Semua satu bakul, berikan pada kami!”

Wajah si wanita pedagang semakin pucat namun entah dengan keberanian dari mana, ia merebut singkong dari tangan Tadashi lalu memeluknya erat.

Ndak mau! Saya baru mau kasih kalau Tuan mau beli!” seru wanita itu tanpa memandang kami. Shimura yang bertempramen tinggi tanpa aba-aba menendang bakul yang penuh berisi singkong itu hingga seluruh isinya berhamburan lalu berteriak-teriak seperti kesetanan. Akibatnya si wanita pedagang singkong menangis mohon ampun begitu keras. Selain itu acungan bayonet Tadashi membuat nyaris seluruh orang di pasar berlarian menyelamatkan diri. Kurasa mereka sudah berlebihan. Aku tidak mau ikut campur dengan kekacauan itu. Biar dua kunyuk itu yang bereskan.

Lalu…

Itte! Oi, dareka kitekure, teme! Sini hadapi aku kalau berani!” teriak Shimura.

Aku tidak tahu dari mana batu besar itu berasal karena Shimura telah melongok-longok sambil memegangi kepalanya yang benjol akibat tertimpuk batu tak bertuan itu. Dan dari kerumunan orang-orang yang memojok di sudut pasar, sepasang kaki kecil muncul. Tangan mungil seseorang yang menggenggam ketapel menyeruak di antara tubuh besar orang-orang.

“Oh, ternyata anak perempuan. Berani sekali, ya!” kata Shimura dengan menurunkan bayonetnya lalu terkekeh memandang sosok yang muncul dengan langkah berdebam itu. Tampak sekali ia meremehkan gadis itu. Saat itu entah mengapa aku yang semula tidak tertarik dengan kekacauan tersebut mendadak tersedot oleh tatapan matanya yang bulat besar. Gadis kecil dengan tangan dan kaki ringkih namun nampak begitu menjulang di mataku. Tangannya yang merentangkan ketapel tanpa amunisi bahkan nampak lebih kuat dari tangan Tadashi yang menenteng bayonet.

“Pergi dari sini, dasar kalian penipu!” teriak gadis berkepang dua itu. Suaranya yang kecil menggelegar ke seluruh penjuru pasar. Ia semakin merangsek kami untuk mundur lalu melanjutkan kata-katanya masih dengan tekanan suara yang sama. “Kalian bohong! Kalian membual kalau kalian datang sebagai Saudara Tua! Tapi nyatanya apa? Ha! Kalian pikir kami takut? Ndak! Sama sekali ndak! Ini negeri kami dan kami tidak akan tinggal diam jika kalian terus menginjak-injaknya!”

Aku tidak akan pernah lupa saat itu. Saat di mana semua orang di pasar yang semula meringkuk mencari perlindungan mendadak berani menegakkan tubuhnya dan berdiri di belakang gadis kecil berkepang dua itu untuk melawan kami. Mata gadis itu menusuk nyalang tepat ke arah mataku. Bahkan ia tidak gentar sedikitpun walau kami terus menerus memasang tampang galak dan mengacungkan bayonet.

Oi, oi, oi. Nani yattenno? Oi!—Ngapain kalian?” teriak Tadashi dengan suara bergetar karena dirangsek oleh begitu banyak orang. Kami pun memutuskan untuk menghindari masalah dengan segera pergi dari pasar. Dari kejauhan, sosok gadis kecil berketapel itu terpatri kuat dalam ingatanku.

Karena keributan di pasar itu, kami dipindahtugaskan di pos jaga garda depan di kota Magelang. Aku menyalahkan namun juga berterima kasih pada dua kunyuk Tadashi dan Shimura yang secara tidak langsung mempertemukanku dengan gadis misterius itu. Hah, dengan malu kukatakan bahwa selama tiga tahun bertugas di Magelang, aku terus terpikirkan mengenai peristiwa itu. Ehm, lebih tepatnya terpikirkan mengenai gadis itu. Dia benar-benar membuatku penasaran setengah mati.

Di kepalaku wajahnya kuingat jelas, sejelas ketika bertatapan langsung dengannya. Karenanya sebelum memori itu hilang, kulukiskan wajah gadis pemberani itu pada berlembar-lembar halaman buku sketsa milikku—sebelum perang aku adalah mahasiswa seni dengan potensi yang katanya cukup menjanjikan tapi arena mendesaknya perang, semua mahasiswa kecuali mahasiswa teknik dan kedokteran harus mengikuti wajib militer. Awalnya kuakui hal itu sebagai sebuah kesialan tiada ampun. Namun sejak bertemu dengan gadis itu, aku mengerti bahwa keikutsertaanku dalam wajib militer adalah sebuah kesengajaan yang tak nampak dari para Dewa. Dan karena aku tidak pernah tahu nama gadis itu, iseng-iseng kuberikan julukan untuknya.

“Matsu-chan.”

Artinya bunga melati. Cocok sekali, bukan?

***

Tiga tahun terasa bagai tiga abad. Meski aku berhasil naik pangkat menjadi seorang Kapten, bagai seorang anak kecil minta dibelikan mainan oleh orang tuanya, aku berojigi di depan atasanku selama lebih dari satu jam untuk minta ditempatkan lagi di kota Semarang. Atasanku sebenarnya tidak mengizinkan karena di sanalah aku membuat kekacauan tiga tahun sebelumnya. Tapi coba kuyakinkan dengan prestasi-prestasi yang kudapat semasa di camp Magelang, ia akhirnya luluh juga.

Ah, masih kuingat jelas perasaan ketika menginjakkan kaki di Stasiun Tawang setibanya di Semarang. Aroma manis udara yang sangat kukenal sekaligus kukenang menyeruak memenuhi rongga hidungku. Lalu wajah Matsu-chan kembali terbayang…

Kudengar bulan lalu negeri Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Namun aku tetap tidak terpengaruh oleh berita itu. Di tengah-tengah misi penjagaan negeri ini sebelum diserahkan balik pada Belanda, satu atau dua jam dalam sehari aku menyempatkan diri untuk menyamar sebagai seorang guru bahasa Jepang, mengitari kota dan mencari tahu keberadaan Matsu-chan. Aku merasa butuh untuk menyembunyikan identitasku sebagai seorang tentara Nippon, sebab jika tidak begitu, di matanya aku hanyalah seorang ‘penjajah’. Aaah. Kurasa saat itu aku sudah benar-benar gila. Dan berita mengenai ‘hobi’ baruku yang aneh ini dengan cepat menyebar ke seluruh markas bagai terbawa angin musim. Tapi… Itu bukan lagi jadi soal saat kami menyadari fakta bahwa kekuasaan kami di negeri ini tinggal menghitung hari.

***

Pada suatu malam tanpa bintang, di sebuah daerah terpencil di pinggiran kota Semarang. Saat itu aku sudah mulai lelah dengan misi penyamaranku. Entah sudah berapa kali aku berlaku konyol menyamar seperti itu tapi tidak sekalipun aku berhasil menjumpai Matsu-chan. Sempat terpikirkan kalau Matsu-ku telah mati di tengah keadaan negerinya yang kacau balau. Itu sangat mungkin terjadi. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Aaaaah!

“Lepaskan!”

Tiba-tiba kudengar suara seorang gadis berteriak seperti menghindari sesuatu.

“Ayo, Dek. Melu mas wae…” timpal sebuah suara milik seorang laki-laki. Kurasa ada yang tidak beres. Saat kutelusuri sumber suara, dari balik rimbun pepohonan jati aku melihat seorang laki-laki berbadan besar yang tengah menarik-narik tangan seorang gadis. Gadis itu meronta namun sepertinya ia tidak bisa mengalahkan kekuatan sebesar itu.

“Lepas! Aku ndak mau ikut denganmu! Pengecut!” teriak gadis itu lebih kencang. Namun laki-laki berbadan besar itu semakin kuat menarik tangan sang gadis. Aku tidak bisa tinggal diam.

“Oi, lepaskan dia!” teriakku. Mendengar teriakanku, laki-laki berbadan besar itu mendorong jatuh sang gadis begitu saja lalu menatapku nyalang. Codet di pipi kanannya terlihat begitu mengerikan di bawah cahaya bulan. Ini adalah pertama kalinya aku melihat pribumi dengan tampang semengerikan ini.

Laki-laki itu pun meracau dengan bahasa Jawa yang kurang kupahami. Lalu ketika tangannya mengambil sesuatu dari saku, aku memasang kuda-kuda untuk melawannya. Benda yang ia ambil dari sakunya—sebuah pisau lipat yang berkilat, dengan cepat membelah udara dan menuju langsung ke arahku.

Mungkin terdengar sombong tapi bukan perkara susah membereskan preman macam begini. Kutangkis tangan yang memegang pisau lalu kuhentakkan sehingga pisau itu melayang jauh. Dengan kekuatan penuh kutendang perutnya dengan kakiku yang bersepatu bot. Ia terkapar sejenak namun ternyata dugaanku salah. Laki-laki ini seperti monster. Seakan tidak mempan dengan seranganku sebelumnya, ia bangkit lagi dan memukul wajahku telak, membuatku tersungkur ke semak-semak.

“Tuan!” teriak gadis itu. Entah mengapa kekuatanku bangkit kembali ketika mendengar suara gadis itu. Setelah berhasil bangkit berdiri, aku berlari menuju sang laki-laki besar, meninju wajahnya dan menendang keras-keras perutnya. Dan ia pun telak tersungkur.

Kukibaskan kemejaku yang kotor terkena dedaunan dan tanah lalu memasang kembali kacamata yang tadi sempat terjatuh.

“Kau tidak apa-apa? Mau kubantu?” tanyaku pada gadis itu yang sedang mengumpulkan pakaian-pakaiannya yang berserakan dari wadah yang ia bawa. Ia menunduk saja. Tapi walaupun gelap, aku bisa melihat semburat kemerahan pada kedua pipinya…

“Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa berdiri sendiri,” katanya ringan, tanpa memandangku sama sekali. Saat itulah, aku mendengar suaranya lebih jelas. Suara itu, suara yang telah menghantuiku selama tiga tahun ini… Mata bulat itu, mata yang tidak pernah membuat tidurku nyenyak…

“Kau…”

“Awas, Tuan!”

Aaaakh!” teriakku saat tengkukku dipukul sangat keras oleh seseorang. Rupanya laki-laki berbadan besar itu masih bisa bangkit berdiri.

Durung mati, kowe, heh! Rasakno!” pekik sang laki-laki berbadan besar sambil melayangkan lagi tinjunya padaku. Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga aku tidak tahu bagaimana detilnya. Yang jelas saat membuka mata, aku menjumpai pemandangan yang aneh sekaligus indah… Gadis itu mengepalkan tangannya—nampaknya ia berhasil memukul barang satu atau dua kali, lalu membuat pria berbadan besar itu sempoyongan melarikan diri. Aku tercengang melihatnya. Melihat punggung kecil gadis itu yang naik turun karena ledakan amarah dan kekuatan yang entah didapatnya dari mana.

Benar, itu adalah dia.

Punggung kecil yang dulu menghadapku untuk melawan, kini membelakangiku untuk melindungi.

“Tuan tidak apa-apa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan padaku. Sedetik dua detik kemudian aku tidak bisa bereaksi. Kilasan gambar di kepalaku mengenai hubungan kejadian barusan dan kejadian di pasar berkelebat begitu cepat. Hingga ia menyapaku lagi, aku baru tersadar dari lamunan.

“Ah, iya, daijoubu. Tidak apa-apa,” kataku sambil menerima uluran tangannya untuk membantuku berdiri. Sejenak aku merasa canggung. Mungkin akibat kehangatan tangannya?

“Ehm,” kataku lagi setelah berhasil tegak berdiri, “Ah… Kalau bisa bela diri seperti tadi… Kenapa tidak dipakai sejak awal saja?” tanyaku, sekadar memecah canggung. Ia hanya menjawab dengan tawa. Oke, kuanggap tawa itu artinya ‘untuk mengerjai Tuan’. Lalu sunyi lagi.

“Ah, anu…” kataku memecah kesunyian. Ia melirikku dengan pipi yang masih bersemu merah. “Kenalkan, aku Nakajima Masaharu, seorang—” nyaris saja saat itu aku membongkar kedokku sendiri dan akan kehilangan dia lagi hanya beberapa menit semenjak bertemu kembali. Setelah berdehem dan menegakkan badan supaya terlihat keren, aku mengulang, “Aku Nakajima Masaharu, seorang guru bahasa Jepang biasa. Kau?”

Ia menyelipkan rambutnya yang ikal di belakang telinga lalu memandangku malu-malu dan berkata canggung. “Nama saya Sahara, Tuan. Eh, gadis pribumi biasa.”

Sahara. Nama yang bagus. Langsung tersimpan rapat di loker memori khusus.

Saat itu aku benar-benar bahagia. Selain itu… Kurasa bukan hanya aku saja yang jatuh cinta. Kurasa ia pun demikian. Yatta!

***

Rupanya aku cukup pandai bersandiwara juga. Beberapa kali keluar dengan dalih mengobservasi sesuatu, sebenarnya aku pergi mengirimkan surat pada Sahara lewat kurir pribumi bayaran. Dan hampir semua surat itu berbalas. Walau kubilang surat, sebenarnya lebih mirip telegram. Kata-katanya pendek namun butuh waktu lebih dari setengah jam untuk membaca balasannya dari awal hingga akhir. Setiap goresan hurufnya, kuamati lekat-lekat. Ia ternyata gadis yang cukup pandai ditandai dengan tulisan tangan yang baik dan bahasa yang santun. Berasal dari keluarga pedagang dan hanya tinggal dengan kakaknya yang sakit-sakitan. Lewat surat-surat itu, aku memberi tahunya kalau aku adalah seorang guru bahasa Jepang di sebuah sekolah rakyat yang merupakan bekas MULO, sudah tertarik dengan Indonesia sejak dulu dan suka sekali menonton Wayang Potehi. Tentu saja semua itu bohong. Kecuali bagian di mana kubilang suka nonton Wayang Potehi.

Surat-surat itu kukirim diam-diam sebab aku tahu jika ia tinggal di daerah ekstremis. Aku tahu mereka semua benci orang-orang kami, apapun statusnya. Bahkan beberapa minggu lalu kudengar ada seorang Nippon tukang foto yang babak belur dihajar hanya karena menanyakan nama seorang gadis yang beberapa hari sebelumnya ia foto. Untung saja aku punya akses dan cukup uang untuk membayar seorang pribumi yang mau bekerja sama. Begitulah fungsi utama uang di masa perang, kira-kira.

Lalu malam itu, ketika surat kesepuluh kuterima darinya, ia hanya menulis pendek.

Saya ingin sekali bertemu. Bisa kan, Sensei?

Dan kubalas buru-buru dengan kertas yang kusambar sembarang.

Tentu saja. Besok pada jam ibadah malam di pinggir hutan yang dulu. Jangan sampai ada yang tahu. Aku juga ingin sekali bertemu.

***

Sudah beberapa menit lamanya aku berdiri di balik bayang-bayang pohon mahoni di pinggir hutan. Sahara agak terlambat. Maklum saja, mungkin cukup susah kabur dari kampungnya diam-diam walau pada jam-jam itu kebanyakan orang pribumi sedang pergi ke langgar untuk beribadah.

Lalu aku masih ingat dengan jelas, saat suara-suara langkah kaki kecil terdengar bergesekan dengan dedaunan kering pohon mahoni. Dan sosoknya pun terlihat. Awalnya hanya berupa siluet saja namun lama kelamaan kelihatan jelas. Sahara datang dengan menutupi hampir setengah dari tubuh kecilnya dengan kain jarik. Ia melongok-longok namun tidak terlihat sedikitpun semburat takut di wajahnya. Dari balik pohon mahoni, aku terkesima melihat betapa ia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Jauh lebih cantik daripada yang kuingat ketika kejadian tiga tahun lalu di pasar.

Tidak tahan ingin segera menyapanya, aku melangkah keluar dari balik bayang-bayang pohon mahoni. Sahara masih melongok kesana kemari, tidak menyadari kedatanganku.

“Sahara-san?” bisikku padanya. Ia menoleh cepat ke arahku lalu tersenyum. Lebar sekali. Seperti ada kelegaan yang menyeruak dari dasar hatinya.

Sensei!

Ssst! Nanti ada yang dengar!” desisku padanya dengan menempelkan telunjuk di depan bibir lalu terkekeh. Ia menutup mulutnya dengan lucu kemudian perlahan aku pun berdiri di sampingnya. Beberapa saat lamanya kami hanya berdiri diam memandang bintang. Lomba diam dengan angin. Dan setelahnya, aku masih ingat jelas isi dari setiap perbincangan kami. Bahkan hingga di hari tuaku.

“Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Apakah kau senang, Sahara-san?” tanyaku tanpa memandangnya.

“Iya, tentu saja, Sensei… Saya memang sudah lama ingin bertemu…” katanya lembut. Entah aku yang salah dengar atau apa, tapi rasanya suaranya jauh lebih lembut ketimbang dulu. Aku menaikkan sedikit sudut bibirku. Cukup untuk memberikan kesan kalau aku keren.

“Hei, Sahara-san,” kataku kemudian, “Mulai saat ini boleh aku panggil kamu Matsu-chan? Em, sebab kurasa itu cocok sekali denganmu.”

Ia memelengkan kepala sedikit dan menjawab, “Matsu? Memang Matsu artinya apa, Sensei?”

Kuluruskan kaki lalu meliriknya, “Matsu itu artinya bunga melati. Karena bagiku, kau itu gadis pribumi yang mirip melati. Maksudku, yah, kau tahu kan kalau melati itu—ehm… Cantik,” aku berkata terbata lalu menyesali diri sudah berkata berlebihan. Tapi perkataanku barusan telak membuat wajahnya yang semula bersemu merah kini menjadi merah seluruhnya. Lucu sekali.

“Ah, saya tidak pernah merasa seperti itu… Saya bahkan tidak sempat menyisir rambut…” katanya malu-malu sambil memegangi rambutnya yang ikal.

Aku menjawab singkat, dengan sebelumnya memandangnya lekat-lekat. “Justru kesederhanaan itulah yang menjadikanmu semakin mirip bunga melati.” Perkataanku itu sukses membuatnya memalingkan wajahnya dariku. Tidak dapat dielakkan lagi ia pasti sangat malu.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Segara?” tanyaku melawan canggung. Yang kumaksud adalah kakak laki-laki Sahara yang sejak dulu sakit-sakitan.

“Akhir-akhir ini kondisinya lebih buruk. Jadi saya tidak bisa sering meninggalkannya,” katanya dengan wajah sendu. Aku manggut-manggut, biar terlihat memperhatikan. Kalau boleh jujur, daripada memperhatikan ceritanya, aku justru lebih memperhatikan naik-turun nada suaranya.

“Oh, begitu. Kalau ada apa-apa kau bisa cerita padaku, ya,” jawabku disambut ucapan terima kasihnya. Bersamaan dengan itu, aku teringat sesuatu. “Oh iya, ini aku bawakan sesuatu,” kataku sambil mengambil barang yang kusimpan di saku jaketku. Sengaja kulipat serapi mungkin agar ia menyukainya.

Dengan wajah penuh tanya, ia meraih lipatan kertas yang kuberikan padanya lalu perlahan membukanya. Dapat kulihat perubahan raut wajahnya seiring dengan terbukanya kertas itu. Hingga kertas itu telah terbuka seluruhnya, ia tersenyum begitu lebar. Lebih lebar dari senyum dia sebelumnya.

“Ini sketsa wajah saya?” tanyanya antusias.

“Kau senang?”

“Tentu saja saya senang! Terima kasih banyak, Sensei!” katanya riang dengan memandang wajahku lekat-kelat. Aku ingat sekali, saat itu seperti ada jutaan bintang yang memenuhi permukaan bola mata bulatnya.

“Saya betul-betul senang, Sensei. Sangat senang hingga ingin rasanya saya simpan di bawah bantal. Tapi…” mendadak wajahnya berubah sendu. Perasaanku seketika menjadi tidak enak. “…sebenarnya sangat sulit untuk menyimpannya tanpa diketahui Mas Segara…”

“Memangnya ada apa dengan kakakmu?” selidikku, pura-pura tidak tahu. Padahal di dalam hati, aku sudah tahu jawabannya. Kuberharap dugaanku salah.

Sahara menurunkan sketsanya dan berkata tanpa memandangku, “Mas Segara sangat benci dengan orang Jepang. Terutama prajuritnya. Sebenarnya saya pun demikian…”

Dugaanku ternyata benar.

“Tapi,” lanjut Sahara dengan raut wajah yang kembali ceria, “Saya tidak ada masalah, kok dengan Sensei. Sensei kan guru bahasa Jepang!”

Seketika semua kebohonganku padanya tampak menari-nari di dalam kepalaku. Aku tidak bisa selamanya berbohong.

“Sahara, aku ingin menyampaikan sesuatu. Tapi aku takut kau akan marah.”

“Memangnya hal apa itu sampai membuat saya marah?” katanya masih dengan menggenggam erat sketsa buatanku.

Aku betul-betul tidak tenang. Tidak bisa menduga reaksi apa yang bakal Sahara keluarkan kalau mendadak aku ngomong seperti ini. Tapi, yaru shikanai—tidak ada lain kali.

“Kau ingat tiga tahun lalu saat kau mengusir prajurit Jepang di pasar?”

“Ah, iya, saat itu! Tentu saja masih ingat…Eh, kenapa Sensei bisa tahu?” tanyanya. Alisnya mulai mengkerut membuatku mulai tidak berani menatap wajahnya.

Tanpa sadar aku telah berjalan berputar membelakanginya. Sebab aku tidak mau melihat secara langsung bagaimana reaksinya. Aku yang bodoh ini memutuskan untuk bicara.

“Aku tidak bisa terus merahasiakan hal ini padamu. Sebenarnya… Sebenarnya aku bukanlah seorang guru. Aku adalah salah satu dari prajurit-prajurit Nippon di pasar itu…”

Sahara hanya mematung. Karena perasaan tidak enak, aku segera membalikkan badan lalu membungkuk padanya dan melanjutkan dengan tegas, “Maafkan aku telah berbohong padamu! Ini kulakukan semata-mata hanya agar aku bisa terus bicara denganmu seperti ini!”

Seperti di awal bertemu, kami kembali lomba diam dengan angin. Perasaanku saat itu sungguh bercampur aduk. Dan perasaan itu masih kuingat jelas hingga saat ini. Perasaan ketika Sahara berteriak ‘Jadi selama ini Sensei bohong?’, perasaan ketika ia melemparkan kertas sketsa yang sudah ia remukkan dengan tangan mungilnya, dan perasaan ketika ia melangkah pergi meninggalkanku tanpa pernah berpaling. Semuanya kuingat jelas. Bahkan suara sedunya yang semakin hilang ditelan kegelapan pun masih terngiang jelas.

Aku sudah tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Dan sejak saat itu kami tidak pernah bertemu. Entah sudah berapa surat dan sketsa gambar yang kukirimkan padanya secara diam-diam sebagai permintaan maaf namun tidak satupun balasan kuterima. Aku tidak tahu apakah ia masih mencintaiku. Tapi bagaimanapun juga aku akan tetap mencintainya.

***

Oktober 1945. Di tengah bergejolaknya perang mempertahankan kemerdekaan, Kota Semarang terguncang dengan adanya desas-desus peracunan sumber air minum di Reservoir Siranda, di daerah Candilama oleh tentara Jepang. Hal tersebut memaksa seorang dokter yang dikenal dengan nama Dokter Kariadi untuk memeriksanya. Namun sayang sekali beliau tidak pernah sampai. Dalam perjalanannya ke Reservoir Siranda, Dokter Kariadi beserta beberapa pemuda yang mengantarnya tewas ditembak oleh tentara Jepang di daerah Pandanaran.

Hal itu memicu perang antara pemuda Semarang dengan tentara Jepang, berpusat di areal yang saat ini berdiri monumen Tugu Muda. Perang yang berlangsung pada tanggal 15-19 Oktober 1945 ini dikenal sebagai ‘Pertempuran Lima Hari Semarang.’

Di situlah dan di saat itulah, aku berada. Dengan hati yang masih remuk redam aku menerima perintah untuk menyerbu kota Semarang yang telah berkecamuk akibat masalah air minum itu. Tentu saja aku berusaha mati-matian memfokuskan diri pada tugas apalagi kini aku telah diserahi tanggungjawab sebagai seorang komandan. Namun setiap menutup mata, wajah Matsu-chan selalu terbayang…

Pusat kekacauan ada di depan gedung bekas maskapai kereta api Hindia Belanda. Aku sudah menyerahkan bagian itu kepada anggota peletonku. Aku sendiri melakukan gerilya bersama kelompok kecil di pinggiran kota Semarang karena kudengar banyak pasukan pribumi dari luar kota datang untuk membantu pasukan di Semarang. Namun di tengah perjalanan menuju pinggiran kota, peletonku berhasil dibelah oleh sekelompok gerilyawan dengan begitu mudah—seakan mereka sudah merencanakan hal ini beberapa tahun lamanya—sehingga menyisakan segelintir orang di pihakku.

“Aku akan buka jalan. Akan kukirim sinyal jika ada bahaya. Kalian bagi dua kelompok, pantaulah daerah sekitar sini. Tiga puluh menit lagi, temui aku di pinggiran kota. Jika aku tidak ke sana, itu artinya aku sudah mati! Wakatta?” kataku memastikan.

Ryoukai!” jawab beberapa anak buahku yang tersisa. Mereka lalu membagi kelompok menjadi dua dan berpencar, meninggalkanku sendirian. Sebisa mungkin akan kutahan pasukan bantuan. Dalam keadaan yang kacau ini, aku betul-betul berharap Matsu-chan sudah aman di bunker bersama kakaknya. Betul-betul berharap demikian. Walaupun aku sangat sangat menyesal tidak dapat melindunginya dengan tanganku sendiri.

Jika perang tidak pernah ada… Jika kami bisa terus bersama… Ah, hanya ‘jika’ saja tidak akan mengubah realita.

Suatu ketika, di belakang reruntuhan pos jaga, aku melihat sosok yang mendekat. Ia berjalan mengendap-endap dengan membawa bambu runcing. Di kepalanya terikat bendera merah-putih. Dari badannya yang kecil, jelas sekali kalau dia adalah seorang perempuan namun ia memakai pakaian laki-laki lengkap dengan atribut perang. Sebagai seorang prajurit terlatih, aku tidak boleh begitu saja menganggap remeh perempuan karena bisa jadi dia juga prajurit terlatih.

Maka begitu perempuan itu membalikkan badannya membelakangiku dan nampak lengah, segera saja kutodongkan laras senapan ke belakang kepalanya.

Hanase! Lepaskan senjatamu!” teriakku padanya. Perempuan itu menghentikan langkahnya dan masih berdiri membelakangiku. Kulihat tangannya yang mencengkeram bambu runcing nampak gemetaran. Sepertinya bukan seorang prajurit terlatih.

“Kubilang lepaskan senjatamu, dengar tidak?!” bentakku lebih keras dilatarbelakangi suara dentuman kecil jauh di sana. Gadis itu masih belum bergerak. Lalu ia bergumam pelan.

Sen—sei…?”

Aku terkesiap. “Sensei?”

Lalu gadis itu menjatuhkan bambu runcingnya hingga menimbulkan suara berdebam. Dengan ragu-ragu ia pun membalikkan badannya menghadapku. Membuatku terkejut.

“Matsu-chan?!”

Sahara memalingkan wajahnya dariku yang segera menurunkan senapan. Kataku dengan begitu khawatir, “Bagaimana bisa kau ada di sini? Dan lagi, kau menyandang senjata…”

“Saya menggantikan Mas Segara, Sensei! Semua laki-laki di kota harus ikut berperang. Saya tidak bisa membiarkan Mas Segara yang sedang sakit pergi berperang. Jadi saya harus pergi menggantikannya…”

“Tapi kau kan perempuan! Lebih baik kau berlindung—”

“Tapi, Sensei, saya bukan perempuan lemah! Saya bisa melindungi negeri saya dari—”

“Dari apa, Matsu-chan? Dari kami? Dari aku? Ya, ya, benar, aku memang monster yang telah mengoyak kehidupan kalian semua…”

Lalu kami diam merembeti waktu.

“Sudahlah, Sensei. Kita sudah tidak punya banyak waktu! Saya dengar pasukan bantuan akan datang ke sini sebentar lagi. Cepat pergi dari sini! Tidak ada gunanya menahan mereka sebab jumlahnya sangat banyak…”

“Baiklah, tapi kau juga ikut denganku! Kita akan cari tempat aman bersama-sama—”

“Tidak, Sensei. Ini negeri saya. Saya akan baik-baik saja saat bertemu dengan pasukan bantuan. Tapi bagaimana dengan Sensei? Sudah pasti membahayakan! Cepatlah pergi!” Sahara berkata dengan panik. Kulihat genangan air di kedua pelupuk matanya. Dengan cepat aku melempar senapanku ke tanah lalu menarik tubuhnya mendekat. Aku mendekapnya erat. Sangat erat. Saat itu aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia untuk entah yang keberapa kalinya.

“Kukira kau benci padaku…” kataku lembut tepat di samping telinganya. Sahara masih diam saja. Mungkin cukup kaget. Tapi perlahan tangannya memeluk erat punggungku dan ia pun menenggelamkan wajahnya ke dadaku.

“Tidak, Sensei. Sama sekali tidak. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah membenci Sensei…”

Kami berpelukan lebih erat. Suara dentuman bom di belakang kami seakan sama sekali tidak terdengar. Aku ingin waktu berhenti saat itu juga. Agar bisa terus bersamanya seperti itu. Tidak peduli harus selalu hidup di tengah kekacauan, asalkan bisa bersama, itu sudah lebih dari cukup.

“Matsu-chan…”

“Mati kau, Nippon!” teriak seseorang dari arah belakang. Dan bagai kilatan cahaya, aku merasakan sesuatu yang meluncur cepat ke arahku. Dan hanya beberapa detik kemudian, aku tumbang karena sebuah timah panas meluncur menembus kaki kananku.

“SENSEI!” teriak Sahara saat aku sudah terkapar bersimbah darah. Kakiku mati rasa dan tubuh bagian bawahku tidak dapat digerakkan sama sekali.

Lalu, saat itu pun tiba. Sebuah momen yang tidak dapat kulupakan seumur hidupku. Momen yang membuat rasa bersalah terkubur dalam-dalam dan mengendap lalu membusuk di dalam diriku. Membuat jiwaku mati perlahan-lahan.

Sahara berlari ke arah seseorang yang menembakku—yang kemungkinan besar adalah salah satu dari pasukan pembantu pribumi. Orang itu sedianya akan menembakku lagi karena tembakannya yang pertama meleset dan hanya mengenai kakiku. Lalu dalam bayang-bayang samar senja, aku melihat Sahara berdiri tegak di depan si penembak dan mencengkeram ujung laras senapannya, berusaha mengahalangi dengan tubuh mungilnya. Beberapa kali si penembak minta Sahara untuk menyingkir namun ia masih dengan teguh mencengkeram senapan itu.

Dan sebuah suara ‘dor’ di tengah senja yang berangsur-angsur sunyi pun seakan merontokkan jantungku. Suara yang kelak akan terus menghantui tidurku.

Sahara tertembak. Tepat di jantungnya.

“Tidak, tidak. Ini tidak mungkin. Matsu-chan… Tidak…” kataku terbata, dengan menyeret badan yang tidak bisa lagi diajak bekerja sama, berusaha sekuat tenaga untuk menjangkaunya. Air mataku meledak keluar dan rasa sakit yang semula berpusat di kaki kananku kini berpindah ke ulu hati. “Tidak, Matsu-chan. Kau masih di sana, kan? Kau baik-baik saja, kan? Uuugh! Ayo kita pergi sekarang. Perang sudah usai… Kita akan pergi jauh… Berdua saja… Uuuugh!”

“Nakajima Ta’i!” suara-suara bermunculan dari celah pikirku. Lalu tangan-tangan pasukanku yang berusaha menyeretku pergi dari tempat itu menjadi pertanda bahwa ini adalah akhir dari perkenalanku dan dia.

“Tidak, tidak. Kita tidak boleh pergi meninggalkan Matsu-chan. Tidak…” kataku kuyu saat tenagaku telah lenyap habis. Lalu aku hanya bisa pasrah menyaksikan tubuh Sahara yang pelan-pelan semakin menjauh dariku. Jauh, jauh, dan sangaaaaaat jauh.

“MATSU-CHAN!” teriakku sekencang-kencangnya, memantul melampaui waktu.

Aku memejamkan mata. Senja sudah sepenuhnya berubah menjadi malam. Lampu-lampu kota mulai dinyalakan. Tokyo yang tidak pernah tidur menjadi latar belakang diriku yang duduk sendirian.

Aku kembali menangis seperti pada saat itu.

***

Entah sudah berapa tahun berlalu sejak saat itu.

Dadaku sesak saat bab terakhir dari kisah Matsu-chan yang masih kuingat kini telah berakhir. Tidak mungkin mengharap dia akan terlahir kembali di hadapanku sebagai Matsu-chan yang kukenal dulu. Kalaupun hal itu terjadi, aku tidak yakin apakah dia masih mengingat namaku atau tidak. Karenanya, tidak berjumpa dengannya di dunia ini adalah pilihan terbaik.

Kini sudah saatnya bagiku untuk menjemput Matsu-chan di surga.

Saraba.

***

—A. Pradipta

10 dukungan telah dikumpulkan

Comments