Live Live Live

9 months ago
Rifqi Naufaldi

by: Rifqi Naufaldi

Siang itu, bel pertanda berakhirnya jam sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa SMA Negeri 1 Vega mulai berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Gang sempit tempat pembuangan sampah di belakang sekolah yang sedari tadi pagi sepi pengunjung, kini kedatangan seorang tamu tak terduga. Dia adalah Marak Ninggarat, seorang remaja lelaki berketurunan bangsawan. Ia adalah salah seorang murid kelas 12 dari SMA tersebut. Usianya 17 tahun. Memiliki wajah tampan dengan postur tubuh yang terbilang cukup kekar dan atletis.

Marak datang ke gang sempit ini untuk mengambil tas ransel miliknya yang tengah tertimbun di bawah gundukan sampah. Semakin Marak mendekat, bau dari sampah-sampah yang menggunung itu semakin menusuk dan menyengat hidungnya. Meski begitu, Marak tetap tak peduli. Tanpa pikir panjang, ia melangkahkan kakinya naik ke atas tumpukan sampah, lalu menyingkirkan sampah-sampah tersebut dengan tangan kosong. Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya Marak berhasil mengambil kembali tas ransel miliknya yang telah lumat tercampur dengan berbagai jenis kotoran dari tumpukan sampah tersebut.

Dengan raut wajah yang terlihat murung, Marak berdiri di atas gundukan sampah sambil memeluk tas ranselnya erat-erat. Seketika terpancar hawa keberadaan yang tidak menyenangkan dari dalam dirinya. Hitam dan pekat. Membuat suasana di sekitar gang sempit itu terasa jauh lebih hampa dan dingin dibandingkan hari-hari biasanya. Tanpa disadari, ia telah menolak seluruh energi kehidupan yang hendak menyapa dan berbaur dengan dirinya. Jiwanya mulai goyah. Mungkin ini semua disebabkan karena cinta. Akhir-akhir ini, remaja lelaki itu baru saja kehilangan kedua buah cintanya yang paling berharga. Cinta yang pertama adalah cinta pada hidupnya, dan cinta yang kedua adalah cinta pada dunianya saat ini.

“Hei Marak, bagaimana pendapatmu? Jadi terlihat seperti baru kan?” Terdengar suara seseorang bertanya dari belakang, diiringi dengan gelak tawa keempat orang lainnya. Mereka berlima adalah teman sekelas Marak di sekolah. Sekumpulan berandal kelas yang selama dua tahun terakhir ini seringkali mengganggu kehidupan Marak. “Setoran hari ini masih belum kau bayar Marak.” Joy, sang pemimpin berandal, datang menghampiri. “Masih untung hanya tasmu saja yang kita permainkan. Besok-besok kalau sampai terulang lagi, pasti akan kami permalukan kau lebih jauh dari ini.” Joy berbicara dengan nada mengintimidasi.

“Hei Bos, bagaimana kalau besok kita telanjangi saja dia di tengah lapangan? Dengan begitu dia jadi bisa lebih menyadari keberadaannya di sekolah ini” Salah seorang rekannya menyarankan.

“Hmm, boleh juga. Sepertinya anak sok hebat dan sok bijak ini mulai kehilangan orang-orang kepercayaannya. Berhubung akhir-akhir ini penjagaan terhadapnya sedang lemah. Kita bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk memberinya pelajaran dengan lebih bebas dan lepas lagi.” Dengan antusias, Joy beride kepada keempat orang rekannya.

“Hehe, bagaimana pendapatmu Marak? Kau suka dengan ide kami barusan? Sebelum semuanya bertambah runyam, apakah kau masih tetap tak ingin membayarnya juga?” Joy memberi peringatan terakhir.

“Maaf, sekarang aku sedang tidak ada uang. Mungkin lain waktu saja.” Dengan wajah tertunduk dan tak berekspresi, Marak menjawab seadanya. Ia sama sekali tak ada niatan untuk meladeni.

“Woah, benar-benar, si anak kriminal ini cari mati ya?” Joy naik pitam. Tanpa basa-basi, ia langsung memerintahkan keempat orang rekannya untuk menghajar dan merundung Marak. Kelima berandal itu menghantam dan menghujani tubuh Marak dengan pukulan membabi buta. Gang sempit yang biasanya sepi dan sunyi, kini menjadi ramai dengan suara penindasan yang dilakukan oleh kelima orang berandal tersebut. Tak ada seorang pun yang datang menolong. Dengan beringas dan tak kenal ampun, Marak dibuat babak belur hingga jatuh terjerembab di atas tumpukan sampah. Joy mengambil tas ransel Marak yang terjatuh. Dikeluarkannya sebuah dompet dari dalam tas tersebut. “Jadi ini yang tadi kau bilang tidak ada uang, hah!?” Lima lembar uang bernominal besar diambil secara paksa dari dalam dompet Marak. “Kau pikir kau bisa dengan mudahnya membodohi kami?”

Tergeletak tak berdaya di atas tumpukan sampah, Marak hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini. Pikirannya sudah mengawang entah kemana. Matanya yang memar perlahan sayup, lalu terpejam. Kelima berandal itu benar-benar telah sukses menyiksanya dengan penuh kebencian. Selang beberapa saat, terdengar teriakan seorang perempuan dari depan gang, membuyarkan keadaan pada saat itu. “Hentikaaan! Atau nanti kulaporkan perbuatan kalian ini pada guru dan penjaga sekolah!” Dengan suara berat, perempuan itu mewanti-wanti kelima berandal tersebut.

Perhatian para berandal pun mulai teralihkan. Mereka berhenti menindas Marak, lalu berjalan ke depan gang, menghampiri gadis pengganggu itu. “Kalau tidak salah, namamu Rateh kan? Murid baru yang saat ini sekelas dengan kita?” Joy bertanya memastikan.

“Ya, namaku Rateh Karteka. Memangnya kenapa? Kau ingin cari masalah denganku juga?” Perempuan berbadan tinggi besar itu meninggikan suaranya. Dia sudah terlanjur emosi.

“Sombong sekali kau anak baru. Sebaiknya gadis cantik sepertimu tidak perlu ikut campur dengan urusan kami. Mau kau berteriak seperti apapun juga, tidak akan ada yang datang menolong bocah ingusan seperti dia. Asal kau tahu, memang sudah seharusnya dia diperlakukan seperti ini. Dia itu anak kriminal yang berasal dari keluarga bangsawan paling bermasalah di kota ini. Seluruh masyarakat telah membenci dan mengutuknya. Jadi kau sudah tidak perlu repot-repot lagi untuk mengasihaninya.” Joy memperingatkan Rateh.

“Aku tidak peduli. Kalian ini benar-benar sudah gila dan keterlaluan. Bisa-bisanya kalian menindas dan menganiaya teman sekelas kalian sendiri.” Rateh meninggikan suaranya.

Joy tidak menggubris perkataan Rateh. “Guys, sebaiknya kita pergi saja. Tidak ada gunanya juga berbicara dengan gadis kemarin sore seperti dia. Lagi pula, saat ini kita juga sudah mendapatkan apa yang kita inginkan.” Mereka berlima pun pergi menjauh dari gang sempit itu, membawa semua uang yang telah mereka ambil dari dompet Marak.

Rateh bergegas menghampiri dan menolong Marak yang sedang terbaring di atas tumpukan sampah. “Sini, biar kubantu kau berdiri.”

“Tidak terima kasih, aku bisa bangun sendiri.” Dengan tatapannya yang kosong, Marak menyingkirkan sampah-sampah yang menutupi badannya, berusaha untuk berdiri. Kemudian tanpa berbicara sepatah katapun, ia berjalan begitu saja melewati Rateh yang ada di hadapannya. Langkah Marak berat, sesekali tersendat dan hampir terjatuh.

Karena khawatir dengan sikap dan keadaan Marak, Rateh memutuskan untuk mengawasi dan mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Sekedar untuk memastikan apakah Marak bisa pulang sampai ke rumahnya dengan selamat atau tidak.

Sepuluh menit berlalu, keadaan di sekitar jalanan Kota Vega terlihat cukup ramai. Banyak orang berkumpul dan berlalu lalang, sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Dengan wajah dan tubuh yang penuh luka, Marak terlihat sedang berjalan timpang di sepanjang trotoar pusat kota. Saat ini, ia hendak pulang menuju ke rumahnya.

Rateh masih membuntuti Marak di sepanjang perjalanan. Berhubung dia adalah siswi pindahan dari luar kota, ini adalah kali pertama dia menyaksikan suasana dan kemegahan Kota Vega secara langsung. Matanya melotot dengan penuh kekaguman seperti anak kecil, melihat sekumpulan bangunan tinggi menjulang yang tertata rapih di sekitar jalanan pusat kota.

Selang beberapa menit, perempuan berbadan tinggi besar itu mulai merasa janggal dengan keadaan di sekitarnya. Seketika atmosfer di sekitar lingkungan itu berubah lengang. Semua mata dan perhatian masyarakat mulai tertuju kepada kehadiran Marak Ninggarat. Mereka mulai menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan bocah SMA berketurunan bangsawan itu. Tak lama berselang, masyarakat mulai saling mengumpat, bergosip dan membicarakan keadaan Marak yang saat ini sedang berada di tengah-tengah mereka secara diam-diam. Teringat dengan ucapan Joy di tempat pembuangan sampah tadi, Rateh jadi sedikit penasaran dengan latar belakang dan kehidupan Marak Ninggarat, teman sekelasnya itu. Dia pun berusaha mencuri dengar pembicaraan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Selama ini, Marak dikenal masyarakat sebagai satu-satunya pewaris dari Keluarga Ninggarat yang masih tersisa. Dua tahun lalu, ayah Marak dinyatakan sebagai dalang dari kasus kejahatan tingkat tinggi yang mengakibatkan terbunuhnya salah seorang pejabat utama negara. Ayah Marak juga telah didakwa melakukan penggelapan dana terhadap anggaran pembangunan pemerintah. Hal itu menyebabkan kerugian dan ketimpangan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat secara luas. Seluruh keterangan dan bukti-bukti yang ditemukan oleh pihak kepolisian selalu mengarah kepada sindikat misterius yang dimotori oleh Keluarga Ninggarat. Tak terkecuali ibu beserta kerabat dekat Marak lain yang lain pun ikut terciduk dan terlibat dalam kasus kejahatan berencana tersebut. Seluruh Keluarga Ninggarat yang pada saat itu telah dinyatakan bersalah, ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah. Mereka menjalani proses eksekusi secara terbuka. Disiarkan melalui televisi dan dipertontonkan secara umum kepada khalayak luas. Semenjak itulah Keluarga Ninggarat mulai dikenal oleh masyarakat sebagai keluarga kriminal.

Rateh mendapat sedikit gambaran mengenai latar belakang keluarga Marak dari obrolan masyarakat disekitarnya. Namun, dia masih belum bisa percaya begitu saja dengan isu-isu tersebut, sebelum dia memastikan langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Setengah jam berlalu. Marak sampai di depan gerbang rumahnya. Rateh yang sedari tadi membuntuti Marak di sepanjang perjalanan tiba-tiba tercengang. Melihat sebuah rumah yang sangat besar dan megah terpampang jelas di hadapannya. Dengan luas tanah sekitar setengah hektar lebih, rumah itu memiliki konsep seperti bangunan di tengah taman. Beragam jenis rumput dan tanaman tumbuh menghijau di halamannya yang luas. Dihiasi dengan kolam air mancur sebagai pusat pekarangan, membuat halaman rumah itu terlihat lebih rapih dan elegan. Benar-benar alami memanjakan mata. Semuanya terpadu secara sempurna.

Rateh akhirnya bisa tersenyum lega, melihat Marak telah sampai di rumah dengan selamat. Diapun secara perlahan mulai beranjak pergi dari tempat itu, meninggalkan Marak yang baru saja masuk ke gerbang rumahnya yang besar.

“Selamat datang Tuan Marak. Bagaimana kabar hari pertamamu di kelas 12? Apakah terjadi suatu hal yang menyenangkan?” Seorang pelayan tua menyambut kedatangan Marak di depan halaman rumah dengan penuh kehangatan. Namanya Daelus. Dia adalah ketua pelayan paling senior yang telah menjadi andalan bagi Keluarga Ninggarat. Setelah kasus kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya mencuat ke publik, Daelus selalu menjadi perisai utama yang mempertahankan kestabilan dan nama baik Keluarga Ninggarat. Ia pun telah menjadi satu-satunya orang yang dipercaya untuk mengatur dan mengurus semua harta warisan yang ditinggalkan oleh kedua orang tua Marak.

“Tidak… tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja seperti biasa.” Marak menjawab cepat.

“Hmm benarkah? Tetapi nampaknya luka-luka di wajahmu tidak berkata demikian.” Daelus menanggapi sembari tersenyum, menatap ke arah majikannya itu.

“Ah, ini, tadi aku sempat terjatuh di tangga sekolah karena melamun. Nanti akan ku obati sendiri. Sekarang aku hendak langsung ke kamar, lalu tidur. Tolong kau jangan ganggu istirahatku Daelus.” Marak menjelaskan sambil sedikit membuang muka.

“Pastikan kau mencuci dan mengobati semua luka-luka mu itu terlebih dahulu tuan. Kalau tidak, maka nanti dengan senang hati biar saya yang akan melakukannya.” Daelus menunjuk ke arah wajah Marak.

“Tidak usah repot-repot Daelus. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Baik tuan, sebenarnya aku hanya sedikit cemas dengan perubahan sikapmu dalam beberapa bulan belakangan ini. Anda pun sampai bersikeras meminta agar mode pengawalan absolutmu dimatikan selama seminggu lebih. Itu sangat membahayakan dirimu tuan. Masyarakat di kota ini pasti akan memanfaatkan celah tersebut untuk dapat mengancam dan membahayakan hidupmu.” Daelus menjelaskan.

“Dan kehidupan yang kuinginkan bukanlah untuk selalu dengan mendapat pengawasan dan penjagaan selama 24 jam dari para pelayan seperti kalian Daelus. Aku sudah dewasa. Aku juga ingin punya privasi. Aku ingin hidup normal dan belajar mandiri. Berulang kali sudah kukatakan hal ini kepadamu. Tidakkah kau mengerti!?”

“Ya, maafkan saya tuan. Saya mengerti.”

“Cih, kau semakin merusak mood-ku saja.” Marak berlalu begitu saja, meninggalkan Daelus seorang diri. “Oh, iya, tolong nanti kau instruksikan kepada seluruh pelayan di dalam rumah untuk mengaktifkan mode bayangan selama aku lagi di dalam. Saat ini aku sedang tidak mood untuk bertemu dan berbicara dengan siapa-siapa.” Marak berbicara ketus sambil masuk ke dalam pintu rumahnya yang besar.

“Siap tuan, akan langsung saya informasikan.” Daelus sedikit menunduk, tanda mengiyakan. Ia menekan tombol pada perangkat kecil berbentuk bulat pipih yang menempel di telinga kanannya. Segera ia instruksikan kepada seluruh pelayan yang ada di dalam rumah untuk mengaktifkan mode bayangan, yaitu mode dimana para pelayan harus selalu luput tak terlihat dari keberadaan dan penglihatan majikannya.

Di dalam rumah, Marak berjalan melewati ruang tamu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Jika dilihat dari dalam, sekilas rumah itu terlihat seperti istana adat tradisional di masa lalu. Memiliki desain arsitektur yang bergaya ala gotik, dengan paduan warna monochrome yang saling bersinkronisasi secara natural antara lantai dengan dindingnya. Hampir seluruh perabotan di rumah ini berbahan dasar kayu jati dengan warna yang dominan hitam dan cokelat tua. Beton dan tiang pancang yang menopang rumah tersebut benar-benar kokoh dan tebal. Langit-langit plafonnya juga tinggi. Lantai rumahnya bersih dan bening layaknya sedang terpapar kilauan cahaya. Banyak lorong dan tangga yang saling menghubungkan setiap bagian ruangan inti.

Sesampainya di kamar, Marak mengunci pintu. Sambil menghela napas, ia melihat ke sekeliling kamar yang keadaannya sudah seperti kapal pecah. Lantai kamarnya dipenuhi dengan sampah dan benda-benda aneh. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Hatinya saat ini sedang tidak bersahabat. Ia membuka baju seragamnya yang sedikit koyak, lalu dilemparkannya begitu saja ke lantai.

Sambil telanjang bulat, Marak bergegas masuk ke dalam sebuah kamar mandi khusus yang ada di dalam kamarnya. Air shower dinyalakan, membasahi luka memar di sekujur tubuhnya. Sedikit mengernyit kesakitan, Marak terdiam cukup lama. Ia merenung. Otaknya serasa ingin pecah, memikirkan bagaimana semakin hari masyarakat di kota itu semakin menekan hidupnya. “Mengapa aku selalu dikucilkan? Mengapa hanya aku yang selalu dipojokkan? Mengapa selalu kedua orang tuaku yang disalahkan? Memangnya apa salah mereka? Apa yang telah mereka perbuat? Tahu apa mereka dengan kehidupan keluargaku selama ini?” Marak bergumam seorang diri sembari terduduk menyender ke dinding kamar mandi. Tanpa ia sadari, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menerus terngiang dalam pikirannya.

“Ayah, ibu, apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menyikapi kehidupanku saat ini.” Di bawah pancuran shower, Marak menangis terisak dalam kesunyian. Berharap air matanya bisa luruh terbilas bersama seluruh kenangan buruk yang selama ini ia rasakan. Setelah lelah menangis dan meratapi hidupnya, Marak pun tertidur dengan posisi terduduk di pojokan kamar mandi.

Delapan jam berlalu. Sudah tengah malam. Marak dibangunkan oleh hawa dingin yang merasuk tubuhnya. Dengan mata sembab dan badan yang menggigil, Marak bergumam dalam kesunyian. “Mati-mati-mati! Mungkin sebaiknya aku mati saja.” Remaja lelaki itu baru saja bermimpi buruk. Napasnya tersengal-sengal, disertai dengan banjir keringat yang mengguyur sekujur tubuhnya. Dimimpinya itu, dia berlari-lari seorang diri. Diburu, disiksa, dan digantung beramai-ramai oleh orang-orang yang menatapnya dengan penuh kebencian. Benar-benar bukanlah suatu pengalaman bermimpi yang menyenangkan bagi seseorang yang telah kehilangan kedua orang tuanya.

Marak keluar kamar mandi dalam keadaan basah dan terbalut handuk. Selesai mengobati luka-lukanya, ia bergegas mengenakan piyama. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Baru sadar sedari tadi siang perutnya masih kosong, belum terisi apa-apa. Marak berjalan keluar kamar untuk mencari makanan yang sekiranya bisa ia cemil di dapur. Saat membuka pintu kamar, ia terkaget melihat makan siangnya masih tersaji di atas meja dorong, terbungkus rapih oleh wadah penghangat. Siang tadi, Daelus rupanya datang dan mengetuk pintu kamar Marak beberapa kali untuk mengingatkannya makan. Namun Marak tidak merespon karena telah tertidur di dalam kamar mandi. Daelus yang pada saat itu tak ingin mengganggu tuannya beristirahat, akhirnya meletakkan makan siang itu di depan pintu kamarnya.

Di tengah kesunyian malam, Marak membawa makanan itu ke dalam kamar. Ia membuka jendela kamarnya yang besar. Mengundang angin malam masuk dan berpesta di dalam kamarnya. Angin-angin malam berhembus membawa keheningan sepi, menerpa wajah Marak dengan penuh kelembutan dan belas kasih. Marak terenyuh, terduduk di pinggiran jendela. Sambil menghabiskan makanan di atas piringnya, ia kerap memikirkan arti dari keberadaannya saat ini. Mimpi di saat tidur siang itu benar-benar membuat otak Marak semakin tidak bisa berpikir jernih. Ia merasa hidupnya semakin jatuh terpuruk ke dalam kegelapan.

Marak masih terduduk melamun, memandangi pemandangan di luar jendela. Seketika terbesit sesuatu dalam pikirannya. Ia pun bergegas mengambil sebuah berkas bertuliskan ‘Cryptic 195’ dari dalam laci meja belajarnya yang selama ini ia sembunyikan. Secara perlahan dan teliti, satu persatu dokumen yang ada di dalam berkas tersebut dibacanya. Isinya berupa prosedur lengkap yang berkenaan dengan jasa penyewaan pembunuh bayaran. Marak memperoleh berkas ini dari berangkas yang ada di dalam kamar kedua orang tuanya beberapa bulan yang lalu. Saat itu, ketika pertama kali membacanya, ia kaget dan tidak percaya ada dokumen seperti itu di dalam kamar ayahnya. Membuat anak sebatang kara itu menjadi semakin terpukul dan berpikir kalau kedua orang tuanya memang terlibat dalam kasus pembunuhan berencana yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu.

Marak akhirnya membulatkan tekad. Ia hendak beresolusi dengan pemikiran yang gila, mengakhiri segalanya dengan cara yang berbeda. “Mungkin hanya dengan cara ini, kegelapan yang selama ini menghantuiku bisa sepenuhnya dilenyapkan.” Marak tertawa kecil sembari sesekali menghibur diri. “Menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh dirinya sendiri. Kedengarannya keren, seperti di film-film. Tidak buruk untuk dicoba. Lagi pula belum tentu juga semua yang tertulis di dalam dokumen ini benar adanya. Siapa tahu hanya kerjaan orang iseng yang sok-sok berlagak menjadi seorang penjahat.”

Marak mengikuti segala prosedur penyewaan jasa pembunuh bayaran yang tertera pada dokumen-dokumen rahasia tersebut. Transaksi pembayaran jasa dilakukan Marak menggunakan credit card virtual milik ayahnya. Setelah itu, Marak dibawa ke tahap selanjutnya untuk mengisikan nomor handphone pada kolom yang telah disediakan. Nantinya nomor itu akan dipergunakan untuk berkomunikasi dengan sang pembunuh bayaran. Segala detil dan rincian pembunuhan akan dibicarakan lewat panggilan telepon. Setelah semuanya di konfirmasi, Marak mendapat respon dari situs tersebut. Menyatakan bahwa proses transaksi telah selesai dilakukan.

“Tewas, mati, terbunuh. Seperti apa ya rasanya?” Dengan sedikit diselimuti rasa penasaran, Marak tersenyum lepas. Entah kenapa saat ini hatinya merasa sangat lega dan bahagia. Membayangkan kalau penderitaan yang selama ini menerpa hidupnya akan segera berakhir dengan cara yang indah.

Tak lama kemudian, telepon pintar yang ada di atas mejanya berdering, memecah keheningan di malam hari. Sejenak Marak melihat ke arah layar teleponnya. Sebuah panggilan dari nomor privat tak dikenal. Tanpa pikir panjang ia pun langsung menjawab telepon tersebut.

“Ya, halo, siapa ini?”

“Apa benar kau yang memesan jasaku?” Seseorang dengan suara berat berbicara di telepon tersebut.

Marak terdiam dan berpikir sesaat. Memastikan kalau itu adalah benar si pembunuh bayaran yang barusan ia sewa. “Ya, itu benar. Akulah yang barusan memesan jasamu melalui website ‘crypticsinator

Pembunuh bayaran itu sedikit terbatuk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan suaranya sebelum mulai berbicara. “Baiklah, sesuai dengan prosedur yang tertera di website kami, langsung saja kita ke inti pembicaraan. Sebutkan nama orang yang hendak anda bunuh, waktu pembunuhan, metode pembunuhan, beserta umurnya. Lalu untuk keterangan lebih lanjut seperti foto, alamat, deskripsi diri, sifat, karakter, ciri-ciri dan penampilan sehari-harinya, anda bisa menjelaskan secara detil melalui alamat email yang nanti akan kuberikan melalui pesan singkat setelah pembicaraan ini selesai.”

“Ah, soal itu anda tidak perlu repot-repot. Karena orang yang hendak kubunuh tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri. Saat ini juga akan kuberitahu semua deskripsi diriku yang kau butuhkan.”

Sesaat sang pembunuh bayaran terdiam. “Hmm, menarik sekali! Aku sampai penasaran, darimana kau bisa mengetahui situs rahasia pembunuh bayaran kami? Baru pertama kali aku dengar ada orang yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh dirinya sendiri. Memangnya apa yang terjadi pada hidupmu? Sampai-sampai hendak membuatmu melakukan bunuh diri seperti ini?”

“Hei om, kau banyak omong ya. Kau tidak perlu tahu hal-hal semacam itu. Dilihat dari prosedur yang terterapun, sepertinya tidak ada kewajiban bagiku untuk memberitahumu bukan? Cukup bunuh saja aku dan beres sudah semua tugasmu. Tak usah lagi banyak berbasa-basi seperti perempuan.” Marak berbicara sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari telunjuk.

“Hahaha, sombong sekali kau bocah. Bisa-bisanya lelaki yang sudah menyerah dengan hidupnya berbicara seperti itu kepadaku. Baiklah kalau itu yang kau mau, sebaiknya sekarang kita kembali ke topik pembicaraan. Sebutkan nama dan umurmu.”

“Marak Ninggarat. Usia 17 tahun.” Marak menjawab singkat.

Terdiam sesaat, sang pembunuh bayaran pun melanjutkan pertanyaannya. “Waktu kematian yang kau inginkan?”

“Hmm, soal itu, terserah kau saja. Mungkin akan lebih seru jika kau tidak memberitahukannya kepadaku. Menarik bukan? Apabila aku sendiri tidak tahu kapan ajal dan kematian ini akan datang menjemputku.” Marak menjawab dengan entengnya.

“Hahaha, begitu ya, tidak masalah. Apapun yang client inginkan pasti akan kami turuti. Lalu metode kematian yang kau inginkan? Cara dan senjata yang kau ingin aku gunakan untuk membunuhmu?”

Sesaat Marak berpikir. “Hmm, sepertinya aku lebih tertarik jika kau membunuhku dengan alat selain senjata api. Aku sendiri masih punya sedikit harga diri untuk tidak mati ditangan seseorang dalam hal tembak-menembak. Jadi yaaa… sebenarnya aku lebih suka jika kau membunuhku dengan pisau belati atau benda-benda tajam semacamnya.”

Sang pembunuh bayaran pun menyetujui semua permintaan yang telah diajukan oleh Marak. “Baiklah pembicaraan kita nampaknya cukup sampai disini. Setelah ini akan kukirimkan sebuah alamat email melalui pesan singkat ke nomormu ini. Jangan lupa kau tuliskan semua keterangan-keterangan yang kami butuhkan sesuai dengan prosedur dan kesepakatan di awal pembicaraan tadi. Selamat malam dan selamat menikmati hari-hari terakhirmu, Marak Ninggarat. Jangan sampai kau menyesal dengan semua keputusan yang telah kau buat.”

“Ya, aku menantikannya.” Marak mengakhiri percakapan dan menutup teleponnya.

Tak lama kemudian, ia mendapat pesan singkat berisikan alamat email dari sang pembunuh bayaran. Segera ia isikan semua keterangan tambahan yang dibutuhkan. Waktu telah menunjukkan jam 2 pagi. Setelah seluruh persyaratan dan kontrak pembunuhan telah dipenuhi, Marak kembali melanjutkan tidurnya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir ini, dia bisa tertidur nyenyak dan tanpa beban. Pikirannya begitu tenang. Sampai-sampai hawa dingin dan tidak menyenangkan yang biasa terpancar dari dalam dirinya perlahan sirna. Digantikan dengan hawa sejuk penuh kehangatan yang menyebar ke seluruh penjuru kamar tidurnya.

Pagi itu, mentari bersinar terik. Cahaya matahari mulai menyengat dan menembus kaca jendela kamar Marak, menuju ke tempat tidurnya. Marak yang masih dalam keadaan tertidur pulas, perlahan mulai tersadar dan mengernyitkan dahi. “Cih, jam berapa ini?”

“Sekarang sudah jam 8 tuan.” Spontan Marak terkaget. Melihat Daelus tiba-tiba berbicara dari samping tempat tidurnya.

“Hei, kenapa kau ada disini?”

“Untuk membangunkanmu tuan.” Daelus tersenyum lirih.

“Tapi kan tidak perlu sampai seenaknya masuk ke kamarku juga. Dan lagi kalau memang ingin membangunkanku kenapa tidak dari tadi? Kalau begini sama saja aku juga sudah terlambat sekolah!” Marak menyahut ketus.

“Hari ini hari Sabtu tuan, sekolah anda libur.” Daelus tersenyum kembali

“Eh, ah, ya, begitu ya, lantas kenapa kau membangunkanku?” Marak bergumam.

“Di depan ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan anda tuan. Dia bilang dia teman sekelas anda di sekolah.”

Sesaat Marak berpikir, siapa gerangan yang hendak bertemu dengannya itu? Dia tidak ingat pernah ada membuat janji dengan siapapun. Yah, sesekali berbicara dan melayani seorang perempuan juga tak apa. Hitung-hitung untuk menghilangkan kebosanan. Toh, sebentar lagi dia juga akan mati. dia ingin melakukan berbagai macam hal yang jarang dan belum pernah dilakukannya.

Tanpa persiapan apa-apa, belum mandi dan masih dalam keadaan memakai piyama, Marak bergegas turun ke ruang tamu untuk menemui perempuan tersebut. Daelus sedikit curiga, tumben sekali tuannya bersikap seperti itu. Cara bicaranya juga terlihat sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia sama sekali tidak menanyakan nama ataupun identitas dari perempuan yang ingin bertemu dengannya tersebut. Biasanya dia akan langsung menolak siapa pun tamu yang ingin menemuinya dengan berbagai macam alasan.

Sesampainya di ruang tamu, Marak melihat perempuan itu sedang duduk di kursi, membelakanginya. Samar-samar Marak mencoba mengingat. Sepertinya dia kenal dengan perempuan berbadan tinggi besar itu. Kulitnya berwarna hitam manis dengan mengenakan pakaian choker blouse berwarna putih. Sehingga memberi daya tarik tersendiri bagi setiap lelaki yang melihatnya. Sambil memainkan rambut panjangnya yang terkuncir, perempuan itu celingak-celinguk melihat para pelayan yang sedang bersih-bersih di dalam rumah Marak.

“Kau kan, perempuan yang kemarin di gang?” Suara Marak mengagetkan sang perempuan.

“Ah, iya, Hai Marak, salam kenal. Bagaimana dengan kabarmu hari ini? Sudah baikan?

“Ya, lumayan. Meskipun banyak lecet, tapi tidak begitu parah.” Marak menjawab santai. Sejenak ia pun terdiam dan berpikir. “Kalau tidak salah, kau ini siswi pindahan yang baru masuk di kelasku itu ya? Aku lupa, siapa namamu?”

“Namaku Rateh Karteka. Aku dan ayahku baru saja pindah dari kampung asal kami, Ordin, ke Kota Vega ini. Mulai hari ini kita berteman ya, Marak. Sejujurnya aku rada kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan di kota besar seperti Vega ini.”

“Hmm ya, tak masalah, selama aku bisa membantu. Lalu, sekiranya ada perlu apa kau datang ke rumahku?”

Rateh sedikit menyeringai. “Hehe, soal itu, sebenarnya tidak ada niatan khusus, sih. Hanya sekedar bersilaturahmi dan ingin melihat keadaanmu saja. Berhubung saat ini kita sudah menjadi teman sekelas, tidak ada salahnya kan kalau kita bisa saling mengenal lebih jauh lagi? Setelah ini aku juga ada urusan di tempat lain. Jadi hitung-hitung sekalian saja aku mampir ke rumahmu terlebih dahulu sebelum berangkat ke sana.”

“Hoo, begitu. Baiklah aku mengerti.” Sesaat, Marak terbesit sesuatu di dalam pikirannya. “Ngomong-ngomong kau bisa tahu alamat rumahku darimana? Sepertinya agak aneh kalau kau mengetahuinya dari teman-teman di kelas. Karena entah kenapa, aku yakin sekali kalau mereka pasti tidak akan mau memberikannya kepadamu.”

“Eh, begitu ya?” Rateh sedikit tersipu. “Sebenarnya kemarin aku membuntutimu sampai ke rumah. Melihat keadaanmu yang seperti itu, benar-benar membuatku khawatir. Tenang saja, aku tidak ada niatan jahat kok. Hanya sekedar ingin memastikan keselamatanmu saja” Rateh menjelaskan.

“Hahaha, jadi begitu, kau sudah seperti bodyguard-ku saja, Rateh. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang gantian. Giliranku yang menjadi bodyguard-mu selama sehari ini. Itu pun jika kau berkenan.”

“Eh, eh, kenapa tiba-tiba jadi begini? Apa maksudnya?” Rateh bertanya-tanya.

“Tak ada apa-apa. Tadi kan kau bilang kau sulit beradaptasi dengan kota besar seperti Vega. Jadi, tidak ada salahnya toh kalau aku mengantarkanmu ke tempat yang ingin kau tuju. Bukankah kau setelah ini hendak pergi ke suatu tempat?”

“Oh begitu, jadi ceritanya sekarang kau mau mengencaniku nih?”

“Hehehe, bisa jadi begitu.” Marak menyeringai.

Rateh meringis. “Baiklah, dengan senang hati tawaranmu barusan kuterima. Tapi serius, kau mau seharian menjadi bodyguard-ku? Dengan piyama seperti itu?”

Marak terdiam, berkaca sesaat kepada dirinya sendiri. “Hmm, ya tidak masalah.” Tukas Marak.

“Orang kaya sih bebas ya.” Rateh menjawab lugu.

Marak tersenyum kecut. Ia pun bergegas naik ke lantai dua, menghampiri Daelus yang sedang merapihkan kamar tidurnya. “Daelus aku mau pergi dulu menemani Rateh jalan-jalan. Tolong beritahu pelayan garasi untuk memanaskan mobil Porsche Boxster’ di depan halaman rumah. Aku sedang ingin berkendara dengan menggunakan itu.”

“Baik tuan, segera saya informasikan.”

“Terima kasih Daelus. Tolong jaga rumah baik-baik ya. Aku pergi dulu.” Sambil membawa dompet dan telepon pintarnya, Marak kembali turun ke bawah menemui Rateh di ruang tamu.”

Dari atas tangga, tiba-tiba Daelus memanggil tuannya. “Tuan Muda, hati-hati. Kalau ada apa-apa, tolong kau segera hubungi kami.”

“Ya, Daelus. Kau tenang saja. Pikirkan saja urusanmu sendiri. Tidak ada gunanya juga kau memikirkan orang sepertiku. Aku sudah bukan tuanmu lagi. Keluarga Ninggarat telah mati. Saat ini aku hanyalah orang biasa yang ingin menjalani hidupku dengan sebaik mungkin saja. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Daelus terngiang dengan ucapan tuannya barusan. Merasa ada sesuatu yang aneh dan berbeda dari tuannya di pagi hari ini.

Marak memacu mobilnya keluar dari gerbang rumah. Bersama dengan Rateh, mereka berjalan melintasi alun-alun, menyusuri keramaian, dan mengitari perkampungan elit di sekitar pinggiran kota. Suasana Kota Vega terlihat cukup ramai dan bersahabat pada hari weekend seperti ini.

Selama di perjalanan, mereka bercanda tawa, bercerita banyak hal mengenai kehidupan masing-masing. Marak pun menceritakan sedikit seputar keluarganya yang telah dianggap sebagai public enemy oleh masyarakat setempat.

“Kekayaan keluargamu itu benar-benar sangat mengerikan ya, Marak. Baru pertama kali aku menaiki mobil bagus seperti ini, loh.” Rateh mengutarakan pendapatnya.

“Haha, terima kasih. Jadi, hari ini kau mau diantarkan kemana tuan putri?” Marak bertanya selayaknya seorang bodyguard.

“Aku hendak pergi ke Doodle Studio Design (DSD). Lokasinya ada di sekitar Pasar Vega. Kau tahu tempat itu Marak?”

“Hmm, ya, aku tahu tempatnya. Sebagai perusahaan unggulan yang bergerak di bidang seni, desain, dan industri kreatif, DSD adalah satu-satunya tempat yang memberikan jasa dan kualitas produk terbaik yang paling banyak diminati oleh masyarakat Kota Vega.” Marak berbicara dengan sepengetahuannya.

“Jadi, apa yang kau mau lakukan di tempat seperti itu?” Marak balik bertanya kepada Rateh.

“Aku mau bekerja sambilan, Marak. Selama tinggal di Ordin, aku telah menjadi pegawai magang di perusahaan ini. Meskipun yang di Ordin hanya cabang kantornya saja, sih. Tapi setelah tahu aku akan pindah ke Kota Vega, bos dari kantor cabangku itu langsung merekomendasikanku ke kantor pusat yang ada di Kota ini. Dan tanpa harus melalui tes lagi, aku sudah diterima masuk dan bekerja disana mulai hari ini.”

“Wah, ternyata kau hebat juga ya. Masih SMA sudah sanggup bekerja seperti ini.” Marak memuji Rateh dengan polosnya.

“Hehe, biasa saja. Pujianmu terlalu berlebihan Marak.”

Marak membetulkan posisi duduknya. Matanya terfokus ke arah jalan. Dipacunya mobil sport tersebut ke arah Pasar Vega dengan kecepatan penuh.

Lima belas menit berlalu. Mereka pun tiba di kantor DSD. Marak memarkirkan mobilnya di dalam parkiran basement kantor tersebut. Suasana parkiran terlihat masih sepi. Belum ada orang yang datang. Sekarang masih jam 9. Sedangkan jam operasional kantor itu baru dimulai pada jam 10.

Ketika mereka berdua hendak turun dari mobil, tiba-tiba Rateh memegang lengan piyama Marak. “Sebelum kita masuk ke dalam, A… aku boleh minta tolong sesuatu?”

“Ya, ada apa Rateh? Katakan saja.” Marak menjawab dengan sedikit curiga.

“Kalau nanti tiba-tiba terjadi sesuatu padaku, tolong kau buka isi tasku. Di dalamnya ada obat yang biasa kupakai. Kau ambil obat itu, lalu kau arahkan ke tengah dadaku.” Rateh membimbing tangan Marak menyentuh bagian tengah dadanya. “Disini, tepat disini.”

Spontan Marak langsung melepaskan tangannya dari genggaman Rateh. Wajah Marak memerah, pikirannya tak karuan. Salah tingkah dengan perlakuan Rateh barusan. “Hei-hei, apa-apaan ini. Memangnya kau kenapa Rateh? Jangan main-main denganku!” Marak berbicara dan memperingatkan Rateh dengan tegas.

Sesaat air mata Rateh sedikit keluar. “Tidak Marak, tidak ada apa-apa. Maaf kalau aku lancang. Aku memang suka mengigau sendiri. Sebaiknya kita lupakan saja kejadian barusan.”

Marak masih terdiam. Matanya menatap Rateh dengan penuh prasangka. “Kalau ada apa-apa sebaiknya kau bilang saja. Jangan dipendam seorang diri.”

Rateh berterima kasih karena Marak telah peduli dengan keadaanya.

“Yuk, kita masuk ke dalam.” Rateh berbicara sambil menyeka air matanya yang sedikit keluar agar tidak ketahuan oleh Marak.

“Memangnya aku boleh masuk? Aku kan bukan orang magang ataupun pekerja di sana. Takut kehadiranku nanti malah membuat semua orang sungkan dan mengganggu pekerjaan kalian, sebaiknya aku menunggu diluar saja, ya?”

“Boleh kok! Biasanya juga banyak ibu-ibu yang membawa anaknya. Pegawai-pegawai yang lain pun biasa membawa pasangan ataupun pacarnya.” Rateh menjelaskan.

“Tapi ini kan Kantor pusat, Rateh. Beda dengan kantor cabang sewaktu kau bekerja di Ordin dulu.”

“Aku sudah melihat prosedur dan peraturannya melalui website, Marak. Tidak ada larangan untuk melakukan hal itu. Apalagi kalau orang yang kita bawa mau ikut membantu dan sama sekali tidak mengganggu.”

“Tapi aku tidak bisa membantu apa-apa, Rateh. Aku awam dalam bidang seperti ini. Yang ada, nanti aku malah merepotkan kalian semua.”

“Hei, bukankah hari ini kau sedang menjadi bodyguard-ku? Seorang bodyguard harus selalu ada dan hadir setiap kali sang majikan memanggilnya bukan?

Marak tertawa mendengar hal tersebut. “Haha, baiklah, aku menyerah. Kalau begitu, nanti aku akan menyusul kesana. Sekarang aku mau cari makan dulu. Aku baru ingat sedari tadi pagi aku belum sarapan. Boleh kan?”

“Oke boleh, jangan lama-lama, ya. Kutunggu kau di dalam. Nanti kuberitahu ruangan tempatku magang melalui pesan singkat ke handphone-mu.”

“Ya, sip, beres.” Marak mengacungkan jempolnya. Rateh masuk ke dalam lift yang ada di basement, meninggalkan marak di parkiran DSD seorang diri.

Marak keluar dari mobil, lalu berjalan kaki. Tiba-tiba, sebuah peluru melesat dengan cepat dari jarak yang cukup jauh, mengenai dinding yang hanya berjarak beberapa senti dari kepala Marak. Marak tercengang. Wajahnya mendadak pucat. Bagaimana tidak? Baru saja dia menyaksikan kematian melintas di hadapannya.

“Hei, bocah, tenang saja. Itu hanyalah tembakan peringatan. Peluru itu tidak akan pernah sampai membunuhmu.” Seorang pria misterius berbicara dari dalam kegelapan parkiran DSD. Perlahan ia mendekat, menghampiri Marak yang sedang tertegun menatap ke arahnya. Tubuh Marak bergidik, melihat seorang pria dengan hawa mengerikan sedang berdiri tepat di hadapannya. Berbadan tinggi dan ramping. Rambutnya panjang, berwarna putih, dan terjulur sampai ke pinggang. Pakaiannya terlihat necis dengan warna yang serba hitam. Wajahnya tidak begitu terlihat karena ditutupi dengan masker dan kacamata hitam.

“Ka… kau, si pembunuh bayaran?” Dengan suara terbata-bata, Marak memberanikan diri untuk berbicara kepada pria tersebut.

“Ya, benar. Akulah si pembunuh bayaran yang baru saja kau sewa semalam. Dan sesuai dengan perjanjian, waktu pembunuhan target ditentukan secara fleksibel. Itu artinya aku bisa bebas membunuhmu kapanpun aku mau. Lalu, eksekusi terhadap target dilakukan selain dengan menggunakan senjata api. Jadi, aku akan melakukannya dengan menggunakan ini.”

Sang pembunuh bayaran pun mengeluarkan sebuah pisau belati yang tersimpan di dalam lengan bajunya. Dihunuskannya pisau tajam itu ke arah Marak.

“Nah, sekarang, apakah kau sudah siap untuk mati, Marak Ninggarat?”

 

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments