Misteri Bunuh Diri Sang Novelis

3 months ago
Saya Grad

by: Saya Grad

Pekerjaan Inspektur Brama sebagai kepala divisi investigasi kriminal di kepolisian pusat membuatnya hampir tak memiliki waktu luang sedikitpun, bahkan untuk berlibur sejenak dengan Pradipta, anaknya semata wayang. Ibunya sudah lama wafat sewaktu Pradipta masih balita, sehingga Pradipta sangat bergantung pada kasih sayang Ayahnya, yang lebih memikirkan karirnya sehingga tak berniat untuk menikah kembali.

Mungkin lantaran kesibukan pekerjaannya pula, hingga kini Pradipta sudah memasuki semester 5 kuliahnya di jurusan filsafat, Inspektur Brama tak kunjung menyempatkan diri untuk berlibur dengan Pradipta. Entah sudah berapa kali Pradipta dikecewakan Ayahnya itu. Terakhir, liburan 3 hari ke Bali di awal liburan semesternya pun harus dilalui bersama teman kampusnya yang diajaknya secara mendadak lantaran Ayahnya harus menyelidiki jaringan peredaran ekstasi dari bandar narkoba besar yang diamankan polisi 2 hari sebelum keberangkatan Pradipta ke pulau dewata.

Belajar dari kesalahan sebelumnya, Pradipta kini merencanakan liburan dengan Ayahnya secara matang dan lebih terperinci. Tak usah bepergian jauh dan terlalu lama. Kali ini dia hanya ingin berlibur di kawasan Puncak selama 2 hari 1 malam di akhir pecan terakhir liburan semesternya. Hotel sudah dipesan sebulan sebelumnya, juga rencana mengisi hari di puncak dengan mengunjungi kebun teh ataupun naik paralayang dan melihat seluruh kawasan Puncak dari langit. Walaupun begitu, Ayahnya baru pulang ketika matahari terbit dan disambut oleh teriakan Pradipta.

“Ayah kemana saja? Aku baru saja mau batalkan pesanan hotelnya kalau Ayah tidak ada kabar.”

“Maaf, maaf. Ayah sedang menyelidiki kasus baru lagi. Akhir-akhir ini banyak penipuan lewat perdagangan online. Tapi rencana kita tetap jadi, makanya Ayah menginap di kantor dan pulang pagi, supaya lebih segar. Kamu tahu sendiri, Jakarta di Jumat malam selalu macet hingga hampir tengah malam.” Inspektur Brama merebahkan diri ke sofa, menaruh tas, dan melepas sepatu juga kaus kakinya.

“Setidaknya Ayah beri kabar, supaya aku tidak usah menunggu di rumah.”

“Jadi kamu menunggu Ayah semalaman? Seperti anak kecil saja.” Tawa lepas terhambur dari Inspektur Brama, yang melepas parka cokelatnya dan melemparnya ke sofa, kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Masih dengan bersungut-sungut, Pradipta membereskan barang-barang Ayahnya yang ditaruh begitu saja. Sepatu dimasukkan ke dalam rak, kaus kaki ditaruhnya di tempat pakaian kotor. Baru saja dia mengeluarkan isi kantung parka dan menaruhnya di meja tamu, ketika Ayahnya berteriak dari dalam kamar mandi, “jaketnya jangan ditaruh di tempat cucian, nanti mau Ayah pakai lagi. Itu baru Ayah pakai kemarin.”

Sembari menghela napas, Pradipta menaruh parka kembali di sofa dan mengembalikan isi saku di tempatnya. Lencana polisi di bagian dalam jaket; pena, buku catatan, rokok, dan korek ditaruhnya di saku kanan; plastik kecil berisi pasta gigi dan gula berlabel hotel ada di saku kiri. Pradipta menepuk dahinya. Hampir saja dia lupa. Dia lalu memindahkan pena dan buku catatan ke saku bagian dalam parka dan menaruhnya kembali di sofa. Pemuda itu kemudian masuk ke kamar ayahnya, mengambil beberapa helai pakaian lalu memasukkannya ke dalam tas ransel.

Perencanaan yang baik dan persiapan yang matang rupanya tak membuat liburan kali ini menjadi sukses. Berawal dari telepon yang masuk ke ponsel Ayahnya saat mereka di tempat peristirahatan tol beberapa saat yang lalu, Inspektur Brama mengubah arah tujuan mereka. Dari tol Jagorawi yang biasa dilalui jika ingin bepergian ke arah Puncak, seharusnya mereka bisa keluar tol langsung ke jalan yang mengarah ke Puncak, namun kali ini mereka keluar gerbang tol Ciawi dan mengambil arah ke kanan, menuju kota Bogor.

“Kita mau ke mana? Arah Puncak bukannya ke kiri?” Pradipta langsung protes begitu tahu kalau mereka tak langsung menuju ke hotel.

“Ayah mau ke tempat kejadian perkara, ada kasus. Tunggu sebentar ya.”

“Kasus lagi.” Pradipta mencibir. “Ayah kan sedang liburan. Lagipula ini bukan wilayah tugas Ayah.”

“Hanya sebentar, kok. Ayah hanya memeriksa laporan saja. Nanti setelah ini kita langsung ke hotel.” Inspektur Brama membelokkan mobilnya ke kompleks perumahan. Ada beberapa polisi yang berjaga di depan. Inspektur Brama memberi hormat pada mereka, diikuti dengan enggan oleh Pradipta.

“Bagaimana kalau kali ini kamu ikut ke dalam? Kamu bisa lihat cara Ayah bekerja. Tapi kamu harus pura-pura jadi anak buah Ayah, supaya bisa diizinkan masuk.”

Pradipta, yang sejak tadi membisu dan bersungut dalam hati, kini tertarik dengan usulan Ayahnya. “Aku boleh lihat TKP dari dekat? Memangnya kasus apa?”

“Ada orang gantung diri. Kalau menurut laporan yang Ayah terima tadi, ini bukan kasus besar. Nanti kamu bisa mengamati Ayah sambil pura-pura menulis laporan.”

“Siap. Aku setuju.” Wajah Pradipta kembali cerah. Meski kali ini hanya kasus sederhana, tapi baru kali ini dia diizinkan masuk untuk melihat TKP. Sebelumnya mana pernah dia diperbolehkan masuk. Selain karena hampir semua anak buah Ayah sudah mengenalnya, Ayah seringkali hanya memeriksa TKP yang sudah pernah diperiksa oleh anak buahnya, hanya sekadar mencari bukti tambahan dan mencocokkan informasi di laporan dengan kondisi lapangan, bukan kasus yang masih hangat seperti saat ini.

Mobil sedan Inspektur Brama berhenti tepat di belakang mobil polisi. Seorang petugas langsung menghampirinya. Inspektur Brama langsung membuka kaca dan memperlihatkan lencana dari balik jaketnya. “Inspektur Brama, Kepolisian Pusat.”

Anggota polisi itu langsung memberi hormat. “Sersan Nugroho, Polda Bogor. Silakan, Inspektur. Anda sudah ditunggu di dalam.”

Inspektur Brama menutup kaca mobilnya dan keluar. Pradipta mengambil pena dan buku catatan cadangan dari dalam dasbor mobil, kemudian turun sambil memberi hormat pada polisi yang menyapa Ayahnya. Tak sulit baginya untuk bertingkah laku layaknya seorang polisi setelah bertahun-tahun mengamati cara kerja Ayahnya.

Setelah melewati dua mobil polisi dan satu ambulans yang parkir tepat di depan rumah yang diberi garis polisi, ayah dan anak yang sedang berpura-pura menjadi mitra kerja itu langsung masuk ke rumah yang telah diberi garis polisi, diantar oleh polisi yang sebelumnya menyapa mereka. Mereka bertiga menerobos di sela-sela garis polisi, memasuki pekarangan rumah yang dipenuhi anggrek dan 2 pohon kamboja Jepang yang bunganya bermekaran; tanahnya ditutupi rumput gajah yang daunnya masih segar dan basah sisa siraman embun pagi tadi.

Di dalam rumah yang minim perabotan, Sersan Nugroho langsung masuk ke ruangan tengah. Dia juga yang memberitahu kepada polisi berperawakan agak gempal—sepertinya atasannya—kalau dua orang yang baru datang ini adalah perwakilan dari kepolisian pusat. Sersan berperawakan tinggi kurus ini kemudian memberi hormat dan kembali ke posisinya, berjaga di luar rumah.

“Letda Sucipto, Polda Bogor.” Petugas itu memberi hormat, yang dengan segera dibalas hormat oleh Inspektur Brama dan Pradipta. Polisi lokal itu pun memberikan beberapa lembar kertas berisi laporan yang baru ditulisnya kepada Inspektur Brama, yang membacanya sekilas lalu memberikannya pada Pradipta.

“Korban bernama Melgiansyah, usia 35 tahun, tinggi badan sekitar 165 sentimeter, belum menikah. Pekerjaannya sebagai penulis novel, dikenal dengan nama pena Mel G. Syah. Ditemukan mati bunuh diri dengan cara menggantung lehernya dengan tali yang diikat di kusen pintu kamar tidurnya. Perkiraan waktu kematian sekitar pukul 2 hingga pukul 6 pagi. Ditemukan pertama kali oleh tunangan korban bernama Citra Meilani, 28 tahun, bekerja sebagai bagian keuangan restoran. Meninggalkan catatan di saku kemejanya.” Pradipta bergumam membaca laporan sembari melihat lokasi kejadian.

Jenazah baru saja dimasukkan ke kantong jenazah, sementara tali yang digunakan sebagai alat bunuh diri masih tergantung di kusen pintu kamar depan. Cukup tinggi hingga leher Pradipta pun bisa tergantung di situ. Beberapa buah buku yang berantakan di bawahnya—sepertinya digunakan sebagai pijakan—juga baru saja dipindahkan oleh seorang anggota polisi setelah sebelumnya ditandai pada bagian lantainya.

“Penulis ini cukup terkenal, makanya kami minta bantuan ke kepolisian ibukota. Ini bisa jadi kasus besar. Kami menemukan ini di saku kemejanya.” Letda Sucipto berkomentar sembari merogoh plastik transparan berwarna kebiruan dan mengambil secarik kertas kecil yang juga terbungkus plastik bening. Hanya ada sebaris kalimat tertulis di sana: Segalanya berubah digital.

“Saya juga pernah membaca salah satu bukunya. Roman picisan.” Inspektur Brama mencibirkan bibirnya. Pradipta tahu, ayahnya tak suka buku fiksi dengan genre seperti itu. Sebagai kepala polisi yang sangat mencintai tugasnya, Inspektur Brama pun hanya menyukai buku fiksi dengan tokoh detektif ataupun buku kasus kriminal penjahat-penjahat legendaris. Berbeda dengan Pradipta yang melahap genre apapun.

“Apakah ada barang lain yang bisa digunakan untuk memperoleh keterangan tambahan?” Pradipta mengajukan pertanyaan setelah mengembalikan barang bukti.

Letda Sucipto menggelengkan kepala, “Laptop dan ponselnya diberi sandi, akan butuh waktu lama untuk membukanya. Itu pun belum tentu ada bukti di dalamnya. Tapi menurut pengamatan kami dan hasil dari tim forensik, tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam tubuhnya. Berarti bisa disimpulkan sementara ini kalau korban mati bunuh diri.”

“Dari orang yang menemukan pelaku pertama kali, apa dia tidak memberikan keterangan apapun selain penemuannya? Setidaknya kita harus mengetahui motif mengapa korban bisa bunuh diri.” Tatapan Inspektur Brama menyelidik ke seluruh ruangan tengah. Dinding berwarna biru muda hanya dihiasi oleh 2 buah pigura foto almarhum bersama keluarga besar dan sertifikat pemenang lomba penulisan yang diikutinya beberapa tahun lalu. Ruangan ini pun hanya diisi oleh meja makan kecil berbentuk persegi di sudutnya dengan didampingi 2 buah kursi.

“Tidak ada keterangan lain. Hansip kompleks ini juga tidak melihat seorangpun yang bertamu ke rumah ini sewaktu dia sedang berjaga, mulai jam 10 malam hingga subuh. Saat kami temui Saudari Citra pertama kali, beliau masih sangat syok dan sepertinya belum bisa menerima kenyataan, sehingga kamu belum bisa memperoleh keterangan apa-apa darinya. Kami mengetahui kejadian ini pun karena ada tetangga yang menelepon kami setelah mendengar teriakan beliau dan datang kemari untuk melihat. Tetapi jika ingin bertemu Saudari Citra, beliau sedang beristirahat di kamar belakang.” Letda Sucipto menunjuk ke pintu yang tertutup. “Ada seorang polisi wanita yang menemaninya,” tambahnya.

“Apa saat ini dia sudah bisa dimintai keterangan?” Inspektur Brama melihat dari dekat tali yang sengaja tidak dilepas.

“Mohon tunggu sebentar, akan saya tanyakan.” Petugas polisi setempat itu menuju pintu kamar dan mengetuknya. Polisi wanita yang di dalamnya yang membukakan pintu. Mereka berdua kemudian berbicara dengan nada pelan, sementara Inspektur Brama dan ‘rekan kerja seharinya’ masuk ke kamar depan dan melihat-lihat seisi kamar. Berbagai jenis buku tersusun rapi di rak buku yang terdiri dari 4 deret, memenuhi hampir seisi dinding kamar, menyisakan jendela tertutup gorden berwarna krim serta meja dan kursi kerja di dekatnya. Hanya ada lampu baca dan beberapa alat tulis yang berserakan di atas atas meja cokelat yang modelnya familiar dan mudah ditemui di toko furnitur. Sebagian lantainya tertutup permadani kecil dan sebuah bantal besar berukuran persegi.

“Sepertinya ruangan ini hanya digunakan untuk bekerja.” Pradipta mengamati sambil menulis di buku catatannya. ‘Rekan kerja’ di sampingnya hanya mengangguk-angguk seraya melihat-lihat isi buku dalam rak. Walaupun pemilik rumah ini seorang penulis roman, tapi koleksi bukunya sangat beragam. Tak melulu soal cinta, buku sains pun cukup banyak dan memenuhi dua baris teratas di rak buku dekat pintu, rak paling besar di kamar itu.

“Maaf, Inspektur. Saksi sudah siap memberikan keterangan. Silakan.” Letnan bertubuh gempal itu menghampiri Inspektur dan memintanya untuk menemui kekasih pemilik rumah di kamar belakang. Pradita mengikuti. Mereka bertiga masuk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan; kursi makan di ruang tengah dipindahkan ke dalam kamar yang ukurannya dua kali lebih besar daripada kamar depan.

Dua wanita duduk di tepian tempat tidur: satu berambut bop dan berseragam polisi; lainnya berambut lurus sebahu dan mengenakan blus abu-abu yang melapisi kaus putihnya. Pradipta sedikit tertegun kala melihat wanita yang berambut sebahu itu, matanya indah sekali walau terlihat masih berkaca-kaca. Inspektur menyenggol lengan ‘rekannya’ dan meminta kertas laporan yang digenggamnya.

“Selamat siang, Saudari Citra Meilani. Dari laporan ini,” Inspektur Brama membolak-balik kertas di tangannya, “anda yang pertama kali menemukan korban. Bisa diceritakan lebih detail?”

Wanita manis itu menarik napas panjang, “Tadi pagi, sekitar jam delapan, sewaktu saya mengetuk pintu rumah, tidak ada jawaban dari dalam. Saya pikir Gian—saya biasa memanggilnya seperti itu—masih tidur, karena jam kerjanya tidak menentu. Karena saya memiliki kunci cadangan, saya langsung membuka pintu. Begitu saya masuk, saya melihat…,” ucapan Citra terhenti, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Polisi wanita di sebelahnya merangkul pundak dan mengusap-usap lengan wanita yang bernasib malang itu, berusaha menenangkannya.

“Saya langsung berteriak dan jatuh terduduk di lantai. Ada beberapa orang tetangga yang datang. Mungkin mereka juga yang lapor polisi. Saya hanya menangis hingga ibu polwan ini masuk ke rumah dan membawa saya ke kamar ini, lalu berusaha menghibur saya.” Citra mengakhiri ceritanya.

“Apa semenjak anda menemukan korban hingga masuk ke kamar ini, anda sama sekali tidak menyentuh korban?” Kali ini Letda Sucipto yang bertanya.

Citra menggeleng sambil berusaha menahan tangisnya. “Saya ingin menyentuhnya, memeluknya, tapi jangankan menyentuhnya, berdiri saja tidak kuat. Mengapa ini bisa terjadi? Kami tidak pernah ada masalah. Bahkan kami berencana akan menikah beberapa bulan lagi.”

“Dari laporan tim forensik, perkiraan waktu kematian korban adalah antara tengah malam hingga pukul 6 pagi tadi. Apa sebelumnya anda tidak menerima telepon ataupun pesan apapun dari korban? Apa sebelumnya korban pernah bercerita tentang suatu masalah, barangkali mengenai pekerjaannya?” Pradipta ikut mengajukan pertanyaan, dia ingin menikmati peran sebagai polisi. Pradipta sengaja memberikan informasi yang salah mengenai jam kematiannya untuk mengorek informasi lebih dalam dari saksi mata.

Tatapan mata Citra menerawang, berusaha menggali memori dalam ingatannya. “Kemarin siang Gian bercerita soal penjualan bukunya yang menurun. Walaupun novelnya dianggap laris, tapi minat baca di Indonesia sangat rendah, terlebih di era digital seperti sekarang ini. Tapi saya tidak mengerti soal itu, makanya saya anggap dia hanya mengeluh saja. Gian juga jarang menerima tamu di rumah ini, apalagi punya musuh. Pesan terakhir dari Gian yaitu tadi malam, sewaktu saya mengingatkannya makan dan mengatakan kalau saya akan datang hari ini. Dia hanya membalas, “Siap, ibu negara.” Pesan darinya masih ada, silakan kalau mau dilihat.” Citra mengeluarkan ponselnya dan menaruh di meja kecil di samping tempat tidur. Inspektur Brama yang melihat dan memastikan kalau Citra berkata jujur. Pradipta berpura-pura mengoreksi laporan.

“Mohon maaf. Pada jam yang tadi disebutkan oleh rekan saya, anda sedang berada di mana? Jika dilihat dari pesan lain yang masuk, anda sedang tidak berada di rumah.” Kembali Inspektur Brama bertanya.

“Maaf, untuk saat ini saya tidak bisa mengatakan saya sedang di mana.” Pandangan Citra tajam tertuju pada Inspektur Brama. “Saya masih cukup syok atas apa yang terjadi hari ini.”

“Mohon maaf kalau begitu, Saudari Citra. Jika anda tidak bisa memberikan keterangan soal itu, anda mungkin bisa dijadikan tersangka pembunuhan dari saudara Melgiansyah.” Inspektur Brama berkata tegas, membuat seluruh orang yang ada di kamar itu tersentak kaget, termasuk Pradipta yang terpana. Mengapa Ayahnya bisa berkesimpulan seperti itu?

“Pintu rumah terkunci dan tidak ada yang memegang kunci rumah ini selain kalian berdua. Tidak ada tanda-tanda pintu dibuka paksa pula. Anda adalah orang terdekat dari korban, memiliki kunci rumah ini, dan pastinya sudah mengetahui tata letak rumah ini dengan baik. Sidik jari anda pun sudah tersebar dimana-mana. Bisa saja anda masuk ke rumah ini tadi pagi dan membunuh korban, lalu berteriak untuk memanggil tetangga setelah anda memastikan kalau korban sudah meninggal.” Inspektur Pradipta melanjutkan.

Bibir tipis Citra terkatup rapat. Dia berusaha menahan amarahnya yang mulai meluap. Bisa-bisanya polisi di hadapannya berkesimpulan seperti itu. Kedua jemari tangannya terkepal di pangkuannya. Matanya kembali berkaca-kaca. Wanita itu pun menundukkan kepalanya demi menyembunyikan air mata yang mulai menggenangi kelenjar air matanya.

Setelah menarik napas dan mengusap wajahnya, Citra kembali menatap Inspektur di hadapannya dengan pandangan sinis. “Kunci cadangan itu hanya saya pakai kalau Gian tidak ada di rumah ataupun jika Gian sedang tidur. Terkadang saya hanya membersihkan rumahnya lalu pergi lagi. Saya tadi malam menginap di hotel dengan teman. Mungkin bisa ditanyakan kepada petugas hotelnya, apakah benar kalau semalam saya menginap di sana?” Wanita itu lantas mengeluarkan kartu nama Hotel Unseen dari dalam tasnya dan memberikan kepada Letda Sucipto yang duduk di samping kiri Inspektur Pradipta. Letda Sucipto menerima kartu nama itu dan membacanya sekejap, kemudian memasukkannya ke dalam kantung plastik biru bening yang masih kosong.

“Daripada menanyakan kepada petugas hotel, bagaimana kalau kami menghubungi teman anda saja? Bukankah itu lebih cepat dan jelas?” Inspektur berkumis tipis itu kembali berargumen.

Citra kembali menundukkan kepalanya. “Kami bertengkar hebat tadi pagi. Saya rasa kurang bijaksana apabila memintanya menjadi saksi. Saya bahkan menghapus nomor teleponnya dari daftar kontak di ponsel saya, karena dia sudah tidak bisa dimaafkan. Jika dia menjadi saksi, saya takut kalau dia berkata yang tidak-tidak mengenai saya. Lebih baik orang lain yang menjadi saksi, supaya bisa lebih objektif.”

Inspektur Brama mengangguk-anggukkan kepalanya. Pradipta sejak tadi terus memperhatikan perubahan emosi yang terjadi di ruangan kecil ini. Tegang sekali, seperti di ruang interogasi tersangka yang dilihatnya di film kriminal. Namun kali ini tidak ada penjahatnya, setidaknya itulah kesimpulan sementara yang diambil oleh Pradipta berdasarkan pengamatan amatirnya.

“Ada lagi yang ingin ditanyakan, Inspektur?” Citra yang kali ini menantang polisi di depannya, dengan penekanan nada pada kata ‘Inspektur.’ Seluruh mata tertuju pada Inspektur Brama yang sedang mengusap dagunya.

“Saya rasa cukup untuk hari ini. Terimakasih atas waktunya.” Inspektur Brama bangkit berdiri, diikuti Letda Sucipto dan Pradipta, yang mengangguk kecil pada kedua wanita yang juga ikut berdiri. Mereka bertiga keluar dari kamar itu, dan Inspektur Brama pamit undur diri. Letda Sucipto mengantar hingga ke pekarangan rumah.

“Awasi wanita itu. Sebisa mungkin cari tahu mengenai orang yang menginap dengannya tadi malam. Mereka bisa saja berkomplot. Jika tidak, barangkali perbuatan wanita itulah yang memicu korban untuk bunuh diri. Selidiki segala kemungkinan.” Inspektur Brama memberikan instruksi sebelum pamit, disambut dengan hormat oleh Letda Sucipto. “Siap, laksanakan!”

Ayah dan anak itu kembali ke mobil mereka dan pergi dari tempat kejadian. Inspektur Brama menyetir sembari merokok begitu memasuki kawasan Puncak, sementara Pradipta sibuk memainkan ponselnya sepanjang jalan hingga tiba di hotel. Tak ada perbincangan di antara mereka, masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Barulah setelah berada di kamar dengan dua dipan, Pradipta bertanya pada ayahnya, “Menurut Ayah, kejadian tadi murni bunuh diri atau pembunuhan?”

“Bunuh diri. Tidak ada laporan adanya tindak kekerasan kepada tubuh korban. Lagipula tenaga wanita itu tidak cukup kuat untuk menggotong pacarnya supaya posisi lehernya bisa di dalam ikatan tali. Bagaimana menurutmu?”

“Hebat,” Pradipta berdecak kagum. “Ayah bisa langsung berkesimpulan seperti itu padahal tadi mengatakan kalau ada kemungkinan dilakukan pembunuhan oleh tunangannya.”

“Ayah kan dari tim investigasi kriminal, jelas saja ayah berpraduga seperti itu.”

“Hasil otopsi yang lebih detail pun belum keluar. Bagaimana kalau ada racun ditemukan dari lambung korban?” Pradipta berusaha menyanggah deduksi ayahnya.

Inspektur Brama menghempaskan tubuhnya ke kasur setelah melepas sepatu dan menggantungkan jaketnya. “Bagaimana kalau orang itu sendiri yang meminum racun dan racunnya tidak ampuh, makanya dia gantung diri? Lalu bagaimana dengan pesan kematian itu? Lebih baik kamu ungkapkan hasil analisismu daripada hanya berdebat.”

“Korban bunuh diri karena merasa tidak ada lagi yang bisa dipercayainya di dunia ini setelah dia mengetahui kalau tunangannya pun berkhianat darinya.”

Inspektur Brama bangkit dan duduk di tepian kasur. “Kamu bisa berkesimpulan seperti itu, memang ada dasarnya?”

“Ayah masih ingat dengan Arip, temanku yang waktu itu kuajak ke Bali?” Pradipta menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Dahi Inspektur Brama berkerut, walau tak lama kemudian dia mengangguk.

“Dia bekerja sambilan sebagai housekeeping di hotel Unseen. Tadi aku berbalas pesan dengan dia. Aku bertanya mengenai tamu hotel yang bernama Citra Meilani. Kebetulan dia mendapat shift sore hingga jam 11 malam, makanya dia sempat melihat daftar tamu hotel. Sewaktu pertama kali masuk sekitar jam 9, Citra datang sendirian.”

Wajah Inspektur Brama terlihat semakin serius. Pradipta melanjutkan, “Dari cerita Arip yang didapatnya melalui teman-temannya, tadi pagi ada tamu yang ribut di kamarnya hingga mengganggu tamu lainnya. Tamu itu adalah Citra dengan teman sekamarnya—pria berusia sekitar 40-50 tahunan—yang lekas pergi demi menghindari keributan yang lebih besar. Menurutku, teman pria Citra melaporkan perselingkuhan mereka kepada Melgiansyah untuk membatalkan rencana pernikahan Citra dan Melgiansyah. Tapi Citra mengetahuinya dan memaki-maki teman selingkuhnya sehingga terjadi adu mulut yang terdengar hingga ke luar kamar. Teman pria Citra segera berkemas dan pergi supaya tidak terjadi keributan lebih lanjut. Tapi wafatnya Melgiansyah mengubah keadaan, bahkan tanpa disadari oleh orang-orang yang terlibat, baik Citra, teman selingkuhnya, maupun Melgiansyah itu sendiri.”

“Coba jelaskan apa maksud dari perkataan terakhir kamu?” Inspektur Brama mengusap dagu, tertarik akan deduksi dari anaknya.

“Jika Melgiansyah dan Citra hanya putus, teman selingkuh Citra mendapat peluang untuk menikahi Citra. Tapi karena Melgiansyah bunuh diri, Citra jadi semakin membenci teman selingkuhnya. Apalagi jika teman selingkuhnya itu adalah seorang kepala divisi investigasi kriminal di kepolisian pusat yang posisinya terancam apabila terlibat skandal. Bukan begitu, Ayah? Eh, maksudku, teman selingkuhnya Citra.” Bibir Pradipta terkulum.

Inspektur Brama tersenyum, kemudian tertawa keras. “Daya khayalmu tinggi sekali. Kamu pasti terlalu banyak menonton film detektif. Lagipula Ayah tadi malam menginap di kantor. Kalau tidak percaya, kamu bisa tanya pada ajudan Ayah, sersan Siswoyo.”

“Tadi aku juga sudah tanya. Menurut dia juga begitu. Tapi bisa juga Ayah menyuruh sersan Siswoyo untuk berbohong. Lagipula semalam ada pria yang bertanya kepada Arip soal letak kamar yang ditempati Citra. Awalnya dia ragu kalau pria itu Ayah, makanya dia juga menyebutkan dengan ciri-cirinya. Ketika aku kirim foto Ayah, dia memastikan kalau pria yang dilihatnya masuk ke dalam kamar Citra itu memang Ayah.”

“Mungkin dia hanya salah lihat. Wajah Ayah kan sering sulit dibedakan dengan orang lain.” Inspektur Brama masih sibuk menahan tawa.

Tak memedulikan tawa Ayahnya, Pradipta berjalan menuju lemari dan meraih parka Inspektur Brama yang tergantung di gantungan baju. Pradipta lalu merogoh saku kiri parka Ayahnya dan mengeluarkan plastik kecil. Dia kemudian mengacungkan plastik itu ke arah Ayahnya. “Jika memang Arip salah lihat, bagaimana dengan ini? Pasta gigi yang baru dipakai sedikit dan gula berlabel hotel Unseen. Sebelumnya Ayah tidak pernah bawa pulang barang-barang seperti ini.”

Inspektur Brama berpikir sejenak, kemudian membantah, “Itu tertinggal di dalam kantong sewaktu Ayah menginap sebelumnya. Lagipula apa salahnya jika sesekali Ayah membawa pulang benda-benda seperti itu? Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan.”

“Jaket ini baru dipakai kemarin. Berarti Ayah menginap di hotel itu tadi malam. Citra yang diam-diam memasukkannya ke saku jaket Ayah sewaktu ayah pergi tergesa-gesa. Kalau ini diperiksa, pasti ditemukan sidik jari Citra. Lagipula tadi kita belum memperkenalkan diri kepada Citra. Dia tahu dari mana kalau Ayah adalah inspektur?”

Tawa Inspektur Brama seketika lenyap, berganti dengan senyuman tersungging. “Sepertinya kamu mewarisi bakat analisis Ayah. Baiklah, Ayah menyerah. Memang Ayah selama ini dekat dengan Citra, bahkan ingin menjadikannya sebagai Ibu tiri kamu. Tapi Citra terlalu cinta dengan penulis roman picisan itu. Padahal kalaupun dibandingkan, hidup Citra akan lebih terjamin jika bersama Ayah daripada bersama penulis itu. Ayah hanya ingin membuat penulis itu sadar kalau wanitanya tak setia terhadapnya, tapi jadinya malah begini.”

“Aku belum pantas menjadi seorang penyelidik. Aku bahkan belum tahu, bagaimana cara Ayah membuat penulis malang itu bisa mengakhiri hidupnya?”

Inspektur Brama menghela napas panjang. “Ayah hanya mengirimkan foto ketika Citra sedang tidur di samping Ayah. Tapi karena ponsel ayah berbunyi sewaktu mengambil gambar, Citra tahu kalau dia difoto. Dia marah besar kepada Ayah. Kami adu mulut, perang argumen dengan volume suara yang semakin keras. Hingga akhirnya Ayah memilih pergi, meninggalkan Citra yang saat itu sedang menangis sesunggukan. Ternyata wanita itu memang pintar. Dia memasukkan barang-barang itu ke saku jaket Ayah, mungkin dia berniat membuat ayah dicekam rasa bersalah terhadap dirinya. Tapi situasinya berubah dan barang-barang itu bisa menjadi bukti alibinya kalau ayah bersamanya semalaman. Sekarang silakan laporkan Ayah kepada polisi tadi.”

“Lalu bagaimana dengan liburan kita? Aku masih ingin menikmati sisa akhir pekan di sini. Aku tidak mau ada gangguan seperti tadi. Bagaimana kalau sekarang kita ke tempat paralayang?” Pradipta mengamankan plastik berisi barang bukti ke dalam tasnya dan mengalihkan topik pembicaraan.

“Eh, tunggu dulu. Bagaimana kalau barang buktinya Ayah buang tanpa sepengetahuan kamu?”

“Polisi bisa melihat dari rekaman kamera pengawas, kalau Ayah berbicara dengan Arip. Ayah juga pasti terlihat sewaktu masuk dan keluar hotel. Dengan kata lain, cepat atau lambat, penyidikan polisi akan sampai kepada Ayah. Makanya lebih baik Ayah berlibur sebelum kembali sibuk. Lagipula Ayah bukan pelaku kejahatan.”

“Lalu bagaimana dengan pesan kematian yang ada di saku kemeja penulis itu? Kamu sepertinya mengabaikan bukti itu.” Inspektur Pradipta bangkit dan mengambil parka, minus barang bukti yang sudah diamankan.

“Itu bukan bukti.” Pradipta berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. “Tulisan itu ditulis oleh penulis itu sewaktu menelepon Citra. Ketika mereka berbicara soal itu, tangannya iseng menuliskan sesuatu di kertas yang lalu dimasukannya ke saku kemejanya. Karena korban belum mandi, apalagi berganti baju, makanya kertas itu masih ada di tempatnya. Dari bagian kerah yang menghitam juga dari rambut yang kotor karena belum dibersihkan, korban belum mandi setidaknya dua hari. Keterangan dari Citra kalau dia kadang ke rumah korban hanya untuk membersihkan rumah, memperkuat asumsi kalau korban cenderung malas ataupun terlalu terfokus pada pekerjaannya sehingga lupa dengan urusan lain, termasuk mandi.”

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments