Miratheraphy

5 months ago
Anssen Augustus

by: Anssen Augustus

Kebahagiaan itu relatif. Tidak bisa dikuantifikasi, tidak juga bisa diukur.

Namun lagi, seakan mempermainkan nilainya yang tidak pasti, kebahagiaan bisa diciptakan.

Bertahun-tahun sudah mendedikasikan diri untuk ini; demi sebuah mesin. Namun bukan mesin biasa, mesin ini adalah mesin yang bisa membuat orang bahagia.

***

Seorang wanita paruh baya terduduk di sebuah ayunan, mengamati ayunan di sampingnya yang diduduki oleh seorang gadis belia yang sedang diayunkan oleh seorang pria. “Lebih tinggi! Lebih tinggi!” pinta sang gadis sambil tertawa kegirangan merasakan adrenalinnya berpacu.

“Hati-hati, nanti kamu terbang,” komentar sang wanita.

Sang gadis tidak membalas, hanya terus tertawa kegirangan yang dijawab sang pria dengan dorongan yang lebih mantap. “Justru bagus kalau anak kita bisa terbang. Siapa yang tidak mau punya anak Superman?” imbuh sang pria sambil menangkap ayunan putrinya dan mendorong melepaskannya.

“Aku ingin terbang!” seru sang gadis seraya melepaskan satu tangan dari rantai ayunan dan meninjukan tangannya ke udara.

“Kamu mau terbang?” tanya ibunya.

“Mau! Mau!”

“Kalau begitu, ayo kita coba terbangkan kamu.”

Sang ibu beranjak dari ayunannya. Ia melangkah menjauh dari ayunan, agak jauh di hadapan ayunan putrinya. Ia berbalik seraya menjulurkan kedua tangannya ke udara.

“Oke, ayo coba terbang sekarang.”

“Tuh,” lanjut sang Ayah melihat istrinya sudah bersiap di sisi lain arah ayunan, “kamu loncat waktu ayunan kamu sedang tinggi-tingginya. Siap?”

“Siap!”

“Hitungan ketiga, ya? Satu…” hitung sang Ayah sebelum ia menangkap ayunan putrinya sebelum melanjutkan hitungan setelah ia melepaskan dorongannya, “dua…”

“Tiga!!”

Sang ayah dan ibu berbarengan menyelesaikan hitungan. Mendengar aba-aba ini, sang gadis melepaskan kedua tangan dari rantai ayunan dan membiarkan badan mungil ringannya dibawa momentum sisa ayunan. Perlahan ia melayang hingga mencapai apex momentum sebelum kalah melawan gravitasi.

Melihat putrinya mulai jatuh, sang ibu berjalan mendekati titik perkiraan putrinya akan jatuh sambil masih menjulurkan kedua tangannya ke atas—bersiap menangkapnya. Sang gadis hanya bisa tertawa kegirangan merasakan kulitnya beradu melawan udara sementara kedua orangtuanya agak panik takut seandainya mereka gagal menangkap putri kesayangan mereka.

*BLUGH*

Suara agak keras lunaknya aduan dua tubuh terdengar. Meski sang ibu berhasil menangkap putrinya, namun ia gagal menahan laju jatuh beserta bobot putrinya. Melihat itu, sang ayah segera berlari mengitari ayunan menuju istrinya yang terkapai telentang dengan putrinya terbaring di atasnya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya sang ayah cemas.

“Papa, Mama ga mau bangun, nih.”

Sang ayah memindahkan putrinya dari atas istrinya dan segera ia berlutut sebelum merangkul badan atas istrinya yang terpejam. “Hey, kamu tidak apa-apa?” panggilnya cemas sekali lagi.

“Ehehe,” sang istri membuka sebelah matanya seraya menjulurkan lidahnya pendek ke atas, “kamu ini mudah sekali ditipu, ya?”

“Astaga, kamu ini… aku betulan cemas, tahu.”

Sang pria merapatkan rangkulannya hingga rangkulannya berubah menjadi dekapan. Dengan dahi yang saling bersentuhan, mereka berdua tertawa lega. Melihat kedua orangtuanya mengungkapkan sayang, sang anak tidak ingin ketinggalan. Ia melompat seraya mendekap kedua orangtuanya.

“Aku sayang Ayah, aku sayang Ibu…” ujarnya pilu.

Segalanya berubah digital. Perlahan pemandangan ini memudar putih. Cenat-cenut staccato ritmik elektrokardiogram masih menguasai sebuah ruangan putih tak bernoda. Di ruangan bundar yang permukaannya terbuat dari fiber karbon tak bercelah ini, terbaring kaku seorang gadis mengenakan piyama. Rambutnya kusut, wajahnya tidak berdaya berekspresi.

Comatosis; itulah keadaan gadis ini—sebuah keadaan di mana organ dalam suatu mahluk hidup masih aktif memproses energi, namun tidak punya kemampuan perseptif akan diri maupun lingkungannya. Pada dasarnya, sebuah cangkang dengan jiwa yang sedang cuti.

“Sungguh gadis yang malang,” ratap seorang wanita mengenakan mantel lab dari sisi luar ruang putih yang tembus pandang ke dalam seraya menempelkan jemarinya ke permukaan snow globe raksasa ini.

Di laboratorium industrial ini, belasan ilmuwan sedang menyibukkan diri berlalu lalang mengurusi berbagai instrumen canggih yang berpusat pada snow globe raksasa di tengah ruangan, saling memberi instruksi melalui earpiece nirkabel yang mereka kenakan.

Di tengah laboratorium, di bawah snow globe raksasa, terdapat sebuah panel kendali yang sedang dioperasikan 4 orang ilmuwan dan seorang wanita yang berdiri di belakang mereka memantau kerja rekan-rekannya. Di lehernya, terlilit sebuah lanyard yang menggantungkan sebuah kartu indentifikasi.

[Annabel Adrika, pimpinan ilmuwan]

“Kalibrasi emosi 100%. Kita berhasil mencapai puncak,” ujar seorang ilmuwan operator di dekatnya.

“Syukurlah…” Annabel tertunduk senang sambil menitikkan air mata yang tidak ia ijinkan mengalir ke pipinya. Segera ia menyeka kedua matanya yang sembab sebelum memberi perintah lanjutan, “lakukan euthanesia sekarang.”

“… Baik.”

Dengan sebuah tekanan tombol, suara cenat-cenut elektrokargiogram yang ritmik berubah tempo. Permukaan putih ruangan bundar kini berkedip merah yang temponya sesuai dengan elektrokardiogram. Perlahan kedipan merah menjadi rona yang konstan mewarnai ruangan.

Semoga istirahatmu tenang,” batin Adrika sambil tertunduk hormat.

Suasana di laboratorium menjadi khidmat. Semua anggota yang hadir mendoakan kepergian sang gadis dengan caranya masing-masing; mulai dari tertunduk mengheningkan cipta hingga berkomat-kamit mendoakan dengan kedua tandan di hadapan dadanya.

Namun kekhidmatan ini tidak berlangsung lama. Setelah hening beberapa saat, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari bagian atas laboratorium. Dari balik sebuah jendela, tampak 5 orang pria parlente sedang bertepuk tangan menyaluti performa para ilmuwan sekaligus merayakan keberhasilan mereka.

Namun, satu di antara mereka agak memisahkan diri dari pertunjukan ini. Ia terduduk di sebuah sofa, membaca sebuah dokumen berisikan profil gadis yang baru saja berpulang.

“Kasihan juga gadis ini,” komentarnya melihat isi dokumen yang dipegangnya, “setelah tiga tahun lebih melawan kangker otak, orangtuanya memutuskan untuk tidak mengijinkan anaknya menderita lebih lama lagi.”

“Tidak hanya itu, mereka juga mengijinkan agar ia menjadi kelinci percobaan kita hari ini,” komentar pria lain.

“Setidaknya kematiannya jadi berguna.”

“Jangan begitu,” sela seorang pria dengan wajah paling serius berketurunan Asia, “perusahaanku juga harus memberikan mereka kompensasi dalam jumlah besar. Nyawa itu tidak murah.”

“Maafkan saya, tuan Ooroura.”

“Tidak apa,” balasnya sebelum menempelkan jari pada telinganya, “Nona Adrika, bagaimana keadaannya?”

Di sisi lain jendela, di tengah laboratorium, Annabel yang mendengar suara keluar dari earpiecenya segera merespon, “sangat memuaskan. Tidak ada komplikasi. Subjek meninggal dengan bahagia.”

“Bagus sekali. Kalau begitu, saya tunggu rincian laporannya.”

“Baik. Setelah kami analisa datanya, akan saya kirimkan langsung pada Anda.”

“Terima kasih,” tutupnya seraya melepaskan jari dari telinganya dan kembali pada rekan-rekan parlentenya, “tuan-tuan, cukup sampai sini saja presentasi dari Aurora Conglomerates. Sesuai yang Anda saksikan, apa yang kami capai kali ini memiliki potensi besar. Saya harap Anda mempertimbangkan diri untuk mendukung kami.”

***

Tenang. Tenanglah, Anna…

Annabel memberikan sugesti pada dirinya sendiri sambil mengatur nafas. Ia sedang gugup dan gelisah hingga AC ruang tunggu kantor pusat Aurora Conglomerates tidak cukup untuk menurunkan temperatur badannya. Ia tidak bisa tenang menanti jawaban atas usahanya selama ini.

“Nona Annabel Adrika?”

Suara seorang sekretaris yang menghampirinya segera membuyarkan segala upaya yang sedang ia lakukan untuk menenangkan diri. Gara-gara kaget, ia bahkan hampir menggigit lidahnya sendiri. Namun segera ia sadar dan beranjak seraya menjawab meski masih agak panik, “ah, ya?!”

“Tuan Nagisa sudah bisa menemui Anda, silahkan ikuti saya.”

Tanpa menjawab apa-apa lagi, Annabel mengambil tas jinjingnya dan membawanya berjalan mengikuti sang sekretaris. Ia dipandu melalui koridor kantor di lantai 40 yang sibuk hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan kantor dari sang pemilik perusahaan.

[Ooroura Nagisa]

“Silahkan masuk,” ujar sang sekretaris seraya menunjukkan pintu kantor atasannya.

“Terima kasih,” balas Annabel.

Dengan kaki yang masih gemetaran dan nafas yang masih belum bisa ia jinakkan, Annabel membuka pintu kantor.

Annabel disambut dengan pemandangan luas cakrawala. Kantor milik pemilik perusahaan tentu saja mewah. Sisi paling luar kantor ini tidak memiliki dinding, hanya sebuah jendela besar tidak berbingkai yang mengijinkan siapapun yang berada di kantor ini untuk bisa melihat ke setengah penjuru kota.

Namun pemandangan ini hanya berhasil membuat Annabel lupa pada ketegangannya selama sesaat. Sesosok pria yang terduduk di balik sebuah meja kerja membuatnya kembali teringat pada alasannya datang ke sini.

“Ah, nona Adrika!”

Nagisa menyambut kedatangan Annabel. Tatapan seriusnya nyaris menutupi senyum simpul yang ia gambarkan di wajahnya, dan hanya tatapan tajamnya itu yang Annabel tangkap.

“Silahkan duduk!”

Sambil hanya bisa tersenyum retak, Annabel menerima undangan Nagisa dan duduk di kursi di seberang mejanya. Nagisa sendiri masih menyibukkan diri dengan sebuah dokumen di tangannya. Annabel jelas mengenali dokumen itu. Dokumen itu adalah laporan dari percobaan yang ia lakukan tempo hari.

“Terima kasih sudah bisa datang hari ini—” Kalimat Nagisa terputus ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah Annabel yang duduk tegak kaku, “tidak perlu tegang begitu. Santai saja. Saya tahu. Wajah saya memang seram. Tapi saya tidak galak, kok.”

“A—Ah, maaf.”

“Mungkin ingin minum sesuatu untuk menenangkan diri?”

“T—Tidak perlu. Ini efek dari kopi pagi saya. Saya sudah tenang, kok.”

“Baiklah jika memang begitu katamu,” ujar Nagisa sebelum mengalihkan padangannya kembali ke dokumen di tangannya, “kalau begitu, mari langsung ke pokok permasalahan. Saya sangat senang melihat laporan ini.”

“…” Annabel kehabisan kata-kata. Adapun kata yang ingin ia ungkapkan sudah tertahan di dadanya.

“Tidak hanya saya, namun affiliasi perusahaan ini juga. Miratheraphy yang Anda gagas mendapat sambutan hangat dari lingkaran investor. Melihat respon positif ini, saya ingin segera memajukan project ini ke tahap produksi.”

“A—”

“Namun sebelum itu, kita masih harus melakukan uji coba lanjutan. Tes sebelumnya dilakukan pada subjek muda dengan tingkat katarsis yang sederhana. Kita masih belum tahu bagaimana efeknya pada subjek dengan pola pikir yang jauh lebih kompleks. Maka dari itu—”

“TERIMA KASIH BANYAK!! Saya mengerti. Akan saya segera selesaikan mesin ini. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya!”

“Ah, Anda tidak suka basa-basi rupanya. Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih juga untuk pengertiannya. Penelitian Anda akan ditanggung sepenuhnya oleh Aurora Conglomerates.”

“A—Apakah ada poin lain yang perlu saya ketahui?”

“Tidak ada. Pertemuan kita kali ini hanya untuk memberitakan hal ini. Sisanya masalah teknikal, yang ini urusan kami.”

“K—Kalau begitu, saya mohon pamit. Saya akan segera kembali mengerjakan tugas ini!”

“Baik. Terima kasih atas kerjasamanya.”

***

Tahun demi tahun berlalu. Impiannya terwujud. Mesin ciptaannya diadopsi menjadi prosedur standar dalam proses euthanesia oleh berbagai lembaga medis. Berkat penemuannya ini, ia mendapatkan gelar kehormatan dalam bidang kemanusiaan.

Ia bahagia.

“… atau setidaknya, itulah yang ia rasakan.”

Dari belakang sebuah panel kendali Miratheraphy, Nagisa mengawasi monitor kalibrasi emosi yang mencapai angka 100%. Di dalam snow globe raksasa di atas panel kendali, terbaringlah Annabel. Meski masih dalam kondisi comatosis, ia masih bisa menitikkan air mata.

“Ironis, ya?” ujar sang operator pada Nagisa.

“Begitulah, tapi ini akhir yang tepat untuknya.”

“Pak Direktur, maaf sebelumnya. Mungkin yang akan saya tanyakan ini di luar hak pengetahuan saya bekerja di bawah Bapak, tapi melihat mesin ini benar-benar ada dan nona Adrika yang sudah menciptakannya, apa saja detail cerita yang sudah kita ubah dalam percobaan ini?”

“… Aku tidak punya niatan merahasiakan ini. Lagipula jika dugaanku benar, cepat atau lambat dunia akan tahu. Singkatnya, di uji coba pertama, ada mata-mata korporat yang bersembunyi di antara tim asuhan nona Adrika. Begitu melihat hasil uji coba yang sukses, ia membunuh beberapa ilmuwan sebelum menembak nona Adrika dan mencuri skematik mesin ini. Meski luka parah, nona Adrika belum tewas. Ia jatuh koma. Setelah mendapat perawatan cukup lama, ia tidak kunjung pulih. Setelah mendapat kesimpulan bahwa kemungkinan pulihnya amat sangat kecil, kami rasa inilah yang ia inginkan.”

“Oh… Kalau begitu, saya rasa apa yang Anda katakan memang benar; ini adalah akhir yang tepat untuknya.”

“Bagi orang yang sedang meregang nyawa, hal terakhir yang mereka pikirkan bisa menjadi pembeda antara surga dan neraka. Aku rasa inilah yang membuat manusia takut akan kematian.”

“Tuan Ooroura, apa Anda tidak cemas pada skematik mesin yang dicuri? Maksud saya… mesin ini pada dasarnya adalah alat kendali pikiran, ‘kan? Bukankah—”

“Memang benar. Jika ada pihak ketiga yang berhasil membangun ulang dan menyempurnakan mesin ini, maka mereka bisa melakukan hal-hal berbahaya. Dalam kasus terbaik, mereka hanya akan menggunakan mesin ini untuk mempengaruhi pikiran satu-dua orang. Tapi dalam kasus terburuk… mereka bisa saja menciptakan dunia baru, bisa saja saat ini kita sudah berada dalam mesin ini. Apa kau yakin dunia tempatmu hidup saat ini adalah kenyataan?”

3 dukungan telah dikumpulkan

Comments