Next to You

6 months ago
Sumber: pixiv.net
Yolando Carollin

by: Yolando Carollin

Boleh aku bertanya pada kalian? Apa itu kehidupan? Terserah apa pun pendapat kalian itu akan mengarah ke penjelasan yang sama. Begitu juga denganku. Kita hidup, di dunia ini hanya satu kali, setelah itu menemui ajal. Sangat sederhana bukan? Tidak ada yang mau mati. Semuanya ingin hidup didasari dengan ego masing-masing.

Sebelum kematian itu terjadi, ada kemuan dari diri kita yang kuat. Aku menyebutnya tujuan hidup. Jadi apa sebenarnya tujuan hidup ini? Entahlah, aku juga masih belum menemukan jawabannya, tetapi sepertinya aku sudah tidak punya tujuan itu.

Aku pernah punya impian. Namun, setelah aku kembali memikirkannya impian itu sudah pergi entah ke mana. Tidak berbekas, jauh di dalam pikiran sempitku. Bisa jadi impian adalah bagian dari tujuan di kehidupan kita ini, yang setuju denganku pasti akan mengerti.

Kehidupan, tujuan hidup, dan impian. Begitulah caraku meyusunnya dengan hanya tiga kata. Sekarang pun aku masih memikirkan tiga hal itu, sembari melihat lampu lalu lintas tidak jauh dariku, yang berubah warna setiap beberapa detik sekali. Ya, lampu itu sudah rusak dan aku membencinya karena suatu hal.

Aku pernah menulis sebuah buku, dengan judul yang tidak akan kusebutkan dengan mudahnya, tetapi akan kuberitahu nama penaku. J. Hopper, tidak ada arti dan maksud khusus di dalamnya, aku hanya berpikir itu keren. Buku itu juga bukan buku bagus. Segalanya berubah digital. Ya, saat kau melihat luasnya internet, dia hanya kumpulan kertas tua yang bahkan tidak pernah tersentuh. Itu hanya masa lalu, impian yang kini sudah pergi.

Namun, aku yakin, buku itu pasti ada di suatu rak di tempat di kota ini. Aku berharap ada orang yang membacanya.

Aku mengambil minuman kaleng di sampingku, bir kaleng. Kutenggak sekali. Ini minuman terakhirku. Seperti biasa, awan masih menggempal di atasku, panas mulai menyorotku. Aku duduk tidak jauh dari jalan raya di depanku, tepatnya di trotoar. Kakiku menapak di aspalnya. Masih ada satu minuman kaleng dingin di sampingku, rasa lemon. Kurang dari beberapa menit, kupikir dia akan menghampiriku. Entah raut wajah apa yang ditunjukannya, yang pasti bukan wajah senang atau bahagia. Ya, dia, orang yang baru saja kutabrak. Tepatnya seorang gadis.

Sudah sekitar beberapa jam aku menunggunya terbangun. Aku ingin minta maaf, perasaan membingungkan ini semoga cepat berakhir.

“Maaf menunggu lama. Butuh beberapa waktu untuk menyadarinya. Kupikir kamu yang tidak akan bangun. Oh? Apa bir itu untukku?” katanya sambil berjalan ke arahku, menunjuk kaleng bir yang bahkan sudah kosong.

Setelah suara itu berakhir, aku hanya terdiam melihatnya. Kulihat dia berjalan dengan langkah seirama dan riang, sambil bersenandung. Entah lagu apa yang sebenarnya disenandungkannya, melodi itu tidak pernah kudengar sebelumnya.

Dia berhenti tepat di sebelahku dengan suara sepatu yang berbunyi pelan. Jaket hoodie putih yang agak kebesaran itu menutupi baju berwarna serupa di dalamnya, sementara celana jeans berwarna hitam tampak berbeda dari kepribadiannya. Dia membawa furing bag putih di pundak kirinya, dengan warna abu-abu untuk bagian tali. Potongan rambut pendek itu bergeser halus di antara pundaknya.

Tidak ada reaksi yang seharusnya dia tunjukkan padaku, raut wajah itu ramah. Aku hanya bisa terpaku melihatnya dengan perasaan berat hati.

Aku termenung sebentar, menundukkan kepala lalu kembali melihatnya. “Jangan bodoh, kalau sudah seperti itu pasti aku bangun. Bibirmu itu tidak cocok untuk minum bir. Apa jus kaleng cukup?” kataku sambil memberinya jus kaleng rasa lemon.

Dia menerimanya. “Cukup.” dia membuka minuman kalengnya, menenggak sekali. Sempat terdengar suara dari tenggorokannya. Dengan perasaan segar dia menurunkan kalengnya, memegang kaleng dingin itu dengan kedua tangannya. “Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu ya … Tadi hujan, tapi sekarang tiba-tiba berhenti. Aku bertaruh kalau sebentar lagi hujan kembali turun. Lihat ini, aku bahkan memakai pakaian kakak perempuanku, padahal ini sedikit kebesaran, celana seperti ini lumayan ketat.”

“Ya, sekarang sedang tidak tentu, apalagi kita tinggal di wilayah Asia dengan hanya dua musim. Wajar saja kalau begitu, menurutku. Tapi hangat bukan? Kau punya kakak yang perhatian.” aku kembali meminum bir.

Sementara memikirkan sesuatu, dia terus berdiri melihatku. Embun dari kaleng minumannaya sudah mulai terlihat membasahi bagian luar kaleng.

“Kau tidak duduk?” tanyaku. “Apa yang dari tadi kau pikirkan tentang paman pemabuk sepertiku?”

“Kau orang baik. Itu yang kulihat darimu, tidak butuh mengenalmu lebih lama karena dari matamu aku sudah bisa melihatnya. Aku suka itu.”

Aku meliriknya ketika dia akhirnya duduk. “Jangan bercanda. Cara pandangmu aneh. Aku yakin kau punya banyak teman.”

Sebelum dia akhirnya duduk, dia membuat posisinya nyaman dengan jeans yang dia bilang lumayan ketat itu. Sempat kucium aroma tubuhnya, tetapi aku langsung menutup mulut untuk tidak memperlihatkan senyumku. Jadi seperti ini aroma seorang gadis? Kalau aku sampai bertanya, kurasa hidungku ini sudah penuh dengan kebusukan dunia. Neraka mungkin tempat yang cocok untuk orang sepertiku.

“Aneh ya, terima kasih kalau begitu. Ya, banyak teman, tapi hanya beberapa yang bisa kubilang teman asli. Aku menyebutnya sahabat.” katanya sambil tersenyum kecut.

“Itu bukan pujian dan terima kasih untuk penjelasan tidak berguna barusan, nona.”

“Sama-sama.” Jawabnya, dengan senyum yang sama.

Sebagai balasannya, aku juga tersenyum.

Tanpa kusadari bir-ku sudah habis, setelah menggoyangkannya ke kanan dan kiri, aku menaruhnya dekat kakiku. Aku menghela napas pelan.

“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Apa kamu merasa bersalah setelah semua yang terjadi?” katanya.

Aku menelan ludahku. Sempat terpikir beberapa jawaban, tetapi yang kutemui hanyalah satu, yaitu untuk meminta maaf padanya. Ya, hanya kata-kata itu yang bisa kuberikan. Namun, entah kenapa rasanya berat sekali.

“Tergantung, aku tidak akan berada di sini lagi kalau kau sudah memaafkanku, itu berlaku untukmu juga. Sudah seperti itu seharusnya.”

Dia berpangku dagu. “Hmm … Bagaimana ya, akan kuberi kau jawabannya setelah berhasil membuatku tertarik dengan sebuah obrolan. Kebetulan kita masih punya banyak waktu.”

Merepotkan, yang kuinginkan hanya minta maaf. Jangan membuatku tertawa, aku ini hanya orang kantoran biasa. Tidak, tunggu, sebenarnya kita memang punya banyak waktu, yang lebih penting lagi aku sudah tidak perlu ropot-repot mengaitkan ini dengan pekerjaanku yang sekarang ini.

Aku berdecak, lalu menghela napas ketika tahu seberapa naifnya diriku, padahal aku sudah mau bebas dari dunia ini, dan sekarang malah bertemu sebuah masalah, dengan seorang gadis pula. Bodoh, bodoh, bodohnya aku! Dasar pemabuk.

“Lagu apa yang kau senandungkan barusan?”

Ketika mendengar pertanyaanku dia tersenyum miring, seakan berhasil membuatku masuk dalam permainan kecilnya. Jelas hanya seperti itu, karena ini bukanlah sebuah topik melainkan hanya pertanyaan sepintas. Bahkan mungkin sekarang dia tahu apa yang kupikirkan.

Bibir yang lekat itu terbuka, tipis dan lembut. “Itu laguku sendiri.” katanya berakhir dengan senyum yang kembali kulihat di wajahnya.

Pandangannya kembali mengarah ke depan, sedikit rendah. “Beberapa hari lagi akan ada pengumuman untuk pemenang lomba menyanyi, kuharap aku bisa melihat siapa yang menang.” tanpa sadar kulihat air mata mulai menetes pelan dari matanya. Seketika aku terkejut dan langsung tahu apa yang dimaksud.

“Hei, kau tidak apa-apa?”

“Ya, aku baik.” Dia segera mengelap air matanya dengan jemarinya.

Tidak, kau tidak baik-baik saja.

Bisa kulihat senyum melankolia itu. Namun, dia berhasil menahan perasaan itu.

Kupikirkan semacam topik lain tanpa pikir panjang. “Berapa usiamu?”

Sepertinya obrolan ini gagal karena lagi-lagi itu sebuah pertanyaan.

“Pas delapan belas tahun. Omong-omong beberapa minggu lalu aku merayakannya. Obrolanmu masih belum kuat, ini akan berakhir cepat.” dia berhenti sejenak lalu melanjutkan bicaranya lagi. “Sebenarnya tidak baik sih bertanya soal umur perempuan, tapi ya, karena aku masih muda ya ….”

“Maaf saja kalau aku ini anti sosial. Aku ganti topiknya. Apa sebenarnya impianmu?”

Kulihat senyumnya berubah lagi. Seperti senyum licik yang terlihat seperti ‘hehehe.’

“Ya, kamu cepat juga ya, sudah tidak kaku lagi. Tapi impian? Apa orang dewasa selalu memikirkan itu?”

Aku tidak tahu, mungkin hanya aku orang dewasa yang terlalu memikirkannya.

Aku menghela napas, lalu menunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini. Ah, apa yang kupikirkan. Dasar bodoh, aku memang masih lajang, bisa-bisanya aku santai-santai saja berduaan dengan seorang gadis.

Dia hanya melihatku dengan mulut terbuka kecil, setelah itu menahan sedikit tawa dengan jemarinya. Aku tahu kalau pertanyaan ini ada hubungannya dengan lomba menyanyi itu. Dia ingin menang, mungkin seperti itu.

“Aku ingin laguku bisa membuat orang bahagia.”

Aku sedikit keliru ternyata ….

“Begitu ya, maaf.”

Ketika pertanyaanku berakhir, kami berada dalam keheningan, aku tidak bisa memikirkan obrolan lain. Terlihat dia mulai memangku furing bag-nya, setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Tanpa sebab langsung membukanya, itu sebuah buku dengan ukuran kecil, serasa pas dengan ukuran tanganku. Setelah membuka beberapa halaman dia menghentikan jarinya, lalu menutup buku itu sembari menghela napas kecil.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, masih terbaca jelas tulisan pada sampul buku itu, bertuliskan J. Hopper. Nama penaku. Judul itu masih membuatku tersenyum geli. Si Pemabuk, itu judul dari buku tua itu.

“Buku itu, dari mana kau membelinya?” kataku, menunjuk buku itu.

“Oh, sudah dapat bahan obrolan baru ya, sebenarnya aku sengaja mengeluarkannya. Ah, kakakku menyarankan ini untuk dibaca. Ya, ceritanya bagus. Aku sempat bertanya di beberapa toko buku tapi tidak ada yang tahu soal kelanjutan dari volume satunya.”

“Begitu ya, sebaiknya tidak perlu mencari lanjutan dari buku itu.”

“Eh, kenapa? Padahal ini buku bagus.”

Aku membuang muka, enggan melihatnya. “Karena sudah tidak ada lanjutannya lagi, aku dengar penjualannya sedikit. Dan pihak penerbit sudah tidak memasarkannya lagi.”

“Heh, sayang, padahal aku ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi, sedang apa si pemabuk itu nantinya. Aku ingin tahu.”

Kau sudah melihatnya, tepat di sampingmu. Ya, kurasa aku tidak akan bilang begitu.

Tokoh dari buku itu sendiri adalah aku, semua yang pernah kualami tersimpan di dalam sana, kalau mengetahui buku itu sudah dibaca oleh dua orang perempuan aku tidak bisa bayangkan apa yang mereka pikirkan tentang si tokoh. Jarang bersosialisasi, tidak mengerti situasi, pemabuk, tidak punya banyak teman, dan itulah diriku. Seperti apa raut wajah mereka ketika membacanya. Bukan kau saja yang ingin tahu, aku juga ingin mengetahuinya.

Kembali kuingat kejadian sebelum bertemu dengannya. Kepalaku masih sakit untuk mengingat itu.

Kemarin malam seperti biasa, aku sedang bersantai di bar setelah aku pulang kerja. Tepat jam 05:00 pagi, saat pemilik bar menyuruhku pergi karena sudah terlalu lewat dari waktu tutup, aku sedang mabuk berat dan tanpa sadar aku memukulnya. Sebelum diusir aku menerima pukulan di perut dan juga dadaku. Sialnya, ulu hatiku jadi sasaran kedua.

Kabarnya hujan akan turun sampai besok siang, itu yang dikatakan radio kecilku beberapa jam yang lalu—sebelum mampir ke bar. Namun, itu bohong karena sekarang masih belum siang dan hujan sudah berhenti.

Aku terhuyung-huyung selagi pergi ke tempat parkir, sambil memegangi perutku yang sakit. Keadaannya dingin karena hujan sedang turun, aku hanya memakai seragam kantorku seperti biasa. Hanya mobilku yang masih terparkir di sana.

Di tengah hujan pagi itu, pandangan di depanku terlihat samar. Aku tidak sadar kalau mobilku melewati pertigaan jalan dan lampu lalu lintas terus berkedip-kedip. Saat itulah aku bertemu dengannya, kejadiannya begitu cepat. Sampai aku tidak menyadari kalau aku sudah membunuhnya dan diriku sendiri.

Aku melirik ke kanan. Mobilku masih berada di sana, rusak berat, yang terpenting noda darah itu masih jelas terlihat. Mobil ambulan baru saja datang. Bunyi mobil itu menyebalkan. Garis pembatas masih membatasi orang-orang, untuk tidak melihat lebih dekat apa yang ada di dalamnya. Warna pembatas itu kuning, ada tulisan berwarna hitam. Dari sini tulisan di pembatas itu tidak bisa kulihat. Ya, kacamataku pecah beberapa saat yang lalu. Namun, aku bisa menebak tulisan apa itu.

Aku menoleh ke arahnya. “Aku heran apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Padahal tadi pagi hujan cukup deras.”

Dia menoleh, terdiam sebentar melihatku. “Aku ikut latihan vocal, pagi itu waktu yang tepat.”

“Begitu ya.”

“Boleh aku tahu siapa namamu?”

Aku berpaling darinya ketika dia bertanya.

“Aku sudah tidak memilikinya, kau juga tidak memilikinya. Kurasa aku dan kau bukan manusia lagi. Jadi … apa kau memaafkanku?”

“Ya, bukan kamu saja, aku juga. Tidak, aku tidak akan memaafkanmu. Dengan begitu kita bisa bersama selamanya, kamu tidak akan kesepian. Itu juga berlaku untukku.”

Dia tersenyum. Sifat egois, hanya manusia yang memilikinya. Tidak ada yang mau sendirian. Tidak ada yang mau tersakiti. Tidak ada yang mau kehilangan namanya. Aku bisa melihat tubuhku dan tubuhnya dibawa oleh orang berpakaian putih di sana, aku menutup mata setelah itu.

Kurasa aku sudah bukan manusia lagi. Meski begitu, aku juga tidak mau sendirian. Pada akhirnya semua yang hidup pasti akan meninggalkan namanya. Sebenarnya aku bersyukur karena telah bertemu dengannya.

Aku menoleh. “Kalau begitu, ke mana dan apa tujuan kita?”

“Ah, kebetulan aku baru saja memikirkannya. Sudah lama aku ingin melihat dunia ini lebih luas, bagaimana kalau kita mengelilinginya? Kudengar di internet roh tidak butuh makan dan tidak akan lelah, bagaimana menurutmu?”

Lepas dari semua yang dikatakanya barusan aku hanya bisa terdiam dengan wajah datar. Gawat, gadis ini benar-benar merepotkan.

24 dukungan telah dikumpulkan

Comments