Minesweeper

8 months ago
Bunga

by: Bunga

Saat itu, kekacauan dimana-mana. Kemiskinan, KKN, dan hancurnya ideologi. Asasi tak berarti, nyawa manusia hanyalah sampah, mereka dipermainkan demi tercapainya keuntungan pribadi. Pejabat, Menteri, bahkan pemimpin negara ini melakukan segalanya dengan semena-mena.

Kami disini, menyaksikan derita itu.

Kami ada, karena mereka.

“… Keberatan jika ‘kami’ menghancurkan hidupmu…?”

-MINESWEEPER-

“Smirk! Kamu dimana?” Aku memanggil, mencari keberadaan yang tak kutemukan semenjak aku meninggalkan dapur di hunian minimalis ini.

”Apa?” sang buron tampak muncul tiba-tiba, aku berteriak cepat sebelum akhirnya menghadap belakang, melihat orang yang sedang kucari.

”Jangan sampai kamu bolos giliran cuci piring.” Aku melipat lengan, berusaha terlihat seram agar ia menurut.

“i… iya…” Smirk mulai berjalan lunglai menuju dapur tempat kami tinggal.

Inilah hidupku, aku Grin, lelaki bersurai merah muda. Dan Smirk, pemilik rambut biru langit yang selembut kepribadiannya. Kami dipungut oleh seorang wanita yang saat ini berumur 30 tahunan dan menyebut dirinya ‘Mama’. Entah dimanapun itu, semua orang selalu memanggilnya begitu.

Hampir semua orang mengenali kami, terutama mereka yang berada dalam dunia gelap. Tapi, bukan dengan nama kami. Melainkan nama Organisasi yang berisi para teroris.

Kita berdua termasuk dalam Organisasi itu. Bukan karena kami tak ada kerjaan atau semacamnya. Hanya saja, untuk membalas dendam kemalangan kami, penderitaan dan darah yang telah tumpah, kami disini untuk membuang para tikus pengganggu yang seenaknya mengambil hak kami sebagai rakyat.

”… Grin, dimana tempat untuk menaruh ini?” Smirk mengangkat piring keatas. Aku ngeri, memikirkan piring itu tak tertolong saat meluncur jatuh dari tangan Smirk.

“Di lemari sebelah kiri. Buka aja.

“Oh, iya, ada telfon tadi dari Ayl. Ada misi`” Smirk memulai pembicaraan.

“Dia lagi? Kenapa sih, kerjaannya mengganggu mulu. Kamu saja deh, yang pergi.” Aku mulai berbaring di sofa.

Gabisa,dong…” Aku menatapnya dengan wajah malas, ”… Yasudah, ayo.” mengalah, lagi. Demi pasokan uang bayaran yang terus ada.

Sambil mengambil jaket coklatku, aku mulai bertanya, “Apa perintahnya?”

Smirk menyunggingkan bibirnya dan berbisik,

“Boom…”

.

.

.

Bangunan disudut kota itu menjulang dihadapanku, terlihat tak terurus dan kotor.

“Ew…” tak suka, aku berniat kembali sampai seseorang meneriakkan namaku.

“Grin! Kenapa kamu tak pernah main kesini lagi?!” Ayl, lelaki itu mulai merangkulku, bau alkohol dan parfum wanita membuatku mendorong wajahnya jauh-jauh. Sungguh sambutan yang menggelikan.

“Kau. Kaulah satu-satunya alasan aku tidak ingin kemari.” cetusku dingin. Ayl hanya cemberut dan menunduk, “seperti biasa, kamu dingin ya…”

“Lho, mana Smirk?” sambung Ayl, mencari dan akhirnya menemukan rekanku itu di dekat pohon rindang, bermain bersama makhluk berbulu yang kalian sebut Kucing.

“Hoi! Serius dong!” Aku kesal,

Smirk menatapku, lalu berkata pada Ayl, “Milik siapa kucing ini? Bolehkah aku pelihara?” kusambut permintaannya itu dengan tatapan tajam.

“Ah… itu milik Azzuri. Sepertinya tidak, dia akan mengamuk…” terlihat wajah kecewa Smirk, sedangkan aku bahagia.

“Ah, tapi kau bisa bertemu dengannya setiap hari, tentu saja Grin harus ikut.” Ayl mulai mengoceh lagi.

”…Grin..”

“TIDAK.” Aku berkata dengan tegas, aku tak suka kucing! Mereka hanya tidur dan sangat malas.

Dan lagi-lagi Smirk mulai menunduk.

Aku teringat akan alasan ia menelfon, dan mulai bertanya. Hanya saja ia menyuruhku masuk terlebih dahulu. Yah, memang bagian luar bangunan ini sangat menjijikan tapi indah sekali di dalam. Disana ada Azzuri, gadis kecil dengan baju penuh renda bersurai hitam bergelombang dengan gaya twintail dan mata biru. Menatap kearah kami dengan malu-malu. Setelahnya kami duduk di sofa dan mulai berbincang.

”Distrik 1 nomor 23. Pass 77330987, pintu.” Komando sudah didapatkan, sehabis meneguk segelas air, kami pamit.

“Ayl, batas? Mati?” tanya Smirk sebelum kami benar-benar pergi.

“Hm? Tak ada. Ya, mati…” mata merah itu mengkilat, pribadi psikopat Ayl mulai terlihat, aku jengah, mulai berlalu.

Terdengar suara derit pintu mengiringi kepergian kami menuju ladang dosa…

.

.

.

“Benar disini?” tanyaku pada Smirk disebrang sebuah bangunan besar.

“Iya.”

Aku melihat penjagaan yang ketat didepan bangunan itu, Sepertinya target kali ini adalah orang penting…

“Smirk, ambil salah satu baju penjaga itu. Kita masuk dengan itu. Ah, kalau bisa dua, sih…” setelah mendengar permintaanku, tanpa menjawab, ia berdiri, berlari dan memukul dua penjaga yang berada tepat disebelah lorong kosong samping gedung itu. Melucuti baju luarnya dan mengikat keduanya di lorong tersebut.

“ini…” Ia menyerahkan baju penjaga tersebut dengan senyum dan kami mulai meganti baju kami. Keluar dan berjalan layaknya penjaga disana.

Tak dicurigai, hanya ada beberapa melirik kearah kami. Aku bertanya lagi, “Siapa target kali ini?”

“Pak Reno. Dia ada di ruang 23. “ tak banyak bertanya, aku mulai melangkah ke tempat yang dimaksud.

Membuka paksa pintu tersebut tanpa merusaknya dan menembaki semua penjaga yang berada di dalam. kecuali Pak Reno. Uwah, ternyata Pak Reno hanyalah seorang pria tua berperut buncit dan kepala pelontos… melihatnya memakai jas seperti itu membuat perutnya terlihat semakin bulat…

Oh, tak ada yang datang setelah suara tembakan, untunglah…

“Apa mau kalian?! Jangan mendekat, atau kutembak!” ia mengeluarkan pistol kecil dari laci mejanya dan menodongkannya kearah kami.

“Aku tidak tahu, “ Smirk berlari cepat dan mengunci lengan Pak Reno. “Kami hanya diperintahkan untuk membunuhmu…” lanjutnya sedikit berbisik. Melukai lengan lelaki itu dengan pisau yang dibawanya.

Pak Reno mengaduh, dengan cepat kami memancingnya keluar dengan berkata, “kami tahu Password brangkasmu… keluarlah atau kau akan miskin.”

Kami berlari lebih dahulu dan memasang bom pintu. Segera menjauh dan berlari kearah ruang brangkas. Terdengar suara Pak Reno memanggil uangnya dan dilanjutkan dengan suara ledakan, dengan cepat kami mengunci ruang sehingga api tak masuk, menekan tombol 77330987. Brangkas terbuka, memasukkan beberapa emas batangan dan jutaan uang. Merasa cukup, kami melarikan diri, melompat dari lantai 2 gedung yang tengah terbakar itu.

Kamilah Minesweeper. Pengebom sekaligus penjarah mereka yang berani semena-mena.

Kamilah Minesweeper. Pahlawan sekaligus penjahat yang ada karena liciknya dunia…

.

.

 “Ah.. maaf mengganggu…” Aku menutup pintu dan ditahan dengan Ayl, “GRIN! KAMU SALAH PAHAM!” teriaknya.

Setelah meluruskan kesalah pahaman tadi, kami mulai berbincang di kamar Ayl, kamar yang sangat luas, penuh dengan hias klasik dan ranjang yang besar. Satu yang tak menarik dari kamar ini, disudut kanan, buku-buku komik berserakan, ia sedang tak ingin membereskannya, kurasa. Padahal jika aku kemari, meja sudut ruangan itu selalu bersih. Apa ulah Azzuri?

Ah, bukan urusanku.

”Besok lusa, masih ada yang lain, persiapkan diri saja, kudengar target selanjutnya sangat kejam dan cerdik.” Ayl memperingati. Membuat diriku menoleh padanya yang sedang menghisap rokok.

“Ah, kalau untuk kejam dan cerdik aku punya Smirk…” Aku menimpali, Smirk masih dengan wajah lembutnya berkata, “Ya?” sambil bermain bersama kucing dan Azzuri yang entah kapan sudah dipangku olehnya.

Aku menerawang, mulai berbaring di kasur Ayl dan memikirkan rencana untuk lusa nanti. Sungguh hari yang melelahkan…

.

.

Dan tak diduga, Azzuri menyuruh kami membawa kucingnya. Kucing berbulu lebat berwarna putih dan mata coklat besar itu tengah berbaring di kasurku!

“Kenapa, sih. Kamu mau disuruh bawa makhluk itu?!” omelku pada Smirk, “Biaya makan, kan jadi nambah!”

“Aku yang menanggung, tenang saja.” Smirk cuek, memalingkan wajahnya dariku.

Aku kesal, mengusir kucing itu dari kasurku dan mulai membersihkannya.

”Grin! Kamu kok begitu? Kasihan, kan…” Smirk menggendong kucing itu, mengelusnya dengan penuh sayang.

“Terserah kamu ingin mengurusnya, asal jangan di kasurku!” Aku mengeram, melotot kearah Smirk dan kucing yang tengah digendongnya. Kucing itu melompat turun dan berlari entah kemana.

“Jangan marah hanya karena itu, Grin. Kamu udah 19 tahun sekarang.” ucap Smirk dengan tenang.

“Kamu hanya berbeda 2 minggu denganku, jangan sok menasehati! Aku benci bulu kucing! Aku benci kucing!” disaat aku dan Smirk tengah cekcok soal kucing, muncul suara asing bagiku..

“Kalau tidak suka buluku, aku juga bisa berubah seperti ini!” muncul seorang pemuda dengan telinga dan ekor kucing. Berambut putih dan mata coklat… ew, dia setengah telanjang. Hanya memakai celana pendek hitam! Tunggu, jangan-jangan…

“Meow!”

“EEEEHHHH???!!!”

.

.

“Harusnya aku telah menduga ini. Hal yang ada di rumah Ayl tak pernah normal…” Aku menatap pemuda kucing tersebut tengah terlelap dikasurku -lagi-.

“Oh, siapa tahu dia bisa jadi umpan untuk kerjaan besok…” kataku, “Jangan begitu, Grin.” Smirk mencegahku dengan cepat. Aku cemberut.

Esoknya kami hidup dengan manusia kucing ini. Aku tak mau repot-repot membeli makanan kucing untuknya, aku juga tak mau berurusan dengan bulu-bulu yang rontok itu. Jadi, kurasa menjadikannya manusia kucing tak buruk juga.

Kami makan dengan lahap, ia tidur dengan Smirk dalam wujud kucingnya, kami membereskan rumah bersama, ia menurut jika dititah apapun.

Aku mendapat pesan dari Ayl, ia mengirimkan lokasi target selanjutnya. Ternyata berada di luar kota walau hanya berjarak 7 KM dari sini. Anehnya, Ayl tidak menyuruh secara spesifik jenis bom apa yang harus digunakan disini. Dia hanya berkata terserah padaku. Apa sesusah itu melumpuhkan yang satu ini?

Ah, aku terlalu malas memikirkannya. Aku tidur saja.

Esoknya kami bertiga -karena-aku-ngeri-kucing-itu-akan-merusak-barang- pergi ke Kota X, menaiki mobil yang kupinjam dari Ayl.

Aku memakai jaket cokelat khas-ku sebagai luaran, dengan hias-hias dan simbol yang sama dengan jaket navy Smirk. Hanya saja warna dari simbol bom yang kami kenakan berbeda warna, jika ia putih, aku hitam, berlaku sebaliknya dengan simbol yang lain.

Aku cukup tegang, tidak tahu kenapa dengan perasaan bimbangku saat ini. Kurasa ini yang mereka bilang takut…?

Saat sadar dari ketegangan, aku sudah berada di sebuah bangunan seperti pabrik. Ah, tunggu… ini memang pabrik. Pabrik kembang api, kurasa… karena plang didepan bertuliskan ‘StarMamboom!’ dengan banyak hiasan kembang api dan warna-warni.

“Ini tempatnya?” tanyaku pada Smirk.

Smirk menangguk, “Um.”

“Aku cek kedalam, kau tunggu sini dengan kucing itu.” Ucapku, kucing yang mengaku bernama Camio itu tersenyum kepadaku, ah, sekarang kucing itu memakai baju lamaku, celana panjang hitam dan sweater ungu laveder. “Jika dalam sejam aku tak keluar, bantu aku, oke?” lanjutku, mereka mengangguk.

Aku mulai membuka pagar, tak terlihat ada orang disini, aku berjalan masuk. Menuju kearah kiri dimana ada pintu besar. Aku membuka pintu itu, dan berjalan maju, tak lupa menutup pintu besar itu lagi.

Belum sempat aku menjelajah sekeliling, seseorang mendekap ku, bau aneh tercium, sekeliling ku gelap, aku tak sadarkan diri….

.

.

Bgeitu sadar, aku tak tahu apa yang ada disini, semua gelap, aku bahkan tak bisa melihat pemandangan di depanku. Dalam posisi terikat dan duduk ini aku berusaha berontak.

“Kurasa ia sudah sadar.” Seseorang mengeluarkan suara, sebelum aku berucap, lampu mulai menyala dan memperlihatkan pemandangan sekitar yang penuh dengan kembang api dan dua orang pemuda kisaran 20 tahunan. Mereka mengenakan pakaian formal berwarna terbalik satu sama lain, sama seperti aku dan Smirk. Kurasa mereka komplotan juga…?

“Mamba, jangan menatap dia terlalu tajam..” Seorang yang lebih tinggi berbicara pada partnernya yang kini tengah menatapku. Rambut kelabunya menutup wajah sampingnya, terlihat panjang sampai menutup teliga, poni yang terbelah menjadi dua itu membuat kedua mata kuningnya lebih mencolok. Meski begitu, kesan imut tetap dimiliki pria ini. Yang terlintas pada otakku saat melihatnya adalah ‘ular’.

“Kalian siapa?” tanyaku, berpura-pura tak berdosa disini adalah pilihan terbaik.

“Ah, aku Stargazer, panggil aku Star juga tak apa. Dia Mamba. Apa maumu kesini?” Star, Lelaki tinggi itu mulai mondar-mandir memutariku. Rambut pirangnya yang tersibak angin membuat wajah tampan dan mata hijaunya menjadi indah. Benar-benar ‘star’, ya…

Mendengar pertanyaannya, aku membisu. Sungguh, berakting bukan keahlianku, aku seharusnya menyiapkan naskah berbohong terlebih dahulu.

“Star, ia berniat jahat.” Ucap Mamba sambil terus memandangiku. Star hanya menatapku sambil bertopang dagu.

“Hm… siapa namamu, lelaki pink?

“Aku Grin dan ini bukan pink,” aku menatapnya, “Tapi merah muda.”

“Grin! Kamu menarik sekali. Tapi maaf saja, Mamba mempunyai mata yang bagus, sekali ia bilang kau jahat, kau itu jahat. Dan aku benci orang yang lebih jahat dari pada diriku…” Ia mengeluarkan sebilah pisau dan senapan dari sakunya.

“Kamu ingin yang mana?”

.

.

.

-Author PoV-

“Smirk, apa Grin baik-baik saja? Aku khawatir…” -Camio- kucing itu bersandar pada Smirk dan mulai mengibaskan ekornya. Smrik hanya menanggapi dengan senyum.

“Biarkan saja dia sampai satu jam, baru kita menyusul.” Camio tampak marah, ia mencakar pipi Smirk.

“Jangan begitu, ayo kita kesana! Aku ngeri terjadi sesuatu pada Grin!” Ia mulai menarik lengan Smirk agar keluar dari mobil, Smirk hanya mengikuti dengan segan.

“… Camio, biarkan saja. Malah, jika ia tak bisa bertahan 1 jam saja, ia bukanlah Grin.”

Camio hanya mematung sambil bergetar saat menatap Smirk.

Saat ini, Smirk menyeringai sadis…

.

.

.

-Grin PoV-

“Jika suka rasa sakit, ku sarankan pisau ini. Jika kau ingin yang cepat, aku bisa langsung menembakmu.” Star berjalan perlahan kearahku, kulihat Maamba hanya menatap kearah lain.

Aku tersadar, aku meminta Smirk agar menyusul dan mencariku, tapi waktunya satu jam! Sudah berapa lama waktu berlalu semenjak aku masuk ke sini?

“Star, sekarang jam berapa?” tanyaku, Star melihat arlojinya. Dan menatapku, “11.30, kenapa?”

Baik, Sekiranya sudah setengah jam aku disini, hanya tinggal mengulur waktu sampai setengah jam lagi.

Ah, aku menyesal tidak hati-hati saat masuk kesini. Dan juga memintaa mereka menyusul dalam satu jam kurasa terlalu lama.

“Hey, Grin. Jawab aku, kamu ingin yang mana?” Star mulai terlihat jengah.

Aku mendongak, tersenyum manis padanya

“Bagimana kalau kita bermain saja?” Ya, dengan ini aku bisa mengulur waktu.

“Bermain apa?” Mamba tiba-tiba datang, matanya berbinar, terlihat sangat menantikan sebuah permainan.

“Mamba? Kau serius?” Star menatap Mamba dengan aneh, Mamba hanya membalas tatapan Star dengan wajah serius.

“Dia berniat jahat, tapi kurasa ia menyenangkan dalam bermain.”

“Dan inilah dia, Mamba dengan mata hebatnya…” Star memijit keningnya.

“Ah, tapi pertama kau harus membuka ikatan ini…” ingatku pada mereka.

Dan saat ini, aku mengajak mereka bermain ping-pong. Anehnya, mereka memiliki alatnya, mejanya, bahkan bolanya. Sebenarnya disini itu pabrik atau apa?

Oh, iya. Bukannya tak beralasan mengajak mereka bermain, aku hanya punya cara tersendiri untuk menang dari mereka.

… kurasa tanpa menggunakan cara itupun aku sudah menang, ya?

“AH! SEKALI LAGI!!” Star, awalnya ia hanya tertarik menonton pertandinganku dengan Mamba, sampai akhirnya ia pun ikut juga. Ia selalu kalah dariku dan Mamba, entah sudah kali keberapa kami bermain, tapi selisih poin kami selalu jauh… Star tidak terlalu bersinar disini, ya..?

“Kalian berdua saja yang bermain, aku sudah lelah.” Aku menepi, duduk dan mereka berdua dengan cepat menatapku.

“Jika kau kabur aku akan langsung menarik pelatukku tanpa segan.” Star mengancam, aku hanya menatapnya malas.

“Iya, iya… Sebelum itu, pinjami aku pisaumu. Aku bosan. Ingin memotong sesuatu.” Perkataanku dibalas dengan lemparan sebilah pisauu kearahku, seraaam, untung saja aku bisa menangkapnya.

Aku mulai memotong bola orange itu kecil-kecil, melubangi bola ping-pong yang masih utuh dan memasukkan potongan bola yang lebih kecil kedalamnya. Menusuknya dengan paku yang kutemukan dan Melapisinya dengan alluminium foil yang selalu kubawa untuk keadaan darurat seperti ini dan menarik paku itu kembali. Melakukan hal yang sama berulang-ulang dan memasukkan itu semua ke dalam kantung jaket hoodie-ku.

Aku sudah dapat banyak bom asap!

Aku menatap arloji-ku –karena-tanganku-sudah-tidak-terikat- waktu sudah terlewat satu jam. Tapi dimana Smirk juga Camio?

.

.

.

-Author PoV-

“Grin apa kabar, ya…” Ayl, lelaki itu termenung diatas sofa-nya. Menopang dagu tanpa mempedulikan rambut hitam legamnya yang berantakkan karena ia baru saja bangun tidur.

“Ah, apa Smirk sudah meng-update keywords hari ini, ya?” Ayl mengambil smartphone miliknya dan membuka salah satu aplikasi Telegram. Mengetik kata Boom pada salah satu roomchat dan terbalas secara otomatis.

“Hanya karena segalanya berubah digital, terorisme pun bisa diakses lewat aplikasi seperti ini, ya. Smirk hebat, juga. Walau aku lebih hebat, sih.”

Ia mengambil bantal berbentuk hati dan mulai memasuki kamarnya.

“Aku tidur lagi saja.” Ayl menguap lebar.

.

“Hatchi!”

“Smirk? Kamu flu?” Camio menatap Smirk yang tengah mengusap hidungnya.

“Kurasa tidak. Baiklah, ayo. Sudah satu jam, loh.” Smirk bangkit dan berjalan lebih dahulu kedalam gedung, Camio hanya mengikuti dengan langkah takut karena gelapnya ruangan gedung itu.

“Aku menang!” tiba-tiba terdengan suara Star dari arah kanan, Smirk menyipit dan melihat cahaya diujung ruangan, ia bisa melihat Grin dengan jelas.

Grin tidak membawa smartphone miliknya tadi, jadi tentu saja susah untuk menanyai kabarnya saat ini, tapi melihat Grin tengah bermain membuat Smirk merasa sedikit kesal. Disaat Smirk masih sempat meng-update keywords telegram mereka untuk dilihat Ayl, rekannya malah asik bermain dengan orang yang tidak dikenal oleh Smirk.

Ingin terlihat keren dengan membuat telegram seperti teroris lain, nyatanya malah mengesalkan. Smirk baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.

“Grin!” Camio melompat dan berlari kearah Grin dnegan cepat, Smirk tak bisa menggapai Camio, lengah sekali saja Camio sudah bertindak ceroboh seperti ini.

“Camio?!” Grin tampak kaget, terlebih Star dan Mamba. Mereka berdua terllihat waspada dan mengeluarkan pistol mereka.

“Jangan kemari atau kutembak!” Ancam Star, Smirk ragu untuk melangkah mendekat, sedangkan Grin mulai mengeluarkan bom asap kecilnya dan membakarnya dengan pematik yang ia bawa.

Asap mulai terlihat dimana-mana, semua kabut, kelabu, suara tembakkan terdengar sangat gila. Grin menarik Camio untuk terngkurap dibawah dan berjalan merayap. Smirk dengan sigap mengeluarkan masker dan memberinya pada Grin dan Camio yang berada dibawah.

Mereka berlari ke tempat yang penuh dengan kembang api, merobek dan mematahkan kembang api agar semua mesiu isi kembang api keluar dan tersebar, sisanya mereka biarkan bersama sumbu masing-masing.

Saat Star dan Mamba masih terbatuk karena gas tadi, Smirk menatap mereka dengan kesal.

“Asal kalian tahu, kami ini teroris. Kalianlah target kami, dan kalian mempunyai satu kesalahan fatal.” Grin dan Camio berlari keluar sebelum Smirk menyelesaikan perkataannya, “… jangan pernah satukan kami dengan mesiu. Itu adalah dosa besar.”

Dengan itu Smirk berlari keluar sambil melemparkan pematiknya.

Suara ledakan dan api yang besar tidak bisa dihindari.

Semua penuh asap dan warna pekat.

“Grin, Apa mereka akan baik-baik saja?” Tanya Camio saat mereka sudah berada di mobil, Grin hanya diam membisu. Ia tahu betul, saat ini Smirk tengah menjadi. Mata ungu lavender Smirk akan terlihat menyeramkan jika dipandang, Sisi buruk Smirk yang jarang sekali orang tahu.

Saat itu, Star dan Mamba masih bisa melarikan diri dari pabrik mereka yang tengah terbakar tadi.

“Uwah, mereka bahaya sekali, ya. Khususnya orang berambut biru tadi. Jujur, kukira ia adalah orang yang tenang.” Star menyeka pelu di dahinya, lelah terlalu lama berlali membuatnya terengah..

“Um.” Mamba mengangguk, pipinya tergores pecahan kaca akibat ledakan tadi, darah segar mengucur di pipi mulusnya.

“Ah… mereka membuatmu berdarah.” Star memberikan sapu tangannya pada Mamba, mamba menyeka darah lukanya.

“Tapi, Star…” Star menoleh, “Aku ingin bertemu mereka lagi…” Mamba menjilat bibirnya, pertanda bahwa ia tertantang dengan keberadaan Smirk dan Grin.

“Ah, tentu. Aku juga tak suka jika ada yang lebih cerdik dariku.” Star menyibak rambut poninya. Mereka berjalan menjauh, pergi meninggalkan pabrik yang saat ini hangus itu.

Saat ini, dua komplotan terkenal mulai tertarik satu sama lain, menuai percikan yang lebih banyak untuk menciptakan banyak perubahan bagi negara.

Minesweeper dan StarMamboom. Mereka pergi kearah yang berlawanan namun memiliki kesamaan. Keinginan kecil untuk bersua. Keinginan kecil untuk membuktikan, keinginan kecil untuk merubah…

3

2

1

Game, Start!

MINESWEEPER

25 dukungan telah dikumpulkan

Comments