One Way Thread

3 months ago
Kuroi Sato

by: Kuroi Sato

Jodoh merupakan sebuah perkara antara hati dan takdir. Semua orang berbondong-bondong mencarinya. Namun, terkadang jodoh yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Padahal, manusia sendirilah yang membuat banyak indikator yang menentukan bahwa seseorang tersebut jodohnya atau bukan.

Sesungguhnya, keberadaan jodoh itu sangatlah lekat dengan mereka. Bahkan konon, sejak lahir mereka sudah terikat oleh sebuah benang merah tipis yang menghubungkan kedua jari orang tersebut. Sebuah benang yang takkan hilang meski tergerus oleh aliran waktu. Keberadaan jodoh membuat orang melakukan berbagai hal agar bisa mendapatkannya, seperti di Indonesia, mereka sering meminta kepada dukun. Mulai dari yang asalnya hanya sekadar bantu mencari jodoh, hingga sampai membuat orang tersebut jatuh hati kepadanya. Namun, tidak jarang juga orang yang percaya bahwa jodoh pasti akan datang sendirinya di waktu yang tepat.

Akan tetapi, apabila sekarang kamu dapat melihat jodohmu sendiri, apa yang akan kamu lakukan?

“Wah ada apa ini ramai-ramai?” tanya seorang pria besar yang mengenakan jas laboratorium. Ia tengah asyik menjilati sebuah ice cream cone yang dibelinya dan duduk di samping kananku.

Sementara itu, di samping pria tersebut terdapat seorang perempuan berkaca mata dan memiliki model rambut berkepang dua. Persis seperti gambaran perempuan bersifat kutu buku menurut orang awam. Ia tengah menyedot es cincau dengan mantap hingga ke dasar permukaan gelas plastiknya. Walau pun sudah terlihat habis, ia tetap menyedotnya hingga tak ada lagi cincau yang tersisa, membuatnya mengeluarkan bunyi yang cukup menggelitik di telingaku. Setelah puas, ia kemudian menjawab pertanyaan pria tersebut.

“Sepertinya ada orang yang ingin menembak,” jawabnya sembari menengok ke gelas plastiknya, mencari sisa cincau untuk disedot.

“Maksudmu akan ada pembunuhan?!” celetuk pria tersebut dengan kaget.

“Bukan, kepala sonor! Maksudku akan ada orang yang ingin mengungkapkan perasaan cintanya!” balas perempuan berjas laboratorium tersebut sembari mencubitnya, membuat pria besar tersebut menggeliat.

“Lagi? Sudah yang keberapa kalinya orang yang menembak di bulan ini?” tanya pria tersebut terheran.

Mataku terpancing dengan hal yang mereka bicarakan. Aku pun menatap lurus ke arah tengah taman kampus di hadapanku, berjarak sekitar seratus meter dari tempat kami duduk. Didapati terdapat kerumunan yang tengah memadati lokasi. Mereka memakai pita kepala merah muda dan membawa sebuah sepanduk yang bertuliskan “Laras terimalah cinta Bagas!!”, lengkap dengan foto kedua orang tersebut. Mereka sepertinya sudah merencanakan hal ini sebelumnya. Bahkan, mereka sudah menyiapkan sebuah drone yang tengah terbang di atasnya.

“Drone dan spanduk? Bukankah ini sedikit berlebihan?” heran pria di sampingku lagi.

“Apa maksudmu? Menurutku ini romantis. Saat seperti inilah, momen harus diabadikan! Tidak seperti seseorang yang menembakku di tempat yang sepi, bahkan tanpa membawa sepucuk bunga pun!” cetus perempuan di sampingku sembari melirik pria yang berucap tadi.

“Ayolah Wanda, itu sudah satu tahun yang lalu, aku kan sudah minta maaf! Lagi pula aku sudah sering mengajakmu kencan di tempat yang mahal!” ucap pria tersebut meminta belas kasihan.

“Baiklah, tapi nanti malam kamu menemani aku ke skin care!” Wanda menaikkan alisnya, memberi pria itu kesempatan bersyarat.

“Eh, kamu biasanya ke sana sendirian, kan? Lagi pula itu bukan tempat yang cocok bagi pria macho sepertiku,” celetuk pria tersebut seraya memamerkan kedua otot bicepsnya yang hipertrofi. Tanpa sadar, ia membuat ice cream-nya terjatuh ke lengan jas laboratorium yang dikenakannya.

Tak puas akan jawaban sang pria, Wanda langsung berdiri dari tempat duduknya sembari membuang gelas plastiknya ke tong sampah di ujung kursi panjang yang kami duduki. Ia lalu menatap tajam ke arah sang pria. Kedua tangannya dengan sigap mencoba mengoyak kedua sisi pinggang pria yang hampir dua kali lebih besar darinya

“Naryo!! Aku kan pacarmu, seharusnya kamu lebih peka! Akhir-akhir ini banyak kasus penculikkan di sekitar kampus kita! Memangnya kamu tidak takut pacarmu diculik?!” Wanda mencubit  pinggang Naryo berulang kali dengan sekuat tenaga, membuatnya menggeliat seperti mencit yang telah diinduksi oleh asam asetat.

“Tak bisa kusangka, pria seperti ini akan jadi jodohku! Jangan-jangan saat menerawang, Dokter Cinta sedang terkena katarak?!” keluh Wanda sembari melirik tajam ke arahku.

Menyadarinya, aku langsung membuang muka sembari melahap habis kebab yang masih panas, berpura-pura tidak mendengarkannya. Aku tak ingin ikut pertikaian kedua sejoli ini. Namun, sebagian besar memang ulahku yang menyebabkan mereka berpacaran. Mereka berdua merupakan konsumen pertamaku. Sekiranya, sudah satu tahun yang lalu aku memulai membuka jasa ini. Awalnya aku hanya iseng dengan kekuatanku, lalu aku mencobanya pada mereka berdua, teman sefakultasku.

Kekuatan penglihatanku sudah ada sejak kecil. Awalnya aku kira semua orang memang mengikatkan benang merah ke jari kelingking pasangan mereka. Namun, berselang waktu kemudian, aku sadari bahwa hanya aku yang dapat melihat benang tersebut. Seperti yang aku duga, benang merah tersebut adalah benang jodoh. Hal tersebut aku ketahui dari pengalaman sehari-hariku mengobservasi tiap pasangan suami istri di sekitar tempat tinggalku. Ketika salah satunya tidak terikat dengan pasangannya, tetapi menikah, pasti beberapa tahun kemudian bercerai. Namun, ketika mereka berdua terikat, maka hubungan mereka dapat awet hingga masa tua.

Tanpa membutuhkan waktu yang lama, nama Dokter Cinta mulai menyeruak ke seluruh penjuru kampus kami, hal ini membuat angka prevalensi jomblo di kampus kami berkurang dengan drastis sejak satu tahun ke belakang.

Sebenarnya, namaku bukan Dokter Cinta, itu hanya nama samaran… Nama asliku adalah Andre Saputra. Beruntungnya, aku tidak memberi tahu jati diriku, hanya beberapa orang saja yang tahu. Tiap kali aku menerawang jodoh, aku pasti mengenakan sebuah topeng yang menutupi wajahku.  Hal ini aku lakukan agar membatasi seseorang yang ingin diterawang. Sebab, setelah terkenal, aku sulit sekali memiliki waktu sendiri. Ditambah, aku berkuliah di fakultas yang cukup membuat mesin kepalaku mengepul kepanasan setiap harinya.

Perhatian kami kembali terpancing. Tiba-tiba, kerumunan orang tersebut bersorak sorai sambil bertepuk tangan dengan ramainya.  Terlihat dari reaksi tersebut, sepertinya proses penembakkan berhasil. Sepasang orang yang berjodoh pun akhirnya dapat bersama. Senyum pasangan baru itu merekah ketika sesi foto bersama tiba.

“Ya, walau mungkin aku bukan orang yang tepat bagimu. Tapi, aku bahagia kok memilikimu!” celetuk Naryo sembari melihat pasangan baru tersebut, kemudian ia melirik ke Wanda yang wajahnya tengah memerah.

Perempuan berjas yang senada dengan kami itu pun terdiam, kemudian ia kembali duduk di samping Naryo, tanpa mengatakan sepatah kata. Terlihat hanya ada senyum yang bertengger di bibirnya yang tipis tersebut.

Memang cukup menyulitkan menjadi juru jodoh seseorang, namun ketika senyum pasangan baru tersimpul, rasanya kebahagiaan mereka dapat kurasakan menjalar sampai ke hatiku, sehingga aku pun semangat menjalaninya. Apalagi, aku memiliki seorang sahabat yang akan selalu membantuku di sini. Walau terkadang Naryo memang sedikit telat berpikir rasional, tetapi hal itu justru membuatku nyaman dan bersyukur telah mengenalnya.

Handphone-ku bergetar. Sebuah panggilan melayang, membuatku segera menerimanya tanpa melihat nama si penelpon, karena aku paham sekali siapa itu. Beliau adalah ibuku. Beliau bertanya bagaimana kabarku di sini dan di mana aku sedang berada. Pertanyaan yang sama itu terus beliau lontarkan tiap kali menelponku. Padahal, biasanya aku yang menelpon beliau. Tetapi, dikarenakan oleh insiden penculikkan yang terus meningkat di kampus kami, beliau jadi menelponku setiap hari.

Aku pun selalu menjawab pertanyaan beliau dengan sopan, karena aku tak ingin dikira salah bergaul di sini. Keluargaku memang termasuk golongan overprotective. Mereka tidak ingin anaknya menjadi liar, sehingga membatasi pergaulanku. Sialnya, citra anak baik yang kubangun sedari kecil tersebut harus luntur di hari ini oleh perbuatan si kepala sonor. Rasanya ingin aku menarik kembali rasa syukurku telah mengenalnya.

“Andre, itu celananya dipakai dulu! Rokoknya jangan lupa dimatikan!” seru Naryo seraya menyeringai, penuh akan makna kejahilan.

Ibuku mendengarnya, ia langsung khawatir. Beliau  menghujani aku dengan segudang pertanyaan beruntun, bahkan menganggapku telah berbohong. Tetapi, setelah beberapa saat perang urat, aku dapat menenangkan beliau, walau sekarang citra baikku telah tercoreng dan aku yakin ibuku akan lebih ketat mengawasiku.

Aku langsung menatap tajam ke arahnya. Namun, Naryo pura-pura tak menyadariku. Ia bersiual sembari melihat ke sekitar. Kemudian tak lama, ia berdiri.

“Sayang, pulang yuk! Kalau kita pacaran di sini, kasihan Andre yang jadi setannya,” ajak Naryo menarik lengan Wanda seraya berjalan meninggalkan aku sendirian.

“Ya, pulang saja sana! Aku doakan, Semoga segera dapat momongan!” sahutku sebelum siluet mereka berdua hilang di antara kerumunan.

Aku baru teringat bahwa Naryo memang tak pernah dapat membiarkan pikiranku tenang. Ada saja ulahnya yang membuatku bertepuk jidat menghadapinya.

Kacau sudah rencanaku untuk melepas penat. Padahal, hanya di taman inilah aku dapat merelaksasikan pikiranku. Itulah sebabnya tiap kali sehabis melakukan praktikum yang melelahkan sampai sore hari, aku selalu datang ke sini.

Dikelilingi pepohonan yang rindang, taman ini membuatku betah berada di sini. Begitu juga bagi para kawula muda lainnya. Banyak dari mereka yang datang untuk duduk santai dan bercengkerama dengan teman. Bahkan, tidak luput, taman ini juga merupakan tempat tersering di kampus kami untuk seseorang mengungkapkan cintanya.

Tidak kalah, banyak juga pasangan yang berkumpul di sini, oleh karenanya banyak benang merah yang terurai menghiasi taman, dipadukan dengan cahaya senja sang mentari, mencoba melukiskan sebuah arti romantisme. Sehingga, sendirian di tempat ini terkadang dapat membuatku merasa beda dengan mereka.

Sederet melodi musik terdengar memancing telingaku. Ternyata, lagu kesukaanku tengah dinyanyikan oleh sekelompok mahasiswa. Aku memejamkan mata, mencoba melarut dalam irama lagu. Membayangkan akan makna yang terkandung di dalamnya.

Baru sebentar aku memejamkan mata, namun segera terusik oleh seseorang yang ikut bersenandung di dekatku. Mataku mencoba mengintip sarang suara tersebut.

Didapati ternyata ada seorang gadis berparas cantik berdiri di sampingku. Kulitnya sawo matang dan bibirnya merah muda mengkilap. Gadis tersebut tengah memejamkan mata sembari bersenandung mengikuti lagu yang didengarnya. Terjangan angin mengibaskan rambutnya yang pendek menutupi leher. Sebuah jepit rambut bermodel kupu- kupu yang ia kenakan di samping pelipisnya tampak seperti ikut terbang mengikuti aliran angin. Seragam putih abu-abunya pun, tak ingin ikut ketinggalan menari bersamanya.

Tertegun, mataku segera merekam momen tersebut seraya mentransmisikannya ke lobus temporal di otak. Segalanya berubah menjadi terasa lambat. Mataku seolah terkunci melihatnya.

Tiba-tiba, dia berhenti bersenandung dan mengangkat kedua kelopak matanya. Menyadari keberadaanku, gadis itu terperanjat.  Ia menatapku seraya melontarkan sebuah senyuman hangat.

“Maaf, keganggu ya, Kak?” tanyanya sembari merapihkan rambutnya yang terurai.

Aku bergeming melihatnya, membuatku membutuhkan beberapa saat untuk mengumpulkan kesadaran. Lidahku kelu tak dapat berbicara. Gadis tersebut memiringkan kepalanya, tanda kebingungan dengan sikap mematungku.

Setelah tingkat kesadaranku dirasa cukup, aku menggelengkan kepala seraya menampar kedua pipiku, membuat tingkat kesadaranku melonjak penuh.

“Ah, tidak apa kok!” ucapku sembari membalas senyumnya. Namun, melihat reaksiku tadi, gadis itu mengernyitkan alisnya.

“Apakah kakak sedang ada masalah?” tanyanya sembari duduk di sampingku tanpa ijin.

“Tidak ada kok!” celetukku. Merasa ada yang janggal, gadis itu menyipitkan kedua matanya.

“Kakak tahu? Aku sebenarnya dapat melihat aura seseorang. Aku tahu bagaimana perasaan seseorang, terlihat dari aura yang dikeluarkannya.” Gadis itu memposisikan kedua tangannya sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk seperti teropong.

“Dan Aura yang kakak keluarkan saat ini adalah aura kegelisahan,” lanjutnya sembari menatap mataku.

Baru sebentar aku bertemu dengannya, namun dia sudah dapat melihat ke dalam isi hatiku. Benar katanya, aku memang sedang gelisah memikirkan suatu hal. Walaupun aku berusaha menepisnya, namun pikiranku terus kembali terbisik tentang hal tersebut.

Memikirkannya, mataku secara otomatis mengarah ke salah satu jari kelingkingku. Ada sesuatu hal yang berbeda di jari itu jika dibandingkan milik orang pada umumnya. Rasa kehampaan menyeruak, membuat kegelisahanku tak terbendung.

“Ya, sebenarnya ada satu hal yang menjadi masalah bagiku selama ini” ujarku, menyerah membungkam diri.

“Apa itu?” gadis itu kembali memiringkan kepalanya.

“Jika sekarang kamu dapat mengetahui siapa jodohmu, apa yang akan kamu lakukan?” mendengarnya, gadis itu mengangkat kepalanya melihat ke langit senja.

“Hmm, mungkin aku akan berkenalan dulu, mencoba menjadi temannya. Kemudian membiarkan waktu mengalir menggerus kekakuan hubungan kami. Setelah mendapat momen yang tepat, aku akan melamarnya!” ucapnya sembari kembali melontarkan senyum manisnya padaku.

Benar, tidak ada yang salah dengan jawabannya. Sama halnya dengan dia, aku pun akan menjawab seperti itu.  Tanpa sabar, ia kembali bertanya.

“Lantas, apa masalahnya?” melihat tatapan penuh rasa penasarannya, aku menghela nafas sebentar sebelum mulai berbicara.

“Kamu tahu? Mungkin hampir sama sepertimu yang dapat melihat aura. Sebenarnya, aku dapat melihat jodoh seseorang.” Pupil mata gadis itu langsung melebar.

“Dan ketika aku menerawang jodohku sendiri, di jariku hanya ada kekosongan. Tak ada benang merah yang mengikatnya. Ironis sekali, bukan? Aku dapat melihat jodoh, tapi aku sendiri tidak memiliki jodoh,”  lanjutku sembari tersenyum getir.

Angin dingin di kala senja datang menerjang taman. Rambut gadis itu kembali terurai, terbawa tarian angin.  Sebuah senyuman tersimpul di wajahnya yang manis, dia kemudian berdiri seraya melihat ke sebuah lampu taman yang mulai bercahaya menyambut selimut malam.

“Bukankah itu bagus? Mungkin saja Tuhan memberimu kekuatan untuk melihat jodoh orang lain, namun bukan untuk melihat jodohmu sendiri. Itu berarti Tuhan merahasiakan jodohmu, mungkin saja Tuhan menginginkan kamu untuk bebas memilih siapapun yang kamu cintai sebagai jodohmu! Percayalah dengan apa yang di dalam hatimu!”

Pikiranku menjadi jernih seketika, semua kegelisahanku bak terhempas bersama angin senja. Dia adalah gadis yang baru kutemui, namun setelah berbicara dengannya membuatku merasa seperti sudah mengenalnya dari lama. Sebuah senyum mulai bertengger di bibirku.

“Apa yang di dalam hatiku? Maksudmu getah empedu?”  Mendengarnya, gadis itu mulai terkekeh, kemudian aku ikut tertawa bersamanya di bawah cahaya bulan yang mengintip pelan kami berdua.

“Kakak sedikit aneh juga, ya?

“Kamu juga aneh, sedang apa anak SMA di sini?” tanyaku terheran.

“Sebenarnya aku adalah delegasi dari sekolahku untuk mengikuti acara di kampus ini, tapi tanpa disadari, sepertinya aku terpisah dari rombongan ketika kami tur keliling kampus,” ujarnya seraya memposisikan kedua jari telunjuknya bertemu satu sama lain.

“Bukankah itu gawat?” aku terperanjat mengetahuinya.

“Tidak juga, kok! Aku sudah memberitahu mereka, dan aku juga tahu alamat hotel kami menginap. Lagipula, aku sedang menunggu taksi untuk pergi ke sana.” Gadis itu kembali duduk di sampingku.

Dia adalah gadis yang aneh. Biasanya, aku membutuhkan waktu yang lama untuk dapat bercanda gurau dengan seorang perempuan yang baru dikenal.  Tetapi, senyum dan tawanya mengetuk hatiku, aku dibuat nyaman olehnya. Udara malam yang kian dingin terasa tidak berarti bagiku, karena gadis ini sudah menghangatkan hatiku. Rasanya ingin momen ini aku rasakan lebih lama lagi.

Gadis yang belum kuketahui namanya itu mulai memeriksa handphone-nya. Matanya terbelalak, membaca sebuah pesan. Kedua matanya segera memandang sekeliling. Beberapa saat kemudian, dia berdiri dan menunjuk ke sebuah taksi yang terparkir di depan taman.

“Ah, sepertinya sudah sampai, aku pergi dulu, Kak!” ujarnya seraya berlari ke arah taksi, tidak ingin membuat sang supir menunggu lebih lama.

“Ya, hati hati di jalan!”

Melihat sosoknya pergi, hatiku mulai tersadar akan rasa dingin. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku ingin lebih mengenal sosok gadis itu. Aku ingin lebih dekat dengan gadis itu. Aku ingin mengusap pelan rambutnya yang selalu diajak menari oleh angin. Aku ingin mendekap tubuhnya yang mungil, merasakan detak jantungnya bertabuh seperti irama musik yang kami dengar.

Aku ingin tahu, jika dia benar dapat melihat aura, maka aura apa yang sedang aku keluarkan sekarang?

Tetapi, aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkanya. Aku hanya orang asing yang tidak sengaja singgah di matanya. Sama seperti yang lain, aku yakin dia akan segera melupakan tentangku.  Menyadari hal itu, aku menundukkan kepala seraya kembali tersenyum getir.

“Kakak!” suara gadis itu memecah lamunanku. Mataku segera menangkap kembali sosoknya yang telah berada di dekat mulut pintu taksi.

“Apa?” ujarku dari jarak kejauhan.

“Lain kali, tolong coba terawang jodohku juga, ya!” pinta gadis itu.

“Baiklah, tapi tidak gratis!” Gadis itu menggembungkan kedua pipinya, tanda tak puas dengan jawabanku. Namun, tak lama, ia segera kembali terkekeh.

“Namaku Arisa Nisa!”  ucapnya sembari melontarkan senyum untuk terakhir kalinya.

Belum sempat aku mengucapkan namaku, dia segera masuk ke dalam taksi lalu pergi meninggalkanku di bawah lampu taman. Kurasa, mengetahui namanya saja sudah cukup untuk menghiasi hariku ini.

Dia mungkin tidak tahu, tapi sebenarnya aku mengintip benang jodohnya. Dia adalah gadis yang unik. Benang merah yang terikat di jarinya berbeda dengan yang lain. Dia memiliki benang yang berpendar, bagai mengeluarkan cahaya sendiri. Tetapi, ada hal yang lebih aneh. Benangnya terputus, tak berujung pada jari seseorang. Hal itu membuatku memikirkannya sembari aku pulang ke rumah kontrakan yang berjarak sedikit jauh dari kampus.

Aku tinggal di rumah kontrakkan bersama Naryo. Tampaknya dia sudah sampai, terlihat mobilnya sudah terparkir di depan rumah. Aku segera meletakkan motor di garasi, lalu naik ke lantai dua, di mana kamarku berada. Sebelum aku membuka pintu, terlihat sepertinya lampu kamarku menyala. Padahal, aku yakin sudah mematikannya. Tak lama, terdengar suara tawa seseorang terbahak-bahak.

Sepertinya, aku sudah tahu siapa pelakunya. Saat aku membuka pintu kamar, mataku langsung menangkap orang itu. Naryo. Dia sedang tiduran sambil membaca buku komik koleksiku. Terlihat, buku –buku komik berserakan, ia sedang tidak ingin membereskannya. Bukan hal yang baru, Naryo memang punya kebiasaan tidak suka membereskan kamarnya. Walau begitu, dia suka memberantakan kamarku setiap harinya.

Pada hari biasa, mungkin aku akan melempar segudang protes padanya. Tetapi, hari ini lain. Suasana hatiku sedang berbunga-bunga. Aku tak mau ambil pusing perang urat dengan si kepala sonor ini. Menyadari keberadaanku, Naryo memalingkan perhatiannya kepadaku.

“Kenapa kamu senyum-senyum  sendiri? Seperti orang kesurupan saja!” tanya Naryo kepadaku yang masih berada di mulut pintu.

“Ada deh, dasar kepo!” balasku sembari meletakkan tasku dan menggantungkan jas laboratorium di belakang pintu.

Naryo mengernyitkan alisnya. Sepertinya ia mulai penasaran dengan apa yang terjadi denganku. Ia kembali bertanya.

“Kamu baru bertemu idol JKW Forty Eight?” tanya Naryo seraya menutup buku komiknya dan memposisikan dirinya duduk menghadapku.

“Bukan! Aku baru ketemu seseorang yang mungkin jadi jodohku!” ujarku, sebelum dia mulai menerka-nerka lagi, lebih baik aku memberitahunya. Mendengarnya, Naryo berdecak, tanda kecewa, dia merupakan fans berat grup idol tersebut.

“Bukankah katamu, kamu tidak punya jodoh?” tanya Naryo seraya melihat ke salah satu jari kelingkingnya.

“Iya sih, tapi dia ini istimewa!”

“Oh ya? Dia orang yang seperti apa?”

“Dia punya senyum yang hangat. Walaupun sepertinya dia jauh lebih muda dariku, tapi aku nyaman bersamanya!” ujarku sembari  beberapa kali memposisikan kedua jari telunjukku saling bertemu.

“Dia jauh lebih muda darimu?!” Tanya Naryo dengan nada terkejut. Aku lantas menganggukkan kepala menjawabnya. Naryo segera berdiri, merapikan kaosnya yang kusut itu, lalu menepuk bahuku.

“Baik, pertemanan kita sebatas ini saja. Aku tahu kamu tertekan karena tidak punya jodoh, tapi aku tidak tahu kamu seorang pedophile. Jika terjadi sesuatu, jangan hubungi aku, oke?” ujarnya seraya berjalan melewatiku ke arah pintu kamar.

Sepertiya aku paham mengapa Wanda emosinya meledak-ledak ketika berhadapan dengan Naryo. Pantas saja dia memberikan Naryo julukan “Kepala Sonor” yang berarti bahwa di kepalanya itu hanya berisi udara. Dia memiliki kebiasaan menyimpulkan sesuatu seenaknya sendiri.

“Dia itu anak SMA, bukan anak SD!” ujarku sembari menarik bahunya.

Naryo tiba – tiba bergeming, dengan sigap ia merogoh saku celana pendek yang ia kenakan, mengeluarkan handphone-nya.

“Jadi, kamu tadi bertemu anak SMA di taman kampus?” tanyanya sembari membalikkan badan ke arahku, nada bicaranya serius, tidak seperti biasanya.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Apakah dia seperti ini?” Naryo menunjukkanku sebuah foto seorang gadis. Dia persis sama dengan Arisa Nisa, gadis yang aku temui di taman. Mataku terbelalak oleh karenanya.

“Sepertinya BEM fakultas kita kehilangan salah satu peserta acaranya.Terakhir kali dia bilang sedang berada di taman menunggu taksi untuk pergi ke hotelnya. Tapi hingga kini, dia belum datang. Padahal, jaraknya hanya membutuhkan 10 menit dari taman jika menggunakan mobil,”  lanjut Naryo seraya memperlihatkan sebuah pengumuman yang berisi kabar kehilangan gadis itu.

Rasa cemas mulai menyeruak menyelimuti hatiku, menjalar sampai membuat keringat dingin berkucuran. Aku tidak percaya bahwa dia telah hilang.

“Ta-tapi, aku lihat dia sudah pergi menggunakan taksi!” ujarku dengan terbata. Naryo termenung, dia meletakkan jarinya di dagu, layaknya seorang detektif sedang berpikir.

“Taksi, kah?” Naryo kembali mengoperasikan handphone-nya, mencari informasi lebih banyak. Tak lama, pupil matanya melebar, sepertinya dia telah menemukan sesuatu.

“Semua korban penculikkan yang terjadi di kampus kita, mereka terakhir kali terlihat pergi menggunakan taksi,” ujarnya seraya kembali menunjukkanku pernyataan orang-orang yang bersaksi melihat para korban penculikkan  pada sebuah situs berita online.

Jantungku serasa berhenti sesesaat dan mataku terbelalak tak percaya. Hawa dingin kian menyelimutiku, merindukan hangat senyuman gadis itu. Aku tak percaya dia diculik. Aku tak percaya dia menghilang. Aku tak percaya bahwa, aku tidak akan menemuinya lagi. Padahal, Aku sudah berjanji akan menerawang jodohnya ketika kita bertemu kembali. Pikiranku menggelap, aku langsung berlari menuju ke luar rumah, namun Naryo mencegahku.

“Andre, kamu mau ke mana?” Naryo menangkap bahuku.

“Aku akan mencarinya!” ujarku seraya melepaskan tangannya dari bahuku, emosiku bergejolak tidak karuan.

“Tenang dulu, oke? Kita tidak tahu dia memang diculik atau tidak!”

“Sialan, kenapa harus dia?!” Aku mencoba menenangkan pikiran. Melampiaskan semua gelombang emosi yang tidak stabil ini dengan meninju tembok kamarku.

“Seandainya saja kita dapat melacak keberadaannya…” ujar Naryo sembari terus mencari informasi tentangnya.

Baru kali ini aku bertemu seseorang yang dapat menghangatkan rasa kesendirianku, namun haruskah kami sekarang terpisah? Apakah itu berarti memang benar, bahwa aku tidak memiliki jodoh? Tunggu sebentar. Jodoh. Benar juga!

Aku langsung berlari ke luar rumah. Memandangi sekitar, hanya untuk mencari sebuah benang merah. Aku terus mencarinya, walau kurasa mustahil, karena benangnya terputus. Tetapi, aku tetap melakukannya, karena aku percaya bahwa aku akan menemuinya lagi. Aku melihat ke atas, bawah kanan, dan kiri sisiku, tapi tidak menemukan apa pun. Aku mulai kehilangan harapan. Tapi aku masih tidak ingin menyerah. Aku ingin melihat senyumnya sekali lagi.

“Jika saja dia jodohku, aku pasti hanya harus melihat benang yang mengikat jariku untuk dapat melacaknya.” Pikiran itu terbesit. Harapan terakhir tiba. Aku percaya dengan perkataannya bahwa aku bisa memilih siapa pun yang aku cintai sebagai jodohku. Aku memejamkan mataku seraya berdoa dan memikirkan wajahnya yang manis. Kubuka mataku dan langsung melihat ke jari kelingking kananku. Pupil mataku melebar. Sebuah keajaiban terjadi. Sehelai benang merah yang berpijar mengikat jariku.

“Naryo, sepertinya aku tahu di mana dia berada!” seruku memanggil Naryo dari luar rumah.

Setelah mempersiapkan segala alat untuk alasan keamanan, kami segera mengikuti benang merah yang berpijar itu, membawa kami ke sebuah pabrik tua kecil yang sepertinya sudah lama ditinggalkan. Berada di sudut kota, pabrik itu jauh dari pemukiman warga, membuatnya menjadi tempat yang baik untuk menyembunyikan sesuatu. Terlihat terdapat sebuah mobil taksi yang terparkir di depan, membuatnya semakin memperkuat keyakinanku bahwa tempat ini adalah tempat di mana Arisa Nisa berada.

Pabrik itu ditutupi sebuah gerbang besi, namun karena sudah berumur, di sana terdapat lubang yang cukup untuk orang yang sedikit kurus sepertiku lewat. Sebelum masuk, aku mengatur strategi terlebih dahulu dengan Naryo, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah memantapkan nyali, aku segera masuk.

Aku terus mengikuti benang merahku, membawaku ke halaman belakang pabrik. Mataku terbelalak, aku melihat terdapat dua orang yang sedang bermandikan cahaya lampu di halaman itu. Terlihat, ada seorang pria paruh baya yang sepertinya sedang menelpon dan di depannya terdapat seorang gadis berseragam putih abu-abu, tengah tiduran di tanah karena kaki dan tangannya terikat oleh tali. Dia adalah sosok yang aku cari, Arisa Nisa.

Emosiku mendidih, ingin aku segera menghajar penculiknya. Tetapi, aku mengurungkan niat itu. Sebab, aku harus melakukan operasi ini dengan kepala dingin agar sesuai strategi yang telah dirancang.

Aku melemparkan batu ke arah tong yang berada di sudut halaman. Perhatian pria itu terpancing, membuatnya berjalan ke sana. Tidak kusangka ilmu game yang kumainkan dapat diaplikasikan di dunia nyata. Dengan sigap, aku segera mendekati gadis itu seraya mencoba melepas tali ikatan.  Sialnya, handphone-ku berbunyi. Aku langsung mengambilnya, mencoba menghentikan bunyi itu. Ternyata sebuah panggilan dari ibuku, biasanya aku pasti mengangkatnya, namun situasi saat ini tidak mendukung.

Gadis itu mulai tersadar, matanya terbuka perlahan. Dia melihat ke wajahku, perlahan air matanya mulai mengalir, aku mencoba menenangkannya dengan memberi senyum. Mencoba memberi tahunya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, selama ada aku.

“Siapa kau, bocah sialan?!” suara pria itu memecah reuni kami. Dia segera berlari ke arahku dengan membawa sebilah pisau lipat.

Di setiap kisah, pasti ada tokoh utama yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi penjahat. Namun, di kisahku, aku tidak memiliki kekuatan itu. Oleh karenanya, aku berdiri seraya mengangkat kedua tanganku ke atas. Terheran, pria itu berhenti.

“Aku hanya orang yang lewat! Tolong jangan sakiti aku!” ujarku dengan suara yang keras, memberi tanda kepada Naryo untuk segera menjalankan rencana selanjutnya.

“Heh, bocah sialan! Mudah sekali menyerah, makanya jangan berlaga jadi jagoan!” Pria itu berjalan mendekat ke arahku.

“Apa aku bilang bahwa aku telah menyerah? Mungkin yang kamu maksud adalah dirimulah yang harus menyerah sekarang!” Aku menggertaknya dengan suara keras, memberi tanda untuk Naryo segera memutarkan sirene polisi dengan speaker yang dibawanya di dalam mobil.

Walau rencana ini kami susun dadakan, tapi kami tidak sembarangan membuatnya. Aku sekarang tinggal menaruh harapan kepada Naryo. Sahabat terbaikku. Tak lama kemudian, sebuah suara mulai terdengar.

“JKW!” suara perempuan berteriak, kemudian diiringi irama tepuk tangan. “Forty Eight!” dilanjutkan dengan suara gendang bertabuh. Musik yang cocok untuk pembakar semangat kami di saat ini.

Tamat sudah riwayatku. Naryo salah memutar musik. Dia malah memutar lagu dari grup idol kesukaannya.

Pria itu bergelagap mengetahui aku tidak sendirian, dengan sigap dia segera meraih Arisa, menjadikannya seorang sandera. Tetapi, nasib kurang beruntung sedang menghantuinya. Arisa menyalakan stun gun yang aku berikan ketika mencoba membuka ikatan tali, membuat pria itu melepas Arisa dan pisaunya. Memanfaatkan kesempatan yang ada, aku segera memberinya sentuhan terakhir.

“Beraninya kamu menyentuh jodohku!” Segala emosi aku luapkan dalam satu tinjuku mengenai pelipisnya, membuat dia langsung jatuh pingsan.

Tak lama kemudian, sirene polisi mulai terdengar. Deretan orang berseragam polisi segera menyergap ke lokasi kami berada dan mengamankan sang penculik. Aku menghampiri gadis itu, membantu membuka ikatan talinya.

“Namaku Andre Saputra, ingatlah itu!” Aku mengulurkan tanganku kepadanya.

“Jadi, kakak adalah jodohku?” tanyanya sembari menggenggam tanganku, kemudian berdiri. Aku membalasnya dengan anggukan kepala kecil.

Angin malam bertiup dengan kencang, menghempaskan segala kegelisahan hari ini.. Namun, aku tidak merasa kedinginan. Sebaliknya, aku merasa hangat berada di dekatnya. Walaupun banyak rintangan di depan, jika bersamanya, kurasa aku dapat melewatinya.

“Hmm, bisakah kita mulai jadi teman terlebih dahulu?” tanyanya sembari memiringkan kepala.

Mendengarnya, aku bergeming. Kemudian, Naryo tiba-tiba muncul entah dari mana.

“Apa?! Setelah perjuangan melelahkan itu, kamu ternyata di-friendzone? Tak apa, Andre! Bergabunglah dengan fans club bersamaku, itu akan menenangkan hatimu!” celetuknya memperkeruh suasana hatiku.

“Dasar kepala sonor!” seruku, menggelegar ke seluruh lingkungan pabrik.

Jodoh merupakan sebuah perkara antara hati dan takdir.

Apabila sekarang kamu dapat melihat jodohmu sendiri, apa yang akan kamu lakukan?

196 dukungan telah dikumpulkan

Comments