Last Soul of Winter War

6 months ago
Muhamad Fajar Susanto

by: Muhamad Fajar Susanto

Salju saat itu pasti akan menumpuk seperti selimut tebal saat malam tiba. Menyelimuti permukaan daratan serta bukit-bukit yang membujur serta melingkari pasukan yang mencoba menyerang secara tiba-tiba beberapa menit yang lalu. Seluruh teriakan yang membangkitkan semangat itu telah hilang seketika ditelan angin malam yang berhembus cukup kencang. Suaranya mengusik daun-daun dan pepohonan di hutan tempat masuk mereka. Sungguh sepi hanya hembusan angin itu yang terdengar.

Di tengah tumpukan tubuh-tubuh pasukan yang sudah tak bersuara lagi, salah satu tubuh mencoba menggerakan jemarinya. Ia mencoba membuka matanya secara perlahan namun sayang tak bisa sepenuhnya terbuka. Matanya yang sedikit kabur memandang sekelilingnya dengan susah payah. Ia mencoba mengangkat badannya, mulai berdiri dan berjalan menyeret kakinya. Baju zirahnya berwarna hitam kotor karena terkena ledakan beberapa saat yang lalu. Ledakan yang menewaskan beberapa orang seketika.

“ Siapapun.. Tolonglah masih ada yang hidup, kumohon.. “ desahnya perlahan.

Lelaki itu terus melangkah melewati lautan mayat dengan baju zirah besi yang sama. Badannya terasa berat melihat seluruh tatapan mata yang kosong. Rekan-rekan seperjuangannya telah mendahuluinya. Tapi ia berusaha menyusuri untuk menemukan siapapun yang masih hidup sama sepertinya. Di tengah tiupan dinginnya angin malam musim dingin itu, tekadnya tidak luntur sama sekali. Walau kakinya berat serta langkahnya yang tertatih, ia masih mencari.

“ Groeben ! “ teriaknya kaget.

Lelaki itu langsung mengangkat sebuah tubuh yang lain dan menemukan apa yang ia cari. Sebuah tubuh yang terbujur kaku. Bibirnya terlihat mengeras karena dinginnya cuaca saat itu. Sedikit beberapa bagian baju zirahnya telah tertutupi salju. Lelaki itu menyapu salju dengan tangannya dan seketika ia melihat jari kelingkingnya bergerak. Tangisan mulai mengalir deras secara spontan. Ia menyadari bahwa masih ada yang hidup. Sahabatnya masih bisa ia selamatkan, pikirnya saat itu.

Ia segera mencopot salah satu tali pintal yang ia bawa sebelumnya dan mengambil milik kawannya itu. Ia membuat kepangan terhadap dua tali itu agar lebih kuat. Setelah selesai, dengan cepat ia mengikat kawannya di bagian perut lalu menyeretnya di tengah badai salju secara perlahan. Lelaki itu berusaha tidak mencopot baju zirahnya karena ia menyadari bahwa ia akan membeku tanpa pelindung apapun saat itu. Baju zirah yang terasa sangat berat, ia seret secara terus menerus. Lelaki itu melangkah entah ke arah mana, berusaha meminta bantuan di tengah hutan, di bawah naungan badai salju.

Matanya berbinar saat ia menemukan sebuah goa yang terlihat cukup besar. Lelaki itu kembali menarik kawannya yang masih terbujur kaku. Baju zirahnya terlalu berat saat itu namun kesadarannya menjadi salah satu yang selamat, membuat dia tetap bersemangat untuk menarik kawannya itu.

Dalam perjalanan menuju goa, lelaki itu memotong beberapa ranting pohon yang cukup kuat dengan pedangnya serta mengambil beberapa batu dan menggenggamnya dengan tangannya yang sedikit lemas karena kedinginan. Lelaki itu berjalan terus berjalan hingga akhirnya ia menemukan sebuah goa yang di dekat sungai yang telah membeku. Setelah sampai, lelaki itu meletakkan tubuh kawannya itu bersandar dengan dinding goa yang cukup dalam.

Lelaki itu mengambil ranting kayu yang dinilai cukup besar lalu menggosok-gosokkan kayu namun tidak berhasil.

“ Ayolah menyala ! “ teriaknya tak sabar.

Ia berganti mengambil bebatuan dan menggosoknya dengan stamina yang tersisa. Badannya menggigil. Namun tekadnya tak berhenti sedikitpun. Ia hanya ingin menghangatkan kawannya agar tidak tewas karena kedinginan. Beberapa kali, lelaki itu menampar wajah kawannya agar ia terus sadar dengan rasa sakitnya. Setelah tidak bisa dengan batu, ia kembali dengan kayunya. Karena beberapa ranting itu sedikit basah, lelaki itu berulang kali tidak bisa menyalakan api.

Berulang kali. Hingga kepercayaannya mulai berkuranng secara perlahan. Satu yang ia tahu bahwa ia telah berjanji kepada kawannya itu untuk kembali ke kampong halaman mereka dengan nyawa yang masih utuh. Kenangan yang mulai berputar di pikiran lelaki itu terus menerus menjaga semangatnya. Lima buah. Empat buah. Tiga buah. Hingga akhirnya tersisa dua batu di tangannya itu.

Jika ini tak berhasil maka lelaki itu harus mencari batu serta ranting pohon yang lain di luar goa. Ia khawatir kawannya tidak akan selamat jika ditinggal dalam suasana yang dingin cukup lama. Pikirannya membeku dengan cepat saat itu.

“ Tuhan, jikalau kau melihatku, tolong bantu hambamu ini.. “ tangisnya dalam batin.

Namun saat itu keajaiban terjadi. Takdir tidak membuatnya mati saat itu juga. Dua batu terakhir yang ia gosokkan dengan susah payah, menyala dan menghasilkan sedikit percik api. Dengan cepat lelaki itu menaruh percik api serta bara api kecil ke ranting. Alhasil ranting itu mulai terbakar sedikit demi sedikit. Lelaki itu meniup beberapa kali hingga api dirasakan melahap ranting cukup banyak dan menimbulkan suasana hangat.

Lelaki itu bersandar di bagian goa yang lain. Melihat kawannya itu terlindungi dari hangatnya. Namun rasa kantuk serta lelah tiba-tiba menendang badannya secara tiba-tiba. Mungkin ia akan istirahat sedikit. Tertidur sambil menunggu badai salju ini mereda bukanlah hal yang begitu buruk baginya. Matanya mulai menutup. Beberapa kenangan mengambil alih pikirannya saat itu.

Lelaki itu melihat sebuah desa dengan ladang padi yang menguning, menyusuri satu jalan setapak utama tempat beberapa kuda pengangkut gabah serta beberapa sayuran melewatinya. Angin pedesaan yang berhembus lembut ke arah lelaki itu. Rumah-rumah berdiri tak tinggi dengan menara kincir angin yang berdiri kokoh di sebelahnya. Terlihat beberapa anak-anak berlarian menyusuri padang ilalang yang membenamkan diri mereka. Padang ilalang itu berdekatan dengan ladang padi yang luas. Riuh tawa bersahutan menandakan kedamaian dan kegembiraan.

“ Wolf. Wolf. “ suara ringan memanggilnya dari belakang.

Lelaki itu menoleh ke belakang terlihat seorang perempuan dengan dua kucir yang dikepang menggantung di bahunya. Benar-benar ciri khas perempuan desa. Pakaian satu setel khas warga pedesaan itu dipakainya. Wajahnya cukup berseri. Ia tersadar sambil memanggil nama lelaki itu. Namanya memang benar. Wolf. Wolf Fang adalah nama dari lelaki itu. Seorang putra yang lahir dari keluarga Fang. Keluarga yang cukup dihormati serta memiliki tugas yang mulia di tempat itu karena jasa-jasa pendahulunya.

“ Ada apa, Jasmine? “ tanya Wolf.

Jasmine merubah ekspresinya. Alisnya sedikit menurun tanda ia serius.

“ Apa kau benar-benar akan meninggalkan desa? Wolf, aku—tidak, semua orang di desa ini ingin kau tetap di sini. Pertimbangkanlah lagi keputusanmu. Kau masih bisa merubah keputusanmu hingga nanti petang “ jelas Jasmine.

Ia merogoh kantongnya dan mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Sebuah kalung dengan batu obsidian terpasang di tengahnya. Wolf mendapatkan batu itu saat menambangnya di tambang dekat desa. Batu yang ia temukan itu lebih unik dari batu yang pernah ditemukan sebelumnya. Tampak beberapa warna berbaur di dalamnya. Sebuah batu obsidian hitam tercampur dengan warna-warna yang menimbulkan kilauan luar biasa.

Wolf mengambilnya serta mengalungkannya ke leher Jasmine.

“ Dengar, Jasmine. Aku akan kembali ke desa ini lagi, tenang saja. Dan saat itu tiba, aku akan membawakan sebuah cincin dengan batu yang serupa. Aku akan baik-baik saja karena aku tahu kau mendoakan keselamatanku. “ jawab Wolf sambil mengelus rambut Jasmine.

Tiba-tiba kenangan itu berubah dengan seketika. Kali ini ia berada di sebuah ruangan dengan beberapa kursi panjang tertata rapi di situ. Di sudut lain, ada seorang wanita dengan rambut panjang terurai menatap ke jendela. Wolf berdiri membelakanginya. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang, mengetahui keberadaan seseorang saat itu,

“ Wolf. Apa kau yakin akan melakukan hal ini? Groeben. Aku sadar dia itu keras kepala sekali. “ kata wanita itu.

Wanita itu cukup muda dengan kulit yang cerah. Matanya cokelat muda dan bening. Namun di sekitar matanya terdapat bekas berwarna merah tanda ia telah menangis semalaman. Ia masih memegang sapu tangan bermotif persegi. Wolf memegang pundaknya seraya berkata,

“ Dengar, Anita. Groeben pasti akan baik-baik saja. Sudah tugasku untuk melindunginya. “

Wolf memandang di jari manisnya. Sudah terpasang cincin berlian dengan batu dudukan yang indah. Wolf tersenyum teduh.

“ Jadi, Groeben sudah…? “ tanya Wolf terhenti.

Anita mengangguk dengan senyum yang indah.

“ Ya. Jika kalian nanti kembali. Groeben berkata akan menikahiku. “ jawabnya bahagia.

“ Selamat, Anita. Kau memang pantas mendapatkannya. Groeben, dia itu, aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak menemaninya sampai sekarang. Dia terlalu kekanak-kanakkan. Kau yang dewasa adalah seseorang yang cocok untuk mendampinginya. “ jelas Wolf.

“ Jadi aku harap kalian cepatlah pulang.. “ kata Anita dengan penuh harap.

“ Ya, aku berjanji. “ jawab Wolf.

Seraya Wolf keluar dari pintu rumah itu meninggalkan Anita yang masih menatap dari balik jendela. Seorang pria berumur tiga puluhan mendatangi Wolf yang baru saja keluar. Wajahnya serius dan bisa terlihat dari pandangan matanya, ia telah melewati beberapa pertempuran. Luka dalam pertempuran-pertempuran yang ia hadapi, terukir jelas di wajah serta kulitnya.

“ Kau Wolf Fang? “ tanyanya dengan tegas.

Wolf mengangguk.

“ Kau telah bersedia ikut dengan kami? “

Wolf mengangguk lagi dengan mantap.

“ Baiklah, kau memiliki hati serta jiwa yang besar untuk melindungi negeri ini. Aku hargai itu. Persiapkan pakaianmu, nak. Setelah itu segera naik ke kereta angkut itu. Dan pastikan, kau telah menemui keluargamu sekarang. “ lanjutnya.

Wolf mengambil tasnya yang sudah terisi dengan pakaian-pakaiannya dan segera naik ke kereta pengangkut. Dengan pandangan serta langkah yang mantap ia menatap ke depan. Di kereta itu, Groeben sudah menunggu Wolf. Ia memandang sekali lagi rumah-rumah yang menghadap ke arahnya kali ini. Setelah siap, ia segera naik. Wolf duduk di sebelah Groeben.

“ Wolf, ini pasti akan menjadi hal yang menyenangkan ! “ kata Groeben.

“ Kau ini, baru pertama kali aku bertemu dengan orang yang antusias akan hal ini. “

Groeben tertawa kecil.

Kereta pengangkut itu pun pergi. Di tempat itu tertinggal kenangan masa kecil dua pemuda bernama Wolf dan Groeben. Mereka pergi menuju kota untuk menjadi ksatria suci demi melindungi negaranya. Saat rumah-rumah mulai tak terlihat dan menyisakan ladang padi yang menguning, tiba-tiba ladang tersebut terusik. Seorang gadis berdiri sambil melambaikan tangannya. Wolf melihatnya dengan lebih fokus, tampak gadis tersebut adalah Jasmine . Ia berteriak dengan kencang dari tengah ladang padi,

“ Cepatlah kembali, Wolf !! “

Wolf dan seluruh penumpang di kereta itu kaget mendengarnya. Mereka tertawa kecil. Wolf melambaikan tangannya sambil memberi jempol dengan isyarat semua akan baik-baik saja. Kami akan kembali adalah hal yang pasti. Itu adalah hal yang terpikirkan Wolf saat itu. Melindungi serta membawa kembali Groeben adalah janji yang ia pegang.

“ Wolf.. Wolf.. “

Sesaat ruangan menjadi gelap dan tak ada cahaya, hanya suara yang memanggilnya di tengah kegelapan. Wolf mencari sumber suara itu dan seketika matanya terbuka. Ia kembali ke goa tempat ia menyelamatkan diri. Suara tersebut keluar dari tubuh Groeben yang terlihat masih terbujur kaku. Wolf mendekati dan terlihat mata Groeben sudah terbuka, ia tampak sadar.

“ Ah, syukurlah ! Kau baik-baik saja, kawan ! “ teriak Wolf dengan penuh haru.

“ Ahaha iya, tak kusangka pasukan kita tersapu bersih secepat itu. “ kata Groeben.

Wolf duduk di sebelah Groeben yang ia telah tunggu kesadarannya daritadi.

“ Bagaimana keadaanmu? “ tanya Wolf.

Groeben tersenyum sedikit sambil menahan sakit.

“ Ah, sepertinya beberapa tulangku patah dan kupastikan ada yang salah dengan punggungku. Aku hanya bisa berbaring saja hahaha. Benar-benar menyedihkan. “ lanjut Groeben dengan senyum yang menyindir dirinya sendiri.

“ Akan kucarikan penahan punggung untukmu. “ belum sempat Wolf berdiri untuk mencarikan alat bantu untuk Groeben, lelaki yang berbaring itu menghentikannya dengan kata-katanya.

“ Tak usah, sobat. Aku tak apa. Aku hanya sedang ingin bercerita hingga aku terlelap. “ kata Groeben.“ Baiklah. “

Mereka berdua memutuskan untuk tetap tinggal di goa untuk sementara waktu hingga badai salju itu berhenti. Kedua ksatria itu bercakap ditemani oleh nyala api yang bergoyang karena tiupan kecil angin yang masuk ke goa. Tumpukan perlengkapan pakaian baja yang sudah tertumpuk menjadi saksi bahwa mereka telah melalui hal yang buruk sebelumnya.

Badai masih bergemuruh. Suara mereka terkadang terbenam karena kedahsyatan badai tersebut. Namun tekad mereka masih terasa panas saat itu. Dua pemuda dari suatu desa yang pergi untuk menjadi seorang ksatria suci, telah menghabiskan hari-harinya tanpa penyesalan. Mereka saat itu memutuskan untuk mengabdikan diri kepada negara. Satu hal yang menjadi trend pemuda-pemudi saat itu.

Cerita itu dimulai beberapa bulan yang lalu, sebelum dua pemuda ini menjadi ksatria suci. Groeben kembali dari kota setelah menjual beberapa hasil bumi dari petani-petani yang ia gaji. Groeben Handersen. Keluarga Handersen sendiri merupakan salah satu juragan dari Desa Roverland yang terletak dekat jalur menuju perbukitan Hisea. Desa itu menjadi salah satu pemasok terbesar untuk negara mereka. Groeben yang saat itu bertemu dengan warga kota mengatakan kepada Anita, yang saat itu kekasihnya, tentang minatnya menjadi ksatria suci.

Anita yang tidak percaya dengan hal itu mencoba menemui keluarga Fang yang merupakan pelindung dari juragan-juragan yang ada di desa. Keluarga Fang mengabdikan diri untuk melindungi anak dari juragan-juragan termasuk Groeben. Seketika Wolf yang merupakan anak pertama dari Vosher Fang dan Claudia Fang, bertemu dengan kawan lama yang sekaligus menjadi orang yang ia akan lindungi, Groeben Handersen.

Jiwa remaja Groeben meledak-ledak karena katanya saat itu adalah salah satu cara untuk meninggikan derajat keluarga Handersen di mata keluarga kerajaan yang tentu saja menjadi pemimpin negara. Negosiasi tidak berjalan lancar. Antara Groeben, Anita serta Wolf tidak terjadi keputusan yang sejalan. Membuat Groeben tetap memaksakan dirinya akan meninggalkan Anita beserta desa untuk menjadi seorang ksatria. Sementara Wolf harus menunaikan tugasnya untuk melindungi Groeben.

“ Wolf, aku ingin melihat Anita saat ini. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Aku ingin pulang dan memakan roti panggangnya. Lalu mengajaknya ke bukit dan melihat matahari tenggelam. Apa permintaanku terlalu berat? “ kata Groeben memecah pembicaraan.

“ Tidak, sobat. Kita akan pulang setelah ini. Kita akan mengundurkan diri dari ksatria suci kerajaan dan hidup damai di desa, oke? “ jawab Wolf.

Groeben menggigit bibirnya.

“ Kau tahu Wolf, aku melakukan hal ini, sungguh hanya untuk membuat Anita bangga. Aku tak peduli dengan nama keluargaku. Aku hanya ingin Anita benar-benar melihatku. Sejak dulu, ia selalu menjagaku. Sampai sekarang, aku—Aku ingin mendapat giliranku untuk menjaganya. “ Groeben mulai meneteskan air mata saat itu.

Wolf cukup terkejut karena ia tak pernah melihat kawannya tenggelam dalam emosinya. Groeben yang ia kenal hanyalah seorang yang tidak pernah bersedih dan tertawa serta bahagia. Jika ada masalah, ia akan selalu melupakannya. Itulah mengapa Wolf beranggapan bahwa Groeben masih bersikap kekanak-kanakan.

“ Tapi kau tahu, dia menyukaimu apa adanya. Sejak kecil memang dia seperti itu. Dia adalah seorang yang terus terang dengan hal yang ia sukai. Ingat saat kecil, dia mengatakan bahwa dia tidak suka dengan bunga lily saat kau memberikannya? Dan dia mengatakan itu langsung tanpa menerimanya terlebih dahulu. Aku yakin Anita akan tetap menyukaimu walau kau tidak menjadi seorang ksatria. “ jelas Wolf mencoba membuat Groeben tenang.

“ Aku akan ingat kata-katamu ini. Terima kasih, sobat. “ jawab Groeben dengan senyuman yang cerah.

“ Sama-sama, kawan. “ jawab Wolf sembari menepuk bahu Groeben.

Sudah beberapa jam mereka terperangkap di sana. Ranting yang terlalap api juga sudah mulai habis. Saatnya untuk mencari ranting yang baru. Sementara itu terdengar irama tak teratur keluar dari perut Wolf.

“ Ah. Baiklah, aku akan mencari beberapa ranting terlebih dahulu. Dan kau tahu, sedikit makanan. Kuharap aku bisa menemukan suatu yang bisa dimakan di badai salju semacam ini. “ kata Wolf.

Wolf memasang seluruh perlengkapannya dan membawa pedangnya yang masih ada di dalam sarungnya. Setelah selesai, ia segera berjalan keluar goa. Wolf melihat badai itu masih tebal namun jika ia diam di sini, ia juga akan tewas bersama dengan Groeben karena kedinginan serta tanpa makanan.

“ Wolf. Jika kau menemukan bunga lily, tolong petikkan, ya? “ potong Groeben.

Wolf pun sedikit berpikir seraya menjawab,

“ Tunggu, buat apa? Bukannya Anita tidak suka? “

Groeben tersenyum.

“ Kali ini dia pasti akan bahagia mendapatkannya. “

Wolf masih tidak mengerti dengan jawaban Groeben. Namun karena itu permintaan seorang sahabatnya, ia akan berusaha melakukan yang terbaik. Mungkin Anita telah berubah dan mulai menyukai apa yang tidak ia sukai semenjak kecil, pikir Wolf saat itu. Dengan dorongan yang kuat, Wolf melangkah melawan badai. Meninggalkan Groeben dengan sedikit ranting yang masih terbakar oleh api.

Di tengah tiupan badai yang semakin lama semakin ganas, Wolf mendekati sebuah kayu serta memotong beberapa kulit kayu. Beberapa ia mengupasnya dengan tangannya yang terbalut sarung tangan, atau dia memotong dengan pedangnya. Beberapa ada yang tergeletak di tanah, Wolf tidak luput mengambilnya. Ia juga mengambil beberapa buah kecil yang tumbuh di semak-semak untuk mengganjal perutnya. Wolf menaruh beberapa ranting, kulit kayu serta buah-buah itu di tangannya setelah menggantungkan kembali pedangnya.

Wolf berjalan kembali menuju goa tempat Groeben menunggu. Baru sampai di dekat mulut goa, Wolf mendengar suara aungan dari dalam goa. Bayangan api yang tadinya menari dan menerangi dinding goa sudah tidak ada. Wolf yang terkejut menjatuhkan barang-barang yang ia pegang dan tanpa pikir panjang, ia berlari menuju ke dalam. Wolf segera menarik pedangnya dan terkejut melihat apa yang terjadi di situ.

Beberapa serigala telah menggigit Groeben.

Darah Groeben bercucuran dan tumpah menggenangi badannya.

“ Groeben ! “ teriak Wolf dengan panik.

Saat mencoba mendekati Groeben, para serigala itu melompat ke arah Wolf dan mencoba menyerangnya. Amarah Wolf membara setiap kali memandang mata serigala itu. Wolf segera menebas serigala-serigala yang mendekatinya. Ia tidak kalah beringas. Sesekali ia mempercepat gerakannya untuk segera menyelamatkan Groeben. Baju zirah yang ia pakai terciprat darah dari serigala tersebut.

“ Mati, kalian ! Akan kubunuh kalian satu per satu ! “ teriak Wolf geram.

Tanpa ia sadari, hanya tersisakan satu serigala. Badan serigala itu lebih besar dibandingkan lainnya. Bulunya berwarna perak dan tampak sedikit berkilauan. Taringnya lebih panjang dan menukik. Bukan serigala yang biasa terlihat. Namun saat itu pikiran Wolf telah gelap dan dengan cepat ia memenggal kepala serigala itu. Badannya tergeletak dan darah keluar dari lehernya, menggenangi tumpukan abu yang telah termakan api.

Wolf menjatuhkan pedangnya dan segera mendekati Groeben. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang bahu Groeben.

“ Hoi, Groeben. Bangunlah ! Kau jangan bercanda ! Groeben.. Groeben ! Tolonglah, tidak di tempat seperti ini.. ! Groeben ! “ jerit Wolf panik.

Namun saat itu tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Groeben. Goa itu menjadi hening. Seketika Wolf pun tersungkur kecewa melihat kawannya meninggalkannya duluan. Air mata mulai mengalir deras saat itu, jatuh dan bercampur dengan warna merah tua yang terlukis di sekitar tubuh Groeben. Janjinya kepada Anita hanyalah sebuah kata-kata yang telah dilanggar olehnya. Jika saja, dirinya tinggal lebih lama untuk menemani Groeben, itu tidak akan terjadi.

Di goa itu hanya terdengar suara Wolf yang mengutuk dirinya sendiri. Berulang kali.

Wolf berjalan sedikit dengan menyeret lututnya sambil melepas seluruh baju zirahnya. Pedangnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya, ia ambil. Wolf memegang bagian besinya dan mengarahkan ke dadanya. Ia merasa tidak ada artinya ia hidup. Ia telah melanggar janji, telah gagal dalam tugasnya dan telah mengecewakan perasaan seseorang.

Jika ia menghilang dari dunia ini mungkin akan membayar kesalahannya terhadap Groeben.

Yang terpikirkan saat itu hanyalah hitungan mundur. Dalam pikirannya yang sudah tidak jernih itu, tidak ada cahaya yang mampu meneranginya. Hanya seorang pemuda yang tenggelam ke dalam lautan yang gelap gulita.

Tangan Wolf pun mulai bergerak.

Saat ujung pedang itu hampir menyentuh dadanya tiba-tiba sebuah angin berputar di sekitarnya.

“ Apa-apaan ini?! “ teriak Wolf.

Angin tersebut berputar hingga seperti angin topan kecil. Wolf berusaha menggerakan badannya namun tak bisa, usahanya nihil. Seketika tangan serta kakinya lemas. Pedangnya terjatuh lalu selanjutnya badannya tersungkur dengan keras. Namun pandangan Wolf masih jelas dan ia melihat kepala serigala perak yang ia bunuh barusan melayang tepat di depannya. Kedua matanya menyala merah. Wolf ketakutan setengah mati.

Darah keluar dari kedua mata serigala itu.

“ Kau. Kau telah lancang berbuat kepada kami! Kau tidak akan lolos dari apa yang kau lakukan, wahai anak muda! “ suara keluar dari kepala serigala itu. Mulutnya tidak bergerak. Hanya suara misterius yang menggema di lorong goa.

Saat Wolf mencoba membalas, mulutnya terkunci rapat. Ia hanya bisa melirik ke arah kepala serigala itu. Badannya seperti ditimpa sesuatu yang sangat berat, tak bisa bergerak sedikitpun.

“ Aku akan mengambil sebagian darimu sebagai bayaran atas semua ini! “ teriaknya kembali.

Kepala serigala itu mengeluarkan cahaya dan dengan cepat terbang menuju ke arah Wolf. Wolf yang pasrah tidak bisa melakukan apa-apa hingga akhirnya ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di tangan kirinya. Rasa sakit seperti terbakar di atas tungku yang apinya meluap-luap. Ia berusaha menggerakan tangannya namun tidak bisa. Satu hal yang terjadi, rasa sakit yang luar biasa itu membuat Wolf pingsan.

Beberapa saat kemudian ia terbangun dan menyadari tangan kirinya terbakar sepenuhnya.

“ Tidak tidak tidak tidak! Tidak mungkin! “ jerit Wolf.

Di sebelahnya berdiri serigala perak yang beberapa waktu lalu dibunuh oleh Wolf. Ia melempar bebatuan di sekitarnya ke arah serigala itu namun batu itu menembus badan serigala. Kejadian itu membuat Wolf terkejut. Wolf yang terkejut serta ketakutan segera berlari ke luar tanpa pikir panjang. Ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia berlari dan terus berlari. Menembus badai serta meninggalkan Groeben yang sudah tak bernyawa di goa itu.

Langkahnya terus menembus gumpalan salju yang terasa berat di kakinya. Tanpa baju zirahnya, Wolf merasa sangat kedinginan. Tidak butuh waktu yang lama, kaki dan tangannya menjadi kaku. Sambil memegang tangan kirinya yang masih terasa sakit, Wolf mencoba untuk terus berlari.

Hingga ia sadar bahwa ia tidak bisa melawan badai salju itu. Sekilas ia menyerah dan menganggap ini adalah akhir dari hidupnya. Badannya terasa kaku dan pikirannya mulai tak beraturan. Matanya berat dan seketika ia sudah bersimpuh. Ia melihat kembali serigala perak itu di depan pandangannya. Masih sebesar saat ia pertama melihat di goa. Tanpa sadar ia terjatuh di atas selimut salju yang akan meninggi di tiap waktunya. Matanya terpejam.

Sesaat kemudian suara beberapa anjing saling bersahutan. Anjing-anjing tersebut berlari menuju suatu tempat. Sementara pemiliknya, seorang gadis muda dengan kerudung berwarna putih. Dengan cepat, kedua anjing itu mulai mengais di suatu gumpalan salju. Gadis muda itu bingung melihat kedua anjingnya,

“ Dorben, Skaar. Apa yang sedang kalian lakukan? Mari kita pergi.. “ celetuknya.

Setelah beberapa saat mengais, terlihat tubuh yang tergeletak tak berdaya.

“ Ya Tuhan ! Apa yang terjadi dengan lelaki ini ?! “ teriaknya panik. Dengan susah payah, gadis bersama kedua anjingnya menarik tubuh itu keluar dari gundukan. Secara perlahan namun pasti. Gadis itu berharap lelaki itu masih bisa diselamatkan. Mereka menarik tubuh lelaki itu menuju ke sebuah rumah yang berada di antara pohon-pohon besar. Pohon tersebut menjulang tinggi dan di atasnya telah dibuat semacam rumah pohon yang saling berhubungan satu sama lain.

Setelah usaha yang begitu melelahkan, gadis itu telah sampai di rumah tersebut. Ia membuka pintu dan memasukan lelaki yang tadi ia temukan. Sebelumnya ia mengelus kedua anjingnya agar bersikap tenang. Gadis itu mengambil sebuah bantal dan beberapa ramuan yang telah memenuhi sebuah tabung kerucut. Tempat itu seperti tempat pembuatan ramuan obat. Ada juga beberapa buku medis dengan lambang yang aneh tergeletak di situ. Buku-buku komik juga berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Tidak satupun ia ingin bereskan atau mengembalikannya ke rak buku di pojok ruangan.

Gadis itu meminumkan ramuan ke lelaki yang tidak sadar itu dan hanya beberapa detik setelah itu, lelaki itu batuk secara beruntun. Namun yang diinginkan oleh gadis itu pun terwujud, ia masih sadar.

“ Siapa? “ tanya lelaki itu.

“ EH ?! Aku? Aku Irina. Lalu kau? “ tanyanya balik.

“ Wolf. “

“ Tuan Wolf, apa yang tadi anda lakukan di sana? Di tengah badai salju seperti ini? “ tanya Irina dengan sopan.

Wolf hanya memegang kepalanya. Ia merasakan rasa pusing yang luar biasa saat itu. Segala hal terjadi sangat cepat kala itu. Dan sekarang ia berada di suatu rumah yang tidak dikenal. Tiba-tiba Wolf memegang tangan kirinya yang terasa aneh itu. Irina yang memperhatikan seksama gerak-gerik Wolf pun menyadari sesuatu setelah ia melihat tangannya.

“ Gigitan ini ! Apa kau digigit oleh serigala perak di hutan, tuan Wolf? “

“ Bagaimana kau—Ya begitulah. Tidak usah terlalu sopan. Aku tidak terlalu tua, tenang saja. “

Irina memegang tangan kiri Wolf. Wolf sedikit terkejut hanya bisa mempasrahkannya saja karena ia menganggap Irina mungkin lebih tahu cara mengembalikan tangannya atau keluar dari teror serigala perak yang mengikutinya.

“ Kau memiliki mana yang cukup besar, tuan Wolf ! Mungkin serigala perak itu telah memberikan sebagian besar mana miliknya. Kau pasti bisa melakukan sihir yang luar biasa dengan jumlah mana sebesar ini ! “ jelas Irina.

“ Tunggu, apa yang kau bicarakan barusan? Aku bukan penyihir. Aku seharusnya tidak memiliki mana sama sekali. Dengar, aku adalah ksatria suci dari kerajaan Riodes. Tujuanku di lembah tadi adalah untuk membasmi para penyihir ! Perang ini, ya perang antara ksatria dengan para penyihir telah menewaskan hampir seluruh kelompokku. Tak mungkin. Tak mungkin aku menjadi salah satu dari bagian mereka sekarang ! Jangan berkata konyol ! “ Wolf panik dan mulai ketakutan.

“ Dengar dulu, tuan Wolf. Dengan memegang tanganmu, aku bisa merasakan apa yang telah terjadi kepadamu sebelumnya. Teman dekatmu bernama Groeben, ataupun kenangan masa lalu di desa kecil dekat perbukitan. Segalanya bisa terlihat karena kami penyihir dapat membaca informasi dari aliran mana yang mengalir di suatu tubuh. Kau jelas adalah bagian dari kami, tuan Wolf. “ jelas Irina dengan serius.

Wolf pun tersadar akan hal penting.

“ Tunggu, kami? Maksudmu kau juga seorang… “ mata Wolf terbelalak.

Irina mengeluarkan sebuah bola api kecil dari tangannya.

Wolf yang terkejut berusaha bangkit dengan cepat dan mengambil sebuah sekop yang berada di dekat lemari lalu mengarahkannya ke arah Irina.

“ Jangan dekati aku, penyihir ! Kalian—karena kalian semua aku kehilangan kawan dekatku dan seluruh orang yang kukenal ! “ teriak Wolf.

Melihat sifat Wolf yang berubah drastis, Irina tampak bingung dan merasa bersalah.

“ Tunggu tunggu, tuan Wolf. Kau tidak perlu takut denganku. Aku hanya penyihir pemula. Tidak mungkin aku dapat mengeluarkan sihir yang bisa melukai seseorang. Selain itu, aku juga punya cerita buruk berurusan dengan sekte penyihir yang mencoba memulai perang ini. Aku memang penyihir namun aku bukan bagian dari mereka. Jadi kumohon, tenangkanlah dirimu, tuan Wolf ! “ balas Irina dengan memohon.

“ Apa maksudmu kau bukan bagian dari mereka? Apa kau berbohong? “

“ Tidak, itu kenyataannya. Aku merupakan buangan dari kelompok mereka. Berbagai hal pahit juga telah terjadi karenanya. Jadi, jika kau ingin balas dendam kepada mereka. Sungguh, aku akan membantumu. Aku berjanji aku akan membantumu ! “ jelas Irina.

Wolf menyadari bahwa ia tidak bisa kembali ke negaranya. Namun saat itu masih ada hal yang bisa ia lakukan.

44 dukungan telah dikumpulkan

Comments