Octovian’s Lis Soedirman

3 months ago
Atora0

by: Atora0

Sebuah mesin mengaung, mengisi kekosongan di ruang itu. Detak jarum penunjuk waktu meramaikan perjalanan akal yang menggebu-gebu lari menggapai mimpi. Debu membuatnya batuk, menghentikan tangan dari membalik lembar halus sebuah buku. Nakula menyerah. Buku yang belum terbaca bahkan sampai ke titik tengah itu membuat seluruh harapan pupus. Sudah keempat kalinya ia membaca buku serupa, baik tokoh maupun alur.

Ia menutup matanya. Mencoba menerka tiap adegan yang teringat dan membandingkan dengan tiap adegan yang tertulis. Semua sama. Kenyataan tak terbantah, layaknya kasur tempat ia terbaring, kotor ruangan penuh buku berserakan, tambalan atap dari bahan seadanya, dan dunia terang tanpa peperangan.

Melipat tubuhnya, menggumam kecil ia memohon. “Maaf.” kata pria bertubuh jangkung nan ideal itu.

Semua ini adalah salahnya. Empat hari berlalu, satu hari sempat merasa tenang seakan khayalan. Jika saja ia lebih sabar menahan dahaga sebentar saja, sedetik saja, mendengarkan bisikan suara yang muncul, sampai izin diberikan, baru ia menegak air danau bening mengkilap itu. Hanya masalah kecil! Sebuah perkara ringan! Namun, semua sudah menjadi karma.

Setelah empat kali ia membaca kisah kerajaan, keluarga, saudara, juga dirinya, Nakula yakin. Kenyataan terseram dalam hidupnya kini adalah fakta bahwa ia sudah terlempar ke masa depan. Hilang jauh pada suatu waktu dan tempat.

Buku tadi terselip jatuh, menimbulkan suara yang cukup keras hingga menarik kembali kesadaran Nakula. Debu pun kembali terlihat, juga dengungan mesin yang membuatnya pusing hingga terpaksa untuk bangun.

Kumpulan asap mengepul dari jendela, menyeruak keluar dengan pelan, tanpa suara tanpa tanda. Namun, Nakula tahu. Asap itu menjadi satu, menyerupai makhluk tanpa muka. Penuh keinginan negatif, suatu hasrat memiliki kehendak orang lain-iri hati-merambat keluar. Seketika, makhluk itu lenyap ketika gagal menahan dorongan bantal yang terlempar ke arahnya.

Sinar bahkan tak kembali mewarnai mata Nakula, makhluk asap tadi gagal mengambil sedikitpun rasa malu dan miris yang menutupi hatinya.

Saat inilah isi benaknya terjawab. Debu sudah layak disebut mitos ketika ia masih tinggal di istana. Namun, di sini jelas itu tak mungkin melihat keadaan ruangan yang ia pijak. Hatinya makin tertusuk, terlempari kenyataan bahwa rajin dan telaten yang ia banggakan telah hilang. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Nakula tertawa masam.

Ia yakin, semua ini adalah salahnya.

Hari itu. Empat hari lalu. Usai gagal mengejar seekor rusa, Nakula beserta saudaranya geram mendapati bahwa tangguh dan sakti yang mereka miliki seakan sirna. Haus pun melanda, Nakula beranjak mencari telaga demi menyuguhi keempat saudaranya seteguk air.

Tidak jauh, telaga itu ia temui. Danau berair bening serupa cermin angkasa menarik kesadarannya untuk langsung meminum. Namun, sepatah kalimat terucap dari danau.

“Hendak kau meminum air danau ini, jawablah dahulu pertanyaan saya sang pemilik danau.”

Lancang, Nakula mengabaikan dan memangkuk air bening tersebut. Alih-alih meminum, tangannya tertarik masuk. Terus, ke dasar terdalam danau. Melawan tak berbuah hasil hingga kesadaran memudar dan air yang mendekapnya berubah menjadi awan.

Pertama, ia tak yakin apa itu adalah sebuah mimpi atau dasar sebuah danau ternyata berupa langit, tetapi cepat ia tahu bahwa memanglah sebuah kenyataan kalau saat itu ia sedang terbang. Jatuh bebas siap menghantam tanah.

Ia mengerahkan tenaga dalam, berusaha melambatkan laju badan menuju tanah. Ia berhasil, jatuhnya melambat ketika tanah cukup dekat dalam pandangan. Walau, fokusnya sekejap hilang ketika ia sadar bahwa rumah-rumah di sekeliling sungguh tinggi bahkan mencakar langit. Terkejut dan tersangkut suatu tali hitam dengan listrik di dalamnya, ia terjatuh melubangi atap suatu rumah.

Nakula tak dapat berbuat apa-apa. Mendapati sesosok perempuan di dalam rumah tersebut diam mematung penuh ketakutan membuat hati juga harga dirinya mengkerut malu. Seorang perempuan merasa terugikan, pertama kali dalam seluruh perjalanan hidupnya itu terjadi.

Ia semakin malu ketika perempuan itu memaafkannya, bahkan mengizinkan ia menetap. Kisah hidupnya dianggap lelucon tapi, tetap perempuan itu mempercayai Nakula. Malu sempat mereda, walau cepat berubah menjadi takut ketika ia diberikan sebuah buku berjudul ‘Mahabharata’.

Seluruh kisah hidupnya adalah sebuah dongeng semata.

Napas lega terlepas pelan dari dada Nakula. Satu dorongan pada suatu ‘tombol’ menghilangkan semua penat pada kepala yang semenjak tadi dibentuk dengungan tiada henti.

Ia berdiri menghadap suatu mesin yang disebut ‘komputer’. Ia tak tahu, mengerti, ataupun paham, sebuah teknologi seperti buku berada di dalam. Buku-buku hasil tukar informasi manusia di seluruh dunia. Benaknya hanya meraba berapa banyak keburukan dapat dicegah dengan adanya alat itu.

Semua keindahan, tenang, dan damainya dunia ini mencekik lehernya. Mencari jalan pulang dan menyelamatkan dunianya adalah tujuan utama. Namun, sekarang ia harus turun. Tiap pagi Nakula wajib membantu perempuan itu di lantai dasar. Bagaimanapun penatnya pikiran, ia tetap merasa itu wajib dilakukan melihat banyaknya hutang yang telah tertimbun.

Baru saja pintu kamar dibukanya, aroma kopi dan suatu hidangan ringan mempercepat langkah kaki Nakula. Susah untuk menutupi perut lapar walau malu terus keluar dan berwujud pada wajah pucatnya.

“Oh, sudah bangun?”

Suara manis datang sedetik setelah Nakula membuka pintu ruang tengah. Ia bahkan belum melihat sosok perempuan bersuara manis itu.

“Maaf saya telat.”

Nakula menjawab singkat, dengan bahasa yang baru ia pelajari, dengan bahasa yang masih terlalu kaku itu. Matanya mencari dan menangkap seorang perempuan yang sedang pelan membersihkan tiap meja.

Perempuan itu berbalik, tertawa ringan dan menunjuk bar di tengah ruangan. “Gak apa kok. Udah, makan dulu sana. Setelah itu, baru kamu harus ikut bersih-bersih ya!”

“Iya. Terima kasih.”

Roti lapis daging dan telur masuk terlalu cepat dan hilang sama cepatnya. Enak. Tidak sepuas makanan kerajaan atau buruan di hutan tapi, hidangan ini enak. Meminum segelas air dan menegak kopi manis persis kemarin membuat Nakula tersenyum.

“Enak?” perempuan tadi duduk di sampingnya, ikut menambah manis yang ia rasa dengan seulas senyum.

“Enak.”

“Kamu belum terbiasa ya, sama bahasa di sini?”

“Sedikit. Buku-buku yang kamu berikan membantu banyak.”

Perempuan itu, Viani Melisiana, terlihat senang. “Bagaimana? Aku tidak bisa membantu banyak selain membelikan buku-buku itu tapi, kamu bisa menemukan jalan keluarnya kan?”

Dadanya sesak, alisnya pun mengkerut, Nakula menjawab pelan, “belum. Maafkan saya, tetapi semua buku-buku itu justru membuat saya semakin bingung.”

Saat itu, Viani terdiam. Ia berpikir keras mencari titik pematok gelisah pada wajah Nakula. Hingga ia tersadar bahwa jawaban itu jelas ada di depan matanya.

Mencoba mencari titik positif, Viani menambahkan, “ta-tapi, kamu jadi tahu kalau kalian berlima akan menang kan?”

Nakula tersenyum, “iya.”

Melihat Nakula, Viani merasa sedikit lega, tanpa tahu bahwa senyum itu hanya berupa sifat rendah hati sang Nakula. Kebiasaan untuk mengucap terima kasih. Kebiasaan yang akan tetap muncul walau sesakit apapun jiwanya.

“Bagus.” Viani berdiri dan lanjut menyapu ruangan. “Kalau begitu, setelah piring itu kamu cuci, rapiin bar kita itu ya! Ingat, bagaimanapun, kamu diam di sini itu enggak gratis. Ada bayarannya. Kamu cuma beruntung karena Pak Tono yang seharusnya bekerja di sini sedang mengambil cuti.”

Mendengarkan Viani yang terus semangat membandingkan ia dan Pak Tono, Nakula bergerak sesuai perintah yang diberikan. Senyumnya tetap terjaga. Sesekali menyahut pada Viani yang memaki-maki dengan sapu.

Sedikit ragu pun Nakula tak ingin. Sebagai ucapan terima kasih, terlihat tenang dan dapat melakukan pekerjaan itu harus dilakukan sekalipun ucapan tadi menghantui. Walau, fakta itu tak bisa dikelabui. Bagaimanapun ujung dari sejarah yang tercatat, kalau tepat di tengah alur itu berubah arah, ujung penuh harapan itu tidaklah berarti.

Terus mengambang, berputar, terangkat, dan bersama jatuh pada satu pusat. Pikirannya terus mencari, bertanya-tanya, apa yang seharusnya ia lakukan sekarang. Apa gelas mengkilap di tangan kanannya bisa menjawab? Apa botol minuman keras beraroma pekat mempunyai kunci jalan keluar terbaik? Apa alat makan dari perak mampu mengarahkan sinar menuju kebenaran?

Matanya menutup rapat. Giginya menggeretak awur. Suara dari danau itu terus berulang, berulang, berulang, berulang, berulang-

“Hei.”

Nakula membelalak. Dua tangan lembut dengan sejuknya membasahi pipi dan menariknya ke kenyataan. Mata hitam penuh mimpi di depannya memaksa seluruh tubuh untuk tunduk terdiam. Viani tersenyum dan berbisik, “jangan risau, Nakula. Katakan saja.”

Semua terlihat. Bukan gelas mengkilap, bukan botol minuman keras, bukan juga alat makan perak. Perempuan di depannyalah yang membawa jawaban itu, penunjuk jalan keluar, dan tempat sinar mengarah.

“Apa, yang harus saya lakukan?”

“Ya, begitu.” Viani tersenyum. “Ayo kita pikirkan bersama.”

Gelas terakhir telah ia letakan, terbalik, untuk memudahkan bulir-bulir air turun agar suhu dapat menghangatkan. Sama mudahnya, semua pertanyaan mulai mengalir keluar. “Viani, kamu tidak merasa terbebani dengan saya berada di sini, bukan?”

“Tentu saja tidak.”

Cepatnya perempuan itu menjawab meningkatkan takjub dalam diri Nakula. Jelas menanggung beban satu orang, dewasa dalam hal ini, tidaklah mudah. Terutama jika orang tersebut menggunakan tiap fasilitas yang ada.

Namun, belum Nakula sempat memastikan lebih lanjut, Viani sudah berbicara lebih dulu. “Apa kamu enggak sadar? Karena wajah super tampan itu, pelanggan wanitaku terus membicarakanmu tahu?” Ia tersenyum.

Cepat sesudahnya, Viani langsung menambahkan. “Mungkin saat ini belum terlalu terlihat tapi, jika terus begini, popularitas kita bisa meningkat loh!”

“Begitu?”

“Yap!”

Sedikit, beban pertamanya terangkat. Walau tetap ia belum mempercayai sepenuhnya, tetapi ia harus memaksakan diri. Tidak bisa ia berdiam diri selama ini.

Melanjutkan, Nakula mengatakan puncak masalah. “Saya harus pulang.”

Terbelalak diam, Viani mengiyakan. “Aku mengerti tapi … apa kamu sudah-“

“Belum.” Nakula memotong tegas. “Saya sama sekali belum menemukan cara untuk pulang. Semua buku pemberianmu tidak ada yang memiliki cara yang mungkin untuk dicoba.”

Viani tertawa masam. “Gimana ya? Buku-buku itu kebanyakan cuma … karangan sih. Maaf.”

Rasa itu membludak, mendekati puncak dari wadah penampung. Tempat di mana rasa malu dan bersalah Viani berada. Ia tahu bahwa semua ini salahnya. Jika saja ia dapat sedikit lebih mempercayai Nakula, maka ia tidak mungkin memberikan komik-komik remaja berbau sejarah maupun fiksi ilmiah dan secara gamblang memberikan buku yang menceritakan riwayat hidup kelima saudara itu.

“Tidak apa. Walaupun karangan, mereka tetap membantu saya dalam mengetahui lebih mengenai dunia saat ini.”

Tersenyum, Viani cepat melanjutkan topik. “Ah, tapi, jika dipikir-pikir, bagaimana cara kamu bisa masuk ke dalam danau?”

Nakula hanya menggeleng lemas. Jelas, kejadian itu terjadi begitu saja, hingga saat ini, tanpa penyelesaian yang jelas. Kesehariannya hanya bergulir seperti biasa, layaknya makan dan tidur tiap hari sebelum datang ke dunia tanpa peperangan ini. Jika saja suara waktu itu menjelaskan. Jika saja buku cerita hidupnya menuliskan bagaimana. Jika saja saudara-saudaranya datang dan membantu.

Nakula bertanya, “jika … kita tenggelam ke dasar danau dan menemukan langit, apa jika kita terbang ke ujung langit, kita akan sampai di dasar danau?”

“Jelas enggak, Nakula.”

“Maaf.”

Mereka mendesah lelah. Tahu secara jelas bahwa semua pertanyaan tadi tidak akan dapat terjawab. Mencoba menalar, memikirkan kemungkinan lain, mencari jalan berdasarkan apa yang mereka tahu. Hingga, Nakula mengaku.

“Saya sebenarnya tidak tahu. Apa akibat dari berdiam diri terlalu lama di sini. Apa masa lalu akan berubah? Apa yang terjadi dengan keempat saudara saya? Apa maksud dari kejadian dalam sejarah yang tidak terjadi sebagaimana mestinya? Apa … apa yang harus saya lakukan?”

Viani menyadari bahwa pemikirannya selama ini sangat lancang. Menganggap tokoh pahlawan pewayangan memiliki mentalitas kokoh bak baja. Sebuah manusia sempurna tanpa keluh kesah duniawi. Sekarang, melihat tokoh pewayangan di depan yang terdiam gagal menyusun pikiran itu membuatnya malu.

Pertanyaan Nakula terulang dalam benaknya. Pertanyaan yang juga sempat ia miliki.

Viani pun tersenyum dan turut mengaku. “Nakula, apa kamu tahu alasan sebenarnya kenapa aku tidak melaporkanmu ke pihak berwajib? Atau mungkin ke peneliti-peneliti yang bisa saja tertarik dengan kemampuanmu mengendalikan tenaga dalam?”

Sama sekali tidak terbayangkan oleh Nakula. Pertanyaan Viani hanya melempar jatuh semua anggapan. Pemikiran busuk di dunia setenang ini tidak mungkin di mata Nakula dan fakta bahwa ia salah membuatnya terdiam.

“Kamu enggak kepikiran ya?” Viani berdiri. “Kalau aku melakukan itu semua, aku bisa dapat banyak uang loh. Hehe. Ternyata pikiran tokoh pewayangan yang ada di pikiranku tidak melenceng terlalu jauh.”

“Apa, apa maksudmu, Viani?” Kusut akan kecemasan, Nakula ingin mengejar Viani yang berjalan ke ujung ruangan. Namun, gagal bahkan sebelum keluar dari bagian dalam bar.

Perempuan berambut hitam sepinggang itu hanya berdiri, menatap lekat Nakula, menahan semua ungkapan yang hendak bebas ketika bayangan dirinya terpantulkan di mata linglung dia yang tersesat.

Wajah Nakula masih penuh dengan tanya. Viani yang menyaksikan tersenyum kecut. Sungguh malu mengingat alasan sebenarnya tidaklah seindah bualan sehari-hari. Namun, ia tak cukup kuat untuk mengatakannya.

Viani duduk di belakang suatu instrumen besar sama besar dengan dirinya. Mengambil suatu bilah, dan menyandarkan kepala seakan sedang memeluk erat Ibunda.

Viani bertanya, “apa kamu tahu ini alat musik apa?”

Melihat Nakula menggeleng, Viani melanjutkan, menceritakan seluruh kisah hidupnya, pembentuk diri juga kepercayaanya saat ini. “Ini namanya selo. Alat musik Italia. Salah satu alat musik penting dalam suatu orkestra- ah, um, maksudku dalam suatu pertunjukan musik tapi, tahu enggak?”

Viani tersenyum, “orang-orang tidak tahu nama alat musik ini apa, mereka hanya tahu bentuknya. Peran, namanya, atau gunanya, tidak. Mereka tidak tahu apapun tentang alat musik ini.”

“Tapi aku suka.” Viani memainkannya, mulai menggesek bilah di tangan kanan dengan pelan. Suara besar yang redup, musik bernada rendah itu meriak.

Nakula hanya menunggu, melihat keceriaan Viani tertutup kelamnya ingatan. Ia tidak tahu, ia tidak mengerti, bagaimana mungkin di jaman seindah dan sesempurna ini masih terdapat kesengsaraan.

Musik terhenti tergantikan oleh kisah sang perempuan. “Ini adalah alat musik favorit Ibu dan ketika aku mendengarnya bermain, entah kenapa aku ikut jatuh cinta. Hehe.”

“Ibuku adalah seorang pelayan kedai kopi. Satu-satunya pelayan di kedai itu dan Ayah adalah salah satu pelanggan tetap di sana. Mereka bertemu dan ternyata cocok. Sering bercanda, saling bercerita, sungguh serasi hingga janji sehidup semati pun terucap. Bagian hidup terindah mereka.”

Viani membisu. Nakula yang mendengar gagal untuk diam dan mengutarakan resah yang ia rasa. “Bagian terindah?”

Mengangguk, cerita pun Viani teruskan. “Mereka menikah, menabung tiap hari, lalu membantu pemilik kedai untuk membesarkan kedai tersebut. Ibu selalu tersenyum saat menceritakannya kepadaku. Walaupun tangis sudah keluar dari matanya.”

“Aku pun terlahir ketika kedai ini sudah cukup besar dan hampir direnovasi sepenuhnya. Setahun kemudian pemilik kedai meninggal tapi, Ibu dan Ayah terus menabung. Membesarkan, merapikan, hingga mimpi mereka terwujud.”

“Kamu, Nakula kamu tahu enggak? Betapa mereka bekerja begitu keras, terus bekerja siang malam, walaupun mereka jarang bertemu, Ayah … bekerja di, tempat pembangunan. Maaf. Tunggu sebentar, Nakula.”

Viani menangis. Terus memeluk selo erat selagi berusaha menahan derasnya air mata. Melihatnya, Nakula hanya terdiam. Sanggup bergerak pun tidak. Melihat perempuan menangis seperti ini bukanlah hal yang sering ia alami. Namun, ia tahu bahwa mendekat bukanlah pilihan yang benar.

Serak Viani memanggil pelan. “Nakula. Nakula. Aku, aku lanjut ya. Dengar ya. Oke, jadi sekarang … sekarang Ibu. Kalau Ibu menjaga kedai dan sesekali menjaga di koperasi desa. Saat ini, kedainya sudah bisa dibilang kafe seperti sekarang. Aku juga waktu itu sudah bersiap untuk mencari SMP. Aku sering sombong ke teman-temanku karena desain kafe ini bagus banget. Ayah keliling loh, mencari referensi untuk belajar tentang dekorasi ruang dan semacamnya.”

Senyum sendunya mengintip dari balik selo yang ia peluk. Namun, Nakula tetap melihatnya, diam dan hanya melihat. Viani pun melanjutkan kisahnya.

“Semua berlangsung sesuai rencana mereka. Ya tapi, mereka semakin sibuk saat aku baru masuk SMA. Jenjang sekolah ke tiga. Terus, karena sibuk, mereka terpaksa harus mencari pegawai.” Viani mengiyakan saat alis Nakula menunjukkan bahwa ia tahu siapa yang dimaksud.

“Itu sekitar tiga tahun yang lalu. Lebih dikit mungkin. Saat itu, setiap hari sepulang sekolah aku langsung pulang dan membantu Pak Tono di kafe. Seru. Seru banget kerja bareng Pak Tono. Lucu soalnya, hehe. Selesai deh!”

“Selesai?”

“Andaikan. Terus baru lima atau enam bulan Pak Tono kerja, ada preman yang memaksa masuk ke kafe. Saat itu kebetulan kafe sepi, aku lagi kerja kelompok. Jadi yang ada di kafe cuma Ayah, Ibu, Pak Tono, sama dua orang pelanggan.”

Viani terhenti. Matanya mengambang. Ragu wajahnya terlihat. Saat itu, Nakula tahu bahwa apa yang ia akan dengar tidak mungkin meninggalkan rasa manis pada telinga. Perasaan takut itu terus naik, memuncak, dan ketika tepat berada di ujung, Viani menghentikannya.

“Ibuku diperkosa. Tiga preman itu.” Terhenti lagi, Viani menatap kosong Nakula dan dengan nada yang lebih cepat ia menyelesaikannya.

“Jadi, gitu. Ya, salah satu dari pelanggan tadi berhasil keluar dan memanggil bantuan. Ketiga preman pun berhasil tertangkap. Ya! Sejak itu Ibu sering bengong. Kafe pun sempat sepi selama tiga minggu lebih. Lalu, suatu hari Ayah pulang. Buru-buru, memaksa masuk, sambil ketakutan. Terus menurut kamu apa yang terjadi setelahnya?”

“Saat itu aku baru saja hendak membantu kafe sepulang sekolah sampai aku sadar bahwa selama ini aku buta. Bodoh dan naif. Intinya, saat Ayah sedang dipukuli warga, aku tahu kalau selama ini orang tuaku bisa membesarkan kafe dan menyekolahkanku karena … ya. Karena Ayahku seorang pencuri dan Ibuku seorang pelacur. Hebat banget kan, mereka?”

Detak jam seakan menghilang, turut menyerapi kisah kecil dari sang pemilik kafe. Mereka hanya terdiam, pusing mendengar segalanya. Viani menarik napas, kembali duduk di depan bar, dan mengucap terima kasih sebelum meneguk segelas air yang disiapkan Nakula.

“Saya … tidak tahu harus mengatakan apa.”

Perempuan itu hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Nakula kagum, sinar masih kuat menyinari mata Viani. Ia tidak akan bisa membayangkan apa yang dia lakukan jika berada di posisi perempuan itu. Dia dan kelima saudaranya pasti melonjak terbang, mengejar pelaku tersebut, terus mengejar hingga mereka mendapatkan hukuman setimpal.

Terselip keluar sebuah pujian dari bibir Nakula. “Viani, hebat.”

Meja bar bergetar keras. Menanggapi pujian bodoh itu, Viani berteriak, “Hebat? Hebat macam apa itu?!”

“Bukan- bukan maksudku-“

“Oke. Oke Nakula, aku katakan semuanya, oke?! Selama ini aku bohong! Aku menerimamu di sini, membiarkanmu tinggal di sini karena kamu itu pegawai gratis. Hanya diberikan roti pun bisa tetap terus bekerja. Kamu juga merasa berhutang, jadi mudah untuk menyuruhmu melakukan apapun dan yang paling utama adalah kamu magnet pelanggan, penarik keluh kesah tetangga penyuka gosip! Kamu hanya pengganti Pak Tono yang kabur dengan uang minggu ini. Aku menggunakanmu Nakula, aku hanya menggunakanmu!”

Viani mengigit bibirnya, berdiri sampai matanya berada sedekat mungkin dengan mata Nakula.

“Aku tidak hebat … aku hanya terus berjalan. Melakukan semuanya seperti semula, menanggapi keluh kesah warga penuh formalitas mereka, bahkan menahan diri untuk tidak melaporkan preman-preman sialan yang menawari pekerjaan busuk itu! Aku hanya melakukan … apa yang bisa aku lakukan.

Viani mengatup tangannya erat, mencoba menahan tangis yang deras turun ke pipi.

“Aku tidak punya pilihan lagi, Nakula. Dengan Ayah di penjara dan Ibu pergi gantung diri, di keadaan seperti itu, mana mungkin aku bisa … terus bermain selo?”

Dadanya sakit. Melihat perempuan manis dan ceria di depannya menangis, berteriak, menghitam tercemar kotornya kehidupan. Namun, batinnya tetap berteriak, tetap yakin, teguh menganggap bahwa perempuan di depannya sungguhlah kuat.

“Kenapa kamu tidak lari? Kabur dari semua masalah ini. Kenapa … kamu bisa terus berjalan?”

“Karena aku percaya. Aku percaya kalau semua ini memiliki sebuah arti. Kalau semua ini terjadi karena sebuah alasan. Aku hanya percaya, dan harus percaya. Jika tidak …. Ya, Nakula. Semuanya pasti memiliki arti.”

“… semuanya?”

Senyumnya melebar, manis memesona, mengangguk, dan mengelus pipi Nakula, Viani meyakinkan. “Semuanya, Nakula. Bahkan kamu yang saat ini tersesat di masa depan.”

Nakula tidak dapat menahannya, sakit pada hati turut menurunkan tangis. Ia ingin tertawa, menalar apa alasan sang perempuan menceritakan betapa kelamnya hidup di masa kini. Ia tak tahu, bahwa kekuatan manusia tidak hanya berupa otot dan akal saja, tetapi juga batin.  Kekuatan batin, kekuatan maha sakti yang tak terlihat.

Memutuskan, Nakula mengakhiri. “Viani, kamu memang hebat.”

Ruangan itu hening mendengarkan isak tangis sang perempuan pemain selo. Semua rela, melihat dan mendekap tubuh kecil yang suci itu. Seakan, seluruh benda siap untuk menuangkan sebagian cinta dan kasih sayang mereka untuknya.

Tidak menghitung berapa banyak elusan pada kepala Viani yang ia ulang, Nakula hanya menunggu hingga wajah perempuan itu kembali tersenyum. Melihat tangannya yang tergenggam erat, Viani tertawa. “Nakula, bukannya saat ini kamu sudah punya dua istri?”

Gagal mencerna, senyum teduh Nakula rusak dan pecah. Mencoba mengaku tapi, kesadaran akan kesalahan yang ia perbuat lebih dahulu menyerang. Pangling memilih jawaban, Nakula berkata asal.

“Apa saya harus bertanggung jawab?”

Viani tertawa.

Nakula yang tidak dapat mengelak pernyataan perempuan pemilik kafe di pinggir Jalan Sudirman ini, diam seketika. Sensasi tadi pagi meraba punggungnya. Isyarat diam ia ajukan dan turut Viani mendengarkan. Garpu diambilnya satu, mengatur napas, lalu memusatkan konsentrasi.

Sensasi jahat itu membesar. Dari arah belakang, di dinding bagian kanan bar. Nakula menoleh dan melihat kepulan asap itu menyatu. Jauh lebih besar dari tadi pagi. Makhluk hitam bertaring dengan mata merah menyala. Belum bahkan bergerak sedikitpun, garpu tadi ia lemparkan, cepat, dan langsung menembus makhluk itu.

Makhluk asap tadi lenyap menghilang, sirna menyebar ke udara diikuti suara nyaring garpu membentur lantai. Viani bangun, langsung berlari mencari garpu tadi.

“Apa yang kamu lakukan, Nakula! Kenapa kamu- ahh!”

“Kenapa? Ada apa?”

Bingung, takut, dan panik, Viani menunjukkan garpu itu ke Nakula. Ujung penusuknya hilang, hangus terbakar. Genggaman garpu yang tersisa itu Nakula ambil. Seperti dugaannya, genggaman garpu itu menyala panas.

“Ini api.” Nakula coba menjelaskan.

“Api?”

“Api amarah. Salah satu musuh manusia. Hanya menyentuh makhluk itu saja cukup untuk menghanguskan garpu ini. Bagaimana bisa?”

“Tunggu. Tunggu Nakula. Apa? Api amarah? Makhluk? Apa? Kamu ngomong apa?”

Melihat Viani panik, Nakula menjelaskan lebih jelas. “Manusia memiliki enam musuh dalam dirinya. Dapat dikatakan sebagai sifat-sifat yang akan menyesatkan dan menghalangi jalan manusia ke surga. Keenam musuh ini disebut Sad Ripu dan salah satunya adalah Krodha. Amarah manusia.”

Nakula lanjut menjelaskan ke Viani yang diam mendengar. “Makhluk tadi mungkin tumbuh dan terbentuk karena seseorang menahan amarahnya terlalu lama. Sudah dua-tiga kali saya melihat itu setelah saya terlempar ke masa depan, tetapi melihat yang dapat menghanguskan logam adalah pengalaman pertama.”

Kedua bibir Viani akhirnya mengatup dan ia menyimpulkan, “aku tidak mengerti.”

Tertawa kecil dan mengelus kepala Viani, Nakula menenangkan. “Tidak apa-apa, berdoa dalam hati dan tetap terus berpikir positif maka Chandala akan susah mendekatimu.”

“Chandala?”

“Iya, itu adalah nama yang saya berikan kepada makhluk seperti mereka. Artinya kelakuan buruk.”

Mengangguk, Viani bertanya, “makhluk yang mana?”

“Hm?”

Saat itu juga, mata Viani membentuk bintang, senang gembira seakan memecahkan misteri dunia. “Ini dia Nakula! Ini adalah alasanmu dibawa ke waktu ini! Ya! Haha, bukan sebagai wajah tampan maskot kafe ini tapi, sebagai pahlawan yang mengalahkan Chandala!”

“Apa, apa maksudmu Viani?”

“Aku sama sekali tidak melihat makhluk apapun.”

Kali ini, Nakula menganga. Susahnya Viani mengerti penjelasannya dikarenakan dia bahkan tidak tahu apa yang dijelaskan.

Viani mennyimpulkan, “jadi Chandala adalah musuh manusia yang hanya bisa dilihat oleh kamu! Jaman ini jugalah di mana Chandala terseram kamu temui! Sudah jelas, Nakula! Ya! Ada artinya kamu diam di sini. Tidak masalah jika kamu diam di sini cukup lama! Kamu bisa mencari cara kembali selagi mengalahkan semua Chandala yang ada!”

Nakula mengerti. Ia tersenyum. Dadanya ringan, pandangannya cerah, dan risaunya sirna.

“Lihat! Semua pasti akan baik-baik saja! Ya, itu bagus Nakula, senyumlah seperti itu.” Viani merenggangkan badannya, berdiri, berputar, dan berjalan menuju pintu.

“Kita terlalu lama berbicara dan kita jadi telat membuka kafe. Sudah telat setengah jam nih. Jadi, sehari ini, kamu harus senyum ya, Nakula. Enggak boleh lagi seperti kemarin. Kamu senyum tapi kelihatannya sedih banget. Masa tokoh pewayangan tertampan itu cemberut sih? Kan aku juga jadinya yang susah.” Viani tertawa, sisi cerianya telah kembali keluar.

Tawa Nakula tak tertahan. Menyadari bahwa sosoknya sebagai salah satu panutan seluruh kerajaan telah menghilang hanya karena malu dan panik. Lucu baginya karena seorang perempuan dari masa depanlah yang mengingatkan.

Jalan pun terbuka lebar, cahaya menyinari terang, dan jawaban telah ditentukan. Ia akan diam di masa ini dan mengerahkan seluruh daya pada tubuhnya untuk melindungi perempuan tangguh itu.

Viani membuka pintu.

“Mari kakak-adik, paman-bibi, di pinggir Jalan Sudirman ini, kalian semua yang hendak memulai hari, di kafe milik Octo dan Vana Melisiana kalian akan menemukan semangat untuk menemani hari kalian! Di sini, di Octovian’s Lis Soedirman kami!”

 

-End-

6 dukungan telah dikumpulkan

Comments