Oma Ingin Gaul

1 year ago
Oma ingin Gaul (Sumber: cellreviews)
Somei

by: Somei

Aku baru saja membuka pintu rumah saat Oma berkata dengan nada kesal bercampur khawatir, “Darimana saja kalian berdua?”

Bethany dan aku saling memandang, alis kami sedikit terangkat.

“Kami dari bioskop, Oma. Kami sudah meminta ijin tadi siang, sebelum berangkat kuliah,” kataku.

“Dan Oma memberi ijin,” sambung Bethany.

“Iya. Memang. Tapi Oma tidak mengira kalian akan pulang semalam ini.”

“Oma, sekarang baru jam sembilan malam.”

“Jam malam kami masih satu jam lagi,” tambah Bethany.

“Oma tahu.”

“Lalu, kenapa Oma marah?” tanya Bethany.

“Karena kalian meninggalkan Oma sendiri di rumah besar yang sunyi ini. Mama dan papa kalian juga belum pulang. Heri dan Ika sudah pulang sejak tadi. Oma kesepian, takut, juga khawatir terjadi sesuatu pada kalian.” Oma terlihat semakin kesal.

Gaya bicara Oma, pilihan kata, ekspesi wajahnya saat kesal, membentuk satu gambaran di kepalaku. Benakku menggumamkan sesuatu. “Seperti inilah Beth saat tua nanti.” Bibirku membentuk senyum lebar.

“Elise Apriliana. Oma mengatakan tentang ketakutan dan kekhawatiran Oma, dan kamu justru tersenyum lebar?”

Aku langsung menggelengkan kepala. “Tidak, bukan begitu, Oma. Aku tersenyum karena membayangkan sesuatu.”

“Apa yang kamu bayangkan?”

Aku melirik Bethany dan kembali tersenyum lebar. “Beth saat tua nanti.”

Alis Bethany bertaut. “Dalam bayanganmu, seperti apa aku saat tua?”

Senyumku melebar. “Terlihat persis dengan Oma.”

Bethany menggelengkan kepala dengan keras. “Tidak! Tidak! Tidak!”

“Bethany Apriliene. Apa kamu keberatan, tidak suka, jika terlihat seperti Oma saat tua nanti?”

Wajah Bethany memucat melihat Oma berdiri tegap, berkacak pinggang, terlihat perkasa laksana wonder wOman. Aku menyeringai ke arah Bethany yang melirikku dengan pandangan sebal yang menyiratkan, “Tunggu pembalasanku.”

Aku mengedipkan mata kanan.

“Oma, aku tidak keberatan menjadi seperti Oma nantinya. Aku hanya tidak ingin membayangkan diriku yang tua. Tapi, aku tidak keberatan tetap cantik dan sehat di usia senja, seperti Oma. Apalagi,” Bethany memelukku. Bibirnya membentuk seringai licik. “Ada Lise yang juga akan seperti Oma. Kami berdua akan menua bersama.”

Sial. Aku lupa Bethany dan aku kembar identik. Seperti apa dia saat tua nanti, seperti itu juga aku terlihat, secara fisik. Tapi, kami memiliki kepribadian yang berbeda. Kami tidak sama.

Aku mendekatkan kepala pada Bethany. Bibirku membentuk senyum licik yang sama dengan senyum licik yang tadi menghiasi wajah Bethany. Aku berbisik, “Kita akan menua bersama, Beth. Tapi, kamulah yang akan jadi pengganti Oma. Karena kamu yang mewarisi kecerewetan Oma.”

Bethany ikut berbisik. “Lise, kamulah pengganti Oma. Kalian berdua mirip. Kalian mencintai musik klasik, menyukai benda-benda berenda yang cantik dan bunga. Kalian membutuhkan secangkir teh hangat untuk memulai hari, sedangkan aku, aku lebih memilih memulai pagiku dengan secangkir kopi susu, seperti papa. Jadi, Lise, kamulah pengganti Oma. Bukan aku.”

“Tapi, Beth, kamu penggemar berat es krim vanila, seperti Oma. Aku, pecinta coklat sejati.”

Tetap saja….”

“Kenapa kalian berdua saling berbisik? Kalian membicarakan Oma ya? Tidak sopan.”

“Kami tidak membicarakan Oma. Kami sedang mencari perbedaan kami dengan Oma.”

Bethany mengangguk. “Mencari tahu, di antara kami berdua, siapa yang lebih mirip dengan Oma.”

“Untuk apa? Kalian berdua mewarisi gen-gen Oma sama banyaknya. Setiap orang yang mengenal Oma, selalu mengatakan betapa miripnya kalian berdua dengan Oma saat muda dulu.”

Bethany dan aku saling memandang. Mata kami melebar. Benak kami meneriakkan hal yang sama. “Waduh! Gawat!”

“Sudah jangan berdiri saja di situ. Lekas mandi lalu betulkan HP Oma.”

“HP Oma kenapa?” tanyaku.

“Rusak. Tidak bisa dipakai menelepon.”

“Kok bisa? HP Oma kan baru.”

“Tapi tidak bisa dipakai menelepon. Tadi Oma pakai menelepon kalian berdua, tidak bisa.”

“Coba aku lihat.” Bethany mengulurkan tangan dan mengambil HP dari tangan Oma. Setelah mengutak-atik sebentar, Bethany menatap Oma dengan bingung. “Oma, kenapa semua nama dan nomor telepon di HP ini hilang?”

Setelah menghela napas, dengan anggun Oma duduk di sofa. “Saat kalian tidak juga pulang, Oma coba menelepon kalian, berkali-kali, tapi tidak tersambung. Oma telepon orangtua kalian tidak dijawab, hanya terdengar suara tut-tut-tut. Oma sebal. Oma coba telepon kalian lagi, tetap tidak bisa.”

“Kami dalam bioskop, Oma, HP kami matikan. Tapi bagaimana, apa yang Oma lakukan sampai semua kontak di HP ini hilang?”

“Oma juga tidak tahu. Oma hanya pencet ini, pencet itu. Lalu, saat Oma coba telepon lagi, nama kalian tidak ada.”

“Tentu saja tidak ada. Oma menghapus semua kontak.”

“Oma tidak menghapusnya, Beth.”

Aku mengedipkan mata pada Bethany. “Oma tidak sengaja menghapusnya. Tidak apa. Beth bisa memasukkan lagi semua kontak di HP Oma. Iya kan, Beth?”

“Hem-hem.” Bethany menghempaskan diri ke sofa tunggal dan mulai mengutak-atik HP.

Sedangkan aku, duduk di samping Oma. “Kenapa Oma tidak menelepon kami dari telepon rumah?”

“Oma tidak hapal nomor HP kalian. Dan tidak ada buku telepon di samping telepon rumah. Lalu, nomor kalian di HP Oma terhapus. Bagaimana Oma bisa menelepon kalian?” Oma mendesah.

“Nanti Lise buatkan buku telepon, khusus buat Oma.”

“Yang kecil saja, Lise. Biar bisa Oma bawa kemana-mana.”

“Lho, kenapa?”

“Biar Oma tidak bingung kalau menelepon.”

Bethany dan aku bertukar pandang. Bingung.

“Oma tidak perlu membawa buku telepon kemana-mana. Segalanya berubah digital. Termasuk buku telepon pun sekarang menjadi digital. Setelah Bethany memasukkan kembali kontak ke HP, Oma hanya perlu mencari nomor kami atau siapapun yang ingin Oma hubungi, di HP.”

Oma menggeleng. “Sulit. Oma pakai buku telepon saja.”

“Bukannya Lise sudah mengajari Oma cara menelepon, mengirim sms dan wa. Bahkan Lise membuatkan catatan terperinci untuk Oma.”

“Iya. Oma sudah mencobanya. Tapi sulit. Harus ini, itu. Akhirnya, seperti tadi, Oma salah pencet dan menghapus semua nomor di HP.” Oma kembali mendesah. “Susah memakai HP canggih. Lebih mudah pakai HP lama Oma.”

Bethany dan aku menghela napas.

“Kalau begitu? Kenapa waktu itu Oma bersikeras minta dibelikan HP baru?”

“Oma ingin seperti teman-teman Oma, Beth. Kalau bertemu bisa foto-foto. Kalau kangen, bisa telepon sambil melihat wajah mereka.”

“Telepon sambil lihat wajah?” Bethany dan aku bertanya bersamaan.

“Itu lho. Kalau kita telepon seseorang, lalu pegang HP begini,” Oma membawa tangan kirinya yang seperti memegang HP ke depan wajah, “Kita bisa melihat wajah orang yang kita telepon.”

“Video call?” tanyaku dan Bethany.

Oma mengangguk. Tersenyum. “Iya, itu. Oma ingin sekali video call dengan teman lama yang puluhan tahun tidak bertemu.”

Aku menyenggol bahu Oma. “Teman lama, atau mantan pacar?”

“Elise Apriliana.”

“Pantas saja Oma merengek, minta HP baru. Ternyata, Oma ingin video call dengan mantan. Hemmm.”

“Bethany Apriliene.”

Bethany dan aku terkekeh.

Aku memeluk Oma. “Tenang saja, Oma. Kami tidak akan mengatakan apa-apa pada mama dan papa tentang ini.”

“Kami akan,” Jemari Bethany membuat gerakan di bibirnya. “Tutup mulut.”

Bethany dan aku kembali terkekeh melihat wajah cemberut Oma.

“Kalian ini, sukanya mengganggu orangtua.” Oma berdiri. “Oma tidur saja.”

“Oma, HP-nya tidak dibawa?” tanya Bethany dengan suara dilambatkan.

“Sudah selesai? Nomor-nomor yang hilang sudah kembali semua?”

“Sudah. Oma lihat saja sendiri.” Bethany mengembalikan HP Oma.

Bethany dan aku menatap geli pada Oma yang terlihat gembira saat memeriksa HP-nya.

“Terima kasih ya, Bethany sayang.”

“Sama-sama, Oma sayang.” Bethany menyeringai. “Eh, Oma, teman istimewa yang akan Oma ajak video call, siapa namanya?”

Ekspresi gembira Oma berubah jengkel saat menatap Bethany. “Teman lama. Bukan teman istimewa.”

“Iya, teman lama Oma, siapa namanya?”

“Kenapa kamu ingin tahu?”

“Mungkin, Beth ingin membantu Oma, memasukkan nama dan nomor telepon teman lama itu ke HP Oma. Jadi Oma lebih mudah kalau ingin ber-video call dengannya.”

Aku menyembunyikan senyum lebar saat Oma melemparkan tatapan jengkel padaku, seperti yang dia berikan pada Bethany.

“Namanya sudah tersimpan di HP. Oma akan tidur. Sudah mengantuk. Jangan lupa kunci pintu.”

Aku mendekati Oma, mencium kedua pipinya. “Selamat malam, Oma.”

Bethany melakukan hal yang sama, mencium Oma. “Selamat tidur, Oma. Mimpi indah ya.”

Bethany dan aku kembali terkekeh saat Oma memelototi kami.

Satu jam kemudian….

Aku sedang berbaring di tempat tidurku, menatap lukisan awan biru di langit kamar, saat Bethany bertanya, “Hei, Lise, apa yang kamu pikirkan?”

“Masa depan.”

“”Emm, maksudmu dimana kamu bekerja, tinggal, siapa yang kamu nikahi, berapa anak yang kamu miliki? Masa depan seperti itu?”

“Bukan. Aku memikirkan masa tuaku nanti.”

“Masa tua?”

Aku menatap Bethany. “Aku, sedikit cemas memikirkan apa yang akan aku alami saat setua Oma.”

Bethany berbaring miring. “Apa yang kamu cemaskan?”

Aku ikut berbaring miring, menatap Bethany. “Aku setua Oma dan memiliki cucu perempuan kembar, seperti kita. Bisakah kamu membayangkan apa yang akan aku alami?”

Sesaat, alis Bethany bertaut. Kemudian, sebuah seringai lebar menghiasi wajahnya. “Kamu akan dikerjai habis-habisan oleh kedua cucu kembarmu, Lise. Seperti yang kita lakukan pada Oma.” Seringai Bethany menjadi tawa geli. “Aku menyukai gambaran itu.”

“Kamu akan memiliki cucu kembar perempuan, dan mereka berdua akan melakukan hal yang sama seperti yang cucu kembarku lakukan padaku.”

Tawa Bethany berhenti. “Ah, sial. Itu juga bisa terjadi padaku ya?”

Aku mengangguk. “Tentu saja.”

Bethany menghela napas panjang. “Well, setidaknya, Lise, masa tua kita tidak membosankan.”

“Hemm, semakin tidak membosankan saat cucu-cucu kembar kita menggabungkan kekuatan untuk mengusili kita. Bisa kamu membayangkan apa yang akan mereka lakukan pada kita?”

“Aku ngeri membayangkannya, Lise.”

“Sama.”

Bethany kembali telentang, menangkupkan tangan di dada, menatap lukisan awan perak di langit kamar di atas tempat tidurnya, lalu berdoa, “Tuhan, kumohon, jangan beri Lise dan aku, cucu kembar perempuan atau laki-laki, yang bandel, usil, seperti kami. Amin.”

“Amin,” sahutku.

Bethany dan aku baru saja bernafas lega saat terdengar ketukan di pintu dan pintu dibuka.

“Kalian belum tidur?”

“Belum, Oma,” jawabku.

“Ada apa?” tanya Bethany.

Oma memasuki kamar. Berhenti di depan tempat tidur Bethany. “Emm, Beth, bisakah kamu membantu Oma? Sebentar saja.”

“Tentu saja. Apa yang bisa Beth lakukan?”

Oma memberikan HP-nya pada Bethany. “Oma membuat beberapa foto. Tapi hasilnya tidak terlalu bagus. Bisakah kamu membuatnya lebih indah, lebih cerah?”

Bethany melirikku sambil menerima HP Oma.

Penasaran, aku berpindah ke tempat tidur Bethany, duduk di sebelahnya demi melihat foto-foto yang dimaksud Oma.

Kami berdua terkejut melihat tiga buah foto Oma yang tengah duduk di jendela kamar yang terbuka, duduk di sofa ruang tamu, berdiri di antara bougenville oranye di halaman belakang.

“Oma, foto-foto ini, untuk apa?”

“Akan Oma WA ke teman-teman Oma. Agar mereka tahu Oma masih cantik walau sudah tua. Juga trendi. Sama seperti saat muda dulu.”

Bethany dan aku saling bertukar pandang sejenak. Lalu tanpa banyak kata, Bethany mengedit ketiga foto Oma sementara aku diam, duduk di sampingnya.

Saat Oma sudah keluar dari kamar kami dengan senyum puas melihat hasil editan ketiga fotonya, Bethany dan aku kembali saling memandang, kami menyadari kalau kami menginginkan satu hal yang sama.

Sambil berpegangan tangan, Bethany dan aku mengucapkan satu doa dengan sungguh-sungguh. “Tuhan, saat kami tua nanti, jangan jadikan kami seperti Oma. Amin.”

***

Aku terbangun dari mimpi, dan langsung berdoa “Ya Tuhan, jangan sampai itu terjadi.”

“Lise?”

Aku menoleh, melihat Bethany duduk sambil memeluk selimut. “Kamu kenapa, Beth?”

“Aku mimpi buruk.”

Aku berpindah ke samping Bethany. “Mimpi apa?”

“Aku bermimpi, melihat diriku dengan rambut memutih, duduk di kursi rotan di serambi rumah. Lalu, ada dua gadis kecil, kembar, berambut ikal, mengendap-endap, mendekat meja kecil di sampingku. Perlahan, mereka menghabiskan secangkir teh hangat dan mengambil dua potong kue yang ada di atas meja. Lalu, mereka berlari masuk ke dalam kamar mereka….”

“Dan menikmati kue sambil terkikik?”

“Bagaimana kamu tahu?” Mata Bethany membulat. “Oh Tuhan, kamu juga mengalami mimpi yang sama.”

Aku mengangguk. “Hanya saja, kedua gadis kecil di mimpiku berambut lurus.”

Kami terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu, seperti biasa, pikiran kami menuju arah yang sama.

Kami tahu, kemungkinan besar Oma sudah tidur, tapi Bethany dan aku tetap melangkah ke kamar sebelah.

“Kenapa kalian berdiri disana? Masuk saja.”

“Oma belum tidur?”

“Belum. Oma baru saja selesai membaca buku. Kemarilah. Katakan pada Oma apa yang mengganggu kalian.”

Bethany dan aku duduk di tepi tempat tidur, bergantian menceritakan mimpi kami pada Oma.

“Sepertinya, mimpi kalian benar-benar akan terjadi.”

“Tidak.”

“Oma bergurau kan?”

Oma menggeleng. “Saat seusia kalian, Oma juga mengalami mimpi semacam itu. Oma memimpikan dua gadis kecil. Satu berpakaian serba hitam. Satunya memakai gaun berwarna hijau muda. Kalian berdua.”

“Maksud Oma, ada kemungkinan Bethany dan aku akan mempunyai cucu perempuan kembar?”

“Sepertinya begitu. Kenapa?”

“Oma, kedua gadis kecil dalam mimpi kami, kelihatannya, tidak, kami yakin, bandel, usil.”

“Begitulah kalian berdua saat kecil. Bahkan hingga sekarang. Iya kan?”

Bethany dan aku mengangguk.

Oma menepuk lembut pipi kami bergantian. “Tidak ada yang perlu kalian kawatirkan. Jalani saja semuanya. Kalian masih punya banyak waktu sebelum cucu kembar kalian yang bandel itu mulai membuat kalian pusing.” Senyum lebar menghiasi wajah Oma.

“Apa ada kemungkinan mimpi kami tidak jadi kenyataan?”

“Tidak, sayang. Hal ini, anak kembar perempuan, menurun dalam keluarga kita. Oma mengalaminya. Oma dari Oma mengalaminya. Oma dari Omanya Oma juga mengalaminya. Selalu begitu dengan satu generasi terlewati.”

Bethany dan aku bertukar pandang.

“Selama ini, hanya satu dari anak kembar yang mempunyai cucu perempuan kembar. Tapi, dari mimpi kalian, sepertinya kalian berdua sama-sama akan memiliki cucu kembar.” Oma kembali menepuk lembut pipi kami. “Mulai sekarang, kalian harus belajar bersabar. Karena cucu kembar kalian, akan memusingkan kalian.”

13 dukungan telah dikumpulkan

Comments