Meta Online – Perjalanan Terakhir

3 months ago
dPatria

by: dPatria

Meta Online, game tipe MMORPG yang menjadi salah satu game terbaik pada tahun 21XX. Segalanya berubah digital, game dengan teknologi terbaru yang memungkinkan fisik pemain masuk ke dalam game. Game ini memberikan pengalaman dunia fantasi yang terasa sangat nyata, seperti “kehidupan kedua”. Lebih dari satu miliar pemain aktif dari berbagai benua bermain game ini setiap harinya.

Semuanya berlangsung normal, setidaknya sampai hal yang ditakutkan terjadi. Server Meta Online lenyap beserta pemain di dalamnya. Para pembuat game mengatakan tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Peristiwa ini telah terjadi lima tahun lalu, hingga saat ini masih belum ada solusi sama sekali dan masih menjadi peristiwa paling menggemparkan sepanjang sejarah.

***

Lima tahun yang lalu, pemain Meta Online tidak dapat keluar dari game. GM, Game Master, membuat pengumuman paling kontroversial. Pemain tidak dapat keluar dari game kecuali dengan satu cara yaitu membunuh bos terakhir dari game ini, Kala. Setelah membunuh Kala, pemain akan mendapatkan tiket untuk keluar dari game. Tiket ini tidak dapat diberikan kepada pemain lain. Apabila pemain terbunuh oleh Kala, dia tidak dapat dihidupkan menggunakan skill maupun item dan dia harus mengulang dari level 0.

Selama lima tahun, tidak ada satu pun pemain yang mampu untuk keluar dari game. Banyak pemain dengan level tinggi harus mengulang dari level 0. Tidak sedikit pula pemain yang mencoba menantang GM, mereka berpikir dapat keluar bila mengalahkan GM. Tentu saja hasilnya nihil karena kekuatan GM setara bahkan lebih kuat dibandingkan Kala.

***

Dua pemain berada di tengah hutan. Nikel, lelaki muda yang menggunakan kostum badut sirkus warna-warni. Seorang lainnya adalah Aria, wanita yang sangat sulit ditebak usianya. Dia mengenakan baju, topi runcing, dan jubah lebar berwarna ungu kehitaman. Mereka berjalan mengikuti jalan setapak yang telah ada sejak awal game diciptakan. Semburat jingga menandakan kegelapan akan merasuk ke dalam hutan.

“Apa kamu yakin ini jalurnya?” Tanya Aria. Raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan kegelisahan.

“Tentu saja, percayalah padaku. Aku telah melewati tempat ini empat tahun yang lalu.” Ujar Nikel penuh percaya diri. “Hmmm, sepertinya sebentar lagi belok kanan.”

“Em-empat tahun yang lalu? Lebih baik Aria pulang saja!” Aria berteriak sambil berbalik arah. Nikel menjegal kaki Aria sebelum Aria sempat berlari sehingga muka Aria mencium jalan. Nikel memegang jubah Aria dan menyeretnya.

“Memangnya kau tahu jalan pulang?”

“Selama ada niat, Aria pasti dapat pulang! Lepaskan Aria! Lepaskan Aria!” Aria mulai merengek seperti anak kecil.

“Selama ada niat, kita pasti sampai! Bukankah begitu?” Balas Nikel dengan menirukan gaya Aria.

“Huuftt. Kalau begitu, Aria tidak mau jalan.” Mukanya kini terlihat cemberut.

Nikel menghela napas. “Untung saja strength-ku sangat besar, menyeretmu terasa seperti membawa kapas.”

***

Hutan tampak lebih mengerikan di saat malam. Efek suara serigala melolong menambah suasana mencekam. Nikel dan Aria beristirahat  di bawah pohon besar. Malam hari bukanlah waktu yang baik untuk melanjutkan perjalanan. Para monster nokturnal bukanlah lawan yang mudah, apalagi mereka selalu menyerang dalam jumlah besar.

“Sekarang kita bermalam di sini, aku akan memasang beberapa repel. Aria, kau buat api unggun. ” Nikel menancapkan kayu mengitari mereka berdua. Kayu itu memancarkan aura hijau maya-maya setiap kali tertancap di tanah.

“Aria masih ngambek. Aria mau diam saja.” Dia membuang muka. Mukanya sangat masam.

“Kalau kau membuat api unggun, akan kubelikan tongkat sihir baru.”

“Kamu pikir Aria mudah dibujuk? Sekali tidak, tetap tidak.”

“Bagaimana kalau satu tongkat sihir baru dan sapu terbang, mau?”

FIREBALL!” Aria memutar tongkat sihirnya. Sebuah bola api muncul dan membakar tumpukan kayu bakar yang telah dipersiapkan Nikel. “Sudah!”

Nikel menghela napas panjang. “Oh dompetku yang malang.” Dia melanjutkan memasang repel.

“Nikel.” Suara Aria memecah keheningan malam.

“Ada apa?”

“Empat tahun yang lalu, apakah kamu mencoba mengalahkan Kala?” Aria melihat ke langit. Dia menatap bintang-bintang palsu yang tidak pernah bergerak. Nikel diam membisu. Aria melanjutkan, “Bila kamu tidak ingin cerita, aku….”

“Empat tahun yang lalu.” Nikel memotong perkataan Aria. “Empat tahun yang lalu aku dan timku berhasil membunuh Kala….”

“Tapi kamu masih di sini. Bukankah seharusnya kamu dapat keluar?”

“Kami berhasil membunuh Kala, tapi hanya aku sendiri yang selamat. Meskipun aku mendapat tiket keluar, pada akhirnya aku menantang GM. Hasilnya sudah dapat ditebak, aku kalah melawannya.”

“Nikel, kamu….”

“Aku sangat bodoh. Padahal aku dapat bebas, tapi aku memilih mengulangi semuanya dari awal. Timku juga tidak dapat kuhubungi lagi. Mereka menganggapku pengkhianat. Mereka menyalahkanku saat melawan Kala karena hanya aku yang selamat. Sepertinya aku ditakdirkan untuk sendiri.” Nikel menundukkan kepalanya. Suasana menjadi hening.

WATERFALL!” Aria memutar tongkat sihirnya. Air berkumpul di atas kepala Nikel dan jatuh bagaikan air terjun. Seluruh badan Nikel basah kuyup.

“Aria! Mengapa menyiramku?” Nada bicara Nikel meninggi.

“Nikel, kamu tidak sendiri! Masih ada Aria. Selama ada Aria, Nikel tidak akan sendirian!” Ucap Aria bersungut-sungut.

“Ha, ha, ha. Benar juga. Bila tidak ada aku, kau pasti tersesat selamanya di hutan yang itu.” Nikel tertawa lepas. Dia teringat saat Aria terjebak di hutan selama lebih dari 1 bulan. Beruntung sekali Aria bertemu Nikel karena jarang ada pemain yang pergi ke tempat terpelosok.

“Ihhhh, WATERFALL!”

“Ampun….”

***

“Akhirnya kita sampai di kota terakhir, Atlas. Atlaaassss!” Nikel berteriak kegirangan. Atlas adalah kota terakhir. Kota sebelum melawan Kala.

“Tapi sepertinya kita sempat tersesat. Tiga kali kita berputar-putar di persimpangan yang sama sebelum sampai kota. Aria sendiri yang menghitung.”

“Empat kali.” Nikel bergumam.

“Empat?” Wajah Aria tampak bingung. Dia tidak paham ucapan Nikel.

“Ah, aku ingat! Kita akan membeli sapu terbang dan tongkat sihir.” Nikel mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia menggenggam tangan Aria dan mengajaknya berlari pelan menuju kerumunan.

“Hore! Tongkat sihir baru dan sapu terbang. Aria tidak perlu capek-capek jalan kaki lagi.”

Nikel bernapas lega. Bila Aria tahu, pasti dia akan meminta barang-barang yang lainnya. Dapat dipastikan dompetnya akan hampa.

“Toko senjata… Toko senjata… Toko senjata… Ketemu!” Gumam Nikel sambil menoleh kanan-kiri membaca papan toko.

Mereka berlari menuju toko senjata. Tiba-tiba ada yang menarik perhatian Nikel. Seseorang dengan rambut panjang berwarna warna biru. Tatapan Nikel berpindah ke wajah orang tersebut. Nikel diam mematung. Dia mengenal wajah orang itu, orang yang dia cari selama ini ada di hadapannya.

“Nikel?” Aria bingung dengan sikap Nikel.

“Aria, mundur!” Nikel berbisik pada Aria. Raut muka Nikel terlihat serius. Aria menggangguk pelan dan mundur beberapa langkah. Jarang sekali dia melihat wajah Nikel yang serius.

Nikel memasang kuda-kuda. Dia menggenggam pedang di tangan kanan dan tombak di tangan kiri. Secepat kilat dia melempar tombak di tangan kirinya dan secepat kilat pula dia berlari menghampiri orang berambut biru. Pedangnya siap menusuk target di hadapannya.

Rupanya orang berambut biru sadar bahwa dia sedang diserang. Ditepisnya tombak menggunakan pedang di tangan kanan dan ditahannya serangan pedang menggunakan perisai besar di tangan kirinya. Tombak yang berhasil ditangkis mengenai dinding sebuah toko. Tak ayal dinding itu roboh. Mengetahui serangannya berhasil dipatahkan, Nikel melompat mundur. Orang-orang di sekitar mereka mulai mundur.

“Tak kusangka kita bertemu di tempat ini, Anton.”

“Anton? Apa kamu kenal Anton?” Orang berambut biru menurunkan tamengnya. Sekarang wajahnya terlihat jelas.

“Ah, maaf. Aku salah orang.” Nikel meminta maaf dan berbalik arah. Dia ingat bila Anton memiliki luka sayat di pipi kanannya. Sementara itu, orang yang mirip dengan Anton tidak memiliki luka sayat di pipi kanannya.

“Tunggu sebentar.” Orang berambut biru memegang bahu Nikel. “Bagaimana kamu tahu nama kakakku? Di mana dia sekarang?”

“Maafkan aku, aku salah orang. Sudah jelas-jelas nama di atas kepalamu itu tertulis Rion. Maafkan atas kesalahpahaman yang terjadi.” Nikel melepaskan genggaman tangan Rion dan pergi menghampiri Aria.

“Tunggu…!” Rion berteriak, tapi Nikel dan Aria tetap berjalan tidak mengindahkannya. Rion melihat kerusakan yang terjadi akibat serangan Nikel. “Masa aku yang harus ganti rugi semua ini?”

***

Di toko senjata, Aria dan Nikel sedang melihat-lihat senjata yang diperlukan. Berbagai jenis senjata terpajang di dinding dan meja. Sejak insiden dengan Rion, Aria dan Nikel tidak bicara sedikitpun. Aria tidak ingin membahas insiden tadi lebih jauh meskipun dia ingin tahu.

“Ah, ini dia tongkat sihir yang Aria cari!”

“Mana? Aku ingin lihat.”

Aria menunjukkan tongkat sihir yang diinginkannya. Tongkat sihir dengan kemampuan meningkatkan kekuatan magis untuk kelas Mage dan Healer sebesar 100%. Selain itu, tongkat ini mengurangi casting time sebesar 20%.

“Kelasmu adalah Mage, Healer, dan Alchemist. Sepertinya ini cocok untukmu, tapi….” Muka Nikel berubah pucat ketika melihat banyaknya angka nol.

“Tapi apa?”

“Tapi uangku tidak cukup.” Nikel berbisik di telinga Aria.

***

“Terima kasih Rion, sebenarnya Aria masih punya cukup uang. Kamu sangat baik.” Aria tersenyum sambil menaiki sapu terbang yang baru saja dibeli.

“Ah, tidak apa-apa. Anggap saja sebagai bayaran untuk  bergabung dengan tim kalian.” Balas Rion santai.

“Kamu memang orang baik. Tidak seperti orang yang hanya memberi janji saja.” Ucap Aria sambil melirik ke arah Nikel. Nikel pun merasa tersindir.

“Jika aku punya banyak uang, semua barang akan kubeli semuanya termasuk toko itu!” Bentak Nikel.

“Jual saja semua sampah di dalam tas kamu!” Sahut Aira tidak mau kalah.

“Apa kau lupa? Kelasku adalah Juggler, sampah pun dapat kulempar sebagai senjata!” Nikel menimpali.

“Sudah-sudah, kalian tidak perlu marah.” Rion mencoba menenangkan mereka berdua.

“Siapa yang marah!” Aria dan Nikel berteriak hampir bersamaan.

Mereka bertiga terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa lepas. Sudah lama Rion tidak tertawa seperti ini. Tertawa bebas tanpa beban.

“Nikel, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.” Rion menghentikan langkahnya. Sikapnya menjadi serius.

Nikel ikut menghentikan langkahnya.“Nanti malam di penginapan. Akan kuceritakan semua yang kutahu dan kau ceritakan semua yang kau tahu.”

Aria yang berada di depan melambaikan tangannya. “Mengapa berhenti? Bukankah kita harus mencari anggota lain?”

“Kita sudah sampai, tempatnya ada di seberang jalan.” Balas Nier sambil menunjuk sebuah penginapan. Dia berbisik kepada Rion. “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan adik seorang GM.”

Rion diam terpaku.

***

Sebanyak 6 pemain berkumpul di suatu kamar penginapan. Mereka membuat rencana untuk keluar dari game.

“Sebaiknya kita mulai perkenalan. Nama Aria adalah Aria, panggilan Aria waktu kecil adalah Aria. Kelas Aria adalah Mage level 79, Master Healer, dan Master Alchemist. Makanan kesukaan Aria….”

“Selanjutnya!” potong Nikel.

“Rion. Kelas Knight level 98, Master Warrior, dan Master Royal Guard. Selanjutnya.”

Seorang anak kecil dengan wajah oriental mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Wah, hebat. Kalau sudah mastel belalti sudah level 99. Totalnya hampil level 300. Eh, pelkenalkan. Nama Lii. Kelas Huntel (Hunter) level 50, Alchel (Archer) level 80, dan Mastel Tamel (Tamer). Selanjutnya.”

Wanita dengan rambut berwarna merah menyala mengangkat tangan. “Nama saya Mia. Kelas saya belum ada yang master, tapi kelas saya ada banyak. Thief level 60, Knight level 75, Summoner level 75, Healer level 75, dan Juggler level 75. Selanjutnya.”

“Orang gila! Level sudah 300 lebih tapi belum ada yang master.” Ucap Nikel spontan. “Ehm, maaf, nama Nikel. Kelas Juggler level 98, Master Knight, dan Master Assassin. Selanjutnya.”

“Grey. Kelas Healer level 40, Master Knight, Master Warrior, Master Royal Guard.” Lelaki dengan wajah datar sejak awal tim ini dikumpulkan. Sulit untuk membaca pikirannya.

“Baiklah selanjutnya menentukan ketua tim. Ketua tim memegang peran penting. Dia harus mampu mengetahui karakteristik anggota tim, mengatur formasi dalam berbagai kondisi, dan mengendalikan pertarungan. Keselamatan semua anggota tim menjadi tanggung jawab ketua.” Nikel melanjutkan, “ Adakah yang bersedia menjadi ketua tim?”

Suasana menjadi hening. Beberapa dari mereka menimbang-nimbang untuk jadi ketua, sedangkan yang lainnya tampak tidak peduli. Akhirnya ada dua orang yang mengangkat tangan. Nikel tersenyum. “Rupanya ada dua orang yang mengajukan diri, Rion dan Grey. Baiklah, kita akan latihan selama empat hari. Hari pertama dan keempat oleh Grey. Hari kedua dan ketiga oleh Rion. Setelah semua latihan selesai, kita akan memilih ketua tim dan mengatur strategi. Apabila ada yang tidak setuju, katakan sekarang.”

“Aku, aku tidak setuju.” Grey angkat bicara. “Mengapa bukan kamu saja yang jadi ketua, Nikel?”

“Karena aku tidak ingin.” Jawabnya datar.

“Jika kamu tidak mau, mengapa kamu mengatur kami untuk latihan selama empat hari?”

Semua mulai berbisik. Suasana ini membuat Nikel tidak nyaman.

“Apa kalian mau latihan selama 6 hari? Bukankah tanpa aku sainganmu hanya tinggal Rion? Semakin cepat kita keluar dari game ini, semakin cepat pula kita meminta bantuan dari dunia nyata. Bila kita dapat keluar dari game ini, aku berharap orang di dunia nyata mendapat petunjuk untuk membebaskan yang lain.” Balas Nikel kesal.

“Bila itu jawabanmu. Lebih baik kita menyerang Kala sekarang. Semakin cepat kita membunuh Kala, semakin cepat kita keluar.” Timpal Grey.

“Apa kau mau bunuh diri? Tanpa persiapan yang matang, sama saja kita menyerahkan nyawa kita. Level kita sudah dikatakan cukup untuk membunuh Kala, tapi itu saja tidak cukup. Kerjasama tim menjadi kunci kemenangan.” Nikel mulai bekata dengan nada tinggi.

“Baiklah, aku setuju. Lagipula aku hanya mengetesmu saja.”

Aria melihat Nikel telah menggenggam tombak di kedua tangannya.

WATERFALL!” Air jatuh membasahi Nikel.

“Selanjutnya latihan dimulai besok pagi. Satu lagi, siapapun yang memimpin dalam latihan, kita harus bersikap profesional. Rapat selesai, silahkan kalian kembali ke kamar masing-masing.” Nikel menahan amarahnya. Hampir saja dia melempar Grey dengan tombak yang digenggamnya dengan tangan kiri di balik punggungnya.

Semua telah kembali ke kamar masing-masing kecuali Nikel dan Rion. Suasana hening memenuhi ruangan. Nikel mendekati jendela melihat ke langit malam.

“Anton adalah kakakku. Wajah kami berdua sangat mirip. Dia telah meninggal enam tahun yang lalu.” Suara Rion memecah kesunyian.

“Orang mati tidak mungkin berada di sini.” Nikel berbicara tanpa melepas pandangannya dari langit.

“Itu yang ingin kupercaya, tapi kenyataan berkata lain. Dia mengalami kecelakaan ketika akan masuk ke dalam game. Aku melihat dengan kedua mataku. Tubuhnya telah tak bernyawa, tapi keanehan terjadi.”

“Keanehan?”

“Seperti saat orang hidup masuk ke dalam game, tubuhnya mulai menghilang. Selama satu tahun aku mencarinya di Meta, setidaknya tubuhnya akan kutemukan. Kemudian peristiwa itu terjadi. Aku sudah lupa akan tujuan awalku hingga kamu memanggiku dengan nama Anton. Aku tidak tahu bahwa kakakku adalah pelakunya. Orang yang menjebak pemain di dalam game. Aku harus mengakhiri semua ini.”

“Sebagian besar orang di yang terjebak telah melupakan kehidupan di dunia nyata. Mereka telah putus asa dan menerima semua ini. Aku tidak menyangka bila penyebab semua ini adalah orang mati. Semua salahku, kau tidak perlu menanggung beban ini. Seandainya saja aku tidak menerima tantangannya.”

“Tantangan? Apa maksudmu? Siapa kamu sebenarnya?” Rion merasa ada sesuatu yang janggal pada diri Nikel.

Nikel menatap Rion. Dia tersenyum penuh makna. “Semua salahku karena aku….”

***

Di sebuah sabana terjadi pertarungan dahsyat. Kala melawan sebuah tim yang terdiri dari 6 pemain dengan tugas masing-masing. Suara ledakan dan benturan bersahut-sahutan dibarengi dengan hamburan debu.

“Mia, summon beberapa monster untuk menyerang matanya! Lanjutkan dengan memulihkan Grey!” teriak Rion.

“Ok.”

“Aria, hentikan pergerakan kakinya! Lii, suruh beruangmu menyerang dari belakang dan serang tangan yang membawa busur menggunakan panah! Nikel, serang kedua tangan kirinya! Aku dan Grey akan menahan serangannya!”

“Beri Aria waktu sepuluh detik.” Ucap Aria.

Kala, bos terakhir berbentuk raksasa besar dengan empat tangan. Setiap tangan memegang senjata. Tangan kanan membawa busur dan anak panah. Tangan kiri membawa kapak dan tongkat. Setiap kali melangkah, angin berhembus kencang dan menimbulkan kerusakan yang besar. Dengan menyerang tangan yang membawa busur, tentu tangan kanan yang membawa anak panah menjadi tidak berguna. Apabila dapat menghentikan pergerakan kaki, akan mudah untuk menyerang dari dekat.

“Aria, berapa lama lagi?” Grey sudah kewalahan menahan hembusan angin.

“Tiga, dua, satu. TRAP HOLE!”

Tanah yang berada di bawah Kala mulai ambles. Tubuh Kala terjebak di dalam tanah. Hanya bagian perut ke atas yang terlihat. Angin telah berhenti berhembus. Rion dan Grey mendekat untuk menyerang dari dekat.

“Sekarang saatnya, pusatkan serangan pada tangan kiri! Mia dan Aria, pulihkan aku dan Grey!” teriak Rion.

“Ok!” jawab semua hampir serempak.

Mereka menyerang tangan kiri Kala. Kepulan asap menyelimuti tangan kiri Kala. Kedua tangan kirinya jatuh dan menghilang sebelum menyentuh tanah. Hanya tersisa kedua tangan kanan yang membawa busur dan anak panah.

“Bagus, sekarang serang tangan yang membawa busur! Aria, bekukan tangan yang membawa anak panah!”

“Sepuluh detik” Balas Aria.

Serangan berikutnya menghancurkan tangan kanan yang membawa busur. Hanya tersisa satu tangan yang membawa panah. Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi sebelum Aria sempat menggunakan skill miliknya. Kala memutar tubuhnya sangat cepat dan anak panah melesat ke semua arah.

“Semuanya berlindung di belakangku dan Grey!”

Badan Grey dan Rion mulai bergeser dari posisi awal mereka. Mereka berdua terdorong mundur. Anak panah mulai berjatuhan bagai hujan. Tameng mereka berdua mulai retak.

“Aku sudah tak mampu menahannya. Apa yang harus kita lakukan?” Grey mulai pesimis.

Semuanya hanya dapat berlindung tanpa menyerang balik. Wajah mereka tampak putus asa. Terbayang-bayang dalam benak mereka saat mereka terbunuh. Semuanya harus memulai dari level 0. Seolah-olah semua perjuangan mereka tidak ada artinya. Hanya Nikel dan Rion yang masih menunjukkan semangat.

REMOVE LIMITER! GRAND SHIELD!”

Tameng bercahaya biru sebesar kepala Kala melindungi mereka semua. Mereka bertanya dalam hati, siapa gerangan yang telah melidungi mereka?

“Kukira dengan status sama dengan empat tahun yang lalu aku dapat mengalahkan monster jelek ini. Rupanya kau juga bertambah kuat. Apa GM memberimu artificial intelligence?” Ucapan Nikel membuat semuanya terkejut.

“Nikel, apa yang terjadi?” Aria bertanya keheranan.

“Maaf, aku telah berbohong kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menjadi master semua kelas.” Nikel tersenyum lebar. “Kalian telah berjuang keras, tidak kusangka kalian dapat membuat Kala sekarat.”

Nikel melompat ke udara. Dia melompat menuju kepala Kala. Kala tidak dapat menyerang setelah melemparkan panah. Nikel mengeluarkan senjatanya berbentuk sabit hitam.

“Sebagai hadiah, akan kubunuh Kala dengan satu serangan terakhir.”

DEATH SCYTHE!

Sabit yang berada di tangan Nikel membesar berkali-kali lipat dan ditebaskan ke arah Kala. Tebasan sabit itu membelah tubuh Kala menjadi dua. Tubuh Kala perlahan menghilang.

“Aku tidak tahu ada kelas yang menggunakan sabit.” Ucap Aria tanpa sadar.

“Hanya ada satu kelas, The Fool.” jawab Nikel.

“Mengapa tidak kamu gunakan dari awal? Kita tidak perlu susah payah menghadapi Kala.” Grey kecewa dengan sikap Nikel. Dia merasa telah tertipu.

“Jika kugunakan dari awal, siapa yang akan melawan dia? Bos yang sesungguhnya.” Nikel mengacungkan jarinya. Bukan menunjuk rekan timnya, tapi sesuatu di belakang mereka. Sosok yang selalu menggunakan topeng putih untuk menutup identitasnya, GM.

“Nikel, kau telah membuatku bosan menunggu. Empat tahun terasa bagai seumur hidup. Aku juga ingin bersenang-senang.” Ucap GM.

GM menjentikkan jarinya. Sebuah kapak berputar mengarah ke Aria. Secepat kilat Nikel berada di depan Aria dan menangkis kapak.

“Cepat kalian pergi ke lubang tempat Kala tewas! Ada gerbang menuju dunia nyata di sana. Tiket keluar sudah ada di dalam tas masing-masing.” Nikel memasang kuda-kuda. Dia bersiap menyerang GM.

“Tidak boleh ada satu pun bonekaku yang kabur dari istanaku.” GM menjentikkan jarinya. Kali ini sepuluh kapak berputar menuju mereka.

GRAND SHIELD!”

Tameng besar menangkis semua kapak. Nikel berteriak dengan lantang “Tak akan kubiarkan kau melukai mereka!”

REMOVE LIMITER! LIGHTNING SPEED! BINDING CHAIN! TRIPLE DASH!”

Suara ledakan bersumber dari belakang Nikel. Nikel menoleh ke belakang. Nikel tidak percaya dengan yang dia lihat. Hanya Rion seorang diri berdiri sambil tersenyum lebar.

“Bukan hanya kamu yang berbohong. Jika saja tidak kaulepaskan limiter-mu tadi, pasti akan kulakukan. Meskipun aku belum menjadi master semua kelas, jangan remehkan aku.”

“Ha, ha, ha. Pamer. Apa mereka semua sudah keluar dari game?”

“Mereka kulempar keluar satu per satu.”

“Ah, rupanya orang-orang paling kurindukan ada di depanku. Adikku dan mantan GM. Ini akan menjadi permainan yang menarik. Kuberikan waktu 1 menit untuk mempersiapkan diri. Sebagai gantinya, kalian harus dapat menghiburku.” GM mengambil posisi duduk dan sebuah singgasana muncul di belakangnya sehingga dia menduduki singgasana emas bertabur berlian.

“Rion, ambil ini. Salah satu sampahku yang tidak akan kujual.” Nigel memberikan pedang hitam miliknya kepada Rion.

Rion menerima pedang itu. Raut wajahnya menunjukkan rasa senang. “Salah satu pedang terkuat di Meta.” Kemudian tangan kirinya mengeluarkan pedang berwarna putih. “Dengan ini aku memiliki dua pedang terkuat di Meta.”

Nikel menggunakan topeng putih yang hanya menutupi daerah sekitar matanya. “Karena kau, aku harus menjadi pemain biasa. Karena kau, semua pemain terpenjara. Karena kau pula, aku berhasil mendapatkan kelas terakhir. Aku, Nikel The Fool, akan memberikan hiburan terakhir sebelum tidur panjangmu.”

“Masih ada 20 detik lagi.” Ucap GM sambil melihat arlojinya.

Nikel dan Rion mengacungkan senjata mereka ke GM.

“5….4….3….2…1….”

“Kami akan mengalahkanmu!” teriak Nikel dan Rion hampir bersamaan.

“Mulai!”

TAMAT

 

5 dukungan telah dikumpulkan

Comments