Onnie Oni

3 months ago
Sumber: freepik.com
R.G. Agastya

by: R.G. Agastya

Hari ini dunia berubah, bulan yang hanya tersisa setengahnya hingga laut yang semakin meluas membuat cuaca bisa saja berganti setiap jamnya. Pasang surut air laut membuat kelembapan udara bisa berubah dengan cepat, hal ini menyebabkan banyak sekali tanaman mati. Sudah hampir seminggu ini, cuaca sangat tidak menyenangkan, mendung, angina kencang, dan gerimis dengan intensitas air yang konstan. Kami tidak bisa keluar rumah, terlalu berbahaya untuk saat ini karena tidak ada cahaya matahari atau bulan yang akan melindungi.

Sekarang di meja makan hanya ada kami berdua, jujur saja aku mulai tidak nyaman dengan suasana ini,”Rajana, aku ingin mendengarkan cerita darimu. Maukah kamu bercerita untukku?” tanyaku lembut.

Kepalanya tetap tertunduk, tidak bergeming sama sekali. Bukan salahnya bersikapa dingin seperti itu, aku memahami bagaiman pereasaannya harus tinggal dengan orang asing sepertiku. Ditinggalkan oleh seoarang Ayah, satu-satunya anggota keluarga yang ia punya saat ini, malang sekali nasibnya.

“Rajana, ak..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, dia pun beranjak dari meja makan dengan tanpa sepatah katapun.

Ayah Rajana adalah seorang arkeolog, hidupnya selalu berpindah-pindah. Terakhir, dia meninggalkan aku dan Rajana di Los Angeles kemudian pergi ke Afrika untuk melanjutkan penelitiannya. Ayah Rajana memulai penelitiannya tepat ketika poros bumi mulai bergerser akibat bulan yang terbelah, bencana besar tiba-tiba datang mulai melanda bumi. Angin tornado, gempa bumi yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng bumi, hingga tsunami setinggi sepuluh meter terjadi hampir di setiap garis pantai dekat Samudera Atlantik. Keluarga ini baik-baik saja sampai pada suatu hari kabut tebal datang menyelimuti kota, mengambil siapa saja yang berada di sekitarnya termasuk Ibu dan kakak Rajana. Itulah kenapa aku mencoba terus bersabar menghadapi sikapnya yang semakin hari semakin pendiam dan susah ditebak. Berat untuk anak seumurnya merasakan kehilangan dua kali dalam waktu berdekatan, meski aku tahu mereka semua masih hidup namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengirimkan kabar.

Kami semua adalah orang Indonesia, kami adalah imigran yang menetap di Maluku waktu itu. Obsesi ayah Rajana menemukan kembali istri dan kakak Rajana membuat keadaan keluarga ini semakin tidak karuan,puncaknya adalah setahun kemarin.

“Sue, apakah aku akan bisa bertemu ayah, ibu dan kakak lagi?” Rajana berdiri tepat di sampaingku dengan wajah yang tetap tertunduk. Aku tahu dia hanya tidak ingin menunjukan kekecewaanya kepadaku.

”Rajana, ayo mari duduk ke sini, kita makan bersama. Habiskan makananmu,” aku memegang tangannya mengarahkannya untuk kembali ke meja makan. Rajana kembali ke kursinya dengan air mata yang menggenang. Gerak tubuhnya yang berat ketika menyuapkan makanan ke mulut menegaskan lagi bahwa dia benar-benar sedang sangat emosional.

“Apakah kamu tidak terlalu suka dengan bubur kentang buatanku?” tanyaku pelan.

Rajana menggelengkan kepalanya,”aku hanya sedang tak nafsu makan, aku rindu.”

“Bagaimana bisa aku hidup tanpa mereka, Sue? Aku sangat merindukan mereka,” ujarnya sambil terisak.

“Rajana sayang, kamu harus percaya jika mereka akan kembali sebentar lagi. Kamu harus tetap sehat sampai waktunya mereka kembali pulang ya?!”

“Pasti, Sue. Jika tiba saatnya mereka pulang, aku tak mau mereka tak mengenaliku lagi karena aku terlalu kurus.”

Ada yang berubah dari raut wajahnya, meski sedikit aku tetap merasa bahagia melihatnya. Ini pertama kali sejak satu tahun terakhir aku baru melihat wajah Rajana menampakkan ekspresi berbeda, tak begitu banyak namun hal ini membuatku sedikit lega, bibirku tak bisa menahan untuk tidak ikut tersenyum melihatnya, “Ayo habiskan makan malammu, setelah itu aku akan menemanimu.”

Kami tinggal di Los Angeles sekarang, sudah hampir dua tahun. Ayah Rajana memilih tempat ini karena populasinya yang tidak terlalu padat. Banyak rumah yang sudah ditinggalkan oleh penghuni lamanya dan beberapa di antaranya rusak dan bahkan roboh. Ayah Rajana membeli rumah ini jauh sebelum kami pindah kemari, seperti semua sudah direncanakan. Ayah Rajana sengaja memilih rumah yang berada di daerah ini. Greencraig Road Brentwood adalah lokasi yang menurutnya paling strategis untuk bersembunyi, tempat dimana kita bisa mengintai semua kegiatan di sekitar dari satu titik dengan sangat detail. Awalnya cuaca, kemudian teror lain muncul setelahnya. Saat ini tidak aman berada di luar, semua kegiatan dilakukan sembunyi, sembunyi. Sumber energi hanya terisisa dibeberapa titik saja, untuk bertahan hidup kami mengandalkan keterampilan ketika masih tinggal di Indonesia.

Setiap malam kami hanya mengandalkan lilin sebagai penerangan, karena semenjak bencana datang listrik menjadi sangat sulit untuk didapatkan. Hanya di daerah tertentu saja orang bisa mendapatkan pasokan listrik. Kami bisa menggunakan listrik hanya untuk memasak dan menjaga freezer tetap dingin. Maklum, angin bisa saja berubah setiap semenit sekali, bisa jadi besok dan seterusnya di luar akan terasa seperti di gurun sahara. Untuk itulah kami tetap menjaga freezer tetap dingin.

Setelah semuanya rapi aku dan Rajana pindah ke ruang tengah, menyalakan beberapa lilin di atas meja dan mulai menutup semua jendela dan pintu rumah serta ventilasi dengan rapat. Jika di luar sedang tak diterangi cahaya bulan, maka pelindung baja akan kami turunkan. Terkadang makhluk hitam bermunculan dari sela-sela retakan tanah. Mereka naik ke permukaan untuk mencari jiwa-jiwa yang tersesat. Ya, kami tidak hanya berlindung dari cuaca ekstrim, kami juga menghindari kontak lansung dengan mahkluk-mahkluk tadi. Informasi terakhir yang aku dapatkan mahkluk ini berwujud hitam tinggi besar, baunya tidak sedap macam tempat pembuangan akhir, bercakar panjang, dan mereka tertarik dengan suara. Ada yang pernah bilang penglihatan mereka buruk, tapi naluri mereka mencari hawa takut dari manusia sangat tinggi. Itulah kenapa rumah ini sebagian besar terbuat dari kaca.

“Rajana, kemarilah. Malam ini kita akan tidur di ruang tengah bersama Miss Rossetti.”

“Apakah tidak apa-apa, Sue?” Rajana melihat ke salah satu sudut ruangan, buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

“Tenang saja, besok aku akan membereskannya.”

Rajana yang sudah siap dengan selimut dan Miss Rosestti yang mengikutinya dari belakang menghampiriku di ruang tengah.

Miss Rossetti adalah seekor anjing jenis Alaska Malamut yang kami adopsi ketika sempat beberapa bulan menetap di sekitaran Greenland. Penyebaran vegetasi tumbuhan dan ekosistem yang berubah membuat semua orang kebingungan. Perilaku hewan ikut berubah, setengah dari ilmuan terkenal yang terdaftar dalam misi penyelamatan bumi memilih mengundurkan diri karena tidak sanggup memecahkan persoalan yang sedang kita alami sekarang. Beberapa dari mereka ada juga yang bunuh diri karena tak mampu menanggung malu. Miss Rossetti sangat baik dan penurut, dia menjagaku dan Rayana.

“Apakah malam ini akan ada banyak orang yang meninggal, Sue?” tanya Rajana sembari meringkuk di balik selimut.

“Aku tidak tahu pasti, makhluk itu kian hari kian membut orang-orang resah. Apakah kamu ketakutan? Tenang saja aku akan menjagamu bersama Miss Rossetti.” Aku memeluknya di balik selimut. Suara angin ribut di luar terdengar menakutkan, petir menyambar-nyambar. Sudah pasti tidak akan ada bulan malam ini.

***

Aku harus tetap terjaga sampai matahari terbit, setelah itu aku dan Miss Rossetti akan bergantian berjaga. Tanah bergetar sesekali sejak tengah malam tadi, aku takut retakan di beberapa titik akan melebar. Hal ini akan membuat bertambahnya mahkluk hitam keluar ke permukaan setiap harinya. Artinya, perlindungan harus diperketat.

Waktu terasa sangat lambat ketika malam datang, bebrapa kali aku terkantuk, sampai ketika suara melengking menyayat terlinga. Suara yang sebelumnya terakhir aku dengar tepat sesaat ketika bencana pertama akan datang. Suara tadi dibarengi dengan angin kencang yang berhembus, aku melihat beberapa lempeng baja pelindung rumah terlepas, terbang tersapu. Semua penerangan padam, suara teriakan orang-orang dari luar terdengar bersautan.

“Sue, apa yang sedang terjadi, Sue?” Rajana langsung melompat memelukku.

Miss Rossetti berlari bersembunyi di bawah meja, pertanda apa ini. Aku tidak pernah melihat Miss Rossetti setakut itu. Sesaat kemudian terdengan suara ledakan dari berbagai arah, saling susul-menyusul. Aku dan Rajana bergegas menuju lantai atas untuk melihat situasi yang sedang terjadi. Sambil memeluk tubuh Rajana yang menggigil ketakutan aku meneropong ke segala arah dengan teleskop buatan ayah Rajana. Benar, makhluk hitam bermunculan lebih banyak dari sebelumnya. Ini aneh, menara pemantau tidak menyalakan alarm tanda bahaya. Sektor tiga dan tujuh tertutup oleh asap dan api, angin kencang membuat kerusakan karena api meluas dengan cepat. Sial, aku tidak bisa melihat dengan jelas karena cuaca.

“Rajana! pergi ke ruang bawah tanah bersama Miss Rossetti sekarang! Aku akan menyusul nanti.”

“Aku tak mau meninggalkanmu,” suaranya bergetar, wajah ketakutan itu memubatku semakin ragu.

“Sekarang!” teriakku memantapkan diri.

Rajana yang ketakutan berlari menuju ruang bawah tanah tanpa berpikir lagi, Miss Rossetti ikut berlari di sampingnya. Segera setelah itu aku menggambar bidang mantra di lantai untuk melindungi rumah ini dengan kapur. Tanganku mulai gemetar, sekujur tubuhku seperti tidak mau mengikuti perintah otak. Aku tidak memprediksikan hal ini akan terjadi, bencana gelombang kedua. Iya, aku dan ayah Rajana pernah membahas ini, hal yang tidak aku prediksikan adalah waktu kedatangannya yang ternyata secepat ini. Bencana gelombang kedua, mahkluk hitam muncul dan berjatuhan dari langit, disertai angin kencang dan mahkluk hitam lainnya yang lebih menyeramkan. Melalui teleskop tadi aku melihat orang-orang berlarian menyelamatkan diri, mereka dikejar untuk dimakan hidup-hidup. Mahkluk ini berevolusi, tidak hanya memakan jiwa-jiwa dan rasa takut, mereka sekarang memakan manusia. Sial! Kenapa menggambar bidang mantra seperti ini saja aku lama sekali! Djiwo, Rumthe, aku butuh kalian.

Bidang mantra sudah selesai dibuat, dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri di tengah untuk memanggil pelindung, rentangkan kedua tangan, korbankan hari, panggil bintang utara, darah untuk bayarannya, pelindung kunci gerbang, terbukalah.

Bidang mantra akan bereaksi, mengubah kapur menjadi sulfur, panasnya akan memengaruhi partikel udara menjadi padat, menumbuhkan spora yang menyala dalam gelap. Ayah Rajana yang mengajariku trik ini, semoga aku bisa melakukannya dengan sempurna. Aku mulai menghitung dalam hati, delapan puluh satu, delapan puluh lima, sembilan puluh, sedikit lagi.

“Sue!!!!” teriakan Rajana membuyarkan segalanya. Aku membatalkan kontrak pelindung. Bersamaan dengan itu terdengar sesuatu yang besar jatuh di atas rumah, aku langsung berlari sekencangnya, melihat atap yang berlubang dan terbuka lebar rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, terasa lutut mati rasa.

“Rajana!? Di mana kamu?! Miss Rossetti??” Rumah yang gelap membuatku kesusahan mencari keberadaan Rajana dan Miss Rossetti. Aku berdiri memerhatikan sekitar, sepertinya rumah ini dimasuki oleh penyusup. Merasa ada yang sedang memerhatikanku dari belakang, tubuhku berputar dengan sendirinya karena naluri. Benar saja, mahkluk hitam itu berdiri tepat dibelakangku. Tangannya yang besar mengayun tepat ke arah tubuhku, dengan sangat mudahnya aku terlempar ke arah dinding. Rajana keluar dari ruang bawah tanah bersama Miss Rossetti, keberadaannya memancing perhatian mahkluk hitam. Tubuhku tidak bisa digerakan sama sekali. Djiwo, Rumthe, apa yang harus aku lakukan? Aku gagal menjaga anak kalian. Entah apa yang dipikirkan anak itu, dia berlari menuju ke arahku, mencoba meraih tanganku. Rasanya hangat, tubuhku menjadi terasa ringan, aku melayang, lantai di bawah kakiku berpendar membentuk bidang mantra. Dalam kebingungan aku baru sadar jika yang berada di hadapanku bukanlah Rajana, tubuhnya tetap Rajana, tapi hawa ini milik temanku, Rumthe.

“Sue, selamatkan keluarga ini. Kamulah harapan kami.”Rajana berbicara seolah dia adalah Rumthe.

Sebilah pedang muncul dari genggaman tangan kami, sebuah pedang yang bersinar dengan ujung runcing. Tatapanku langsung menuju ke arah mahkluk hitam tadi, ternyata Miss Rossetti membantu kita mengulur waktu. Dugaanku benar, Miss Rossetti bukanlah binatang biasa, yang aku lihat sekarang adalah seekor mahkluk buas yang besarnya hampir menyerupai mahkluk hitam tadi. Ini adalah kesempatan, kemudian kuhunuskan langsung pedang ke arah mahkluk itu. Meski seni bela diriku tidak terlalu baik, setidaknya memiliki senjata dalam sebuah pertarungan adalah keuntungan. Tebasan demi kuarahkan ke mahkluk itu tapi dia hanya menghindar terus.

“Lawan aku mahkluk bodoh!”

Ketika segalanya berubah digital, bencana ini memaksa kita untuk kembali ke masa lalu. Masa di mana sihir dan kemampuan bertarung adalah hal yang mutlak harus dikuasai jika ingin bertahan hidup. Sial, aku merasa dipermainkan oleh mahkluk ini. Kali ini aku harus tepat mengenai lehernya. Tebasanku kali ini tidak meleset, tepat mengenai leher mahkluk itu. Kepala dan badannya terpisah. Aku menang! Keadaan meredam, seketika sekujur tubuhku merasa kram. Dengan langkah gontai dan pinjang aku menghampiri Rajana yang duduk ketakutan di ujung ruangan.

“Rajana, sudah selesai, ayo kita pergi da-“ leherku tercekat kalimatku terhenti, sesuatu mengalir melalui kerongkongan. Rajana berteriak kencang, aku baru melihat ke bawah, sesuatu menembus perutku dari belakang. Sial! Sial! Sial! Padahal aku sudah memotong lehernya, ternyata mahkluk itu bisa beregenerasi. Pandanganku mulai mengabur, aku sudah benar-benar kehilangan kontrol atas tubuhku sendiri. Aku melihat Rajana melayang, ditarik ke arah mahkluk itu. Benar saja, tujuan mahkluk itu hanya Rajana, pantas dia terus menghindar ketika bertarung denganku tadi. Aku menyesal menjadi sok pahlawan, baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Aku terkekeh sendiri merasakan kegagalan menjadi seorang penjaga, seorang prajurit, seorang sahabat bagi semuanya. Sungguh aku tak ingin mati seperti ini.

 Suara itu membukakan cahaya.

“Sue, apakah aku akan bisa bertemu dengan Ayah, Ibu dan Kakakku lagi? Sue Anna apakah kau mendengarkanku? Sue, kenapa dengan matamu?” Suara seorang gadis kecil membangunkanku. Rajana, berada dihadapanku dengan wajah yang cemas.

“Rajana kita berkemas sekarang, kita pergi dari rumah ini sebelum gelap. Kita akan menyusul ayahmu.”

Koordinat: 34.068520,-118.480710

Alamat: 577 N Greencraig Road Brentwood, Los Angeles, California, 90049 United States

13 dukungan telah dikumpulkan

Comments