Oneshot

1 year ago
dPatria

by: dPatria

Namaku Alex Randis. Aku seorang kolektor lukisan. Itulah identitasku yang kupakai dalam misi kali ini. Identitas asliku telah mati bersama orang tuaku sejak 10 tahun yang lalu. Saat itu keluargaku diserang oleh pembunuh bayaran. Hanya aku yang selamat, lebih tepatnya aku membunuh semua pembunuh bayaran yang menyerangku. Pada akhirnya, aku bergabung dengan organisasi pembunuh bayaran untuk balas dendam. Balas dendam kepada orang yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh keluargaku. Di dalam organisasi, orang-orang lebih mengenalku dengan julukan Oneshot.

Mataku fokus pada pembidik senapan yang kupegang. Lubang di kaca jendela membuat udara malam yang dingin memasuki kamar. Targetku telah terlihat. Dia duduk di kursi membelakangi jendela kaca yang terbuka di gedung sebelah. Sebuah kesalahan besar baginya memilih hotel tanpa tirai di jendela. Kutarik pelatuk senapan, peluru melesat bersamaan dengan percikan api yang keluar dari laras senapan. Targetku telah tumbang. Dia tergeletak di lantai dengan lubang di tengkoraknya.

Segalanya berubah digital. V, atasanku dalam organisasi, telah mengembangkan alat yang dapat mengubah benda fisik menjadi data digital dan sebaliknya. Dia menamakannya Meta. Jam tangan di tangan kiriku menggunakan Meta. Cukup dengan berpikir, senapan yang kupegang berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam jam.

Misiku telah selesai, saatnya untuk menghapus jejak. Aku telah check-out dari hotel dan aku sudah di dalam bus. Sudah 20 menit sejak target terbunuh. Kutekan tombol rahasia di jam tanganku. Kamar yang kusewa sebelumnya beserta beberapa ruangan di sekitarnya meledak. Penumpang bus melihat ke luar jendela. Api terlihat menari-nari dan asap membubung tinggi. Beberapa mengabadikan dengan ponsel dan beberapa sibuk mengetik di media sosial.

***

Aku menghubungi V menggunakan earpiece khusus.

“Misimu sukses, aku telah menghilangkan jejakmu di cctv. Alex, kerja bagus,” suara robot terdengar dari seberang.

“V, sampai kapan kau menyembunyikan penyewa yang membunuh orang tuaku?” tanyaku.

“Maaf sekali, rahasia klien tidak boleh dibocorkan. Jika kau ingin tahu, kau harus membayar. Sayangnya uangmu saat ini tidak sampai sepersepuluh bagian. Fokus saja pada pekerjaanmu,” balas V.

“Kalau begitu, cepat beri aku misi baru!” desakku.

Relax. Aku akan memberimu misi penting. Ikuti lelang besok lusa. Undangan dan foto lukisan sudah kumasukkan ke dalam jam tanganmu,” balasnya.

“Apa kau bercanda?” aku berteriak kepadanya.

“Untuk apa aku bercanda? Bukankah ini sesuai dengan identitasmu sekarang? Lagipula aku akan membayarmu,” balas V.

Mulutku tak mengeluarkan sepatah kata. Aku tidak dapat menolak permintaannya. V adalah salah satu ketua organisasi. Orang-orang yang membuatnya kecewa akan dilenyapkan, tidak ada jejak sama sekali.

Cat got your tongue? Cobalah pergi ke kedai kopi di seberang jalan. Rumor mengatakan bahwa kopi di sana dapat membuat suasana hati lebih baik. Nikmati hidupmu selagi muda,” lanjut V sebelum memutuskan panggilan.

Aku sangat membenci V. Dia selalu mengawasiku. Mengetahui semua yang kulakukan, semua yang kumakan, bahkan semua kebiasaanku. Dia tahu bahwa aku minum kopi untuk meredakan marahku. Aku memandang ke luar jendela. Sebuah kedai kopi outdoor dengan papan nama Kopi Java. Tidak ada salahnya mencoba, aku sudah bosan minum kopi instan yang tidak enak.

***

Masih ada waktu sehari sebelum lelang. Aku mendatangi Kopi Java. Konsep outdoor digunakan kedai kopi ini. Motif papan catur hitam putih menghiasi lantai dan dinding. Aku duduk di meja yang dekat dengan pantai. Aku memesan Americano. Kuhisap sebatang rokok selagi kopi yang kupesan belum datang. Semburat rona jingga menghiasi langit senja. Bintang-bintang memancarkan cahaya redup.

“Permisi,” suara wanita mengagetkanku. Rupanya pramusaji. Di seragamnya tertulis nama Mia. Dia menyodorkan sebuah asbak kepadaku. Aku tidak mengerti tingkahnya. Dia menunjuk sesuatu. Aku menoleh dan mendapati ada tanda dilarang merokok.

“Maaf,” ucapku sambil mematikan puntung rokok di asbak.

Wajahnya tersenyum puas. Dia mengeluarkan dua buah lolipop dari sakunya dan diletakkannya di meja. “Ini dapat mengurangi kecanduan rokok.”

Dia membawa asbak sambil berlalu. Mulutku terasa tidak nyaman. Kubuka salah satu lilopop dan kumakan. Rupanya rasa mint. Sensasinya hampir sama dengan rokok. Tidak lama Mia datang lagi dengan membawa pesananku.

“Ini Americano… dan ini kue keberuntungan, silakan ambil satu,” ucapnya sambil meletakkan secangkir kopi dan sepiring kue keberuntungan. Kemudian dia duduk di kursi yang kosong.

Kusesap kopi sambil menghirup aromanya. Aroma kopinya sangat kuat bahkan masih tertinggal di mulutku. Rasa kopinya tidak terlalu buruk. Lebih baik dari kopi instan.

“Bagaimana lolipopnya?” tanya mia.

“Lumayan,” jawabku singkat.

“Kalau kopinya?” tanyanya lagi.

“Lumayan,”

“Lumayan? Barista kami bakal marah,” katanya sambil tertawa. “Oh, cepat ambil satu kue keberuntungan. Ada pelanggan lain yang datang.”

“Tidak perlu,” kataku.

“Cepat ambil!” paksanya.

Aku ambil satu dan kuletakkan di meja. Dia masih belum beranjak. Matanya tidak lepas dari kue keberuntungan.

“Baiklah, aku mengerti,” kataku sambil menghela napas panjang. Kubuka isi kue keberuntungan dan kubaca tulisan di secarik kertas, “Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.”

“Hah?” Mia melongo tidak percaya. Diambilnya kertas dari tanganku dan dilihatnya.

“Siapa yang menulis isi kue keberuntungan? Jangan tulis hal yang tidak jelas!” teriaknya. Orang-orang tertawa. Aku hanya dapat menahan tawa.

“Maaf, terkadang temanku sering usil. Silakan ambil lagi,” katanya sambil menundukkan kepala.

Kali ini aku ambil kue yang ada di bawah. Kubaca dalam hati tulisan di kertas. KAMU AKAN BETEMU PASANGANMU. Kumasukkan kertas itu ke dalam saku jasku.

“Apa isinya?” tanya Mia.

“Tidak terlalu penting. Bukankah pelanggan lainnya menunggu?” balasku mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Ah,” katanya sambil buru-buru pergi. Hampir saja kue keberuntungan yang dibawanya tumpah.

Aku tersenyum. Sepertinya yang dikatakan V benar, tempat ini membuat suasana hatiku lebih baik.

***

Gerimis telah membasahi kota sejak pagi. Mendung belum beranjak pergi bahkan setelah lelang berakhir. Benar-benar hari yang melelahkan. Lukisan yang diinginkan V sudah kudapatkan meskipun harganya setara dengan senapan yang kupakai. Aku tidak habis pikir. Lukisan-lukisan yang dilelang laku dengan harga tinggi, padahal menurutku tidak ada yang istimewa.

Lukisan dengan harga tertinggi berjudul “KOMIKUS YANG BEKERJA KERAS. BUKU-BUKU KOMIK BERSERAKAN. IA SEDANG TAK INGIN MEMBERESKANNYA” menarik perhatian sebagian besar peserta lelang. Di mataku, lukisan itu biasa saja. Aku hanya melihat seseorang duduk di kursi dan buku-buku berserakan di lantai. Jika aku melukis sesuatu seperti itu, mungkin saja aku akan kaya. Ah, tapi itu tidak mungkin.

Kulihat jalanan telah sepi. Tidak ada orang di sekitarku. Kufokuskan pikiran, sebuah payung muncul di tanganku. Kubuka payung dan kuterobos gerimis. Hawa dingin memasuki rongga hidungku. Kusulut rokok untuk menghangatkan tubuh.

Tinggal satu blok lagi sebelum sampai di apartemen. Hujan semakin lebat, hampir saja payung yang kupakai rusak terkena angin. Di seberang jalan aku melihat Mia, pramusaji Kopi Java, sedang berteduh. Bajunya sedikit basah dan dia menggigil kedinginan. Kami saling berpandangan sebelum aku mengalihkan pandangan ke depan. Aku diam sambil berlalu.

Kunyalakan pemanas ruangan saat masuk ke dalam apartemen. Kusulut rokok sambil berjalan menuju jendela. Kuarahkan pandanganku ke tempat Mia berteduh. Dia belum beranjak dari tempat itu. Ah, apa yang baru saja kulakukan? Aku berlari keluar sambil membawa payung dan handuk.

“Mia.”

Dia menengok kepadaku. Matanya sayu dan tubuhnya gemetar. Dia hanya diam. Kututupi kepalanya dengan handuk.

“Apakah kau akan menunggu hujan reda di sini atau menunggu di apartemenku?” tanyaku.

Kepalanya menunduk dan tangannya meremas ujung-ujung handuk. Dia berjalan menghampiriku. Tangan kanannya menggenggam ujung bajuku. Bicaranya gemetar, “Aku minta segelas air panas.”

Kami berjalan menuju apartemenku. Sepanjang jalan mulutnya bergemeletuk. Setibanya di apartemen, dia diam mematung di depan pintu. Digigitnya kuku ibu jari, pandangannya mengarah ke bawah. Dia ragu untuk masuk ke dalam. Aku tersadar bahwa aku hanya orang asing yang bertemu sekali dengannya di tempat dia bekerja. Kuambil kunci pintu yang menggantung di pintu dan kulemparkan ke jendela. Kunci itu berdenting saat menyentuh lantai.

“Aku tidak akan menutup pintu. Aku hanya ingin menawarkan air panas. Itu saja,” kataku membujuknya.

Dia mengangguk dan mulai masuk. Kusuruh dia duduk di kursi sementara aku menuang air panas ke cangkir.

“Ini, air panas yang kauminta,” kataku sambil duduk berhadapan dengannya.

Dia mengangguk pelan. Kedua tangannya menggenggam erat cangkir. Tangannya bergetar saat mengangkat cangkir. Kupegangi kedua tangannya untuk membantunya. Kulit tangannya sangat dingin. Setelah beberapa tegukan, dia meletakkan cangkir di meja tanpa melepas genggaman.

“Mengapa kau membantuku?” tanyanya.

Aku menggaruk pelipisku. Aku balas bertanya, “Apa kau perlu alasan untuk menolong orang?”

Dia hanya menggelengkan kepala.

“Mungkin kau tidak ingat aku, tapi aku masih ingat kau. Kau yang  memberiku lolipop di Kafe Java,” kataku.

“Ah, kau orang yang itu. Kau….”

“Alex, sepertinya aku belum sempat memperkenalkan namaku,” dan ada beberapa alasan lain yang membuatku tidak memperkenalkan diriku ke orang lain.

“Alex, terimakasih,” ucapnya lirih. Mukanya memerah.

“Apakah kau demam?” tanyaku sambil menyentuh keningnya.

Kepalanya mundur ke belakang dan tangannya terangkat ke atas. Air panas di gelas tumpah dan mengenai lenganku.

“Aaaaa, panas!” jeritku. Cepat-cepat aku ke dapur dan menyiram tanganku dengan air dingin.

“Maafkan aku!” teriak Mia.

“Tenang saja, bukan masalah besar,” balasku menenangkannya.

Setelah tanganku tidak terasa sakit, aku kembali ke meja. Mia memegang foto lukisan yang dikirimkan V kepadaku. Sebuah lukisan hati dengan setengah bagian membara dan mengeluarkan asap, sedangkan bagian lainnya membeku.

“Alex, dari mana kau dapatkan foto ini?” tanya Mia.

“Temanku yang memberikan kepadaku,” jawabku. Tidak mungkin aku katakan jika ketua organisasi kriminal yang memberikannya kepadaku.

“Apa kau tahu di mana lukisan aslinya?” tanyanya lagi.

“Hari ini aku mendapatkannya di lelang. Lukisan itu akan kuterima besok. Apa istimewanya lukisan itu? Hanya kumpulan coretan tidak jelas,” balasku.

Mia menamparku. Matanya membelalak menatapku. Wajahnya penuh amarah. Sesaat kemudian logikanya kembali bekerja. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Dia berlari keluar. Aku merasakan perih di pipi kiriku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Mengapa dia marah kepadaku?

Aku melihat ke luar jendela. Derap langkahnya terdengar jelas. Tubuhnya lenyap dalam kegelapan malam. Setidaknya hujan telah reda.

Earpiece milikku berbunyi. Segera kupakai di telinga dan kutekan tombol untuk menjawab.

“Alex, apa aku mengganggu malammu?” tanya V.

“Tidak perlu basa-basi. Kau sudah tahu semuanya, lagipula tidak ada yang dapat kusembunyikan darimu. Apa misiku kali ini?,” balasku dengan datar.

“Kali ini kau harus bunuh pengantin wanita,” ucap V.

***

Aku berada di atap apartemen yang terbengkalai. Jarak lokasi pernikahan dengan posisiku sekarang sekitar 500 meter dan hanya sedikit bodyguard yang menjaga pernikahan. Dengan ini, aku mudah untuk melarikan diri. Setengah jam sebelum pengantin wanita mendatangi lokasi pernikahan, aku menghubungi V.

“V, aku sudah di lokasi. Katakan, siapa targetku kali ini?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Aku sudah mengirimkannya kepadamu. Buka ponselmu sekarang,” balas V.

Kulihat layar ponselku. Ada sebuah pesan. Aku buka aplikasi khusus untuk mengubah pesan menjadi gambar. Aku tidak percaya dengan targetku hari ini. Dia adalah Mia.

“V, apa kau bercanda?” tanyaku tidak percaya.

“Aku tidak bercanda. Dia adalah Mia, pramusaji kedai kopi. Dia bahkan pernah masuk ke apartemenmu,” balas V.

“Mengapa dia menjadi target?” tanyaku lagi.

“Kau bukan seperti dirimu yang biasanya. Apa yang terjadi denganmu?” V balas bertanya.

“Cepat beritahu aku alasannya,” desakku.

“Baiklah. Pertama, dia memiliki hutang pada rentenir untuk mengobati ayahnya meskipun akhirnya ayahnya meninggal. Kedua, dia harus menjadi istri kedua rentenir untuk melunasi hutangnya. Ketiga, istri pertama rentenir menginginkan pernikahan ini dibatalkan. Dengan kata lain, kau harus membunuh pengantin wanita. Satu lagi, lukisan yang kau… maksudku yang aku beli adalah milik ayahnya. Lukisan itu dicuri dan kini aku mendapatkannya. Apakah kau sudah puas?” balas V.

“V, aku punya satu permintaan,” kataku memohon.

“Akan kudengarkan.”

***

Pandanganku fokus pada bidikan senapan. Targetku telah terlihat. Mia turun dari mobil, wajahnya selalu tersenyum. Aku tahu itu adalah senyum palsu. Kutahan napas agar pembidik stabil. Jariku sudah menyentuh pelatuk senapan. Kutarik pelatuknya. Beberapa detik kemudian tubuh Mia roboh.

Misi selesai. Senapan di tanganku telah menghilang. Aku melompat dari satu atap ke atap lain. Menjauhi lokasi pernikahan, lokasi pembunuhan yang kulakukan. Kemudian aku turun ke gang sempit yang sepi. Kuhubungi V.

“Kerja bagus, semua sesuai rencana,” puji V.

“Katakan padaku sekarang. V, apakah kau yang mengatur semua ini?” tanyaku dengan nada marah.

“Apa kau percaya takdir? Bukan aku yang mengatur. Aku hanya mengawasi,” balasnya.

“Apa misiku selanjutnya?”

“Apa kau tidak ingin istirahat?”

“Tidak perlu.”

“Baiklah jika itu maumu. Misi kali ini kau harus membunuh orang di dalam game. Namamu adalah Nikel Koloks, seorang pemain game. Kembalilah ke markas untuk berlatih.”

“Ok.”

Kuputuskan panggilan. Kuambil bungkus rokok dari saku jasku. Isinya telah habis. Rupanya aku belum membeli yang baru. Kuharap di sekitar sini ada yang menjual rokok langka ini. Saat kucek saku jasku untuk memeriksa bila masih ada rokok, aku menemukan benda yang lain. Secarik kertas dan lolipop. Kertas dari kue keberuntungan di Kopi Java dan sebuah lolipop rasa mint. Angin berhembus kencang, menerbangkan kertas di tanganku. Kumakan lolipop itu. Takdir? Aku masih tidak mengerti arti kata itu.

“Di mana toko yang menjual lolipop rasa mint?” gumamku.

***

Namaku adalah Rose. Itu berdasarkan kartu identitas yang kubawa. Saat aku terbangun, aku ada di dalam rumah sakit. Kepalaku dibalut perban dan terasa sakit di pelipis kanan. Menurut cerita perawat, aku mengalami kecelakaan mobil. Beruntung sekali hanya kepalaku yang terbentur. Meskipun demikian, aku mengalami amnesia. Aku tidak ingat kejadian apapun sebelum terbangun di rumah sakit. Di atas meja ada sebuah lolipop dan kue keberuntungan. Perawat mengatakan bahwa temanku datang dan memberikan padaku saat belum sadarkan diri. Aku merasa familiar dengan kedua benda itu, tapi aku tidak dapat mengingat apapun.

10 dukungan telah dikumpulkan

Comments