Misteri Kursi Kelas

5 months ago
Khairul Rizal

by: Khairul Rizal

Baru sadar, Ikut-ikutan kekinian rupanya susah juga. Kemarin malam Andri tetanggaku mengajakku nge-vlog untuk membuat vlog penampakan dan menceritakan cerita seram yang dibuat-buatnya sendiri. Yang lagi nge-tren seperti kebanyakan selebriti. Terpaksa aku begadang semalam suntuk ngerekam dia. Aku dipaksa untuk menemaninya. Dan dengan terpaksa aku menemaninya sampai-sampai aku melupakan bahwa besok adalah jadwal piket aku di kelas.

Hal yang paling membuatku muak adalah harus mengerjakan piket kelas pada hari Selasa ketika bel berbunyi pertanda pulang sekolah. Padahal perutku sudah tidak bisa kompromi. Terpaksa kukerjakan tugasku itu tanpa ikhlas hati. Kuatur kursi satu persatu hingga semuanya tertata rapi. Setelah tugasku yang menyebalkan ini selesai, akupun pulang ke rumah.

“Kenapa tidak pesuruh sekolah saja yang mengerjakannya” gerutuku sambil berjalan menyusuri jalan ke rumahku yang memang dekat dengan sekolah.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah lebih awal daripada hari biasanya. Ketika sampai di pintu kelas, terlihat beberapa temanku yang sudah duluan sampai di kelas. Ketika kuperhatikan suasana kelas sama seperti biasanya, tapi ketika mataku mengarah pada sebuah kursi di belakang pojok kiri kelas milik Adnan, ada sebuah kejanggalan yang kuperhatikan.

“Don, kenapa kursi gue terpelanting begini, sengaja gak kamu atur atau kamu gak ikhlas lakuinnya? Gue laporin ke ibu wali kelas lu” ujar Adnan sambil melangkahkan kaki keluar kelas. Mungkin dia memang mau laporin ke ibu wali kelas, dia memang anak pelapor. Cocoknya jadi wartawan. Kemaren aja waktu penghapusnya yang seharga seribu rupiah itu hilang, aku harus masuk ke ruang wali kelas karena kasus penggelapan dan harus mendekam 2 jam siraman rohani di ruang wali kelas.

“Etzzz Nan tunggu! Aku aja gak tahu, Nan. Perasaan kemaren ada semuanya kuatur !” cegatku, yang tidak mau dilaporin ke wali kelas lagi. Bisa-bisa kena pidana pelanggaran HAM aku nanti, karena sudah mengganggu ketentraman masyarakat dengan tidak menjalankan tugas dengan baik.

“Liat ntar waktu piket gue, gak gue atur juga kursi lu!” ancam Adnan yang selalu serius dalam masalah sekecil apapun.

“Iya enggak apa-apa, tapi balasnya sekali aja ya!” ujarku menimpali.

“Terserah” ujar Adnan seraya berlalu.

Perasaan kemaren sudah aku tata rapi semua kursinya. Timbul dalam hatiku niat untuk mengecek bangku itu. Akhirnya kuputuskan kalau hari itu aku tidak akan pulang dulu. Aku akan menemani Ravy untuk mengerjakan piketnya. Tidak ada banyak tujuan kecuali ingin memastikan jikalau kursi itu tertata rapi. Setelah menemani Ravy mengerjakan tugasnya, kami pun bergegas pulang.

“Don, tumben hari ini kamu baik amat mau nemenin aku ngerjain piket” ujar Ravy di perjalanan pulang.

“Enggak kok, aku cuma lagi kesambet rajin aja” ujarku yang disertai tawa bersama.

Sesampainya di rumah, hatiku terus kepikiran. Bagaimana dengan bangku itu besoknya. Setelah sekian lama menanti datangnya esok hari, akhirnya sampai juga penantian panjangku pada hari esok. Aku terburu-buru berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, aku terburu-buru lari ke kelas. Dan kulihat kursi itu terpelanting seperti kemaren lagi. Padahal akulah yang pertama kali datang dan sempat menancapkan bendera pengenal bak penjajah yang menancapkan tanda sebagai kawasan yang baru ditemuinya. Tak lama kemudian Ravy pun datang.

“Vy, lihat kursi itu! Kemaren kan sudah kita beresin, kenapa bisa terpelanting begitu?” tanyaku sambil menunjuk ke arah kursi itu.

“Ah mana aku tau, mungkin ketiup angin makanya jatuh” jawab Ravy sesederhananya.

“Gini nih, kemaren pas aku piket sebelum aku pulang aku udah tata rapi bangkunya, dan ketika paginya aku liat bangkunya terpelanting, Vy “ jelasku

“Ah, lu kebanyakan nonton film Detektif Conan sih” tanggap Ravy menimpali.

“Iya, aku emang suka nonton film Detektif Conan. Tapi ini beneran aneh, kayak ada orang yang sengaja lakuin ini.”

“Terus kita harus bagaimana, Don?” tanya Ravy.

“Gini, aku pikirin dulu gimana caranya. Entar sewaktu istirahat, aku jelasin gimana caranya” usulku

“Oke, sip” ujar Ravy yang tak lama kemudian diselingi oleh masuknya guru.

Saat itu kami sedang masuk jam olahraga. Seperti biasanya, anak-anak begitu antusias. Tapi, aku tidak ikut kegiatan hari ini dan kuputuskan untuk menemui satpam sekolah di pos.

“Maaf Pak jikalau saya ganggu, ada yang perlu saya tanyakan” sapaku.

“Mau tanya apa, Dik?” tanya pak satpam.

“Yang kelas 1B, siapa yang huni dulunya pak?”

“Oh, kelas itu dulu memang lama enggak aktif, Dek. Sekarang baru aktif lagi karena ada beberapa kelas yang harus direhab, Dek. Kenapa nanya tentang itu, Dek?’’ jawab pak satpam.

“Oh enggak apa-apa Pak, saya cuma ingin tau saja” jawabku seraya pergi meninggakan pos.

Kring……kring……kring……Bel berbunyi tiga kali pertanda bahwa sudah istirahat. Murid-murid kelas kami pun mendesah karena begitu cepat habis jam olahraga di saat sedang asyik bermain. Di kelas, aku langsung temui Ravy dan kutemukan ide brilian.

“Vy, aku udah dapat idenya” ujarku.

“Ketemu di mana idenya? Di pohon kelapa?” Tanya Ravy.

“Ah, aku serius. Jadi caranya gini, entar kita pulangnya telat, supaya enggak ada yang curiga. Setelah itu kita keluarin kursinya. Kalo misalnya kursi itu masih di luar besoknya, maka dugaan aku salah. Sebagai gantinya, aku gak akan lagi nonton film Detektif Conan” ujarku.

“Oke demi sifat jantanku, aku harus membuktikan pada temanku ini jikalau dia hanya berhalusinasi saja” jawab Ravy bak pahlawan nyata.

Kami menunggu sampai yang kena jatah piket hari ini selesai mengerjakan tugasnya. Dan ketika kami telah memastikan jikalau tidak ada orang lagi di kelas, kamipun memasuki kelas. Tetapi ketika masuk kelas, kami dikejutkan dengan tulisan yang tertulis di kursi itu. Ya, tulisan itu ditulis dengan cairan yang berwarna merah. Menurutku, itu adalah cairan pewarna. Dan kubaca tulisan itu dengan seksama.

“Jangan kamu pindahkan kursi ini keluar atau kalian semua akan mati’’ tulisan di kursi itu.

Tiba-tiba kaki kami kaku. Tanpa kusadari ada air di lantai. Setelah kulihat, ternyata Ravy kencing di celana.

“Vy, aku hitung satu..dua..tiga, lu tahu kan apa yang harus kita lakukan?” ujarku sambil mengangkat tangan sebagai isyarat kode.

“Ya, Don.’’

“Satu..dua..’’ belum sampai hitungan ketiga, Ravy berlari dan aku ditinggal sendiri.

“Vy, tunggu!’’ aku berlari secepat kilat.

“Hei, kenapa kalian lari?” panggil seorang lelaki yang kuketahui dia adalah pak kepala sekolah kami. Tapi Ravy tidak mengindahkan. Dia terus berlari melewati pintu gerbang, dan kurasa dia ingin pulang ke rumah.

“Gini Pak, mari Pak kita ke kelas 1B. Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata” ajakku.

Kami bergegas ke kelas dan mendekati kursi itu. Kata ancaman yang biasa dibuat oleh para penjahat di Detektif Conan masih tertera di kursi itu. Sementara Pak kepala sekolah masih melihat-lihat kursi itu.

“Kamu pulang saja terlebih dahulu. Untuk hal ini, bapak akan menindak lanjuti” ujar Pak kepala sekolah.

Akupun pulang dengan tergesa-gesa ke rumah. Mungkin saja itu pembunuh berdarah dingin yang menusup ke kelas dan memberikan teror pada kami. Keesokan harinya, di kelas kami telah terpasang CCTV yang mengarah pada kursi pojok itu. Ini pasti tujuannya agar yang menulis kata-kata itu ketahuan pelakunya. Jam kelas pun dimulai. Tapi yang masuk kelas kami adalah guru wali kelas, padahal bukanlah waktunya jam beliau sekarang.

“Anak-anak, mulai sekarang kelas kita telah dipasang CCTV oleh pihak sekolah, jadi sekarang kalian harus lebih giat !” ujar Bu Ratih.

“Iya, Bu.” jawab kami serentak.

“Maaf Bu, apa bisa Doni bicara dengan ibu sebentar?” tanyaku.

“Oh boleh Doni, yang lain lanjutkan belajarnya. Nanti Bu Susan agak telat masuk karena ada keperluan di kantor!” ujar Bu Ratih.

“Iya, Bu” jawab kami serentak.

“Ada apa, Doni?” tanya Bu Ratih setelah berada di luar kelas. Lalu aku menceritakan kejadian tentang kursi itu. Bu Ratih pun terkejut mendengarnya.

“Kalo begitu, ikut ibu ke kantor bapak kepala sekolah!”

“Iya, Bu” aku melangkah mengikuti Bu Ratih ke kantor kepala sekolah. Semua tertata rapi. Di situ juga ada berbagai trophy serta piagam penghargaan.

Tok..tok…tok…Bu Ratih mengetuk pintu. Tak lama kemudian bapak kepala sekolah membukakan pintunya.

“Maaf Pak, ada yang perlu kami omongin. Apa boleh kami masuk?’’ ujar Bu Ratih.

“Boleh, Bu silahkan” bapak kepala sekolah mempersilahkan kami memasuki ruangannya yang sejuk karna ber-AC.

“Ada apa, Bu?’’ tanya bapak kepala sekolah yang bernama Pak Mukhtar itu.

“Begini Pak, tadi ada anak didik saya menceritakan masalah salah satu kursi di ruangan kelas 1B. Apa itu maksud dari pemasangan CCTVnya pak ?” tanya Bu Ratih.

“Sebenarnya iya, Bu. Saya sengaja tidak memberitahu sebelumnya supaya kabar ini tidak tersebar luas. Tapi kalau memang itu telah diketahui, apa boleh buat. Berarti kita selidiki bersama kasus ini. Besok temui saya di sini. Kita akan melihat hasil rekamannya supaya kita ketahui siapa pelakunya” ujar Pak Mukhtar yang bijaksana itu.

“Iya, Pak” jawab Bu Ratih.

Kami keluar kantor Pak Mukhtar, dan aku masuk kelas untuk melanjutkan belajar yang sempat tertunda tadi.

***

Waktupun berlalu. Keesokan harinya ketika sedang istirahat, kutemui Bu Ratih dan kami bergegas ke kantor Pak Mukhtar. Kami melihat Pak Mukhtar yang sedang duduk santai memandang ke TV yang memutar semua tayangan CCTV. Tanpa banyak bicara, Pak Mukhtar pun langsung memutar rekamannya. Dan rekaman pun diputar dimulai dari pagi hari, yang hanya tertuju pada kursi itu saja. Walaupun ada terlihat beberapa bangku di depan, tapi tidak seluruh kelas bisa terjangkau. Dan di dalam rekaman itu terlihat pula kami yang sedang ngumpul-ngumpul ketika jam belajar kemarin. Pak Mukhtar melihat ke Bu Ratih, sedangkan Bu Ratih hanya tersenyum. Aku terkekeh, mungkin saja kami kena hukuman setelah ini karena tidak belajar sewaktu tidak ada guru.

Dan rekaman itupun dipercepat, karena memang tidak ada sesuatu apapun. Tapi ketika menuju jam sebelas malam, rekamannya mulai kabur-kabur. Tiba-tiba, terlihat seorang remaja yang memakai seragam lengkap masuk ke sana dan duduk di kursi misterius itu. Dan semakin lama tempat duduk yang dapat dijangkau oleh CCTV pun penuh oleh orang-orang bermuka pucat. Rekamannya semakin kabur dan eror seketika. Beberapa detik kemudian, ada seorang pria berbaju hitam yang begitu pucat berdiri tepat di bangku misterius itu. Sosok itu memegang tongkat dan memukuli remaja yang duduk di bangku misterius itu hingga terpelanting. Tak berapa lama, rekamannya mati seketika. Pak Mukhtar mengatakan padaku agar merahasiakan kejadian yang kulihat di rekaman tadi, dari teman-teman yang lain.

Setelah itu, Pak Mukhtar ingin mengecek keadaan kelas kami. Akupun ingin segera pulang karena bel tanda pulang telah berdering sekitar dua jam yang lalu. Ketika berada di pintu, kami dikejutkan oleh darah yang mengalir hingga ke pintu. Pak Mukhtar berjalan setengah berlari menuju mesjid yang berada di depan sekolah kami. Dijemputnya seorang ustadz. Ketika berada di kelas, ustadz terkejut. Beberapa saat kemudian, dia berkata “Ada arwah penasaran di sini, yang dibunuh pada saat konflik yang menewaskan seluruh anggota kelas. Ini bisa mengancam keselamatan siswa. Arwah itu berpesan agar segera meninggalkan kelas ini atau mereka mengancam keselamatan siswa.”

Dan akhirnya, teka-tekipun bisa terpecahkan. Sejak itu dengan adanya kebijakan sekolah, kamipun harus belajar di aula serbaguna sekolah sampai kelas yang direhab selesai. Sementara kelas itu aku tak mengetahui kabarnya lagi.

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments